“Princess
(kecil) cantik penabur cinta”
Aku menatap takjub kediamanku yang Lima tahun ini aku
tinggalkan karena untuk melanjutkan studyku di Jerman, di saat aku dan Agni
–kembaranku- dalam ke adaan sulit pasca meninggalnya Ayah, aku mendapatkan
beasiswa disana, itu benar-benar jalan yang sangat terang untuk kami. Sementara
Agni memilih untuk merintis menjadi model untuk melanjutkan kuliahnya bersama
sepupu kami, Ify.
Aku merebahkan tubuhku di sofa, kenapa begitu sepi? Untung
saja aku masih memiliki kunci cadangan jadi tidak perlu repot menunggu di luar
atau menghubungi Agni. Hhh... sangat melelahkan, pandanganku tertarik pada
sebuah bingkai foto yang sangat besar di dekat kamar Ify.
Lho? Kapan Ify menikah? Kenapa aku tidak di beri kabar?
Hah... dasar ya mereka, emang paling bisa menyembunyikan
semuanya dariku. Aku lapar sekali, awas saja kalau sampai tidak ada makanan.
Aku mulai membuka lemari es, ihh... ini rumah di huni dua perempuan tapi kenapa
tidak ada makanan sama sekali? Apa mereka tidak pernah makan?
Dengan perasaan yang sangat marah aku berjalan ke arah ruang
tamu lagi karena mendengar sebuah deruan mobil. Mungkin aja Agni. Awas aja, aku
marahin dia!
Saat aku bersiap memarahinya, Agni yang mungkin kaget
melihatku langsung berhamburan memelukku.
“Ray.... miss you sayang”
Aku membalas pelukannya sejenak, tapi kemudian ia melepaskan
pelukkannya padaku begitu cepat lalu menarikku pada seorang pria yang tadi
bersama Agni, sepertinya aku kenal.
Agni tersenyum padaku kemudian mengalihkan pandangannya pada
pria itu kembali.
“Ray kenalin ini...”
“aku Rio, calon suaminya Agni”
Aku menatapnya aneh, kenapa pada awalnya saat kami
berkenalan dia begitu bersahabat dan setelah itu dia menatapku tajam? Aku agak
kesal pada awalnya karena Agni tidak menjelaskan sebelumnya padaku kalau dia
akan segera menikah, tapi setelah mendengar penjelasannya yasudahlah tidak
perlu di perpanjang.
Malam harinya aku bertemu dengan Angel, anaknya calon kakak
ipar. Ternyata duda toh, tapi lumayan kerenlah meskipun usianya berbeda jauh
denganku dan Agni. Awal pertemuanku bersama Angel benar-benar di luar dugaanku,
aku yang pada dasarnya antipati pada anak kecil berubah menjadi menyukainya,
apalagi kalau wajahnya memerah saat aku goda, benar-benar lucu. Aihhh gemes
banget.
“oiya Ray, besok kamu urusin
kantor Rio ya beberapa hari?”
“aku sih oke-oke aja, tapi
berkas-berkas pentingnya gimana? Sekertarisnya juga gimana?”
“tenang aja, udah di kasih tau
kok. Oiya kalo bisa jemput juga Angel ya setiap jam makan siang”
Sebenarnya itu bukan masalah buatku, toh Angel menyenangkan
buat ukuran anak kecil, gak ada yang buat aku keselnya, dia juga nurut banget.
Akupun meng-iya-kan tawaran Agni.
***
Besoknya tanpa aku sangka sambutan di kantor Rio sangat
heboh, yang awalnya aku melihat mereka malas-malasan bekerja, begitu mendengar
aku pimpinan mereka yang baru mereka jadi lebih giat bekerja, ada apa ini?
sebegitu menyebarnyakah pesonaku? Ahh aku memang sudah tidak heran, siapa sih
yang gak membelalakan mata saat lelaki yang ganteng gak ketulungan? Begitu
banyak pengalamanku tentang kejadian seperti ini.
Haaahhh... lupakan kejadian di kantor, kini saatnya aku
menjemput princess kecilku. Dia pasti telah menunggu.
Begitu aku keluar dari mobil sport Rio yang kini menjadi
milikku, Angel terlihat berjalan dengan malu-malu ke arahku setelah sebelumnya
berbincang bersama teman-temannya. Hey kenapa dia? Aku yakin tadi
teman-temannya menggoda Angel.
“hai Angel, Oom telat gak
jemputnya?”
Aku menggendong Angel, dia mengangguk begitu semangat
kemudian memeluk leherku dengan manja.
“An, di godain terus sama
temen-temen An... katanya Oom pacarnya An, mereka bilang Oom ganteng banget”
Aku tertawa kecil, geli sekali mendengarnya. Ternyata
kegantenganku ini di kagumi kalangan perempuan di segala umur ya? haha... boleh
dong bangga?
Aku mengecup lama pipi Angel sebelum aku memasukan dia ke
dalam mobil. Aku sempat melihat wajahnya yang memerah mungkin karena
kelakuanku. Haha.... aku tidak akan pernah berhenti tertawa dan tersenyum saat
bersama princess kecil itu.
***
“Oom Ray, Oom itu udah punya
pacar belum? Oom kan ganteng”
Aku mengelus puncak kepalanya sayang sambil terus
berkonsentrasi mengikuti mobil pengantin yang membawa Rio dan Agni ketempat
resepsi pernikahan.
“belum, emang kenapa? Angel mau
jadi pacarnya Oom?”
Dia menunduk malu, haha... lucu sekali dia, aku sampai sulit
menahan tawaku. Wajahnya benar-benar memerah. Aku mencubit pipinya dengan
gemas.
“sakit Oom... ihh Oom Ray...”
Aku mengelus rambutnya dengan sayang, kemudian keluar buat
membuka pintu buat princess cantikku. Baru kali ini ya aku bilang princess
cantik? Aku ini memang aneh, membayangkan dia berumur satu tahun di bawahku,
cantiknya bakalan seperti apa ya? sekarang aja dandan ala anak-anak begitu
cantik di balut gaun warna putih, bando dan sepatu yang senada.
Semua orang menatapku aneh, mungkin aku dikira tidak waras
membawa pasangan anak kecil. Apalagi sikap Angel yang terus saja menggandeng
tanganku dengan manja. Pantas saja mereka semua menatapku dengan aneh, semua
orang membawa pasangannya masing-masing sementara pasanganku anak berumur lima
tahun. Ahh sabodo amat deh, yang penting aku nyaman-nyaman aja sama sikap manja
Angel, mau di katain udah punya anak atau gak waras juga terserah mereka ajalah.
Sepanjang acara aku sibuk menyapa rekan bisnis Rio yang
telah sempat berkenalan denganku, begitupun yang belum aku kenal. Aku sempat
berkenalan dengan perempuan yang bernama Shilla, dia sekertaris Alvin yang
kebetulan rekan bisnis yang belum aku temui. Dia bisa dengan cepat mengakrabkan
diri, sempat juga menggodaku beberapa kali menanyakan pasanganku.
Aku melirik Angel yang melipat tangannya di dada dengan pipi
yang di gembungkan, dia masih bertahan di sebelahku.
“itu pasangan aku, princessku...
cantikkan?”
Aku berkata seperti itu pada Shilla yang membuat wajah Angel
memerah kembali, dia menatapku dengan ekor matanya. Tunggu, sepertinya dia
tidak suka dengan Shilla, apa iya?
“cantik, Papanya aja ganteng...
ini anaknya Pak Mario kan?”
Obrolan kami tidak berlanjut hingga jauh karena Angel
merengek ingin menjauh dari sana. Benar dugaanku, Angel tidak menyukai Shilla.
“An gak suka tante itu, tante itu
jahat. Dia pernah marahin An, dia juga
suka goda-goda Papa kalo di kantor. Pokoknya An gak mau Oom Ray deketan
sama dia! An gak suka!”
Aku menatapnya dengan pandangan geli, kemudian menyejajarkan
tubuhku dengannya. Aku mengelus pipinya lembut.
“iya Angel, Oom juga gak suka kok
sama tante itu. Udah ya jangan cemberut lagi”
Hhh... untunglah dia mengangguk dan mulai tersenyum lagi,
kalau masih cemberut dan aku bertemu Rio, pasti aku di cincang habis, terus di
rebus, dan di makan. Hihh ngeri...
***
Aku merasakan guncangan kecil di kakiku. Perlahan aku
membuka mata dengan malas, ternyata Angel. Hey! Jam berapa ini? kenapa dia
telah di seragam? Aku segera melirik jam dinding. Astaga! Jam enam. Aku segera
bangun dan menuju kamar mandi.
“Oom Ray tukang tidur! Ihh...
pokoknya An mau di anterin setengah jam lagi”
Aku mendengar teriakan Angel yang masih berada di kamar yang
sementara ini aku tinggali.
“iya, sekarang Angel sarapan dulu
gih”
Aku berseru dari dalam kamar mandi, entah dia mendengar atau
tidak. Yang penting dia sekarang aku rasa sudah keluar dari kamarku.
Hhh... untung saja dia membangunkanku, kalau tidak bisa
gawat.
Setelah selesai mandi dan berpakaian aku dengan segera
menuju meja makan. Angel masih ada di sana, sepertinya sarapannya sudah habis.
“yuk berangkat, Oom sarapan di
kantor aja. Gak bakalan sempet”
Aku menyela perkataan Angel yang aku tau dia pasti akan
menyuruhku sarapan. Aku baru tau, ternyata bakat wanita mengomel itu
benar-benar ada di semua kalangan, Angel saja selalu memarahiku kalau aku malas
makan. Sebenernya bener juga sih apa katanya, tapi kalau udah males mau gimana
lagi?
Setelah aku mengantar Angel, aku menuju ruanganku yang
katanya telah ada yang menunggu. Aku memang punya ruangan tersendiri karena
ruangan Rio sedang di renovasi di jadiin ruangan kedap suara. Mamanya Rio emang
benar-benar mengerti tentang anak muda, ruangan itu di jadikan kedap suara
tentu saja pasti karena Rio dan Agni yang menempati ruangan itu suami istri. Ck
ck ck...
“hai Shilla... udah lama?
Silahkan duduk”
Aku duduk di menja kerjaku, berhadapan dengan Shilla yang
duduk di depan meja kerjaku. Ada kepentingan apa dia?
“mengenai model terbaru, saya ada
rekomendasi kenapa tidak Cakka saja? Kebetulan dia adik dari Pak Alvin, bersama
Oik yang kebetulan juga dia saudara jauh saya”
Cakka? Kalau tidak salah yang pernah di gosipkan telah
melaksanakan foto pre-wedding bersama
Agni. Berlama-lama di Jerman membuat aku kurang tau kondisi Indonesia sekarang.
“boleh saja, oiya saya masih ada
meeting pagi ini. saya tinggal ya...
sampai jumpa”
Aku segera keluar dari ruangan itu, sebelum aku mendapatkan
godaan-godaan lagi. Melihat gelagat dia yang benar-benar aneh. Bener-bener buat
aku merinding.
Hari-hari menjadi pemimpin kalau seperti ini terus mendingan
aku harus segera mencari pasangan hidup. Aku takut tergoda dan melakukan hal
bodoh dengan wanita penggoda semacam itu. Membayangkannya saja sangat
mengerikan. Duhh... sudahlah lupakan.
Tanpa terasa jam makan siang datang, aku segera menjemput
Angel karena Rio mengabarkan kalau siang ini ternyata mereka akan segera
pulang.
Saat aku akan beranjak ke luar rumah setelah mengantarkan
Angel, Angel menahanku dengan alasan dia sendiri.
Akupun memutuskan menemaninya sampai Rio dan Agni datang.
“An lepasin dasinya ya Oom? An
kan pengen masangin dasi buat Oom, kalo masangin buat Papa udah sering, dan
akhirnya An malah suka dimarahin”
Angel berkata begitu lucu, sesekali memamerkan deretan
giginya yang rapih tanpa cacat. Aku mengangkat anak itu hingga duduk di
pangkuanku. Ihhh... menggemaskan sekali dia kalau sedang kebingungan seperti
itu, wajah berpikirnya benar-benar seperti ingin aku gigit saking lucunya.
Aku mengecup pipinya sekilas. Dia menghentikan aktifitasnya
kemudian menatapku dengan wajah yang
memerah. Kenapa dia? Marah?
“Oom Ray ihh...”
“aw Angel, sakit Angel... aduh
jangan di cubitin dong Oom nya... awas ya kamu”
Aku berbalik menggelitikinya, hingga ia berlari menuju ruang
depan dan bertepatan dengan itu Rio dan Agni datang. Heuh... syukurlah, aku
jadi bisa bebas dari mahkluk jahil yang menggemaskan itu.
Aku sibuk merapihkan dasiku yang benar-benar kacau gara-gara
ulah Angel.
Aku melihat dia menunjuk-nunjuk ke arahku. Aku meraih jasku
yang di sampirkan di kepala sofa ruang tamu.
“Ray, sorry ya Angel nyusahin”
Aku hanya
mengacungkan jempolku pada Agni, kemudian menggodanya dengan tatapanku
“mendingan jangan buat dulu anak
deh ya? satu aja ribet... haha”
Aku segera berlari menuju mobil yang sengaja aku parkirkan
di halaman, aku yakin dia akan mengomeliku jika aku masih ada di sana. Haha...
biarin aja deh, lumayan hiburan gratis buat Rio, pasti lucu sekali reaksi Agni.
***
Aku kembali pada kesibukkanku lagi, Rio masih tidak masuk
kerja. Ada beberapa hari lagi untuk cuti pernikahan mereka. Pagi ini aku rasa
kurang berwarna karena tidak bertemu dengan Angel, princess kecilku itu di antar
Rio dan Agni tadi pagi. Hhh... aku sangat merasa kehilangan, beberapa hari
bersamanya benar-benar membuat aku bahagia.
Aku merasa bosan hari ini, tidak ada jadwal meeting dan
menemui clien. Tumben sekali ada hari setenang ini, padahal kata Rio jadwalnya
sangat padat. Tapi kenapa hari ini bisa kosong begini?
Kenapa aku tidak mengajak Angel jalan-jalan aja sepulang
sekolah? Ide bagus.
Aku meraih ponselku untuk menghubungi sekolah Angel,
menanyakan kepulangan anak itu. Untunglah karena ada acara lain untuk
guru-gurunya jadilah Angel bisa pulang cepat, aku segera berpamitan pada Sivia
sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan kantor.
Cukup lama aku berdiri di depan gerbang sekolah Angel, aku
melirik arlojiku, ternyata sudah satu jam. Ray yang dulunya terkenal paling
malas menunggu sekarang dengan relanya menunggu seornag anak kecil, bahkan
sampai satu jam seperti ini. pesona anak itu benar-benar membuat aku gila.
“Daddy...”
Aku mengerutkan keningku, itu suara Angel. Dia memanggil
siapa?
Aku menatap Angel yang sedang berlari ke arahku. Dia
tersenyum begitu senang, tapi dia kenapa sebut aku Daddy?
“Daddy... gak boleh yah An
panggil Daddy sama Oom?”
Aku tersenyum kecil melihat wajah lucunya. Ia nampak kecewa
melihat reaksiku tadi. Aku mengacak-acak rambutnya, kemudian tersenyum.
“boleh kok, jalan-jalan yuk”
Matanya yang tadinya sendu kini berbinar, dia mengangguk
begitu antusias. Aku membukakan pintu untuknya kemudian aku menyusulnya di
pintu kemudi.
Kami berjalan-jalan ke dunia fantasi setelah sebelumnya
membeli pakaian untuk Angel karena tidak mungkinkan ku membawanya main dengan
kondisi dia memakai seragam.
Hari ini aku benar-benar puas bermain dengan Angel. Aku
mengajaknya bermain di semua wahana yang bisa di naiki anak kecil. Aku senang
sekali melihatnya begitu bahagia.
***
Beberapa hari kemudian Angel tidak lagi datang menemuiku,
sepertinya dia sedang menikmati kebersamaannya bersama Agni dan Rio. kebetulan
aku sangat sibuk dengan mengurusi artis yang akan menjadi bintang iklan
produkku, Oik dan Cakka. Tapi keliatannya Cakka tidak begitu bersemangat dengan
pekerjaannya ini, hingga aku dekat dengan Oik dan beberapa kali jalan
beramanya. Lumayanlah sebagai pengalihan rasa rinduku pada Angel.
Sampai aku mendengar Agni sakit, aku menjenguknya tapi aku tidak
betemu sama sekali dengan Angel, kata Agni dia ikut dengan Rio ke kantor. Ah...
pasti saat aku datang dia berangkat. Huh... padahal aku kangen sekali pada anak
itu, kangen wajahnya yang memerah saat aku goda.
Sampai akhirnya dia datang sendiri ke rumah, aku cukup kaget
saat melihat dia tertidur di kamarku. Kamar yang selama aku tidak ada di
jadikan kamar tamu. Aku menyimpan jasku sebarang, kemudian menghampiri Angel
yang masih terlelap.
Saat aku mengelus rambutnya dia terlihat mengerang kemudian
menggeliat.
“Daddy... udah pulang ya?”
Angel mendudukan dirinya menghadapku, wajah cerianya
terlihat snagat sedih. Kenapa dia?
Saat aku akan bertanya dia segera turun dari tempat tidur
dan pergi ke kamar mandi. Aku mengurungkan niatku sesaat. Tapi Irshad kemana
ya? biasanya dia suka menjaga Angel. Aku meraih ponselku.
“Shad?”
“iya Den”
“dimana kamu? Kenapa Angel di
rumahku sendiri?”
“saya di rumah Den, tadi nona Angel tidak mau di temani”
“ohh yasudah”
“ya Ray...”
“Angel mau menginap di rumahku,
boleh?”
“ya sudah, biar nanti pengasuhnya aku suruh ke sana”
“iya, bye”
Aku menyimpan ponselku di tempat tidur, hingga terdengar
ketukan dari luar. Astaga! Aku lupa, akukan tadi mengajak Oik ke rumah ini.
“eh Ik, maaf ya aku lupa”
Dia tersenyum begitu ramah padaku, kemudian melepaskan
dasiku dengan begitu lembut dan perlahan. Ada apa dia?
Setelah dia melemparkan dasiku dia membuka kancing baju
teratasku, aku semakin heran padanya.
“DADDY”
Angel? Kenapa dia berteriak seperti itu, aku segera
menjauhkan diri dari Oik dan berjalan kembali ke dalam kamarku. Untung saja ada
Angel.
Ternyata dia berteriak gara-gara ada yang menelponku, Oik
juga mengikutiku ke kamar dan ku lihat dia berbincang begitu hangat dengan
Angel, Angel sih keliatan enjoy tapi sesekali aku melihatnya kesal dan tidak
nyaman, entah karena apa.
Hingga kami bertiga makan malam, Oik terus berusaha
mengakrabkan diri dengan Angel, tapi Angel terus saja mangkir. Sekarang
terlihat bahwa dia tidak suka dengan keberadaan Angel.
“Angel mau punya Mommy baru gak?
Daddy gak punya istrikan?”
“Papa An udah punya Mama, An gak
perlu Mommy! Daddy punya An aja!”
Aku melihat Oik mengerutkan keningnya tak mengerti, aku
yakin dia menyangka Angel itu anakku, dan dia mau meminta untuk jadi Mama
Angel, pantas saja dari tadi tingkahnya aneh.
“Angel itu anak Kakak aku, kok
kayaknya aneh gitu liatinnya”
Oik terlihat memutar bola matanya kesal, kemudian ia tak
menghiraukan Angel lagi, sampai ketika aku ngobrol dengan Angel dia terlihat
tidak suka. Dia juga memarahi Angel hingga anak itu akan menangis, akupun
meradang dan akhirnya aku yang berbalik memarahinya. Aku sampai bilang untuk
tidak mendekatiku lagi, aku tidak suka wanita sekasar itu.
Beberapa hari setelah kejadian itu Angel menghilang lagi,
mungkin dia marah juga sama aku. sampai Rio menelponku mengabarkan bahwa Agni
tidak mau keluar kamar dari beberapa hari. Secara naluri perasaanku langsung
tidak enak. ada apa dengan kembaranku itu? Aku tidak pernah melihat dia
sememberontak ini.
Dia menelponku karena tidak bisa mengawasi Agni lagi karena
pekerjaannya yang terbengkalai menjadi semakin menumpuk, selain itu aku juga
mengurusi sibuk mengurusi bagian lain di kantornya Rio. tapi aku memutuskan
untuk ke rumah mereka, aku juga mendengar kabar bahwa Angel telah masuk liburan
sekolah.
“Angel”
“Daddy... Mama... An takut Mama
sakit lagi”
Aku menggendong Angel yang mulai sesenggukan dalam
pelukanku, sebegitu sayangnya Angel pada Agni. Hhh... aku merasa beruntung Agni
berada dalam keluarga yang begitu menyayanginya.
“beberapa hari ini, kayaknya Mama
sama Papa berantem, An gak bisa ketemu Mama, Mama larang aku... Papa juga jadi
gak merhariin An, semuanya kacau Daddy, mereka marahan”
“Papa kamu sekarang kemana?”
“tadi pagi-pagi banget ada tamu
cewek yang waktu itu sama Daddy, tapi Papa pergi duluan gak nanggepin cewek
itu, sekarang aku gak tau Papa dimana”
“Oik...”
PRANG.
Aku sejenak terpaku di tempat hingga aku segera berlari
menuju kamar Agni bersama Angel yang masih ada dalam gendonganku.
Aku menggedor kamar Agni dengan sebelah tanganku, aku
benar-benar khawatir padanya.
“Agni buka! Jangan gila!”
“Mama...”
Aku menatap khawatir pada Angel yang mulai menangis tersedu,
sepertinya dia juga merasa khawatir pada
Agni.
Aku terus menggedor pintu kamar Agni tanpa ampun.
“Mama... buka, jangan buat An
takut”
Aku menatap Angel iba, ya tuhan... apa yang harus aku
lakukan?
“Angel sabar ya... jangan nangis
terus, entar Mamanya gak mau keluar lho kalo Angel nangis terus, sekarang Angel
turun dulu ya”
Aku menurunkannya setelah ia mengangguk setuju. Hhh... aku
mencoba menenangkannya sebentar.
“Agni, aku dobrak ya”
Tapi sebelum aku mendobraknya, Agni telah membuka pintu
terlebih dahulu namun segera beranjak meninggalkan kami. Aku menatap prihatin
kamar Agni, benar-benar menyiratkan rasa sakit hati Agni. Sebenarnya ada
masalah apa mereka?
Aku melihat Angel memasuki kamar mandi, aku tidak berusaha
mencegahnya, aku rasa Angel akan menjadi obat untuk Agni.
Tak lama kemudian Agni dan Angel keluar dari kamar mandi.
“An keluar dulu ya sama Oom Ray,
Mama mau ganti baju dulu, setelah itu kita jalan-jalan”
Aku melihat Angel mengangguk, kemudian berjalan ke arahku.
Tanpa bersuara akupun mengajaknya untuk beranjak dari sana.
***
Saat perjalanan menuju pantai, aku melihat Agni yang terus
bergurau dengan Angel. Syukurlah, Agni telah terlihat lebih baik sekarang
walaupun tatapan matanya terkadang kosong entah memikirkan apa.
Hingga sampailah kami ke pantai dan langsung memboking
penginapan yang strategis, siang hari ini benar-benar panas.
Aku melihat dari teras penginapan Agni dan Angel bermain air
di pinggir pantai, sudahlah lebih baik seperti itu. Aku benar-benar tidak tega
melihat Agni terus-terusan bersedih seperti tadi.
Pikiranku kembali melayang pada Oik, apa lagi yang akan dia
lakuan? Setelah tidak berhasil mendapatkanku apa dia akan berusaha mendapatkan
Rio? jangan! Jangan sampai dia melakukannya.
“Ray.... sini”
Aku melihat Agni melambaikan tangannya padaku, aku tersenyum
padanya kemudian menghampiri mereka berdua.
“fotoin ya”
Aku mengangguk lalu mengeluarkan ponselku dari dalam saku.
Aku tersenyum geli melihat pipi Angel yang memerah karena kepanasan. Sangat
menggemaskan, aku merasa sudah lama sekali tidak melihat pipi merah itu.
Selesai berfoto Agni menghampiriku dan membiarkan Angel
memainkan pasir di pinggir pantai sendiri. Aku masih bisa melihat gurat
kesedihan di wajahnya. Hhh... aku tidak mau ikut campur dalam masalahnya, aku
hanya akan bertindak saat Agni minta tolong padaku.
“Angel bilang waktu dia nginep di
rumah, kamu bawa temen ya? siapa? Sampai Angel nyuruh aku buat bilang ke kamu
kalo kamu harus jauhin dia, Angel kayaknya gak suka banget sama dia”
Aku terkekeh, sampai segitunya? Angel Angel... dasar...
tingkah lucunya benar-benar mendominasi ya? walau kadang-kadang aku di abaikan
gara-gara dia maenin gadget terus.
“Oik, ya... awalnya sih dia
nyangka kalo aku itu Papanya Angel, jadi dia baik banget sama Angel tapi
akhirnya dia malah jutekin Angel saat tau Angel bukan anak aku”
“Oik? Model? Dia tau gak kamu
kembaran aku?”
Aku hanya mengangkat bahu.
“dia pernah mau saingan sama aku
buat jadi model di perusahaan Rio, dia sampai dandan all out cuma mau di terima
disana”
Hah?! Jangan-jangan sekarang dia ada niat buat ngancurin
rumah tangga Agni lagi. Aku gak bakalan tinggal diam kalo bener itu tujuannya.
Aku akan benar-benar marah padanya! Awas kamu ya!
***
Esoknya aku melihat ada Rio di depan, kapan dia datang? Apa
masalah dia telah selesai dengan Agni? aku duduk bersama Rio dan Angel
“ponselku hilang”
“kok bisa?”
Aku menatap Rio dengan aneh,
“aku lupa terakhir menyimpannya
dimana. Aku rasa aku terakhir memakainya di ruang kerjaku yang ada di rumah,
tapi gak ada, aku belum sempet cari di kantor”
Jangan-jangan... ahh aku akan pastikan menemukan ponsel itu,
karena ponselnya itu hanya ada satu di Indonesia. Tidak akan ada yang
memilikinya lagi selain Rio.
Tak lama Agni datang. Lalu Rio mengajak Agni masuk.
Agrh... kapan aku ada kesempatan mencari tau? Shit!
Karena melihat kebahagiaan mereka di pantai itu, aku rasa
masalah mereka telah selesai. Aku memutuskan untuk pulang saja.
Sesampainya di rumah aku bertemu Mamanya Rio, ada apa?
Tumben sekali dia datang?
“Ma... apa kabar?”
“Ray, kabar baik... oiya, kamu
mau menghendle lagi kerjaan Rio kan? Mama udah siapin bulan madu mereka untuk
satu bulan ini, kalo Angel biar Mama aja yang ngatur”
“oke Ma, tapi Angel biar sama aku
aja Ma, aku seneng kok sama Angel”
“yasudah terserah kamu saja, kalo
gitu Mama pergi dulu ya... masih banyak kerjaan di rumah”
“iya, ayo aku antar sampai depan”
Satu bulan bersama Angel? Haha... pasti bahagia banget. Aku
sampai sudah merancang acara jalan-jalanku untuk satu minggu ini karena Angel
masih ada dalam liburan sekolah.
Ponselku tiba-tiba berdering.
“ada apa Sivia?”
“saya melihat ponsel Pak Mario di
pegang Mbak Oik Pak, tadi saya berusaha menghubungi ibu Agni tapi tidak ada
jawaban”
“Oik? Dimana dia sekarang?”
“ada Pak bersama bagian
pemasaran”
“tolong awasi dia! Aku segera
kesana sekarang”
Dengan perasaan meradang aku segera meraih kunci mobilku kembali.
Apa yang dia lakukan dengan ponsel Rio?
Aku mendapati wanita itu telah pergi dari kantor, dan dengan
terpaksa aku mengulur-ulur waktu terus berusaha menemui dia, hingga acara
liburanku dengan Angel terpaksa di batalkan. Aku membawa Angel ke kantor
sebagai gantinya. Shit! Kenapa aku tidak pernah bisa bertatap muka dengan
wanita itu? Argh! Ck.
“Dad... ada masalah apa sih?”
Aku melirik Angel yang sedari tadi sibuk dengan gadget-nya,
aku hanya tersenyum pada Angel.
“Angel lagi ngapain sih? Kok asik
banget?”
“lho dari tadi Daddy gak
dengerin? An kan lagi skype-an sama Mama sama Papa”
“mana? Pinjem sebentar ya?”
Dia menatapku dengan aneh, tapi kemudian memberikan
gadgetnya padaku. Aku membawanya agak menjauh dari Angel.
“ada apa Ray?”
“ponsel Rio Agni, ponselnya ada
di Oik!”
“Oik? Kok bisa?”
“apa Ray? Jadi dia yang bawa?”
“iya, aku belum sempet ketemu
langsung sih, tapi Sivia udah liat dengan mata kepalanya sendiri”
“tolong urus ya, thanks udah
kasih tau”
“oke... ehh Angel udah cemberut
tuh di cuekin, udahan ya”
Aku duduk di samping Angel memberikan gadgetnya kembali pada
Angel.
“makasih ya cantik”
Dia mengangguk kemudian mengacuhkanku kembali. Hhh...
ternyata dia cuek sekali ya? mungkin gara-gara aku juga lebih sering
mencuekinya.
***
Udahan...
No comments:
Post a Comment