Wednesday, 22 May 2013

Between Love and Obsession (Ray-Side)


“Princess (kecil) cantik penabur cinta”

Aku menatap takjub kediamanku yang Lima tahun ini aku tinggalkan karena untuk melanjutkan studyku di Jerman, di saat aku dan Agni –kembaranku- dalam ke adaan sulit pasca meninggalnya Ayah, aku mendapatkan beasiswa disana, itu benar-benar jalan yang sangat terang untuk kami. Sementara Agni memilih untuk merintis menjadi model untuk melanjutkan kuliahnya bersama sepupu kami, Ify.

Aku merebahkan tubuhku di sofa, kenapa begitu sepi? Untung saja aku masih memiliki kunci cadangan jadi tidak perlu repot menunggu di luar atau menghubungi Agni. Hhh... sangat melelahkan, pandanganku tertarik pada sebuah bingkai foto yang sangat besar di dekat kamar Ify.
Lho? Kapan Ify menikah? Kenapa aku tidak di beri kabar?

Hah... dasar ya mereka, emang paling bisa menyembunyikan semuanya dariku. Aku lapar sekali, awas saja kalau sampai tidak ada makanan. Aku mulai membuka lemari es, ihh... ini rumah di huni dua perempuan tapi kenapa tidak ada makanan sama sekali? Apa mereka tidak pernah makan?
Dengan perasaan yang sangat marah aku berjalan ke arah ruang tamu lagi karena mendengar sebuah deruan mobil. Mungkin aja Agni. Awas aja, aku marahin dia!

Saat aku bersiap memarahinya, Agni yang mungkin kaget melihatku langsung berhamburan memelukku.

“Ray.... miss you sayang”

Aku membalas pelukannya sejenak, tapi kemudian ia melepaskan pelukkannya padaku begitu cepat lalu menarikku pada seorang pria yang tadi bersama Agni, sepertinya aku kenal.
Agni tersenyum padaku kemudian mengalihkan pandangannya pada pria itu kembali.

“Ray kenalin ini...”
“aku Rio, calon suaminya Agni”

Aku menatapnya aneh, kenapa pada awalnya saat kami berkenalan dia begitu bersahabat dan setelah itu dia menatapku tajam? Aku agak kesal pada awalnya karena Agni tidak menjelaskan sebelumnya padaku kalau dia akan segera menikah, tapi setelah mendengar penjelasannya yasudahlah tidak perlu di perpanjang.

Malam harinya aku bertemu dengan Angel, anaknya calon kakak ipar. Ternyata duda toh, tapi lumayan kerenlah meskipun usianya berbeda jauh denganku dan Agni. Awal pertemuanku bersama Angel benar-benar di luar dugaanku, aku yang pada dasarnya antipati pada anak kecil berubah menjadi menyukainya, apalagi kalau wajahnya memerah saat aku goda, benar-benar lucu. Aihhh gemes banget.

“oiya Ray, besok kamu urusin kantor Rio ya beberapa hari?”
“aku sih oke-oke aja, tapi berkas-berkas pentingnya gimana? Sekertarisnya juga gimana?”
“tenang aja, udah di kasih tau kok. Oiya kalo bisa jemput juga Angel ya setiap jam makan siang”

Sebenarnya itu bukan masalah buatku, toh Angel menyenangkan buat ukuran anak kecil, gak ada yang buat aku keselnya, dia juga nurut banget. Akupun meng-iya-kan tawaran Agni.

***

Besoknya tanpa aku sangka sambutan di kantor Rio sangat heboh, yang awalnya aku melihat mereka malas-malasan bekerja, begitu mendengar aku pimpinan mereka yang baru mereka jadi lebih giat bekerja, ada apa ini? sebegitu menyebarnyakah pesonaku? Ahh aku memang sudah tidak heran, siapa sih yang gak membelalakan mata saat lelaki yang ganteng gak ketulungan? Begitu banyak pengalamanku tentang kejadian seperti ini.
Haaahhh... lupakan kejadian di kantor, kini saatnya aku menjemput princess kecilku. Dia pasti telah menunggu.

Begitu aku keluar dari mobil sport Rio yang kini menjadi milikku, Angel terlihat berjalan dengan malu-malu ke arahku setelah sebelumnya berbincang bersama teman-temannya. Hey kenapa dia? Aku yakin tadi teman-temannya menggoda Angel.

“hai Angel, Oom telat gak jemputnya?”

Aku menggendong Angel, dia mengangguk begitu semangat kemudian memeluk leherku dengan manja.

“An, di godain terus sama temen-temen An... katanya Oom pacarnya An, mereka bilang Oom ganteng banget”

Aku tertawa kecil, geli sekali mendengarnya. Ternyata kegantenganku ini di kagumi kalangan perempuan di segala umur ya? haha... boleh dong bangga?
Aku mengecup lama pipi Angel sebelum aku memasukan dia ke dalam mobil. Aku sempat melihat wajahnya yang memerah mungkin karena kelakuanku. Haha.... aku tidak akan pernah berhenti tertawa dan tersenyum saat bersama princess kecil itu.

***

“Oom Ray, Oom itu udah punya pacar belum? Oom kan ganteng”

Aku mengelus puncak kepalanya sayang sambil terus berkonsentrasi mengikuti mobil pengantin yang membawa Rio dan Agni ketempat resepsi pernikahan.

“belum, emang kenapa? Angel mau jadi pacarnya Oom?”

Dia menunduk malu, haha... lucu sekali dia, aku sampai sulit menahan tawaku. Wajahnya benar-benar memerah. Aku mencubit pipinya dengan gemas.

“sakit Oom... ihh Oom Ray...”

Aku mengelus rambutnya dengan sayang, kemudian keluar buat membuka pintu buat princess cantikku. Baru kali ini ya aku bilang princess cantik? Aku ini memang aneh, membayangkan dia berumur satu tahun di bawahku, cantiknya bakalan seperti apa ya? sekarang aja dandan ala anak-anak begitu cantik di balut gaun warna putih, bando dan sepatu yang senada.

Semua orang menatapku aneh, mungkin aku dikira tidak waras membawa pasangan anak kecil. Apalagi sikap Angel yang terus saja menggandeng tanganku dengan manja. Pantas saja mereka semua menatapku dengan aneh, semua orang membawa pasangannya masing-masing sementara pasanganku anak berumur lima tahun. Ahh sabodo amat deh, yang penting aku nyaman-nyaman aja sama sikap manja Angel, mau di katain udah punya anak atau gak waras juga terserah mereka ajalah.

Sepanjang acara aku sibuk menyapa rekan bisnis Rio yang telah sempat berkenalan denganku, begitupun yang belum aku kenal. Aku sempat berkenalan dengan perempuan yang bernama Shilla, dia sekertaris Alvin yang kebetulan rekan bisnis yang belum aku temui. Dia bisa dengan cepat mengakrabkan diri, sempat juga menggodaku beberapa kali menanyakan pasanganku.
Aku melirik Angel yang melipat tangannya di dada dengan pipi yang di gembungkan, dia masih bertahan di sebelahku.

“itu pasangan aku, princessku... cantikkan?”

Aku berkata seperti itu pada Shilla yang membuat wajah Angel memerah kembali, dia menatapku dengan ekor matanya. Tunggu, sepertinya dia tidak suka dengan Shilla, apa iya?

“cantik, Papanya aja ganteng... ini anaknya Pak Mario kan?”

Obrolan kami tidak berlanjut hingga jauh karena Angel merengek ingin menjauh dari sana. Benar dugaanku, Angel tidak menyukai Shilla.

“An gak suka tante itu, tante itu jahat. Dia pernah marahin An, dia juga  suka goda-goda Papa kalo di kantor. Pokoknya An gak mau Oom Ray deketan sama dia! An gak suka!”

Aku menatapnya dengan pandangan geli, kemudian menyejajarkan tubuhku dengannya. Aku mengelus pipinya lembut.

“iya Angel, Oom juga gak suka kok sama tante itu. Udah ya jangan cemberut lagi”

Hhh... untunglah dia mengangguk dan mulai tersenyum lagi, kalau masih cemberut dan aku bertemu Rio, pasti aku di cincang habis, terus di rebus, dan di makan. Hihh ngeri...

***

Aku merasakan guncangan kecil di kakiku. Perlahan aku membuka mata dengan malas, ternyata Angel. Hey! Jam berapa ini? kenapa dia telah di seragam? Aku segera melirik jam dinding. Astaga! Jam enam. Aku segera bangun dan menuju kamar mandi.

“Oom Ray tukang tidur! Ihh... pokoknya An mau di anterin setengah jam lagi”

Aku mendengar teriakan Angel yang masih berada di kamar yang sementara ini aku tinggali.

“iya, sekarang Angel sarapan dulu gih”

Aku berseru dari dalam kamar mandi, entah dia mendengar atau tidak. Yang penting dia sekarang aku rasa sudah keluar dari kamarku.
Hhh... untung saja dia membangunkanku, kalau tidak bisa gawat.

Setelah selesai mandi dan berpakaian aku dengan segera menuju meja makan. Angel masih ada di sana, sepertinya sarapannya sudah habis.

“yuk berangkat, Oom sarapan di kantor aja. Gak bakalan sempet”

Aku menyela perkataan Angel yang aku tau dia pasti akan menyuruhku sarapan. Aku baru tau, ternyata bakat wanita mengomel itu benar-benar ada di semua kalangan, Angel saja selalu memarahiku kalau aku malas makan. Sebenernya bener juga sih apa katanya, tapi kalau udah males mau gimana lagi?

Setelah aku mengantar Angel, aku menuju ruanganku yang katanya telah ada yang menunggu. Aku memang punya ruangan tersendiri karena ruangan Rio sedang di renovasi di jadiin ruangan kedap suara. Mamanya Rio emang benar-benar mengerti tentang anak muda, ruangan itu di jadikan kedap suara tentu saja pasti karena Rio dan Agni yang menempati ruangan itu suami istri. Ck ck ck...

“hai Shilla... udah lama? Silahkan duduk”

Aku duduk di menja kerjaku, berhadapan dengan Shilla yang duduk di depan meja kerjaku. Ada kepentingan apa dia?

“mengenai model terbaru, saya ada rekomendasi kenapa tidak Cakka saja? Kebetulan dia adik dari Pak Alvin, bersama Oik yang kebetulan juga dia saudara jauh saya”

Cakka? Kalau tidak salah yang pernah di gosipkan telah melaksanakan foto pre-wedding bersama Agni. Berlama-lama di Jerman membuat aku kurang tau kondisi Indonesia sekarang.

“boleh saja, oiya saya masih ada meeting pagi ini. saya  tinggal ya... sampai jumpa”

Aku segera keluar dari ruangan itu, sebelum aku mendapatkan godaan-godaan lagi. Melihat gelagat dia yang benar-benar aneh. Bener-bener buat aku merinding.
Hari-hari menjadi pemimpin kalau seperti ini terus mendingan aku harus segera mencari pasangan hidup. Aku takut tergoda dan melakukan hal bodoh dengan wanita penggoda semacam itu. Membayangkannya saja sangat mengerikan. Duhh... sudahlah lupakan.

Tanpa terasa jam makan siang datang, aku segera menjemput Angel karena Rio mengabarkan kalau siang ini ternyata mereka akan segera pulang.

Saat aku akan beranjak ke luar rumah setelah mengantarkan Angel, Angel menahanku dengan alasan dia sendiri.
Akupun memutuskan menemaninya sampai Rio dan Agni datang.

“An lepasin dasinya ya Oom? An kan pengen masangin dasi buat Oom, kalo masangin buat Papa udah sering, dan akhirnya An malah suka dimarahin”

Angel berkata begitu lucu, sesekali memamerkan deretan giginya yang rapih tanpa cacat. Aku mengangkat anak itu hingga duduk di pangkuanku. Ihhh... menggemaskan sekali dia kalau sedang kebingungan seperti itu, wajah berpikirnya benar-benar seperti ingin aku gigit saking lucunya.
Aku mengecup pipinya sekilas. Dia menghentikan aktifitasnya kemudian menatapku  dengan wajah yang memerah. Kenapa dia? Marah?

“Oom Ray ihh...”
“aw Angel, sakit Angel... aduh jangan di cubitin dong Oom nya... awas ya kamu”

Aku berbalik menggelitikinya, hingga ia berlari menuju ruang depan dan bertepatan dengan itu Rio dan Agni datang. Heuh... syukurlah, aku jadi bisa bebas dari mahkluk jahil yang menggemaskan itu.
Aku sibuk merapihkan dasiku yang benar-benar kacau gara-gara ulah Angel.
Aku melihat dia menunjuk-nunjuk ke arahku. Aku meraih jasku yang di sampirkan di kepala sofa ruang tamu.

“Ray, sorry ya Angel nyusahin”

Aku  hanya mengacungkan jempolku pada Agni, kemudian menggodanya dengan tatapanku

“mendingan jangan buat dulu anak deh ya? satu aja ribet... haha”

Aku segera berlari menuju mobil yang sengaja aku parkirkan di halaman, aku yakin dia akan mengomeliku jika aku masih ada di sana. Haha... biarin aja deh, lumayan hiburan gratis buat Rio, pasti lucu sekali reaksi Agni.

***

Aku kembali pada kesibukkanku lagi, Rio masih tidak masuk kerja. Ada beberapa hari lagi untuk cuti pernikahan mereka. Pagi ini aku rasa kurang berwarna karena tidak bertemu dengan Angel, princess kecilku itu di antar Rio dan Agni tadi pagi. Hhh... aku sangat merasa kehilangan, beberapa hari bersamanya benar-benar membuat aku bahagia.

Aku merasa bosan hari ini, tidak ada jadwal meeting dan menemui clien. Tumben sekali ada hari setenang ini, padahal kata Rio jadwalnya sangat padat. Tapi kenapa hari ini bisa kosong begini?
Kenapa aku tidak mengajak Angel jalan-jalan aja sepulang sekolah? Ide bagus.

Aku meraih ponselku untuk menghubungi sekolah Angel, menanyakan kepulangan anak itu. Untunglah karena ada acara lain untuk guru-gurunya jadilah Angel bisa pulang cepat, aku segera berpamitan pada Sivia sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan kantor.

Cukup lama aku berdiri di depan gerbang sekolah Angel, aku melirik arlojiku, ternyata sudah satu jam. Ray yang dulunya terkenal paling malas menunggu sekarang dengan relanya menunggu seornag anak kecil, bahkan sampai satu jam seperti ini. pesona anak itu benar-benar membuat aku gila.

“Daddy...”

Aku mengerutkan keningku, itu suara Angel. Dia memanggil siapa?
Aku menatap Angel yang sedang berlari ke arahku. Dia tersenyum begitu senang, tapi dia kenapa sebut aku Daddy?

“Daddy... gak boleh yah An panggil Daddy sama Oom?”

Aku tersenyum kecil melihat wajah lucunya. Ia nampak kecewa melihat reaksiku tadi. Aku mengacak-acak rambutnya, kemudian tersenyum.

“boleh kok, jalan-jalan yuk”

Matanya yang tadinya sendu kini berbinar, dia mengangguk begitu antusias. Aku membukakan pintu untuknya kemudian aku menyusulnya di pintu kemudi.
Kami berjalan-jalan ke dunia fantasi setelah sebelumnya membeli pakaian untuk Angel karena tidak mungkinkan ku membawanya main dengan kondisi dia memakai seragam.

Hari ini aku benar-benar puas bermain dengan Angel. Aku mengajaknya bermain di semua wahana yang bisa di naiki anak kecil. Aku senang sekali melihatnya begitu bahagia.

***

Beberapa hari kemudian Angel tidak lagi datang menemuiku, sepertinya dia sedang menikmati kebersamaannya bersama Agni dan Rio. kebetulan aku sangat sibuk dengan mengurusi artis yang akan menjadi bintang iklan produkku, Oik dan Cakka. Tapi keliatannya Cakka tidak begitu bersemangat dengan pekerjaannya ini, hingga aku dekat dengan Oik dan beberapa kali jalan beramanya. Lumayanlah sebagai pengalihan rasa rinduku pada Angel.

Sampai aku mendengar Agni sakit, aku menjenguknya tapi aku tidak betemu sama sekali dengan Angel, kata Agni dia ikut dengan Rio ke kantor. Ah... pasti saat aku datang dia berangkat. Huh... padahal aku kangen sekali pada anak itu, kangen wajahnya yang memerah saat aku goda.

Sampai akhirnya dia datang sendiri ke rumah, aku cukup kaget saat melihat dia tertidur di kamarku. Kamar yang selama aku tidak ada di jadikan kamar tamu. Aku menyimpan jasku sebarang, kemudian menghampiri Angel yang masih terlelap.

Saat aku mengelus rambutnya dia terlihat mengerang kemudian menggeliat.

“Daddy... udah pulang ya?”

Angel mendudukan dirinya menghadapku, wajah cerianya terlihat snagat sedih. Kenapa dia?
Saat aku akan bertanya dia segera turun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Aku mengurungkan niatku sesaat. Tapi Irshad kemana ya? biasanya dia suka menjaga Angel. Aku meraih ponselku.

“Shad?”
“iya Den”
“dimana kamu? Kenapa Angel di rumahku sendiri?”
“saya di rumah Den, tadi nona Angel tidak mau di temani”
“ohh yasudah”

“ya Ray...”
“Angel mau menginap di rumahku, boleh?”
“ya sudah, biar nanti pengasuhnya aku suruh ke sana”
“iya, bye”

Aku menyimpan ponselku di tempat tidur, hingga terdengar ketukan dari luar. Astaga! Aku lupa, akukan tadi mengajak Oik ke rumah ini.

“eh Ik, maaf ya aku lupa”

Dia tersenyum begitu ramah padaku, kemudian melepaskan dasiku dengan begitu lembut dan perlahan. Ada apa dia?
Setelah dia melemparkan dasiku dia membuka kancing baju teratasku, aku semakin heran padanya.

“DADDY”

Angel? Kenapa dia berteriak seperti itu, aku segera menjauhkan diri dari Oik dan berjalan kembali ke dalam kamarku. Untung saja ada Angel.

Ternyata dia berteriak gara-gara ada yang menelponku, Oik juga mengikutiku ke kamar dan ku lihat dia berbincang begitu hangat dengan Angel, Angel sih keliatan enjoy tapi sesekali aku melihatnya kesal dan tidak nyaman, entah karena apa.

Hingga kami bertiga makan malam, Oik terus berusaha mengakrabkan diri dengan Angel, tapi Angel terus saja mangkir. Sekarang terlihat bahwa dia tidak suka dengan keberadaan Angel.

“Angel mau punya Mommy baru gak? Daddy gak punya istrikan?”
“Papa An udah punya Mama, An gak perlu Mommy! Daddy punya An aja!”

Aku melihat Oik mengerutkan keningnya tak mengerti, aku yakin dia menyangka Angel itu anakku, dan dia mau meminta untuk jadi Mama Angel, pantas saja dari tadi tingkahnya aneh.

“Angel itu anak Kakak aku, kok kayaknya aneh gitu liatinnya”

Oik terlihat memutar bola matanya kesal, kemudian ia tak menghiraukan Angel lagi, sampai ketika aku ngobrol dengan Angel dia terlihat tidak suka. Dia juga memarahi Angel hingga anak itu akan menangis, akupun meradang dan akhirnya aku yang berbalik memarahinya. Aku sampai bilang untuk tidak mendekatiku lagi, aku tidak suka wanita sekasar itu.

Beberapa hari setelah kejadian itu Angel menghilang lagi, mungkin dia marah juga sama aku. sampai Rio menelponku mengabarkan bahwa Agni tidak mau keluar kamar dari beberapa hari. Secara naluri perasaanku langsung tidak enak. ada apa dengan kembaranku itu? Aku tidak pernah melihat dia sememberontak ini.
Dia menelponku karena tidak bisa mengawasi Agni lagi karena pekerjaannya yang terbengkalai menjadi semakin menumpuk, selain itu aku juga mengurusi sibuk mengurusi bagian lain di kantornya Rio. tapi aku memutuskan untuk ke rumah mereka, aku juga mendengar kabar bahwa Angel telah masuk liburan sekolah.

“Angel”
“Daddy... Mama... An takut Mama sakit lagi”

Aku menggendong Angel yang mulai sesenggukan dalam pelukanku, sebegitu sayangnya Angel pada Agni. Hhh... aku merasa beruntung Agni berada dalam keluarga yang begitu menyayanginya.

“beberapa hari ini, kayaknya Mama sama Papa berantem, An gak bisa ketemu Mama, Mama larang aku... Papa juga jadi gak merhariin An, semuanya kacau Daddy, mereka marahan”
“Papa kamu sekarang kemana?”
“tadi pagi-pagi banget ada tamu cewek yang waktu itu sama Daddy, tapi Papa pergi duluan gak nanggepin cewek itu, sekarang aku gak tau Papa dimana”
“Oik...”

PRANG.

Aku sejenak terpaku di tempat hingga aku segera berlari menuju kamar Agni bersama Angel yang masih ada dalam gendonganku.
Aku menggedor kamar Agni dengan sebelah tanganku, aku benar-benar khawatir padanya.

“Agni buka! Jangan gila!”
“Mama...”

Aku menatap khawatir pada Angel yang mulai menangis tersedu, sepertinya dia juga  merasa khawatir pada Agni.
Aku terus menggedor pintu kamar Agni tanpa ampun.

“Mama... buka, jangan buat An takut”

Aku menatap Angel iba, ya tuhan... apa yang harus aku lakukan?

“Angel sabar ya... jangan nangis terus, entar Mamanya gak mau keluar lho kalo Angel nangis terus, sekarang Angel turun dulu ya”

Aku menurunkannya setelah ia mengangguk setuju. Hhh... aku mencoba menenangkannya sebentar.

“Agni, aku dobrak ya”

Tapi sebelum aku mendobraknya, Agni telah membuka pintu terlebih dahulu namun segera beranjak meninggalkan kami. Aku menatap prihatin kamar Agni, benar-benar menyiratkan rasa sakit hati Agni. Sebenarnya ada masalah apa mereka?
Aku melihat Angel memasuki kamar mandi, aku tidak berusaha mencegahnya, aku rasa Angel akan menjadi obat untuk Agni.

Tak lama kemudian Agni dan Angel keluar dari kamar mandi.

“An keluar dulu ya sama Oom Ray, Mama mau ganti baju dulu, setelah itu kita jalan-jalan”

Aku melihat Angel mengangguk, kemudian berjalan ke arahku. Tanpa bersuara akupun mengajaknya untuk beranjak dari sana.

***

Saat perjalanan menuju pantai, aku melihat Agni yang terus bergurau dengan Angel. Syukurlah, Agni telah terlihat lebih baik sekarang walaupun tatapan matanya terkadang kosong entah memikirkan apa.
Hingga sampailah kami ke pantai dan langsung memboking penginapan yang strategis, siang hari ini benar-benar panas.
Aku melihat dari teras penginapan Agni dan Angel bermain air di pinggir pantai, sudahlah lebih baik seperti itu. Aku benar-benar tidak tega melihat Agni terus-terusan bersedih seperti tadi.
Pikiranku kembali melayang pada Oik, apa lagi yang akan dia lakuan? Setelah tidak berhasil mendapatkanku apa dia akan berusaha mendapatkan Rio? jangan! Jangan sampai dia melakukannya.

“Ray.... sini”

Aku melihat Agni melambaikan tangannya padaku, aku tersenyum padanya kemudian menghampiri mereka berdua.

“fotoin ya”

Aku mengangguk lalu mengeluarkan ponselku dari dalam saku. Aku tersenyum geli melihat pipi Angel yang memerah karena kepanasan. Sangat menggemaskan, aku merasa sudah lama sekali tidak melihat pipi merah itu.

Selesai berfoto Agni menghampiriku dan membiarkan Angel memainkan pasir di pinggir pantai sendiri. Aku masih bisa melihat gurat kesedihan di wajahnya. Hhh... aku tidak mau ikut campur dalam masalahnya, aku hanya akan bertindak saat Agni minta tolong padaku.

“Angel bilang waktu dia nginep di rumah, kamu bawa temen ya? siapa? Sampai Angel nyuruh aku buat bilang ke kamu kalo kamu harus jauhin dia, Angel kayaknya gak suka banget sama dia”

Aku terkekeh, sampai segitunya? Angel Angel... dasar... tingkah lucunya benar-benar mendominasi ya? walau kadang-kadang aku di abaikan gara-gara dia maenin gadget terus.

“Oik, ya... awalnya sih dia nyangka kalo aku itu Papanya Angel, jadi dia baik banget sama Angel tapi akhirnya dia malah jutekin Angel saat tau Angel bukan anak aku”
“Oik? Model? Dia tau gak kamu kembaran aku?”

Aku hanya mengangkat bahu.

“dia pernah mau saingan sama aku buat jadi model di perusahaan Rio, dia sampai dandan all out cuma mau di terima disana”

Hah?! Jangan-jangan sekarang dia ada niat buat ngancurin rumah tangga Agni lagi. Aku gak bakalan tinggal diam kalo bener itu tujuannya. Aku akan benar-benar marah padanya! Awas kamu ya!

***

Esoknya aku melihat ada Rio di depan, kapan dia datang? Apa masalah dia telah selesai dengan Agni? aku duduk bersama Rio dan Angel

“ponselku hilang”
“kok bisa?”

Aku menatap Rio dengan aneh,

“aku lupa terakhir menyimpannya dimana. Aku rasa aku terakhir memakainya di ruang kerjaku yang ada di rumah, tapi gak ada, aku belum sempet cari di kantor”

Jangan-jangan... ahh aku akan pastikan menemukan ponsel itu, karena ponselnya itu hanya ada satu di Indonesia. Tidak akan ada yang memilikinya lagi selain Rio.

Tak lama Agni datang. Lalu Rio mengajak Agni masuk.

Agrh... kapan aku ada kesempatan mencari tau? Shit!

Karena melihat kebahagiaan mereka di pantai itu, aku rasa masalah mereka telah selesai. Aku memutuskan untuk pulang saja.
Sesampainya di rumah aku bertemu Mamanya Rio, ada apa? Tumben sekali dia datang?

“Ma... apa kabar?”
“Ray, kabar baik... oiya, kamu mau menghendle lagi kerjaan Rio kan? Mama udah siapin bulan madu mereka untuk satu bulan ini, kalo Angel biar Mama aja yang ngatur”
“oke Ma, tapi Angel biar sama aku aja Ma, aku seneng kok sama Angel”
“yasudah terserah kamu saja, kalo gitu Mama pergi dulu ya... masih banyak kerjaan di rumah”
“iya, ayo aku antar sampai depan”

Satu bulan bersama Angel? Haha... pasti bahagia banget. Aku sampai sudah merancang acara jalan-jalanku untuk satu minggu ini karena Angel masih ada dalam liburan sekolah.
Ponselku tiba-tiba berdering.

“ada apa Sivia?”
“saya melihat ponsel Pak Mario di pegang Mbak Oik Pak, tadi saya berusaha menghubungi ibu Agni tapi tidak ada jawaban”
“Oik? Dimana dia sekarang?”
“ada Pak bersama bagian pemasaran”
“tolong awasi dia! Aku segera kesana sekarang”

Dengan perasaan meradang aku segera meraih kunci mobilku kembali. Apa yang dia lakukan dengan ponsel Rio?

Aku mendapati wanita itu telah pergi dari kantor, dan dengan terpaksa aku mengulur-ulur waktu terus berusaha menemui dia, hingga acara liburanku dengan Angel terpaksa di batalkan. Aku membawa Angel ke kantor sebagai gantinya. Shit! Kenapa aku tidak pernah bisa bertatap muka dengan wanita itu? Argh! Ck.

“Dad... ada masalah apa sih?”

Aku melirik Angel yang sedari tadi sibuk dengan gadget-nya, aku hanya tersenyum pada Angel.

“Angel lagi ngapain sih? Kok asik banget?”
“lho dari tadi Daddy gak dengerin? An kan lagi skype-an sama Mama sama Papa”
“mana? Pinjem sebentar ya?”

Dia menatapku dengan aneh, tapi kemudian memberikan gadgetnya padaku. Aku membawanya agak menjauh dari Angel.

“ada apa Ray?”
“ponsel Rio Agni, ponselnya ada di Oik!”
“Oik? Kok bisa?”
“apa Ray? Jadi dia yang bawa?”
“iya, aku belum sempet ketemu langsung sih, tapi Sivia udah liat dengan mata kepalanya sendiri”
“tolong urus ya, thanks udah kasih tau”
“oke... ehh Angel udah cemberut tuh di cuekin, udahan ya”

Aku duduk di samping Angel memberikan gadgetnya kembali pada Angel.

“makasih ya cantik”
Dia mengangguk kemudian mengacuhkanku kembali. Hhh... ternyata dia cuek sekali ya? mungkin gara-gara aku juga lebih sering mencuekinya.

***


Udahan...

No comments:

Post a Comment