“It’s
Time...”
Bab 9
Perdebatan hebat siang itu berdampak buruk untukku beberapa
hari kedepan, aku enggan pergi kemanapun, bahkan aku menolak untuk bertemu
Angel. Padahal aku yakin anak itu bertanya-tanya sebenarnya aku ini kenapa.
Beberapa malam ini aku juga pisah ranjang dengan Rio,
padahal sebesar apapun masalah kita seperti sebelumnya, kita tidak pernah
sampai pisah ranjang, aku tidak menyiapkan sarapan dan makan malam untuknya.
Aku hanya berdiam diri di kamar, merenung. Memikirkan cara agar rumah tanggaku
tidak sesulit ini, apalagi aku telah mengungkit-ungkit Fabio. Hhh... aku tidak
heran Rio sampai akan menamparku saat itu, karena aku sadar sekarang. Aku keterlaluan!
Aku tidak tau beberapa malam ini Rio tidur dimana, aku benar-benar tidak mau
mempedulikannya. Aku sungguh sakit hati padanya, aku merasa di rendahkan
olehnya. Tapi tak bisa ku pungkiri kalau aku sangat merindukannya, merindukan
kehangatannya. Aku hanya membutuhkan mendengar suaranya saja, apa aku lebih
baik menelponnya saja?
Aku meraih ponselku yang tidak pernah aku indahkan itu,
ternyata banyak sekali pesan dan panggilan tidak terjawab. Baik dari Rio, Ray, Angel atau Ify.
Aku yakin Rio meminta bantuan Ify untuk menghadapiku, karena
cuma Ify yang paling pintar menggodaku.
Kenapa lama sekali?
“hallo?”
“ehh...”
Aku melirik ponselku, ini benar nomor Rio, tapi kenapa yang
mengangkat panggilannya itu wanita?
“mana suamiku?”
“Rio ya? maaf ya... aku tidak bisa membangunkannya, dia tertidur sangat
lelap. Hhh... ternyata dia benar-benar membutuhkan sentuhan kasih sayang wanita
ya? apa kamu tidak memberikannya untuk Rio? sampai...”
Cukup! Aku tidak bisa mendengarkannya lebih lanjut. Apa yang
dia katakan? Kenapa wanita itu berbicara begitu menggoda? Apa mungkin selama
ini Rio berbohong padaku kalau dia itu gay?
Aku melempar ponselku hingga membentur kaca meja rias.
Terdengar suara pecahan begitu keras, seperti hatiku yang
kini pecah tanpa sisa keutuhan.
Aku menangis dalam bantalku tertahan, aku benar-benar tidak
habis pikir dengan apa yang Rio lakukan. Aku memang pernah berpikir lebih baik
Rio playboy daripada gay, tapi bukan begini caranya, bukan dengan cara
membohongiku kalau dia gay. Dia bisa jujur padaku kalau dia tidak suka padaku
dan sedang menjalin hubungan dengan wanita lain. Bukan begini!
Dari luar ruangan terdengar beberapa orang yang
menggedor-gedor pintu.
“Agni buka! Jangan gila!”
“Mama...”
Itu suara Ray dan Angel, keduanya menggedor-gedor pintu
bergantian. Aku tidak peduli, aku semakin membenamkan tubuhku di tempat tidur
yang sudah tidak berbentuk lagi.
“Mama... buka, jangan buat An
takut”
Aku mendengar suara Angel yang bergetar, terdengar juga Ray
menenangkan Angel. Ya Tuhan... apa Rio benar-benar tidak ada di rumah ini?
sebegitu tidak berartinyakah aku dimatanya? Sebegitu tidak berharganyakah aku?
“Agni, aku dobrak ya”
Aku mengangkat wajahku dari bantal, membukakan pintu untuk
Ray dan Angel. Setelah itu aku beranjak ke kamar mandi. Sekarang! Aku lebih
baik inseminasi daripada harus berhubungan dengan Rio yang ternyata penggemar ‘one night’ dengan wanita lain. Aku
tidak akan menyerahkan tubuhku pada lelaki brengsek!
“Mama...”
Angel berjalan ke arahku, memeluk pinggangku dan membenamkan
kepalanya di perutku. Aku merasakan dia bergetar begitu hebat. Aku tidak mau
Angel menjadi korban kekacauanku dan Rio. aku harus kuat demi Angel. Hanya demi
Angel!
“hey, kenapa menangis? Mama sehat
kok An”
“Ma... Mama k.kenapa? ma..marahan
sama... P.Papa ya Ma?”
Hhh... aku tidak harus menjawabnya, tanpa menjawabpun
sepertinya dia tau yang sebenarnya. Aku merengkuh Angel dalam pelukanku, membenamkan kepalanya di
lekukan leherku lalu membawanya keluar dari kamar mandi.
“An keluar dulu ya sama Oom Ray,
Mama mau ganti baju dulu, setelah itu kita jalan-jalan”
Dia terlihat menganggukkan kepalanya. Aku baru ingat
ternyata Angel telah memasuki libur tengah semesternya. Hhh... aku tidak boleh
merusak liburannya.
Aku menarik secarik kertas untuk memberikan pesan pada Rio.
Maaf
aku merusak kamarmu dan harimu.
Seharusnya
aku tau dari dulu bahwa kamu tidak benar-benar gay dan kamu ternyata punya
wanita idaman lain.
Aku lebih
senang kamu jujur Rio, aku sangat sakit hati mendengar wanita yang mengangkat
telponmu tadi pagi. Aku benar-benar kecewa padamu. Aku selalu berusaha berpikir
positif tentangmu, tapi mendengar itu... mungkin kamu mengerti apa yang aku
rasakan dan pikirkan.
Aku
akan pergi untuk beberapa saat menenangkan pikiranku, aku juga membawa Angel.
Aku
hanya ingin tau apa yang kamu inginkan, kalau kamu ingin bercerai aku terima.
Aku akan menemuimu dan pengacaramu dalam tiga hari kedepan di kantormu.
Aku
benar-benar tidak kuat mendengar kamu affair.
Aku
merasa wanita yang terbodohi. Sangat bodoh!
Aku
pergi...
Agni.
Aku beranjak ke ruang kerja Rio untuk menyimpan surat ini di meja
kerjanya. Hhh... semoga kamu menemukan wanita yang sesuai harapanmu Rio...
***
Jam sepuluh malam aku baru selesai bekerja dan memasuki rumah yang
tampak sepi, tidak ada Ray yang duduk di ruang tamu, tidak ada Angel yang
menyambut kedatanganku seperti beberapa hari kebelakang ini. Sejak perdebatan
terakhirku dengan Agni, dia benar-benar berubah padaku, tidak pernah
menyambutku, tidak pernah menyiapkan pakaianku, tidak pernah menyiapkan
sarapan, makan siang atau makan malam lagi untuku, bahkan aku benar-benar pisah
ranjang dengannya. Aku rasa dia sangat marah padaku saat aku mengajukan
inseminasi, tapi entah kenapa aku berbalik marah padanya saat mendengar nama
Fabio ia sebutkan. Aku bahkan hampir menamparanya kalau tidak terdengar suara
deruan mobil dari luar rumah. Aku benar-benar kesal padanya, aku marah! Sangat
marah! Ternyata perkataannya dulu, tidak sungguh-sungguh dia mengatakannya, aku tidak habis pikir kenapa
aku bisa percaya kalau dia bisa mengembalikanku, berusaha sampai aku
benar-benar mencintainya. Argh...
Lho lho... pinselku?
Argh... sial! Aku baru menyadari ponselku menghilang, padahal bisa
saja Agni menghubungiku. Atau mungkin Angel, atau Ray.
Sial sial! Aku benar-benar lupa dimana ponselku!
Aku tidak mungkin kembali ke kantorku sekarang, aku akan coba cari
di ruang kerjaku yang beberapa hari ini aku tinggali.
Aku mulai menyapukan pandanganku ke seluruh ruangan, tak ada
satupun tanda-tanda keeberadaan benda kecil itu. Tapi, pandanganku tertarik
pada sebuah... surat? Dari siapa?
Aku meraih surat itu dan mulai membacanya.
Ya Tuhan... kenapa hari ini aku benar-benar sial? Ponselku hilang,
sekarang Agni pergi gara-gara ponselku yang entah di pegang oleh siapa.
Tuhan... apa cobaan untukku belum berakhir?
Aku segera meraih gagang telpon rumah, menekan beberapa digit
angka untuk menghubungi Agni.
Mati. Kemana dia?
Aku segera keluar ruanganku dan berjalan tergesa menuju kamar yang
ternyata sangat berantakkan karena pecahan kaca dimana-mana lalu ponsel Agni
yang telah berantakkan tak berwujud, pantas saja ponselnya tidak bisa di
hubungi. Seketika bulu kudukku terasa berdiri membayangkan kondisi Agni saat
ini, aku benar-benar takut istriku itu kenapa-kenapa. Tuhan... kalau sampai
istriku kenapa-kenapa akulah pihak yang paling merasa bersalah. Selamatkanlah dia
tuhan...
“Bi, bersihkan kamarku”
Aku berseru sambil berlalu karena kepanikan, pikiranku benar-benar
kalut sekarang. Agni pasti marah sekali padaku. Aku bisa membayangkan beberapa
hari ini dia sangat kacau, dia sangat lemah, dia membutuhkan aku, kenapa aku
bodoh sekali tidak berusaha menemuinya di kamar? Padahal jelas-jelas aku
memiliki kunci cadangan. Mario bodoh!
Saat akan memasuki mobilku, aku melihat satpam yang menjaga
rumahku.
“pak istri saya pergi dengan siapa?”
“nyonya Agni? Sama den Ray tuan”
“oke, terimakasih”
Ada sedikit kelegaan dihatiku setelah mengetahui Ray bersama Agni,
aku yakin dia akan menjaga istri dan anakku. Sambil berkendara aku meraih
tabletku yang sengaja aku bawa, mungkin akan berguna.
Aku melonggarkan dasi dengan kasar, jasku entah terbuang dimana,
aku sudah tidak ingat itu. Pikiranku benar-benar kacau dan semuanya di penuhi
oleh Agni dan Agni.
Aku membelokkan mobilku memasuki pekarangan rumah Agni, tapi
terlihat sangat sepi, lampunya saja padam. Shit! Pergi kemana mereka?
Aku meraih tabletku, mengirim pesan pada Ray.
Kalian
dimana? Ada hal penting yang harus di selesaikan.
Aku di pantai, tapi Agni tidak mau
bertemu denganmu.
Oke.
Jaga dia.
Tentu aku tidak benar-benar tidak akan pergi kesana. Aku ingin
masalahku cepat berakhir dengan Agni, aku lelah terus berseteru dengannya. Aku
langsung tancap gas menuju pantai satu-satunya di kota ini. aku tidak peduli
mereka mau marah atau apa, yang aku mau, masalahku cepat berakhir.
***
Aku terjaga di tengah malam ini, mimpi burukku siang ini cukup
menguras pikiranku. Andai saja... aku disini bersama Rio dan rumah tanggaku
baik-baik saja.
Disini, menghadap pantai ini dan di bawah ribuan bintang, aku
hanya dapat merenungi nasib rumah tanggaku selanjutnya. Akankah berakhir
ataukah berlanjut meski dengan berbagai cobaan yang terus menghadang? Seakan tidak
akan pernah habis menghampiri.
Aku bingung, meskipun hatiku telah remuk tak berbentuk, tapi tak
ku pungkiri bahwa dalam hatiku tersisa cinta untuk Rio yang terpatri begitu
apik di dalam relung hatiku yang paling dalam.
Aku memejamkan mataku saat angin laut menerpa wajahku. Aku
mencengkeram erat-erat pagar besi pembatas penginapanku dengan pantai,
menguatkan seluruh tubuhku agar tidak bergetar karena ingin menangis dan
kedinginan. Kedinginan bercampur dengan rasa kecewa, begitu menusuk sampai
ketulang dan sampai ke hati. Oh God sabarkan aku...
Tiba-tiba sebuah tangan besar memeluk hangat tubuhku dari
belakang, damai sekali rasanya. Aku merasakan harum farfum maskulin yang terasa
tak asing bagitu, Rio. tapi tidak mungkin dia ada disini, paling ini Ray. Yang
selalu menghiburku dengan cara seperti ini.
“Ray...”
Dia tidak menyahut, dia mengeratkan pelukannya padaku. Aku
menyandarkan punggungku di dadanya, masih tak minat membuka mata. Menyamankan posisiku,
memeluk diriku sendiri di atas lengan besar itu. Aku benar-benar nyaman, aku
merasa relung-relung kosong dalam hatiku mulai terisi dengan kahangatan. Hhh...
aku senang meskipun hanya ada kembaranku disini.
“Ray? Kenapa gak nyahut?”
“aku bukan Ray”
“HAH?!”
Mataku membelalak kaget. Itu suara serak Rio. Rio?! apa benar?
Aku segera membalikkan tubuhku menghadapnya, dan ternyata ini
benar Rio.
Aku segera menjauhkan diri dari Rio, aku tidak ingin di sentuh
olehnya! Aku tidak sudi di sentuh lelaki biadab seperti dia yang bisanya
membayar wanita untuk senang-senang dalam satu malam. Cih...
“R..Rio, b..bagaimana... kamu...”
***
Aku menatap heran Agni yang mundur menjauh dariku, seperti
reaksinya saat aku berpura-pura menjadi Fabio. Apa aku sekarang semenakutkan
itu? Apalagi suaranyapun bergetar penuh ketakutan. Jangan menjauh Agni, aku
mohon...
“Agni...”
Aku mencoba menjangkaunya, setiap dia mundur satu langkah, aku
maju satu langkah. Kenapa dia sekarang? Apa aku sekarang sudah berubah menjadi
monster? Ataukah aku menjijikan untuknya?
“jangan bertindak bodoh!”
“iya Mario! Aku memang bodoh! Aku
bodoh telah mempercayai bahwa kamu gay dan kamu tidak mungkin mencintai wanita!
Aku memang bodoh! Aku bodoh!”
Dia berteriak begitu histeris, nafasnya mulai memburu dan tatapan
matanya begitu tajam. Ada ruang yang kosong di hatiku melihatnya, Agni begitu
marah padaku. Sangat marah. Hhh...
“aku memang bukan gay dan aku
mencintai wanita! Puas kamu!”
Aku dan dia saling bertatapan tajam, aku muak harus menahan segala
emosiku lagi. Aku harus segera melepaskannya! Gigiku terasa gemerutuk menahan
marah, agar tidak kebablasan lagi. Dia juga melakukan hal yang sama, terlihat
sekali urat di lehernya menyembul tanda ia marah besar.
“lebih baik kita cari tempat lain
untuk berbicara, aku takut Angel bangun dan mendengar kita bertengkar”
Aku berbalik menjauhinya, aku juga mendengar langkahnya yang
mengikutiku. Syukurlah, ternyata dia tidak sekeras kepala seperti yang aku
pikirkan. Aku lega, setidaknya dalam hati Agni mungkin ada niat untuk
memperbaiki ini semua. Semoga...
“aku ingin kita bercerai”
Aku terpaku di tempat saat mendengar ucapannya. Aku berbalik
dengan marah lalu menarik paksa dia agar semakin menjauh dari penginapan itu. Aku
mencengkeram tangannya dengan keras agar dia tidak memberontak lagi.
“lepas Rio! lepaskan!!!”
Aku menghempaskan tangannya saat dia mulai membentakku. Aku
menatapnya tajam dengan telunjuk yang menunjuk wajahnya.
“kamu...”
“kenapa aku? Bukankah itu kemauan
kamu? Ataukah kamu belum puas menyakiti aku? Berapa puluh wanita yang affair denganmu? Berapa gadis yang telah
kamu rusak? Hah?!”
“Agni! Dengar!”
“dengar aku Mario!”
“diam dan dengarkan aku!”
“Mario!”
“Agni!!!”
Aku memalingkan wajahku saat dia menunduk ketakutan. Mamaku saja
ketakutan kalau aku marah besar apalagi wanita cengeng ini? aku yakin dia
sangat bersusah payah agar tidak menangis.
“aku memang bukan gay...”
“cukup Mario!”
“dengar Agni!”
“aku harus dengar apa lagi?”
Matanya menyala seolah menantang pandanganku.
Aku tersenyum kecut, aku mungkin bodoh. Tapi aku baru menyadari
rasaku sekarang, rasa yang seharusnya aku sadari sejak dulu.
“jangan seperti anak kecil!”
“aku memang anak kecil! Aku baru dua
puluh satu tahun dan kamu dua puluh sembilan tahun! Kamu cukup dewasa untuk
menilaiku seperti anak kecil!”
“dengarkan aku!”
“apa lagi Mario? Kamu mau aku dengar
apalagi? Kamu mau bilang sudah punya anak lebih dari satu dari hubungan gelap
kamu? Iya Mario?! Begitu HAH?!”
Hhh... aku harus tenang, aku harus mendinginkan otakku. Kalau aku
bersikap sama, masalah ini tidak akan pernah selesai. Masalah ini akan terus
memanjang dan akan berpotensi salah faham.
“yang kau harus dengar... bahwa aku...
menyukaimu”
Dia tersenyum getir, memandangku begitu miris. Dia mengusap
wajahnya frustasi. Kenapa dia? Bukannya dia harus senang aku bisa mencintainya?
“apa itu kabar bahagia untukku? Tentu
saja tidak Mario... kau benar-benar serigala berbulu domba... setelah affair-mu aku ketahui, kamu baru
mengatakannya? Aku tidak sebodoh itu Mario! Aku tidak akan masuk dalam omong
kosong mu lagi! Aku muak dengan topengmu! Sekarang kamu lebih baik pergi! Aku
tidak membutuhkanmu!”
Aku diam, aku ingin tau sampai mana pemahaman dia tentangku yang
aku yakin semua pemahamannya salah.
Dia menatap laut menyampingiku, matanya mulai berkaca-kaca dan
senyuman miris itu terlihat jelas di wajahnya.
“kalau yang kamu inginkan hanya
berhubungan badan, kenapa kamu tidak meminta padaku? Kenapa kamu malah
berhubungan dengan wanita lain? Aku jelas istrimu Mario! istri sah mu! Bahkan
aku tidak pernah sama sekali kamu sentuh, tapi kenapa... kenapa pagi tadi
kau...”
Aku mendudukan diriku di atas pasir, aku sudah tak peduli
tampilanku yang sudah aneh ini. aku melirik arlojiku, memastikan penjelasanku
akan berakhir sebelum dini hari. Aku mendengar beberapa kali hembusan nafas
berat dari Agni. Setelah ucapannya yang terdengar begitu menyakitkan, kini
giliran aku membantahnya, aku mencoba menekan emosiku dulu agar tidak bertindak
bodoh lagi dan menyakitinya. Hhh....
“aku mungkin bukan gay karena aku bisa
mencintai dua wanita, yaitu kamu dan Agneta. Itu mungkin... karena mengingat
aku tetap jijik pada wanita lain selain kalian berdua serta Mama dan Angel. Aku
memang selalu membersihkan diriku dengan tissu setelah bersentuhan dengan
wanita, tapi itu tidak berlaku untukmu dan Agneta... kalau aku jijik padamu,
aku tidak mungkin bisa memelukmu, menciummu begitu posesif. Aku akan menjauhimu
sebisaku. Sampai sekarang aku memang masih bingung... sebenarnya aku jijik pada
wanita itu karena apa? Pada awalnya aku jijik pada kaum sepertimu karena mereka
hanya bahan penggoda, sampai akupun
pernah hampir tergoda, tapi ternyata sekarang argumenku salah. Bahkan aku jijik
pada staf-staf yang pendiamku yang tak pernah menggodaku... aku bingung...
sebenarnya aku kenapa....”
Aku merasakan Agni duduk di sampingku, tapi aku tak berminat
memalingkan wajahku pada gadis itu. Aku tetap teguh memandangi pantai itu.
“kalau kamu menyebutku telah berapa
puluh wanita dan berapa puluh gadis yang menjadi korbanku, maka jawabannya
tidak ada. Bahkan Agneta saja takluknya bukan olehku... aku tidak pernah
memiliki pengalaman tentang hal seperti itu”
“tapi... mana ponselmu?”
Aku meliriknya sekilas, ada tatapan kecurigaan dari matanya, belum
percaya juga dia? Hhh... wajar sajalah, pasti yang memegang ponselku sekarang
benar-benar memancing kemarahan Agni.
“hilang, aku tidak tau dimana aku
menyimpannya terakhir kali... di tambah aku lupa menyuruh Ify menelponmu,
pekerjaanku hari ini benar-benar melelahkan apalagi dengan Ray tidak datang...
di tambah lagi dengan istriku yang beberapa hari ini marah. Aku tidak
konsentrasi menghadapi meeting-ku
akhir-akhir ini, kalau kamu tidak percaya... tanyakan pada Sivia”
Aku membalas tatapannya dengan dalam, kemudian meraih kedua
tangannya dan menggenggamnya erat. Aku mengecup keningnya sebentar.
“aku tidak benar-benar memintamu
inseminasi Agni, aku hanya ingin melihat reaksimu. Aku senang kamu mengatakan
lebih baik melakukannya daripada inseminasi, tapi ternyata di percakapan
terakhir kamu malah menyebutkan nama Fabio... aku benar-benar berbalik marah
padamu... aku kecewa dengan begitu gampangnya kamu mundur”
Agni terlihat kaget dengan semua ucapanku. Aku bisa melihat gurat
kebahagiaan dari wajahnya. Kenapa dia? Apa sudah senang melihat perubahanku?
“maaf... aku... bodoh”
“enggak Agni, aku yang bodoh... kenapa
terus saja menyakiti wanita yang begitu sempurna sepertimu”
Aku merengkuhnya dalam pelukanku. Aku benar-benar lega sekarang
karena telah mengatakan semuanya pada Agni. Semoga kau senang Agneta, aku telah
mengabulkan keinginanmu.
“jadi... bagaimana dengan inseminasi
itu?”
Aku meliriknya yang berada di dalam dekapanku. Aku tersenyum nakal
padanya, aku ingin sekali menggodanya saat ini.
“bukannya kita akan melakukan... aw...
sakit Agni”
Sikit tajamnya mendarat di perutku yang masih kosong. Benar-benar
ngilu di ulu hatiku. Tapi kemudian rasa sakit itu hilang setelah melihat wajah Agni
yang memerah karena malu dan panik karena melihatku.
“Agni... stop memandangku seperti itu,
kau seperti ingin aku membawamu ketempat tidur kalau merah seperti itu”
Aku tertawa geli melihat matanya yang membelalak dan wajahnya yang
semakin merah.
“dasar gay mesum!!!”
***
Aku merasakan pelukan dari depan dan belakang tubuhku, aku mulai
membuka mataku yang terasa masih mengantuk. Aku bisa melihat Angel yang masih
terlelap dengan memeluk leherku dari depan dan sebuah tangan kekar melingkar di
pinggangku yang sudah pasti milik Rio.
Hhh... kenapa aku merasa sudah sangat tua? Padahal baru lima tahun
yang lalu aku tujuh belas tahun. Hhh...
Aku merasa Rio bergerak.
“Rio... kamu sudah bangun?”
Bukannya menjawab, lelaki itu malah melingkarkan kakinya di
betisku seakan mengunciku agar aku tidak pergi dari sini. Aku tidak habis pikir
dengan sikap Rio, aku benar-benar bingung harus bagaimana menghadapinya. Aku harus
memulai mencari tau apa penyebab Rio seperti ini.
Aku membelai rambut Angel dengan lembut.
“bangun An, udah siang”
Angel mulai menggeliat melepaskan pelukannya padaku. Aku tertawa
kecil melihatnya menguap beberapa kali. Lucu sekali, benar-benar mirip sekali
dengan Rio.
“iya Mama... ehh... Papa?”
Aku mengangguk menanggapinya, lalu tersenyum pada Malaikat kecilku
itu.
“An mandi dulu gih, entar kita
jalan-jalan sama Papa”
“iya... Papa kepanasan ya Ma? Sampe
gak pake baju gitu”
Angel berkata sambil berlalu keluar dari kamar, karena letak kamar
mandi di penginapan ini memang di luar kamar. Wajahku memanas, aku yakin sangat
merah seperti tomat. Entah kenapa aku melu sendiri mendengar penuturan Angel,
haish... ada apa denganku ini?
Aku merasakan hembusan nafas yang mengenai kupingku lalu sebuah
kecupan di leher bagian belakangku. Oh God... merinding sekali aku. Apa sebenarnya
yang aku rasakan?
“Rio”
“hn, diamlah”
Seperti di sihir dengan kata itu, maka aku hanya diam saja
mengikuti keinginannya. Aku merasa tangannya mulai nakal menjamah tubuhku. Ck!
“udah siang Rio, bangunlah... apa kamu
tidak kerja?”
“tidak”
“lepas Rio... bentar lagi Angel masuk”
Aku mendengar dia berdecak kesal, kemudian meraih kemejanya yang
telah kusut tak berbentuk. Dari raut wajahnya dia seperti sedang menahan
sesuatu. Kenapa dia? Sepertinya benar-benar kesal.
Aku mencoba tidak mempedulikannya, aku bangkit kemudian keluar
dari kamar tanpa menegurnya. Sebodo amat deh ya mau marah lagi juga.
Setelah berganti mandi dan berganti pakaian aku menuju halaman
depan penginapan untuk bergabung dengan Rio, Ray, dan Angel.
Aku melihat Rio yang memakai pakaian begitu santai, mungkin milik Ray.
Kaus putih membalut tubuh atletisnya yang menunjukan tonjolah otot-ototnya,
membuat aku seakan sulit bernafas. Hhh...
“kenapa? Terpesona?”
Aku memutar bola mataku kesal. Bisa-bisanya dia berkata begitu
dinginnya? Ish... menyebalkan sekali dia!
“Agni, suami gak di kasih jatah ya?
uring-uringan terus tuh dari tadi”
Pipiku memanas mendengarnya, ihh tiap malem juga gak ada jatah
sekarang mau minta jatah? Oh No! Dia benar-benar gila.
“An, disini dulu sama Oom Ray ya? Papa
mau ngobrol dulu sama Mama”
Aku menatapnya dengan tatapan aneh, kemudian mengikuti langkahnya
kembali memasuki rumah dan kamar. Hey hey hey! Mau apa dia? Jangan gila Mario!
“aku telah mengurus keberangkatan kita
ke Lobok, kta akan berangkat besok”
Hah?! Ngapain? Aku menyipitkan mataku curiga, menunjuk wajahnya
dengan geram.
“mau ngapain ke Lombok?”
“inseminasi!”
“Apa? Kamu gila!”
“ya Tuhan Agni.... kamu ini... heuh...
kita bulan madu”
“HAH?!”
***
Bersambung...
No comments:
Post a Comment