Saturday, 18 May 2013

Between Love and Obsession Part 7

“Inilah Mario..."
Bab 7

Beberapa hari setelah aku tak sengaja membuat Rio terlihat begitu marah, aku dan dia hanya melakukan aktifitas tanpa bertegur sapa sama sekali. Kesempatanku bicarapun semakin sempit karena kesibukkan dia di kantor. Meskipun sebagian tugasnya di limpahkan pada Ray, tapi ternyata dia masih sibuk, dia bekerja hampir 18 jam perhari. Dia hanya meluangkan waktu untuk menjemput Angel, dia juga tidak mengantarku pulang saat jam kerjaku habis. Bahkan dia seolah tidak peduli aku pulang dengan siapa. Dia benar-benar kembali pada Mario yang sibuk, Mario yang datar dan dingin.
Ya Tuhan... seberapa besarkah salahku padanya? sampai dia begitu marah padaku. Ampunilah aku Tuhan...

Aku menatap ke datangan Rio yang baru saja selesai menemui clien nya di luar kantor. Aku tidak pernah di ajaknya. Apakah pantas buatku curiga padanya? Curiga bahwa dia affair dengan wanita lain, atau lebih buruk dari itu.
Aku menghampirinya, mengelus dadanya pelan kemudian membuka jasnya yang seharian ini tidak ia lepas. Begitu jasnya terlepas, dia segera beranjak dariku dan duduk di meja kerjanya. Menyibukkan diri kembali dengan gadget-nya. Kalau aku bicara sekarang apa tidak akan mengganggu? Jujur saja, aku benar-benar tersiksa dengan tingkahnya akhir-akhir ini. Aku membutuhkan kehangatannya.

“Rio...”

Dia tidak menanggapinya, bahkan guman mengesalkannya pun tidak di keluarkan dari mulutnya. Dadaku mulai bergemuruh kembali. Jangan! Jangan sekarang... jangan menangis di hadapannya, aku tidak mau di nilai lemah. Aku berusaha menormalkan nafasku. Hhh.... tenanglah Agni...
Aku mendekatinya, berdiri di hadapannya dengan menyandarkan diri pada meja kerjanya.

“Rio... kita harus bicara”

Lagi-lagi aku hanya bisa menghela nafas kecewa saat tak adanya tanggapan darinya. Sabar Agni... sabar...

“Rio... bisakah kamu meninggalkan gadget-mu sebentar saja...”

Aku menarik tablet dari tangannya dengan lembut, aku tidak ingin memaksanya. Awalnya aku takut dia akan semakin marah, tapi ternyata dugaanku salah. Dia diam tanpa perlawanan, lalu menatapku dengan datar. Apa yang dia rasakan sekarang? Aku benar-benar tidak bisa membaca isi hatinya, dia terlalu menutup diri. Hhh... tapi sudahlah, toh aku bukan istri yang benar-benar dia harapkan.

“maaf... aku tidak mengetahui segala sesuatu tentangmu dan Angel, aku memang pantas kamu hukum karena berani menikah denganmu tanpa tau seluk-beluk dirimu. Tapi Rio... aku menikah denganmu karena ajakan dadakanmu, seandainya tidak semendadak itu, aku yakin aku bisa lebih baik dari yang kemarin. Aku benar-benar merasa bodoh... Rio, tolong jangan hukum aku lebih lama lagi, aku butuh penjelasan apapun yang menyangkut dirimu dan Angel. Aku tidak bisa berpikir jernih kalau dalam keadaan seperti ini. Rio... katakan sesuatu...”
“apa yang harus aku katakan?”

Aku tersenyum getir, aku merasa mataku mulai memanas. Jangan sekarang Agni.... aku benar-benar rindu dengan suara itu, aku bahagia mendengarnya lagi.

“terimakasih... aku senang mendengar suaramu lagi”
“itu saja?”

Dia meraih gadget-nya kembali, mulai menyibukkan diri dengan gadget itu lagi. Entah apa yang ada di dalamnya, yang jelas aku tidak akan pernah tau. Aku terlalu takut jatuh dalam kesakitan lebih dalam lagi...

“kemarin... saat aku mencari bahan makanan di super market, aku bertemu Mama”

Hhh... syukurlah dia ingin mendengarkannya, meskipun tanpa menatapku terlihat dia memperhatikanku karena saat mengatakan itu dia menghentikan memainkan gadget-nya.
Masih tak ada tanggapan darinya. Hhh...

“Mama bertanya... kapan kita akan... berbulan madu?”

Dia menyimpan gadget-nya kembali, dia menatapku dengan datar. Ya Tuhan... kenapa dia dingin lagi, aku merasakah kehangatan dalam dadaku menghilang begitu saja saat menatap sepasang mata itu.

“kau jawab apa?”
“aku bilang, kamu masih sibuk... aku juga, jadi kita tidak ada waktu untuk bulan madu”
“bagus”

Ya Tuhan... Tuhan... aku merasakan ada dentuman keras dalam dadaku mendengar ucapan itu. Bodoh sekali kamu Agni, bagaimana kamu bisa berharap akan ada hal manis dalam pernikahanmu? Sudahlah... buang jauh-jauh keinginanmu. Rio tidak akan pernah bisa membalas apapun keinginanmu. Hhh... sebaiknya aku segera beranjak. Aku benar-benar pusing, di tambah dengan air mataku yang sebentar lagi akan meluncur.
Aku meraih tasku yang tergeletak di meja kerjaku, saat aku berada di ambang pintu aku rasa harus mengatakan sesuatu yang beberapa hari ini aku rencanakan untuk membicarakannya.

“Rio...”

Walau pada akhirnya aku akan sakit hati, tapi setidaknya aku telah mengatakannya. Hhh... semoga keputusanku benar.

“aku mencintaimu...”

***

Aku membuka perlahan mataku, sedang ada dimana aku? Kenapa menyengat sekali aroma obat itu.

“Bu Agni... sudah sadar Bu?”

Aku memegang kepalaku yang terasa begitu berat, perlahan pandangan kaburku mulai jelas dan mendapati Sivia, sekertaris suamiku. Dia terlihat begitu panik, terlihat sekali dari wajahnya.

“aku... dimana?”
“Ibu di klinik, tadi ibu pingsan begitu keluar dari ruang Pak Mario”

Ahh iya, pantas saja aku merasa tidak ingat apa-apa setelah mengatakan hal itu pada Rio. argh... berat sekali kepalaku...

“kata dokter, anda kelelahan dan terlalu banyak pikiran. Awalnya saya pikir anda sedang menganduh... haha... aneh sekali ya pikiranku?”

Aku tersenyum simpul padanya. Bagaimana mungkin aku bisa mengandung? Sementara melakukannya saja aku tidak pernah.

“kalau boleh saya tau... Ibu menunda untuk hamil ya?”

Lagi-lagi aku hanya membalasnya dengan senyuman, aku tidak tau harus berkata apa padanya. Aku tidak mungkin jujur, tapi aku juga tidak mau berbohong.

“padahal dengan adanya anak akan lebih lengket lho Bu, saya contohnya... awal menikah saya merasa biasa saja, tapi setelah mendapatkan putra... kebahagiaan banyak sekali datang silih berganti”

Anak? Apa aku masih pantas mengharapkannya?
Astaga... aku baru ingat tentang pesan itu, apa ternyata benar suamiku itu gay? Mengingat sepertinya dia tidak memiliki ‘minat’ pada padaku. Ohh astaga... aku benar-benar takut menghadapi semuanya.

“ehh maaf Bu, saya jadi ngoceh sendiri... oiya, ini ada makanan dari Pak Mario, katanya pagi dan siang tadi anda belum makan... beliau ada meeting, mungkin sampai jam delapan”

Apakah aku harus bahagia dengan perhatian Rio? ternyata dia benar-benar memperhatikan pola makanku, sampai dia tau aku tidak sarapan dan tidak makan siang. Aku benar-benar tidak nafsu makan, karena pikiranku di kuasai oleh Rio. sebenarnya bukan hanya hari ini, tapi beberapa hari kebelakang juga aku jarang sarapan atau makan siang dan makan malam.
Aku melirik jam dinding yang ada di ruangan itu. Hhh.... jam setengah delapan, aku tidak bisa pulang sendiri, karena selain sudah gelap aku juga tidak mungkin pulang sendiri dengan ke adaan seperti ini.

“terimakasih Mbak Sivia, saya rasa saya sudah terlalu lama tertidur. Apa tadi Mario berpesan akan menjemputku?”

Clek.
Rio memasuki klinik dengan jas yang telah menghilang entah kemana, mungkin di dalam mobil.

“istriku kenapa?”
“kata Dokter, Bu Agni hanya kelelahan dan terlalu banyak pikiran Pak. Bu Agni juga baru saja sadar”

Dia mendekatiku, membelai dahiku menyampirkan poni yang ada di keningku.
Aku tertegun melihat senyumannya, terlihat sekali dari matanya bahwa dia mengkhawatirkanku. Atau itu cuma perasaanku saja? Sudahlah Agni, jangan terlalu banyak berharap.

“lama sekali sayang kau tertidur”

Aku membalas senyumannya, kemudian membelai pipinya. Aku benar-benar rindu dengan posisi sedekat ini dengannya, aku benar-benar rindu kehangatannya.

“maaf... kamu terlihat lelah sekali hari ini”
“tentu, di tambah istriku pingsan mendadak”
“maaf ya...”

Dia mengangguk, kenapa aku rasa dia berbeda sekali dengan tadi siang? Apa dia bukan Rio?
Aku mencoba bangun dan agak menjauhkan tubuhku dari jangkauannya. Aku benar-benar takut dia bukan Rio.

“ehm... Pak, Bu, saya rasa tugas saya telah selesai... saya pamit dulu suami saya sudah menjemput”
“silahkan”

Aku tersenyum pada Sivia yang menunduk berpamitan padaku, setelah itu dia berlalu.

“Agni... bagaimana perasaanmu?”
“pp..perasaan apa?”
“perasaanmu... masih pusing atau bagaimana?”

Hhh... aku kira dia mau membahas apa, hey tapi tunggu... aku harus mengujinya dulu, aku takut dia Bio yang ternyata datang kembali.

“siapa kau?”

Dia mendelik, menatapku tajam. Hhh... sekarang aku yakin dia Rio, ada rasa bangga juga dalam hati ternyata dia bisa mengkhawatirkanku.

“kau kira aku siapa? Fabio? Apa aku terlihat aneh jika berbaik hati padamu?”
“eh...”

Aku hanya bisa menggeleng, tenggorokanku terasa tersendat melihat mata menyalanya, apa dia marah? Please jangan.

“aku cuma takut Rio... aku... aku takut dia datang lagi menguasai tubuhmu”

Aku menundukan kepalaku dalam-dalam, aku tidak mau melihat mata menyala itu lagi. Aku terlalu penakut untuk melihat orang yang aku cintai begitu marah.
Dia meraih daguku, menghadapkanku padanya.

“kenapa? Kenapa kau lebih takut pada dia? Kenapa kau tidak takut padaku?”
“aku... aku takut... aku cuma mau kamu Rio, bukan orang lain... berjanjilah kalau kau tidak akan di lumpuhkan dia lagi”

Aku menatapnya penuh harap, aku benar-benar berharap dia mengangguk dan mengatakan akan berusaha untukku, dan akan terus menjagaku dari rengkuhannya.

“tentu saja! Sekarang aku tidak selemah itu Agni”

Aku mendengus kesal tapi entah kenapa bibirku malah tersenyum mendengarnya. Meskipun berkata dengan begitu datar dan dingin, bagiku itu kalimat yang menyenangkan. Salahkah aku berharap dia membalas perasaanku ini?

“kenapa senyum-senyum? Masih betah disini?”

Aku mendelik ke arah Rio, kenapa dia kembali seperti ini sih? Kenapa dia tidak membantuku untuk sekedar berdiri atau apalah. Dia malah berjalan semakin menjauh dariku, dengan terpaksa aku pun turun dari atas pembaringan.

“aw... argh...”

Aku memekik tertahan saat sikutku terbentur meja di samping tempat tidur yang terbuat dari besi itu. Kepalaku benar-benar masih pusing, dan sekarang di tambah dengan lengan kananku yang terasa begitu sangat lemas. Rio tolong aku... aku hanya mampu berteriak dalam hati, aku takut kecewa lagi karena ke tidak peduliannya.

Namun dugaanku salah, ternyata dia kembali lagi padaku lalu mengangkat tubuhku yang mungkin sangat ringan untuknya. Aku menatapnya tidak percaya namun begitu dia mulai berjalan aku segera melingkarkan tanganku pada lehernya, kemudian menyandarkan kepalaku di bahunya. Aku benar-benar pusing.

***

Beberapa hari setelah itu, aku tidak di ijinkan masuk kantor. Baik oleh Rio, Angel bahkan Mama dan Papa pun melarangnya. Aku senang mereka begitu perhatian padaku. Beberapa hari itu pula aku di manjakan oleh Rio dan Mama, Mama cuti hanya untuk menjagaku. Pada awalnya Mama memang terlihat sangat senang melihatku sakit, aku juga heran kenapa Mama begitu senang tapi sangat perhatian padaku. Aku kira senang karena mungkin Rio akan mencari wanita lain, tapi ternyata dugaanku salah. Mama mengira menurunya kesehatanku karena aku sedang hamil muda. Ya Tuhan... seberharap itukah Mama untuk mendapatkan cucu?
Meskipun sudah mengetahui aku tidak hamil, Mama tetap menjagaku selama Rio masih berada di kantor. Rio juga mengurangi jadwalnya sesuai tuntutan Mama, karena untuk menjagaku.

Aku sangat bahagia, bahkan aku rasa beberapa hari ini adalah hari-hari terindah untukku, dimana aku di limpahi kasih sayang. Baik dari Mama maupun Rio.
Meskipun aku tidak tau bagaimana perasaan Rio padaku, tapi aku bisa merasakan betapa sayangnya dia padaku. Melihat pengorbanan-pengorbanannya untukku, aku sangat terharu melihatnya. Aku tidak menyangka dengan apa yang suamiku lakukan. Hhh... semoga selamanya baik-baik saja seperti ini.

Saat tubuhku merasa sudah baik, aku berniat menyiapkan makan malam untuk suamiku yang sebentar lagi akan pulang. Mama sebenarnya melarangku, tapi untunglah setelah aku meyakinkannya akhirnya Mama menyetujui aku masak.

“Ma... masak apa?”

Aku tersenyum pada Angel yang duduk di kichenset, aku baru melihat senyum cerianya lagi setelah beberapa hari ini aku rasa dia murung karena aku sakit. Maafkan Mama Angel...

“Mama cuma masak sop aja, kan Mama belum boleh makan yang berat-berat sayang... jadi biar semuanya aja makan sop”

Angel mengangguk antusias, dia bergeser mendekatiku yang sedang memotong beberapa sayuran.

“Mama hati-hati... An gak mau Mama ke iris lagi tangannya”

Aku tersenyum pada Angel, kemudian mengelus rambut panjangnya dengan tanganku yang bersih.

“tenang aja An, Mama Agni kan pinter masak. Gak mungkin tangannya ke iris”

Aku beralih memandang Mama yang memasuki dapur, sepertinya baru selesai mengerjakan pekerjaan kantornya karena melihat kacamata yang masih ia kenakan. Walaupun beliau sudah setengah abad, tetapi garis-garis kecantikkannya masih sangat kentara di wajahnya. Bahkan menurutku, terlalu muda untuk ukuran orang tua yang memiliki anak yang berumur 29 tahun.
Aku mengalihkan pandanganku lagi pada masakanku, sementara Angel turun dan sekarang berada di pangkuan Omanya. Lucu sekali anak itu. Hhh...

Aku merasakan sebuah tangan melingkar di perutku, kemudian sapuan lembut di pipiku. Rio, aku senang dia berkata kalau dia akan bersikap biasa hanya di rumah, jadi ketika di kantor aku harus bisa menerima dingin dan datarnya dia. Hhh... tak apalah.

“bagaimana harimu sayang?”
“tidak begitu buruk, hari ini aku di ijinkan keluar kamar. Kalau kamu?”
“seperti biasa, melelahkan”

Aku terus memasak tanpa terganggu oleh tangan Rio yang melingkar di perutku, dia tidak menganggu bagiku. Aku malah merasa senang dengan prilakunya yang begitu memanjakanku setiap hari.

Setelah aku memasak, kami pun makan bersama. Walaupun apa adanya tapi bagiku itu enak sekali karena di temani oleh keluarga baruku ini.
Setelah itu Mama pamit pulang karena Papa sudah menjemput, Angel memilih untuk tidur dengan pengasuh karena masih khawatir padaku yang menurutnya masih pucat, sementara Rio dia beranjak ke ruangan kerjanya.

Hhh... sebenarnya ada apa di ruang kerjanya itu? Sampai setiap malam dia selalu menyibukkan diri di dalam sana. Pernah suatu hari aku melihatnya dia tertidur di sofa, padahal menurutku kalau dia merasa lelah kenapa tidak tidur dikamar?
Sebenarnya aku masih penasaran dengan isi ruang kerja itu, ada magnet apa yang membuat dia betah sekali di dalam sana?
Sudahlah Agni, apa yang mau kamu curigai? Rio tidak mungkin affair dengan wanita lain. Paling dia hanya affair dengan file-file nya saja.

“Rio... boleh aku masuk?”

Aku berdiri di depan pintu ruang kerja Rio dengan sesekali mengetuknya. Aku cukup menghargai privasi Rio, aku tidak mau dengan aku langsung masuk tanpa permisi dia menjadi tidak senang lagi padaku.
Pintu ruangan itu terbuka, Rio keluar dari dalam sana.
Aku menundukkan kepalaku untuk mengindari tatapan tajamnya, sepertinya dia sedang tidak bisa di ganggu malam ini. hhh... tapi aku benar-benar butuh dia sekarang.

“bisakah kamu menemaniku sampai aku tertidur?”
“aku sedang banyak pekerjaan”

Hhh... apa yang harus aku harapkan dari suami yang sangat maniak bekerja?
Aku tidak begitu peduli dengan hartanya, sehingga apa yang bisa aku harapkan dari hartanya?

“baiklah”

Aku segera membalikkan tubuhku darinya, aku tidak mau dia melihat air mata kekecewaanku lagi. Apa aku harus selalu sakit saja agar terus di perhatikan oleh Rio? aku benar-benar tidak bisa tidur malam ini, aku ingin di temaninya sebentaar saja. Tapi sudahlah...
Setelah mematikan seluruh lampu kamar, aku segera beranjak ke atas pembaringan. Aku menarik selimut hingga mencapai leherku untuk mencari kehangatan. Aku merasa badanku menggigil kembali. Hingga, tanpa terasa air mataku mengalir menyadari betapa tidak pedulinya Rio padaku. Apa dia tidak tau aku masih dalam keadaan sakit? Apa karena aku memasak dia menganggapku telah sehat? Oh God... aku benar-benar sakit hati...

Saat aku akan memejamkan mataku, aku merasa sebuah tangan melingkar di perutku dan sepasang kaki yang membelit kakiku yang memang aku belitkan juga karena kedinginan serta hembusan nafas yang sangat halus di bagian belakang leherku.

“maafkan aku... badanmu panas lagi Agni”

Aku tidak menanggapinya, aku sangat larut dalam dekapannya yang cukup membuatku tidak merasa menggigil lagi. Tapi aku sadar, dia pasti akan sangat kepanasan dengan suhu tubuhku.

“Rio... badanku panas... kamu tidak merasakannya?”
“tentu merasakannya”
“apa tidak gerah?”
“sangat gerah”
“kalau begitu...”
“diamlah, aku tidak mau melihatmu menderita sendiri”

Aku mengangguk lemah, untuk ke beberapa kalinya dia berkata seperti itu selama aku sakit. Dia akan semakin mengeratatkan dekapannya saat aku mulai menggigil lagi, padahal aku yakin saat itu suhu tubuhku meningkat.

***

“Rio... Mama begitu menginginkan seorang cucu”

Aku berdiri di hadapan Rio sambil merapihkan dasinya yang entah kenapa begitu berantakan setelah menemui clien nya di luar tadi. Aku melihat dia membersihkan pipi dan tangannya dengan tissu basah, aku tidak mengerti padanya, ini pertama kalinya aku melihat dia seperti sedang membersihkan kotoran yang sangat menjijikan di tubunya.

“aku belum bisa Agni, katakan padanya aku sibuk. Aku takut aku tidak bisa memantaumu kalau kamu sedang hamil. Kamu tau sendirikan betapa sibuknya aku?”

Dia berjalan menuju meja kerjanya. Aku faham apa maksudnya, mungkin dia ingin aku hamil saat dia sedang tidak sibuk, hingga aku bisa selalu dia awasi.

“kamu telah menyentuh apa Rio? sampai menghabiskan tissu basah sebanyak ini?”

Aku menggelengkan pelan kepalaku sambil membereskan tissu basah yang berserakan di mejanya. Dia benar-benar seperti takut terkena bakteri mematikan sekarang.

“aku tidak suka di sentuh wanita, apalagi di cium seperti tadi. Aku jijik!”

Apa?! Dia jijik pada wanita? Apa dia juga melakukan hal itu sesaat setelah berdekatan denganku? Apa aku sekarang bisa menyimpulkan bahwa dia ini benar-benar gay?

“Rio... kamu...”

Aku mundur menjauh dari Rio, aku takut padanya. Aku belum siap menerima kenyataan bahwa dia benar-benar gay. Aku...

“apa aku juga menjijikkan Mario? Apa... apa selama ini aku di abaikan olehmu karena aku menjijikkan? Rio...”

Aku benar-benar tidak bisa menjaga air mataku agar tidak terjatuh, aku sangat sakit hati mendengar ucapannya seolah aku ini binatang yang menjijikkan baginya. Aku memegang ujung pinggiran mejaku, untuk mencari kekuatan.

“Agni... kenapa kamu berkata seperti itu?”

Rio berjalan mendekatiku, tapi aku bergeser menjauhinya.

“apa itu alasannya kenapa kamu tidak pernah bisa melakukan kewajibanmu Rio? apa karena aku kaum wanita? Apa aku harus jadi laki-laki Rio?!”
“apa yang kamu katakan Agni?! Aku tidak jijik padamu!”

Aku semakin mundur karena Rio terus mendekatiku. Apa benar aku tidak menjijikan? Atau dia hanya ingin menghiburku?

“tapi kenapa Rio?”
“aku hanya belum siap!”
“bohong!!!”
“Agni! Berhentilah!”

Dia menarik tanganku, tapi aku segera menepisnya. Dia menggeram kesal.

“apa kamu gay Mario?”

Aku menatapnya tajam. Aku melihat keterkejutan di wajahnya. Apa itu artinya iya?
Dia mundur menjauhiku, berjalan ke arah jendela tepat di belakang meja kerjanya.

“jawab Mario! Apa kamu benar-benar gay?!”

Aku benar-benar sudah tidak bisa mengontrol emosiku lagi. Aku berteriak histeris menanyakan itu. Untung saja ruangan itu sudah di ganti menjadi kedap suara setelah kami menikah, entah apa maksudnya tapi aku merasa itu keberuntungan bagiku.

“Rio! jawab!!!”

Kini badanku bergetar hebat, diamnya dia seakan jawaban iya untukku. Ya Tuhan...

“Rio jawab.... aku mohon...”

Aku terduduk di lantai, kakiku sudah tidak mampu lagi menahan tubuhku yang bergetar hebat. Suaraku mulai serak dan sangat sulit di keluarkan. Apalagi isi hatiku... sudahlah jangan di tanyakan lagi.

“Rio...”
“entahlah...”

Seketika itu hantaman begitu keras terasa di dadaku. Entahlah? Entahlah? Entahlah? Kalimat itu terus mengelilingi ingatanku. Hatiku benar-benar mencelos begitu mendengarnya. Jadi selama ini aku benar-benar menikah dengan seorang gay?

***

Bersambung...

No comments:

Post a Comment