Cindai duduk di kamar penginapan, beberapa menit yang lalu
ia telah sampai di Banyumas dan akan segera melaksanakan upacara pembukaan. Ia
menghela nafas berkali-kali, ada rasa bersalah di hatinya. ‘maaf Bagas... aku egois’ batinnya, tak lama setelah itu ia segera
merapihkan pakaiannya dan beranjak ke lapangan indor yang telah di siapkan.
Hari ini ia tak perlu memakai peralatan lengkap karate karena ia akan
bertanding dua hari lagi, sedangkan hari ini dan besok adalah pertandingan
untuk Sekolah Menengah Pertama.
“kok lesu gitu”kata Dayat yang kebetulan berpapasan di
sebuah lorong, ia terlihat begitu santai hari ini.
Cindai tersenyum kaku, “capek aja kak”gumannya, mereka
berjalan berdampingan menuju tempat yang sama.
***
Sementara itu, di kediamannya Bagas hanya diam dan merenung
di balkon kamarnya dengan sesekali
melihat ponselnya. Berharap Cindai
mengabarinya meskipun hanya satu kata saja, mengobati rasa rindu dan
khawatirnya.
Bagas memejamkan matanya lama, kemudian membukanya kembali.
‘semoga kamu di
selalu lindungi’ do’anya, perlahan
ia memasuki kamarnya untuk sekedar merebahkan dirinya yang terasa begitu tak
bertenaga.
Beberapa lama ia terpejam, namun terbangun kembali begitu
mengingat sesuatu. Ia raih ponselnya dan menghubungi Chelsea.
“hallo Chels”
“ya”
“aku ganggu ya?”
“menurutmu?”
Bagas menghela nafas, sepertinya gadis itu masih marah
padanya “sebelumnya maaf, tapi aku butuh informasi tentang Cindai”
Chelsea berdecak “ck,
penting ya?”
Bagas mencengkram rambutnya frustasi, “Chels please... dan
aku mohon jangan kasih tau Cindai masalah tadi... aku bisa jelasin semuanya
sama kamu”
“aku gak sebodoh itu
Bagas! Mana mungkin aku memberi tau itu di saat Cindai mau bertanding”
Bagas menghela nafas lega, “thanks”
“tapi setelah itu aku
akan memberi taunya!”
Sambungan terdengar di putuskan sepihak. Bagas membelalakan
matanya, Cindai gak boleh tau tentang hal kemaren. Kalo sampe tau bakalan
berabe dan hubungannya akan semakin merenggang.
Ia memanggil Chelsea kembali.
“maaf nomor yang anda
tuju sedang tidak aktif...”
“argh”ia memukul kasurnya dengan keras, melampiaskan
kekesalannya. Kalau sudah begini apa yang bisa ia lakukan?
***
Agni berdecak kagum begitu memasuki rumah yang sangat megah
itu, jarak dari gerbang sampai pintu utama cukup jauh, pohon palem derbaris
dengan rapih sepanjang gerbang sampai menuju halaman yang sangat luas. Setelah
sampai di taman yang luas ia melihat satu buah gerbang lagi menuju parkiran dan
di sisi lainnya menuju pintu utama yang
berdiri begitu kokoh.
“ini akan jadi rumah kita nanti”guman Rio, ia keluar dari
mobilnya dan di susul oleh Agni.
Agni menelan ludahnya dengan sukar, ia menatap Rio dengan
ragu, “kita?”
Rio tersenyum, ia menarik tangan Agni dengan lembut memasuki
rumah itu. “iya, apa aku salah ngomong?”tanya Rio, ia sama sekali tidak menatap
Agni.
Agni menggeleng pelan, “bukan begitu, apa kita...”Agni
menggantungkan perkataannya hingga Rio menatap Agni menunggu kelanjutannya.
“apa kita akan sampai menikah?” mendengar kelanjutan ucapan Agni, Agni melihat
perbedaan raut wajah Rio yang terlihat mengeras. “ma...maksud aku... ya kan
kamu tau sendiri kamu... punya Ify, gak akan semudah itu kita menikah”jelas
Agni, berusaha tak menyinggung pemuda itu.
Rio tersenyum miring, “kalo aku mau, nikah sekarang juga bisa”ia meninggalkan Agni, terus menjauh
tanpa mempedulikan Agni yang mematung mendengar ucapan Rio barusan. Apa katanya
tadi? Apa ia tak salah mendengar?
Agni menggelengkan kepalanya pelan. ‘gak! gak mungkin! Pasti Rio becanda! Iya pasti becanda’ batinnya
mencoba berfikir pisitive, karena gak mungkin pemuda itu ingin melanjutkan
pertunangan yang atas dasar terpaksa ini. Agni mengatur nafasnya mencoba
menenangkan pikirannya.
***
Ify terus berusaha menenangkan Marsha yang menangis tersedu,
begitu Marsha pulang sekolah ia memutuskan untuk tidak pulang kerumahnya karena
ia butuh sahabatnya untuk bercerita. Mengeluarkan segala keluh kesahnya.
“mungkin dia temennya Rafli Sha, loe jangan kayak anak kecil
gini... dulu loe nyangka yang enggak-enggakkan sama Cindai tapi ternyata,
Cindai itu sepupuan ama Rafli”Ify mengelus punggung Marsha, menenangkan
sahabatnya itu. Mencoba memberi energi positive pada Marsha.
Marsha mendongak, “Fy, kalo dia temennya Rafli berarti
temennya Rio, Cakka sama Bagas juga! Tapi ini apa? Gue benci Rafli! Gue benci
cewek itu!”kata Marsha penuh dengan penekanan emosi.
Ify menghembuskan nafas berat, benar juga apa kata Marsha
tapi kalau hanya itu, itu bukan alasan yang kuat. “kita tanyain aja sama Rio,
gimana? Siapa tau aja dia tau”usul Ify
Marsha mengangguk, ia juga tak ingin masalahnya tambah
berlarut-larut.
“maaf nomor yang anda
tuju sedang tidak aktif...”
Ify mengerutkan keningnya, ia menatap ponselnya “kok tumben
gak aktif”guman Ify pelan.
Marsha menatap Ify, “kenapa?”
Ify mengotak atik ponselnya “gak aktif Sha”
Marsha menautkan kedua alisnya, “kok? Tanya Cakka deh”
Ify mengangguk mengerti.
***
Cakka berdiri begitu angkuh di depan sebuah meja kerja, ia
dan yang berada di belakang meja itu saling melempar tatapan penuh kebencian.
Cakka tersenyum mengejek, “loe liatkan? Agni! Cinta dan sayang sama gue! Apa
kesepakatan itu masih berlaku, KAK Alvin?”tanya
Cakka dengan penekanan emosi.
Alvin, yang berada di belakang meja kerja itu berdiri.
Menatap adiknya itu dengan tatapan penuh tantangan. “gue lelaki yang
bertanggung jawab! Dan gue selalu nepatin apa yang gue ucapkan!”ia bersandar di
meja itu menatap ke arah jendela, menyampingi Cakka. “apa mau loe?”tanyanya
begitu dingin.
Cakka berdecak, ia duduk di sofa tak jauh dari tempatnya
berdiri. “loe cukup pergi jauh-jauh dari kehidupan Agni, selamanya...”desis
Cakka, ia mengambil gelas di hadapannya lalu mengamati gelas itu.
Alvin tersenyum miring, “gue gak pernah ada niat buat
ngebunuh loe! Jadi buat apa loe liatin gelas itu seakan takut gue meracuni
minuman dalam gelas itu”guman Alvin begitu melihat Cakka terlihat mencurigai
minuman yang ada di mejanya. Ia menghela nafas, menyilangkan tangan didadanya,
“gue rasa gak semudah itu ninggalin Agni, selain karena gue belum percaya apakah
loe bisa jagain dia, gue juga masih banyak kerjaan di sini” ia kembali duduk di
meja kerjanya, memulai kesibukannya kembali.
Cakka mendelik ke arah Alvin, “dengan loe gak berusaha
ngedeketin Agni itu udah cukup” ia berdiri dan hendak beranjak dari kantor
Alvin, berlama-lama dengan kakaknya hanya akan membuatnya lupa akan berucap
dengan nada biasa yang seharusnya terlontar dari seorang adik kepada kakaknya.
“kalo gue bisa”guman Alvin di sela kesibukannya.
Cakka yang tidak mengindahkan ucapan itu segera berlalu,
sesekali ia melempar senyum pada karyawan Alvin yang menyapanya. Ia merasakan
ponselnya berdering.
Dahi Cakka berkerut, “Ify?” ia menekan tombol eccept.
“ada apa Fy?”
“Cakka, gini gue mau
tanya sesuatu”
Cakka menaikan satu alisnya, sambil memasuki lift “apa?”
Terdengar Ify menghela
nafas, “gini, tadi Marsha liat Rafli dengan seorang gadis, kalo gadis itu
temennya Rafli berarti temen loe juga”
“gak semua, cepet pada intinya”nada suara Cakka menjadi
dingin.
“oke-oke, ciri-cirinya
berkaca mata, rambutnya sebahu hitam legam, memakai behel, matanya agak belo
tubuhnya kira-kira seperti Cindai”
“paling Zahra?”
“Zahra? Thanks Kka”
“urwell”
Setelah mengatakan itu Cakka menutup sambungan teleponnya
dan berlalu menuju mobilnya yang di parkir cukup jauh.
***
Rafli mengacak rambutnya frustasi kini ia duduk di balkon
kamarnya, gadisnya menghilang tidak ada di rumahnya di hubungi tak ada reaksi,
tidak ada satupun pesan yang di balas dan apalagi telpon? Dari tadi di abaikan
oleh gadisnya itu.
“biar gue besok deh yang jelasin, ini pasti gara-gara
gue”gadis yang berada di samping Rafli itu berujar.
Rafli menatap gadis di sampingnya, ia menggeleng pelan “gak!
ini masalah gue dan loe gak boleh terlibat”tolak Rafli agak keras.
Gadis itu menghela nafas panjang, “gara-gara gue loe marahan
dan kemungkinan gara-gara gue juga Bagas marahan sama ceweknya”ia mengusap
wajahnya.
“bukan, ini salah gue Ra... cewek gue emang kadang
kekanak-kanakan”guman Rafli, ia menatap ke arah depan lagi.
Gadis itu, Zahra ia mengikuti arah pandang Rafli “maaf, baru
dateng gue udah buat kekacauan”ia menghembuskan nafas berat.
Rafli dan Zahra menengok bersamaan, saling bertatapan “bukan
salah loe, seharusnya gue yang minta maaf baru juga loe dateng udah masuk sama
masalah”
Zahra tersenyum, bagi Rafli senyuman itu tak pernah berubah
selalu menyejukkan hati, membuatnya tenang.
Clek
Zahra dan Rafli mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang
terbuka “Cakka?”guman Zahra
Cakka tersenyum miring, ia memeluk Zahra sebentar, menyambut
gadis yang selalu ada di antara mereka berempat ini.
“makin cantik”puji Cakka
Zahra tersenyum malu, ia memukul lengan Cakka pelan “dasar
tukang gombal”ucap Zahra
Cakka duduk di samping kanan Zahra, “oiya Raf Ify nelpon gue,
katanya loe marahan sama Marsha?”tanya
Cakka begitu mengingat Ify yang menelponnya tadi.
Rafli mengangguk ia melirik ponselnya yang teronggok di
meja, taklama terdengar seseorang memasuki kamar Rafli kembali, dia Bagas.
“loe ada masalah apa sama Marsha? Sampe dia tanya-tanya
masalah Zahra?”tanya Bagas begitu masuk, kemudian duduk di hadapan Cakka namun
badannya menghadap Rafli, kini mereka duduk melingkar.
Zahra menaikan satu alisnya, “darimana mereka tau nama
gue?”tanyanya merasa janggal.
“dari gue”guman Cakka, ia menimang-nimang ponselnya yang
sangat sepi karena Agni menghilang begitu saja tak mengabarinya.
Zahra memalingkan wajahnya pada Cakka, “kok bisa?”
Cakka berdecak, “loe tuh pinter Ra, tapi kadang-kadang lemot
loe keterlaluan juga ya?”ia menghela nafas “kan tadi gue bilang, Ify nelpon
gue”ucapnya tenang.
Zahra mengangguk mengerti, kemudian ia mengedarkan
pandangannya. “kok gak ada Rio, gak biasa banget dia telat”guman Zahra
“hapenya gak aktif Ra”guman Rafli
Zahra membulatkan bibirnya, ia terlihat sedang berfikir
“oiya tadi gue liat dia sama cewek”ia mengingat-ingat, “dia ngasih cincin dan
makein cincin itu di jari cewek yang sama-sama dia”guman Zahra.
Cakka menegang, dalah hati ia berdo’a semoga Zahra tak
membeberkan masalah itu karena ia tau kalau itu mungkin saja Rio dengan Agni.
“paling ceweknya”guman Cakka, ragu.
Bagas mengerutkan
keningnya, “tapikan Ify lagi sama Marsha
di rumahnya”ujar Bagas.
Sementara Rafli membulatkan matanya, “serius loe Marsha
disana?”tanya Rafli
Bagas mendelik aneh, “iya, kenapa sih loe? Kayak menang
lotre semiyar aja”ejeknya
Rafli berdiri, ia meraih jaketnya yang ada di pagar balkon
itu, “ini lebih dari sekedar satu milyar”ia berlalu begitu saja.
Namun tanpa mereka sadari Cakka menghembuskan nafas lega dan
mengelus dadanya pelan, untung Rafli begitu senang mendengar Marsha ada di
rumah Ify, kalo gak bisa gawat!
***
Cindai duduk di bangku penonton teratas di lapangan itu,
sesekali ia melirik ponselnya yang masih mati. Ia ragu untuk menghubungi Bagas,
entah kenapa merasa akan sakit hati kalau berbicara dengan kekasihnya itu.
Tapi, dengan perlahan ia menekan salah satu tombol kemudian terlihatlah
ponselnya menyala.
Beberapa saat kemudian datang beberapa pesan dan
pemberitahuan bahwa Bagas menelponnya berkali-kali. Ia tersenyum tipis namun
tak ada niat buat membalas atau menghubungi kekasihnya itu. Ia masuk ke akun
twitternya, menuliskan sesuatu disana.
GloryaCindai semoga
kamu baik-baik aja disana :*
Setelah menuliskan itu ia langsung melog out, menyimpan
ponsel itu kedalam saku jaketnya.
Tanpa sepengatuannya dari arah jauh ada seorang pemuda
memperhatikannya begitu intens dengan senyum merekah di bibir sensualnya.
‘akhirnya kita
bertemu’
***
Dua hari berlalu, hari ini sekolah di hebohkan dengan
kedatangan Cakka, Rio, Rafli dan Bagas dengan seorang gadis yang mereka ketahui
adalah murid baru. Ya, Zahra memang baru masuk karena perpindahannya baru dapat
di selesaikan kemarin.
“kangen gue diliatin dengan tampang iri sama cewek-cewek
penggemar kalian”bisik Zahra agar dapat di dengar oleh keempat pemuda yang
mengapitnya.
Bagas tersenyum miring, “pastilah, dari dulu loe kan sama
kita”gumannya.
Begitu sampai di kelas yang berada di samping kelas mereka
berempat, Zahra berhenti.
“gue di sepuluh satu”gumannya
Keempatnya menatap tak rela, “biar gue urus kepindahan kelas
loe”guman Bagas.
Zahra menggeleng, “gak ah, gue gak mau sekelas sama kalian
dan pacar kalian. Entar yang ada gue dimakan idup-idup”ia terkekeh garing,
kemudian berjalan memasuki kelas itu.
Bagas berdecak, “gitu banget”komentarnya
Rio menatap Bagas, “kayaknya loe kangen banget ya sama
dia?”tanya Rio dengan nada menuduh.
Bagas memutar bole matanya, “emang kenapa? Masalah?” mereka
mulai berjalan lagi menuju kelasnya.
Rio mengangkat bahu, “ya enggak sih, cuma loe harus inget
Cindai aja, gue liat beberapa hari ini gue gak liat loe manja-manjaan sama dia
di twitter”ia menyimpan tasnya di atas meja.
Cakka mengangguk,
“iya, dan gue yakin loe gak hubungin dia ya dua hari ini?”
“kalo loe lebih tertarik sama Zahra, sebaiknya loe jauhin
Cindai! Karena kalo sampe dia sakit hati gara-gara loe gue orang pertama yang
bakalan ngehajar loe! Mendingan loe mulai sekarang jaga jarak sama Zahra!”ancam
Rafli, nadanya terdengar dingin.
Bagas meneguk ludahnya dengan sukar, dua hari ini ia memang
tidak menghubungi kekasihnya. Ia bosan dengan jawaban yang sama ‘nomor yang anda tuju sedang tidak aktif...’
Ia meraih ponselnya, menekan beberapa digit angka,
“aktif”gumannya.
“hallo? Maaf baru
selesai mandi”jawab di sebrang.
“adinda... kamu baik-baikkan sisana? Kapan pulang?”tanya
Bagas, ia melirik satu persatu temannya yang mendengus dan mengalihkan
pandangan ke arah lain.
‘tadi aja lengket sama
Zahra, sekarang udah Dinda Dinda,dasar!’ pikir Rafli.
Cindai terkekeh, “aku
baik kanda, kamu sendiri? Hari ini hari terakhir pertandingan”
Bagas menghela nafas, “syukur deh, kamu ati-ati ya? jaga
kondisi kamu”
“kamu juga”
“yaudah aku udah mau masuk nih, bye... miss you”
“miss you too”
Bagas menyimpan ponselnya kembali, ia menatap
sahabat-sahabatnya yang sudah sibuk dengan bukunya masing-masing, “kenapa sih
loe pada?”tanya Bagas
Cakka memutar bola matanya, “aneh loe!”ujarnya, setelah itu
menyibukkan diri dengan bukunya kembali.
Bagas menghela nafas panjang, ia melirik sahabat-sahabatnya ‘mungkin mereka bener, gue harus jaga jarak
sama Zahra, gue gak mau nyakitin Cindai’
***
Sementara Agni, Ify dan Marsha hanya menatap sinis ke arah
empat cowok itu. ‘sekarang boleh kalian
merasa senang! Liat aja nanti balasannya!’ batin mereka
Beberapa hari ini mereka memang bersikap wajar seolah tidak
terjadi apa-apa sama hati mereka ketika melihat kedekatannya dengan anak baru
itu.
Agni dan Rio beradu pandangan, pandangan Rio berubah menjadi
lembut saat menyadari tatapan tajam dari Agni, ia tau apa penyebab Agni
bersikap seperti itu. Ia melihat ponselnya yang terasa bergetar.
Maaf. Aku janji gak bakalan bareng sama dia lagi.
Aku gak minta kamu
jauhin dia Io', terserah kamu aja. Aku gak peduli!
Tapi kamu harus peduli!
Melihat pesan itu Agni menghebuskan nafas berat, ia menyimpan
ponselnya kedalam tas. Mengabaikan pesan yang menurutnya tak penting itu. Agni
mengurut pelipisnya yang terasa berat. Ia menelungkupkan kepalanya di atas
tangan yang ia lipat di atas meja.
***
Pelajaran pertama usai, pelajaran kedua tidak ada gurunya
karena guru bidang study itu cuti melahirkan dan tidak ada guru pengganti. Ify
dan Marsha memutuskan untuk keluar kelas membelikan sesuatu untuk Agni yang
belum sarapan.
“gimana kalo Zahra kita jadiin manager lagi? Kerjanyakan
bagus”usul Rafli pada ketiga temennya.
Ketiganya berpandangan, “boleh juga, tapi... apa dia
mau?”guman Cakka
Bagas menghembuskan nafas, “gue rasa dia mau, melihat
antusiasnya dia pengen sekolah disini”
Rafli menatap Rio yang bungkam, “menurut loe gimana?”
Rio berdeham, “terserah kalian aja”
“oke kita anggap persetujuan, yuk kita datengin kelas
dia”ajak Rafli, dan kemudian mereka beranjak minus Rio yang masih duduk di
kursinya.
Ia melirik Agni, nampaknya gadis itu tertidur. Ia mendekati
gadis itu dengan jaket yang ada di tangannya.
Agni merasakan sebuah jaket menyampir di pundaknya dan
sebuah pelukan di pinggangnya, ia menggeliat tau dengan aroma farfum ini.
“Io', ini sekolah”ucapnya dengan parau, kepalanya masih
pening dan tenggorokannya terasa begitu kering.
Rio menatap Agni, tak melepaskan pelukan itu, “terus
kenapa?”ia mendesak Agni ke dinding karena kebetulan Agni duduk di pojok dekat
dengan dinding. Ia mendekatkan wajahnya dengan Agni, begitu berhadapan Rio
dapat merasakan panasnya nafas Agni, ia mundur.
“kamu sakit?”tanya Rio, ia memegang dahi Agni, panas.
Agni tersenyum, ia menjatuhkan diri di dinding, “pusing,
keluar gih bentar lagi Ify masuk kesini”ucap Agni masih dengan suara parau.
Rio menghela nafas panjang, “kita pulang! Kamu sakit gak
mungkin lanjutin pelajaran, dan aku gak mau ada bantahan”Rio berjalan mengambil
tasnya kemudian memapah Agni tanpa di ketahui oleh siapapun.
“kamu tunggu disini, sementara aku ambil kartu dispen”kata
Rio, sementara Agni hanya mengangguk patuh, lelaki itu kini tidak bisa di
bantah lagi. Entah kenapa dia menjadi begitu posesif padanya.
***
Ify memasuki kelas sepuluh satu, “Agni mana?”tanyanya
spontan begitu melihat Cakka.
Namun Cakka mengeryitkan dahinya “bukannya di kelas?”ucapnya
“dasar bodoh! Dia sakit dan bisa-bisanya loe malah sama
cewek lain”umpat Ify, setelah itu ia meninggalkan kelas itu dengan emosi.
Marsha menatap Ify dengan khawatir, “ada?”
Ify menggeleng, “mungkin dia pulang”gumannya
Marsha mengangguk mengerti, kemudian ekspresinya berubah
menjadi dingin “mereka masih sama gadis itu?”gumannya
Ify mengangguk, ia tersenyum masam “biarinlah, toh mereka
akan menerima yang lebih sakit, nanti!”ucapnya penuh dengan penekanan emosi.
***
Cindai memeriksa perlengkapan pertandingannya, setelah
merasa lengkap ia mengikat rambutnya seperti ekor kuda dengan asal. Begitu
Cindai di panggil ia langsung maju ke arah tempat bertanding.
Pertandingan pertama dia menang, dan selanjutnya sampai
menuju final. Tapi begitu sampai ke final ia menatap pandangan licik dari
lawannya.
“hati-hati, dia bisa melakukan apapun asalkan dia
menang”bisik seseorang
Cindai berbalik, senyumannya mengembang begitu menatap
pemuda itu. Begitu tampan sekarang, rambutnya yang dulu gondrong sekarang sudah
pendek, dan memiliki badan yang... ya tuhan... atletis.
“Ray”ucapnya spontan.
***
Cakka memasuki kediaman Agni, tadi ia menerima kabar bahwa
gadisnya itu pulang bersama Rio karena tidak enak badan. Sekarang baru Cakka
tau, ternyata gadis itu gampang sakit saat benar-benar tidak bisa menjaga pola
makannya.
“Agni dimana bi?”tanya Cakka
“ada di atas den, tapi...”
“terimakasih”ucap Cakka kemudian melangkah menuju kamar
Agni.
Clek
Cakka menahan nafasnya, rahangnya mengeras. Agni! Gadisnya
itu! Di peluk begitu posesif di atas tempat tidur, Agni nampak membenamkan wajahnya
di dada Rio, meringkuk di dalam dekapan pemuda itu.
“hai Kka?”sapa Rio dengan santai, ia menjauhkan diri dari
Agni, membuat Agni terjaga dan mau tak mau membulatkan matanya menatap Cakka
yang sudah berdiri di depannya.
“loe keliatan mau makan kita hidup-hidup Kka? Kenapa sih?
Kita masih pake pakaian lengkapkan? Gak ada sesuatu yang terjadi”ucap Rio, ia
keluar dari selimut kemudian mengambil minuman di meja kecil samping tempat
tidur.
Rio mendekatkan diri pada telinga Agni yang masih mematung ‘kayaknya kita gak bisa berduaan di rumah
ini sayang, kenapa tadi kita gak kerumahku aja ya?’ bisik Rio penuh
penyesalan.
Cakka mendengarnya! Mendengar apa yang di ucapkan Rio. Semuanya!
Namun ia mencoba menahan diri tak menghiraukan Rio, ia
berjalan mendekati Agni.
“kamu udah mendingan? Katanya kamu tadi sakit”tanya Cakka begitu
lembut.
Agni tersenyum, “gapapa kok”
Cakka nampak bergumam, “oiya mengenai Alvin, dia akan pergi
dan gak akan ganggu kamu lagi”
Agni menghembuskan nafas lega, “makasih ya Kka? Akhirnya dia
gak bakalan ganggu aku lagi” ia mengelus dadanya.
Rio mengangkat satu alisnya, ia masih duduk di ranjang itu. “Alvin?
Kakaknya Cakka? Ada urusan apa kamu sama dia?”tanya Rio, bertanya begitu
mengintimidasinya.
Agni mendudukan dirinya, di tatap dua pemuda yang duduk di
ranjangnya membuat ia bergidik ngeri juga, “dia mantan aku”jawab Agni
Rio hanya membulatkan bibirnya mengerti.
***
Ify menatap sebuah cincin yang tergeletak di bawah meja Agni,
ia meraih cincin itu.
‘kok kayak punya Rio?’
pikirnya
“Agnita?”ucap Ify begitu melihat ukiran di dalam cincin itu.
Pikirannya melayang, apa maksud cincin ini? sebenarnya ada apa? Ia menghela
nafas panjang. Ia gak boleh gegabah menuduh Agni, mungkin saja itu kebetulan
sama. Ia bertekad akan mengembalikannya.
Marsha mengerutkan dahinya begitu mendengar seseorang adu
mulut di luarsana, pelajaran memang sudah usai dan sekolah sudah mulai sepi,
dan itu baru mulai berarti masih banyak orang di sana.
“kamu tuh yang harusnya kira-kira! Udah lupa punya cewek? Emang
aku salah bilang kedia supaya jauhin kamu?”bentak Marsha pada Rafli
Rafli menatap Marsha dengan tatapan penuh amarah, “tapi gak
usah gitu! Gak usah bertingkah seperti anak kecil”
“aku emang masih kecil!”balas Marsha dengan tak kalah
kerasnya.
Marsha berdecak, “jadi selama ini sayang kamu itu cuma
segini? Setelah dapet aku, kamu dengan seenaknya cuekin aku, jauhin aku dan di
depan mata aku kamu malah berduaan dengan dia!”
“Sha, dengerin dulu...”Rafli berkata begitu lirih pada Marsha,
kalau dengan keras lagi masalah ini tak akan terselesaikan.
“aku lagi ngomongin masalah basket karena dia manager aku
lagi, Cakka, Rio dan Bagas pergi punya urusan masing-masing...”ia menghela
nafas panjang.
“dan kamu? Emang aku gak penting? Liat perjuangan Cakka Raf!
Saking pentingnya Agni dimata Cakka dia bela-belain bolos jam terakhir!!! Tapi kamu,
apa usahanya buat aku? Hm? Apa Raf?”tanya Marsha dengan parau, ia begitu
membendung air mata yang akan menetes. Ia menghembuskan nafas begitu dalam, “sudahlah,
mendingan kita gak usah deket dulu, aku butuh waktu sendiri”lanjur Marsha, ia
beranjak meninggalkan Rafli memasuki kelas untuk mengambil tas setelah itu
beranjak pergi tanpa ada usaha tahanan dari Rafli.
Ify terpaku mendengarnya, Marsha dengan mudah menanyakan apa
usaha Rafli untuk dirinya? Apakah Marsha tidak sadar dengan ucapannya? Ify tau
betul pengorbanan Rafli yang harus melakukan perdebatan panjang dengan Papanya cuma untuk mempertahankan Marsha.
Ia tak habis pikir dengan ucapan sahabatnya itu yang mungkin saja akan
menyakiti hati Rafli.
***
Cakka dan Agni berada di ruang tamu rumah Agni. Cakka
merebahkan kepalanya di pangkuan Agni. Sejak tadi sepulang sekolah, sampai
sekarang sudah mau sampai malam Cakka masih ada di rumah Agni, menjaga Agni. Sementara
Rio tadi memutuskan untuk pulang.
“maaf ya... aku malah ninggalin kamu tadi”guman Cakka, ia
manatap Agni yang mengelus keningnya.
Agni tersenyum, “gapapa, oiya kamu belum makan ya?”tanya Agni
khawatir
Cakka membalas senyuman itu, “udah kok tadi, sekarang aku
cuma mau sama kamu”
Agni mengangguk, ia terlihat menerawang jauh, tatapan
matanya menjadi kosong.
“Kka...”panggil Agni tanpa menatap Cakka, Cakka menatap Agni
dalam.
“sepertinya kita harus mempersiapkan kenyataan buruk buat
kita kedepannya”guman Agni, ia menghela nafas penuh putus asa.
Cakka meraih lengan Agni, mengecupnya lembut “kenapa? Apa yang
akan terjadi?”tanya Cakka
“Agni! Saatnya kamu istirahat! Kamu harus fit besok! Sebentar
lagi Ulangan semester”ucap seseorang dengan tegas, dan suara itu begitu menggema
di rumah ini.
Agni membalikkan badan dan ternyata Rio disana, Agni mengangguk
patuh.
“Kka, kamu pulang ya... besok kita ketemu di sekolah”
Cakka menghela nafas berat, ia mendudukan dirinya “yaudah”ia
meraih tasnya “aku pulang, jangan lupa makan ya?”pesan Cakka sebelum akhirnya
meninggalkan rumah itu.
Agni menghela nafas setelah kepergian Cakka. Kemudian ia
berdiri hendak beranjak kekamarnya.
“malam ini aku tidur sama kamu”desis Rio yang membuat
langkah Agni tertahan.
“Rio”panggil seseorang dengan suara lirih.
Rio berbalik ke arah pintu, batapa terkejutnya ia melihat Ify
berdiri kaku disana dengan tangan menutup mulutnya tanda kekagetan mendengar
ucapan Rio barusan. Namun, pandangan itu seketika berubah menjadi dingin
mengetahui Rio malah berdiri seperti patung tanpa ada kata penjelasan untuknya.
“Ify, ini gak seperti yang loe bayangin”ucap Agni, ia
berjalan mendekati Ify.
Ify mengangkat satu alisnya, “emang apa yang gue bayangin?”
ia mendekati Agni, meraih tangan Agni “ini cincin loe”ia melirik jari Agni yang
mengenakan cincin yang sama persis “atau mungin... lebih tepatnya... milik Mario!”
kasihan ify sama cakka, tetep terusin :)
ReplyDelete