“Satu
permasalahan bukan akhir dari segalanya...”
Bab 8
(Rio POV)
Aku berdiri menghadap jendela di ruang kerjaku. Hhh... aku
bingung pada perasaanku sendiri, kenapa aku bisa berkata sebodoh itu pada Agni?
Entahlah? Itu kata gantung, tapi aku yakin dia menyimpulkan iya. Sekarang aku
harus bagaimana?
“Mario... kenapa aku menyakitinya
lagi? Aku telah cukup sakit hati saat dulu kamu berkata seperti itu, tapi
kenapa sekarang kamu melakukan itu juga padanya?”
Suara lembut itu menyadarkanku dari alam bawah sadarku. Aku
merasakan dia menyentuh pundakku, memintaku untuk berbalik menghadapnya.
Aku menatapnya dengan dingin. Wajah pucat itu tidak pernah
bosan untukku pandangi, tapi wajah pucat itu sekarang terlihat muram, begitu
sedih.
“Neta... maafkan aku... aku
benar-benar bingung, dia mendesakku, menyudutkanku”
“tapi tidak seharusnya
begitukan?”
Aku memalingkan wajahku darinya, beranjak ke arah meja
kerjaku untuk meraih ponsel yang berdering.
“ya Ray...”
“Angel mau menginap di rumahku, boleh?”
“ya sudah, biar nanti pengsuhnya
aku suruh ke sana”
“iya, bye”
“siapa dia?”
Aku menarap wajah Agneta yang terlihat menyipitkan mata
curiga. Aku mendudukan diriku di sofa.
“adik istriku”
Dia terlihat mengangguk-angguk mengerti, kemudian duduk di
sampingku. Dia mengusap wajahku dengan lembut.
“jelaskanlah semuanya Mario...
aku tidak mau ada yang sakit hati lagi karena kata-katamu itu, cukup aku yang
sakit hati dengan kata-kata aneh dan tajammu itu”
Aku memejamkan mataku, kepalaku benar-benar pening sekarang.
Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan saat ini.
“Rio... makan malam sudah siap”
“hhh... iya, nanti aku menyusul”
Aku menatap Agneta tak rela pertemuan malam ini akan
berakhir sesingkat ini.
“lihatlah... bahkan dia tidak
menjauhimu seperti aku yang menjauhimu dulu Mario... harusnya kamu sadar,
betapa cintanya dia padamu, bahkan aku rasa istrimu itu lebih mencintaimu
daripada aku yang pernah mencintaimu”
Apa iya? Setelah perdebatan di kantor tadi, dia memang tidak
merubah perlakuannya. Dia hanya jarang berbicara saja.
Mengingat kejadian di kantor, aku jadi ingat betapa
kecewanya Agni setelah mendengar jawabanku. Dia menangis dalam diam, bahkan
hanya terdengar isakan yang di tahan. Tapi aku yakin sekali dia menyesal
menikah denganku, menyesal telah mencintaiku, terlihat dari betapa bergetarnya
tubuh istriku itu. Hhh... maafkan aku Agni... aku belum bisa membalas
perasaanmu.
“Rio... apa makan malamnya mau
aku antar kesini?”
Suara Agni lagi, sebegitu perhatiannya dia padaku. Aku
menatap Agneta yang tersenyum padaku, menginstruksikanku untuk beranjak dari
sana dan segera menghampiri Agni.
Aku menatap Agni yang masih berdiri di depan pintu. Dia
tersenyum begitu kaku padaku, aku membalas senyumannya kemudian mengelus
pipinya pelan.
“masak apa hari ini?”
***
(Agni POV)
Betapa terkejutnya aku saat Rio mengelus pipiku lalu
merangkul pinggangku saat berjalan menuju meja makan. Apa yang harus aku
rasakan? Senang? Mungkin itu yang akan ku rasakan sebelum aku mengetahui bahwa
suamiku ini gay. Tapi sekarang? Aku baru menyadari betama kakunya Rio merangkul
pinggangku. Kenapa aku baru menyadari ini? Apa rasa cinta yang dulu aku rasa
menghapuskan kekakuan Rio padaku? Dan sekarang aku baru sadar setelah rasaku
mulai terkikis. Terkikis? Walaupun aku tak yakin dengan kata terkikis itu, tapi
aku memang merasakan seperti itu.
“oiya, Angel katanya mau nginep
di rumah kamu bareng Ray”
“aku sudah tau”
Aku berkata itu dengan senyuman yang aku rasa begitu kaku,
tak seperti biasanya. Apa aku pantas bersikap seperti ini? kalau aku terus
menjauhi Rio, bukannya justru Rio akan semakin tidak suka pada wanita? Aku
harus berusaha membuat Rio menjauhkan pikiran jeleknya terhadap wanita.
Aku tersenyum geli saat melihat bercak merah dari makanannya
berada di hidungnya, kenapa bisa sampai ke hidung seperti itu?
Aku mengulurkan tanganku untuk membersihkan noda itu,
kemudian aku mengemut noda itu yang kini berpindah ke jariku.
“tidak jijik?”
“tidak, buat apa jijik? Nodanya
dari wajah suamiku ini kan? Tidak mungkin ada bakteri yang bisa membunuhku”
Aku menatapnya yang mungkin tertegun, aku bisa melihat
ekspresi wajahnya yang tegang, genggaman pada sendok dan garpupun terlihat
melonggar.
Aku tersenyum padanya, kemudian mengulurkan tanganku kembali
untuk mengelus pipinya.
“kamu tidak perlu takut aku akan
menjauhimu Rio, aku tidak merasa terganggu dengan ke tidak normalan kamu.
Justru aku akan memberikan penawaran untukmu”
“apa?”
“aku akan dengan senang hati
mencoba mengembalikan dirimu agar bisa mencintai wanita lagi. Itupun kalau kamu
mau”
Aku menyendok makanan terakhirku pada mulut. Aku meliriknya
dengan ekor mataku, mungkin dia sedang berpikir. Sebaiknya aku membersekan meja
makan saja, karena kebetulan piring Rio juga telah kosong.
***
Malam ini aku benar-benar sulit memejamkan mataku, padahal
besok aku ada meeting pagi-pagi
sekali. Pikiranku terus melayang pada saat makan malam tadi, apa yang dia
katakan itu benar-benar serius? Aku memang butuh sekali ada yang mengajariku.
Setelah ‘jiwa’ Agneta yang berusaha menyembuhkanku, apakah aku harus menerima
tawarannya agar aku bisa mencintai wanita ‘sungguhan’.
“Rio... belum tidur?”
Aku menoleh pada Agni yang memutar tubuhnya menghadapku. Dia
mengelus dadaku dengan sangat lembut.
“aku tidak bisa tidur”
“apa yang bisa aku bantu?”
Tidak tau. Aku hanya mengatakan itu dalam hati, karena
naluriku berkata lain. Mungkin aku membutuhkan pelukkan hangatnya, seperti
malam-malam sebelumnya.
Dia mendekat ke arahku, merapatkan dirinya padaku seolah
mengerti apa yang aku pikirkan. Dia membenamkan kepalanya di dadaku sementara
tangannya memeluk tubuhku.
Wangi rambutnya sangat memabukkan. Aku merengkuhnya erat,
mengelus kepala Agni agar harum rambutnya menyeruak dalam hidungku.
“tidurlah dalam dekapanku”
“tentu saja suamiku”
Aku tersenyum dalam hati mendnegarnya, apa dia benar-benar
menganggap suamiku? Aku merasa hatiku melambung mendnegarkannya.
Aku mulai merasakan nafasnya yang teratur, mungkin dia telah
terlelap kembali. Sementara aku? Mataku tidak mau berkompromi untuk tertutup.
Aku bisa merasakan ada desiran-desiran halus dalam dadaku.
Semoga dia benar-benar bisa mengembalikanku.
***
Aku dan Rio duduk berdampingan di dalam mobil, dia terlihat
sibuk dengan gadget-nya. Mungkin karena hari ini akan ada meeting, jadi dia
mempersiapkan bahannya.
“hari ini ada pertemuan di luar
lagi, kali ini clien-nya laki-laki atau perempuan?”
“laki-laki”
“boleh aku ikut?”
“tidak”
“kenapa?”
“kau ada meeting siang nanti”
“tidak...”
“mungkin kamu lupa”
Aku mendengus kesal, saat menanggapi kata-kata Rio yang
begitu dingin. Bahkan, menoleh sedikitpun tidak sama sekali. Dasar menyebalkan!
Apakah dia tidak ingat janjinya yang dulu?
“kamu berjanji tidak akan
mengabaikanku Rio...”
“lalu?”
Ya Tuhan... apa dia tidak menyadari setiap kata yang ia
keluarkan? Aku sangat sakit hati Mario! Sakit!
“aku ingin bertemu Fabio”
Kali ini aku mengatakan itu dengan datar, aku memalingkan
wajahku ke arah jendela. Tak peduli bagaimana reaksinya nanti.
“nanti... setelah semua urusanku
selesai”
“sekarang... bisakah kamu tidak
melihat jalanan tidak penting itu?”
Aku tak bergeming, rasa
sakit hatiku bertambah saat dia berkata seperti itu. Jawaban yang ku mau
bukanlah seperti itu, aku ingin dia marah dan memintaku untuk tidak memintanya
kembali. Aku cuma ingin dia tidak mengabaikanku, tapi kenapa sekarang malah
seperti ini? kalau Fabio benar-benar mungcul bagaimana? Apa yang harus aku
lakukan?
Setelah memasuki ruang
kerjaku dan Rio, aku langsung sibuk menyiapkan berkas-berkas yang telah Sivia
letakkan di meja kerjaku, aku tidak ingin berbicara dengan Rio. aku
bernar-benar marah sekarang.
“Agni”
Rio terdengar berjalan ke
arahku, dia menyandarkan badannya di sisi mejaku lalu menarik pipiku agar aku
menatapnya. Pandangan matanya benar-benar berbeda sekarang, pandangan matanya
sangat hangat dan lembut. Seperti bukan Rio.
“aku
Fabio, apa yang kamu inginkan?”
“F...Fa...Fabio?”
Aku mendorong pundaknya
perlahan agar tidak terlalu dekat denganku. Aku risih dengan lelaki ini,
meskipun jasadnya tetap Rio, tapi raganya? Aku merasa takut dengan kelembutan
kata-katanya.
“kenapa
Agni? Kamu terihat takut? Tenanglah, jiwaku sekarang lemah. Di dalam sana Rio
masih sadar, mengawasi kita”
“pp..per..pergi...
aku... aku”
Tok tok tok
“masuk”
“Pak,
Bu, sudah di tunggu di ruang meeting”
“iya,
sebentar lagi saya menyusul”
Aku menatapnya takut, gaya
berbicaranya sekarang sudah seperti Rio kembali.
“semua
wanita takut pada Mario dan begitu memuja Fabio. tapi kenapa kau takut padaku?
Dan terlihat begitu memuja Mario?”
“bukan
urusanmu! Kembalikan Rio, aku hanya ingin dia. Bukan kamu”
“baiklah,
kamu keluar daari sini sekarang”
Aku menatapnya tajam, aku
benar-benar muak dengan kebaikan dia. Lebih baik Rio yang datar, dingin dan
terkadang arogan. Aku segera beranjak dari ruangan itu dengan beberapa file di tanganku. Aku tidak ingin
berlama-lama dengannya, aku tidak bisa bersama Fabio, aku lebih senang pada
Mario.
***
Aku tersenyum penuh
kemenangan saat Agni keluar dari ruanganku, ternyata dia begitu ketakutan
dengan Fabio. Padahal aku tidak benar-benar membangkitkan Fabio, aku hanya
ingin mengujinya saja. Tapi ternyata dia benar-benar mencintaiku karena aku
dapat melihat tatapan penuh kebencian saat aku mengatakan kalau aku adalah
Fabio.
Aku keluar dari ruanganku,
Agni masih berdiri di sana. Aku menepuk pundaknya pelan, dia terlihat
terperanjat kaget lalu menatapku dengan intens.
“Rio...”
“hn”
Dia terlihat
mengangguk-anggukan kepalanya entah karena apa. Apa ada yang aneh?
“kenapa?
Ada yang aneh?”
Aku bertanya padanya saat
kami berjalan bersamaan menuju ruangan meeting yang berada satu lantai di bawah
ruanganku.
“tidak,
hanya... sekarang aku yakin kamu telah menjadi Mario lagi”
Dia berkata begitu datar,
seolah tidak memiliki emosi.
Aku menatapnya aneh, apa
yang membuatku khas? Sampai dia dengan mudahnya mengenaliku?
“kau
yakin?”
“tentu
saja, siapa lagi yang hobby-nya
berkata ‘hn’ padaku kalau bukan kau?”
Hampir saja aku tertawa
mendengar perkataannya, sebegitu khasnya ya aku dengan kata itu? Haha... tapi
aku senang, itu berarti dia ada kemajuan. Kemajuan perlahan memperhatikanku.
Entah kenapa dadaku mulai menghangat mengingat perhatiannya, dadaku mulai
berdesir merasakan sesuatu.
***
Aku menatap Rio yang sibuk
berbincang via telpon, entah dengan siapa. Untungnya, dia sesekali tersenyum
padaku, mungkin telah sadar kalau aku tidak mau di abaikan olehnya.
Dia menyambar jasnya, dan
berjalan cepat ke arahku.
“aku
ada janji di luar, sebentar. Nanti kita jemput Angel”
Ucapnya tergesa kemudian
mengecup keningku pelan. Aku merasa ada yang aneh, aku tidak pernah melihat dia
setergesa ini, apalagi dengan memakai jas nya seenaknya, tidak memintaku untuk
merapihkannya. Apa pertemuannya benar-benar penting? Hhh... tapi kalau penting
tentu dia akan merapihkan pakaiannya dulu, bukan terburu-buru seperti itu.
Aku melirik ponselku yang
bergetar, selama meeting tadi aku
memang selalu men-silent ponselku
agar tidak mengangguk konsentrasi jika suatu waktu ada panggilan dadakan.
Pesan dari nomor tidak di
kenal lagi? Mau apa lagi dia?
Agni... suamimu pergikan? Dia tadi
mengatakan apa padamu?
Sebenarnya dia akan berkencan
dengan kekasihnya, laki-laki sih. Kamu mengkhawatirkannya tidak?
Aku berusaha menahan
nafasku untuk tidak memburu saat membaca pesan itu.
Kasihan sekali kamu Agni, kalau
kamu tidak percaya. Datang ke cafe blue moon sekarang, aku juga ada di sana.
Aku tunggu lho cantik. See you...
Aku mengusap wajahku
kasar, emosiku benar-benar telah memuncak sekarang. Sebenarnya apa sih yang
pengirim pesan ini mau? Kehancuran kami? Tentu tidak akan pernah bisa!
Dengan kesal aku menyambar
tasku dan beranjak menuju cafe tadi. Aku benar-benar penasaran ingin melihat
siapa yang mengirim pesan itu untukku.
Kenapa Jaguar merah itu
ada di parkiran? Memakai mobil siapa dia tadi?
Aku berjalan menuju
sopirku yang berada di pos satpam.
“Pak,
Pak Rio tadi berangkat menggunakan mobil yang mana?”
“Bu...
tadi Pak Mario memakai mobil Ferrari yang selalu di simpan di kantor”
Ferrari? Kenapa aku tidak
tau dia punya Ferrari?
Aku merasa dadaku
bertambah bergemuruh, begitu marah, sangat marah.
“Pak,
antarkan aku ke Blue Moon”
Sepanjang perjalanan aku
menerka-nerka apa yang sedang Rio lakukan disana, aku benar-benar tidak bisa
membayangkannya. Apalagi Blue Moon itu cafe yang menyediakan private room. Tuhan... semoga Rio tidak
melakukan hal-hal yang aneh.
Aku meraih ponselku
kemudian mengetikan sesuatu pada pengirim pesan yang tidak di kenal
identitasnya itu.
Dimana?
Send
Masuklah, aku memakai sweater
hijau, jeans selutut dan sepatu kets
Tanpa menunggu lama lagi
aku segeraa masuk dan mendapati orang itu yang sedang duduk di sudut cafe, dia
terlihat mengamati sesuatu.
“siapa
kamu?”
Aku bertanya begitu sampai
di dekat lelaki aneh itu, orang itupun mendongakkan kepalanya. Hah?! Apa aku
tidak salah liat?
“Cakka?”
“hai
Agni”
“jadi
kamu...”
“tentu,
tuh mereka ada di sudut sana”
Aku memutar badanku
mengikuti arah dagunya yang menunjukan suatu tempat. Ya, disana memang ada Rio,
dengan seorang laki-laki. Tidak begitu jelas, mengingat jarak pandangku yang
pendek.
Aku memicingkan mataku,
sepertinya aku kenal dengan lelaki yang bersama Rio. tapi siapa?
“duduklah
Agni, kamu tidak bertanya kenapa aku bisa tau?”
Aku menoleh pada Cakka,
lalu duduk di kursi yang menghadap ke arah Rio, terus mengamatinya.
“jadi
siapa dia? Kenapa kamu begitu yakin kalau suamiku gay?”
Dia terlihat tersenyum
sinis, apa yang ada di pikirannya sekarang? Apa dia merencanakan sesuatu yang
buruk padaku dan Rio?
“dia
kakakku, kakakku dan Rio sama-sama patah hati beberapa tahun yang lalu, kakakku
patah hati di tinggal begitu saja, kalau Rio aku tidak tau. Yang jelas mereka
berdua bertemu dalam suatu pertemuan dan berlanjut sampai mereka berhubungan
sangat dekat”
Dia melirikku dengan ekor
matanya, begitupun aku. Dulu, aku yang kagum padanya seketika kekagumanku
hilang, apa maksudnya dengan semua ini? gay dan tidak gay nya Rio bukannya itu
urusanku?
“mereka
masuk private room”
Aku memalingkan dengan
cepat pandanganku pada meja Rio yang ternyata sudah di tinggalkan dan mereka
terlihat berjalan memasuki sebuah ruangan.
“apa
kamu tidak curiga?”
Aku mendelik padanya,
kemudian tersenyum sinis.
“buat
apa?”
“ya
seenggaknya kamu telpon atau kirim dia pesan, tanyakan sedang ada dimana atau
apa. Buktikan pada dirimu sendiri apakah dia akan jujur padamu”
Aku menuruti apa
keinginannya, aku segera memanggil Rio dan me-loadspeaker nya agar Cakka
mendengarnya juga. Aku muak berlama-lama dengan lelaki ini.
“ya sayang? Udah mau jemput Angel?”
“ahh
enggak, aku cuma mau tanya, kamu dimana? Aku hanya lapar”
“aku? Di blue moon, kamu mau pesan apa?”
Aku melirik Cakka yang
terlihat kaget dengan penuturan Rio. dalam hati aku tersenyum puas, semoga dia
tidak menggangguku lagi.
“tidak
usah, nanti saja. Kalau begitu sudah dulu ya, bye”
“bye”
“puas
Cakka?”
Aku menatap tajam pada
pemuda itu. Dia tersenyum seolah mengejek padaku.
“hanya
begitu? Apa kamu tidak mau menghampirinya... jangan-jangan mereka...”
***
Aku menyesap beberapa kali
rokokku, aku memang perokok tapi tidak setiap hari. Aku hanya melakukan itu saat
aku suntuk seperti sekarang.
“apa
kamu bahagia dengan pernikahanmu?”
“tentu
saja, memangnya ada yang aneh?”
“haha...
Rio Rio... jangan berpura-pura padaku, bukannya kamu jijik pada wanita? Aku tau
kemarin kamu bertemu dengan Ashilla dan begitu selesai kamu langsung
membersihkan tangan dan pipimu dengan tissu, Ashilla itu sekertarisku”
Ohh jadi wanita genit itu sekertarisnya?
Berani-beraninya dia mengangguku!
“sudahlah
Rio, jangan kamu bohongi dirimu sendiri kalau kamu tidak bahagia”
“Rio...”
Aku mendengar suara lembut
memanggilku, aku menoleh pada pintu masuk private
room ini. ternyata Agni, aku tersenyum senang padanya lalu berdiri
menyambut pelukannya.
“aku
langsung menyusulmu, maaf ya aku tidak bicara dulu padamu”
“ehh...
kamu merokok?”
Dengan refleks aku
mematikan puntung rokok itu dan memberinya ruang untuk duduk. Tunggu kenapa
Alvin –temanku- tidak mengeluarkan suara?
“maaf
ya... aku berjanji tidak akan merokok lagi”
“ehh
iya, Agni... ini Alvin”
Aku melihat Agni yang
memalingkan pandangan pada Alvin, dia terlihat kaget. Tangannya menutup mulut
matanyapun agak membelalak.
“A..Al?”
“N..Ni?
jadi... kamu...”
“kalian
saling kenal?”
Aku bertanya pada
keduanya, Agni menatapku sekilas kemudian mengangguk ragu. Sejak kapan mereka
saling mengenal? Kenapa aku tidak pernah tau?
“dia...
mantan kekasihku”
“mantan?
Kita belum berakhir Agni! Kau meninggalkanku begitu saja!”
“tapi
itu kenyataan Alvin! Orang tuamu tidak menyukaiku, aku muak di remehkan mereka,
aku bukan wanita murahan dan aku tidak menggilai hartamu”
“kalau
kau tidak menggilai harta, kenapa kau mau menikah dengan dia?”
“karena
aku mencintainya”
“mencintau
hartanya?”
“Agni. Kendalikan
dirimu”
Aku berseru cukup keras,
membuat Agni yang ingin menimpali kata-kata Alvin berhenti dan menatapku. Nafasnya
tidak teratur, wajahnyapun memerah karena marah.
Aku merengkuh wajahnya
kemudian melumat bibirnya cukup lama.
“aku
sangat yakin dengan cintanya, meskipun dia menggilai hartaku, aku rela... aku
mau lihat, sampaimana dia bisa menghabiskan hartaku yang aku yakin dia tidak
bisa menghabiskannya sendiri”
Aku menatap ke arah Alvin yang
masih shock dengan apa yang ku lakukan. Aku benar-benar ingin lepas dari
fantasi gilanya. Semua yang di katakannya memang selalu benar, tapi untuk
tentang Agni, aku tidak bisa membenarkannya.
“sayang...
anak kita sudah menunggu, Pak Alvin. Saya dan istri saya pamit dulu,
terimakasih atas jamuannya”
***
Dalam perjalanan menuju
sekolah Angel aku hanya diam, aku benar-benar tidak menyangka efek pada Alvin begitu
besar saat aku meninggalkannya. Sebenarnya salahnya sendiri kenapa di depan
orang tuanya aku tidak pernah di bela, aku seolah di biarkan di permalukan
disana. Aku benci lelaki yang tidak punya pendirian itu.
“aku
tidak menyangka Alvin ternyata patah hati gara-gara gadis sepertimu”
Hhh... maksudnya? Apa aku
benar-benar gadis yang buruk dimata semua orang?
“dan
kau juga akan merasakannya jika terus menyakitiku Mario”
Setelah mengatakan itu
wajah Rio berubah menjadi dingin dan datar. Aku tidak yakin dia berkonsentrasi
dengan jalan. Aku rasa dia sedang memikirkan sesuatu. Hhh... belum saatnya mungkin
aku bicara padanya.
Angel berlari ke arahku
saat pintu mobil baru saja aku buka. Dia langsung duduk di pangkuanku, memeluk
leherku dengan manja. Hhh... untung sekali dalam rumah tangga ini ada Angel, malaikat penenang hatiku.
“Mama...
Oom Ray kemaren bawa temennya lho kerumah... terus temennya itu nyangka kalo An
anaknya Oom Ray, dia baik banget sama An sampai Oom Ray ngaku kalo An bukan
anaknya dan dia itu langsung jauhin An. Bilang Ma sama Oom Ray, An gak suka
tante itu... dia jahat”
“An,
itukan urusan Oom Ray, kenapa Mama harus gak setuju?”
Aku menatap Rio yang
berkata sambil sibuk memandangi jalanan yang cukup macet. Aku tersenyum kecil
saat melihat Angel cemberut, memajukan bibirnya dengan lucu.
“udah
ahh jangan cemberut, Papa sih... jadi An nya cemberut nih”
Aku menarik Angel dalam pelukanku,
aku yakin dia ngantuk karena terus merengek manja. Mood-nya mulai rusak karena
ngantuk.
“nanti
Mama bilang, An tidur aja ya... biar Mama peluk”
Aku marasakan Angel mengangguk
pelan, tapi sedetik kemudian mengangkat wajahnya, menguap kecil.
“An
pengen adek ya Ma...”
Aku melirik Rio yang aku
yakin dia juga mendengarkan apa kata Angel tadi. Rio terlihat datar tanpa
ekspresi, apa yang dia pikirkan? Aku tidak bisa menebak-nebak apa yang ada
dalam isi kepalanya itu.
Hhh... aku hanya bisa
berdo’a pada Tuhan agar cepat di berikan keturunan.
Setelah membaringkan Angel
di tempat tidurnya, aku menyusul Rio yang tadi kelihatan memasuki dapur. Wajahnya
terlihat benar-benar letih dan dia seperti banyak pikiran.
Aku mengelus punggungnya
mungkin sesaat setelah dia membasuh wajahnya di westafel.
“apa
yang kamu pikirkan Rio?”
Aku meremas pundaknya
lembut, memijitnya beberapa hari untuk sekedar menghilangkan pegalnya.
Dia berbalik dan
menatapku.
“tentang
yang di katakan Angel, aku tidak bisa menolaknya...”
Aku melonggarkan dasinya
kemudian mengelus dadanya lembut. Aku merasakan detak jantungnya begitu cepat,
apa yang akan dia katakan selanjutnya?
“kita
tidak perlu melakukannya. Kita bisa menggunakan jasa inseminasi atau bayi
tabung, begitukan?”
Seketika itu dentuman
keras sangat menohok hatiku. Ruang kosong itu terasa begitu luas kembali. Apa Rio
setega itu? Inseminasi atau bayi tabung hanya untuk mereka yang sudah
benar-benar tidak bisa memiliki anak dengan berhubungan badan. Tapi aku? Aku sama
sekali belum pernah! Aku lebih baik melakukannya daripada harus inseminasi!
“lebih
baik aku melakukannya daripada harus inseminasi”
Dia mengusap wajah
frustasi, aku yakin dia bingung dengan ke adaanya sekarang.
“tidak
mungkin Agni, aku... belum siap”
Aku jadi bingung, dari
beberapa film dan novel yang kubaca perasaan yang tidak siap melakukan itu kaum
perempuan. Kenapa ini malah sebaliknya? Aku bingung, sebenarnya apa yang dia
takutkan? Apa yang membuatnya tidak bisa?
“kalau
kamu tidak bisa... masih ada... Fabio”
***
Bersambung...
No comments:
Post a Comment