“Ukiran
Masa Lalu”
Bab 6
Aku menyimpan album foto yang di pegangi Agni, aku duduk di
sampingnya. Aku mengelus puncak kepalanya, dia mendongak ke arahku, menatap
meminta penjelasan.
“jangan kaget mendegar semuanya,
dan berjanjilah kamu tidak akan meninggalkanku setelah tau semuanya”
Agni terlihat mengangguk ragu. Tuhan... apa dia menyesal
telah menikah denganku? Kenapa dia terlihat berbeda sekali? Aku rasa dia
benar-benar kecewa padaku, dan yang aku takutkan cuma satu, aku takut dia akan
meninggalkan aku dan Angel. Itu saja!
Aku merasakan sapuan lembut di wajahku, ternyata Agni
membelai wajahku dengan tangannya. Dia terlihat berusaha menenangkanku, aku
memang gugup, bahkan sangat gugup melebihi saat membuat ikrar suci dengannya.
“aku mau kamu menceritakan dari
Fabio, siapa dia?”
Hhh... kenapa semuanya jadi di luar rencana? Aku sebenarnya
hanya ingin menceritakan tentang Agneta, bukan Fabio! Jika mengingatnya aku
selalu merasa kesal dan sangat bodoh, bagaimana mungkin aku bisa di kalahkan
jiwa lemahku?
“di mulai saat Mario kecil, aku
dari dulu memang sudah keras kepala, saking kerasnya aku tidak pernah plin-plan
dalam memilih apapun, aku tumbuh menjadi semakin keras karena pendidikan dari
orang tuaku yang selalu mengajarkanku untuk teguh pendirian. Untuk ukuran anak
tujuh tahun aku sudah membuat Mama dan Papa bangga karena aku berwatak sekeras
yang mereka mau”
Aku melihat Agni yang memandangiku begitu intens, dari
pancaran matanya masih menyiratkan keingin tahuannya.
“sampai pada suatu saat aku
merasakan ada sesuatu pada diriku yang aneh. Berawal dari Mama yang memarahiku
karena ke plin-plananku, padahal jelas sekali aku tidak pernah plin-plan dalam
memutuskan sesuatu. Beberapa kejadian lainnya saat aku ke sekolah dan banyak
sekali teman wanita yang mendekatiku padahal dari dulu mereka takut padaku.
Mereka menjawabnya ‘kemarin-kemarin kamu baik, kenapa sekarang begini lagi?’
jujur waktu itu aku bingung”
Agni mengelus-elus dadaku tepat di atas jantungku, aku
merasa nafasku mulai tidak teratur dan jantungku berdetak lebih cepat karena
menahan emosi.
“suatu saat aku iseng berbicara
dengan diriku sendiri melalui cermin, dan betapa terkejutnya aku melihat
pantulan diriku yang merespon ucapanku. Dia bilang, selama ini dia yang
melakukannya. Dan dia menyebut dirinya dengan sebutan Fabio. Sisi baik dan
lembut dari diriku”
Hhh... luka yang selama ini aku pendam kembali menyeruak.
Apa aku sanggup untuk menceritakannya? Ohh Tuhan... bantulah aku... aku menatap
Agni yang terlihat agak terkejut. Entah kenapa, aku tidak mengerti.
“hingga suatu hari Mama mendapati
ku sedang berbicara dengannya di cermin dan dia tau kalau puteranya memiliki
‘jiwa’ ganda... dari situ Mama selalu berhati-hati, dia selalu bertanya padaku
saat aku akan bekerja, atau apapun aktivitasku di luar, apakah aku Mario atau
Fabio? dia sangat membenci Fabio karena ketidak teguhannya. Menurut Mama itu
tidak akan baik untuk memimpin sebuah perusahaan yang besar, dia akan kalah
telak jika di rayu sekecil apapun”
Semoga aku tidak menyakitimu Agni karena menceritakan ini.
sebenarnya aku sudah tidak sanggup bercerita, dan aku melihat Agni juga mulai
menyiratkan ekspresi yang sangat aneh.
“Mama takut kewibawaanku hilang
begitu saja saat Fabio muncul, kewibawaan yang selama ini aku bangun dengan
susah payah”
Agni terlihat mengerutkan keningnya, dia terlihat
menghentikan mengelus dadaku. Dia terlihat menerawang entah kemana. Ya Tuhan...
benarkah apa yang ku takutkan akan terjadi?
Aku mengangkat wajahnya agar menghadapku, kedua pipinya aku
rengkuh kemudian aku menyapukan bibirku tepat di atas bibirnya lama.
“apa kamu akan meninggalkan aku
dan Angel?”
Aku bertanya setelah melepaskan pagutanku padanya, dia
menatapku nanar. Matanya mulai berkaca-kaca. Hey, kenapa dia?
Dia memukul pelan dadaku.
“jahat sekali kamu, aku sangat
menyayangi Angel. Buat apa aku akan meninggalkannya cuma karena hal seperti
ini?”
Aku tersenyum lega, syukurlah... aku benar-benar takut
melihat Angel bersedih karena di tinggalkan Agni. Aku juga akan sangat
kehilangan keceriaan Angel kalau Agni benar-benar meninggalkannya.
“kita tidur, ini sudah malam”
Agni terlihat merengut kecewa, dia masih diam di tempatnya
tak berniat beranjak.
Hhh... apa semua wanita sekeras kepala ini? kalau iya, aku
memilih untuk tidak menikah sekalian.
Aku berlutut di hadapan Agni, meraih kedua tangannya dan
mengecupnya lembut.
“istirahatlah dulu, aku harap
kamu pikir-pikir dulu untuk mendengarkan cerita tentang Neta, persiapkanlah
dulu”
Aku berusaha meyakinkannya untuk segera beranjak dari
ruanganku ini, aku ingin dia benar-benar siap terlebih dahulu. Aku tidak mau
keingin tauannya akan menyebabkan keinginannya untuk segera meninggalkanku.
Hhh... aku sebenarnya tidak yakin apakah aku benar-benar takut kehilangan dia,
aku memang menyukainya karena sifat keibuannya, tapi aku belum merasakan apa
yang di namakan cinta untuknya.
“aku kira bukan aku yang tidak
siap mendengarkan Rio... yang belum siap itu kamu, belum siap menceritakannya”
Benarkah? Apakah benar yang dia katakan?
“aku akan tidur sekarang, jangan
terlalu malam tidurnya... night”
Dia mengecup keningku yang masih berlutut di hadapannya,
sampai istriku itu menghilang. Hhh... apakah aku pantas menyebutkan dia
istriku? Padahal aku belum ‘mempatenkan’ nya. Mengingat hal itu pikiranku
menjadi kacau kembali. Apa aku bisa melakukannya? Apalagi jika mengingat
desakan Mama. Sampai sekarang aku belum bisa melakukannya, aku terlalu jengah
dengan perempuan. Aku ingin mencari kenyamanan terlebih dahulu dalam diri Agni.
Entahlah... aku bingung.
Aku duduk di sofa itu dengan mata terpejam, aku sangat lelah
dengan pikiran-pikiranku. Kalau ada pilihan untuk mengurus perusahaan yang
sedang bangkrut dan memikirkan hal ini aku akan memilih perusahaan yang
bangkrut itu. Akan lebih mudah di selesaikan daripada hal sesulit ini, bukan
sulit tapi benar-benar seperti jalan buntu yang tak ada jalan keluarnya.
“segala sesuatu akan ada jalannya
Mario...”
Suara lembut itu menyadarkan aku, aku membuka mataku dan
kemudian merasakan belaian lembut dari tangan dingin wanita di hadapanku ini.
aku sungguh merindukan belaiannya sekarang.
“Neta...”
“hm...”
“sejak kapan kamu suka bergumam
seperti itu?”
Dia tertawa kecil, lesung pipinya terlihat jelas. Andai aku
bisa menyentuhnya, aku tak akan pernah melepaskannya dariku.
“aku mengikuti istrimu... dia
cantik, dan sangat lucu, selalu bisa membuatmu salah tingkah karena tingkah
lakunya, aku senang melihatmu begitu
Mario...”
“panggil aku Rio, Neta!”
Dia menatapku dengan lembut, aku mengangkat tanganku untuk
menyentuh bibir pucatnya. Tapi seketika itu dia mencegahnya dengan meraih
tanganku. Hhh... sampai saat ini aku masih bingung kenapa dia melarangku untuk
menyentuhnya.
“iya iya Rio... bagaimana malam
pertamamu? Haha... aku yakin kamu tidak melakukan apapun pada istrimu”
Aku mendengus, kemudian melirik tajam padanya.
“itu karenamu juga”
Dia menghela nafas panjang, merengkuh kedua pipiku dan
menatapku lembut.
“kalau begitu aku akan pergi”
“jangan...”
“Rio... bisakah kamu melupakanku?
Lihat dia, dia sangat cantik, dia baik melebihi aku... buka matamu Rio...”
“tapi kamu terbaik untukku”
Dia tertawa ringan, dia menepuk dadaku pelan. Kemudian menatapku
dengan lembut.
“dunia kita berbeda Rio...
jadikanlah wanita itu sebagai dirinya, jangan sebagai aku. Jadikanlah dia
sempurna jangan jadikan sebagai penggantiku, Angel akan bahagia mungkin akan
sangat bahagia bila secepatnya kamu memberikan adik untuknya...”
“tapi Neta... bagaimana mungkin
aku melakukannya? Bagaimana caranya? Aku...”
Aku berhenti berkata setelah dia menutup mataku dengan kedua
tangannya, aku diam. Aku merasakan dia merasakan dia mendekatkan dirinya
padaku, semakin dekat.
“cintailah dia... sepenuh
hatimu...”
Dia mengecup pipiku pelan, setelah itu aku rasakan dia telah
pergi lagi. Aku membuka mataku kembali, apa aku harus melakukan apa yang di
katakan Agneta? Aku benar-benar bingung, aku benar-benar merasa buntu sekarang.
Tuhan... berilah jalan terbaik untukku.
***
Aku merasakan kecupan hangat di pipiku, begitu aku membuka
mata di sambutlah aku dengan senyuman manis dari Agni. Aku membalas kecupannya
kemudian memeluknya semakin erat.
“semalam kamu tidur jam berapa?”
“sekitar... ya... tengah malam”
Dia tersenyum lalu mengelus-elus pipiku. Aku merasa semenjak
menikah dia begitu agresif padaku, aku tidak tau kenapa dan apa yang
menyebabkannya seperti itu. Apa semua wanita yang telah menikah selalu begini? Atau
hanya istriku yang seperti ini? aku tidak pernah merasakan indahnya bangun pagi
bersama Agneta. Fabio selalu mencuri kesempatan itu dariku, dia begitu
terobsesi dengan Agneta hingga aku tidak pernah di beri kesempatan menikmati
hari-hari indahku bersamanya.
“jaga kesehatanmu Rio... aku
bukan dokter yang ahli merawat jika kamu sakit”
Aku mengecup hidungnya dengan gemas. Kenapa dia begitu
perhatian padaku? Padahal aku rasa aku tidak pernah memperhatikannya? Apa selama
ini aku sudah keterlaluan tidak memberinya perhatian? Tapi jujur saja, aku
memang belum merasakan sesuatu selain rasa suka dan juga debaran-debaran
jantungku yang aneh.
Untuk kedua kalinya aku merasakan debaran jantungku se aneh
ini. pertama pada Agneta dan kedua pada Agni. Tapi rasanya benar-benar berbeda,
dulu aku merasakannya tanpa bisa aku redam kembali dan saat tidak bisa meredam
itulah Fabio menggantikan posisiku, sedangkan kali ini aku bisa
mengendalikannya. Kenapa tidak dari dulu saja? Mungkin aku tidak akan pernah
terlewatkan olehnya.
“Rio... Rio... pagi-pagi udah
ngelamun”
“ehh... apa?”
“ini... bisa kamu lepasin? Angel udah
manggil tuh”
Astaga! Aku lupa kalau sedang memeluk Agni. Aku segera
melepaskannya dan mengalihkan pandanganku ke arah lain, aku akut dia menyadari
sesuatu dariku.
***
Pagi ini aku dan Agni
mengantar Angel. Dia ingin di antar oleh kami dengan alasan nanti pulang akan
di jemput adik istriku. Haha... dasar anak kecil, tau saja yang masih muda dan
tampan. Aku begitu bahagia melihat keceriaan dan kesemangatan Angel yang
melebihi biasanya. Dari mulai bangun pagi-pagi sekali dengan seragam yang sudah
melekat, mungkin di mandikan pengasuhnya. Membantu Agni memasak dan sarapan
dengan begitu lahapnya.
Aku begitu bahagia melihat itu, Malaikat kecilku benar-benar
bahagia dengan keberadaan Agni.
“Rio...”
“hn”
Aku memalingkan wajahku dari surat kabar pada Agni, dia
terlihat mendengus kesal tapi kemudian duduk di sampingku. Hey, aku salah apa? Kenapa
dia begitu muram?
“Rio... Angel meminta...”
“minta? Minta apa? Apa kamu
berikan?”
“Rio!”
Dia menyebut namaku dengan kesal dengan kepalan tangan yang
mengenai lenganku.
“kenapa? Memang benarkan aku
bertanya seperti itu?”
“bisakah kamu biarkan aku
menyelesaikan ucapanku? Tuan Mario...”
Aku tersenyum geli mendengar nada kesalnya, dia kini menjauh
dariku dengan tangan yang ia lipat di dada. Hhh... wanita itu selain keras
kepala ternyata childish juga ya? merepotkan
dan membingungkan!
Aku mendekatinya, memegang kedua pipinya agar menghadap ke
arahku.
“Angel meminta apa padamu?”
Dia terlihat menghela nafas dan menundukan pandangannya,
kenapa dia seperti sulit sekali mengeluarkan kata-kata? Apa dia tidak bisa
menuruti permintaan Angel?
“Angel... meminta adik”
Hah?! Secepat itu? Ya Tuhan... aku benar-benar tidak habis
pikir ternyata putriku juga meminta aku dan Agni segera memiliki anak. Pikiranku
semakin buntu, aku semakin bingung dengan apa yang harus aku lakukan. Aku belum
siap dan aku rasa tidak akan siap.
“sudahlah tidak udah di
pikirkan...”
Agni tersenyum begitu cantik padaku, dia menyandarkan
kepalanya di bahuku dengan sesekali mengatur nafasnya. Apa aku menyakitinya
lagi sampai dia begitu sulit mengatur nafas? Maafkan aku Tuhan karena selalu
menyakiti gadis ini. Aku bingung bagaimana cara membahagiakannya. Aku bukan
Fabio yang perasaannya begitu peka dan dapat mengatasi sesuatu hal yang menyangkut
perempuan. Apa mungkin sifatku yang itu di rebut olehnya sampai aku sulit
memahami wanita? Hhh... dia itu benar-benar.... argh...
“apa kamu sudah siap menceritakan
Agneta? Rio...”
Hhh... aku rasa iya, untuk kesekian kalinya aku mengehela
nafas panjang. Aku benar-benar ragu menceritakannya, segala ketakutan muncul di
benakku. Bantulah aku Tuhan...
“Agneta adalah salah satu staf di
kantorku, pertama kali aku berjumpa dengannya saat tak sengaja menabraknya di
kantin kantor. Dari pancaran matanya, dia benar-benar gadis istimewa yang
berbeda dari gadis-gadis lain di kantorku. Dia begitu sederhana, make up nya pun tidak pernah tebal,
sangat tipis tapi elegan”
Aku merasakan dia menggenggam tanganku begitu erat, aku
menatapnya sejenak. Apa aku berlebihan menceritakan kelebihan Agneta? Hhh...
sebaiknya aku menghargai persaannya dengan tidak menceritakan lebih detail.
“hingga Fabio muncul dan
mengacaukan segalanya, aku yang dingin dan datar jelas akan di kalahkan olehnya
yang ramah, santun dan begitu lembut. Pada awalnya Agneta tidak menyadari bahwa
selama ini yang selalu menemaninya bukan aku, sampai suatu saat dia bertanya
dan aku menjelaskan semuanya padanya. Dia jujur sangat mencintai sosok diriku
yang lain, dia suka lelaki yang penuh kasih sayang. Akhirnya kamipun menikah
tentu saja bukan jiwa sebagai Mario, tapi Fabio. Mama pada awalnya tidak
menyetujui pernikahan itu karena dia takut yang menikahi Agneta itu aku, Mama
benar-benar over protektif padaku. Dia tidak mau aku menikah dengan wanita yang
rapuh dan penggila harta seperti Agneta. Dia lebih rapuh darimu Agni... dia
benar-benar rapuh, bahkan sangat rapuh buat ukuran tulang punggung keluarga. Kalau
mengenai yang penggila harta itu, aku tidak tau bagaimana Mama dapat
mendeskripsikan seperti itu sampai pada akhirnya aku tau bahwa ada yang
menghasud Mama hingga dia membenci Agneta apalagi sejak Agneta memutuskan untuk
tidak bekerja lagi, itu cukup menguatkan pikiran Mama. itu aku ketahui setelah
satu tahun Agneta meninggal”
Aku merengkuh Agni dalam pelukanku, dia masih menyandarkan
kepalanya padaku. Dia terlihat datar, apa sebenarnya yang dia pikirkan? Apa aku
menyinggungnya?
“Agni... kamu baik-baik saja?”
Dia tersenyum tipis kemudian mengangguk pelan tanpa suara.
Aku rasa aku harus menuntaskan cerita ini.
“pernikahannya sepertinya
benar-benar bahagia, aku hanya bisa merasakannya dari hatiku yang memang satu
dengan Fabio. Dia benar-benar menyayangi Agneta... dan saat itulah aku
terpuruk, aku benar-benar bodoh dengan menyerah padanya. Aku hanya bisa
menguasai tubuhku saat aku akan berangkat ke kantor dan pulang dari kantor,
setalah di rumah dan berdekatan dengan Agneta aku akan segera menghilang
kembali”
Aku mengusap wajahku yang terasa berkeringat, ruangan
berpendingin ini tak cukup mendinginkan suasana hatiku yang benar-benar panas. Aku
merasakan hatiku sakit kembali ketika membuka puing-puing di masa lalu.
“di tahun yang sama Agneta
mengandung, anak Fabio...”
Apa mungkin anakku juga? Karena fabio dan Mario itu satu
tubuh.
“sembilan bulan berlalu tanpa
terasa, malam itu... Agneta mulai merasakan perutnya sakit karena kontraksi. Dari
sana Fabio panik, tapi aku tidak ada niat menggantikannya menyetir. Aku saat
itu berpikir buat apa repot-repot menggantikannya sementara dia tidak pernah
memberikan aku peluang untuk bahagia dengan Agneta. Sampai...”
Oh God... Agneta... datanglah sekarang... aku benar-benar
tidak sanggup mengatakannya.
“Rio...”
“Neta...”
“aku Agni”
“Ni... maaf”
Dia terlihat mengangguk, ada gurat kekecewaan di matanya. Meskipun
dia tersenyum padaku tapi itu tidak cukup untuk menutupi kekecewaanya. Maafkan aku
Agni...
“apa kamu masih sanggup mendengarkannya
Agni?”
“tentu... aku ingin tau semuanya”
Lagi-lagi dia tersenyum sambil mengelus dadaku lembut. Mungkin
mencoba menenangkanku. Apa dia merasakan detakan jantungku yang kencang? Aku memang
tidak bisa menahan gejolak kekecewaan dan kemarahanku pada Fabio.
“si bodoh itu hilang kendali,
saat menyalip mobil di depannya ternyata dari arah berlawanan ada sebuah mobil
lain, dia menghindar. Tapi naas, itu malah menyebabkan kecelakaan. Aku sangat
mengingat itu Agni. Saat dia panik dan ketakutan kesadaranku akan bangkit, tapi
egoku benar-benar mengalahkan segalanya sampai tidak mau mengambil alih diriku
sendiri. Aku benar-benar merasa kecewa pada diriku sendiri”
“itu bukan salahmu Rio... itu
kecelakaan”
Aku menatap Agni yang akhirnya menanggapi ocehanku, awalnya
aku tidak yakin dia mendengarkanku. Tapi setelah mendengar penuturannya
ternyata dia seoang pendengar yang baik.
“aku tau... hari berikutnya aku
terbangun dengan Mario, tanpa merasakan keberadaan Fabio dalam tubuhku. Saat itu
juga aku tersadar, mengingat Agneta. Bagaimana keadaanya? Apakah dia selamat? Apa
anak yang di kandungnya baik-baik saja. Memikirkan itu kepalaku hampir pecah
karena luka yang ada cukup parah di kepalaku”
Agni mengelus bekas jahitan kecil di antara rambutku,
mengelusnya begitu lembut. Aku memejamkan mataku untuk meresapi sentuhan itu. Tapi
aku merasa percuma karena rasanya tetap sama, begitu hambar.
“tanpa mempedulikan teriakan
perawat aku berlari membabi buta mencari keberadaan Agneta yang ternyata baru
selesai di oprasi. Mama berkata kalau anaknya perempuan, namun yang baru aku
sadari ketidak bahagiaan Mama. Setelah itu aku berusaha meyakinkan Mama kalau
anak itu tetap anak kandungku, karena bagaimanapun aku dan Fabio itu satu. Lama
aku berdebat dengan Mama seorang dokter
memanggilku, karena Agneta ingin bertemu denganku. Aku menatapnya dengan
khawatir, berusaha menghibur Agneta dengan berusaha menjadi seorang Fabio. Tapi
ternyata gagal, Agneta tau kalau aku Mario, bukan Fabio”
Aku menghentikan ucapanku di sana, karena aku rasa itu
ending dari semuanya. Tidak ada lagi ending yang menjadi senang bagi kami.
“lalu, bagaimana Agneta
selanjutnya Rio? kenapa kamu menghentikan ceritamu begitu menggantung? Aku masih
bingung”
Aku membuka mataku, terkekeh pelan melihat ekspresi
cemberutnya yang menurutku mirip sekali dengan Angel. Tunggu! Mirip? Ahh...
tentu saja mirip, bukannya Agni dan Agneta itu memang mirip dan seperti orang
yang sama?
Aku mengelus rambutnya pelan, kemudian membenamkan kepalaku
di lekukan lehernya di antara juntaian rambut indahnya itu.
“dia meninggal bersama dengan
Fabio yang menghilang. Dia menitipkan Angel padaku dan dia memintaku agar
membahagiakannya”
“begitu saja?”
Aku mengangkat wajahku dan menatapnya dengan pandangan aneh.
Apa maksudnya? Dia belum puas juga dengan ceritaku? Ya Tuhan... wanita ini
benar-benar sangat ingin tau rupanya.
“terus mau kamu bagaimana?”
“ya... gimana ya? apa dia seding
datang dalam mimpimu untuk menyampaikan pesan? Atau apalah itu, mendatangimu
mungkin”
Aku tersenyum masam, sepanjang lima tahun ini dia selalu
datang dalam mimpiku.
“apa kamu tidak bertanya kenapa
bodyguard Angel cuma satu?”
Dia nampak berpikir kemudian berdecak.
“ahh iya, kenapa cuma satu? Padahal
dia putri kesayanganmu”
Dasar! Heuh kenapa dia telat sekali memikirkan hal itu?
“dulu bodyguard untuk menjaga
Agneta itu empat. Seharusnya bisa menjaga mereka, setelah aku tau dari
kepolisian bahwa ternyata kabel rem mobil yang di kendarai mereka putus, ada
yang sengaja mengguntingnya. Padahal tidak masuk akal sekali mengingat bodyguard
sebegitu banyaknya. Aku mencurigai orang dalam, tapi aku tidak peduli dan
memecat mereka semua, sampai aku bertemu Irshad yang notabennya sahabat lamaku
saat SMA, dia jago dalam segala jenis beladiri dan paling penting tau latar
belakang keluarganya. Jadilah aku mempercayakan Angel pada Irshad”
“kenapa kamu repot-repot
menceritakannya di luar yang tadi sih? Padahalkan bisa di selipin di kata-kata
kamu tadi. Tidak perlu menunggu aku harus bertanya”
Aku memutar bola mataku kesal, jangan salahkan aku kalau aku
mengeluarkan kata-kata tajam.
“aku hanya ingin tau, sejauh mana
kamu perhatian dengan Angel, tapi ternyata...”
Setelah berkata itu aku beranjak pergi meninggalkan Agni,
ternyata salah pikiranku tentang kedekatan mereka berdua. Karena hal sekecil
itupun tidak di pedulikan oleh Agni. Aku benar-benar kecewa pada wanita itu,
sebenarnya apa yang ada dalam otaknya? Aku kira dia benar-benar sayang pada Angel.
“Mario... tidak seharusnya kamu
berkata setajam itu padanya...”
“Neta... aku kecewa”
Aku mendekatinya yang terlihat menghadap jendela, aku
berdiri di hadapannya untuk menatap wajah pucat itu.
“untuk seorang gadis yang baru
merasakan yang namanya pernikahan wajar saja jika dia belum faham dengan
pernikahan, apalagi dengan adanya Angel. Meskipun dia menyayangi Angel, bukan
berarti dia akan tau segalanya akan bertanya segalanya. Aku melihat Mario yang
tenang hilang saat menghadapi gadis itu”
Aku termenung, apa iya?
“katakanlah kamu mencintainya Mario...
kamu harus mencintainya karena dirimu sendiri, bukan karena Angel”
“tapi aku tidak...”
“belum Mario, bukan tidak. Suatu saat
kamu akan mencintainya dan tak ingin kehilangannya, jangan takut aku akan
meninggalkanmu dengan kamu mencintai gadis lain. Aku akan tetap ada disini”
Dia menunjuk tepat di jantungku dengan telapak tangannya.
“di setiap denyutan dan detakan
jantungku, di setiap aliran dan hembusan nafasku”
Lanjutku melengkapi ucapannya yang terasa mengganjal bagiku.
Dia tersenyum lalu menutup mataku, dan seketika itu dia menghilang lagi dari
hadapanku.
Aku harus mencintai Agni? Mencintai Agni untuk diriku
sendiri?
***
Bersambung...
No comments:
Post a Comment