Wednesday, 10 April 2013

Mengapa? I


Kata orang,jika ada seorang laki-laki dan perempuan yang wajahnya hampir sama itu jodoh.

***

Agni Damanikgadis berusia 17 tahun, putri dari seorang laki-laki yang bernama GabrielDamanik yang kini berusia 38 tahun. Seorang pengusaha yang sukses dari sejakmasih muda. Tak jarang jika keduanya sedang berjalan bersama selalu di katakanpasangan kekasih terutama bagi yang tidak kenal.

“wah, kalianpasangan serasi ya?”ucap seorang penjaga butik karena kini keduanya berada disebuah toko pakaian dimana Gabriel harus menemani Agni yang memang sangat manjapadanya.

Agniterkekeh, “sama dia Miss? Udah tua juga masa saya mau”gurau Agni

Gabrielmenyeringai, “tua ya? yaudah jangan ajak Papa jalan lagi”Gabriel mendudukandirinya di sebuah kursi.

“ternyatakalian bukan pasangan ya? maaf”ujar penjaga butik itu.

“Papa, Riocariin ihh taunya jalan terus sama anaknya”ujar seorang pemuda yang baru sajamemasuki butik itu.

Agnimerengut, “apaan sih kak? Ganggu aja! Pulang sana”usir Agni

“lagian Papajalan mulu sama Agni! Rio gak pernah di ajakin”Rio mendudukan dirinya disamping Gabriel.

Mario AdityaDamanik, putra sulung Gabriel yang kini berusia 18 tahun. Si sulung ini memangselalu saja cemburu jika Gabriel lebih memilih jalan dengan Agni, tapi Gabrieldengan simple manjawab.
“mendingsama Agni jalan di sangka pacaran nah kalo sama kamu?”ujar Gabriel

Agnimenjulurkan lidah ke arah Rio.

“Pak inipesanannya”pemilik butik itu memberikan sebuah kotak agak besar.

Riomendelik, “apa itu?”
“mau tau ajaatau mau tau banget?”ujar Agni
Riomencibir, “yaudah”ia beranjak pergi

Gabrielberdiri, “pulang sama kak Rio gih, Papa masih ada urusan di tempat lain”
Agnimengerutkan keningnya, “kok gitu?”
Gabrielmengacak-acak rambut putrinya, “sebentar kok, sejam lagi juga pulang. Sanamumpung masih di tungguin”

Agnimengangguk mengerti, keduanya berbarengan keluar dari butik itu.
“Io' Papaada urusan dulu, Agni sama kamu ya”
Riomengacungkan jempolnya, “oke Pa”

Gabrielterlihat memasuki mobilnya dan tak lama mobil itu pun menghilang di balikkeramaian.

Riomengalungkan tangannya di pundak Agni.
“masuk gihmau pulang gak?”ujar Rio

Agnimenggerak-gerakan bahunya agar tangan Rio turun dari pundaknya.
“iyalah”iamemasuki mobilnya terlebih dahulu.

***

Malam puntiba, Agni mematut dirinya di depan cermin. Ia menatap pantulan dirinyamengabsen satu persatu barang yang ia kenakan.
“dress? Aman,spatu? Oke. Rambut? Wow. Make up? Pas”komantarnya pada dress selutut berwarnamerah darah, sepatu wedges membalut kaki jenjangnya.

“udah cantikkok, kapan berangkatnya nih kalo dandan terus?”tanya Rio yang sedari tadimemperhatikan adiknya itu dari ambang pintu.
Rio mengenakanpakaian resminya, jas hitam menutup kemeja merahnya, celana hitam, sepatupantopel dan dasi berwarna hitam juga.

Agni tersenyum,ia raih tas tangannya kemudian mendekati Rio.
“pegang”iamenyodorkan tasnya pada Rio.
Rio hanyamengerutkan dahi kemudian menerima tas tangan itu.
“gak usah sopake dasi kalo gak bisa masangnya”ujar Agni, ia kini membenahi dasi Rio yangkurang rapih menurutnya.

Rio terkekeh,ia menyentuh puncak kepala Agni mengacak sedikit poni adiknya itu.
“makasih”iamengembalikan tas tangan Agni pada pemiliknya.

Agni nampakcemberut sambil berjalan ke arah meja riasnya kembali.
“ahh kak Rio,acak-acakan lagi kan? Ihh”ia membenahi poninya.

***

Agni dan Rioberjalan berdampingan memasuki sebuah hall di hotel bintang lima. Mereka sedikitmengedarkan pandangannya mencari Gabriel yang katanya telah berangkat.
“ke sana yuk”Riomenarik tangan Agni menuju sebuah kursi dimana ada seorang gadis yang Rio kenal.

“hai sayang?”sapagadis itu, ia bercipika-cipiki dengan Rio begitu mesra.
“kak Angel? Ngapainsih disini?”tanya Agni, ia agak tidak suka dengan gadis ini. pasalnya diaseolah ingin merebut kakaknya! Merebut perhatian dan segala yang tercurah darikakaknya untuk dirinya.

Angel mengerlingkanmatanya, “hai adik iparku yang manis? Udah lama  gak ketemu kangen juga ya?”ia mendekati Agni,merangkul bahu Agni namun dengan segera ia menepisnya. Ia bergeser mendekati Rio.

Rio menatap Agni,memeluk pinggang adiknya itu.
“kak Angel nanyatuh, kamu kok gitu banget?”tanya Rio dengan nada selembut mungkin.
Agni menggeleng,ia merapatkan diri pada Rio, takut.

Angel menyeringai,“dansa yuk Io', biarin aja adik kamu disini. Gak bakalan ilang juga”ia menariklengan Rio yang di peluk Agni begitu intens.

Rio menatap Agni,meminta persetujuan.
Agni menggelengia malah mengeratkan pelukannya.

“udah dehgak usah manja gitu, gue kan pacarnya juga”sahut Angel yang melihat ke raguan Rio

Agni menunduk,ia melepaskan tangan Rio kemudian beranjak pergi sejauh mungkin.
Ia takutdengan gadis itu, sangat takut.

***

Seorangpemuda yang duduk di sebuah bar minuman dan ya... tentunya di pesta yang samaterlihat memperhatikan Agni yang tengah bercengkrama dengan lelaki yang ianilai sebagai ‘Oom-Oom’
“dia muridDirgantara juga?”tanya pemuda itu, pada pemuda lain yang tengah memperhatikan Agnijuga.

Pemuda keduaitu mengangguk, “dia Agni Damanik, anak bungsu dari Gabriel Damanik”gumannya.
“thanks Ray”ucappemuda pertama pada pemuda yang di sebut Ray itu.

Ray tersenyummiring, “Kka, loe suka sama dia?”tanyanya tak yakin.
Cakka mengerutkakeningnya, “emang gak boleh?”tanya balik Cakka.
“dia gak loebanget! Dia gak bakalan tau gimana ngebahagiain loe, gak bakalan bisa ‘muasin’loe banget deh”kata Ray sambil terus memperhatikan Agni yang tengah bergelayutmanja dengan Gabriel.

Cakka menatapRay sekilas, kemudian menatap ke arah Agni lagi.
“gaulnyasama Om-Om gitu masa iya sih gak sesuai kriteria?”

Ray menepukjidatnya, “dia bokapnya. Dia itu cewek manja, cengeng dan ajaib. Gak loe bangetdeh”jelas Ray mencoba meyakinkan.
Cakka tersenyummiring, “okelah kita liat aja nanti”ia beranjak menuju ke arah Agni. Sementara Rayhanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Namun sebelumCakka sampai di tempat Agni telah datang seorang laki-laki yang langsungmemeluk pinggang Agni dari belakang. Agni memukul dada laki-laki itu denganmanja dan di hadiahi sebuah kecupan manis di dahinya.
Cakka mengepalkantangannya, dalam hati ia bersumpah akan membuat gadis itu bertekuk lutut dihadapannya.

***

Sebuah Ferrariputih mewah memasuki pelataran parkir Dirgantara Senior High School, daridalam  mobil itu secara bersamaan keluardua mahkluk tuhan yang sangat sempurna. Tubuh yang atletis, wajah yang rupawandan kulit yang bersih membuat mereka terlihat sempurna.
Seluruh matatertuju pada mereka berdua, namun keduanya cuek saja.

Salah satudari mereka adalah Raynald Prasetya, yang sudah biasa di pandang seperti itusetiap paginya. Karena sejak ia MOS sampai sekarang ia terkenal denganpredikatnya sebagai Pemuda berwajah malaikat.
“ke kantordulu?”tanya Ray pada Cakka pemuda kedua yang datang dengan Ray. Cakka mengangguktanpa mengeluarkan suara.

DUK

Tanpasengaja seorang gadis menabrak Cakka, saat gadis itu menikung di tikungan yangdi lalui Cakka juga, gadis itu nampak meringis karena dahinya terkena dagu Cakka.Apalagi Cakka, lumayan sakit juga. Ia mendelik pada gadis itu emosi, “liat-liatdong kalo jalan”ucapnya dengan nada dingin.

Gadis itumendongakkan kepalanya, ia sedikit menyampirkan poni yang menutupi matanya.
“Sorry”ucapgadis itu sambil meringis.

Cakka berdecak,“ck. Hati-hati”desisnya, ia berjalan meninggalkan Agni begitu saja yang diikuti Ray dari belakang.

“siapa sihdia? Dasar mahkluk aneh!”umpat gadis itu.

***

Agni dudukdi bangku ke tiga dari depan dan paling pinggir, ia mengeluarkan buku-bukunyakarena bel sudah terdengar.
“hai Ni?”seoranggadis duduk di samping Agni. Agni mendongakkan kepalanya, senyumnya merekah.
“Ify...akhirnya sekelas juga”ia memeluk gadis itu, Ify.

Ify terkekeh,ia melepaskan pelukannya “gak tau nih, tumben ya ada yang satu kelas dalam duatahun berturut-turut”
“gapapa deh,gak usah di ambil pusing juga lah”tanggap Agni

Seorang pemudaberjalan memasuki kelas itu dan duduk di belakang Ify, Ify sempat kaget jugasekelas dengan pemuda itu.
Ify menyenggollengan Agni, “ngapain sekelas sama dia? Gak bakalan tentram deh kelas kita”bisikIfy. Agni mengangguki ucapan Ify itu karena seorang guru telah memasuki kelasitu.

“selamatpagi anak-anak, selamat datang di tahun ajaran baru dan di kelas kalian akanmendapatkan teman baru pindahan dari Dirgantara SHS Yogyakarta sekaliguspemilik Dirgantara SHS seluruh indonesia. Silahkan masuk”ucap Bu Tarra

Seorang pemudamemasuki kelas itu dengan tatapan yang datar dan dingin. Suasana kelas berubahmenjadi sangat sunyi, tidak ada aktifitas apapun selain bernafas dan yangterdengar hanya deruan nafas tak karuan dari beberapa gadis di kelas itu, kagumdengan pemuda itu.

“saya Cakka Dirgantara,kalian bisa panggil saya Kka”ujar Cakka tanpa ekspresi apapun.

‘mukanya gak bisa anget dikit kali ya?dingin banget’ batin Agni.

“oke Cakka,silahkan duduk di tempat yang kosong”kata Bu Tarra lagi

Cakka berjalanke tempat di samping pamuda yang duduk di belakang Ify.

Pelajaranpundi mulai dengan Mata Pelajaran Matematika yang di simak begitu antusias olehsiswa maupun siswi di kelas itu.
“kalian bukamateri Integral”setelah berkata demikian Ibu Tarra langsung menjelaskan tentangmateri tersebut.

Setelah hampirdua jam akhirnya pelajaranpun selesai, “kalau ada yang kurang faham kalian bisatanya sama Ibu atau Agni, begitu Agni?”ucap Bu Tarra sambil memalingkanwajahnya pada Agni.

Agni menganggukragu, sebenarnya ia belum tau banyak tentang materi kelas XII ini, tapi yaberhubung ia memang selalu di jadikan kepercayaan guru Matematik jadi iamengiyakan saja karena ia memiliki pemikiran bahwa kalau ia merasa bisa pastiakan bisa karena dia akan terus berusaha, jika ia sudah bersugesti tidak bisamaka ia akan malas belajar dan akhirnya benar-benar tidak bisa.

Sepeninggal BuTarra ia merasakan seseorang mendorong kursinya, yang tidak lain dan tidakbukan itu ulah Cakka, murid baru yang dingin. Agni berbalik.
“apa?”tanyanyabegitu singkat, ia agak malas jika berurusan dengan orang yang dingin. Ia merasakalau orang yang dingin itu orang yang gak bisa hangat, gak bisa penuh dengankasih sayang.
“jelasin”Cakkamenyodorkan bukunya. Agni mengambil buku Cakka, ‘rapih juga’ pikir Agni. Ia mulai menjelaskan materi itu pada Cakkawalau Cakka terlihat ogah-ogahan menanggapinya.

Ray, yang disebelah Cakka. Menarik Ify untuk beranjak meninggalkan Cakka dan Agni di dalamkelas berdua.
“apaan sihloe? Sakit woy”ringis Ify.

Banyak sekalipandangan tidak suka terlempar untuk Ify, mereka saling berbisik.

“sok bangetgak mau di pegang cowok ganteng”

“munafiklah,gue yakin dia kesenengan”

“apa sihbagusnya dia? Gak pantes banget buat Ray”

Ify malahmelongos mendengar itu, ia sedikit kesal tapi ya sudahlah buat apa jadifikiran? Gak penting juga.

***

Agni berjalanmenuju gerbang. Tadi, sepuluh menit sebelum bubar ia telah mengirim pesankepada Rio untuk segera menjemputnya.

Rio melambaikantangan pada Agni. Agni pun segera berlari ke arah Rio dan segera naik ke atasCagiva milik kakaknya itu.
“langsungkemana tuan putri?”tanya Rio

“pulang aja”kataAgni. Ia melingkarkan tangannya sempurna di pinggang Rio, sementara dagunya iasimpan di bahu kiri Rio.

Tanpa merekasaradi dari arah lain memperhatikan mereka dengan geram, sangat kesal danmarah.
“gue harusdapetin dia”guman orang itu, Cakka.


Next...

2 comments: