Sunday, 19 May 2013

Between Love and Obsession Part 8


“Satu permasalahan bukan akhir dari segalanya...”
Bab 8

(Rio POV)

Aku berdiri menghadap jendela di ruang kerjaku. Hhh... aku bingung pada perasaanku sendiri, kenapa aku bisa berkata sebodoh itu pada Agni? Entahlah? Itu kata gantung, tapi aku yakin dia menyimpulkan iya. Sekarang aku harus bagaimana?

“Mario... kenapa aku menyakitinya lagi? Aku telah cukup sakit hati saat dulu kamu berkata seperti itu, tapi kenapa sekarang kamu melakukan itu juga padanya?”

Suara lembut itu menyadarkanku dari alam bawah sadarku. Aku merasakan dia menyentuh pundakku, memintaku untuk berbalik menghadapnya.
Aku menatapnya dengan dingin. Wajah pucat itu tidak pernah bosan untukku pandangi, tapi wajah pucat itu sekarang terlihat muram, begitu sedih.

“Neta... maafkan aku... aku benar-benar bingung, dia mendesakku, menyudutkanku”
“tapi tidak seharusnya begitukan?”

Aku memalingkan wajahku darinya, beranjak ke arah meja kerjaku untuk meraih ponsel yang berdering.

“ya Ray...”
“Angel mau menginap di rumahku, boleh?”
“ya sudah, biar nanti pengsuhnya aku suruh ke sana”
“iya, bye”

“siapa dia?”

Aku menarap wajah Agneta yang terlihat menyipitkan mata curiga. Aku mendudukan diriku di sofa.

“adik istriku”

Dia terlihat mengangguk-angguk mengerti, kemudian duduk di sampingku. Dia mengusap wajahku dengan lembut.

“jelaskanlah semuanya Mario... aku tidak mau ada yang sakit hati lagi karena kata-katamu itu, cukup aku yang sakit hati dengan kata-kata aneh dan tajammu itu”

Aku memejamkan mataku, kepalaku benar-benar pening sekarang. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan saat ini.

“Rio... makan malam sudah siap”
“hhh... iya, nanti aku menyusul”

Aku menatap Agneta tak rela pertemuan malam ini akan berakhir sesingkat ini.

“lihatlah... bahkan dia tidak menjauhimu seperti aku yang menjauhimu dulu Mario... harusnya kamu sadar, betapa cintanya dia padamu, bahkan aku rasa istrimu itu lebih mencintaimu daripada aku yang pernah mencintaimu”

Apa iya? Setelah perdebatan di kantor tadi, dia memang tidak merubah perlakuannya. Dia hanya jarang berbicara saja.
Mengingat kejadian di kantor, aku jadi ingat betapa kecewanya Agni setelah mendengar jawabanku. Dia menangis dalam diam, bahkan hanya terdengar isakan yang di tahan. Tapi aku yakin sekali dia menyesal menikah denganku, menyesal telah mencintaiku, terlihat dari betapa bergetarnya tubuh istriku itu. Hhh... maafkan aku Agni... aku belum bisa membalas perasaanmu.

“Rio... apa makan malamnya mau aku antar kesini?”

Suara Agni lagi, sebegitu perhatiannya dia padaku. Aku menatap Agneta yang tersenyum padaku, menginstruksikanku untuk beranjak dari sana dan segera menghampiri Agni.

Aku menatap Agni yang masih berdiri di depan pintu. Dia tersenyum begitu kaku padaku, aku membalas senyumannya kemudian mengelus pipinya pelan.

“masak apa hari ini?”

***

(Agni POV)

Betapa terkejutnya aku saat Rio mengelus pipiku lalu merangkul pinggangku saat berjalan menuju meja makan. Apa yang harus aku rasakan? Senang? Mungkin itu yang akan ku rasakan sebelum aku mengetahui bahwa suamiku ini gay. Tapi sekarang? Aku baru menyadari betama kakunya Rio merangkul pinggangku. Kenapa aku baru menyadari ini? Apa rasa cinta yang dulu aku rasa menghapuskan kekakuan Rio padaku? Dan sekarang aku baru sadar setelah rasaku mulai terkikis. Terkikis? Walaupun aku tak yakin dengan kata terkikis itu, tapi aku memang merasakan seperti itu.

“oiya, Angel katanya mau nginep di rumah kamu bareng Ray”
“aku sudah tau”

Aku berkata itu dengan senyuman yang aku rasa begitu kaku, tak seperti biasanya. Apa aku pantas bersikap seperti ini? kalau aku terus menjauhi Rio, bukannya justru Rio akan semakin tidak suka pada wanita? Aku harus berusaha membuat Rio menjauhkan pikiran jeleknya terhadap wanita.
Aku tersenyum geli saat melihat bercak merah dari makanannya berada di hidungnya, kenapa bisa sampai ke hidung seperti itu?
Aku mengulurkan tanganku untuk membersihkan noda itu, kemudian aku mengemut noda itu yang kini berpindah ke jariku.

“tidak jijik?”
“tidak, buat apa jijik? Nodanya dari wajah suamiku ini kan? Tidak mungkin ada bakteri yang bisa membunuhku”

Aku menatapnya yang mungkin tertegun, aku bisa melihat ekspresi wajahnya yang tegang, genggaman pada sendok dan garpupun terlihat melonggar.
Aku tersenyum padanya, kemudian mengulurkan tanganku kembali untuk mengelus pipinya.

“kamu tidak perlu takut aku akan menjauhimu Rio, aku tidak merasa terganggu dengan ke tidak normalan kamu. Justru aku akan memberikan penawaran untukmu”
“apa?”
“aku akan dengan senang hati mencoba mengembalikan dirimu agar bisa mencintai wanita lagi. Itupun kalau kamu mau”

Aku menyendok makanan terakhirku pada mulut. Aku meliriknya dengan ekor mataku, mungkin dia sedang berpikir. Sebaiknya aku membersekan meja makan saja, karena kebetulan piring Rio juga telah kosong.

***

Malam ini aku benar-benar sulit memejamkan mataku, padahal besok aku ada meeting pagi-pagi sekali. Pikiranku terus melayang pada saat makan malam tadi, apa yang dia katakan itu benar-benar serius? Aku memang butuh sekali ada yang mengajariku. Setelah ‘jiwa’ Agneta yang berusaha menyembuhkanku, apakah aku harus menerima tawarannya agar aku bisa mencintai wanita ‘sungguhan’.

“Rio... belum tidur?”

Aku menoleh pada Agni yang memutar tubuhnya menghadapku. Dia mengelus dadaku dengan sangat lembut.

“aku tidak bisa tidur”
“apa yang bisa aku bantu?”

Tidak tau. Aku hanya mengatakan itu dalam hati, karena naluriku berkata lain. Mungkin aku membutuhkan pelukkan hangatnya, seperti malam-malam sebelumnya.
Dia mendekat ke arahku, merapatkan dirinya padaku seolah mengerti apa yang aku pikirkan. Dia membenamkan kepalanya di dadaku sementara tangannya memeluk tubuhku.
Wangi rambutnya sangat memabukkan. Aku merengkuhnya erat, mengelus kepala Agni agar harum rambutnya menyeruak dalam hidungku.

“tidurlah dalam dekapanku”
“tentu saja suamiku”

Aku tersenyum dalam hati mendnegarnya, apa dia benar-benar menganggap suamiku? Aku merasa hatiku melambung mendnegarkannya.

Aku mulai merasakan nafasnya yang teratur, mungkin dia telah terlelap kembali. Sementara aku? Mataku tidak mau berkompromi untuk tertutup.
Aku bisa merasakan ada desiran-desiran halus dalam dadaku. Semoga dia benar-benar bisa mengembalikanku.

***

Aku dan Rio duduk berdampingan di dalam mobil, dia terlihat sibuk dengan gadget-nya. Mungkin karena hari ini akan ada meeting, jadi dia mempersiapkan bahannya.

“hari ini ada pertemuan di luar lagi, kali ini clien-nya laki-laki atau perempuan?”
“laki-laki”
“boleh aku ikut?”
“tidak”
“kenapa?”
“kau ada meeting siang nanti”
“tidak...”
“mungkin kamu lupa”

Aku mendengus kesal, saat menanggapi kata-kata Rio yang begitu dingin. Bahkan, menoleh sedikitpun tidak sama sekali. Dasar menyebalkan! Apakah dia tidak ingat janjinya yang dulu?

“kamu berjanji tidak akan mengabaikanku Rio...”
“lalu?”

Ya Tuhan... apa dia tidak menyadari setiap kata yang ia keluarkan? Aku sangat sakit hati Mario! Sakit!

“aku ingin bertemu Fabio”

Kali ini aku mengatakan itu dengan datar, aku memalingkan wajahku ke arah jendela. Tak peduli bagaimana reaksinya nanti.

“nanti... setelah semua urusanku selesai”
“sekarang... bisakah kamu tidak melihat jalanan tidak penting itu?”

Aku tak bergeming, rasa sakit hatiku bertambah saat dia berkata seperti itu. Jawaban yang ku mau bukanlah seperti itu, aku ingin dia marah dan memintaku untuk tidak memintanya kembali. Aku cuma ingin dia tidak mengabaikanku, tapi kenapa sekarang malah seperti ini? kalau Fabio benar-benar mungcul bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?

Setelah memasuki ruang kerjaku dan Rio, aku langsung sibuk menyiapkan berkas-berkas yang telah Sivia letakkan di meja kerjaku, aku tidak ingin berbicara dengan Rio. aku bernar-benar marah sekarang.

“Agni”

Rio terdengar berjalan ke arahku, dia menyandarkan badannya di sisi mejaku lalu menarik pipiku agar aku menatapnya. Pandangan matanya benar-benar berbeda sekarang, pandangan matanya sangat hangat dan lembut. Seperti bukan Rio.

“aku Fabio, apa yang kamu inginkan?”
“F...Fa...Fabio?”

Aku mendorong pundaknya perlahan agar tidak terlalu dekat denganku. Aku risih dengan lelaki ini, meskipun jasadnya tetap Rio, tapi raganya? Aku merasa takut dengan kelembutan kata-katanya.

“kenapa Agni? Kamu terihat takut? Tenanglah, jiwaku sekarang lemah. Di dalam sana Rio masih sadar, mengawasi kita”
“pp..per..pergi... aku... aku”

Tok tok tok

“masuk”
“Pak, Bu, sudah di tunggu di ruang meeting
“iya, sebentar lagi saya menyusul”

Aku menatapnya takut, gaya berbicaranya sekarang sudah seperti Rio kembali.

“semua wanita takut pada Mario dan begitu memuja Fabio. tapi kenapa kau takut padaku? Dan terlihat begitu memuja Mario?”
“bukan urusanmu! Kembalikan Rio, aku hanya ingin dia. Bukan kamu”
“baiklah, kamu keluar daari sini sekarang”

Aku menatapnya tajam, aku benar-benar muak dengan kebaikan dia. Lebih baik Rio yang datar, dingin dan terkadang arogan. Aku segera beranjak dari ruangan itu dengan beberapa file di tanganku. Aku tidak ingin berlama-lama dengannya, aku tidak bisa bersama Fabio, aku lebih senang pada Mario.

***

Aku tersenyum penuh kemenangan saat Agni keluar dari ruanganku, ternyata dia begitu ketakutan dengan Fabio. Padahal aku tidak benar-benar membangkitkan Fabio, aku hanya ingin mengujinya saja. Tapi ternyata dia benar-benar mencintaiku karena aku dapat melihat tatapan penuh kebencian saat aku mengatakan kalau aku adalah Fabio.

Aku keluar dari ruanganku, Agni masih berdiri di sana. Aku menepuk pundaknya pelan, dia terlihat terperanjat kaget lalu menatapku dengan intens.

“Rio...”
“hn”

Dia terlihat mengangguk-anggukan kepalanya entah karena apa. Apa ada yang aneh?

“kenapa? Ada yang aneh?”

Aku bertanya padanya saat kami berjalan bersamaan menuju ruangan meeting yang berada satu lantai di bawah ruanganku.

“tidak, hanya... sekarang aku yakin kamu telah menjadi Mario lagi”

Dia berkata begitu datar, seolah tidak memiliki emosi.
Aku menatapnya aneh, apa yang membuatku khas? Sampai dia dengan mudahnya mengenaliku?

“kau yakin?”
“tentu saja, siapa lagi yang hobby-nya berkata ‘hn’ padaku kalau bukan kau?”

Hampir saja aku tertawa mendengar perkataannya, sebegitu khasnya ya aku dengan kata itu? Haha... tapi aku senang, itu berarti dia ada kemajuan. Kemajuan perlahan memperhatikanku. Entah kenapa dadaku mulai menghangat mengingat perhatiannya, dadaku mulai berdesir merasakan sesuatu.

***

Aku menatap Rio yang sibuk berbincang via telpon, entah dengan siapa. Untungnya, dia sesekali tersenyum padaku, mungkin telah sadar kalau aku tidak mau di abaikan olehnya.
Dia menyambar jasnya, dan berjalan cepat ke arahku.

“aku ada janji di luar, sebentar. Nanti kita jemput Angel”

Ucapnya tergesa kemudian mengecup keningku pelan. Aku merasa ada yang aneh, aku tidak pernah melihat dia setergesa ini, apalagi dengan memakai jas nya seenaknya, tidak memintaku untuk merapihkannya. Apa pertemuannya benar-benar penting? Hhh... tapi kalau penting tentu dia akan merapihkan pakaiannya dulu, bukan terburu-buru seperti itu.
Aku melirik ponselku yang bergetar, selama meeting tadi aku memang selalu men-silent ponselku agar tidak mengangguk konsentrasi jika suatu waktu ada panggilan dadakan.
Pesan dari nomor tidak di kenal lagi? Mau apa lagi dia?

Agni... suamimu pergikan? Dia tadi mengatakan apa padamu?
Sebenarnya dia akan berkencan dengan kekasihnya, laki-laki sih. Kamu mengkhawatirkannya tidak?

Aku berusaha menahan nafasku untuk tidak memburu saat membaca pesan itu.

Kasihan sekali kamu Agni, kalau kamu tidak percaya. Datang ke cafe blue moon sekarang, aku juga ada di sana. Aku tunggu lho cantik. See you...

Aku mengusap wajahku kasar, emosiku benar-benar telah memuncak sekarang. Sebenarnya apa sih yang pengirim pesan ini mau? Kehancuran kami? Tentu tidak akan pernah bisa!
Dengan kesal aku menyambar tasku dan beranjak menuju cafe tadi. Aku benar-benar penasaran ingin melihat siapa yang mengirim pesan itu untukku.

Kenapa Jaguar merah itu ada di parkiran? Memakai mobil siapa dia tadi?
Aku berjalan menuju sopirku yang berada di pos satpam.

“Pak, Pak Rio tadi berangkat menggunakan mobil yang mana?”
“Bu... tadi Pak Mario memakai mobil Ferrari yang selalu di simpan di kantor”

Ferrari? Kenapa aku tidak tau dia punya Ferrari?
Aku merasa dadaku bertambah bergemuruh, begitu marah, sangat marah.

“Pak, antarkan aku ke Blue Moon”

Sepanjang perjalanan aku menerka-nerka apa yang sedang Rio lakukan disana, aku benar-benar tidak bisa membayangkannya. Apalagi Blue Moon itu cafe yang menyediakan private room. Tuhan... semoga Rio tidak melakukan hal-hal yang aneh.

Aku meraih ponselku kemudian mengetikan sesuatu pada pengirim pesan yang tidak di kenal identitasnya itu.

Dimana?

Send

Masuklah, aku memakai sweater hijau, jeans selutut dan sepatu kets

Tanpa menunggu lama lagi aku segeraa masuk dan mendapati orang itu yang sedang duduk di sudut cafe, dia terlihat mengamati sesuatu.

“siapa kamu?”

Aku bertanya begitu sampai di dekat lelaki aneh itu, orang itupun mendongakkan kepalanya. Hah?! Apa aku tidak salah liat?

“Cakka?”
“hai Agni”
“jadi kamu...”
“tentu, tuh mereka ada di sudut sana”

Aku memutar badanku mengikuti arah dagunya yang menunjukan suatu tempat. Ya, disana memang ada Rio, dengan seorang laki-laki. Tidak begitu jelas, mengingat jarak pandangku yang pendek.
Aku memicingkan mataku, sepertinya aku kenal dengan lelaki yang bersama Rio. tapi siapa?

“duduklah Agni, kamu tidak bertanya kenapa aku bisa tau?”

Aku menoleh pada Cakka, lalu duduk di kursi yang menghadap ke arah Rio, terus mengamatinya.

“jadi siapa dia? Kenapa kamu begitu yakin kalau suamiku gay?”

Dia terlihat tersenyum sinis, apa yang ada di pikirannya sekarang? Apa dia merencanakan sesuatu yang buruk padaku dan Rio?

“dia kakakku, kakakku dan Rio sama-sama patah hati beberapa tahun yang lalu, kakakku patah hati di tinggal begitu saja, kalau Rio aku tidak tau. Yang jelas mereka berdua bertemu dalam suatu pertemuan dan berlanjut sampai mereka berhubungan sangat dekat”

Dia melirikku dengan ekor matanya, begitupun aku. Dulu, aku yang kagum padanya seketika kekagumanku hilang, apa maksudnya dengan semua ini? gay dan tidak gay nya Rio bukannya itu urusanku?

“mereka masuk private room

Aku memalingkan dengan cepat pandanganku pada meja Rio yang ternyata sudah di tinggalkan dan mereka terlihat berjalan memasuki sebuah ruangan.

“apa kamu tidak curiga?”

Aku mendelik padanya, kemudian tersenyum sinis.

“buat apa?”
“ya seenggaknya kamu telpon atau kirim dia pesan, tanyakan sedang ada dimana atau apa. Buktikan pada dirimu sendiri apakah dia akan jujur padamu”

Aku menuruti apa keinginannya, aku segera memanggil Rio dan me-loadspeaker nya agar Cakka mendengarnya juga. Aku muak berlama-lama dengan lelaki ini.

“ya sayang? Udah mau jemput Angel?”
“ahh enggak, aku cuma mau tanya, kamu dimana? Aku hanya lapar”
“aku? Di blue moon, kamu mau pesan apa?”

Aku melirik Cakka yang terlihat kaget dengan penuturan Rio. dalam hati aku tersenyum puas, semoga dia tidak menggangguku lagi.

“tidak usah, nanti saja. Kalau begitu sudah dulu ya, bye”
“bye”

“puas Cakka?”

Aku menatap tajam pada pemuda itu. Dia tersenyum seolah mengejek padaku.

“hanya begitu? Apa kamu tidak mau menghampirinya... jangan-jangan mereka...”

***

Aku menyesap beberapa kali rokokku, aku memang perokok tapi tidak setiap hari. Aku hanya melakukan itu saat aku suntuk seperti sekarang.

“apa kamu bahagia dengan pernikahanmu?”
“tentu saja, memangnya ada yang aneh?”
“haha... Rio Rio... jangan berpura-pura padaku, bukannya kamu jijik pada wanita? Aku tau kemarin kamu bertemu dengan Ashilla dan begitu selesai kamu langsung membersihkan tangan dan pipimu dengan tissu, Ashilla itu sekertarisku”

Ohh jadi wanita genit itu sekertarisnya? Berani-beraninya dia mengangguku!

“sudahlah Rio, jangan kamu bohongi dirimu sendiri kalau kamu tidak bahagia”

“Rio...”

Aku mendengar suara lembut memanggilku, aku menoleh pada pintu masuk private room ini. ternyata Agni, aku tersenyum senang padanya lalu berdiri menyambut pelukannya.

“aku langsung menyusulmu, maaf ya aku tidak bicara dulu padamu”
“ehh... kamu merokok?”

Dengan refleks aku mematikan puntung rokok itu dan memberinya ruang untuk duduk. Tunggu kenapa Alvin –temanku- tidak mengeluarkan suara?

“maaf ya... aku berjanji tidak akan merokok lagi”
“ehh iya, Agni... ini Alvin”

Aku melihat Agni yang memalingkan pandangan pada Alvin, dia terlihat kaget. Tangannya menutup mulut matanyapun agak membelalak.

“A..Al?”
“N..Ni? jadi... kamu...”

“kalian saling kenal?”

Aku bertanya pada keduanya, Agni menatapku sekilas kemudian mengangguk ragu. Sejak kapan mereka saling mengenal? Kenapa aku tidak pernah tau?

“dia... mantan kekasihku”
“mantan? Kita belum berakhir Agni! Kau meninggalkanku begitu saja!”
“tapi itu kenyataan Alvin! Orang tuamu tidak menyukaiku, aku muak di remehkan mereka, aku bukan wanita murahan dan aku tidak menggilai hartamu”
“kalau kau tidak menggilai harta, kenapa kau mau menikah dengan dia?”
“karena aku mencintainya”
“mencintau hartanya?”

“Agni. Kendalikan dirimu”

Aku berseru cukup keras, membuat Agni yang ingin menimpali kata-kata Alvin berhenti dan menatapku. Nafasnya tidak teratur, wajahnyapun memerah karena marah.
Aku merengkuh wajahnya kemudian melumat bibirnya cukup lama.

“aku sangat yakin dengan cintanya, meskipun dia menggilai hartaku, aku rela... aku mau lihat, sampaimana dia bisa menghabiskan hartaku yang aku yakin dia tidak bisa menghabiskannya sendiri”

Aku menatap ke arah Alvin yang masih shock dengan apa yang ku lakukan. Aku benar-benar ingin lepas dari fantasi gilanya. Semua yang di katakannya memang selalu benar, tapi untuk tentang Agni, aku tidak bisa membenarkannya.

“sayang... anak kita sudah menunggu, Pak Alvin. Saya dan istri saya pamit dulu, terimakasih atas jamuannya”

***

Dalam perjalanan menuju sekolah Angel aku hanya diam, aku benar-benar tidak menyangka efek pada Alvin begitu besar saat aku meninggalkannya. Sebenarnya salahnya sendiri kenapa di depan orang tuanya aku tidak pernah di bela, aku seolah di biarkan di permalukan disana. Aku benci lelaki yang tidak punya pendirian itu.

“aku tidak menyangka Alvin ternyata patah hati gara-gara gadis sepertimu”

Hhh... maksudnya? Apa aku benar-benar gadis yang buruk dimata semua orang?

“dan kau juga akan merasakannya jika terus menyakitiku Mario”

Setelah mengatakan itu wajah Rio berubah menjadi dingin dan datar. Aku tidak yakin dia berkonsentrasi dengan jalan. Aku rasa dia sedang memikirkan sesuatu. Hhh... belum saatnya mungkin aku bicara padanya.

Angel berlari ke arahku saat pintu mobil baru saja aku buka. Dia langsung duduk di pangkuanku, memeluk leherku dengan manja. Hhh... untung sekali dalam rumah tangga ini ada Angel,  malaikat penenang hatiku.

“Mama... Oom Ray kemaren bawa temennya lho kerumah... terus temennya itu nyangka kalo An anaknya Oom Ray, dia baik banget sama An sampai Oom Ray ngaku kalo An bukan anaknya dan dia itu langsung jauhin An. Bilang Ma sama Oom Ray, An gak suka tante itu... dia jahat”

“An, itukan urusan Oom Ray, kenapa Mama harus gak setuju?”

Aku menatap Rio yang berkata sambil sibuk memandangi jalanan yang cukup macet. Aku tersenyum kecil saat melihat Angel cemberut, memajukan bibirnya dengan lucu.

“udah ahh jangan cemberut, Papa sih... jadi An nya cemberut nih”

Aku menarik Angel dalam pelukanku, aku yakin dia ngantuk karena terus merengek manja. Mood-nya mulai rusak karena ngantuk.

“nanti Mama bilang, An tidur aja ya... biar Mama peluk”

Aku marasakan Angel mengangguk pelan, tapi sedetik kemudian mengangkat wajahnya, menguap kecil.

“An pengen adek ya Ma...”

Aku melirik Rio yang aku yakin dia juga mendengarkan apa kata Angel tadi. Rio terlihat datar tanpa ekspresi, apa yang dia pikirkan? Aku tidak bisa menebak-nebak apa yang ada dalam isi kepalanya itu.
Hhh... aku hanya bisa berdo’a pada Tuhan agar cepat di berikan keturunan.

Setelah membaringkan Angel di tempat tidurnya, aku menyusul Rio yang tadi kelihatan memasuki dapur. Wajahnya terlihat benar-benar letih dan dia seperti banyak pikiran.
Aku mengelus punggungnya mungkin sesaat setelah dia membasuh wajahnya di westafel.

“apa yang kamu pikirkan Rio?”

Aku meremas pundaknya lembut, memijitnya beberapa hari untuk sekedar menghilangkan pegalnya.
Dia berbalik dan menatapku.

“tentang yang di katakan Angel, aku tidak bisa menolaknya...”

Aku melonggarkan dasinya kemudian mengelus dadanya lembut. Aku merasakan detak jantungnya begitu cepat, apa yang akan dia katakan selanjutnya?

“kita tidak perlu melakukannya. Kita bisa menggunakan jasa inseminasi atau bayi tabung, begitukan?”

Seketika itu dentuman keras sangat menohok hatiku. Ruang kosong itu terasa begitu luas kembali. Apa Rio setega itu? Inseminasi atau bayi tabung hanya untuk mereka yang sudah benar-benar tidak bisa memiliki anak dengan berhubungan badan. Tapi aku? Aku sama sekali belum pernah! Aku lebih baik melakukannya daripada harus inseminasi!

“lebih baik aku melakukannya daripada harus inseminasi”

Dia mengusap wajah frustasi, aku yakin dia bingung dengan ke adaanya sekarang.

“tidak mungkin Agni, aku... belum siap”

Aku jadi bingung, dari beberapa film dan novel yang kubaca perasaan yang tidak siap melakukan itu kaum perempuan. Kenapa ini malah sebaliknya? Aku bingung, sebenarnya apa yang dia takutkan? Apa yang membuatnya tidak bisa?

“kalau kamu tidak bisa... masih ada... Fabio”

***

Bersambung...

No comments:

Post a Comment