“Inilah
Mario..."
Bab 7
Beberapa hari setelah aku tak sengaja membuat Rio terlihat
begitu marah, aku dan dia hanya melakukan aktifitas tanpa bertegur sapa sama
sekali. Kesempatanku bicarapun semakin sempit karena kesibukkan dia di kantor.
Meskipun sebagian tugasnya di limpahkan pada Ray, tapi ternyata dia masih
sibuk, dia bekerja hampir 18 jam perhari. Dia hanya meluangkan waktu untuk
menjemput Angel, dia juga tidak mengantarku pulang saat jam kerjaku habis.
Bahkan dia seolah tidak peduli aku pulang dengan siapa. Dia benar-benar kembali
pada Mario yang sibuk, Mario yang datar dan dingin.
Ya Tuhan... seberapa besarkah salahku padanya? sampai dia
begitu marah padaku. Ampunilah aku Tuhan...
Aku menatap ke datangan Rio yang baru saja selesai menemui clien nya di luar kantor. Aku tidak
pernah di ajaknya. Apakah pantas buatku curiga padanya? Curiga bahwa dia affair dengan wanita lain, atau lebih
buruk dari itu.
Aku menghampirinya, mengelus dadanya pelan kemudian membuka
jasnya yang seharian ini tidak ia lepas. Begitu jasnya terlepas, dia segera
beranjak dariku dan duduk di meja kerjanya. Menyibukkan diri kembali dengan gadget-nya. Kalau aku bicara sekarang
apa tidak akan mengganggu? Jujur saja, aku benar-benar tersiksa dengan tingkahnya
akhir-akhir ini. Aku membutuhkan kehangatannya.
“Rio...”
Dia tidak menanggapinya, bahkan guman mengesalkannya pun
tidak di keluarkan dari mulutnya. Dadaku mulai bergemuruh kembali. Jangan!
Jangan sekarang... jangan menangis di hadapannya, aku tidak mau di nilai lemah.
Aku berusaha menormalkan nafasku. Hhh.... tenanglah Agni...
Aku mendekatinya, berdiri di hadapannya dengan menyandarkan
diri pada meja kerjanya.
“Rio... kita harus bicara”
Lagi-lagi aku hanya bisa menghela nafas kecewa saat tak adanya
tanggapan darinya. Sabar Agni... sabar...
“Rio... bisakah kamu meninggalkan
gadget-mu sebentar saja...”
Aku menarik tablet dari tangannya dengan lembut, aku tidak
ingin memaksanya. Awalnya aku takut dia akan semakin marah, tapi ternyata
dugaanku salah. Dia diam tanpa perlawanan, lalu menatapku dengan datar. Apa
yang dia rasakan sekarang? Aku benar-benar tidak bisa membaca isi hatinya, dia
terlalu menutup diri. Hhh... tapi sudahlah, toh aku bukan istri yang
benar-benar dia harapkan.
“maaf... aku tidak mengetahui
segala sesuatu tentangmu dan Angel, aku memang pantas kamu hukum karena berani
menikah denganmu tanpa tau seluk-beluk dirimu. Tapi Rio... aku menikah denganmu
karena ajakan dadakanmu, seandainya tidak semendadak itu, aku yakin aku bisa
lebih baik dari yang kemarin. Aku benar-benar merasa bodoh... Rio, tolong
jangan hukum aku lebih lama lagi, aku butuh penjelasan apapun yang menyangkut
dirimu dan Angel. Aku tidak bisa berpikir jernih kalau dalam keadaan seperti
ini. Rio... katakan sesuatu...”
“apa yang harus aku katakan?”
Aku tersenyum getir, aku merasa mataku mulai memanas. Jangan
sekarang Agni.... aku benar-benar rindu dengan suara itu, aku bahagia
mendengarnya lagi.
“terimakasih... aku senang
mendengar suaramu lagi”
“itu saja?”
Dia meraih gadget-nya
kembali, mulai menyibukkan diri dengan gadget
itu lagi. Entah apa yang ada di dalamnya, yang jelas aku tidak akan pernah tau.
Aku terlalu takut jatuh dalam kesakitan lebih dalam lagi...
“kemarin... saat aku mencari
bahan makanan di super market, aku bertemu Mama”
Hhh... syukurlah dia ingin mendengarkannya, meskipun tanpa
menatapku terlihat dia memperhatikanku karena saat mengatakan itu dia
menghentikan memainkan gadget-nya.
Masih tak ada tanggapan darinya. Hhh...
“Mama bertanya... kapan kita akan...
berbulan madu?”
Dia menyimpan gadget-nya kembali, dia menatapku dengan
datar. Ya Tuhan... kenapa dia dingin lagi, aku merasakah kehangatan dalam
dadaku menghilang begitu saja saat menatap sepasang mata itu.
“kau jawab apa?”
“aku bilang, kamu masih sibuk...
aku juga, jadi kita tidak ada waktu untuk bulan madu”
“bagus”
Ya Tuhan... Tuhan... aku merasakan ada dentuman keras dalam
dadaku mendengar ucapan itu. Bodoh sekali kamu Agni, bagaimana kamu bisa
berharap akan ada hal manis dalam pernikahanmu? Sudahlah... buang jauh-jauh
keinginanmu. Rio tidak akan pernah bisa membalas apapun keinginanmu. Hhh...
sebaiknya aku segera beranjak. Aku benar-benar pusing, di tambah dengan air
mataku yang sebentar lagi akan meluncur.
Aku meraih tasku yang tergeletak di meja kerjaku, saat aku
berada di ambang pintu aku rasa harus mengatakan sesuatu yang beberapa hari ini
aku rencanakan untuk membicarakannya.
“Rio...”
Walau pada akhirnya aku akan sakit hati, tapi setidaknya aku
telah mengatakannya. Hhh... semoga keputusanku benar.
“aku mencintaimu...”
***
Aku membuka perlahan mataku, sedang ada dimana aku? Kenapa
menyengat sekali aroma obat itu.
“Bu Agni... sudah sadar Bu?”
Aku memegang kepalaku yang terasa begitu berat, perlahan
pandangan kaburku mulai jelas dan mendapati Sivia, sekertaris suamiku. Dia
terlihat begitu panik, terlihat sekali dari wajahnya.
“aku... dimana?”
“Ibu di klinik, tadi ibu pingsan
begitu keluar dari ruang Pak Mario”
Ahh iya, pantas saja aku merasa tidak ingat apa-apa setelah
mengatakan hal itu pada Rio. argh... berat sekali kepalaku...
“kata dokter, anda kelelahan dan
terlalu banyak pikiran. Awalnya saya pikir anda sedang menganduh... haha...
aneh sekali ya pikiranku?”
Aku tersenyum simpul padanya. Bagaimana mungkin aku bisa
mengandung? Sementara melakukannya saja aku tidak pernah.
“kalau boleh saya tau... Ibu
menunda untuk hamil ya?”
Lagi-lagi aku hanya membalasnya dengan senyuman, aku tidak
tau harus berkata apa padanya. Aku tidak mungkin jujur, tapi aku juga tidak mau
berbohong.
“padahal dengan adanya anak akan
lebih lengket lho Bu, saya contohnya... awal menikah saya merasa biasa saja,
tapi setelah mendapatkan putra... kebahagiaan banyak sekali datang silih
berganti”
Anak? Apa aku masih pantas mengharapkannya?
Astaga... aku baru ingat tentang pesan itu, apa ternyata
benar suamiku itu gay? Mengingat sepertinya dia tidak memiliki ‘minat’ pada
padaku. Ohh astaga... aku benar-benar takut menghadapi semuanya.
“ehh maaf Bu, saya jadi ngoceh
sendiri... oiya, ini ada makanan dari Pak Mario, katanya pagi dan siang tadi
anda belum makan... beliau ada meeting,
mungkin sampai jam delapan”
Apakah aku harus bahagia dengan perhatian Rio? ternyata dia
benar-benar memperhatikan pola makanku, sampai dia tau aku tidak sarapan dan
tidak makan siang. Aku benar-benar tidak nafsu makan, karena pikiranku di
kuasai oleh Rio. sebenarnya bukan hanya hari ini, tapi beberapa hari kebelakang
juga aku jarang sarapan atau makan siang dan makan malam.
Aku melirik jam dinding yang ada di ruangan itu. Hhh.... jam
setengah delapan, aku tidak bisa pulang sendiri, karena selain sudah gelap aku
juga tidak mungkin pulang sendiri dengan ke adaan seperti ini.
“terimakasih Mbak Sivia, saya
rasa saya sudah terlalu lama tertidur. Apa tadi Mario berpesan akan
menjemputku?”
Clek.
Rio memasuki klinik dengan jas yang telah menghilang entah
kemana, mungkin di dalam mobil.
“istriku kenapa?”
“kata Dokter, Bu Agni hanya
kelelahan dan terlalu banyak pikiran Pak. Bu Agni juga baru saja sadar”
Dia mendekatiku, membelai dahiku menyampirkan poni yang ada
di keningku.
Aku tertegun melihat senyumannya, terlihat sekali dari
matanya bahwa dia mengkhawatirkanku. Atau itu cuma perasaanku saja? Sudahlah
Agni, jangan terlalu banyak berharap.
“lama sekali sayang kau tertidur”
Aku membalas senyumannya, kemudian membelai pipinya. Aku
benar-benar rindu dengan posisi sedekat ini dengannya, aku benar-benar rindu
kehangatannya.
“maaf... kamu terlihat lelah
sekali hari ini”
“tentu, di tambah istriku pingsan
mendadak”
“maaf ya...”
Dia mengangguk, kenapa aku rasa dia berbeda sekali dengan
tadi siang? Apa dia bukan Rio?
Aku mencoba bangun dan agak menjauhkan tubuhku dari
jangkauannya. Aku benar-benar takut dia bukan Rio.
“ehm... Pak, Bu, saya rasa tugas
saya telah selesai... saya pamit dulu suami saya sudah menjemput”
“silahkan”
Aku tersenyum pada Sivia yang menunduk berpamitan padaku,
setelah itu dia berlalu.
“Agni... bagaimana perasaanmu?”
“pp..perasaan apa?”
“perasaanmu... masih pusing atau
bagaimana?”
Hhh... aku kira dia mau membahas apa, hey tapi tunggu... aku
harus mengujinya dulu, aku takut dia Bio yang ternyata datang kembali.
“siapa kau?”
Dia mendelik, menatapku tajam. Hhh... sekarang aku yakin dia
Rio, ada rasa bangga juga dalam hati ternyata dia bisa mengkhawatirkanku.
“kau kira aku siapa? Fabio? Apa
aku terlihat aneh jika berbaik hati padamu?”
“eh...”
Aku hanya bisa menggeleng, tenggorokanku terasa tersendat
melihat mata menyalanya, apa dia marah? Please jangan.
“aku cuma takut Rio... aku... aku
takut dia datang lagi menguasai tubuhmu”
Aku menundukan kepalaku dalam-dalam, aku tidak mau melihat
mata menyala itu lagi. Aku terlalu penakut untuk melihat orang yang aku cintai
begitu marah.
Dia meraih daguku, menghadapkanku padanya.
“kenapa? Kenapa kau lebih takut
pada dia? Kenapa kau tidak takut padaku?”
“aku... aku takut... aku cuma mau
kamu Rio, bukan orang lain... berjanjilah kalau kau tidak akan di lumpuhkan dia
lagi”
Aku menatapnya penuh harap, aku benar-benar berharap dia
mengangguk dan mengatakan akan berusaha untukku, dan akan terus menjagaku dari
rengkuhannya.
“tentu saja! Sekarang aku tidak
selemah itu Agni”
Aku mendengus kesal tapi entah kenapa bibirku malah
tersenyum mendengarnya. Meskipun berkata dengan begitu datar dan dingin, bagiku
itu kalimat yang menyenangkan. Salahkah aku berharap dia membalas perasaanku
ini?
“kenapa senyum-senyum? Masih
betah disini?”
Aku mendelik ke arah Rio, kenapa dia kembali seperti ini
sih? Kenapa dia tidak membantuku untuk sekedar berdiri atau apalah. Dia malah
berjalan semakin menjauh dariku, dengan terpaksa aku pun turun dari atas
pembaringan.
“aw... argh...”
Aku memekik tertahan saat sikutku terbentur meja di samping
tempat tidur yang terbuat dari besi itu. Kepalaku benar-benar masih pusing, dan
sekarang di tambah dengan lengan kananku yang terasa begitu sangat lemas. Rio
tolong aku... aku hanya mampu berteriak dalam hati, aku takut kecewa lagi
karena ke tidak peduliannya.
Namun dugaanku salah, ternyata dia kembali lagi padaku lalu
mengangkat tubuhku yang mungkin sangat ringan untuknya. Aku menatapnya tidak
percaya namun begitu dia mulai berjalan aku segera melingkarkan tanganku pada
lehernya, kemudian menyandarkan kepalaku di bahunya. Aku benar-benar pusing.
***
Beberapa hari setelah itu, aku tidak di ijinkan masuk
kantor. Baik oleh Rio, Angel bahkan Mama dan Papa pun melarangnya. Aku senang
mereka begitu perhatian padaku. Beberapa hari itu pula aku di manjakan oleh Rio
dan Mama, Mama cuti hanya untuk menjagaku. Pada awalnya Mama memang terlihat
sangat senang melihatku sakit, aku juga heran kenapa Mama begitu senang tapi
sangat perhatian padaku. Aku kira senang karena mungkin Rio akan mencari wanita
lain, tapi ternyata dugaanku salah. Mama mengira menurunya kesehatanku karena
aku sedang hamil muda. Ya Tuhan... seberharap itukah Mama untuk mendapatkan
cucu?
Meskipun sudah mengetahui aku tidak hamil, Mama tetap
menjagaku selama Rio masih berada di kantor. Rio juga mengurangi jadwalnya
sesuai tuntutan Mama, karena untuk menjagaku.
Aku sangat bahagia, bahkan aku rasa beberapa hari ini adalah
hari-hari terindah untukku, dimana aku di limpahi kasih sayang. Baik dari Mama
maupun Rio.
Meskipun aku tidak tau bagaimana perasaan Rio padaku, tapi
aku bisa merasakan betapa sayangnya dia padaku. Melihat
pengorbanan-pengorbanannya untukku, aku sangat terharu melihatnya. Aku tidak
menyangka dengan apa yang suamiku lakukan. Hhh... semoga selamanya baik-baik
saja seperti ini.
Saat tubuhku merasa sudah baik, aku berniat menyiapkan makan
malam untuk suamiku yang sebentar lagi akan pulang. Mama sebenarnya melarangku,
tapi untunglah setelah aku meyakinkannya akhirnya Mama menyetujui aku masak.
“Ma... masak apa?”
Aku tersenyum pada Angel yang duduk di kichenset, aku baru
melihat senyum cerianya lagi setelah beberapa hari ini aku rasa dia murung
karena aku sakit. Maafkan Mama Angel...
“Mama cuma masak sop aja, kan
Mama belum boleh makan yang berat-berat sayang... jadi biar semuanya aja makan
sop”
Angel mengangguk antusias, dia bergeser mendekatiku yang
sedang memotong beberapa sayuran.
“Mama hati-hati... An gak mau
Mama ke iris lagi tangannya”
Aku tersenyum pada Angel, kemudian mengelus rambut
panjangnya dengan tanganku yang bersih.
“tenang aja An, Mama Agni kan
pinter masak. Gak mungkin tangannya ke iris”
Aku beralih memandang Mama yang memasuki dapur, sepertinya
baru selesai mengerjakan pekerjaan kantornya karena melihat kacamata yang masih
ia kenakan. Walaupun beliau sudah setengah abad, tetapi garis-garis
kecantikkannya masih sangat kentara di wajahnya. Bahkan menurutku, terlalu muda
untuk ukuran orang tua yang memiliki anak yang berumur 29 tahun.
Aku mengalihkan pandanganku lagi pada masakanku, sementara
Angel turun dan sekarang berada di pangkuan Omanya. Lucu sekali anak itu.
Hhh...
Aku merasakan sebuah tangan melingkar di perutku, kemudian
sapuan lembut di pipiku. Rio, aku senang dia berkata kalau dia akan bersikap
biasa hanya di rumah, jadi ketika di kantor aku harus bisa menerima dingin dan
datarnya dia. Hhh... tak apalah.
“bagaimana harimu sayang?”
“tidak begitu buruk, hari ini aku
di ijinkan keluar kamar. Kalau kamu?”
“seperti biasa, melelahkan”
Aku terus memasak tanpa terganggu oleh tangan Rio yang
melingkar di perutku, dia tidak menganggu bagiku. Aku malah merasa senang
dengan prilakunya yang begitu memanjakanku setiap hari.
Setelah aku memasak, kami pun makan bersama. Walaupun apa
adanya tapi bagiku itu enak sekali karena di temani oleh keluarga baruku ini.
Setelah itu Mama pamit pulang karena Papa sudah menjemput,
Angel memilih untuk tidur dengan pengasuh karena masih khawatir padaku yang
menurutnya masih pucat, sementara Rio dia beranjak ke ruangan kerjanya.
Hhh... sebenarnya ada apa di ruang kerjanya itu? Sampai
setiap malam dia selalu menyibukkan diri di dalam sana. Pernah suatu hari aku
melihatnya dia tertidur di sofa, padahal menurutku kalau dia merasa lelah
kenapa tidak tidur dikamar?
Sebenarnya aku masih penasaran dengan isi ruang kerja itu,
ada magnet apa yang membuat dia betah sekali di dalam sana?
Sudahlah Agni, apa yang mau kamu curigai? Rio tidak mungkin affair dengan wanita lain. Paling dia hanya
affair dengan file-file nya saja.
“Rio... boleh aku masuk?”
Aku berdiri di depan pintu ruang kerja Rio dengan sesekali
mengetuknya. Aku cukup menghargai privasi Rio, aku tidak mau dengan aku
langsung masuk tanpa permisi dia menjadi tidak senang lagi padaku.
Pintu ruangan itu terbuka, Rio keluar dari dalam sana.
Aku menundukkan kepalaku untuk mengindari tatapan tajamnya,
sepertinya dia sedang tidak bisa di ganggu malam ini. hhh... tapi aku
benar-benar butuh dia sekarang.
“bisakah kamu menemaniku sampai
aku tertidur?”
“aku sedang banyak pekerjaan”
Hhh... apa yang harus aku harapkan dari suami yang sangat
maniak bekerja?
Aku tidak begitu peduli dengan hartanya, sehingga apa yang
bisa aku harapkan dari hartanya?
“baiklah”
Aku segera membalikkan tubuhku darinya, aku tidak mau dia
melihat air mata kekecewaanku lagi. Apa aku harus selalu sakit saja agar terus
di perhatikan oleh Rio? aku benar-benar tidak bisa tidur malam ini, aku ingin
di temaninya sebentaar saja. Tapi sudahlah...
Setelah mematikan seluruh lampu kamar, aku segera beranjak
ke atas pembaringan. Aku menarik selimut hingga mencapai leherku untuk mencari
kehangatan. Aku merasa badanku menggigil kembali. Hingga, tanpa terasa air
mataku mengalir menyadari betapa tidak pedulinya Rio padaku. Apa dia tidak tau
aku masih dalam keadaan sakit? Apa karena aku memasak dia menganggapku telah
sehat? Oh God... aku benar-benar sakit hati...
Saat aku akan memejamkan mataku, aku merasa sebuah tangan
melingkar di perutku dan sepasang kaki yang membelit kakiku yang memang aku
belitkan juga karena kedinginan serta hembusan nafas yang sangat halus di
bagian belakang leherku.
“maafkan aku... badanmu panas
lagi Agni”
Aku tidak menanggapinya, aku sangat larut dalam dekapannya
yang cukup membuatku tidak merasa menggigil lagi. Tapi aku sadar, dia pasti
akan sangat kepanasan dengan suhu tubuhku.
“Rio... badanku panas... kamu
tidak merasakannya?”
“tentu merasakannya”
“apa tidak gerah?”
“sangat gerah”
“kalau begitu...”
“diamlah, aku tidak mau melihatmu
menderita sendiri”
Aku mengangguk lemah, untuk ke beberapa kalinya dia berkata
seperti itu selama aku sakit. Dia akan semakin mengeratatkan dekapannya saat
aku mulai menggigil lagi, padahal aku yakin saat itu suhu tubuhku meningkat.
***
“Rio... Mama begitu menginginkan
seorang cucu”
Aku berdiri di hadapan Rio sambil merapihkan dasinya yang
entah kenapa begitu berantakan setelah menemui clien nya di luar tadi. Aku melihat dia membersihkan pipi dan
tangannya dengan tissu basah, aku tidak mengerti padanya, ini pertama kalinya aku
melihat dia seperti sedang membersihkan kotoran yang sangat menjijikan di
tubunya.
“aku belum bisa Agni, katakan
padanya aku sibuk. Aku takut aku tidak bisa memantaumu kalau kamu sedang hamil.
Kamu tau sendirikan betapa sibuknya aku?”
Dia berjalan menuju meja kerjanya. Aku faham apa maksudnya,
mungkin dia ingin aku hamil saat dia sedang tidak sibuk, hingga aku bisa selalu
dia awasi.
“kamu telah menyentuh apa Rio?
sampai menghabiskan tissu basah sebanyak ini?”
Aku menggelengkan pelan kepalaku sambil membereskan tissu
basah yang berserakan di mejanya. Dia benar-benar seperti takut terkena bakteri
mematikan sekarang.
“aku tidak suka di sentuh wanita,
apalagi di cium seperti tadi. Aku jijik!”
Apa?! Dia jijik pada wanita? Apa dia juga melakukan hal itu
sesaat setelah berdekatan denganku? Apa aku sekarang bisa menyimpulkan bahwa
dia ini benar-benar gay?
“Rio... kamu...”
Aku mundur menjauh dari Rio, aku takut padanya. Aku belum
siap menerima kenyataan bahwa dia benar-benar gay. Aku...
“apa aku juga menjijikkan Mario? Apa...
apa selama ini aku di abaikan olehmu karena aku menjijikkan? Rio...”
Aku benar-benar tidak bisa menjaga air mataku agar tidak
terjatuh, aku sangat sakit hati mendengar ucapannya seolah aku ini binatang
yang menjijikkan baginya. Aku memegang ujung pinggiran mejaku, untuk mencari
kekuatan.
“Agni... kenapa kamu berkata
seperti itu?”
Rio berjalan mendekatiku, tapi aku bergeser menjauhinya.
“apa itu alasannya kenapa kamu
tidak pernah bisa melakukan kewajibanmu Rio? apa karena aku kaum wanita? Apa aku
harus jadi laki-laki Rio?!”
“apa yang kamu katakan Agni?! Aku
tidak jijik padamu!”
Aku semakin mundur karena Rio terus mendekatiku. Apa benar
aku tidak menjijikan? Atau dia hanya ingin menghiburku?
“tapi kenapa Rio?”
“aku hanya belum siap!”
“bohong!!!”
“Agni! Berhentilah!”
Dia menarik tanganku, tapi aku segera menepisnya. Dia menggeram
kesal.
“apa kamu gay Mario?”
Aku menatapnya tajam. Aku melihat keterkejutan di wajahnya. Apa
itu artinya iya?
Dia mundur menjauhiku, berjalan ke arah jendela tepat di belakang
meja kerjanya.
“jawab Mario! Apa kamu
benar-benar gay?!”
Aku benar-benar sudah tidak bisa mengontrol emosiku lagi. Aku
berteriak histeris menanyakan itu. Untung saja ruangan itu sudah di ganti
menjadi kedap suara setelah kami menikah, entah apa maksudnya tapi aku merasa
itu keberuntungan bagiku.
“Rio! jawab!!!”
Kini badanku bergetar hebat, diamnya dia seakan jawaban iya
untukku. Ya Tuhan...
“Rio jawab.... aku mohon...”
Aku terduduk di lantai, kakiku sudah tidak mampu lagi
menahan tubuhku yang bergetar hebat. Suaraku mulai serak dan sangat sulit di
keluarkan. Apalagi isi hatiku... sudahlah jangan di tanyakan lagi.
“Rio...”
“entahlah...”
Seketika itu hantaman begitu keras terasa di dadaku. Entahlah?
Entahlah? Entahlah? Kalimat itu terus mengelilingi ingatanku. Hatiku benar-benar
mencelos begitu mendengarnya. Jadi selama ini aku benar-benar menikah dengan
seorang gay?
***
Bersambung...
No comments:
Post a Comment