Monday, 20 May 2013

Between Love and Obsession Part 9

“It’s Time...”
Bab 9

Perdebatan hebat siang itu berdampak buruk untukku beberapa hari kedepan, aku enggan pergi kemanapun, bahkan aku menolak untuk bertemu Angel. Padahal aku yakin anak itu bertanya-tanya sebenarnya aku ini kenapa.

Beberapa malam ini aku juga pisah ranjang dengan Rio, padahal sebesar apapun masalah kita seperti sebelumnya, kita tidak pernah sampai pisah ranjang, aku tidak menyiapkan sarapan dan makan malam untuknya. Aku hanya berdiam diri di kamar, merenung. Memikirkan cara agar rumah tanggaku tidak sesulit ini, apalagi aku telah mengungkit-ungkit Fabio. Hhh... aku tidak heran Rio sampai akan menamparku saat itu, karena aku sadar sekarang. Aku keterlaluan!

Aku tidak tau beberapa malam ini Rio  tidur dimana, aku benar-benar tidak mau mempedulikannya. Aku sungguh sakit hati padanya, aku merasa di rendahkan olehnya. Tapi tak bisa ku pungkiri kalau aku sangat merindukannya, merindukan kehangatannya. Aku hanya membutuhkan mendengar suaranya saja, apa aku lebih baik menelponnya saja?

Aku meraih ponselku yang tidak pernah aku indahkan itu, ternyata banyak sekali pesan dan panggilan tidak terjawab. Baik dari  Rio, Ray, Angel atau Ify.
Aku yakin Rio meminta bantuan Ify untuk menghadapiku, karena cuma Ify yang paling pintar menggodaku.
Kenapa lama sekali?

“hallo?”
“ehh...”

Aku melirik ponselku, ini benar nomor Rio, tapi kenapa yang mengangkat panggilannya itu wanita?

“mana suamiku?”
“Rio ya? maaf ya... aku tidak bisa membangunkannya, dia tertidur sangat lelap. Hhh... ternyata dia benar-benar membutuhkan sentuhan kasih sayang wanita ya? apa kamu tidak memberikannya untuk Rio? sampai...”

Cukup! Aku tidak bisa mendengarkannya lebih lanjut. Apa yang dia katakan? Kenapa wanita itu berbicara begitu menggoda? Apa mungkin selama ini Rio berbohong padaku kalau dia itu gay?
Aku melempar ponselku hingga membentur kaca meja rias.
Terdengar suara pecahan begitu keras, seperti hatiku yang kini pecah tanpa sisa keutuhan.
Aku menangis dalam bantalku tertahan, aku benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang Rio lakukan. Aku memang pernah berpikir lebih baik Rio playboy daripada gay, tapi bukan begini caranya, bukan dengan cara membohongiku kalau dia gay. Dia bisa jujur padaku kalau dia tidak suka padaku dan sedang menjalin hubungan dengan wanita lain. Bukan begini!

Dari luar ruangan terdengar beberapa orang yang menggedor-gedor pintu.

“Agni buka! Jangan gila!”
“Mama...”

Itu suara Ray dan Angel, keduanya menggedor-gedor pintu bergantian. Aku tidak peduli, aku semakin membenamkan tubuhku di tempat tidur yang sudah tidak berbentuk lagi.

“Mama... buka, jangan buat An takut”

Aku mendengar suara Angel yang bergetar, terdengar juga Ray menenangkan Angel. Ya Tuhan... apa Rio benar-benar tidak ada di rumah ini? sebegitu tidak berartinyakah aku dimatanya? Sebegitu tidak berharganyakah aku?

“Agni, aku dobrak ya”

Aku mengangkat wajahku dari bantal, membukakan pintu untuk Ray dan Angel. Setelah itu aku beranjak ke kamar mandi. Sekarang! Aku lebih baik inseminasi daripada harus berhubungan dengan Rio yang ternyata penggemar ‘one night’ dengan wanita lain. Aku tidak akan menyerahkan tubuhku pada lelaki brengsek!

“Mama...”

Angel berjalan ke arahku, memeluk pinggangku dan membenamkan kepalanya di perutku. Aku merasakan dia bergetar begitu hebat. Aku tidak mau Angel menjadi korban kekacauanku dan Rio. aku harus kuat demi Angel. Hanya demi Angel!

“hey, kenapa menangis? Mama sehat kok An”
“Ma... Mama k.kenapa? ma..marahan sama... P.Papa ya Ma?”

Hhh... aku tidak harus menjawabnya, tanpa menjawabpun sepertinya dia tau yang sebenarnya. Aku merengkuh  Angel dalam pelukanku, membenamkan kepalanya di lekukan leherku lalu membawanya keluar dari kamar mandi.

“An keluar dulu ya sama Oom Ray, Mama mau ganti baju dulu, setelah itu kita jalan-jalan”

Dia terlihat menganggukkan kepalanya. Aku baru ingat ternyata Angel telah memasuki libur tengah semesternya. Hhh... aku tidak boleh merusak liburannya.
Aku menarik secarik kertas untuk memberikan pesan pada Rio.

Maaf aku merusak kamarmu dan harimu.
Seharusnya aku tau dari dulu bahwa kamu tidak benar-benar gay dan kamu ternyata punya wanita idaman lain.
Aku lebih senang kamu jujur Rio, aku sangat sakit hati mendengar wanita yang mengangkat telponmu tadi pagi. Aku benar-benar kecewa padamu. Aku selalu berusaha berpikir positif tentangmu, tapi mendengar itu... mungkin kamu mengerti apa yang aku rasakan dan pikirkan.
Aku akan pergi untuk beberapa saat menenangkan pikiranku, aku juga membawa Angel.
Aku hanya ingin tau apa yang kamu inginkan, kalau kamu ingin bercerai aku terima. Aku akan menemuimu dan pengacaramu dalam tiga hari kedepan di kantormu.
Aku benar-benar tidak kuat mendengar kamu affair.
Aku merasa wanita yang terbodohi. Sangat bodoh!
Aku pergi...

Agni.

Aku beranjak ke ruang kerja Rio untuk menyimpan surat ini di meja kerjanya. Hhh... semoga kamu menemukan wanita yang sesuai harapanmu Rio...

***

Jam sepuluh malam aku baru selesai bekerja dan memasuki rumah yang tampak sepi, tidak ada Ray yang duduk di ruang tamu, tidak ada Angel yang menyambut kedatanganku seperti beberapa hari kebelakang ini. Sejak perdebatan terakhirku dengan Agni, dia benar-benar berubah padaku, tidak pernah menyambutku, tidak pernah menyiapkan pakaianku, tidak pernah menyiapkan sarapan, makan siang atau makan malam lagi untuku, bahkan aku benar-benar pisah ranjang dengannya. Aku rasa dia sangat marah padaku saat aku mengajukan inseminasi, tapi entah kenapa aku berbalik marah padanya saat mendengar nama Fabio ia sebutkan. Aku bahkan hampir menamparanya kalau tidak terdengar suara deruan mobil dari luar rumah. Aku benar-benar kesal padanya, aku marah! Sangat marah! Ternyata perkataannya dulu, tidak sungguh-sungguh dia  mengatakannya, aku tidak habis pikir kenapa aku bisa percaya kalau dia bisa mengembalikanku, berusaha sampai aku benar-benar mencintainya. Argh...

Lho lho... pinselku?
Argh... sial! Aku baru menyadari ponselku menghilang, padahal bisa saja Agni menghubungiku. Atau mungkin Angel, atau Ray.
Sial sial! Aku benar-benar lupa dimana ponselku!
Aku tidak mungkin kembali ke kantorku sekarang, aku akan coba cari di ruang kerjaku yang beberapa hari ini aku tinggali.

Aku mulai menyapukan pandanganku ke seluruh ruangan, tak ada satupun tanda-tanda keeberadaan benda kecil itu. Tapi, pandanganku tertarik pada sebuah... surat? Dari siapa?
Aku meraih surat itu dan mulai membacanya.

Ya Tuhan... kenapa hari ini aku benar-benar sial? Ponselku hilang, sekarang Agni pergi gara-gara ponselku yang entah di pegang oleh siapa. Tuhan... apa cobaan untukku belum berakhir?
Aku segera meraih gagang telpon rumah, menekan beberapa digit angka untuk menghubungi Agni.

Mati. Kemana dia?
Aku segera keluar ruanganku dan berjalan tergesa menuju kamar yang ternyata sangat berantakkan karena pecahan kaca dimana-mana lalu ponsel Agni yang telah berantakkan tak berwujud, pantas saja ponselnya tidak bisa di hubungi. Seketika bulu kudukku terasa berdiri membayangkan kondisi Agni saat ini, aku benar-benar takut istriku itu kenapa-kenapa. Tuhan... kalau sampai istriku kenapa-kenapa akulah pihak yang paling merasa bersalah. Selamatkanlah dia tuhan...

“Bi, bersihkan kamarku”

Aku berseru sambil berlalu karena kepanikan, pikiranku benar-benar kalut sekarang. Agni pasti marah sekali padaku. Aku bisa membayangkan beberapa hari ini dia sangat kacau, dia sangat lemah, dia membutuhkan aku, kenapa aku bodoh sekali tidak berusaha menemuinya di kamar? Padahal jelas-jelas aku memiliki kunci cadangan. Mario bodoh!
Saat akan memasuki mobilku, aku melihat satpam yang menjaga rumahku.

“pak istri saya pergi dengan siapa?”
“nyonya Agni? Sama den Ray tuan”
“oke, terimakasih”

Ada sedikit kelegaan dihatiku setelah mengetahui Ray bersama Agni, aku yakin dia akan menjaga istri dan anakku. Sambil berkendara aku meraih tabletku yang sengaja aku bawa, mungkin akan berguna.
Aku melonggarkan dasi dengan kasar, jasku entah terbuang dimana, aku sudah tidak ingat itu. Pikiranku benar-benar kacau dan semuanya di penuhi oleh Agni dan Agni.

Aku membelokkan mobilku memasuki pekarangan rumah Agni, tapi terlihat sangat sepi, lampunya saja padam. Shit! Pergi kemana mereka?
Aku meraih tabletku, mengirim pesan pada Ray.

Kalian dimana? Ada hal penting yang harus di selesaikan.
Aku di pantai, tapi Agni tidak mau bertemu denganmu.
Oke. Jaga dia.

Tentu aku tidak benar-benar tidak akan pergi kesana. Aku ingin masalahku cepat berakhir dengan Agni, aku lelah terus berseteru dengannya. Aku langsung tancap gas menuju pantai satu-satunya di kota ini. aku tidak peduli mereka mau marah atau apa, yang aku mau, masalahku cepat berakhir.

***

Aku terjaga di tengah malam ini, mimpi burukku siang ini cukup menguras pikiranku. Andai saja... aku disini bersama Rio dan rumah tanggaku baik-baik saja.
Disini, menghadap pantai ini dan di bawah ribuan bintang, aku hanya dapat merenungi nasib rumah tanggaku selanjutnya. Akankah berakhir ataukah berlanjut meski dengan berbagai cobaan yang terus menghadang? Seakan tidak akan pernah habis menghampiri.

Aku bingung, meskipun hatiku telah remuk tak berbentuk, tapi tak ku pungkiri bahwa dalam hatiku tersisa cinta untuk Rio yang terpatri begitu apik di dalam relung hatiku yang paling dalam.

Aku memejamkan mataku saat angin laut menerpa wajahku. Aku mencengkeram erat-erat pagar besi pembatas penginapanku dengan pantai, menguatkan seluruh tubuhku agar tidak bergetar karena ingin menangis dan kedinginan. Kedinginan bercampur dengan rasa kecewa, begitu menusuk sampai ketulang dan sampai ke hati. Oh God sabarkan aku...

Tiba-tiba sebuah tangan besar memeluk hangat tubuhku dari belakang, damai sekali rasanya. Aku merasakan harum farfum maskulin yang terasa tak asing bagitu, Rio. tapi tidak mungkin dia ada disini, paling ini Ray. Yang selalu menghiburku dengan cara seperti ini.

“Ray...”

Dia tidak menyahut, dia mengeratkan pelukannya padaku. Aku menyandarkan punggungku di dadanya, masih tak minat membuka mata. Menyamankan posisiku, memeluk diriku sendiri di atas lengan besar itu. Aku benar-benar nyaman, aku merasa relung-relung kosong dalam hatiku mulai terisi dengan kahangatan. Hhh... aku senang meskipun hanya ada kembaranku disini.

“Ray? Kenapa gak nyahut?”
“aku bukan Ray”
“HAH?!”

Mataku membelalak kaget. Itu suara serak Rio. Rio?! apa benar?
Aku segera membalikkan tubuhku menghadapnya, dan ternyata ini benar Rio.
Aku segera menjauhkan diri dari Rio, aku tidak ingin di sentuh olehnya! Aku tidak sudi di sentuh lelaki biadab seperti dia yang bisanya membayar wanita untuk senang-senang dalam satu malam. Cih...

“R..Rio, b..bagaimana... kamu...”

***

Aku menatap heran Agni yang mundur menjauh dariku, seperti reaksinya saat aku berpura-pura menjadi Fabio. Apa aku sekarang semenakutkan itu? Apalagi suaranyapun bergetar penuh ketakutan. Jangan menjauh Agni, aku mohon...

“Agni...”

Aku mencoba menjangkaunya, setiap dia mundur satu langkah, aku maju satu langkah. Kenapa dia sekarang? Apa aku sekarang sudah berubah menjadi monster? Ataukah aku menjijikan untuknya?

“jangan bertindak bodoh!”
“iya Mario! Aku memang bodoh! Aku bodoh telah mempercayai bahwa kamu gay dan kamu tidak mungkin mencintai wanita! Aku memang bodoh! Aku bodoh!”

Dia berteriak begitu histeris, nafasnya mulai memburu dan tatapan matanya begitu tajam. Ada ruang yang kosong di hatiku melihatnya, Agni begitu marah padaku. Sangat marah. Hhh...

“aku memang bukan gay dan aku mencintai wanita! Puas kamu!”

Aku dan dia saling bertatapan tajam, aku muak harus menahan segala emosiku lagi. Aku harus segera melepaskannya! Gigiku terasa gemerutuk menahan marah, agar tidak kebablasan lagi. Dia juga melakukan hal yang sama, terlihat sekali urat di lehernya menyembul tanda ia marah besar.

“lebih baik kita cari tempat lain untuk berbicara, aku takut Angel bangun dan mendengar kita bertengkar”

Aku berbalik menjauhinya, aku juga mendengar langkahnya yang mengikutiku. Syukurlah, ternyata dia tidak sekeras kepala seperti yang aku pikirkan. Aku lega, setidaknya dalam hati Agni mungkin ada niat untuk memperbaiki ini semua. Semoga...

“aku ingin kita bercerai”

Aku terpaku di tempat saat mendengar ucapannya. Aku berbalik dengan marah lalu menarik paksa dia agar semakin menjauh dari penginapan itu. Aku mencengkeram tangannya dengan keras agar dia tidak memberontak lagi.

“lepas Rio! lepaskan!!!”

Aku menghempaskan tangannya saat dia mulai membentakku. Aku menatapnya tajam dengan telunjuk yang menunjuk wajahnya.

“kamu...”
“kenapa aku? Bukankah itu kemauan kamu? Ataukah kamu belum puas menyakiti aku? Berapa puluh wanita yang affair denganmu? Berapa gadis yang telah kamu rusak? Hah?!”
“Agni! Dengar!”
“dengar aku Mario!”
“diam dan dengarkan aku!”
“Mario!”
“Agni!!!”

Aku memalingkan wajahku saat dia menunduk ketakutan. Mamaku saja ketakutan kalau aku marah besar apalagi wanita cengeng ini? aku yakin dia sangat bersusah payah agar tidak menangis.

“aku memang bukan gay...”
“cukup Mario!”
“dengar Agni!”
“aku harus dengar apa lagi?”

Matanya menyala seolah menantang pandanganku.
Aku tersenyum kecut, aku mungkin bodoh. Tapi aku baru menyadari rasaku sekarang, rasa yang seharusnya aku sadari sejak dulu.

“jangan seperti anak kecil!”
“aku memang anak kecil! Aku baru dua puluh satu tahun dan kamu dua puluh sembilan tahun! Kamu cukup dewasa untuk menilaiku seperti anak kecil!”
“dengarkan aku!”
“apa lagi Mario? Kamu mau aku dengar apalagi? Kamu mau bilang sudah punya anak lebih dari satu dari hubungan gelap kamu? Iya Mario?! Begitu HAH?!”

Hhh... aku harus tenang, aku harus mendinginkan otakku. Kalau aku bersikap sama, masalah ini tidak akan pernah selesai. Masalah ini akan terus memanjang dan akan berpotensi salah faham.

“yang kau harus dengar... bahwa aku... menyukaimu”

Dia tersenyum getir, memandangku begitu miris. Dia mengusap wajahnya frustasi. Kenapa dia? Bukannya dia harus senang aku bisa mencintainya?

“apa itu kabar bahagia untukku? Tentu saja tidak Mario... kau benar-benar serigala berbulu domba... setelah affair-mu aku ketahui, kamu baru mengatakannya? Aku tidak sebodoh itu Mario! Aku tidak akan masuk dalam omong kosong mu lagi! Aku muak dengan topengmu! Sekarang kamu lebih baik pergi! Aku tidak membutuhkanmu!”

Aku diam, aku ingin tau sampai mana pemahaman dia tentangku yang aku yakin semua pemahamannya salah.
Dia menatap laut menyampingiku, matanya mulai berkaca-kaca dan senyuman miris itu terlihat jelas di wajahnya.

“kalau yang kamu inginkan hanya berhubungan badan, kenapa kamu tidak meminta padaku? Kenapa kamu malah berhubungan dengan wanita lain? Aku jelas istrimu Mario! istri sah mu! Bahkan aku tidak pernah sama sekali kamu sentuh, tapi kenapa... kenapa pagi tadi kau...”

Aku mendudukan diriku di atas pasir, aku sudah tak peduli tampilanku yang sudah aneh ini. aku melirik arlojiku, memastikan penjelasanku akan berakhir sebelum dini hari. Aku mendengar beberapa kali hembusan nafas berat dari Agni. Setelah ucapannya yang terdengar begitu menyakitkan, kini giliran aku membantahnya, aku mencoba menekan emosiku dulu agar tidak bertindak bodoh lagi dan menyakitinya. Hhh....

“aku mungkin bukan gay karena aku bisa mencintai dua wanita, yaitu kamu dan Agneta. Itu mungkin... karena mengingat aku tetap jijik pada wanita lain selain kalian berdua serta Mama dan Angel. Aku memang selalu membersihkan diriku dengan tissu setelah bersentuhan dengan wanita, tapi itu tidak berlaku untukmu dan Agneta... kalau aku jijik padamu, aku tidak mungkin bisa memelukmu, menciummu begitu posesif. Aku akan menjauhimu sebisaku. Sampai sekarang aku memang masih bingung... sebenarnya aku jijik pada wanita itu karena apa? Pada awalnya aku jijik pada kaum sepertimu karena mereka hanya  bahan penggoda, sampai akupun pernah hampir tergoda, tapi ternyata sekarang argumenku salah. Bahkan aku jijik pada staf-staf yang pendiamku yang tak pernah menggodaku... aku bingung... sebenarnya aku kenapa....”

Aku merasakan Agni duduk di sampingku, tapi aku tak berminat memalingkan wajahku pada gadis itu. Aku tetap teguh memandangi pantai itu.

“kalau kamu menyebutku telah berapa puluh wanita dan berapa puluh gadis yang menjadi korbanku, maka jawabannya tidak ada. Bahkan Agneta saja takluknya bukan olehku... aku tidak pernah memiliki pengalaman tentang hal seperti itu”
“tapi... mana ponselmu?”

Aku meliriknya sekilas, ada tatapan kecurigaan dari matanya, belum percaya juga dia? Hhh... wajar sajalah, pasti yang memegang ponselku sekarang benar-benar memancing kemarahan Agni.

“hilang, aku tidak tau dimana aku menyimpannya terakhir kali... di tambah aku lupa menyuruh Ify menelponmu, pekerjaanku hari ini benar-benar melelahkan apalagi dengan Ray tidak datang... di tambah lagi dengan istriku yang beberapa hari ini marah. Aku tidak konsentrasi menghadapi meeting-ku akhir-akhir ini, kalau kamu tidak percaya... tanyakan pada Sivia”

Aku membalas tatapannya dengan dalam, kemudian meraih kedua tangannya dan menggenggamnya erat. Aku mengecup keningnya sebentar.

“aku tidak benar-benar memintamu inseminasi Agni, aku hanya ingin melihat reaksimu. Aku senang kamu mengatakan lebih baik melakukannya daripada inseminasi, tapi ternyata di percakapan terakhir kamu malah menyebutkan nama Fabio... aku benar-benar berbalik marah padamu... aku kecewa dengan begitu gampangnya kamu mundur”

Agni terlihat kaget dengan semua ucapanku. Aku bisa melihat gurat kebahagiaan dari wajahnya. Kenapa dia? Apa sudah senang melihat perubahanku?

“maaf... aku... bodoh”
“enggak Agni, aku yang bodoh... kenapa terus saja menyakiti wanita yang begitu sempurna sepertimu”

Aku merengkuhnya dalam pelukanku. Aku benar-benar lega sekarang karena telah mengatakan semuanya pada Agni. Semoga kau senang Agneta, aku telah mengabulkan keinginanmu.

“jadi... bagaimana dengan inseminasi itu?”

Aku meliriknya yang berada di dalam dekapanku. Aku tersenyum nakal padanya, aku ingin sekali menggodanya saat ini.

“bukannya kita akan melakukan... aw... sakit Agni”

Sikit tajamnya mendarat di perutku yang masih kosong. Benar-benar ngilu di ulu hatiku. Tapi kemudian rasa sakit itu hilang setelah melihat wajah Agni yang memerah karena malu dan panik karena melihatku.

“Agni... stop memandangku seperti itu, kau seperti ingin aku membawamu ketempat tidur kalau merah seperti itu”

Aku tertawa geli melihat matanya yang membelalak dan wajahnya yang semakin merah.

“dasar gay mesum!!!”

***

Aku merasakan pelukan dari depan dan belakang tubuhku, aku mulai membuka mataku yang terasa masih mengantuk. Aku bisa melihat Angel yang masih terlelap dengan memeluk leherku dari depan dan sebuah tangan kekar melingkar di pinggangku yang sudah pasti milik Rio.
Hhh... kenapa aku merasa sudah sangat tua? Padahal baru lima tahun yang lalu aku tujuh belas tahun. Hhh...
Aku merasa Rio bergerak.

“Rio... kamu sudah bangun?”

Bukannya menjawab, lelaki itu malah melingkarkan kakinya di betisku seakan mengunciku agar aku tidak pergi dari sini. Aku tidak habis pikir dengan sikap Rio, aku benar-benar bingung harus bagaimana menghadapinya. Aku harus memulai mencari tau apa penyebab Rio seperti ini.

Aku membelai rambut Angel dengan lembut.

“bangun An, udah siang”

Angel mulai menggeliat melepaskan pelukannya padaku. Aku tertawa kecil melihatnya menguap beberapa kali. Lucu sekali, benar-benar mirip sekali dengan Rio.

“iya Mama... ehh... Papa?”

Aku mengangguk menanggapinya, lalu tersenyum pada Malaikat kecilku itu.
“An mandi dulu gih, entar kita jalan-jalan sama Papa”
“iya... Papa kepanasan ya Ma? Sampe gak pake baju gitu”

Angel berkata sambil berlalu keluar dari kamar, karena letak kamar mandi di penginapan ini memang di luar kamar. Wajahku memanas, aku yakin sangat merah seperti tomat. Entah kenapa aku melu sendiri mendengar penuturan Angel, haish... ada apa denganku ini?
Aku merasakan hembusan nafas yang mengenai kupingku lalu sebuah kecupan di leher bagian belakangku. Oh God... merinding sekali aku. Apa sebenarnya yang aku rasakan?

“Rio”
“hn, diamlah”

Seperti di sihir dengan kata itu, maka aku hanya diam saja mengikuti keinginannya. Aku merasa tangannya mulai nakal menjamah tubuhku. Ck!

“udah siang Rio, bangunlah... apa kamu tidak kerja?”
“tidak”
“lepas Rio... bentar lagi Angel masuk”

Aku mendengar dia berdecak kesal, kemudian meraih kemejanya yang telah kusut tak berbentuk. Dari raut wajahnya dia seperti sedang menahan sesuatu. Kenapa dia? Sepertinya benar-benar kesal.

Aku mencoba tidak mempedulikannya, aku bangkit kemudian keluar dari kamar tanpa menegurnya. Sebodo amat deh ya mau marah lagi juga.

Setelah berganti mandi dan berganti pakaian aku menuju halaman depan penginapan untuk bergabung dengan Rio, Ray, dan Angel.
Aku melihat Rio yang memakai pakaian begitu santai, mungkin milik Ray. Kaus putih membalut tubuh atletisnya yang menunjukan tonjolah otot-ototnya, membuat aku seakan sulit bernafas. Hhh...

“kenapa? Terpesona?”

Aku memutar bola mataku kesal. Bisa-bisanya dia berkata begitu dinginnya? Ish... menyebalkan sekali dia!

“Agni, suami gak di kasih jatah ya? uring-uringan terus tuh dari tadi”

Pipiku memanas mendengarnya, ihh tiap malem juga gak ada jatah sekarang mau minta jatah? Oh No! Dia benar-benar gila.

“An, disini dulu sama Oom Ray ya? Papa mau ngobrol dulu sama Mama”

Aku menatapnya dengan tatapan aneh, kemudian mengikuti langkahnya kembali memasuki rumah dan kamar. Hey hey hey! Mau apa dia? Jangan gila Mario!

“aku telah mengurus keberangkatan kita ke Lobok, kta akan berangkat besok”

Hah?! Ngapain? Aku menyipitkan mataku curiga, menunjuk wajahnya dengan geram.

“mau ngapain ke Lombok?”
“inseminasi!”
“Apa? Kamu gila!”
“ya Tuhan Agni.... kamu ini... heuh... kita bulan madu”
“HAH?!”

***

Bersambung...

No comments:

Post a Comment