“Wedding
Party”
Bab 4
Aku diam menatap pantulan wajahku di cermin karena saat ini
aku sedang di dandani oleh orang suruhan Rio. Hhh... aku baru tau ternyata Rio
itu ribetnya naudzubillah, mana
segalanya mewah, pokoknya berbanding terbaliklah sama aku yang gak mau ribet,
simple dan gak suka yang namanya kemewahan. Padahal aku dan dia cuma mau
menghadiri acara resepsi Gabriel dan Ify, tapi kenapa aku merasa aku yang
menikah? Hm...
Hari ini benar-benar hari yang menyebalkan bagiku,
sebenarnya pagi ini aku baru menyelesaikan photo pre-wedding dan parahnya yang di foto
itu bukannya badanku dan Rio atau close
up wajah kami ternyata hanya sepasang kaki kami, dan badan kita itu hanya
terlihat dari bayangan. Benar-benar menyebalkan orang itu! Sudah acara lamaran
gak romantis, photo pre-wed aneh
gitu.
Tapi untungnya photo saat aku dan Rio bersama Angel itu
benar-benar seluruh tubuh, mungkin hanya itu yang membuat kekesalanku
berkurang.
“Ma... cantik banget”
Aku melihat Angel dari cermin, dia tersenyum padaku
sementara aku menanggapinya dengan tertawa kecil.
“An juga cantik banget”
“sudah Bu, tinggal pakai
gaunnya...”
Aku melihat pada orang suruhan Rio itu, lalu tersenyum dan
kemudian beranjak ke ruang ganti.
Setelah merasa telah rapih dengan pakaianku, aku keluar dan
ternyata Rio sudah ada di sana, menggunakan tuxedo berwarna silver dan pakaian lainnya yang senada.
Ya Tuhan... betapa beruntungnya aku mendapatkan calon suami setampan itu, walau
agak aneh dan selalu membuatku sakit hati dengan ucapan-ucapan dinginnya.
Aku membalas senyuman Rio yang tersenyum ke arahku, aku
mendekatinya dengan gugup karena Rio menatapku dari ujung kaki hingga ke ujung
kepala, menilai. Dia nampak mengerutkan keningnya.
“kenapa rambutnya di angkat begitu? Kenapa
tidak di gerai saja?”
“ya ampun tuan, biar terlihat
lebih glamour dong, masa calon
istrinya milyader berpenampilan biasa saja?”
Penata rambutku menjawabnya sambil membereskan meja bekas
meriasku. Aku duduk di samping Rio yang tiba-tiba mengalihkan pandangan dariku.
Ihh... kenapa sih dia? Selalu saja seperti itu! Apa aku jelek? Sudahlah
terserah dia saja.
“oke, kalau begitu terimakasih...
uangnya sudah aku transfer ke rekening kalian”
Orang-orang yang tadi bergantian mendadaniku mengangguk, aku
mengalihkan pandanganku pada Angel yang sibuk dengan gadget-nya. Ck. Bapak dan anak sama saja! Penggila gadget.
“An, mau berangkat sama siapa?”
Rio bertanya pada Angel, Angel tersenyum kecil.
“sama Oom Irshad aja deh, Papa
sama Mama berdua aja”
Aku terkekeh melihat kerlingan nakal dari Angel, apa
maksudnya? Heuh... apa Rio tidak mengajarkan agar dia berprilaku layaknya anak
biasa?
“yuk berangkat”
Aku mengangguk kemudian berjalan beriringan dengan Rio,
sementara Angel telah berangkat dengan Irshad.
“lho? Mobil kamu mana? Masa kita
jalan kaki sih?”
Aku menatap Rio yang tersenyum. Senyumannya itu Tuhan...
sabarkan aku menghadapi orang ini. terus berkata dingin membuatku kesal dan
sakit hati. Tapi, bersikap begini juga membuat aku merasa ada yang aneh dalam
diriku. Beberapa hari ini dia memang terlihat banyak tersenyum dan membuat
hatiku benar-benar di buat melambung. Hhh.... semoga ini pertanda baik.
“tuh”
Aku dan Rio berjalan ke arah mobil rolls-royce berwarna
hitam. Tuhkan... lelaki ini memang menggilai hal-hal yang mewah. Bisa ku
perkirakan harga mobil ini di atas Tiga Belas Milyar.
“kemana ferrary merahmu?”
Aku bertanya begitu telah memasuki mobil itu.
“ada, aku hanya ingin memakai
mobil ini. aku rasa baru memakainya beberapa kali saja”
Dia terlihat fokus menyetir, dan wajahnya kembali terlihat
datar dan dingin. Hhh...
Aku mengalihkan pandanganku melihat kaca samping mobil ini,
pemandangan malam kota ini tidak terlalu buruk. Meskipun macet dimana-mana.
“apa kemacetan itu lebih menarik
daripada aku?”
Hah?! Apa? Apa yang dia katakan tadi? Aku perlu mendengarnya
satu kali lagi.
“ma..maksudnya?”
Dia terlihat berdecak, kebiasaannya beberapa hari ini.
“tidak. Lupakan!”
Hhh... dasar aneh! Aku menatap kakiku yang terbingkai sepatu
hihgheels bling-bling berwarna silver, kata orang di salon tadi, yang
memilihkannya itu Rio. Dari mulai gaun, sepatu dan tas tanganku. Niat sekali
dia ingin menularkan kebiasaan bermewah-mewahnya.
***
Aku mengamit tangan Rio begitu memasuki gedung tempat dimana
resepsi pernikahan Gabriel dan Ify di laksanakan. Banyak sekali yang menyapa
Rio, tapi dia menanggapinya dengan senyuman tipis saja, begitupun aku.
“Agni... akhirnya dateng juga”
Ify memelukku begitu aku berhadapan dengannya, beberapa hari
di rumah tanpa kehadiran Ify memang sangat sepi tapi untunglah selalu ada Angel
dan Rio yang selalu datang ke rumahku tiap malam. Aku membalas pelukkannya
sebentar.
“selamat ya... semoga kalian akan
sama-sama terus sampai hanya ajal yang memisahkan”
“thank you sayang...
ngomong-ngomong kamu kenapa serasi banget
sama boss kecemu itu”
Aku melirik Rio yang sedang berbincang dengan Gabriel, aku
menghela nafas panjang. Kemudian menarik lengan Rio.
“Rio”
Rio berbalik padaku kemudian merangkul pundakku dengan
lembut.
“apa sayang?”
Aku tersenyum tipis kemudian mengalihkan pandanganku pada
Ify yang menatapku dan Rio dengan takjub. Matanya membelalak tanda kekagetan.
Aku menatap Rio kembali.
“undangan untuk Gabriel dan Ify
di bawa?”
Rio mengangguk, kemudian mengedarkan pandangannya entah mencari
siapa.
“Irshad”
Angel berlari ke arahku dengan di belakangnya di ikuti
Irshad.
“Ma... aku cari dari tadi...”
rengeknya.
Aku terkekeh melihatnya, kemudian mengelus puncak kepala
Angel.
“An juga tadi di cariin Mama, oya... udah kasih
selamat belum buat Oom Gabriel sama tante Ify?”
Angel terlihat menggeleng, kemudian menatap Ify dan
tersenyum padanya.
“hai tante, selamat ya...”
Ify tersenyum kecil kemudian mengelus pipi Angel gemas,
“terimakasih cantik, nama kamu
siapa?”
“aku Angel tante... salam kenal”
Aku tersenyum melihat Angel yang terkekeh begitu lucu,
kemudian aku menatap Rio yang menenteng undangan pernikahan aku dan dia. Aku
meraihnya tanpa permisi membuat Rio menengok dan menatapku sejenak.
Aku menghela nafas panjang, ternyata aku bukan hanya di
kalahkan oleh gadget, tapi oleh
temannya juga. Aku rasa dia lebih mementingkan berbicara dengan temannya
daripada aku. Aku benar-benar kecewa kepadanya. Atau mungkin aku yang terlalu
berlebihan? Karena tadi dia membuatku lega karena ketidak cuekannya dan
sekarang aku lantas tidak menerima dia mengabaikan aku lagi. Hhh...
“Agni”
Ify menepuk pundakku, aku tersenyum getir begitu berhadapan
dengannya. Kemudian memberikan undangan yang ku rebut tadi.
“ini”
Ify menerimanya, kemudian memutar-mutar undangan itu.
Mungkin mencari identitas orang yang akan menikahnya. Aku yakin Ify tidak dapat
menemukannya karena di ruangan seterang ini kristal itu begitu berkilau
sehingga ukiran nama yang memang timbul di kristal tersebut tidak dapat
terlihat.
“ini dari siapa?”
Hhh....
Aku kira dia bisa menyimpulkan sendiri.
“dari aku dan Rio”
“HAH?!”
Rio, Gabriel dan Irshad terlihat mengalihkan pandangan dari
pembicaraannya pada Ify.
“tante Ify heboh banget sih”
Aku tersenyum geli mendengar ocehan Angel, dia berkacak
pinggang tanda kesal. Dia memang tidak suka ada orang yang histeris begitu.
“Ify sayang, kenapa? Ada masalah
ya?”
Ify memberikan undangan itu pada Gabriel tanpa berkata
apapun.
“well, minggu depan aku dan Agni
menikah”
Aku merasakan sebuah tangan melingkar di pinggangku.
Astaga... Rio agresif sekali. Tak beda dari Ify, Gabriel pun membelalakan
matanya. Apa pernikahanku dan Rio semengejutkan itu?
“Rio... aku tidak menyangka
ternyata kamu akhirnya menikah juga”
Aku menatap Gabriel heran, bukannya ini pernikahan kedua Rio
ya? kenapa tanggapannya seperti Rio tidak pernah menikah saja?
Rio nampak tersenyum samar, sementara Angel tidak melakukan
hal yang aneh-aneh. Dia hanya diam saja menyimak pembicaraan kami.
“An... An pulang ya? ini udah
malem, di rumah juga ada Oma kok”
Oh God. Mamanya Rio datang lagi?
Setelah kejadian waktu perdebatanku dan Rio di kantor, tante
Amanda memang tidak terlihat lagi. Malah, aku bertemu Papanya Rio pun, tante
Amanda tidak datang.
Aku sedikit takut sekaligus sakit hati terhadapnya. Karena
aku terus saja di samakan dengan almarhum istrinya Rio, walaupun aku tidak tau
rupa wanita itu tapi aku yakin aku dan dia sangat mirip. Melihat tanggapan
tante Amanda yang selalu menyama-nyamakanku dengannya.
Aku melihat Angel berlalu dari tempat ini bersama Irshad,
setelah itu aku menghela nafas panjang. Apakah aku harus bertemu dengan Mamanya
Rio lagi? Jujur saja, aku belum bahkan tidak siap.
Aku terus berusaha mengatur nafasku.
Rio menatapku sekilas, ia merangkul pundakku agar merapat
padanya.
“Agni, kamu kenapa?”
Aku menggeleng, aku menghela nafas lagi.
“hanya tidak siap bertemu Mamamu”
Rio terlihat menghembuskan nafas berat, dia menghadapkan aku
padanya.
“Agni, Mama hanya belum bisa
menerima kamu sebagai Agni. Dia belum cukup mengenal kamu, sabarlah”
Rio menarikku dalam dekapannya, aku membalas pelukkan itu.
Mengangguk pelan.
“aku benar-benar takut pada
Mamamu, dia sangat penuh selidik dan dia begitu mengintimidasi Rio”
Aku berucap dengan masih memeluknya. Aku merasakan Rio mengelus
punggungku. Dan untuk ke sekian kalinya aku mendengar debaran jatung Rio.
Kenapa lelaki ini? apa dia memiliki riwayat penyakit jantung?
Tapi jujur saja, ini benar-benar membuatku nyaman. Aku
begitu merasa di sayangi oleh Rio. Aku merasa ada sesuatu yang berdesir di
dadaku, membuat relung-relung kosong menghangat, entah kenapa aku sangat nyaman
dalam posisi ini. Aku merasa enggan untuk melepaskannya. Rio yang dingin
sekarang menjadi sangat hangat. Hhh...
“sudah, ini pesta orang lain. Jangan
menangis disini”
Aku melongos, baru juga beberapa detik yang lalu dia ku
sebut hangat tapi sekarang? Dingin lagi! Aku menjauhkan diriku dari Rio,
berdiri agak menjauh dari lelaki aneh itu! Aku benar-benar kesal padanya!
Argh... awas saja kamu Rio, aku jutekkin baru tau rasa kamu!!!
Tiba-tiba aku merasakan sebuat tepukkan di bahuku. Aku
berbalik melihat pada orang yang menepuk pundakku itu.
Astaga! Matilah aku....
“Agni... ternyata kita bertemu
lagi di sini”
Aku tersenyum kaku, kemudian ku lirik Rio dengan ekor
mataku. Terlihat jelas rahangnya mengeras. Apa yang harus aku lakukan? Ohh
Tuhan... tolonglah.
“Agni, are you oke?”
“Mama...”
Aku melihat Angel berjalan cepat ke arahku, aku melirik Rio
yang tengah sibuk dengan ponselnya. Apa dia sebegitu tidak pedulinya padaku?
Sampai lebih memilih menyibukkan diri dengan ponsel daripada aku. Aku berharap
dia akan memarahi Cakka dan bilang kalau dia adalah calon suamiku! Tapi
kenyataanya? Hm... ayolah Agni, jangan terlalu banyak berharap pada Rio.
“dia, putrimu Agni?”
Aku bukan tidak mendengarkan perkataannya, aku hanya malas
menanggapinya. Aku tidak mau kalau Angel atau Rio marah padaku.
Aku mengelus puncak kepala Angel, aku mengangguk pada Irshad
yang terlihat meminta maaf.
“An... kenapa kesini lagi?”
Angel menatapku sambil berkacak pinggang, dia menarik Rio
agar mendekat ke arahku. Kemudian menatap Cakka dengan pandangan tak suka.
Aku menghela nafas panjang, jadi benar apa kata Rio dulu?
Kalau Angel tidak menyukai Cakka?
Kenapa waktu itu aku bodoh sekali dengan berharap bahwa Rio
lah yang tidak menyukai kedekatanku dengan Cakka? Aduh Agni... sudahlah jangan
terlalu berharap banyak pada Boss-mu
ini, dia pasti hanya ingin membahagiakan Angel.
“denger ya Oom, jangan ganggu
Mama An!!! Kalau Oom ganggu terus, Oom berurusan sama bodyguardnya An!”
Cakka terlihat terkekeh kecil, dia berjongkok menyamakan
tingginya dengan Angel. Kemudian mengelus puncak kepala Angel.
“lucu banget sih kamu”
Angel memasang wajah dinginnya, aku melirik Rio yang
melakukan hal sama. Hhh... ternyata sifat Rio turun dengan dominan pada Angel,
mereka berdua mirip sekali kalau seperti ini.
“Rio...”
Aku menarik sikut Rio, kemudian memeluk lengan itu. Aku mau
tau apa yang akan di lakukannya kalau aku begini. Aku mendekatkan diri pada
Rio.
“jangan marah...”bisikku
Rio menatapku kemudian mengangguk pelan setelah itu
mengalihkan pandangannya kembali. Aku mengecup pipinya sebentar kemudian
melepaskan pelukanku di tangannya. Aku benar-benar bingung dengan sikap Rio,
benar-benar sulit untuk di tebak. Hm... aku melihat ke arah Angel yang masih
menatap Cakka tajam.
“denger ya Oom! An itu gak akan
bisa di gombalin! Udah kebal sama gombalan Papa.”
“Ehh... kenapa An malah ngobrol sama Oom
ini...”
“Oom, dengerin ya... apa yang An
bilang itu beneran! Jangan ganggu Mama!”
Aku terus memandangi Angel yang sibuk mengomeli Cakka, aku
tersenyum kecil melihat tingkah Angel. Apalagi saat Cakka mengecup kening
Angel, pipi Angel langsung merona merah dan langsung berlari ke arah Rio.
“Papa... Oom itu nyium
An”rajuknya
Rio dan Cakka saling berpandangan, Rio menatap Cakka begitu
tajam sementara Cakka hanya menanggapinya dengan santai saja.
“sayang... tuh Gabriel manggil...
dansa yuk”
Rio beralih menatapku yang memotong acara saling tatap itu.
Aku memang takut kalau Rio sedang menajamkan pandangannya, seperti bukan Rio
yang ku kenal.
Angel berlari ke arah Irshad dan aku rasa mereka mungkin
sekarang benar-benar pulang.
Sementara itu aku da Rio berjalan ke arah Gabriel dan Ify
yang sedang berdansa.
“dansa? Hhh...”
Aku bergumam, aku agak ragu. Bukan karena tidak bisa, tapi
aku takut Rio tidak mau. Aku meliriknya yang sedang menatapku dengan bingung.
Aku merasa jantungku terlonjak begitu merasakan tangan Rio
merangkul pinggulku agar merapat ke arahnya, dengan refleks aku menyimpan
tanganku di dadanya. Tapi setelah bertatapan cukup lama aku segera memindahkan
tanganku, melingkar di lehernya.
Rio tersenyum tipis namun mampu mengobati rasa kesalku
beberapa saat lalu, aku merebahkan kepalaku di dada bidangnya. Dan seperti
biasa selalu terdengar debaran jantung Rio,
“Rio, jantungmu berdebar begitu
cepat... apa ada masalah?”
Rio terlihat datar, dia menghela nafas panjang. Apa aku
salah bicara lagi? Ya tuhan... aku merasa serba salah kalau begini. Sebenarnya
kata apa dan perlakuan seperti apa yang bisa membuatnya jauh dari sikap dingin
dan perkataan datarnya?
“maaf...”
Aku berujar, kemudian memeluk Rio kembali sebelum lelaki ini
marah kembali padaku.
***
Jam dua belas malam aku baru sampai ke rumah, aku merasa
begitu lelah sekarang. Aku melirik Rio yang menyandarkan punggungnya di sofa
ruang tamu. Aku yakin, dia juga pasti lelah.
Aku mendekatinya dan duduk di sampingnya.
“Rio... kenapa masih disini?
Tidak pulang?”
Rio tidak bergeming, dia masih memejamkan matanya. Apa dia
tidur?
Aku mengguncang lengannya pelan.
“Rio...”
“apa pertanyaan seperti itu
pantas di lontarkan untuk seorang calon suami?”
Tubuhku menegang, aku begitu terkesiap mendengar ucapannya.
Dia membuka matanya lalu memandangku, aku bergidik ngeri menatapnya.
“kamu boleh tidur di kamar depan,
aku mau mandi dulu”
Aku berjalan meninggalkan ruang tamu dengan cepat. Terlalu
lama berdekatan dengan dia hanya bisa membuat jantung dan hatiku histeria.
Setelah melepaskan heels-ku, aku
beranjak beranjak ke kamar mandi.
Setelah beberapa saat aku keluar dan betapa kagetnya aku
melihat Rio yang sedang duduk bersandar di kepala tempat tidurku, dia juga
telah membuka tuxedonya, hanya menyisakan celana panjang saja. Aku segera masuk
ke dalam ruang ganti. Astaga! Apa yang akan dia lakukan? Apa dia tidak berpikir
kalau aku akan merasa risih kalau dia ada di situ? Apalagi dengan telanjang
dada seperti itu. Walaupun aku mencintainya, hm... menyukainya aku tidak akan
pernah mau ‘melakukan itu’ sebelum aku dan dia benar-benar sah menjadi suami
istri.
Aku memeriksa pakaianku. Oke baguslah, tertutup. Dengan
segera aku keluar dari ruang ganti.
“aku mau tidur disini, apa kamu
tidak keberatan?”
Hhh... aku mengangguk lemah, segera aku menuju meja riasku
untuk sekedar merapihkan rambut.
“tidurlah, aku akan tidur di kamar
Ify”
Dia terlihat setuju, akupun segera keluar dari kamarku dan
menuju kamar Ify. Kemudian menguncinya, aku bukan berprasangka buruk padanya,
tapi jaga-jaga. Jaga-jaga dengan berprasangka buruk tentu beda bukan?
***
Tanpa terasa hari demi hari berlalu begitu saja. Benar apa
kata orang tua kalau kita merasa bahagia waktu itu pasti akan terasa lebih
cepat, dan itulah yang aku rasakan. Setelah malam itu aku dan Rio tidak
berselisih lagi walau pemberitaan di luar semakin gencar mencari tau tentang
hubunganku dengan Cakka yang tak kunjung ada konfirmasi. Aku juga heran kenapa
Cakka tidak mau mengkonfirmasinya, dan dengan terpaksa aku turun tangan.
Disinilah aku sekarang, duduk di hadapan banyak wartawan bersama Rio.
“saya mengumpulkan kalian hanya
untuk memberitaukan perihal pernikahan kami yang akan di adakan lusa, saya rasa
itu cukup jelas dan tidak perlu ada hal yang harus di konfirmasi lagi”
Aku menghela nafas panjang setelah mengatakan itu. Aku
berharap mereka berhenti bertanya tentang masalah pribadiku, tapi ternyata
dugaanku salah. Mereka malah dengan gencarnya memberondong pertanyaan hingga
jauh dari yang ku bayangkan.
“apa ini hanya sebagai sandiwara
yang akan melepaskan anda dari jerat gosip ini?”
Aku menghala nafas kembali, kemudian menatap Rio yang
terlihat kesal.
“apa pernikahan hal main-main
untuk di jadikan sandiwara? Kalau kalian tidak percaya, saya mengundang kalian
datang ke acara pernikahan kami. Nanti siang undangannya akan saya sebarkan ke
kantor kalian masing-masing”
Aku menatap Rio takjup, Rio mengudang wartawan ini? oh
God... ceroboh sekali kamu Rio.
“saya kira sudah cukup ya? kami
masih banyak urusan yang belum terselesaikan. Terimakasih dan sampai jumpa”
Rio segera menarikku setelah berkata demikian, aku hanya
menuruti apa kata maunya saja daripada harus berdebat. Begitu memasuki
rolls-royce nya dia baru tersenyum begitu hangat padaku.
“maaf ya, aku mengundang mereka.
Aku hanya bosan mendengar ocehan mereka”
Aku tersenyum kemudian mengangguk.
“kamu jangan sedingin itu lagi ya
di depanku?”
Beberapa hari melihatnya bersikap hangat membuatku
benar-benar mabuk kepayang dan enggan untuk melihat kembali bagaimana dinginnya
Rio. Aku sangat senang dengan Rio yang hangat ini, walaupun belum mengatakan
cinta, sayang atau suka aku tidak peduli. Yang penting dia bersikap hangat
padaku, bagiku itu sudah cukup.
Aku dan Rio memasuki kediamanku, pintunya kenapa terbuka?
Apa Ify kembali kesini? Tapi itu tidak mungkin... lalu aku mengedarkan
pandanganku dan mendapati seorang lelaki yang sedang berjalan dari arah dapur.
Aku tersenyum senang.
“Ray.... miss you sayang”
Aku memeluknya erat, beberapa bulan tidak bertemu membuat
rasa rinduku menjad akut.
Aku berbalik ke arah Rio yang sedang memandangku begitu
tajam, astaga... kenapa lagi? Aku menarik Ray pada Rio.
“Ray kenalin ini...”
“aku Rio, calon suaminya Agni”
Aku keget melihat reaksinya, ucapannya tidak tajam. Bahkan
dia terlihat begitu bersahabat dengan mengulurkan tangannya. Ray membalas
jabatan tangan Rio.
“Ray”
“kenapa udah ada calon suami aja?
Kok gak bilang-bilang?”
“baru juga mau bilang, kamu sibuk banget sih”
Aku mengalihkan pandanganku pada Rio kembali, wajahnya muram
dan sebentar lagi pasti akan ada ledakan kemarahannya.
“Rio, ini kembaran aku... dia
baru pulang dari Jerman”
Rio menarik ujung bibirnya, mungkin lega karena ternyata Ray
hanya saudaraku.
Setelah itu mereka berdua nampak akrab dengan membicarakan
berbagai hal tentang hobby dan pekerjaan.
Aku dengar Rio memberikan kepercayaan buat Ray mengurus
perusahaannya yang di sini juga.
Aku tersenyum kecil membayangkan betapa malunya dia cemburu
pada kembaran calon istrinya sendiri. Haha... Rio... Rio...
***
Setelah acara pernikahan tadi siang, sore harinya langsung
di adakan resepsi.
Aku begitu bahagia karena acara pernikahanku begitu lancar,
tidak ada kesulitan apapun. Tanpa ku sangka, ternyata pernikahanku juga di
siarkan di televisi secara live. Ada-ada saja pemburu berita itu.
Saat ini aku dan Rio sedang berganti pakaian untuk melakukan
photo pernikahan kami, ini sudah ketiga kalinya aku dan Rio berganti pakaian.
Belum lagi nanti pas resepsi.
“Mama cantik banget Pa...
iyakan?”
Angel menarik ujung jas Rio.
Aku terkekeh geli melihat aksi lucu anak itu, apalagi Rio
yang terlihat salah tingkah karena Angel memaksa Rio untuk menjawab pertanyaan
tadi. Rio... aku sangat mencintaimu, andai saja aku bisa mengucapkan ini
padamu. Hhh...
Aku berjalan mendekati Angel sambil memegang gaunku yang
terseret.
“udah An, kasian Papanya... yuk
kita foto-foto lagi”
Aku tersenyum pada Rio, dia membalas senyumanku dengan
hangat. Salah tingkahnyapun aku rasa sudah menghilang lagi. Aku merasakan Angel
menarik tanganku, aku menatapnya.
“ayo foto, sekarangkan An
ikutan...”
Aku mengelus puncak kepala Angel, lucu sekali kalau dia
bermanja-manja seperti ini. hhh... aku rasa aku sudah ingin mendapatkan putra,
buah cintaku dengan Rio. aku menatap Rio yang ternyata sedang menatapku,
seketika aku menunduk. Aku benar-benar malu jika di tatap seperti itu.
“masih saja malu-malu kalau di
tatap seperti itu”
Aku menyenggol tubuh Rio, aku benar-benar malu sekarang. Rio
terdengar tertawa kecil melihat tingkahku.
“Rio ihh....”
Aku kesal sekaligus malu padanya. Dia ini memang senang
sekali ya menggodaku?
Hm...
Rio merangkul pinggangku, aku menatapnya sekilas kemudian
menarik tangan Angel agar mengikutiku.
***
Aku dan Rio saling bertatapan dalam posisi duduk di atas
tempat tidur pengantin kita, Rio mengigit sebuah stick makanan ringan sangat
kecil tapi cukup panjang.
“Mbak gigit ujung yang satunya
lagi”
Aku meneguk ludah dengan sukar. Rio terlihat menatapku
dengan nakal. Aku melongos, ternyata sidat penggoda Angel turun dari Rio ya? ya
Tuhan... semoga anakku nanti tidak seperti Rio.
Aku mendekatkan diri pada Rio ragu, setelah mulai dekat aku
merasa Rio menarikku dengan tidak sabar hingga jatuhlah bibirku tepat di atas
bibirnya.
Hah?! Aku menahan nafas cukup lama, duh... sensasi apakah
ini, aku benar-benar merasa aneh sekarang. Hingga aku merasakan Rio menjauhkan
wajahnya dari wajahku.
“oke bagus, photonya cukup sampai
di sini saja”
“oke, terimakasih... honornya
sudah saya transfer ke rekening anda”
“sip Boss, senang bekerja sama
dengan boss. See you and long last...”
Aku mendengar deru jantungku begitu cepat. Ohh God, kenapa
susah sekali mengaturnya? Aku memejamkan mataku sejenak kemudian menghembuskan
nafas berat, agar mengurangi rasa gugupku.
“udah, keluar yuk kita makan
siang... setelah itu kita ke tempat resepsi”
Aku menatap Rio lalu mengulurkan tanganku padanya, jujur
saja aku memang susah berdiri karena gaun yang terlalu panjang ini. kalau tidak
berhati-hati takutnya malah terjatuh. Lagian Rio kenapa sih? Gaun aja kayak di
kerajaan, mewahnya itu lho... kebangetan.
***
Setelah acara keluarga di rumah, aku dan Rio menuju tempat
resepsi kami. Aku melihat ke belakang mobil kami. Ternyata banyak sekali yang
mengikuti, aku dapat melihat tepat di belakang mobilku ada Angel bersama Ray dan
Irshad. Aku senang melihat ke akraban Ray dengan Angel, Angel sangat menerima
kedatangan Ray. Apalagi kalau bukan gara-gara ganteng? Hah... anak kecil jaman
sekarang... sudah bisa membedakan mana yang ganteng atau enggak.
“kenapa?”
Aku mengalihkan pandanganku pada Rio, kemudian tersenyum. Hhh...
aku rasa tidak akan bisa melepaskan senyuman untuk hari ini, aku benar-benar bahagia.
“aku seneng aja, ternyata Angel
menerima kedatangan Ray”
Rio nampak terkekeh, tangan kanannya mengelus pipi kiriku
dengan lambut.
“iya, aku juga seneng dengan
adanya dia pekerjaanku ada yang menghendle sementara. Kamu tau? Ray jadi
primadona baru di kantor... haha”
Aku membulatkan mataku, benar-benar kaget.
“masa sih? Perasaan Ray biasa aja
deh”
Rio mengangkat bahunya, masih dengan tertawa kecil.
“kata sekertarisku, setelah kabar
aku akan menikah dengan kamu menyebar semua stafku itu jadi malas-malasan
bekerja, mungkin patah hati. Tapi setelah kedatangan Ray, semuanya kembali lagi”
Aku ikut terkekeh mendengar cerita yang di sampaikan Rio.
apa iya sampai segitunya?
Aku tidak heran sih kalau staf-staf Rio patah hati, tapi
kalau bangkit lagi gara-gara Ray? Astaga... apa pesona kembaranku ini
benar-benar kuat? Ckckck.
Tanpa terasa aku dan Rio sampai di tempat resepsi. Acara resepsiku
tidak berbeda jauh dengan Gabriel dan Ify, yang berbeda hanya tingkat
kemewahannya dan tempatnya saja, kalau mereka memboking gedung, kami memboking
sebuah hotel berbintang. Apalagi saat aku sadar kalau ternyata gaunku bertabur
berlian, meskipun tidak menyeluruh di pakaianku. Hhh... gimana sih Rio ini?
katanya tidak memesan pakaian yang seperti ini. tapi nyatanya?
Padahal saat fitting baju pun bajunya tidak seperti ini.
Banyak sekali tamu yang datang, sampai aku merasa tubuhku lelah
karena harus menyelami mereka satu-persatu. Aku merangkul pinggang Rio mencari
penyangga, aku rasa Rio menengok ke arahku kemudian mambalas rangkulanku.
“acaranya sampai kapan? Aku capek”
Rio mengelus-elus pinggangku dengan lembut, kemudian
mengecup puncak kepalaku.
“kalau kamu capek, kamu istirahat
saja di kamar”
“kamu masih mau disini?”
“tamunya masih banyak Agni,
setengah jam lagi aku menyusul”
Akhirnya aku menganggukkan kepalaku dan berlalu dari
keramaian menuju kamarku dan Rio.
Begitu aku sampai di kamar, aku mendudukan diriku di depan
cermin untuk membersihkan make up ku.
Aku melirik ponselku yang berdering. Siapa yang mengirim pesan? Nomor baru...
Agni, suami kamu itu GAY!
Aku menutup mulutku kaget, kemudian melanjutkan membaca
pesan itu. Meskipun dengan tangan yang mulai bergetar dan air mataku mulai
menetes.
Kalau kamu tidak percaya lihat malam ini, apa dia bisa menyentuhmu
sesuai kewajibannya?
Aku yakin tidak!
Ingat Agni, suami kamu itu GAY. GAY!!!
Ya Tuhan... cobaan apalagi ini? Setelah berhasil meyakinkan
Mama Amanda, kenapa sambutan di pernikahanku seperti ini? apa benar Rio itu
gay? aku menikah dengan seorang gay? Tuhan... apa yang harus aku lakukan? Apa yang
harus aku perbuat kalau ternyata suamiku itu benar-benar gay?
Aku lebih ikhlas kalau Rio itu playboy! Daripada aku harus
menghadapi kenyataan bahwa dia seorang gay!
Aku benar-benar bingung Tuhan.... berikan aku petunjuk...
Sekarang aku merasa impianku hidup bersama Rio dengan
bahagia itu hancur berantakan, hingga berkeping-keping dan tak bersisa untuk di
satukan kembali.
***
Bersambung...
No comments:
Post a Comment