Tuesday, 14 May 2013

Between Love and Obsession Part 4


“Wedding Party”
Bab 4

Aku diam menatap pantulan wajahku di cermin karena saat ini aku sedang di dandani oleh orang suruhan Rio. Hhh... aku baru tau ternyata Rio itu ribetnya naudzubillah, mana segalanya mewah, pokoknya berbanding terbaliklah sama aku yang gak mau ribet, simple dan gak suka yang namanya kemewahan. Padahal aku dan dia cuma mau menghadiri acara resepsi Gabriel dan Ify, tapi kenapa aku merasa aku yang menikah? Hm...

Hari ini benar-benar hari yang menyebalkan bagiku, sebenarnya  pagi  ini aku baru menyelesaikan photo pre-wedding dan parahnya yang di foto itu bukannya badanku dan Rio atau close up wajah kami ternyata hanya sepasang kaki kami, dan badan kita itu hanya terlihat dari bayangan. Benar-benar menyebalkan orang itu! Sudah acara lamaran gak romantis, photo pre-wed aneh gitu.
Tapi untungnya photo saat aku dan Rio bersama Angel itu benar-benar seluruh tubuh, mungkin hanya itu yang membuat kekesalanku berkurang.

“Ma... cantik banget”

Aku melihat Angel dari cermin, dia tersenyum padaku sementara aku menanggapinya dengan tertawa kecil.
“An  juga cantik banget”

“sudah Bu, tinggal pakai gaunnya...”
Aku melihat pada orang suruhan Rio itu, lalu tersenyum dan kemudian beranjak ke ruang ganti.

Setelah merasa telah rapih dengan pakaianku, aku keluar dan ternyata Rio sudah ada di sana, menggunakan tuxedo berwarna silver dan pakaian lainnya yang senada. Ya Tuhan... betapa beruntungnya aku mendapatkan calon suami setampan itu, walau agak aneh dan selalu membuatku sakit hati dengan ucapan-ucapan dinginnya.

Aku membalas senyuman Rio yang tersenyum ke arahku, aku mendekatinya dengan gugup karena Rio menatapku dari ujung kaki hingga ke ujung kepala, menilai. Dia nampak mengerutkan keningnya.
 “kenapa rambutnya di angkat begitu? Kenapa tidak di gerai saja?”

“ya ampun tuan, biar terlihat lebih glamour dong, masa calon istrinya milyader berpenampilan biasa saja?”

Penata rambutku menjawabnya sambil membereskan meja bekas meriasku. Aku duduk di samping Rio yang tiba-tiba mengalihkan pandangan dariku. Ihh... kenapa sih dia? Selalu saja seperti itu! Apa aku jelek? Sudahlah terserah dia saja.
“oke, kalau begitu terimakasih... uangnya sudah aku transfer ke rekening kalian”

Orang-orang yang tadi bergantian mendadaniku mengangguk, aku mengalihkan pandanganku pada Angel yang sibuk dengan gadget-nya. Ck. Bapak dan anak sama saja! Penggila gadget.

“An, mau berangkat sama siapa?”

Rio bertanya pada Angel, Angel tersenyum kecil.
“sama Oom Irshad aja deh, Papa sama Mama berdua aja”

Aku terkekeh melihat kerlingan nakal dari Angel, apa maksudnya? Heuh... apa Rio tidak mengajarkan agar dia berprilaku layaknya anak biasa?
“yuk berangkat”

Aku mengangguk kemudian berjalan beriringan dengan Rio, sementara Angel telah berangkat dengan Irshad.
“lho? Mobil kamu mana? Masa kita jalan kaki sih?”

Aku menatap Rio yang tersenyum. Senyumannya itu Tuhan... sabarkan aku menghadapi orang ini. terus berkata dingin membuatku kesal dan sakit hati. Tapi, bersikap begini juga membuat aku merasa ada yang aneh dalam diriku. Beberapa hari ini dia memang terlihat banyak tersenyum dan membuat hatiku benar-benar di buat melambung. Hhh.... semoga ini pertanda baik.
“tuh”

Aku dan Rio berjalan ke arah mobil rolls-royce berwarna hitam. Tuhkan... lelaki ini memang menggilai hal-hal yang mewah. Bisa ku perkirakan harga mobil ini di atas Tiga Belas Milyar.
“kemana ferrary merahmu?”
Aku bertanya begitu telah memasuki mobil itu.

“ada, aku hanya ingin memakai mobil ini. aku rasa baru memakainya beberapa kali saja”
Dia terlihat fokus menyetir, dan wajahnya kembali terlihat datar dan dingin. Hhh...
Aku mengalihkan pandanganku melihat kaca samping mobil ini, pemandangan malam kota ini tidak terlalu buruk. Meskipun macet dimana-mana.

“apa kemacetan itu lebih menarik daripada aku?”

Hah?! Apa? Apa yang dia katakan tadi? Aku perlu mendengarnya satu kali lagi.
“ma..maksudnya?”

Dia terlihat berdecak, kebiasaannya beberapa hari ini.
“tidak. Lupakan!”

Hhh... dasar aneh! Aku menatap kakiku yang terbingkai sepatu hihgheels bling-bling berwarna silver, kata orang di salon tadi, yang memilihkannya itu Rio. Dari mulai gaun, sepatu dan tas tanganku. Niat sekali dia ingin menularkan kebiasaan bermewah-mewahnya.

***

Aku mengamit tangan Rio begitu memasuki gedung tempat dimana resepsi pernikahan Gabriel dan Ify di laksanakan. Banyak sekali yang menyapa Rio, tapi dia menanggapinya dengan senyuman tipis saja, begitupun aku.

“Agni... akhirnya dateng juga”

Ify memelukku begitu aku berhadapan dengannya, beberapa hari di rumah tanpa kehadiran Ify memang sangat sepi tapi untunglah selalu ada Angel dan Rio yang selalu datang ke rumahku tiap malam. Aku membalas pelukkannya sebentar.
“selamat ya... semoga kalian akan sama-sama terus sampai hanya ajal yang memisahkan”
“thank you sayang... ngomong-ngomong kamu kenapa serasi banget  sama boss kecemu itu”

Aku melirik Rio yang sedang berbincang dengan Gabriel, aku menghela nafas panjang. Kemudian menarik lengan Rio.
“Rio”

Rio berbalik padaku kemudian merangkul pundakku dengan lembut.
“apa sayang?”

Aku tersenyum tipis kemudian mengalihkan pandanganku pada Ify yang menatapku dan Rio dengan takjub. Matanya membelalak tanda kekagetan.
Aku menatap Rio kembali.
“undangan untuk Gabriel dan Ify di bawa?”

Rio mengangguk, kemudian mengedarkan pandangannya entah mencari siapa.
“Irshad”

Angel berlari ke arahku dengan di belakangnya di ikuti Irshad.
“Ma... aku cari dari tadi...” rengeknya.

Aku terkekeh melihatnya, kemudian mengelus puncak kepala Angel.
“An  juga tadi di cariin Mama, oya... udah kasih selamat belum buat Oom Gabriel sama tante Ify?”

Angel terlihat menggeleng, kemudian menatap Ify dan tersenyum padanya.
“hai tante, selamat ya...”

Ify tersenyum kecil kemudian mengelus pipi Angel gemas,
“terimakasih cantik, nama kamu siapa?”
“aku Angel tante... salam kenal”
Aku tersenyum melihat Angel yang terkekeh begitu lucu, kemudian aku menatap Rio yang menenteng undangan pernikahan aku dan dia. Aku meraihnya tanpa permisi membuat Rio menengok dan menatapku sejenak.

Aku menghela nafas panjang, ternyata aku bukan hanya di kalahkan oleh gadget, tapi oleh temannya juga. Aku rasa dia lebih mementingkan berbicara dengan temannya daripada aku. Aku benar-benar kecewa kepadanya. Atau mungkin aku yang terlalu berlebihan? Karena tadi dia membuatku lega karena ketidak cuekannya dan sekarang aku lantas tidak menerima dia mengabaikan aku lagi. Hhh...

“Agni”

Ify menepuk pundakku, aku tersenyum getir begitu berhadapan dengannya. Kemudian memberikan undangan yang ku rebut tadi.
“ini”

Ify menerimanya, kemudian memutar-mutar undangan itu. Mungkin mencari identitas orang yang akan menikahnya. Aku yakin Ify tidak dapat menemukannya karena di ruangan seterang ini kristal itu begitu berkilau sehingga ukiran nama yang memang timbul di kristal tersebut tidak dapat terlihat.
“ini dari siapa?”

Hhh....
Aku kira dia bisa menyimpulkan sendiri.
“dari aku dan Rio”
“HAH?!”

Rio, Gabriel dan Irshad terlihat mengalihkan pandangan dari pembicaraannya pada Ify.
“tante Ify heboh banget sih”
Aku tersenyum geli mendengar ocehan Angel, dia berkacak pinggang tanda kesal. Dia memang tidak suka ada orang yang histeris begitu.

“Ify sayang, kenapa? Ada masalah ya?”

Ify memberikan undangan itu pada Gabriel tanpa berkata apapun.

“well, minggu depan aku dan Agni menikah”

Aku merasakan sebuah tangan melingkar di pinggangku. Astaga... Rio agresif sekali. Tak beda dari Ify, Gabriel pun membelalakan matanya. Apa pernikahanku dan Rio semengejutkan itu?
“Rio... aku tidak menyangka ternyata kamu akhirnya menikah juga”

Aku menatap Gabriel heran, bukannya ini pernikahan kedua Rio ya? kenapa tanggapannya seperti Rio tidak pernah menikah saja?
Rio nampak tersenyum samar, sementara Angel tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Dia hanya diam saja menyimak pembicaraan kami.
“An... An pulang ya? ini udah malem, di rumah juga ada Oma kok”

Oh God. Mamanya Rio datang lagi?
Setelah kejadian waktu perdebatanku dan Rio di kantor, tante Amanda memang tidak terlihat lagi. Malah, aku bertemu Papanya Rio pun, tante Amanda tidak datang.
Aku sedikit takut sekaligus sakit hati terhadapnya. Karena aku terus saja di samakan dengan almarhum istrinya Rio, walaupun aku tidak tau rupa wanita itu tapi aku yakin aku dan dia sangat mirip. Melihat tanggapan tante Amanda yang selalu menyama-nyamakanku dengannya.

Aku melihat Angel berlalu dari tempat ini bersama Irshad, setelah itu aku menghela nafas panjang. Apakah aku harus bertemu dengan Mamanya Rio lagi? Jujur saja, aku belum bahkan tidak siap.
Aku terus berusaha mengatur nafasku.
Rio menatapku sekilas, ia merangkul pundakku agar merapat padanya.
“Agni, kamu kenapa?”

Aku menggeleng, aku menghela nafas lagi.
 “hanya tidak siap bertemu Mamamu”

Rio terlihat menghembuskan nafas berat, dia menghadapkan aku padanya.
“Agni, Mama hanya belum bisa menerima kamu sebagai Agni. Dia belum cukup mengenal kamu, sabarlah”

Rio menarikku dalam dekapannya, aku membalas pelukkan itu. Mengangguk pelan.
“aku benar-benar takut pada Mamamu, dia sangat penuh selidik dan dia begitu mengintimidasi Rio”
Aku berucap dengan masih memeluknya. Aku merasakan Rio mengelus punggungku. Dan untuk ke sekian kalinya aku mendengar debaran jatung Rio. Kenapa lelaki ini? apa dia memiliki riwayat penyakit jantung?

Tapi jujur saja, ini benar-benar membuatku nyaman. Aku begitu merasa di sayangi oleh Rio. Aku merasa ada sesuatu yang berdesir di dadaku, membuat relung-relung kosong menghangat, entah kenapa aku sangat nyaman dalam posisi ini. Aku merasa enggan untuk melepaskannya. Rio yang dingin sekarang menjadi sangat hangat. Hhh...

“sudah, ini pesta orang lain. Jangan menangis disini”

Aku melongos, baru juga beberapa detik yang lalu dia ku sebut hangat tapi sekarang? Dingin lagi! Aku menjauhkan diriku dari Rio, berdiri agak menjauh dari lelaki aneh itu! Aku benar-benar kesal padanya! Argh... awas saja kamu Rio, aku jutekkin baru tau rasa kamu!!!

Tiba-tiba aku merasakan sebuat tepukkan di bahuku. Aku berbalik melihat pada orang yang menepuk pundakku itu.
Astaga! Matilah aku....
“Agni... ternyata kita bertemu lagi di sini”

Aku tersenyum kaku, kemudian ku lirik Rio dengan ekor mataku. Terlihat jelas rahangnya mengeras. Apa yang harus aku lakukan? Ohh Tuhan... tolonglah.

“Agni, are you oke?”

“Mama...”

Aku melihat Angel berjalan cepat ke arahku, aku melirik Rio yang tengah sibuk dengan ponselnya. Apa dia sebegitu tidak pedulinya padaku? Sampai lebih memilih menyibukkan diri dengan ponsel daripada aku. Aku berharap dia akan memarahi Cakka dan bilang kalau dia adalah calon suamiku! Tapi kenyataanya? Hm... ayolah Agni, jangan terlalu banyak berharap pada Rio.

“dia, putrimu Agni?”

Aku bukan tidak mendengarkan perkataannya, aku hanya malas menanggapinya. Aku tidak mau kalau Angel atau Rio marah padaku.

Aku mengelus puncak kepala Angel, aku mengangguk pada Irshad yang terlihat meminta maaf.
“An... kenapa kesini lagi?”

Angel menatapku sambil berkacak pinggang, dia menarik Rio agar mendekat ke arahku. Kemudian menatap Cakka dengan pandangan tak suka.
Aku menghela nafas panjang, jadi benar apa kata Rio dulu? Kalau Angel tidak menyukai Cakka?
Kenapa waktu itu aku bodoh sekali dengan berharap bahwa Rio lah yang tidak menyukai kedekatanku dengan Cakka? Aduh Agni... sudahlah jangan terlalu berharap banyak pada Boss-mu ini, dia pasti hanya ingin membahagiakan Angel.

“denger ya Oom, jangan ganggu Mama An!!! Kalau Oom ganggu terus, Oom berurusan sama bodyguardnya An!”

Cakka terlihat terkekeh kecil, dia berjongkok menyamakan tingginya dengan Angel. Kemudian mengelus puncak kepala Angel.
“lucu banget sih kamu”

Angel memasang wajah dinginnya, aku melirik Rio yang melakukan hal sama. Hhh... ternyata sifat Rio turun dengan dominan pada Angel, mereka berdua mirip sekali kalau seperti ini.
“Rio...”

Aku menarik sikut Rio, kemudian memeluk lengan itu. Aku mau tau apa yang akan di lakukannya kalau aku begini. Aku mendekatkan diri pada Rio.
“jangan marah...”bisikku

Rio menatapku kemudian mengangguk pelan setelah itu mengalihkan pandangannya kembali. Aku mengecup pipinya sebentar kemudian melepaskan pelukanku di tangannya. Aku benar-benar bingung dengan sikap Rio, benar-benar sulit untuk di tebak. Hm... aku melihat ke arah Angel yang masih menatap Cakka tajam.
“denger ya Oom! An itu gak akan bisa di gombalin! Udah kebal sama gombalan Papa.”
 “Ehh... kenapa An malah ngobrol sama Oom ini...”
“Oom, dengerin ya... apa yang An bilang itu beneran! Jangan ganggu Mama!”

Aku terus memandangi Angel yang sibuk mengomeli Cakka, aku tersenyum kecil melihat tingkah Angel. Apalagi saat Cakka mengecup kening Angel, pipi Angel langsung merona merah dan langsung berlari ke arah Rio.
“Papa... Oom itu nyium An”rajuknya

Rio dan Cakka saling berpandangan, Rio menatap Cakka begitu tajam sementara Cakka hanya menanggapinya dengan santai saja.
“sayang... tuh Gabriel manggil... dansa yuk”

Rio beralih menatapku yang memotong acara saling tatap itu. Aku memang takut kalau Rio sedang menajamkan pandangannya, seperti bukan Rio yang ku kenal.
Angel berlari ke arah Irshad dan aku rasa mereka mungkin sekarang benar-benar pulang.
Sementara itu aku da Rio berjalan ke arah Gabriel dan Ify yang sedang berdansa.
“dansa? Hhh...”
Aku bergumam, aku agak ragu. Bukan karena tidak bisa, tapi aku takut Rio tidak mau. Aku meliriknya yang sedang menatapku dengan bingung.

Aku merasa jantungku terlonjak begitu merasakan tangan Rio merangkul pinggulku agar merapat ke arahnya, dengan refleks aku menyimpan tanganku di dadanya. Tapi setelah bertatapan cukup lama aku segera memindahkan tanganku, melingkar di lehernya.

Rio tersenyum tipis namun mampu mengobati rasa kesalku beberapa saat lalu, aku merebahkan kepalaku di dada bidangnya. Dan seperti biasa selalu terdengar debaran jantung Rio,
“Rio, jantungmu berdebar begitu cepat... apa ada masalah?”

Rio terlihat datar, dia menghela nafas panjang. Apa aku salah bicara lagi? Ya tuhan... aku merasa serba salah kalau begini. Sebenarnya kata apa dan perlakuan seperti apa yang bisa membuatnya jauh dari sikap dingin dan perkataan datarnya?
“maaf...”
Aku berujar, kemudian memeluk Rio kembali sebelum lelaki ini marah kembali padaku.

***

Jam dua belas malam aku baru sampai ke rumah, aku merasa begitu lelah sekarang. Aku melirik Rio yang menyandarkan punggungnya di sofa ruang tamu. Aku yakin, dia juga pasti lelah.
Aku mendekatinya dan duduk di sampingnya.
“Rio... kenapa masih disini? Tidak pulang?”

Rio tidak bergeming, dia masih memejamkan matanya. Apa dia tidur?
Aku mengguncang lengannya pelan.
“Rio...”
“apa pertanyaan seperti itu pantas di lontarkan untuk seorang calon suami?”

Tubuhku menegang, aku begitu terkesiap mendengar ucapannya. Dia membuka matanya lalu memandangku, aku bergidik ngeri menatapnya.
“kamu boleh tidur di kamar depan, aku mau mandi dulu”
Aku berjalan meninggalkan ruang tamu dengan cepat. Terlalu lama berdekatan dengan dia hanya bisa membuat jantung dan hatiku histeria. Setelah melepaskan heels-ku, aku beranjak beranjak ke kamar mandi.

Setelah beberapa saat aku keluar dan betapa kagetnya aku melihat Rio yang sedang duduk bersandar di kepala tempat tidurku, dia juga telah membuka tuxedonya, hanya menyisakan celana panjang saja. Aku segera masuk ke dalam ruang ganti. Astaga! Apa yang akan dia lakukan? Apa dia tidak berpikir kalau aku akan merasa risih kalau dia ada di situ? Apalagi dengan telanjang dada seperti itu. Walaupun aku mencintainya, hm... menyukainya aku tidak akan pernah mau ‘melakukan itu’ sebelum aku dan dia benar-benar sah menjadi suami istri.

Aku memeriksa pakaianku. Oke baguslah, tertutup. Dengan segera aku keluar dari ruang ganti.
“aku mau tidur disini, apa kamu tidak keberatan?”

Hhh... aku mengangguk lemah, segera aku menuju meja riasku untuk sekedar merapihkan rambut.
“tidurlah, aku akan tidur di kamar Ify”

Dia terlihat setuju, akupun segera keluar dari kamarku dan menuju kamar Ify. Kemudian menguncinya, aku bukan berprasangka buruk padanya, tapi jaga-jaga. Jaga-jaga dengan berprasangka buruk tentu beda bukan?

***

Tanpa terasa hari demi hari berlalu begitu saja. Benar apa kata orang tua kalau kita merasa bahagia waktu itu pasti akan terasa lebih cepat, dan itulah yang aku rasakan. Setelah malam itu aku dan Rio tidak berselisih lagi walau pemberitaan di luar semakin gencar mencari tau tentang hubunganku dengan Cakka yang tak kunjung ada konfirmasi. Aku juga heran kenapa Cakka tidak mau mengkonfirmasinya, dan dengan terpaksa aku turun tangan. Disinilah aku sekarang, duduk di hadapan banyak wartawan bersama Rio.
“saya mengumpulkan kalian hanya untuk memberitaukan perihal pernikahan kami yang akan di adakan lusa, saya rasa itu cukup jelas dan tidak perlu ada hal yang harus di konfirmasi lagi”

Aku menghela nafas panjang setelah mengatakan itu. Aku berharap mereka berhenti bertanya tentang masalah pribadiku, tapi ternyata dugaanku salah. Mereka malah dengan gencarnya memberondong pertanyaan hingga jauh dari yang ku bayangkan.
“apa ini hanya sebagai sandiwara yang akan melepaskan anda dari jerat gosip ini?”

Aku menghala nafas kembali, kemudian menatap Rio yang terlihat kesal.
“apa pernikahan hal main-main untuk di jadikan sandiwara? Kalau kalian tidak percaya, saya mengundang kalian datang ke acara pernikahan kami. Nanti siang undangannya akan saya sebarkan ke kantor kalian masing-masing”

Aku menatap Rio takjup, Rio mengudang wartawan ini? oh God... ceroboh sekali kamu Rio.
“saya kira sudah cukup ya? kami masih banyak urusan yang belum terselesaikan. Terimakasih dan sampai jumpa”

Rio segera menarikku setelah berkata demikian, aku hanya menuruti apa kata maunya saja daripada harus berdebat. Begitu memasuki rolls-royce nya dia baru tersenyum begitu hangat padaku.
“maaf ya, aku mengundang mereka. Aku hanya bosan mendengar ocehan mereka”

Aku tersenyum kemudian mengangguk.
“kamu jangan sedingin itu lagi ya di depanku?”
Beberapa hari melihatnya bersikap hangat membuatku benar-benar mabuk kepayang dan enggan untuk melihat kembali bagaimana dinginnya Rio. Aku sangat senang dengan Rio yang hangat ini, walaupun belum mengatakan cinta, sayang atau suka aku tidak peduli. Yang penting dia bersikap hangat padaku, bagiku itu sudah cukup.

Aku dan Rio memasuki kediamanku, pintunya kenapa terbuka? Apa Ify kembali kesini? Tapi itu tidak mungkin... lalu aku mengedarkan pandanganku dan mendapati seorang lelaki yang sedang berjalan dari arah dapur. Aku tersenyum senang.
“Ray.... miss you sayang”

Aku memeluknya erat, beberapa bulan tidak bertemu membuat rasa rinduku menjad akut.
Aku berbalik ke arah Rio yang sedang memandangku begitu tajam, astaga... kenapa lagi? Aku menarik Ray pada Rio.
“Ray kenalin ini...”
“aku Rio, calon suaminya Agni”

Aku keget melihat reaksinya, ucapannya tidak tajam. Bahkan dia terlihat begitu bersahabat dengan mengulurkan tangannya. Ray membalas jabatan tangan Rio.
“Ray”
“kenapa udah ada calon suami aja? Kok gak bilang-bilang?”
 “baru juga mau bilang, kamu sibuk banget sih”

Aku mengalihkan pandanganku pada Rio kembali, wajahnya muram dan sebentar lagi pasti akan ada ledakan kemarahannya.
“Rio, ini kembaran aku... dia baru pulang dari Jerman”

Rio menarik ujung bibirnya, mungkin lega karena ternyata Ray hanya saudaraku.
Setelah itu mereka berdua nampak akrab dengan membicarakan berbagai hal tentang hobby dan pekerjaan.
Aku dengar Rio memberikan kepercayaan buat Ray mengurus perusahaannya yang di sini juga.
Aku tersenyum kecil membayangkan betapa malunya dia cemburu pada kembaran calon istrinya sendiri. Haha... Rio... Rio...

***

Setelah acara pernikahan tadi siang, sore harinya langsung di adakan resepsi.
Aku begitu bahagia karena acara pernikahanku begitu lancar, tidak ada kesulitan apapun. Tanpa ku sangka, ternyata pernikahanku juga di siarkan di televisi secara live. Ada-ada saja pemburu berita itu.

Saat ini aku dan Rio sedang berganti pakaian untuk melakukan photo pernikahan kami, ini sudah ketiga kalinya aku dan Rio berganti pakaian. Belum lagi nanti pas resepsi.

“Mama cantik banget Pa... iyakan?”

Angel menarik ujung jas Rio.
Aku terkekeh geli melihat aksi lucu anak itu, apalagi Rio yang terlihat salah tingkah karena Angel memaksa Rio untuk menjawab pertanyaan tadi. Rio... aku sangat mencintaimu, andai saja aku bisa mengucapkan ini padamu. Hhh...
Aku berjalan mendekati Angel sambil memegang gaunku yang terseret.

“udah An, kasian Papanya... yuk kita foto-foto lagi”

Aku tersenyum pada Rio, dia membalas senyumanku dengan hangat. Salah tingkahnyapun aku rasa sudah menghilang lagi. Aku merasakan Angel menarik tanganku, aku menatapnya.

“ayo foto, sekarangkan An ikutan...”

Aku mengelus puncak kepala Angel, lucu sekali kalau dia bermanja-manja seperti ini. hhh... aku rasa aku sudah ingin mendapatkan putra, buah cintaku dengan Rio. aku menatap Rio yang ternyata sedang menatapku, seketika aku menunduk. Aku benar-benar malu jika di tatap seperti itu.

“masih saja malu-malu kalau di tatap seperti itu”

Aku menyenggol tubuh Rio, aku benar-benar malu sekarang. Rio terdengar tertawa kecil melihat tingkahku.
“Rio ihh....”

Aku kesal sekaligus malu padanya. Dia ini memang senang sekali ya menggodaku?
Hm...

Rio merangkul pinggangku, aku menatapnya sekilas kemudian menarik tangan Angel agar mengikutiku.

***

Aku dan Rio saling bertatapan dalam posisi duduk di atas tempat tidur pengantin kita, Rio mengigit sebuah stick makanan ringan sangat kecil tapi cukup panjang.
“Mbak gigit ujung yang satunya lagi”

Aku meneguk ludah dengan sukar. Rio terlihat menatapku dengan nakal. Aku melongos, ternyata sidat penggoda Angel turun dari Rio ya? ya Tuhan... semoga anakku nanti tidak seperti Rio.
Aku mendekatkan diri pada Rio ragu, setelah mulai dekat aku merasa Rio menarikku dengan tidak sabar hingga jatuhlah bibirku tepat di atas bibirnya.

Hah?! Aku menahan nafas cukup lama, duh... sensasi apakah ini, aku benar-benar merasa aneh sekarang. Hingga aku merasakan Rio menjauhkan wajahnya dari wajahku.

“oke bagus, photonya cukup sampai di sini saja”
“oke, terimakasih... honornya sudah saya transfer ke rekening anda”
“sip Boss, senang bekerja sama dengan boss. See you and long last...”

Aku mendengar deru jantungku begitu cepat. Ohh God, kenapa susah sekali mengaturnya? Aku memejamkan mataku sejenak kemudian menghembuskan nafas berat, agar mengurangi rasa gugupku.

“udah, keluar yuk kita makan siang... setelah itu kita ke tempat resepsi”

Aku menatap Rio lalu mengulurkan tanganku padanya, jujur saja aku memang susah berdiri karena gaun yang terlalu panjang ini. kalau tidak berhati-hati takutnya malah terjatuh. Lagian Rio kenapa sih? Gaun aja kayak di kerajaan, mewahnya itu lho... kebangetan.

***

Setelah acara keluarga di rumah, aku dan Rio menuju tempat resepsi kami. Aku melihat ke belakang mobil kami. Ternyata banyak sekali yang mengikuti, aku dapat melihat tepat di belakang mobilku ada Angel bersama Ray dan Irshad. Aku senang melihat ke akraban Ray dengan Angel, Angel sangat menerima kedatangan Ray. Apalagi kalau bukan gara-gara ganteng? Hah... anak kecil jaman sekarang... sudah bisa membedakan mana yang ganteng atau enggak.
“kenapa?”

Aku mengalihkan pandanganku pada Rio, kemudian tersenyum. Hhh... aku rasa tidak akan bisa melepaskan senyuman untuk hari ini, aku benar-benar bahagia.
“aku seneng aja, ternyata Angel menerima kedatangan Ray”

Rio nampak terkekeh, tangan kanannya mengelus pipi kiriku dengan lambut.
“iya, aku juga seneng dengan adanya dia pekerjaanku ada yang menghendle sementara. Kamu tau? Ray jadi primadona baru di kantor... haha”

Aku membulatkan mataku, benar-benar kaget.
“masa sih? Perasaan Ray biasa aja deh”

Rio mengangkat bahunya, masih dengan tertawa kecil.
“kata sekertarisku, setelah kabar aku akan menikah dengan kamu menyebar semua stafku itu jadi malas-malasan bekerja, mungkin patah hati. Tapi setelah kedatangan Ray, semuanya kembali lagi”

Aku ikut terkekeh mendengar cerita yang di sampaikan Rio. apa iya sampai segitunya?
Aku tidak heran sih kalau staf-staf Rio patah hati, tapi kalau bangkit lagi gara-gara Ray? Astaga... apa pesona kembaranku ini benar-benar kuat? Ckckck.

Tanpa terasa aku dan Rio sampai di tempat resepsi. Acara resepsiku tidak berbeda jauh dengan Gabriel dan Ify, yang berbeda hanya tingkat kemewahannya dan tempatnya saja, kalau mereka memboking gedung, kami memboking sebuah hotel berbintang. Apalagi saat aku sadar kalau ternyata gaunku bertabur berlian, meskipun tidak menyeluruh di pakaianku. Hhh... gimana sih Rio ini? katanya tidak memesan pakaian yang seperti ini. tapi nyatanya?
Padahal saat fitting baju pun bajunya tidak seperti ini.

Banyak sekali tamu yang datang, sampai aku merasa tubuhku lelah karena harus menyelami mereka satu-persatu. Aku merangkul pinggang Rio mencari penyangga, aku rasa Rio menengok ke arahku kemudian mambalas rangkulanku.
“acaranya sampai kapan? Aku capek”

Rio mengelus-elus pinggangku dengan lembut, kemudian mengecup puncak kepalaku.
“kalau kamu capek, kamu istirahat saja di kamar”
“kamu masih mau disini?”
“tamunya masih banyak Agni, setengah jam lagi aku menyusul”

Akhirnya aku menganggukkan kepalaku dan berlalu dari keramaian menuju kamarku dan Rio.

Begitu aku sampai di kamar, aku mendudukan diriku di depan cermin untuk membersihkan make up ku. Aku melirik ponselku yang berdering. Siapa yang mengirim pesan? Nomor baru...

Agni, suami kamu itu GAY!

Aku menutup mulutku kaget, kemudian melanjutkan membaca pesan itu. Meskipun dengan tangan yang mulai bergetar dan air mataku mulai menetes.

Kalau kamu tidak percaya lihat malam ini, apa dia bisa menyentuhmu sesuai kewajibannya?
Aku yakin tidak!
Ingat Agni, suami kamu itu GAY. GAY!!!

Ya Tuhan... cobaan apalagi ini? Setelah berhasil meyakinkan Mama Amanda, kenapa sambutan di pernikahanku seperti ini? apa benar Rio itu gay? aku menikah dengan seorang gay? Tuhan... apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku perbuat kalau ternyata suamiku itu benar-benar gay?
Aku lebih ikhlas kalau Rio itu playboy! Daripada aku harus menghadapi kenyataan bahwa dia seorang gay!
Aku benar-benar bingung Tuhan.... berikan aku petunjuk...
Sekarang aku merasa impianku hidup bersama Rio dengan bahagia itu hancur berantakan, hingga berkeping-keping dan tak bersisa untuk di satukan kembali.

***

Bersambung...

No comments:

Post a Comment