“First...”
Bab 5
(Agni POV)
Aku keluar dari kamar mandi bersamaan dengan Rio yang
memasuki kamar, aku lihat dia terpaku melihatku yang mengenakan gaun tidur yang
memang tipis dan minim. Aku sengaja memakainya, apa benar apa yang di katakan
orang tidak jelas itu? Aku mau melihat
reaksi Rio selanjutnya.
“capek?”
Aku berjalan mendekatinya dan membuka jasnya, dia masih diam
memperhatikanku entah terpesona atau apa, yang jelas dengan dia memperhatikanku
seperti ini sudah cukup membuat aku sedikit
lega. Setidaknya ada sepercik harapan bahwa Rio itu normal.
Rio tersenyum kemudian mengelus rambutku, lalu melonggarkan
dasinya.
“capek banget, kamu tidur duluan
saja aku mau mandi dulu”
Aku senang Rio tidak menunjukkan kejanggalan apapun, aku
tidak boleh termakan omongan orang tidak jelas itu, aku tidak mau hubunganku
dan Rio memburuk.
“kenapa melamun begitu?”
Aku tersenyum pada Rio yang mulai membuka kancing-kancing
pakaiannya, ternyata dia mulai perhatian padaku. Sadar semua apa yang aku
lakukan.
“aku cuma merasa bahagia sekali,
mendapatkan suami yang sempurna sepertimu”
***
(Rio POV)
Aku tertegun mendengarkan ucapannya, sempurna? Apa benar aku
sempurna? Aku tidak yakin pada diriku sendiri kalau aku bisa menjadi seorang
suami yang sempurna untuknya. Bagaimana kalau dia tau kalau aku tidak pernah
tertarik pada wanita selain Agneta? Aku tidak pernah menginginkan wanita lain
selain Agneta. Walaupun tidak ku pungkiri kalau ada sedikit rasa aneh dalam
diriku untuknya, seperti rasaku pada Agneta.
Aku mencoba tersenyum padanya, aku bertekad untuk segera
menceritakan Agneta pada Agni secepatnya. Hhh...
“terimakasih... aku juga senang
bisa mencarikan Ibu sesempurna kamu untuk Angel”
Dia tersenyum padaku, begitu cantik. Dia mengalungkan
tangannya di leherku kemudian mengecup pipiku cukup lama. Rasanya? Hambar.
Setelah itu aku membalas kecupan untuk Agni dan segeralah aku masuk ke dalam
kamar mandi.
Aku melihat kepulan asap dari bathtub, aku rasa Agni menyiapkannya untukku. Hhh... dia memang
wanita yang baik, dan betapa tidak beruntungnya dia mendapatkan aku yang banyak
sekali kekurangan. Aku benar-benar tidak pernah bisa membayangkan kalau Agni
mengetahui aku tidak bisa bersentuhan dengan wanita, wanita yang dekat denganku
hanya Mama dan Angel, serta sekertarisku itupun dia sudah menikah. Aku
cenderung jijik pada wanita, yang selain
matrealistis, wanita juga bisa jadi sosok
penggoda yang... eugh... tidak bisa aku membayangkan itu. Aku akan segera
membersihkan organ tubuhku kalau ada yang menyentuhku, itulah alasannya kenapa
dalam saku jasku ada tissu basah.
Tapi entah kenapa dengan Agni aku tidak begitu, mungkin karena dia tidak pernah
memakai pakaian yang di luar batas kewajaran selain gaun tidur tadi. Hhh...
membayangkan gaun tidur itu aku merasa ada yang aneh dalam tubuhku... Tuhan....
tolonglah aku...
***
Aku tersenyum pada Rio saat suamiku itu keluar dari kamar mandi
dengan jubah tidurnya, dia juga nempak tersenyum padaku. Air-air yang terjatuh
dari rambut Rio membuatnya terlihat eksotis,
dia sepertinya tidak ahli dalam mengeringkan rambut.
Aku berjalan ke arahnya lalu meraih handuk kecil dan
mengusapkannya pada rambut Rio, sedikt berjinjit.
“nah... sudah kering, apa kamu
mau itu.... sekarang?”
Dia mengerutkan dahinya. Kenapa kelihatannya dia tidak
mengerti maksudku? Padahal jelas sekali.
“itu apa?”
Aku tidak menjawabnya karena dia juga nampak masih berpikir,
masa iya aku harus menjawabnya dengan gamblang? Enggakkan? Terlalu memalukan.
“aku rasa malam ini kita
istirahat saja, aku benar-benar lelah dan kamu juga terlihat pucat”
Hah?! Apa iya aku pucat? Aku segera melihat pantulan diriku
pada cermin, dan ternyata aku memang pucat. Hhh... sukurlah setidaknya ini
alasan tepat dan Rio tidak bisa di katakan tidak normal.
Aku mengangguk, kemudian beranjak ke atas pembaringan lalu
merebahkan tubuhku di balik selimut dan di ikuti oleh Rio yang duduk bersandar
di sampingku. Kalau boleh, aku benar-benar ingin menggodanya sampai melakukan
hal itu. Bukan untuk memuaskanku atau apa, tapi hanya untuk membuktikan
kenormalan Rio saja. Oke sudahlah jangan pikirkan itu lagi Agni. Aku harus
membuang jauh-jauh pikiran burukku
terhadap Rio.
Aku melirik Rio yang sedang sibuk membuka gadget-nya, apa di malam pertama ini dia
pantas malah mementingkan gadget-nya?
Aku kira tidak. Tadi jelas sekali dia bilang kalau dia capek! Kenapa dia
sekarang malah sibuk dengan benda itu?
Aku merasa kembali ada ruang kosong dalam diriku, aku merasa
nafasku mulai tidak teratur melihat tingkahnya. Jujur saja, aku... kecewa.
“Rio... apa kamu sesibuk itu?”
***
Aku tertegun mendengar suara serak Agni, apa dia menangis?
Aku segera mengalihkan pandanganku padanya, ternyata benar... dia menangis. Ya
Tuhan... kenapa wanita ini sangat cengeng?
Aku segera menyimpan gadget-ku,
aku membuka gadget hanya untuk mengecek siapa tau ada yang Ray tanyakan padaku
atau apalah yang penting, dan ternyata ada kiriman dari Gabriel. Sialannya, dia
mengirimkan data-data tentang percintaan di malam pertama. Dari mulai... ahh
sudahlah tidak penting.
Aku membuka jubah tidurku dan menyisakan celana panjang
saja, kemudian aku tidur di sampingnya. Menariknya kedalam pelukanku,
“kenapa? Kenapa kamu selalu
menangis begini?”
Aku merasa tubuh yang bergetar itu mulai tenang, dia
mendongakkan wajahnya agar menghadap padaku.
“Rio... harusnya kamu sudah tau
ini... aku memang mudah menangis apabila aku kecewa”
Deg!
Kecewa? Jadi sekarang dia kecewa padaku? Kecewa karena apa?
Apa karena aku tidak memberikan ‘malam pertamanya’? salah satu artikel yang di
kirim Gabriel tadi ada yang membahas kalau ‘keinginan’ wanita itu memang
berkali lipat dari laki-laki. Ya Tuhan.... jujur saja aku memang belum siap, alasan
capek hanya untuk kamuflase saja.
“apa pekerjaanmu sangat penting
Rio? Jujur, aku paling tidak suka di abaikan dengan sesuatu yang kurang
penting. Kalaupun pekerjaanmu lebih penting setidaknya untuk malam ini kamu
jangan mementingkannya, kamu sudah cuti dan memberikan kepercayaan pada Ray!
Aku tau kinerja dia, dia cerdas, dia sangat bisa di andalkan! Kamu tidak usah
keseringan mengeceknya! Harusnya kamu sadar, aku juga butuh kamu Rio, walaupun
kamu menganggapku sebagai pengganti Mamanya Angel tapi setidaknya hargailah
aku, hargailah keberadaanku”
Aku menatap wanita di hadapanku ini terus-menerus, tanpa ada
niat meninggalkannya oleh pandanganku dan tanpa ada niat menyela ucapanya. Aku
sangat mengerti kekecewaannya sekarang. Hhh... untunglah hanya gara-gara hal
sekecil itu, yang aku bisa turuti kemauannya.
Aku mendekapnya lagi, semakin merapat pada tubuhku.
“maaf, aku tidak bermaksud
mengabaikanmu. Maaf”
Hhh... apa yang harus ku lakukan lagi? Aku tidak pernah
menghadapi wanita seperti ini.
“tidurlah... aku berjanji tidak
akan mengabaikanmu lagi”
Agni mengangguk dalam dekapanku, aku senang sekali terhadap
responnya. Setidaknya dia bukan wanita yang senang memperpanjang masalah.
Hhh... good night
sayangku...
Aku mengecup puncak kepalanya setelah merasakan nafasnya
mulai teratur.
Aku menarik selimut agar menutupi tubuh kami berdua.
Jujur saja aku kurang nyaman sebenarnya dengan posisi ini,
tapi apa yang harus aku lakukan lagi?
Apalagi saat Agni bergerak menyamankan posisi tidurnya,
kulitnya yang lembut bergesek pada kulitku. Hhh... aku harus segera masuk ke
alam mimpi sepertinya.
***
Aku mulai membuka mataku saat aku merasakan tangan hangat
mengeratkan pelukannya di pinggangku, aku mulai membuka mataku. Seketika itu
juga farfum dari tubuh Rio masuk dalam penciumanku, wangi maskulinnya
benar-benar laki!. Aku menatap wajah Rio yang sangat tampan sejenak, jarang
sekali aku menatap wajahnya yang setenang ini. aku mengelus wajahnya dari dahi
dan berakhir di bibirnya. Aku tersenyum mengingat kejadian saat photo wedding-ku, dia benar-benar jahil,
tapi aku suka.
Aku menepuk dadanya pelan, berharap dia bangun dari tidur
nyenyaknya. Untuk tepukan pertama dia hanya bergumam dan malah semakin
mengeratkan pelukkannya. Hhh... aku menepuk dadanya kembali dengan agak keras.
“Rio... bangun udah siang”
Rio nampak menggeliat namun tidak membuka matanya, dia
melepaskan pelukkannya dan tidur terngkurap ke arah berlawanan denganku. Aku
hanya bisa terkekeh melihatnya, hari pertama dengan dia benar-benar membuatku
senang. Apalagi saat melihat tingkah lucu di pagi harinya, benar-benar
pengalaman baru untukku.
Aku segera beranjak dari tempat tidurku menuju kamar mandi
untuk menyegarkan tubuhku yang terasa begitu lengket dengan keringat. Rio yang
dingin ternyata memiliki suhu tubuh yang tinggi juga, jadilah aku bersimbah
keringat karena suhu tubuhnya.
Taklama setelah itu aku keluar dari kamar mandi dengan
pakaian yang aku bawa tadi sebelum pergi ke kamar mandi, aku melihat Rio yang
masih tengkurap belum merubah posisi tidurnya. Aku tidak akan mencoba
membangunkannya lagi, aku duduk di depan kaca meja rias lalu merapihkan
rambutku. Aku mengambil ikat rambut, sudah lama sekali aku tidak menguncir
rambutku lagi.
“jangan di kuncir”
Suara berat dan serak itu membuat aktivitasku berhenti.
Hhh... kenapa sih? Dari sejak acara resepsi pernikahan Gabriel dan Ify selalu
saja dia melarangku untuk mengangkat rambutku, padahal gerah. Apalagi dengan
rambutku yang panjangnya sampai ke punggung.
“kena...”
“kewajiban istri itu mengikuti
apa kata suaminya...”
Aku mendengus mendengarnya, tapi memang benar juga sih. Dia
terlihat memasuki kamar mandi dengan gontai, di tambah dengan
menguap-menguapnya. Lucu sekali dia, saat pertama aku mengenalnya aku tidak
pernah terbayangkan akan prilaku lucunya itu.
***
Tepat pada siang hari
aku dan Agni memutuskan untuk pulang setelah berlama-lama di hotel dan
memang aku bangun hampir tengah hari. Aku dan Agni memasuki rumahku, begitu
memasuki ruangan utama, Angel menyambut kedatanganku. Dari arah belakang ara
Ray yang sedang membenarkan letak dasinya yang aku yakin itu hasil karya Angel
yang menjahilinya.
Agni berjongkok di hadapan Angel, dia mengacak-acak poni
Angel dengan gemas. Aku terkekeh melihat Angel yang memajukan bibirnya, kesal.
“An pulang di jemput siapa tadi?”
Angel tersenyum saat di tanya itu, kemudian menunjuk-nunjuk
Ray yang kini menyambar jasnya bersiap pergi lagi.
“Ray, sorry ya Angel nyusahin”
Ray hanya mengacungkan jempolnya, kemudian mengerlingkan
matanya menggoda.
“mendingan jangan buat dulu anak
deh ya? satu aja ribet... haha”
Agni membulatkan matanya pada Ray, sementara Ray berlari
sebelum mendapatkan omelan gratis dari Agni. Terlihat Angel terkikik geli
melihat Ray berlari terbirit, aku mengangkat Angel tanpa permisi. Malaikatku
ini terlihat kaget dan sedikit berontak.
“ohh jadi sekarang maunya di
gendong Oom Ray aja? Yaudah...”
Aku menurunkan Angel dan berlalu dari hadapannya,
berpura-pura marah.
“Rio...”
Aku dengar Agni menyebut namaku dengan kesal, ada apa
memangnya? Aku mendengar isakan pelan, dan guman-guman kecil yang aku yakin
terlontar dari bibir Angel.
“Papa marah Ma... Papa gak sayang
sama An... Papa jahat...”
“cup cup cup... An Papa sayang
kok sama An, udah ahh jangan nangis...”
Hhh... begini nih kalau semua kemauannya selalu di turuti
dan tidak pernah ada yang marah padanya, pasti sedikit-sedikit nangis. Hhh...
salahku juga terlalu memanjakan dia, tapi... aku memang tidak bisa menolak ke
inginannya.
Aku berdecak kemudian menghampiri Agni dan Angel, kemudian
mengambil Angel dari gendongan Agni.
“Papakan cuma becanda An, kok
nangis?”
Angel nampak sesenggukan, dia membenamkan kepalanya di
lekukan leherku.
“An takut... Papa kayak marah
beneran sama An...”
“mana bisa Papa marah sama An
sih?”
Angel terlihat mengangkat wajahnya, kemudian menatapku
dengan mata yang masih berkaca-kaca.
“beneran? Papa sayang sama An?”
Aku tertawa mendengarnya, setelah itu mengecup pipinya.
“ya iyalah An, kalau Papa gak
sayang sama An, buat apa Papa ngurusin An sampe An gede begini?”
Angel mulai tersenyum kemudian memeluk leherku kembali.
“An sayang banget sama Papa...”
“Papa juga...”
***
Aku bahagia sekali melihat Angel tersenyum lagi. Saat ini
aku sedang berada di dapur untuk memasakkan makan siang untuk suami dan anakku.
Aku mendengar mereka mencari keberadaanku, aku hanya diam
saja karena aku yakin mereka akan menemukanku. Dan benar sekali, aku merasakan
ada yang memeluk kakiku.
“An...”
“Mama kok jahat banget sih...
Angel kaget tau Mama gak nyaut”
Aku terkekeh kemudian berjongkok di hadapannya.
“maaf ya sayang...
sekarang...kamu duduk disini”
Aku mengangkatnya ke atas kichenset, dan mulai memotong sayuran untuk di masak.
“masak apa?”
Rio berbisik tepat di telingaku dengan kedua tangannya
melingkar di pinggangku. Aku terkekeh melihat Angel yang menutup mata dengan
kedua tangannya.
“malu tuh sama Angel Pa...”
Aku menyikut pelan perut Rio, Rio menjauhkan diri dariku dan
berdiri di depan Angel.
“cie... anak Papa tutup mata”
Rio menjawil kedua pipi Angel, menggoda.
Aku sesekali melirik ke arah mereka sambil terus fokus pada
potonganku.
“Rio... jangan di gelitikin ihh
Angelnya, kasian... aw”
Aku merasakan perih tanganku, darah segar mengalir dari
telunjuk tangan kiriku. Ohh God... sakit sekali.
Rio menarik tanganku ke arah westafel dan mencuci jariku. Hhh... aku kira dia akan menghisap jariku seperti yang ada di dalam
sinetron dan di saat itu ada slow motion saat aku dan Rio bertatapan.
“perih...”
Aku mengerang saat merasakan jariku di bersihkan oleh
jari-jarinya. Aku menutup mata dan menggigit bibir bawahku. Aku tidak mendengar
Rio berkata apapun, apa saat panik Rio memang seperti ini?
“Papa hati-hati... Mamanya sakit
gitu...”
Aku mendengar nada ke khawatiran dari Angel. Aku membuka
mata, kemudian menatap Angel.
“gapapa kok sayang...”
Rio menarikku untuk duduk di meja yang ada di dapur.
“Bi, mana perbannya? Alkohol
jangan lupa... obat merah juga...”
Aku menatap Rio yang terlihat panik, kenapa dia ini? ini
pertama kalinya aku melihat Rio sebegitu paniknya. Rio akan selalu bersikap
tenang dalam menghadapi apapun, tapi kali ini? cuma sayatan dia heboh seperti
ini? Ya Tuhan... apa dia menyayangiku?
***
Aku merasakan elusan di kepalaku saat sedang mengobati luka
Agni. Aku sampai tidak habis pikir, kenapa dia seceroboh ini sih? Untung saja
lukanya tidak terlalu dalam.
“tenanglah Rio...”
Aku terdiam sejenak, memangnya aku sangat terlihat tidak
tenang ya? apakah itu kentara sekali?
“khm... iya”
Aku meraih perban dan melilitkannya sedikit di jari
kecilnya, jari-jari itu terlihat mungil jika di bandingkan dengan jari-jariku.
“nanti kita ke dokter”
“tidak usah, ini cukup”
Aku meatapnya tidak yakin, apa benar ini tidak akan apa-apa?
Lukanya memang sudah aku bersihkan dengan alkohol, tapi aku
takut tangannya akan infeksi. Aku tidak mau membuat Angel sedih kalau melihat
Mamanya kesakitan lagi.
Aku mendengar isak tangis dari Angel, tuhkan... benar
dugaanku. Aku berdiri dan menghampirinya, kemudian mengangkatnya agar masuk
dalam gendonganku.
“udah ahh... masa anak Papa
nangis lagi sih? Cup cup cup”
“Mama Papa... Mama...”
Agni menghampiriku, kemudian mengelus kepala Angel dengan
tangan kanannya.
“Mama gapapa kok An, udah ya...
jangan nangis”
Agni masih mengelus puncak kepala Angel yang masih saja
sesenggukan, apa Angel sebegitu sayangnya pada Agni? Hhh... ternyata aku harus
benar-benar ekstra menjaga Agni agar tidak ada sesuatu yang bisa membuat Angel
ikut sedih.
“yuk Mama gendong...”
Angel menggelengkan kepalanya dia semakin mengeratkan
pelukannya padaku. Aku benar-benar bingung melihat tingkah Angel. Jujur saja
aku memang tidak pernah melihat Angel begitu dekat dengan wanita manapun.
“An gak mau nyakitin Mama...
tangan Mamakan lagi sakit”
Angel mengangkat wajahnya sambil mengusap matanya yang masih
mengeluarkan air mata. Hhh... sekarang aku yakin, tidak salah memang aku
memperistri Agni. Terbukti dari Angel yang begitu menerima kehadiran Agni
sebagai Mamanya.
“An mau tidur siang”
“turunin Papa...”
Aku menurunkan Angel yang agak memberontak, setelah itu dia
berlari ke kamarnya. Aku menatap Agni yang ternyata sedang mengamati Angel.
Aku merasakan ponselku berdering.
Mama? Astaga... mau apa lagi wanita itu? Kenapa terus saja
mengganggu?
“apa Ma?”
“Mama cuma mau bilang... secepatnya kamu harus kasih Mama cucu, ingat
Rio... umur kamu itu udah mau masuk kepala tiga... Mama malu, masa anak
teman-teman Mama yang umurnya masih di bawah kamu sudah memberikan cucu dua,
tapi kamu?”
“kan udah ada Angel Ma...”
Aku sedikit melirik Agni yang menatapku dengan tatapan penuh
tanya.
“Rio... Angel bukan...”
“Ma... Angel juga anakku!”
“terserah! Yang Mama mau
pokoknya cucu! Yang benar-benar anakmu!”
“tapi Ma... Mama”
Ahh shit! Kenapa wanita itu benar-benar menuntutku? Aku
belum bisa melakukannya. Argh... aku harus bagaimana? Aku bingung...
Aku merasakan Agni yang meraih ponselku yang hampir aku
bantingkan.
“kamu sama Angel sama-sama suka
banting-banting gadget ya? sukses
banget kamu nurunin sifat kamu sama dia”
Menurunkan sifat? Sifat darimana? Apa iya Angel mirip dengan
kelakuanku?
Memang banyak yang mengatakan seperti itu, mereka bilang aku
dan Angel sama-sama dingin, cuek, jutek dan agak temperamental.
***
Rio benar-benar over
protektif sekali padaku setelah kejadian tadi siang. Dia benar-benar
aneh... aku seperti tidak mengenalnya.
Tadi saja, dia menyuapiku makan padahal tanganku sehat-sehat
saja. Di tambah penawaran aneh yang ingin memandikanku, jelas aku tolak. Walau
dia tetap bersikeras tapi aku berusaha memberinya pengertian. Kalau yang itu
aku benar-benar malu dan tidak siap.
“ada pekerjaan sedikit dari Ray
yang tidak bisa di wakilkan, kamu mau ikut aku ke ruang kerjaku?”
Tuhkan... aneh sekali dia, apalagi selama ini dia tidak
pernah membiarkan siapapun mengikutinya masuk ke dalam ruang kerja. Aku yang
penasaran akan ruang kerja itupun akhirnya mengikutinya dari belakang.
Gelap.
Itu kesan pertama yang aku tangkap. Aku rasa memang
benar-benar tidak pernah ada yang memasuki ruangan itu. Aku meraih tangan Rio,
takut tersandung sesuatu.
Setelah Rio menyalakan ruangan itu, aku terperangah kaget
saat melihat sebuah foto yang terbingkai
terdapat di belakang meja kerja Rio.
besar sekali dan sekarang benar-benar jelas, itu dia sosok yang mirip denganku
yang Rio sebut dengan Agneta besama dengan seorang laki-laki yang sudah di
pastikan itu Rio.
Aku tidak percaya, kenapa ada yang begitu mirip denganku?
Hampir tidak ada perbedaan, hanya saja... aku mendekati foto itu. Dia mempunyai
lesung pipi, manis sekali. Kalau aku memiliki lesung pipi mungkin akan sama
persis.
Ya Tuhan... dia cantik sekali. Tanpa aku sadari aku mengelus
foto itu.
“dia Agneta... itu sebabnya
kenapa aku tidak pernah suka kamu masuk kedalam ruanganku, bukan hanya kamu...
tapi semua orang kecuali Angel, Mama dan Papa”
Aku masih menatap foto itu. Benar-benar tidak percaya.
“malam setelah pesta itu Angel
masuk ke ruanganku ini tanpa permisi dan melihat foto itu, padahal biasanya aku
menutup foto itu dari Angel”
Aku mendengar Rio mendesah penuh beban. Kenapa suamiku ini?
“begitu melihat foto itu dia
bertanya, ‘apa dia tante Agni?’. Aku jawab iya, karena aku takut dia sedih
kalau tau Mamanya sudah meninggal, aku juga menambahkan kalau kamu akan menjadi
calon Mama Angel, akan membawa kamu kembali ke rumah ini. maaf”
Aku mengelus pundak Rio, selanjutnya memeluk leher Rio dari
belakang.
“aku juga sayang sekali pada
Angel, kamu tidak perlu meminta maaf”
Rio mengangkat tangannya meraih puncak kepalaku, mengelus
tepat di sana. Benar-benar membuatku nyaman dan terasa enggan untuk melepaskan
pelukkan ini. Aku merasa lega sekali Rio telah menceritakan tentang Mamanya Angel,
walau belum secara lengkap.
“ini album foto-foto Agneta,
siapa tau kamu berminat melihatnya”
Aku terpaksa menjauhkan diri dari Rio, meraih album foto
itu. Ini seperti foto-foto pernikahan...
Aku menatap Rio yang wajahnya terlihat muram, mungkin sedih
karena mengingat mendiang istrinya.
Aku menjauhkan diri dari Rio, kemudian duduk di sofa di
dekat pintu masuk. Hhh... Tuhan... semoga aku tidak cemburu melihat album foto
pernikahan ini.
Aku mulai membuka satu persatu. Foto pernikahan ini
benar-benar membuatku iri, apalagi saat aku mendapati Rio yang tersenyum begitu
hangat, dia benar-benar terlihat seperti bukan Rio. dia seperti Rio dalam sifat
yang lain.
Foto-foto pernikahan ini ada beberapa yang tidak formal,
tapi justru ini yang membuat hatiku menjadi mencelos. Apa Rio yang dihadapanku
sekarang ini bukan Rio yang dulu? Sepertinya wanita itu benar-benar bahagia,
apalagi Rio.
Bagitu aku melihat ke halaman terakhir, aku membulatkan
mataku tidak percaya. Apa-apaan ini? sebenarnya ada hal apa lagi yang di
sembunyikan dariku? Sepertinya aku harus memiliki jantung cadangan untuk
menghadapi kenyataan-kenyataan lainnya.
Aku menatap Rio yang sedabf sibuk berkutat dengan laptopnya,
kemudian mengalihkan kembali pada album ini. foto-foto di sini benar-benar Rio,
tapi kenapa? Mirip sekali. Aku memegang ukiran sebuah nama di halaman terakhir
album ini.
Fabio & Agneta
***
Bersambung...
No comments:
Post a Comment