Friday, 17 May 2013

Between Love and Obsession Part 6


“Ukiran Masa Lalu”
Bab 6

Aku menyimpan album foto yang di pegangi Agni, aku duduk di sampingnya. Aku mengelus puncak kepalanya, dia mendongak ke arahku, menatap meminta penjelasan.

“jangan kaget mendegar semuanya, dan berjanjilah kamu tidak akan meninggalkanku setelah tau semuanya”

Agni terlihat mengangguk ragu. Tuhan... apa dia menyesal telah menikah denganku? Kenapa dia terlihat berbeda sekali? Aku rasa dia benar-benar kecewa padaku, dan yang aku takutkan cuma satu, aku takut dia akan meninggalkan aku dan Angel. Itu saja!

Aku merasakan sapuan lembut di wajahku, ternyata Agni membelai wajahku dengan tangannya. Dia terlihat berusaha menenangkanku, aku memang gugup, bahkan sangat gugup melebihi saat membuat ikrar suci dengannya.

“aku mau kamu menceritakan dari Fabio, siapa dia?”

Hhh... kenapa semuanya jadi di luar rencana? Aku sebenarnya hanya ingin menceritakan tentang Agneta, bukan Fabio! Jika mengingatnya aku selalu merasa kesal dan sangat bodoh, bagaimana mungkin aku bisa di kalahkan jiwa lemahku?

“di mulai saat Mario kecil, aku dari dulu memang sudah keras kepala, saking kerasnya aku tidak pernah plin-plan dalam memilih apapun, aku tumbuh menjadi semakin keras karena pendidikan dari orang tuaku yang selalu mengajarkanku untuk teguh pendirian. Untuk ukuran anak tujuh tahun aku sudah membuat Mama dan Papa bangga karena aku berwatak sekeras yang mereka mau”

Aku melihat Agni yang memandangiku begitu intens, dari pancaran matanya masih menyiratkan keingin tahuannya.

“sampai pada suatu saat aku merasakan ada sesuatu pada diriku yang aneh. Berawal dari Mama yang memarahiku karena ke plin-plananku, padahal jelas sekali aku tidak pernah plin-plan dalam memutuskan sesuatu. Beberapa kejadian lainnya saat aku ke sekolah dan banyak sekali teman wanita yang mendekatiku padahal dari dulu mereka takut padaku. Mereka menjawabnya ‘kemarin-kemarin kamu baik, kenapa sekarang begini lagi?’ jujur waktu itu aku bingung”

Agni mengelus-elus dadaku tepat di atas jantungku, aku merasa nafasku mulai tidak teratur dan jantungku berdetak lebih cepat karena menahan emosi.

“suatu saat aku iseng berbicara dengan diriku sendiri melalui cermin, dan betapa terkejutnya aku melihat pantulan diriku yang merespon ucapanku. Dia bilang, selama ini dia yang melakukannya. Dan dia menyebut dirinya dengan sebutan Fabio. Sisi baik dan lembut dari diriku”

Hhh... luka yang selama ini aku pendam kembali menyeruak. Apa aku sanggup untuk menceritakannya? Ohh Tuhan... bantulah aku... aku menatap Agni yang terlihat agak terkejut. Entah kenapa, aku tidak mengerti.

“hingga suatu hari Mama mendapati ku sedang berbicara dengannya di cermin dan dia tau kalau puteranya memiliki ‘jiwa’ ganda... dari situ Mama selalu berhati-hati, dia selalu bertanya padaku saat aku akan bekerja, atau apapun aktivitasku di luar, apakah aku Mario atau Fabio? dia sangat membenci Fabio karena ketidak teguhannya. Menurut Mama itu tidak akan baik untuk memimpin sebuah perusahaan yang besar, dia akan kalah telak jika di rayu sekecil apapun”

Semoga aku tidak menyakitimu Agni karena menceritakan ini. sebenarnya aku sudah tidak sanggup bercerita, dan aku melihat Agni juga mulai menyiratkan ekspresi yang sangat aneh.

“Mama takut kewibawaanku hilang begitu saja saat Fabio muncul, kewibawaan yang selama ini aku bangun dengan susah payah”

Agni terlihat mengerutkan keningnya, dia terlihat menghentikan mengelus dadaku. Dia terlihat menerawang entah kemana. Ya Tuhan... benarkah apa yang ku takutkan akan terjadi?
Aku mengangkat wajahnya agar menghadapku, kedua pipinya aku rengkuh kemudian aku menyapukan bibirku tepat di atas bibirnya lama.

“apa kamu akan meninggalkan aku dan Angel?”

Aku bertanya setelah melepaskan pagutanku padanya, dia menatapku nanar. Matanya mulai berkaca-kaca. Hey, kenapa dia?
Dia memukul pelan dadaku.

“jahat sekali kamu, aku sangat menyayangi Angel. Buat apa aku akan meninggalkannya cuma karena hal seperti ini?”

Aku tersenyum lega, syukurlah... aku benar-benar takut melihat Angel bersedih karena di tinggalkan Agni. Aku juga akan sangat kehilangan keceriaan Angel kalau Agni benar-benar meninggalkannya.

“kita tidur, ini sudah malam”

Agni terlihat merengut kecewa, dia masih diam di tempatnya tak berniat beranjak.
Hhh... apa semua wanita sekeras kepala ini? kalau iya, aku memilih untuk tidak menikah sekalian.
Aku berlutut di hadapan Agni, meraih kedua tangannya dan mengecupnya lembut.

“istirahatlah dulu, aku harap kamu pikir-pikir dulu untuk mendengarkan cerita tentang Neta, persiapkanlah dulu”

Aku berusaha meyakinkannya untuk segera beranjak dari ruanganku ini, aku ingin dia benar-benar siap terlebih dahulu. Aku tidak mau keingin tauannya akan menyebabkan keinginannya untuk segera meninggalkanku. Hhh... aku sebenarnya tidak yakin apakah aku benar-benar takut kehilangan dia, aku memang menyukainya karena sifat keibuannya, tapi aku belum merasakan apa yang di namakan cinta untuknya.

“aku kira bukan aku yang tidak siap mendengarkan Rio... yang belum siap itu kamu, belum siap menceritakannya”

Benarkah? Apakah benar yang dia katakan?

“aku akan tidur sekarang, jangan terlalu malam tidurnya... night”

Dia mengecup keningku yang masih berlutut di hadapannya, sampai istriku itu menghilang. Hhh... apakah aku pantas menyebutkan dia istriku? Padahal aku belum ‘mempatenkan’ nya. Mengingat hal itu pikiranku menjadi kacau kembali. Apa aku bisa melakukannya? Apalagi jika mengingat desakan Mama. Sampai sekarang aku belum bisa melakukannya, aku terlalu jengah dengan perempuan. Aku ingin mencari kenyamanan terlebih dahulu dalam diri Agni. Entahlah... aku bingung.

Aku duduk di sofa itu dengan mata terpejam, aku sangat lelah dengan pikiran-pikiranku. Kalau ada pilihan untuk mengurus perusahaan yang sedang bangkrut dan memikirkan hal ini aku akan memilih perusahaan yang bangkrut itu. Akan lebih mudah di selesaikan daripada hal sesulit ini, bukan sulit tapi benar-benar seperti jalan buntu yang tak ada jalan keluarnya.

“segala sesuatu akan ada jalannya Mario...”

Suara lembut itu menyadarkan aku, aku membuka mataku dan kemudian merasakan belaian lembut dari tangan dingin wanita di hadapanku ini. aku sungguh merindukan belaiannya sekarang.

“Neta...”
“hm...”
“sejak kapan kamu suka bergumam seperti itu?”

Dia tertawa kecil, lesung pipinya terlihat jelas. Andai aku bisa menyentuhnya, aku tak akan pernah melepaskannya dariku.

“aku mengikuti istrimu... dia cantik, dan sangat lucu, selalu bisa membuatmu salah tingkah karena tingkah lakunya, aku senang melihatmu  begitu Mario...”
“panggil aku Rio, Neta!”

Dia menatapku dengan lembut, aku mengangkat tanganku untuk menyentuh bibir pucatnya. Tapi seketika itu dia mencegahnya dengan meraih tanganku. Hhh... sampai saat ini aku masih bingung kenapa dia melarangku untuk menyentuhnya.

“iya iya Rio... bagaimana malam pertamamu? Haha... aku yakin kamu tidak melakukan apapun pada istrimu”

Aku mendengus, kemudian melirik tajam padanya.

“itu karenamu juga”

Dia menghela nafas panjang, merengkuh kedua pipiku dan menatapku lembut.

“kalau begitu aku akan pergi”
“jangan...”
“Rio... bisakah kamu melupakanku? Lihat dia, dia sangat cantik, dia baik melebihi aku... buka matamu Rio...”
“tapi kamu terbaik untukku”

Dia tertawa ringan, dia menepuk dadaku pelan. Kemudian menatapku dengan lembut.

“dunia kita berbeda Rio... jadikanlah wanita itu sebagai dirinya, jangan sebagai aku. Jadikanlah dia sempurna jangan jadikan sebagai penggantiku, Angel akan bahagia mungkin akan sangat bahagia bila secepatnya kamu memberikan adik untuknya...”
“tapi Neta... bagaimana mungkin aku melakukannya? Bagaimana caranya? Aku...”

Aku berhenti berkata setelah dia menutup mataku dengan kedua tangannya, aku diam. Aku merasakan dia merasakan dia mendekatkan dirinya padaku, semakin dekat.

“cintailah dia... sepenuh hatimu...”

Dia mengecup pipiku pelan, setelah itu aku rasakan dia telah pergi lagi. Aku membuka mataku kembali, apa aku harus melakukan apa yang di katakan Agneta? Aku benar-benar bingung, aku benar-benar merasa buntu sekarang. Tuhan... berilah jalan terbaik untukku.

***

Aku merasakan kecupan hangat di pipiku, begitu aku membuka mata di sambutlah aku dengan senyuman manis dari Agni. Aku membalas kecupannya kemudian memeluknya semakin erat.

“semalam kamu tidur jam berapa?”
“sekitar... ya... tengah malam”

Dia tersenyum lalu mengelus-elus pipiku. Aku merasa semenjak menikah dia begitu agresif padaku, aku tidak tau kenapa dan apa yang menyebabkannya seperti itu. Apa semua wanita yang telah menikah selalu begini? Atau hanya istriku yang seperti ini? aku tidak pernah merasakan indahnya bangun pagi bersama Agneta. Fabio selalu mencuri kesempatan itu dariku, dia begitu terobsesi dengan Agneta hingga aku tidak pernah di beri kesempatan menikmati hari-hari indahku bersamanya.

“jaga kesehatanmu Rio... aku bukan dokter yang ahli merawat jika kamu sakit”

Aku mengecup hidungnya dengan gemas. Kenapa dia begitu perhatian padaku? Padahal aku rasa aku tidak pernah memperhatikannya? Apa selama ini aku sudah keterlaluan tidak memberinya perhatian? Tapi jujur saja, aku memang belum merasakan sesuatu selain rasa suka dan juga debaran-debaran jantungku yang aneh.
Untuk kedua kalinya aku merasakan debaran jantungku se aneh ini. pertama pada Agneta dan kedua pada Agni. Tapi rasanya benar-benar berbeda, dulu aku merasakannya tanpa bisa aku redam kembali dan saat tidak bisa meredam itulah Fabio menggantikan posisiku, sedangkan kali ini aku bisa mengendalikannya. Kenapa tidak dari dulu saja? Mungkin aku tidak akan pernah terlewatkan olehnya.

“Rio... Rio... pagi-pagi udah ngelamun”
“ehh... apa?”
“ini... bisa kamu lepasin? Angel udah manggil tuh”

Astaga! Aku lupa kalau sedang memeluk Agni. Aku segera melepaskannya dan mengalihkan pandanganku ke arah lain, aku akut dia menyadari sesuatu dariku.

***

Pagi ini  aku dan Agni mengantar Angel. Dia ingin di antar oleh kami dengan alasan nanti pulang akan di jemput adik istriku. Haha... dasar anak kecil, tau saja yang masih muda dan tampan. Aku begitu bahagia melihat keceriaan dan kesemangatan Angel yang melebihi biasanya. Dari mulai bangun pagi-pagi sekali dengan seragam yang sudah melekat, mungkin di mandikan pengasuhnya. Membantu Agni memasak dan sarapan dengan begitu lahapnya.
Aku begitu bahagia melihat itu, Malaikat kecilku benar-benar bahagia dengan keberadaan Agni.

“Rio...”
hn

Aku memalingkan wajahku dari surat kabar pada Agni, dia terlihat mendengus kesal tapi kemudian duduk di sampingku. Hey, aku salah apa? Kenapa dia begitu muram?

“Rio... Angel meminta...”
“minta? Minta apa? Apa kamu berikan?”
“Rio!”

Dia menyebut namaku dengan kesal dengan kepalan tangan yang mengenai lenganku.

“kenapa? Memang benarkan aku bertanya seperti itu?”
“bisakah kamu biarkan aku menyelesaikan ucapanku? Tuan Mario...”

Aku tersenyum geli mendengar nada kesalnya, dia kini menjauh dariku dengan tangan yang ia lipat di dada. Hhh... wanita itu selain keras kepala ternyata childish juga ya? merepotkan dan membingungkan!
Aku mendekatinya, memegang kedua pipinya agar menghadap ke arahku.

“Angel meminta apa padamu?”

Dia terlihat menghela nafas dan menundukan pandangannya, kenapa dia seperti sulit sekali mengeluarkan kata-kata? Apa dia tidak bisa menuruti permintaan Angel?

“Angel... meminta adik”

Hah?! Secepat itu? Ya Tuhan... aku benar-benar tidak habis pikir ternyata putriku juga meminta aku dan Agni segera memiliki anak. Pikiranku semakin buntu, aku semakin bingung dengan apa yang harus aku lakukan. Aku belum siap dan aku rasa tidak akan siap.

“sudahlah tidak udah di pikirkan...”

Agni tersenyum begitu cantik padaku, dia menyandarkan kepalanya di bahuku dengan sesekali mengatur nafasnya. Apa aku menyakitinya lagi sampai dia begitu sulit mengatur nafas? Maafkan aku Tuhan karena selalu menyakiti gadis ini. Aku bingung bagaimana cara membahagiakannya. Aku bukan Fabio yang perasaannya begitu peka dan dapat mengatasi sesuatu hal yang menyangkut perempuan. Apa mungkin sifatku yang itu di rebut olehnya sampai aku sulit memahami wanita? Hhh... dia itu benar-benar.... argh...

“apa kamu sudah siap menceritakan Agneta? Rio...”

Hhh... aku rasa iya, untuk kesekian kalinya aku mengehela nafas panjang. Aku benar-benar ragu menceritakannya, segala ketakutan muncul di benakku. Bantulah aku Tuhan...

“Agneta adalah salah satu staf di kantorku, pertama kali aku berjumpa dengannya saat tak sengaja menabraknya di kantin kantor. Dari pancaran matanya, dia benar-benar gadis istimewa yang berbeda dari gadis-gadis lain di kantorku. Dia begitu sederhana, make up nya pun tidak pernah tebal, sangat tipis tapi elegan”

Aku merasakan dia menggenggam tanganku begitu erat, aku menatapnya sejenak. Apa aku berlebihan menceritakan kelebihan Agneta? Hhh... sebaiknya aku menghargai persaannya dengan tidak menceritakan lebih detail.

“hingga Fabio muncul dan mengacaukan segalanya, aku yang dingin dan datar jelas akan di kalahkan olehnya yang ramah, santun dan begitu lembut. Pada awalnya Agneta tidak menyadari bahwa selama ini yang selalu menemaninya bukan aku, sampai suatu saat dia bertanya dan aku menjelaskan semuanya padanya. Dia jujur sangat mencintai sosok diriku yang lain, dia suka lelaki yang penuh kasih sayang. Akhirnya kamipun menikah tentu saja bukan jiwa sebagai Mario, tapi Fabio. Mama pada awalnya tidak menyetujui pernikahan itu karena dia takut yang menikahi Agneta itu aku, Mama benar-benar over protektif padaku. Dia tidak mau aku menikah dengan wanita yang rapuh dan penggila harta seperti Agneta. Dia lebih rapuh darimu Agni... dia benar-benar rapuh, bahkan sangat rapuh buat ukuran tulang punggung keluarga. Kalau mengenai yang penggila harta itu, aku tidak tau bagaimana Mama dapat mendeskripsikan seperti itu sampai pada akhirnya aku tau bahwa ada yang menghasud Mama hingga dia membenci Agneta apalagi sejak Agneta memutuskan untuk tidak bekerja lagi, itu cukup menguatkan pikiran Mama. itu aku ketahui setelah satu tahun Agneta meninggal”

Aku merengkuh Agni dalam pelukanku, dia masih menyandarkan kepalanya padaku. Dia terlihat datar, apa sebenarnya yang dia pikirkan? Apa aku menyinggungnya?

“Agni... kamu baik-baik saja?”

Dia tersenyum tipis kemudian mengangguk pelan tanpa suara.
Aku rasa aku harus menuntaskan cerita ini.

“pernikahannya sepertinya benar-benar bahagia, aku hanya bisa merasakannya dari hatiku yang memang satu dengan Fabio. Dia benar-benar menyayangi Agneta... dan saat itulah aku terpuruk, aku benar-benar bodoh dengan menyerah padanya. Aku hanya bisa menguasai tubuhku saat aku akan berangkat ke kantor dan pulang dari kantor, setalah di rumah dan berdekatan dengan Agneta aku akan segera menghilang kembali”

Aku mengusap wajahku yang terasa berkeringat, ruangan berpendingin ini tak cukup mendinginkan suasana hatiku yang benar-benar panas. Aku merasakan hatiku sakit kembali ketika membuka puing-puing di masa lalu.

“di tahun yang sama Agneta mengandung, anak Fabio...”

Apa mungkin anakku juga? Karena fabio dan Mario itu satu tubuh.

“sembilan bulan berlalu tanpa terasa, malam itu... Agneta mulai merasakan perutnya sakit karena kontraksi. Dari sana Fabio panik, tapi aku tidak ada niat menggantikannya menyetir. Aku saat itu berpikir buat apa repot-repot menggantikannya sementara dia tidak pernah memberikan aku peluang untuk bahagia dengan Agneta. Sampai...”

Oh God... Agneta... datanglah sekarang... aku benar-benar tidak sanggup mengatakannya.

“Rio...”
“Neta...”
“aku Agni”
“Ni... maaf”

Dia terlihat mengangguk, ada gurat kekecewaan di matanya. Meskipun dia tersenyum padaku tapi itu tidak cukup untuk menutupi kekecewaanya. Maafkan aku Agni...

“apa kamu masih sanggup mendengarkannya Agni?”
“tentu... aku ingin tau semuanya”

Lagi-lagi dia tersenyum sambil mengelus dadaku lembut. Mungkin mencoba menenangkanku. Apa dia merasakan detakan jantungku yang kencang? Aku memang tidak bisa menahan gejolak kekecewaan dan kemarahanku pada Fabio.

“si bodoh itu hilang kendali, saat menyalip mobil di depannya ternyata dari arah berlawanan ada sebuah mobil lain, dia menghindar. Tapi naas, itu malah menyebabkan kecelakaan. Aku sangat mengingat itu Agni. Saat dia panik dan ketakutan kesadaranku akan bangkit, tapi egoku benar-benar mengalahkan segalanya sampai tidak mau mengambil alih diriku sendiri. Aku benar-benar merasa kecewa pada diriku sendiri”
“itu bukan salahmu Rio... itu kecelakaan”

Aku menatap Agni yang akhirnya menanggapi ocehanku, awalnya aku tidak yakin dia mendengarkanku. Tapi setelah mendengar penuturannya ternyata dia seoang pendengar yang baik.

“aku tau... hari berikutnya aku terbangun dengan Mario, tanpa merasakan keberadaan Fabio dalam tubuhku. Saat itu juga aku tersadar, mengingat Agneta. Bagaimana keadaanya? Apakah dia selamat? Apa anak yang di kandungnya baik-baik saja. Memikirkan itu kepalaku hampir pecah karena luka yang ada cukup parah di kepalaku”

Agni mengelus bekas jahitan kecil di antara rambutku, mengelusnya begitu lembut. Aku memejamkan mataku untuk meresapi sentuhan itu. Tapi aku merasa percuma karena rasanya tetap sama, begitu hambar.

“tanpa mempedulikan teriakan perawat aku berlari membabi buta mencari keberadaan Agneta yang ternyata baru selesai di oprasi. Mama berkata kalau anaknya perempuan, namun yang baru aku sadari ketidak bahagiaan Mama. Setelah itu aku berusaha meyakinkan Mama kalau anak itu tetap anak kandungku, karena bagaimanapun aku dan Fabio itu satu. Lama  aku berdebat dengan Mama seorang dokter memanggilku, karena Agneta ingin bertemu denganku. Aku menatapnya dengan khawatir, berusaha menghibur Agneta dengan berusaha menjadi seorang Fabio. Tapi ternyata gagal, Agneta tau kalau aku Mario, bukan Fabio”

Aku menghentikan ucapanku di sana, karena aku rasa itu ending dari semuanya. Tidak ada lagi ending yang menjadi senang bagi kami.

“lalu, bagaimana Agneta selanjutnya Rio? kenapa kamu menghentikan ceritamu begitu menggantung? Aku masih bingung”

Aku membuka mataku, terkekeh pelan melihat ekspresi cemberutnya yang menurutku mirip sekali dengan Angel. Tunggu! Mirip? Ahh... tentu saja mirip, bukannya Agni dan Agneta itu memang mirip dan seperti orang yang sama?
Aku mengelus rambutnya pelan, kemudian membenamkan kepalaku di lekukan lehernya di antara juntaian rambut indahnya itu.

“dia meninggal bersama dengan Fabio yang menghilang. Dia menitipkan Angel padaku dan dia memintaku agar membahagiakannya”
“begitu saja?”

Aku mengangkat wajahku dan menatapnya dengan pandangan aneh. Apa maksudnya? Dia belum puas juga dengan ceritaku? Ya Tuhan... wanita ini benar-benar sangat ingin tau rupanya.

“terus mau kamu bagaimana?”
“ya... gimana ya? apa dia seding datang dalam mimpimu untuk menyampaikan pesan? Atau apalah itu, mendatangimu mungkin”

Aku tersenyum masam, sepanjang lima tahun ini dia selalu datang dalam mimpiku.

“apa kamu tidak bertanya kenapa bodyguard Angel cuma satu?”

Dia nampak berpikir kemudian berdecak.

“ahh iya, kenapa cuma satu? Padahal dia putri kesayanganmu”

Dasar! Heuh kenapa dia telat sekali memikirkan hal itu?

“dulu bodyguard untuk menjaga Agneta itu empat. Seharusnya bisa menjaga mereka, setelah aku tau dari kepolisian bahwa ternyata kabel rem mobil yang di kendarai mereka putus, ada yang sengaja mengguntingnya. Padahal tidak masuk akal sekali mengingat bodyguard sebegitu banyaknya. Aku mencurigai orang dalam, tapi aku tidak peduli dan memecat mereka semua, sampai aku bertemu Irshad yang notabennya sahabat lamaku saat SMA, dia jago dalam segala jenis beladiri dan paling penting tau latar belakang keluarganya. Jadilah aku mempercayakan Angel pada Irshad”
“kenapa kamu repot-repot menceritakannya di luar yang tadi sih? Padahalkan bisa di selipin di kata-kata kamu tadi. Tidak perlu menunggu aku harus bertanya”

Aku memutar bola mataku kesal, jangan salahkan aku kalau aku mengeluarkan kata-kata tajam.

“aku hanya ingin tau, sejauh mana kamu perhatian dengan Angel, tapi ternyata...”

Setelah berkata itu aku beranjak pergi meninggalkan Agni, ternyata salah pikiranku tentang kedekatan mereka berdua. Karena hal sekecil itupun tidak di pedulikan oleh Agni. Aku benar-benar kecewa pada wanita itu, sebenarnya apa yang ada dalam otaknya? Aku kira dia benar-benar sayang pada Angel.

“Mario... tidak seharusnya kamu berkata setajam itu padanya...”
“Neta... aku kecewa”

Aku mendekatinya yang terlihat menghadap jendela, aku berdiri di hadapannya untuk menatap wajah pucat itu.

“untuk seorang gadis yang baru merasakan yang namanya pernikahan wajar saja jika dia belum faham dengan pernikahan, apalagi dengan adanya Angel. Meskipun dia menyayangi Angel, bukan berarti dia akan tau segalanya akan bertanya segalanya. Aku melihat Mario yang tenang hilang saat menghadapi gadis itu”

Aku termenung, apa iya?

“katakanlah kamu mencintainya Mario... kamu harus mencintainya karena dirimu sendiri, bukan karena Angel”
“tapi aku tidak...”
“belum Mario, bukan tidak. Suatu saat kamu akan mencintainya dan tak ingin kehilangannya, jangan takut aku akan meninggalkanmu dengan kamu mencintai gadis lain. Aku akan tetap ada disini”

Dia menunjuk tepat di jantungku dengan telapak tangannya.

“di setiap denyutan dan detakan jantungku, di setiap aliran dan hembusan nafasku”
Lanjutku melengkapi ucapannya yang terasa mengganjal bagiku. Dia tersenyum lalu menutup mataku, dan seketika itu dia menghilang lagi dari hadapanku.
Aku harus mencintai Agni? Mencintai Agni untuk diriku sendiri?

***

Bersambung...

No comments:

Post a Comment