Sunday, 12 May 2013

Between Love and Obsession Part 3



“Tuhan tidak mungkin menciptakan makhluknya dengan sama...”
Bab 3

Aku menghempaskan tubuhku ke atas pembaringan. Ya Tuhan... ada apa dengan jantungku? Kenapa detakkannya begitu cepat? Hatiku juga mendadak menghangat semenjak melihat tengkuk Agni yang putih, bersih dan ehm menggoda itu pikiranku tidak pernah bisa konsentrasi. Padahal sekertarisku terus saja mengoceh di tablet dengan mengirimkan file-filenya. Agni... Agni... kenapa nama itu bisa mirip dengan dia? Wajahnya... tubuhnya... pakaian milik dia pun sangat pas di tubuh Agni.

Tunggu! Sejak kapan aku tertarik pada wanita? Wanita yang ribet, membingungkan, banyak maunya, dan terakhir. Matrealistis! Aku mengambil ponselku yang sedari tadi hanya menghuni saku celana boxerku.
“saya minta beberapa  credit card  unlimited, besok antar ke kantor saya”

***

Pagi ini aku hanya duduk di ruang keluarga menunggu Angel yang tak kunjung keluar dari kamarnya. Kenapa lama sekali? Kalau denganku cukup Dua puluh menit, dan Angel sudah rapih plus kepangan atau ikatan rambut lainnya. Begitu aku hendak menyusul Angel ke kamarnya tiba-tiba terdengar sahutan dari luar.
Oh God, ada apa lagi sih pagi-pagi udah dateng ke sini?
“Mom, tumben pagi-pagi kesini?”
Aku menghampiri Ibuku  yang berjalan begitu anggun memasuki kediamanku, aku memang memutuskan untuk membeli rumah sendiri karena bosan dengan ocehan Mama yang selalu menuntut segera menikah dan cucu. Padahal jelas sekali Angel juga cucunya.

“cuma mau liat Angel aja, mana dia? Tumben gak nyantol sama kamu?”

Ibuku  terlihat celingukan, aku cuma bisa menghela nafas panjang. Tapi tunggu, Angel... astaga! Kenapa aku melupakan Agni? Aduh... gawat!
“Oma...”
Aku segera melihat ke arah sumber suara, ternyata Angel baru keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah rapih.

“aduh cucu Oma udah cantik, di dandanin siapa sih?”
Mama berjongkok menyejajarkan tubuhnya dengan Angel. Aku melihat Angel menunjuk-nunjuk ke arah kamarnya dan keluarlah Agni dengan menggundakan celana panjang hitam, sepatu hitam, baju biru dan blazer putih. Aku tersenyum kecil, ternyata pilihanku tidak pernah salah.

“Agneta”
Aku menatap Agni yang terlihat terkejut mendengar suara Mama, dia meraih jasku yang aku sengaja sampirkan di sandaran kursi, setelah itu aku  menatap Mama yang menatap Agni begitu intens. Agneta? Iya... Agni memang mirip sekali dengan Agneta, Mama kandung Angel.
“Mario... dia...”
“bukan Ma, dia Agni. Calon istriku”
Aku tau dalam pikirannya pasti membayangkan Neta yang hidup kembali.

“apa? Bahkan kamu belum mengenalkan dia Mario!”

Aku berdecak, sedikit melirik Agni yang terlihat bingung namun masih terpaku di tempat.
“sayang... sini”
Sayang? Hahh... aku rasa sudah gila, aku menyebut seperti itu hanya pada Angel, dan terasa sangat aneh jika panggilan itu di berikan untuk orang lain.
Aku lihat Agni mendekat dengan ragu.
“Agni, ini Mamaku... tadinya aku mau mengajakmu ke rumah nanti malam, tapi ya... sudahlah”

“Agni”
Aku melihat ada gurat kegugupan saat mengulurkan tangannya pada Mamaku. Apa Mamaku semenyeramkan itu?

Mama membalas uluran tangan Agni.
“Amanda”

Aku menarik tangan Agni,
“Ma, aku bernagkat dulu ya... An, mau berangkat sama Papa?”
“enggak ah...”

Aku mengalihkan pandanganku pada Mama yang ternyata masih menatap Agni dengan begitu intens, sebenernya ada apa sih sama Agni? Perasaan biasa aja deh. Hhh... aku juga mulai kasihan pada gadis itu, dia terlihat begitu malu.
“yaudah, Mama mau nginep apa gimana? Hari ini aku lembur”
“nginep, satu hari”
“yaudah, ayo Agni...”
Aku mulai beranjak, aku melihat Agni yang sedikit menundukkan kepalanya pada Mama.

***

Perjalanan menuju kantor terasa begitu sepi, padahal aku di dalam mobil ini bertiga dengan sopir. Aku melirik Agni yang seperti biasa, sibuk melihat jalanan yang macet. Ya tuhan... apa jalanan macet itu begitu menarik? Apa ketampananku begitu kurang baginya? Padahal seluruh stafku akan terus menatapku kalau sedang berada di dekat mereka, tapi dia? Dia ini gak normal kali ya? Sudahlah...
Lebih baik aku kembali pada gadgetku yang terabaikan beberapa saat.
Ternyata ada panggilan masuk dari Irshad.
“iya Sha, kenapa?”
“non Angel, tiba-tiba melemparkan tabletnya dan dia sekarang tidak mau ke sekolah”
“apa yang dia mau?”
“mau bertemu tuan, tapi tidak mau bertemu nyonya  Agni”
“yasudah, bawa dia ke kantorku”

Kenapa dia?
Aku menatap Agni yang ternyata sedang menatapku dengan pandangan penuh tanya. Aku mengalihkan pandanganku pada gadgetku kembali.
“kamu melakukan apa pada Angel?”

Dia terlihat gugup dan berpikir keras, aku meraih paper bag yang ada di kursi depan lalu menyerahkannya pada Agni. Aku rasa aku tidak butuh jawaban gadis aneh ini.
“pakai ini, aku sudah mengcopy semua file penting yang akan di pakai meeting nanti”
“aku akan memakainya kalau perlu”

Aku tersenyum masam dalam hati saat melihat gadis itu meraih paper bag yang ku berikan. Aku melihat sudah sampai di lobby.
“kamu meeting bersama seluruh direksi, aku ada urusan lain”

Aku melihat dia menghela nafas dan sedikit mendengus. Apa yang dia pikirkan? Kenapa setiap saat dia selalu melakukan itu kalau dekat denganku? Semembosankan itukah aku?
Aku keluar bersamaan dengan Agni dari mobilku, tunggu... ada yang ketinggalan.
“Agni. Jasku”

Aku tersenyum kecil melihat Agni mengacungkan jasku yang ada di tangannya, setelah dia mendekat aku segera meraih jas itu dan memakainya. Aku heran pada Agni, kenapa dia selalu mendengus dan sedikit menghentakkan kakinya seperti orang kesal kalau sudah sampai ke kantor.
“kenapa?”

Agni mengangkat wajahnya, kemudian tersenyum padaku. Senyuman yang cantik... hah?! Apa?! Cantik?! Apa matamu sudah bermasalah Mario?
Aku segera mengalihkan pandanganku dari Agni yang bergumam kecil. Terlalu lama melihatnya membuat organ-organ pentingku terasa begitu aneh, apalagi jantungku. Oh God, apa aku harus memeriksakannya?

“Papa...”
Aku berbalik dan melihat Angel sedang berjalan ke arahku, wajahnya begitu muram saat menatap Agni. Aku melihat Agni yang menatap Angel dengan pandangan bertanya.

“An... gak kesekolah sayang?”
Agni mendekati Angel, tapi Angel malah berlari ke arahku.
“An...”
Agni memanggil Angel dengan lirih. tanganku dengan refleks mengelus kepala  Agni, kasihan juga kalau melihat gadis itu memelas seperti itu.
“kamu rapat aja... biar Angel sama aku dulu”

Agni mengangguk kecil kemudian berjalan menjauh dengan sesekali melirik Angel. Apa mereka sudah sedekat itu ya?
“Pa... Cakka Nuraga itu siapanya Mama?”
Tatapanku beralih dari Agni pada Angel, putriku terlihat begitu sedih. Darimana dia tau tentang lelaki  itu? Hhh... aku mengangkat tubuh mungil Angel. Membawanya ke ruangan pribadiku.

“An... An tau Cakka Nuraga dari siapa?”
Aku memandang Angel yang aku dudukkan di atas meja kerjaku, apa kabar itu benar-benar benjadi tranding topic?

“An liat foto-foto Mama yang katanya sama Cakka Cakka itu Pa! Terus katanya mereka ada hubungan,  An gak suka sama dia. An gak mau Mama deketan sama dia. An gak suka!!!!”
Aku mengelus puncak kepala Angel, dia mengayun-ayunkan kakinya dengan kesal. Astaga... apa Agni sebegitu berartinya buat Angel?
“tenang aja An, nanti kita bilang sama mereka... kalau Mama Agni itu calon Mamanya An, Papa yakin kok mereka pasti gak bakalan gangguin Mama lagi”

Angel mengangguk kecil, kemudian terlihat berpikir. Aku mengecup pipinya gemas, lucu sekali dia kalau sedang berpikir seperti itu.
“kalo gitu An, berangkat ke sekolah gih... Papa mau kerja dulu”
“enggak! Udah telah Papa... An mau disini aja ya?”

Hhh... apa yang bisa aku lakukan saat Malaikat kecilku ini memelas? Tapi aku tidak bisa membiarkannya tetap disini. Dia pasti akan bosan dan pada akhirnya marah juga padaku.
“tapi An, nanti An bosen lho... mendingan berangkat kesekolah ya? biar nanti Papa yang bilang sama Ibu kepala sekolah kalau An habis ketemu Papa dulu”
“Papa antar...”
Aku sengaja menyela ucapannya sebelum dia mengeluarkan suara, karena kalau dia sampai menangis aku pasti akan tambah tidak tega.

Fiuhh... untungnya Angel mengangguk kemudian mengulurkan tangannya padaku, meminta untuk di gendong.
“gadget baru ya Pa...”

Aku tersenyum kecil mendengar bisikan itu. Dasar anak ini... ckckck

***

Sepulangnya dari mengantar Angel aku kegera memasuki ruangan meeting. Sayup-sayup aku mendengar perbincangan di dalam sana.

“lho Bu, kenapa tidak Ibu saja dengan Cakka, ya... bukan apa-apa ya Bu, Ibu sama diakan sedang panas-panasnya di pemberitaan. Jadi mungkin ada untungnya juga”

Sial! Ternyata ada yang coba-coba memanfaatkan Agni. Aku membuka pintu itu tanpa permisi dan ruangan meeting pun jadi sepi.

“maaf saya terlambat”
Aku mendudukan diri di samping Agni yang menatapku takut. Dia nampak menunduk dan aku lihat dia beberapa kali mengambil nafas berat. Hey... kenapa dia ini?
“sudah sampai mana meeting kali ini?”

Aku meraih gadget milik Agni, ohh... ternyata mereka sedang membicarakan pemasaran kaus couple keluaran terbaru. Pantas saja tadi ada yang sebut-sebut nama lelaki itu.
“tadi kami menyarankan pada Bu Agni agar mempromosikan kaus couple ini dengan penyanyi Cakka Nuraga, tapi sejak dari tadi Ibu Agni menolaknya”

Jelas saja dia menolaknya. Kalau sampai menerimanya habislah kau Agni! Perusahaanku memang merambah di segala bidang, ini hanya ide kecil yang berawal dari seorang pengrajin industri rumahan mengenai kaus-kaus, aku mencoba memberi modal untuk  pengrajin itu dan hasilnya ya lumayanlah.
“saya juga tidak setuju, kalian boleh mencari lagi model manapun. Asal jangan Agni dan penyanyi itu”

Agni terlihat memandangku takjub, entah kenapa. Dia itu seperti tidak pernah mendengar orang berkata secara dingin, karena setiap aku berbicara dengan anda seperti itu dia pasti menatap aneh, mendengus atau kelakuan-kelakuan aneh lainnya.
Meeting kali ini cukup alot, pembicaraan kali ini memang sangat banyak. Apalagi kemarin aku membatalkan semua janjiku dengan pemimpin beberapa anak cabang perusahaanku, dan ini di lakukan setiap akhir bulan untuk mengontrol kestabilan perusahaanku.

Saat jam makan siang tiba, Mama menghubungiku agar menemuinya di cafe dekat kantorku. Aku mendengus kesal, kenapa wanita yang satu ini selalu seenaknya sendiris aja sih? Padahal dia tau aku sedang bekerja.
Aku menarik Agni keluar ruangan meeting.
“aku ada janji di luar, kamu lanjutkan meetingnya. Kalau ada apa-apa tanyakan padaku dan minta bantuanlah pada sekertarisku”

Lagi-lagi dia menghela nafas, aku dapat melihat gurat kelelahan di wajahnya. Salahnya sendiri kenapa kemarin malah memancing ke onaran?
Aku segera pergi begitu mendapat anggukan darinya.
“ke cafe depan Pak”
“nyonya Agni tidak ikut tuan?”
“tidak, nanti kamu tolong bawakan makanan untuknya dan jangan bilang dariku”
“baik tuan”

***

“Mario”
Aku menengok ke arah sumber suara. Setelah melihat Mama, aku segera menghampirinya.

“ada apa?”
Tanyaku begitu datar sesaat setelah duduk di kursi hadapan Mama.

“makanlah dulu”
Ibuku malah dengan santai menyantap makanannya, apa dia tidak lihat aku sedang ingin buru-buru? Ck. Sudahlah lebih baik aku mengikuti ke inginannya daripada harus berdebat.

Aku merasakan ponselku berdering.
“iya An, kenapa?”
“maaf Pak, ini saya Dea resepsionis di kantor Bapak, tadi Angel ingin menemui Mamanya tapi saya tidak tau siapa yang di maksud”
“biarkan dia masuk ke ruangan meeting, dia mencari Agni”
“HAH?!”

Benar-benar tidak sopan! Aku langsung mematikan sambungan telepon itu, tidak ada sopan santunnya sama sekali. Padahal jelas-jelas aku ini atasannya!

“jadi kamu benar-benar mau menikah dengan dia Rio?”
Aku menatap Mama yang sedang membersihkan mulut dengan tissu basah, lalu mengangguk kecil karena saat ini aku sedang mengunyah makanan.

“Rio apa kamu tidak sadar? Dia sangat mirip dengan Agneta! Mama tidak mau punya menantu penggila harta lagi”

Aku menghela nafas berat, begini nih kalau hasil dari hasudan orang lain. Bisanya menuduh saja.
“Agneta tidak matre Ma, apa lagi Agni”
“terus saja kamu bela wanita itu”

Hhh... susah memang kalau berbicara dengan seseorang yang memiliki watak keras seperti Mama ini.

“kapan sih Ma Neta habisin uang Mama? Bahkan dia di beri credit card saja tidak pernah berfoya-foya” aku menghela nafas letih.
“yang Rio tau Neta cuma mengambil uang Mama di bawah nol koma satu persen Ma, mungkin di bawah nol koma nol nol nol nol nol nol persen! Dia cuma membawa Lima juta perbulan untuk mengobati Ayahnya yang sakit dan adiknya sekolah! Stop berpikir buruk tentang Neta Ma”

Capek sekali kalau harus berbicara dengan Mama, aku sudah membicarakan ini lebih dari seratus kali selama Empat tahun ini.

“Agni dan Agneta itu berbeda Ma, orang yang berbeda dan pasti watak yang berbeda. Kalau sudah tidak ada yang mau di bicarakan lagi, sebaiknya Rio pergi dari sini... permisi”

Aku melangkah cepat dan lebar untuk menghindari kejaran Mama, aku kecewa sekali pada Mama. Selalu berpikiran buruk tentang wanita dan efeknya memang merambah padaku yang menganggap semua wanita itu matre! Tapi aku yakin... Agni tidak begitu!

***

Aku memasuki ruang kerjaku tanpa minat, aku memang sengaja tidak masuk ke ruang meeting lagi karena pikiranku sedang kacau. Beberapa kali aku menghela nafas panjang menghilangkan kesal di hatiku sejak berbincang dengan Mama tadi. Aku memejamkan mataku sejenak.
“Rio... kenapa?”

Dengan cepat aku membuka mata, melihat Agni berjalan ke arahku. Dia meraih jasku, aku membukanya kemudian melonggarkan dasi yang terasa mencekik leherku.
“Angel?”
Aku bertanya dengan mengerutkan kening heran, tumben sekali Angel mau tidur disini padahal biasanya merengek ingin pulang.

Agni mengangguk sedikit, ia mengambilkan minum yang tersedia di ruanganku.
“minumlah, kamu kelihatan sangat lelah”

Aku menyandarkan tubuhku di sandaran kursi kerjaku. Seharian bekerja memang selalu membuatku lelah, tapi lelah kali ini sungguh berbeda karena aku merasa ada beban di dalam hati sedangkan biasanya tidak. Aku menghirup udara dalam-dalam.
“Agni...”
“hm”

Aku membalikan tubuhku saat mendengar gumamannya. Tuhkan... pasti dia sedang melihat kendaraan macet lagi dari ketinggian kantorku ini. aku rasa memang benar, aku tidak menarik untuknya. Yang menarik untuknya hanya jalanan macet! Seorang Mario Arindous di kalahkan pemandangan macet. Sungguh rekor yang tidak patut di banggakan.

“sejak kapan kamu suka bergumam seperti itu?”
“sejak kamu selalu mengatakan ‘hn’ pada ku”

Maksudnya? Hey! Itu kebiasaanku, bukan suatu hal yang di sengaja. Apa dia melakukan itu untuk balas dendam? Ck. Sudahlah kasihan gadgetku hampir  seharian ini aku anggurkan.
Aku mulai memainkan gadgetku kembali, banyak yang harus di selesaikan sebelum cuti minggu depan. Secueknya aku, aku juga peduli dengan pernikahanku yang akan di gelar minggu depan. Ya... meskipun aku tidak merasakan yang namanya ‘cinta’ padanya, tapi seperti janjiku pada Agneta. Aku akan membahagiakan Angel semampuku.

“Agni... kamu menangis?”

Sedari tadi aku memang selalu mencuri-curi pandang padanya, dan betapa terkejutnya aku saat melihat ada air mata mengalir di pipinya. Apa aku lelaki setega itu? Jujur saja aku ini memang tidak mengerti apa sebenarnya ke inginan wanita.

“apa aku salah padamu?”

Dia mengusap pipinya kemudian menggeleng pelan. Setelah itu dia berjalan ke arahku dan berdiri bersandar di mejaku menghadap ke arahku.

“apa kamu memang terbiasa membuat hati seseorang berlonjak kaget sampai membuatnya terhempas begitu dalam? Merasa sakit dengan ketidak sengajaan”

Jujur, aku sedikit sulit mencerna perkataannya. Pikiranku terlalu penuh oleh ucapan Mama tentang penilaian Agni.

“aku... tidak tau”
Aku menatap ke arahnya yang ternyata langsung mengalihkan pandangannya dariku. Dia terlihat berusaha mengatur nafasnya, aku yakin sebenarnya itu susah untuk di lakukan.
“sebenarnya aku tadi pergi untuk menemui Mama yang memaksaku menjelaskan tentangmu”

Agni menatapku tanpa minat, jujur saja aku kecewa dengan tanggapan itu.
“sepertinya Mamamu tidak menyukaiku, sebaiknya kamu batalkan saja pernikahan kita”

Aku tersenyum kecil, dengan mudahkah dia menyerah? Aku yakin dia kurang suka dengan Mama yang menatapnya penuh intimidasi seakan dia tersangka yang akan di sidang.
“Mama tidak seburuk itu, dia hanya melihatmu bukan sebagai dirimu”

Agni menatapku dengan penuh tanya, apa yang harus aku ceritakan? Kalau harus menceritakan Agneta, untuk saat ini belum tepat.
“tuhan tidak mungkin menciptakan mahkluknya dengan sama... kalau hanya sekedar persamaan pasti ada, tuhan itu maha segalanya Rio, dan harusnya sebagai wanita berpendidikan Mamamu tau itu”

Aku memandang takjub perkataan Agni, tapi tentu saja bukan dengan tampang bodoh yang dapat membuatnya tergelak tawa. Aku tetap memasang wajah datar dan dinginku.
“aku tau, kamu memang berbeda”

Aku menatap dia yang menjauh dariku, aku ingin sekali meraih tangannya agar dia tetap diam di hadapanku. Aku ingin selalu memandangnya begitu dekat. Astaga Rio... apa yang kamu pikirkan? Kamu menikahinya hanya untuk membahagiakan Angel. Bukan untuk saling mencintai!

“oiya, tadi ada kiriman untukmu... aku sudah menyimpannya di laci mejamu”
Agni duduk di sofa dekat kepala Angel yang terbaring di setengah sofa itu.

Aku membuka laciku, ternyata credit card pesananku. Cuma... satu... dua... tiga. Apa tiga? Ck. Kenapa sedikit sekali?
“ini untukmu, ini baru tiga, untuk yang lain menyusul”

Aku berjalan ke arahnya untuk memberikan credit card itu, aku juga cukup tau sopan santun sehingga tidak melemparkan benda ini.

“gajiku cukup untuk sekedar makan, aku rasa tidak membutuhkan itu”

Benarkan dugaanku, Agni memang bukan wanita mantrealistis seperti apa kata Mama.
“bawalah, kalau tidak suka boleh kamu buang”

Dengan menghela nafas berat dia menerimanya, aku cukup lega karena aku yakin suatu saat dia akan membutuhkannya.
Begitu aku hendak duduk di sampingnya aku mendengar bunyi ponsel Agni. Aku meraihnya dari atas meja.
“siapa?”
Aku menatap Agni sambil memperlihatkan ponselnya, tertera nomor baru disana.
Agni hanya mengangkat bahunya acuh. Benar-benar istri idaman, tidak keganjenan pada orang asing yang menghubunginya.
Aku menekan tombol eccept,  sekedar untuk mengetahui siapa yang berani-beraninya menelpon Agni.
“hm... hai Agni... apa kabar?”
“siapa? Saya calon suaminya Agni”
“hah?! Saya... Cakka, Agni nya ada?”

Berani sekali lelaki ini, aku melirik Agni yang sedang mengelus-elus kening Angel.
“ada perlu apa? Bisa lewat saya”
“mmm... ah tidak, terimakasih. Kalau begitu sampaikan saja salam dariku, dan jangan lupa save nomor ini, ini nomor pribadiku”
“hn”

Aku mematikan sambungan itu, brengsek sekali lelaki itu. Sudah tau tadi aku memberitaunya kalau aku ini calon suaminya. Masih saja nekat ingin mendekati Agni. Aku segera menghapus nomor itu tanpa sepengetahuan Agni. Kalau bukan karena Angel, aku tidak akan melakukan hal seperti ini. toh kalaupun Agni juga akan menghapusnya. Aku yakin itu!

“Angel bilang kalau dia tidak suka melihat kedekatanmu dengan penyanyi itu”
Aku berkata padanya sambil meletakkan ponselnya di atas meja.
Agni terlihat menghentikan aktifitasnya, kemudian menatapku.

“Angel atau kamu?”
Glek.
Bagaimana bisa dia berpikiran aku tidak suka melihat kedekatannya dengan penyanyi itu? Hhh...
Aku cuma tidak suka kalau Angel bersikap seperti tadi pagi saja.

“Angel”
“ohh”
Agni menyibukkan dirinya kembali dengan Angel. Dia terlihat kecewa, atau cuma perasaanku saja?
Wajahnya benar-benar tidak sehangat biasanya saat dia menatap Angel. Aku yakin dia sedang merasakan sesuatu yang membuatnya tidak enak.

Aku menarik bahunya, kemudian membalikkan wajahnya agar menghadapku.
“kamu terlihat pucat, istirahatlah”

Aku menyandarkan kepalanya di dadaku yang sengaja bersandar di kursi. Aku memejamkan mata, Ya Tuhan... benarkan apa yang aku rasakan saat bersama dia? Jantungku terasa ada gangguan. Mungkin besok aku harus segera ke dokter untuk memeriksanya. Dan... astaga apa lagi ini? kenapa sistem respirasiku terasa begitu tersendat? Kenapa untuk bernafas saja aku sulit? Apa karena campuran dari wangi rambut dan tubuh Agni? Benar-benar ya wanita ini, merusak seluruh organ pentingku. Kayaknya beberapa hari kedepan aku harus menjauhinya.

“Rio... kenapa jantungmu begitu cepat  berdetaknya?”

Aku tidak menanggapinya, terlalu memalukan untuk ku tanggapi. Walau sebenarnya aku tidak tau apa? Dan kenapa aku?

***

Bersambung...

Terimakasih udah mau baca  :)

No comments:

Post a Comment