Agni dan Ify duduk berdampingan sementara Rio duduk di
hadapan mereka dengan ekspresi yang sulit di tebak.
“Fy”Agni memecah keheningan.
Ify menatap Agni sekilas, dia menanti penjelasan dari
sahabatnya itu.
“gue gak ada maksud ngerebut Rio dari loe Fy, beneran... loe
tau sendirikan gue juga punya Cakka?”guman Agni dengan nada tenangnya.
Ify menghela nafas, “gue rasa omongan Rio tadi udah jadi
kebiasaan kalian deh,”ia menatap Rio “...kalo emang kamu maunya sama Agni
silahkan, aku gak mau ngalangin kalian”ujarnya, meski ucapannya itu lancar tapi
siapa yang tau tentang hatinya? Yang berteriak terbalik dengan ucapannya itu.
“aku mau keputusan kamu sekarang”ucap Ify
Rio diam, dia bungkam tak berniat berucap apapun. Karena
menurutnya tak ada lagi yang harus di luruskan karena sampai kapanpun ini akan
tetap seperti ini.
Agni melirik Rio sebentar kemudian menatap Ify, “gini Fy,
sebelumnya loe harus tau dulu kenapa kita berdua tunangan”ia memejamkan matanya
sejenak, sementara Ify mendengarkan dengan seksama “gue tunangan sama Rio itu
karena di jodohin, gue jelas gak mau ngecewain Papa yang udah rawat gue sendiri
dari kecil, kalo Rio... kedua orang tuanya sedang ada di ujung tanduk, orang
tuanya hampir cerai dan memutuskan untuk bersama-sama lagi dengan syarat harus
tunangan sama gue”jelas Agni dengan sesekali menghembuskan nafas berat.
Ify menaikan satu alisnya, agak gak logis alesan Agni kalau
mengingat bahwa Zevana sedang hamil, “bukannya orang hamil itu gak sah di
ceraikan? Kenapa begitu kalian tau tante Zeva hamil kalian gak langsung putus
aja?”tanya Ify, cukup membuat Agni terdiam. Benar juga apa kata Ify, tapi jujur
saja Agni tak terpikir sampai kesana.
“dan yang kamu mau sembilan bulan kemudian mereka tetep
cerai gitu? Dimana sih perasaan kamu? Pikir Fy, gimana rasanya kalo keluarga
kamu broken? Jangan sedangkal itu kalo mau berargumen”ucap Rio dengan tenang,
meski begitu ia sangat menggebu mengatakannya.
“lelaki itu emang kuat di luarnya, tapi lelaki juga tetep
punya hati yang harus di jaga yang setiap saat bisa hancur”guman Rio begitu
lirih, kemudian beranjak dari kediaman Agni.
Agni dan Ify menatap kepergian Rio sampai menghilang di
balik pintu. Ify mengalihkan pandangannya pada Agni, “maaf ya Ni, gara-gara gue
Rio pulang”ucap Ify dengan berat.
Agni menghela nafas panjang, “maafin gue juga Fy udah
nyembunyiin ini dari loe, tapi gue dan Rio pasti secepatnya pisah kok. Tenang
aja”ucap agnu dengan penuh kegirangan, meyakinkan Ify.
Ify menghembuskan nafasnya berat, ia mengurut pelipisnya, “kapan
kalian tunangan?”tanya Ify, ia terlihat mengigit bibir bawahnya.
Agni menatap Ify dengan takut, “satu malam sebelum
pertunangan Cindai sama Bagas”
Ify membulatkan matanya, ia memandang Agni dengan mata
menyala, “apa? Selama itu?”tanyanya tak percaya, padahal ia jadian dengan Rio
setelah pertunangan Bagas dan Cindai.
***
Gabriel mengetuk pintu kamar Agni, sudah hampir jam tujuh
tapi putrinya yang satu itu belum keluar dari kamarnya.
“Agni, gak sekolah?”tanya Gabriel, ia terus mengetuk pintu
itu, karena pintu itu di kunci.
Tak lama Agni keluar dari kamarnya dengan menggunakan
pakaian seragam lengkap, Gabriel tersenyum melihatnya. Ia mengelus puncak
kepala Agni, “kenapa? Kemaren Papa nelpon sama Rio katanya dia gak nemenin kamu
di rumah... kalian ada masalah apa?”
Agni tersenyum dengan agak memaksa, “gak ada Pa, Agni gak
ada masalah kok sama Rio”ia membetulkan poni yang menutupi matanya. “yaudah Pa,
Agni berangkat dulu ya...” sebelum beranjak ia mengecup pipi Gabriel dengan
cepat.
“jangan lupa bawa bekalnya di meja makan Ni, kamu kan belum
sarapan”pesan Gabriel sebelum Agni menghilang turun dari tangga. Gabriel
tersenyum sambil menggelengkan kepalanya begitu melihat Agni mengacungkan kedua
jempolnya sambil berlari terbirit menuruni tangga.
***
Ify menengok ke arah Marsha yang sedang menyibukkan diri
dengan ponselnya, “asik banget kayaknya”ujar Ify, ia menengokkan wajahnya ke
arah ponsel Marsha.
Marsha menegakkan badannya, ia melirik sinis ke arah empat
cowok yang sedang berkumpul dengan Zahra di tengah mereka.
“ini lho, RAYNALD kita lagi JALAN-JALAN sama CINDAI di
Banyumas, katanya sih dari hari pertama si Ray merhatiin Cindai dan baru
kemaren mereka bener-bener ketemu”jelas Marsha dengan agak keras, sengaja agar
Bagas dan ketiga cowok lain mendengarnya.
Marsha tersenyum puas begitu melihat ekspresi Bagas yang
pucat pasi, dan ekspresi waspada dari Rafli sementara itu ada tatapan penuh
tanya dari Cakka dan Rio.
Ify menatap ke arah Rio yang sedang menatapnya, wajahnya
merona begitu menyadari Rio menatapnya dengan intens. Rio tersenyum geli
melihatnya, Ify membalas senyuman itu.
Rio menunduk sebentar kemudian ia berkata tak jelas pada
Ify. Ify mengerti ia melihat ponselnya.
Kamu lebih cantik kalo lagi malu-malu gitu, aku suka kamu yang kalem
Fy... bukan kamu yang akhir-akhir ini, posesif dan centil.
Ify tersenyum, ia menatap Rio kemudian mengangguk seolah itu
jawaban untuk pemuda itu.
Agni memasuki kelas itu, “hai... gue gak kesiangankan?”ucap
Agni sambil memamerkan deretan giginya.
Ify dan Marsha memutar bola matanya, “gak kesiangan? Liat
noh jam, udah masuk dari sejam yang lalu”kata Marsha.
Agni duduk belakang bangku Marsha dan Ify. Ia mengeluarkan
bekalnya, “enak nih”Agni mengambil sendok yang ia bawa dari rumah.
Ify berdecak, “semalem loe ngapain sih? Pasti loe
kesiangankan makanya gak sarapan?”Ify menggeleng-gelengkan kepalanya heran, ia
berusaha bersikap biasa saja. Ia gak mau orang lain melihat sesuatu yang
terjadi antara mereka.
Agni meminum air yang ia bawa juga, ia memamerkan lagi
giginya “hehe... gue gadang sama Cindai, dia curhat lagi sama cowok, siapa tuh
namanya? Raynald? Ahh iya Raynald”ucap Agni kemudian menyendokan lagi makanan
kemulutnya.
“dia ganteng lho Ni, apalagi sekarang... pasti wow
deh”komentar Marsha sambil membayangkan sosok Ray sekarang.
Agni menaikan satu alisnya, “emang siapa sih? Kayaknya keren
banget tuh”tanya Agni, ia menatap Marsha dan Ify yang menatapnya dengan tatapan
ingin tau.
Ify berdehem, “temen SD, loe gak bakalan tau deh”
Agni manggut-manggut mengerti.
“ngomong-ngomong, gak nawarin nih? Kayaknya enak tuh?”tanya
Marsha sambil melirik ke arah nasi goreng Agni.
Agni mengerlingkan matanya, “emang mau? Entar deh ya kalo
udah abis, gue masih laper”
Marsha melempar Agni dengan pensilnya kesal, sementara Ify terkikik
geli melihat ekspresi Marsha.
Di sela-sela candaan mereka Ify melirik ke arah jari-jari
Agni, yang ternyata sekarang cincin itu dipakai, gak di sembunyikan lagi. Ify
menghembuskan nafas dengan letih, sekarang ia harus melakukan apa? Bertahan
dengan kesakitan? Atau mundur?
***
Zahra berpamitan keluar dari kelas itu, ia kurang nyaman
dengan tatapan dari Agni, Ify dan Marsha yang menatapnya begitu sinis.
“Ray siapa sih? Resek deh kayaknya”guman Bagas, ia kesal
karena pesannya gak ada balasan dari Cindai.
Rafli memberikan ponselnya pada Bagas, “tuh ada photonya di
twitter Cindai, setau gue dia temen SD mereka kecali Agni”jelas Rafli.
Bagas mengerutkan keningnya, “kok kecuali Agni?”ia
mengotak-atik ponsel Rafli, banyak sekali photo kekasihnya dengan cowok itu di
Banyumas.
Cakka melirik ke arah Rafli dan Rio yang diam anteng-anteng
saja, “Agni tinggal disini dari
SMP”guman Rio
“kok loe tau?”tanya Rafli
Rio berdecak, “kan bokap gue temen bokap dia”ucapnya agak
kesal, sudah beberapa kali ia mengatakan itu tapi temannya ini masih aja nanya.
“cowok itu bakalan pindah kesini karena jaminan prestasi
akademiknya, kayak Zahra”guman Bagas begitu melihat mentionan antara cowok itu,
Cindai, Marsha dan Ify. Ia mengembalikan
ponsel Rafli.
Cakka, Rio, dan Rafli membelalakan matanya mendengar
penuturan Bagas. Kacau... kacau!!!
“kok bokap gue gak cerita apa-apa ya? padahal dia pasti
kasih tau apapun tentang sekolah ini”guman Bagas, ia menghempaskan tubuhnya ke
sandaran kursi, mengusap wajahnya dengan frustasi.
***
Istirahat ini Cakka dan Agni duduk di bangku taman. Agni
memfokuskan diri dengan buku yang ia bawa dari kelas, sementara Cakka diam
sesekali menghembuskan nafasnya berat.
“kamu jangan deket-deket ya sama cowok itu”ujar Cakka dengan
nada memohon.
Agni menurunkan bukunya, ia menatap Cakka sekilas “cowok
itu? Cowok mana?”tanya Agni, kemudian ia membaca bukunya kembali.
Cakka menghela nafas, “yang namanya Raynald”ia menyandarkan
dirinya, menaikan satu kaki dan memeluknya.
Agni mengangkat bahu, “iya, aku gak bakalan ngedeketin dia”
Cakka mengalungkan tangannya di bahu Agni, menarik gadis itu
mendekat “aku ikutan baca dong”ucapnya
Agni tersenyum, ia memukul dada Cakka pelan “tumben”komentar
Agni
“gak boleh?”tanya Cakka
Agni nampak berpikir, “ya terserah sih”
Cakka tanpa sengaja melihat sebuah cincin melingkar di jari
manis Agni, “sekarang udah berani di pake Ni cincinnya?”tanya Cakka, ia meraih
jari Agni, mengelus jari itu di atas cincin.
Agni tersenyum samar, “sekarang Ify udah tau semuanya Kka”guman
Agni, matanya terlihat begitu sendu.
Cakka menegakkan badannya, menghadapkan Agni ke arahnya,
“kok bisa? Gimana ceritanya?”Cakka terlihat agak panik.
“semalem pas kamu pulang Ify dateng dan mergokin aku
sama Rio”ujar Agni dengan suara seperti
berbisik.
Cakka menghela nafas panjang, “terus sekarang gimana?”
Agni mengangkat bahunya, “gak tau, tapi yang aku liat
hubungan Rio sama Ify baik-baik aja kok, gak ada yang berubah”
“syukur kalo gitu”ujar Cakka, ia mengelus puncak kepala Agni
“yang sabar ya sayang?”pesan Cakka.
Agni mengangguk, “selalu Kka”guman Agni dengan suara lirih.
Setelah percakapan itu suasana jadi hening. Bingung mengawali pembicaraan.
***
Sementara di tempat lain, Rio dan Ify terlihat canggung
sesekali keduanya tersenyum begitu kaku. Namun pada akhirnya keduanya tertawa
geli melihat kelakuan mereka sendiri.
Rio menarik Ify agar bersandar di pundaknya, “gak usah
canggung gitu sayang, biasa aja ya”ia mengelus puncak kepala Ify dengan sayang.
Ify memejamkan matanya, menikmati sensasi sentuhan Rio lagi.
“aku baru sadar Io' kalo udah lama ya kamu gak giniin aku?”guman Ify
Rio terkekeh, “iya, semenjak jadian jujur aja Fy aku jadi
kurang nyaman sama kamu”ungkap Rio, masih dengan mengelus rambut Ify.
Ify tersenyum, “aku juga sadar Io', aku rasa aku itu jadi
posesif”aku Ify, ia memainkan sebelah tangan Rio yang bebas, “boleh aku liat
cincin ini?”tanya Ify, sambil mengelus cincin yang melingkar di jari Rio.
Rio mengangguk, “aku pikir, kenapa gak dari dulu kamu tau ya
Fy kalo buat kamu sadar dan buat aku nyaman lagi? Aku rasa sekarang kamu
kembali lagi jadi Ify yang dulu awal kita kenal, Ify yang buat aku suka di
pandangan pertama dengan kepolosan dan wajah yang selalu merona kalau di
liatin”
Ify terkikik geli, tanpa ia sadari pipinya merona, sambil
mengamati cincin Rio yang di dalamnya ada sebuah nama, yang bukan dirinya. ‘Agnita’
“oiya Io', kamu manggil Agni apa sih? Kalo Agni ke kamu
pasti ‘Hon’ ya?”Ify mengerlingkan
matanya, menggoda Rio.
Rio tertawa lepas, “cie Ify kepo...”kata Rio dengan masih
tertawa, namun begitu melihat Ify cemberut Rio berusaha menahan tawanya,
“khm... gini Fy, mendingan kamu gak usah tau ya? bukan maksud apa-apa, tapi aku
takut kalo kamu bakalan sakit hati kalo tau tentang aku sama Agni”Rio menghela
nafas panjang, “mendingan, kita gak usah bahas tentang hubungan aku sama Agni
kalo kita lagi bareng-bareng, aku gak mau kamu sakit hati, aku mau jaga hati
kamu Fy, kamu ngertikan?”Rio menatap Ify dengan intens.
Ify mengangguk memahami maksud Rio, ia tersenyum lembut “iya,
aku ngerti”ia mengalihkan pandangannya ke arah lain “satu lagi, kalo lagi ada
Agni mendingan kita jangan terlalu deket ya Io'? soalnya yang aku rasain Cakka
juga gitu, gak terlalu ngumbar kemesraan”ia memamerkan deretan giginya.
Rio mengangguk setuju, “makasih ya kamu udah mau ngerti sama
posisi aku?”ia menarik Ify kedalam pelukannya.
Ify memejamkan matanya, bukan meresapi pelukan itu melainkan
menahan tangis yang sejak tadi ia tahan, ‘semoga
kamu bahagia Io' sama Agni’
***
Bel kembali terdengar, pelajaran pun di mulai kembali.
Ify memutar tubuhnya menghadap ke arah Agni “Ni, minjem buku
Matematik dong kemaren gue ketinggalan nyatet”pinta Ify.
“oke, bentar”Agni mengambil buku yang di maksud dari dalam
tas. “nih” ia memberikan buku itu pada Ify.
Ify mengambil buku itu, “thanks ya gue pinjem dulu”ia
kembali memutar badannya menghadap ke depan.
Ify membuka-buka buku Agni, namun begitu membuka halaman
agak belakang ia melihat gambar yang menarik perhatiannya. Gambar dua buah
cincin yang bertautan dengan masing-masing nama di dalamnya ‘Mario’ ‘Agnita’ dan di bawahnya ada sebuah kata yang ia tau
bukan tulisan tangan Agni.
‘Cintaku padamu itu
bukanlah getaran, tapi cintaku padamu itu sebuah denyutan yang selalu
mengiringi setiap langkah hidupku.
Cintaku padamu
bukanlah di simpan di hati, melainkandi
simpan di dalam jantung karena kamu
adalah separuh jiwaku.’
Ify menghembuskan nafasnya berat, nafasnya mulai tidak
teratur ‘ini tulisan Rio’ Ify
membatin hingga tanpa sadar tangannya mengepal menahan emosinya.
Agni menepuk pundak Ify, “udah belum? Di panggil gak
nyaut-nyaut”kata Agni, “loe baik-baik aja kan Fy?”tanya Agni begitu melihat
mata Ify yang agak berair.
Ify mengerjapkan matanya, kemudian tersenyum “gak kok, ini
tadi rambut gue kena mata, perih banget”
Agni mengangguk mengerti, “oiya bukunya mana? Udah mau masuk
tuh gurunya”tunjuk Agni pada seorang guru yang sedang berjalan mendekati kelas
mereka.
“ohh ini, thanks ya”Ify mengembalikan buku Agni tanpa sempat
menulis sesuai maksud awalnya.
***
Sepulang sekolah Marsha menunggu Rafli dengan menyandarkan
diri ke mobil milik orang lain, sementara di depannya ada motor ninja milik
Rafli. Sesekali Marsha melirik jam tangannya “lama banget sih
piketnya”gumannya, sekolah ini biarpun di katakan elite tetap saja mengharuskan
murid-muridnya membersihkan kelas sendiri karena untuk membiasakan diri tidak
bergantung pada orang lain dan membiasakan hidup bersih.
Tak lama terlihat Rafli yang berjalan ke arah parkiran
dengan Zahra di sampingnya. Kedua orang itu terlihat berdebat, sementara Marsha
menatap keduanya dengan tatapan tak suka.
Zahra terlihat berjalan ke arah lain meninggalkan Rafli yang
kini berjalan ke arah Marsha.
“udah puas mojoknya Bang?”tanya Marsha dengan nada yang
cukup tajam.
Rafli menghela nafas, “aku capek, kalo mau debat entar aja
di rumah” ia menaiki ninjanya, setelah memasang helmnya ia melirik ke arah
Marsha, “naik”perintahnya.
Marsha mendelik, kayaknya ia harus menahan diri sekarang.
Dengan segera Marsha pun maik ke atas ninja milik Rafli kemudian memeluk
pinggang Rafli, memasukan tangannya ke dalam saku jaket Rafli.
“aku udah bisa ke rumah kamu belum Bang?”tanya Marsha dengan
agak sedikit berteriak.
Rafli tak menjawab ia hanya menganggukkan kepalanya.
Motor itu melaju dengan kecepatan rata-rata, tak lama
kemudian mereka telah sampai di kediaman Rafli.
“yuk masuk”ajak Rafli begitu keduanya turun.
Marsha mengangguk, ia berjalan mengikuti Rafli dari
belakang.
“Ma... Rafli pulang”teriak Rafli.
Seorang pengurus rumah Rafli mendekati Rafli.
“nyonya ke Aussie den, tadi pagi nyonya berangkat katanya
nyusul tuan”jelasnya
Rafli menghela nafas panjang, ia membalikkan badannya
menghadap Marsha “maaf ya Neng, gak ada siapa-siapa di rumahnya”
Marsha mengangguk, “gapapa Bang, oiya Zahra itu siapanya
kamu sih?”tanya Marsha. Ia bertekad tidak mau terbawa emosi, jadilah ia
bertanya dengan begitu tenang.
“sahabat, kayak sama Bagas, Rio, Cakka, kenapa emang?”jawab
dan tanya Rafli
Marsha tersenyum, “gapapa, cuma nanya aja... gak di bolehin
duduk nih?”
Rafli terkekeh, “emang mau disini? Di atas aja yuk”ajak
Rafli
Marsha ikut terkekeh, “yaudah yuk”keduanya beranjak ke
lantai atas rumah Rafli. Dalam hati Marsha tersenyum misterius.
***
Bagas menghempaskan tubuhnya ke pembaringan, ia merogoh saku
celananya karena ia merasakan ponselnya berdering menandakan sebuah pesan
masuk.
Kanda, aku hari ini pulang. Entar malem nyampe rumah :)
Iya Dinda :) miss you
darl :*
Miss you too :* kangen banget ya?
Iya, aku tunggu kamu
di rumah kamu ya? atau aku jemput?
Gak usah, Papa udah suruh sopir kok. Kamu istirahat aja di rumah, besok
juga ketemu :P
Yah kok gitu Nda?
Aku capek banget :) maaf ya...
Yaudah gapapa deh :D
Aku prepare dulu ya? udah mau penutupan nih, daa...
Bagas tersenyum, hatinya cukup lega dengan Cindai
mengabarinya. Namun pikirannya teringat pada Chelsea, apa gadis itu akan
bener-bener tega memberi tau itu pada Cindai? Nomor ponselnya juga beberapa
hari ini mati.
Terdengar seseorang berjalan melewati kamarnya, itu pasti
Obiet, Papanya. Dengan segera Bagas mengejar Papanya itu.
“Pa, sebentar”jegat Bagas, sebelum Papanya itu memasuki
kamarnya.
Obiet menatap Bagas, “kenapa Bagas?”
Bagas menghampiri Obiet “Papa kok gak bilang sih ada murid
baru lagi?”
Obiet mengangkat satu alisnya, “darimana kamu tau?”
“dari Cindai, kok Papa gak bilang sih?”ia menyandarkan
punggungnya ke dinding.
“Papa pikir kamu gak tertarik tentang masalah ini, namanya
kalo gak salah Raynald, dia memiliki prestasi akademik dan non akademik yang
sangat bagus jadi sayang kalo gak ada di sekolah kita”jelas Obiet menjawab
tatapan penuh tanya dari putranya.
Bagas mengangguk mengerti, “tapi kapan-kapan cerita ya Pa?
Bagas kan juga mau tau”
Obiet mengacak-acak rambut Bagas, “ada-ada aja kamu, tapi
iya deh... sekarang istirahat gih”
Bagas mengangguk, ia terlihat menguap kecil kemudian berlalu
memasuki kamarnya kembali. Sementara Obiet tertawa kecil melihat tingkah
putranya itu.
***
Cakka mengajak Agni untuk berkunjung ke rumahnya, kebetulan
kediamannya juga masih sepi. Kalau main di kediaman Agni takut-takut ada
Gabriel dan memarahi mereka.
“duduk Ni”ajak Cakka, “eits siapa suruh duduk di
situ?”lanjut Cakka begitu melihat Agni duduk di kursi tepat di hadapan Cakka.
Agni menatap aneh, “terus dimana?”tanya Agni
Cakka menepuk-nepuk pangkuannya, “sini, aku masih pengen
manja-manjaan sama kamu”rajuk Cakka.
Agni tersenyum geli kemudian menuruti apa kata Cakka, duduk
di pangkuan pemuda itu menyamping.
“Kka, aku mau tanya boleh?”
Cakka menatap Agni agak menyamping karena Agni merebahkan
kepalanya di bahu sebelah kanan Cakka. “boleh dong”
Agni menghela nafas, “apa Alvin gak tinggal disini?”
Cakka menghembuskan nafas berat, “enggak, dia ikut Papa”
“Papa, Mama kamu cerai?”tanya Agni, “soalnya aku juga pernah
di ajak ke rumahnya dan cuma ada Pak Sion aja”lanjut Agni
Cakka tersenyum, ia mengangguk lemah “Mama dan Papa sepakat
cerai setelah melahirkan Difa, katanya sih mereka masing-masing udah gak nyaman”Cakka
menghela nafas, “padahal dengan kehadiran aku sama kak Alvin seharusnya bisa
buat mereka gak pisah, tapi ya udahlah Ni, itu masalalu”ia menatap Agni yang
kini mengelus pipinya.
Agni tersenyum begitu tipis, ia merengkuh kedua belah pipi Cakka,
menghadapkan ke arahnya. “jangan sedih ya? aku bakalan ada buat kamu”ungkap Agni.
“emang kamu mau pisah sama Rio?”tanya Cakka spontan begitu
mendengar penuturan Agni.
Agni termenung, sebenarnya ia mau tapi harus benar-benar
mempertimbangkan segalanya.
“emang kamu bakalan tega liat sahabat kamu juga ngalamin
perceraian?”tanya balik Agni.
“enggak, karena itu sakit banget”Cakka mengusap wajahnya
frustasi “semoga ada jalan terbaik buat kita Ni, yang gak membuat salah satu
dari kita jatuh dan merasakan sakit hati”
“amin”bisik Agni tepat di telinga Cakka kemudian ia membenamkan kepalanya di leher Cakka.
Cakka mengeratkan pelukkannya di pinggang Agni, merasakan
hembusan nafas halus dari hidung Agni di lehernya. Cakka bergerak gelisah, “Ni..”panggil
Cakka dengan suara yang parau.
“hm”gumam Agni tanpa menarik kepalanya dari posisi semula.
Cakka terlihat menahan sesuatu, “posisinya jangan gini deh,
ada yang bangun...”bisik Cakka
“hah?”Agni mengangkat kepalanya dengan cepat. Ia memukul
dada bidang Cakka kemudian pindah ke samping Cakka. Cakka tertawa geli melihat
wajah Agni yang merona merah.
***
Pagi hari di AS SHS di gegerkan dengan kedatangan Cindai dengan
membawa seorang pemuda yang benar-benar tampan, keren, dan berbagai bentuk
kesempurnaan lainnya. Seluruh pandangan
berpaling ke arah mereka dan berdesas desus sesuai asumsi mereka masing-masing.
Bagas berjalan dengan langkah lebar ke arah Cindai yang
masih berbincang di dekat mobilnya.
“ini?”tanya Bagas dengan mengangkat satu alisnya, menatap
dari ujung kaki sampai ke ujung kepalanya. “gak begitu istimewa”desisnya
Cindai memutar bola matanya kesal, “maksudnya?”ia berkata
begitu tajam pada Bagas, kemudian mengalihkan pandangan pada pemuda di
sampingnya, “yuk Ray. Kita ke kelas”ajak Cindai sambil menarik lengan pemuda
itu begitu posesif.
Ponsel Bagas bergetar, sebuah pesan masuk.
Gimana Bagas? Cindai udah
berubah? Gue gak pernah main-main sama omongan gue!!! makannya gak usah deh loe
coba-coba mainin cewek! Apalagi sepupu gue sendiri!!!
“shit”umpat Bagas, ia meremas ponselnya begitu kesal.
***
Marsha, Ify dan Agni berkumpul di dalam kelas menantikan
kejutan yang akan dibawa oleh Cindai.
“tumben banget dia bawa kejutan, biasanya juga ogah-ogahan
kalo gue suruh bawa oleh-oleh”ungkap Marsha yang di angguki oleh Ify.
Agni menatap kedua temannya dengan tatapan aneh, “emang dia
bilang gimana? Gue gak di kaish tau nih”
Baru saja Marsha hendak membuka mulut untuk berbicara, Cindai
telah memasuki kelas itu dengan membawa seorang pemuda, “RAY” histeris Marsha,
kemudian ia berhamburan memeluk Ray yang masih berdiri di ambang pintu.
“Ray, tambah ganteng aja loe”komentar Ify kemudian memeluk Ray,
melepaskan rasa rindu akan sahabatnya itu.
“iya dong”jawab Ray dengan begitu santai, ia mengalihkan
pandangannya pada Agni yang sedang sibuk mengotak-atik ponselnya, “dia siapa?”tunjuk
Ray pada Agni.
“ciee... suka ya sama dia?”goda Ify, ia terkekeh melihat
wajah Ray yang menyiratkan bahwa pemuda itu memang benar-benar menyukai Agni, “harap
ngantri deh ya kalo mau” Ify sedikit tertawa, karena begitu mendengar kata
antri pemuda itu membelalakan matanya.
‘cantik, apa dia sahabat mereka juga’ pikir Ray sambil terus
memandang Agni.
“dia sahabat kita juga kok” Marsha menjawab pertanyaan Ray.
Ray menjitak Marsha, “masih suka ya loe ganggu pikiran
orang, gak sopan”kata Ray berlaga memarahi.
“khm... gue gak di sambut nih?”ujar Cindai sambil melirik-lirik
ke arah lain seakan mencari kesibukan masing-masing.
“kangen dong”sahut Ify dan Marsha bersamaan, mereka menarik Cindai
duduk dan bertanya-tanya tentang pengalaman sahabatnya itu disana.
Sementara Ray berjalan ke arah Agni, duduk di kursi kosong di samping gadis itu.
“hai”sapa Ray
Agni mengalihkan pandangan pada Ray kemudian tersenyum “hai
juga, Raynald ya?”tanya Agni
Ray mengangguk, “panggil aja Ray, dan loe Agni kan?”
Agni mengangguk masih mengulum senyumnya.
Melihat senyuman itu Ray sedikit salah tingkah, “loe cantik
deh kalo lagi senyum gitu”ungkap Ray
Agni memukul lengan Ray, “bisa aja”.
obrolan merekapun berlanjut sampai Cakka, Rio, Rafli dan Bagas
memasuki ruangan itu. Kobaran api kemarahan terlihat dari dua pemuda saat
melihat Agni yang berbincang dengan sesekali tertawa geli dengan seorang pemuda
yang gak mereka kenal. Dan lebih parahnya lagi, orang yang di pandang sama
sekali tidak merasa di perhatikan begitu tajam oleh dua pemuda.
No comments:
Post a Comment