“Tuhan
tidak mungkin menciptakan makhluknya dengan sama...”
Bab 3
Aku menghempaskan tubuhku ke atas pembaringan. Ya Tuhan...
ada apa dengan jantungku? Kenapa detakkannya begitu cepat? Hatiku juga mendadak
menghangat semenjak melihat tengkuk Agni yang putih, bersih dan ehm menggoda
itu pikiranku tidak pernah bisa konsentrasi. Padahal sekertarisku terus saja
mengoceh di tablet dengan mengirimkan file-filenya. Agni... Agni... kenapa nama
itu bisa mirip dengan dia? Wajahnya... tubuhnya... pakaian milik dia pun sangat
pas di tubuh Agni.
Tunggu! Sejak kapan aku tertarik pada wanita? Wanita yang
ribet, membingungkan, banyak maunya, dan terakhir. Matrealistis! Aku mengambil
ponselku yang sedari tadi hanya menghuni saku celana boxerku.
“saya minta beberapa credit
card unlimited, besok antar ke
kantor saya”
***
Pagi ini aku hanya duduk di ruang keluarga menunggu Angel
yang tak kunjung keluar dari kamarnya. Kenapa lama sekali? Kalau denganku cukup
Dua puluh menit, dan Angel sudah rapih plus kepangan atau ikatan rambut
lainnya. Begitu aku hendak menyusul Angel ke kamarnya tiba-tiba terdengar
sahutan dari luar.
Oh God, ada apa lagi sih pagi-pagi udah dateng ke sini?
“Mom, tumben pagi-pagi kesini?”
Aku menghampiri Ibuku yang berjalan begitu anggun memasuki
kediamanku, aku memang memutuskan untuk membeli rumah sendiri karena bosan
dengan ocehan Mama yang selalu menuntut segera menikah dan cucu. Padahal jelas
sekali Angel juga cucunya.
“cuma mau liat Angel aja, mana
dia? Tumben gak nyantol sama kamu?”
Ibuku terlihat
celingukan, aku cuma bisa menghela nafas panjang. Tapi tunggu, Angel... astaga!
Kenapa aku melupakan Agni? Aduh... gawat!
“Oma...”
Aku segera melihat ke arah sumber suara, ternyata Angel baru
keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah rapih.
“aduh cucu Oma udah cantik, di
dandanin siapa sih?”
Mama berjongkok menyejajarkan tubuhnya dengan Angel. Aku
melihat Angel menunjuk-nunjuk ke arah kamarnya dan keluarlah Agni dengan
menggundakan celana panjang hitam, sepatu hitam, baju biru dan blazer putih.
Aku tersenyum kecil, ternyata pilihanku tidak pernah salah.
“Agneta”
Aku menatap Agni yang terlihat terkejut mendengar suara
Mama, dia meraih jasku yang aku sengaja sampirkan di sandaran kursi, setelah
itu aku menatap Mama yang menatap Agni
begitu intens. Agneta? Iya... Agni memang mirip sekali dengan Agneta, Mama
kandung Angel.
“Mario... dia...”
“bukan Ma, dia Agni. Calon
istriku”
Aku tau dalam pikirannya pasti membayangkan Neta yang hidup
kembali.
“apa? Bahkan kamu belum
mengenalkan dia Mario!”
Aku berdecak, sedikit melirik Agni yang terlihat bingung
namun masih terpaku di tempat.
“sayang... sini”
Sayang? Hahh... aku rasa sudah gila, aku menyebut seperti
itu hanya pada Angel, dan terasa sangat aneh jika panggilan itu di berikan
untuk orang lain.
Aku lihat Agni mendekat dengan ragu.
“Agni, ini Mamaku... tadinya aku
mau mengajakmu ke rumah nanti malam, tapi ya... sudahlah”
“Agni”
Aku melihat ada gurat kegugupan saat mengulurkan tangannya
pada Mamaku. Apa Mamaku semenyeramkan itu?
Mama membalas uluran tangan Agni.
“Amanda”
Aku menarik tangan Agni,
“Ma, aku bernagkat dulu ya... An,
mau berangkat sama Papa?”
“enggak ah...”
Aku mengalihkan pandanganku pada Mama yang ternyata masih
menatap Agni dengan begitu intens, sebenernya ada apa sih sama Agni? Perasaan
biasa aja deh. Hhh... aku juga mulai kasihan pada gadis itu, dia terlihat
begitu malu.
“yaudah, Mama mau nginep apa
gimana? Hari ini aku lembur”
“nginep, satu hari”
“yaudah, ayo Agni...”
Aku mulai beranjak, aku melihat Agni yang sedikit
menundukkan kepalanya pada Mama.
***
Perjalanan menuju kantor terasa begitu sepi, padahal aku di
dalam mobil ini bertiga dengan sopir. Aku melirik Agni yang seperti biasa,
sibuk melihat jalanan yang macet. Ya tuhan... apa jalanan macet itu begitu
menarik? Apa ketampananku begitu kurang baginya? Padahal seluruh stafku akan
terus menatapku kalau sedang berada di dekat mereka, tapi dia? Dia ini gak
normal kali ya? Sudahlah...
Lebih baik aku kembali pada gadgetku yang terabaikan
beberapa saat.
Ternyata ada panggilan masuk dari Irshad.
“iya Sha, kenapa?”
“non Angel, tiba-tiba melemparkan tabletnya dan dia sekarang tidak mau
ke sekolah”
“apa yang dia mau?”
“mau bertemu tuan, tapi tidak mau bertemu nyonya Agni”
“yasudah, bawa dia ke kantorku”
Kenapa dia?
Aku menatap Agni yang ternyata sedang menatapku dengan
pandangan penuh tanya. Aku mengalihkan pandanganku pada gadgetku kembali.
“kamu melakukan apa pada Angel?”
Dia terlihat gugup dan berpikir keras, aku meraih paper bag yang ada di kursi depan lalu
menyerahkannya pada Agni. Aku rasa aku tidak butuh jawaban gadis aneh ini.
“pakai ini, aku sudah mengcopy
semua file penting yang akan di pakai meeting
nanti”
“aku akan memakainya kalau perlu”
Aku tersenyum masam dalam hati saat melihat gadis itu meraih
paper bag yang ku berikan. Aku
melihat sudah sampai di lobby.
“kamu meeting bersama seluruh direksi, aku ada urusan lain”
Aku melihat dia menghela nafas dan sedikit mendengus. Apa
yang dia pikirkan? Kenapa setiap saat dia selalu melakukan itu kalau dekat
denganku? Semembosankan itukah aku?
Aku keluar bersamaan dengan Agni dari mobilku, tunggu... ada
yang ketinggalan.
“Agni. Jasku”
Aku tersenyum kecil melihat Agni mengacungkan jasku yang ada
di tangannya, setelah dia mendekat aku segera meraih jas itu dan memakainya.
Aku heran pada Agni, kenapa dia selalu mendengus dan sedikit menghentakkan
kakinya seperti orang kesal kalau sudah sampai ke kantor.
“kenapa?”
Agni mengangkat wajahnya, kemudian tersenyum padaku.
Senyuman yang cantik... hah?! Apa?! Cantik?! Apa matamu sudah bermasalah Mario?
Aku segera mengalihkan pandanganku dari Agni yang bergumam
kecil. Terlalu lama melihatnya membuat organ-organ pentingku terasa begitu
aneh, apalagi jantungku. Oh God, apa aku harus memeriksakannya?
“Papa...”
Aku berbalik dan melihat Angel sedang berjalan ke arahku,
wajahnya begitu muram saat menatap Agni. Aku melihat Agni yang menatap Angel
dengan pandangan bertanya.
“An... gak kesekolah sayang?”
Agni mendekati Angel, tapi Angel malah berlari ke arahku.
“An...”
Agni memanggil Angel dengan lirih. tanganku dengan refleks
mengelus kepala Agni, kasihan juga kalau
melihat gadis itu memelas seperti itu.
“kamu rapat aja... biar Angel
sama aku dulu”
Agni mengangguk kecil kemudian berjalan menjauh dengan
sesekali melirik Angel. Apa mereka sudah sedekat itu ya?
“Pa... Cakka Nuraga itu siapanya Mama?”
Tatapanku beralih dari Agni pada Angel, putriku terlihat
begitu sedih. Darimana dia tau tentang lelaki itu? Hhh... aku mengangkat tubuh mungil Angel.
Membawanya ke ruangan pribadiku.
“An... An tau Cakka Nuraga dari
siapa?”
Aku memandang Angel yang aku dudukkan di atas meja kerjaku,
apa kabar itu benar-benar benjadi tranding
topic?
“An liat foto-foto Mama yang
katanya sama Cakka Cakka itu Pa! Terus katanya mereka ada hubungan, An gak suka sama dia. An gak mau Mama deketan
sama dia. An gak suka!!!!”
Aku mengelus puncak kepala Angel, dia mengayun-ayunkan
kakinya dengan kesal. Astaga... apa Agni sebegitu berartinya buat Angel?
“tenang aja An, nanti kita bilang
sama mereka... kalau Mama Agni itu calon Mamanya An, Papa yakin kok mereka
pasti gak bakalan gangguin Mama lagi”
Angel mengangguk kecil, kemudian terlihat berpikir. Aku
mengecup pipinya gemas, lucu sekali dia kalau sedang berpikir seperti itu.
“kalo gitu An, berangkat ke
sekolah gih... Papa mau kerja dulu”
“enggak! Udah telah Papa... An
mau disini aja ya?”
Hhh... apa yang bisa aku lakukan saat Malaikat kecilku ini
memelas? Tapi aku tidak bisa membiarkannya tetap disini. Dia pasti akan bosan
dan pada akhirnya marah juga padaku.
“tapi An, nanti An bosen lho...
mendingan berangkat kesekolah ya? biar nanti Papa yang bilang sama Ibu kepala
sekolah kalau An habis ketemu Papa dulu”
“Papa antar...”
Aku sengaja menyela ucapannya sebelum dia mengeluarkan
suara, karena kalau dia sampai menangis aku pasti akan tambah tidak tega.
Fiuhh... untungnya Angel mengangguk kemudian mengulurkan
tangannya padaku, meminta untuk di gendong.
“gadget baru ya Pa...”
Aku tersenyum kecil mendengar bisikan itu. Dasar anak ini...
ckckck
***
Sepulangnya dari mengantar Angel aku kegera memasuki ruangan
meeting. Sayup-sayup aku mendengar
perbincangan di dalam sana.
“lho Bu, kenapa tidak Ibu saja dengan Cakka, ya... bukan apa-apa ya Bu,
Ibu sama diakan sedang panas-panasnya di pemberitaan. Jadi mungkin ada
untungnya juga”
Sial! Ternyata ada yang coba-coba memanfaatkan Agni. Aku
membuka pintu itu tanpa permisi dan ruangan meeting pun jadi sepi.
“maaf saya terlambat”
Aku mendudukan diri di samping Agni yang menatapku takut.
Dia nampak menunduk dan aku lihat dia beberapa kali mengambil nafas berat.
Hey... kenapa dia ini?
“sudah sampai mana meeting kali ini?”
Aku meraih gadget milik Agni, ohh... ternyata mereka sedang
membicarakan pemasaran kaus couple
keluaran terbaru. Pantas saja tadi ada yang sebut-sebut nama lelaki itu.
“tadi kami menyarankan pada Bu
Agni agar mempromosikan kaus couple ini dengan penyanyi Cakka Nuraga, tapi
sejak dari tadi Ibu Agni menolaknya”
Jelas saja dia menolaknya. Kalau sampai menerimanya habislah
kau Agni! Perusahaanku memang merambah di segala bidang, ini hanya ide kecil
yang berawal dari seorang pengrajin industri rumahan mengenai kaus-kaus, aku
mencoba memberi modal untuk pengrajin
itu dan hasilnya ya lumayanlah.
“saya juga tidak setuju, kalian
boleh mencari lagi model manapun. Asal jangan Agni dan penyanyi itu”
Agni terlihat memandangku takjub, entah kenapa. Dia itu
seperti tidak pernah mendengar orang berkata secara dingin, karena setiap aku
berbicara dengan anda seperti itu dia pasti menatap aneh, mendengus atau
kelakuan-kelakuan aneh lainnya.
Meeting kali ini cukup alot, pembicaraan kali ini memang
sangat banyak. Apalagi kemarin aku membatalkan semua janjiku dengan pemimpin
beberapa anak cabang perusahaanku, dan ini di lakukan setiap akhir bulan untuk
mengontrol kestabilan perusahaanku.
Saat jam makan siang tiba, Mama menghubungiku agar
menemuinya di cafe dekat kantorku. Aku mendengus kesal, kenapa wanita yang satu
ini selalu seenaknya sendiris aja sih? Padahal dia tau aku sedang bekerja.
Aku menarik Agni keluar ruangan meeting.
“aku ada janji di luar, kamu
lanjutkan meetingnya. Kalau ada apa-apa tanyakan padaku dan minta bantuanlah
pada sekertarisku”
Lagi-lagi dia menghela nafas, aku dapat melihat gurat
kelelahan di wajahnya. Salahnya sendiri kenapa kemarin malah memancing ke
onaran?
Aku segera pergi begitu mendapat anggukan darinya.
“ke cafe depan Pak”
“nyonya Agni tidak ikut tuan?”
“tidak, nanti kamu tolong bawakan
makanan untuknya dan jangan bilang dariku”
“baik tuan”
***
“Mario”
Aku menengok ke arah sumber suara. Setelah melihat Mama, aku
segera menghampirinya.
“ada apa?”
Tanyaku begitu datar sesaat setelah duduk di kursi hadapan
Mama.
“makanlah dulu”
Ibuku malah dengan santai menyantap makanannya, apa dia
tidak lihat aku sedang ingin buru-buru? Ck. Sudahlah lebih baik aku mengikuti
ke inginannya daripada harus berdebat.
Aku merasakan ponselku berdering.
“iya An, kenapa?”
“maaf Pak, ini saya Dea resepsionis di kantor Bapak, tadi Angel ingin
menemui Mamanya tapi saya tidak tau siapa yang di maksud”
“biarkan dia masuk ke ruangan
meeting, dia mencari Agni”
“HAH?!”
Benar-benar tidak sopan! Aku langsung mematikan sambungan
telepon itu, tidak ada sopan santunnya sama sekali. Padahal jelas-jelas aku ini
atasannya!
“jadi kamu benar-benar mau
menikah dengan dia Rio?”
Aku menatap Mama yang sedang membersihkan mulut dengan tissu
basah, lalu mengangguk kecil karena saat ini aku sedang mengunyah makanan.
“Rio apa kamu tidak sadar? Dia
sangat mirip dengan Agneta! Mama tidak mau punya menantu penggila harta lagi”
Aku menghela nafas berat, begini nih kalau hasil dari
hasudan orang lain. Bisanya menuduh saja.
“Agneta tidak matre Ma, apa lagi
Agni”
“terus saja kamu bela wanita itu”
Hhh... susah memang kalau berbicara dengan seseorang yang
memiliki watak keras seperti Mama ini.
“kapan sih Ma Neta habisin uang
Mama? Bahkan dia di beri credit card saja
tidak pernah berfoya-foya” aku menghela nafas letih.
“yang Rio tau Neta cuma mengambil
uang Mama di bawah nol koma satu persen Ma, mungkin di bawah nol koma nol nol
nol nol nol nol persen! Dia cuma membawa Lima juta perbulan untuk mengobati
Ayahnya yang sakit dan adiknya sekolah! Stop berpikir buruk tentang Neta Ma”
Capek sekali kalau harus berbicara dengan Mama, aku sudah
membicarakan ini lebih dari seratus kali selama Empat tahun ini.
“Agni dan Agneta itu berbeda Ma,
orang yang berbeda dan pasti watak yang berbeda. Kalau sudah tidak ada yang mau
di bicarakan lagi, sebaiknya Rio pergi dari sini... permisi”
Aku melangkah cepat dan lebar untuk menghindari kejaran
Mama, aku kecewa sekali pada Mama. Selalu berpikiran buruk tentang wanita dan
efeknya memang merambah padaku yang menganggap semua wanita itu matre! Tapi aku
yakin... Agni tidak begitu!
***
Aku memasuki ruang kerjaku tanpa minat, aku memang sengaja
tidak masuk ke ruang meeting lagi karena pikiranku sedang kacau. Beberapa kali
aku menghela nafas panjang menghilangkan kesal di hatiku sejak berbincang
dengan Mama tadi. Aku memejamkan mataku sejenak.
“Rio... kenapa?”
Dengan cepat aku membuka mata, melihat Agni berjalan ke
arahku. Dia meraih jasku, aku membukanya kemudian melonggarkan dasi yang terasa
mencekik leherku.
“Angel?”
Aku bertanya dengan mengerutkan kening heran, tumben sekali
Angel mau tidur disini padahal biasanya merengek ingin pulang.
Agni mengangguk sedikit, ia mengambilkan minum yang tersedia
di ruanganku.
“minumlah, kamu kelihatan sangat
lelah”
Aku menyandarkan tubuhku di sandaran kursi kerjaku. Seharian
bekerja memang selalu membuatku lelah, tapi lelah kali ini sungguh berbeda
karena aku merasa ada beban di dalam hati sedangkan biasanya tidak. Aku
menghirup udara dalam-dalam.
“Agni...”
“hm”
Aku membalikan tubuhku saat mendengar gumamannya. Tuhkan...
pasti dia sedang melihat kendaraan macet lagi dari ketinggian kantorku ini. aku
rasa memang benar, aku tidak menarik untuknya. Yang menarik untuknya hanya
jalanan macet! Seorang Mario Arindous di kalahkan pemandangan macet. Sungguh
rekor yang tidak patut di banggakan.
“sejak kapan kamu suka bergumam
seperti itu?”
“sejak kamu selalu mengatakan ‘hn’ pada ku”
Maksudnya? Hey! Itu kebiasaanku, bukan suatu hal yang di
sengaja. Apa dia melakukan itu untuk balas dendam? Ck. Sudahlah kasihan
gadgetku hampir seharian ini aku
anggurkan.
Aku mulai memainkan gadgetku kembali, banyak yang harus di
selesaikan sebelum cuti minggu depan. Secueknya aku, aku juga peduli dengan
pernikahanku yang akan di gelar minggu depan. Ya... meskipun aku tidak
merasakan yang namanya ‘cinta’ padanya, tapi seperti janjiku pada Agneta. Aku
akan membahagiakan Angel semampuku.
“Agni... kamu menangis?”
Sedari tadi aku memang selalu mencuri-curi pandang padanya,
dan betapa terkejutnya aku saat melihat ada air mata mengalir di pipinya. Apa
aku lelaki setega itu? Jujur saja aku ini memang tidak mengerti apa sebenarnya
ke inginan wanita.
“apa aku salah padamu?”
Dia mengusap pipinya kemudian menggeleng pelan. Setelah itu
dia berjalan ke arahku dan berdiri bersandar di mejaku menghadap ke arahku.
“apa kamu memang terbiasa membuat
hati seseorang berlonjak kaget sampai membuatnya terhempas begitu dalam? Merasa
sakit dengan ketidak sengajaan”
Jujur, aku sedikit sulit mencerna perkataannya. Pikiranku
terlalu penuh oleh ucapan Mama tentang penilaian Agni.
“aku... tidak tau”
Aku menatap ke arahnya yang ternyata langsung mengalihkan
pandangannya dariku. Dia terlihat berusaha mengatur nafasnya, aku yakin
sebenarnya itu susah untuk di lakukan.
“sebenarnya aku tadi pergi untuk
menemui Mama yang memaksaku menjelaskan tentangmu”
Agni menatapku tanpa minat, jujur saja aku kecewa dengan
tanggapan itu.
“sepertinya Mamamu tidak
menyukaiku, sebaiknya kamu batalkan saja pernikahan kita”
Aku tersenyum kecil, dengan mudahkah dia menyerah? Aku yakin
dia kurang suka dengan Mama yang menatapnya penuh intimidasi seakan dia
tersangka yang akan di sidang.
“Mama tidak seburuk itu, dia
hanya melihatmu bukan sebagai dirimu”
Agni menatapku dengan penuh tanya, apa yang harus aku
ceritakan? Kalau harus menceritakan Agneta, untuk saat ini belum tepat.
“tuhan tidak mungkin menciptakan
mahkluknya dengan sama... kalau hanya sekedar persamaan pasti ada, tuhan itu
maha segalanya Rio, dan harusnya sebagai wanita berpendidikan Mamamu tau itu”
Aku memandang takjub perkataan Agni, tapi tentu saja bukan
dengan tampang bodoh yang dapat membuatnya tergelak tawa. Aku tetap memasang
wajah datar dan dinginku.
“aku tau, kamu memang berbeda”
Aku menatap dia yang menjauh dariku, aku ingin sekali meraih
tangannya agar dia tetap diam di hadapanku. Aku ingin selalu memandangnya
begitu dekat. Astaga Rio... apa yang kamu pikirkan? Kamu menikahinya hanya
untuk membahagiakan Angel. Bukan untuk saling mencintai!
“oiya, tadi ada kiriman
untukmu... aku sudah menyimpannya di laci mejamu”
Agni duduk di sofa dekat kepala Angel yang terbaring di
setengah sofa itu.
Aku membuka laciku, ternyata credit card pesananku. Cuma... satu... dua... tiga. Apa tiga? Ck.
Kenapa sedikit sekali?
“ini untukmu, ini baru tiga,
untuk yang lain menyusul”
Aku berjalan ke arahnya untuk memberikan credit card itu, aku juga cukup tau
sopan santun sehingga tidak melemparkan benda ini.
“gajiku cukup untuk sekedar
makan, aku rasa tidak membutuhkan itu”
Benarkan dugaanku, Agni memang bukan wanita mantrealistis
seperti apa kata Mama.
“bawalah, kalau tidak suka boleh
kamu buang”
Dengan menghela nafas berat dia menerimanya, aku cukup lega
karena aku yakin suatu saat dia akan membutuhkannya.
Begitu aku hendak duduk di sampingnya aku mendengar bunyi
ponsel Agni. Aku meraihnya dari atas meja.
“siapa?”
Aku menatap Agni sambil memperlihatkan ponselnya, tertera
nomor baru disana.
Agni hanya mengangkat bahunya acuh. Benar-benar istri
idaman, tidak keganjenan pada orang asing yang menghubunginya.
Aku menekan tombol eccept,
sekedar untuk mengetahui siapa yang berani-beraninya menelpon Agni.
“hm... hai Agni... apa kabar?”
“siapa? Saya calon suaminya Agni”
“hah?! Saya... Cakka, Agni nya ada?”
Berani sekali lelaki ini, aku melirik Agni yang sedang
mengelus-elus kening Angel.
“ada perlu apa? Bisa lewat saya”
“mmm... ah tidak, terimakasih. Kalau begitu sampaikan saja salam
dariku, dan jangan lupa save nomor ini, ini nomor pribadiku”
“hn”
Aku mematikan sambungan itu, brengsek sekali lelaki itu.
Sudah tau tadi aku memberitaunya kalau aku ini calon suaminya. Masih saja nekat
ingin mendekati Agni. Aku segera menghapus nomor itu tanpa sepengetahuan Agni.
Kalau bukan karena Angel, aku tidak akan melakukan hal seperti ini. toh
kalaupun Agni juga akan menghapusnya. Aku yakin itu!
“Angel bilang kalau dia tidak
suka melihat kedekatanmu dengan penyanyi itu”
Aku berkata padanya sambil meletakkan ponselnya di atas
meja.
Agni terlihat menghentikan aktifitasnya, kemudian menatapku.
“Angel atau kamu?”
Glek.
Bagaimana bisa dia berpikiran aku tidak suka melihat
kedekatannya dengan penyanyi itu? Hhh...
Aku cuma tidak suka kalau Angel bersikap seperti tadi pagi
saja.
“Angel”
“ohh”
Agni menyibukkan dirinya kembali dengan Angel. Dia terlihat
kecewa, atau cuma perasaanku saja?
Wajahnya benar-benar tidak sehangat biasanya saat dia
menatap Angel. Aku yakin dia sedang merasakan sesuatu yang membuatnya tidak
enak.
Aku menarik bahunya, kemudian membalikkan wajahnya agar
menghadapku.
“kamu terlihat pucat,
istirahatlah”
Aku menyandarkan kepalanya di dadaku yang sengaja bersandar
di kursi. Aku memejamkan mata, Ya Tuhan... benarkan apa yang aku rasakan saat
bersama dia? Jantungku terasa ada gangguan. Mungkin besok aku harus segera ke
dokter untuk memeriksanya. Dan... astaga apa lagi ini? kenapa sistem
respirasiku terasa begitu tersendat? Kenapa untuk bernafas saja aku sulit? Apa
karena campuran dari wangi rambut dan tubuh Agni? Benar-benar ya wanita ini,
merusak seluruh organ pentingku. Kayaknya beberapa hari kedepan aku harus
menjauhinya.
“Rio... kenapa jantungmu begitu
cepat berdetaknya?”
Aku tidak menanggapinya, terlalu memalukan untuk ku
tanggapi. Walau sebenarnya aku tidak tau apa? Dan kenapa aku?
***
Bersambung...
Terimakasih udah mau
baca :)
No comments:
Post a Comment