“...sebagaimana
kegiatan yang telah di laksanakan, Ibu selaku kepala sekolah mengucapkan sangat
berterimakasih pada semua pihak yang telah ikut andil, baik dari guru, panitia
maupun peserta. Dan yang terakhir ibu mempersilahkan kepada ketua panitia
penyelenggara untuk mengumumkan pemenangnya”
“terimakasih
kepada Ibu kepala sekolah, berikut ini adalah pemenang dari beberapa lomba yang
telah dilaksanakan, untuk lomba dance juara pertama dimenangkan oleh Sepuluh
Dua...”
Anak-anak
sepuluh dua saling berpandangan, mereka tersenyum “yeyyy”
“untuk lomba
bernyanyi juara pertamanya dari... Sebelas Satu...”
Bagas dan
Cindai berpandangan, menghela nafas kecewa.
“juara
ketiga diraih oleh Sepuluh Dua... sebenarnya penampilan Sepuluh Dua itu memang
bagus tapi ada beberapa pelanggaran, di antaranya pasangan dari penyanyinya
datang terlambat, nah... yang terakhir untuk lomba yang di adakan saat
perkemahan, untuk juara ke tiga di menangkan oleh Sebelas Empat, untuk juara
Kedua...”
Agni
berganggaman dengan Ify was-was, “pokoknya kita harus menang”guman Ify
“dan untuk
juara pertama, di menangkan oleh Sepuluh Dua”
Agni dan Ify
berpandangan dengan senyuman yang merekah, “yeyyy”
“...jadi
sudah terlihatkan? Juara umum kita kali ini adalah... Sepuluh Dua”
Seluruh
murid di kelas itu bersorak, selain mereka senang mereka juga bangga karena
bisa menjadikan kelas itu juara untuk pertama kalinya.
“untuk wali
kelasnya di harapkan maju...”
***
Kedelapan
orang itu seperti biasa berkumpul di kantin dekat lapangan basket.
“Rio, photo
yang mana yang loe kirimin?”tanya Cakka
Rio
menuntaskan mengunyahnya, “yang berempat”ia meneguk minumannya.
“liat dong,
guekan belum liat”pinta Cindai
Rio
mengambil ponsel di sakunya, “ini, gue udah pindahin semuanya ke hape kok”ia
memberikan ponsel itu pada Cindai
Ify terkekeh
melihat Rio yang sedang makan, seperti orang yang gak makan seminggu aja.
“belepotan
Io'”Ify membersihkan sudut bibir Rio.
Rio meraih
tangan Ify, menunrunkannya ke atas meja dan mengelusnya lembut
“makasih”bisiknya
Ify
mengangguk kaku, sepertinya alat koordinasinya selalu terganggu jika disentuh
Rio.
“sejak kapan
kamu pake cincin?”tanya Ify, saat tak sengaja menunduk dan melihat benda perak
melingkar di jari manis Rio.
Agni
mendongak, ‘dasar ceroboh’ ia menatap tajam ke arah Rio
yang sedang kebingungan mencari alasan.
Rio
menggaruk tengkuknya yang tak gatal, “ini... hehe iseng aja sih, emang kenapa?”
Ify
tersenyum, “enggak, kirain loe udah tunangan”
Glek
Agni
tiba-tiba merasa sukar untuk menelan makanannya, begitupun dengan Rio.
“uhuk”Agni
terbatuk pelan
Cakka
menepuk punggung Agni pelan, kemudian memberikan segelas air pada Agni.
“thanks”
“Rio, kenapa
gak foto loe sama Agni aja yang ini keren tau, atau gak yang lagi sama Ify yang
ini”koor Cindai
“baguskan
Gas? Selera Rio payah”ejek Cindai
Rio
mengambil ponselnya, melihat photo yang di maksud. Ternyata photonya bersama
Ify yang dimana ia mengapit Ify di antara sebuah pohon besar dan dirinya, Rio
akui ekspresi mereka memang bisa dibilang dapet banget. Kalo yang sedang
bersama Agni, photo dimana mereka berdua tengkurap berhadapan dengan tangan
saling menggenggam dan kening yang menyatu, keduanya tersenyum dan tak Rio
pungkiri kalau photonya dengan Agni memang bagus.
Marsha tak
henti melihat ekspresi wajah Rio, yang menurutnya pemuda itu dalam keadaan
dilema. Seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan dari mereka. ‘aneh’ batin Marsha.
“kita juga
punya banyak foto”ucap Rafli.
Rio
mendongak, beralih perhatian dari ponselnya. “mana?”
Bagas
menatap Rafli dengan mengisyaratkan sesuatu yang hanya di mengerti Rafli. Rafli
memamerkan deretan giginya, “entar loe juga tau”
Rio
melongos, “pelit”
Ponsel Agni
yang berada di atas meja bergetar.
“hallo Pa?”
“ya hallo Ni, ada Rio?”
Agni
menjauhi tempat duduknya “hn... ada, nelpon langsung ke orangnya ajalah Pa, gak
enak”
“yaudah, bye”
“bye”
Agni kembali
duduk di bangkunya, “rahasia banget ya kayaknya?”ujar Cakka tanpa bermaksud
bertanya
Agni menatap
Cakka, “masalah buat loe?”setelah itu mengalihkan pandangannya pada Rio yang
beranjak dari kursinya.
Cakka tersenyum
tipis, “enggak sih,oiya... mantan loe itu siapa?”
“Alvin”jawab
Agni dengan ketus
“iya Alvin,
dia SMS gue lho Ni, suruh gue jauhin loe”guman Cakka.
Agni
mendengus, “kok gitu? Gue udah gak ada hubungan kok sama dia, beneran deh”
Ify
menjentikan jarinya, “kayaknya dia masih suka lagi sama loe”
Agni
berdecak, “ihh enggak mungkin”
“mungkin
lagi Ag, yang gue tau ya... Alvin itukan secara ya bukan sekedar mantan pacar
loe, tapi mantan tunangan jadi pasti belum relalah ngelepasin loe, apalagi cuma
gara-gara murid SMA kayak Cakka”guman Marsha, meski ia sibuk dengan minumannya
tetap saja ia nimbrung untuk berbicara.
Agni
mendengus, “tapi itukan gue anggap cuma tunangan anak kecil yang ya... loe tau
lah, fist love”
“oiya Ni,
bahkan dia kira gue tunangan loe yang baru lho, gara-gara dia dapet info kalo
loe udah tunangan”guman Cakka
Agni
membulatkan matanya, ‘tau darimana dia’ “sial”umpat Agni.
“bel tuh,
masuk yuk”ucap Bagas, semenjak kejadian ngilang itu Bagas jadi terlihat lebih
pendiam dari biasanya, biasa aja pendiam apalagi sekarang? Jadi lebih pendiam.
Mereka
semuapun beranjak dari tempat duduknya.
***
Hari ini
seperti biasa jadwal latihan untuk anak-anak basket dan latihan karate.
Dengan setia
Ify melihat Rio yang sedang berlatih. “semangat Rio”teriaknya.
Agni dan
Marsha duduk di sebelah Ify, “semangat Rafli”teriak Marsha”
Rafli
berbalik, sedikit melempar senyumnya.
Cakka
berbalik, memastikan Agni datang. Cakka tersenyum begitu melihat Agni
melambaikan tangannya ke arah dirinya.
“kayaknya cuma
gue yang kurang beruntung”ujar Bagas, ia melompat dan bole itu masuk kedalam
ring.
Ify meraih
tas Rio, namun pandangannya tertuju pada cincin yang tadi di pakai Rio, cincin
itu di letakkan di dalam tas Rio yang agak terbuka. Ia mengambilnya.
“cincin Rio?”tanya
Ify
Agni menatap
barang yang di genggam Ify, ‘mati gue’
Rio berlari
ke arah Ify dan segera meraih cincinnya. Ify merengut, “kok diambil? Kan gue
mau liat Io'”rengek Ify
“gak
boleh”Rio membawa tasnya menjauh dari jangkauan Ify.
‘benerkan? Rio pasti nyembunyiin sesuatu’
guman Marsha, pandangannya tak lepas dari Rio yang menurutnya aneh.
Ralfi
berdiri di depan Marsha, “jangan baca fikiran orang terus, gak sopan
tau”ucapnya
Marsha
merengut, lagi asik juga. “apa sih loe? Sok tau banget”
Rafli mensejajarkan
dirinya dengan Marsha, membelai pipi gadis itu, “gue udah tau dari nyokap loe”
Marsha
menyipitkan matanya curiga, “kapan loe kerumah gue lagi?”
Rafli
menyeringai, mengambil air dari dekat Marsha, “sering lagi, gue juga sering
jalan sama nyokap loe. loe aja yang marah-marah mulu sama gue, jadilah gue
jalan sama nyokap loe daripada loe yang labil”
Agni
berdiri, “gue ketoilet dulu”pamit Agni
Ify dan
Marsha menatap Agni, “tumben gak minta di anter”guman Ify
“lagi mau
sendiri kali”guman Marsha
Tuk
Rafli
memukul pundak Marsha dengan botol air yang kosong, “jangan baca pikiran orang
terus”ia berlalu ke arah lapangan lagi.
***
Dayat
mendekati Cindai yang sedang istirahat di pinggir lapangan, kelihatannya gadis
itu kurang fit.
“loe
sakit?”tanya Dayat.
Cindai
menatap Dayat, ia tersenyum “enggak kok, cuma tadi tangan gue keseleo kak”
“mana gue
liat”tawar Dayat
Cindai
mengangkat tangan kanannya yang terasa ngilu. Perlahan Dayat mulai memijat
pergelangan tangan Cindai.
“aw”rintih
Cindai
“tahan
bentar”Dayat terus memijat pergelangan tangan Cindai
Cindai tak
henti-hentinya meringis menahan sakit pada tangannya. Seseorang menepuk pundak
Cindai. Cindai berbalik, melepaskan genggaman tangan Dayat dan tersenyum “Gas”
Bagas
memaksakan senyumnya, “kenapa tangannya?”ia melirik Dayat kurang suka. Setelah
itu meraih tangan Cindai dan duduk di sebelah Cindai.
“itu tadi
keseleo aja, pemanasannya kurang”ucap Cindai, ia menatap Bagas yang tidak
menunjukan kekhawatiran sedikitpun dimatanya, ia heran sendiri sebenarnya ada
apa dengan Bagas?
“khm...
gimana udah mendingan?”tanya Bagas, risih juga diliatin intens kayak gitu.
“eh,
lumayan”Cindai kembali pada kenyataan setelah berkutat dengan pikirannya. “loe
gak latian?”
Bagas
berdiri, begitupun Cindai “udah, pelatihnya ada kependingan mendadak”
Cindai
mengangguj-angguk mengerti, “gue latian dulu deh ya? loe mau nunggu apa
gimana?”
Bagas
menghela nafas pelan, “gue tunggu aja, tapi gue mau ganti baju dulu”
Cindai
mengangguk mengerti, setelah itu keduanya berpisah menuju tempat tujuan
masing-masing.
***
Agni menatap
pantulan dirinya di toilet itu, ia sangat merasa bersalah pada Ify, tapi ia
juga tidak mau mengecewakan Papanya, bagaimanapun juga ia harus menuruti apa
kata Papanya yang udah merawat dirinya dan adiknya dari kecil semenjak Mamanya
meninggal. Pertunangannya kali ini juga berbeda dengan dulu, saat Alvin datang
kerumahnya, meminta agar Agni bisa bertunangan dengannya meski tanpa perayaan
karena saat itu Agni masih kelas 3 SMP tapi sekarang? Sekarang yang meminta ini
semua adalah Papanya.
Agni membuka
kalung berbandul cincin, ia memandangi cincin yang baru beberapa jam ini ia
miliki sangat jelas sekali dalam cincin itu ada sebuah nama. Nama yang tidak ia
inginkan. ‘Mario’
Agni
memutuskan untuk keluar, ia rasa telah cukup untuk kali ini ia menyendiri.
Duk
Begitu Agni
keluar ia menabrak seseorang yang kebelutan melintasi jalan itu. “Ni, kenapa
loe?”tanya orang itu cuek, Cakka.
Agni
menggeleng, ia hendak beranjak tapi lengannya di tahan oleh Cakka.
“lepas Kka”
Cakka
menarik Agni hingga duduk di sebuah kursi panjang, “cerita kegue, loe kenapa?”
Agni
menunduk, ia menggeleng pelan. “sorry gue gak bisa”
Cakka
melirik kalung yang di genggam Agni, merebutnya tanpa permisi.
“ini cincin
Rio kan?”
Agni
menggeleng, “itu punya gue, balikin”ia mencoba menggapai cincin itu.
“Mario?”Cakka
menatap nama yang berada dalam cincin itu, ia menatap Agni dalam “jujur sama
gue? Loe ada hubungan apa sama Rio?”
Agni
menggeleng pelan.
Cakka
berdecak, “udah gue duga, kalian emang pasti ada hubungan”Cakka berdiri
Agni meraih
tangan Cakka, “please jangan kasih tau siapapun apalagi Ify”
Cakka
menghela nafas, ia duduk kembali. “cerita kegue!”
Agni
mengangguk ragu, “bokap gue sama bokap Rio itu sahabatan dari sejak SMA,
kemaren-kemaren”Agni menghela nafas panjang, Cakka mengelus pundak Agni memberi
ketenangan
“...sekitar
seminggu yang lalu dia dateng ke rumah gue sama Rio, dan saat itu juga bokap
Rio tau kalo gue itu satu sekolahan sama Rio dan...”Agni menatap Cakka ragu,
“...gak tau
sejak kapan mereka ngerencanain ini semua, sampe kejadian pas perkemahan gue...
sama Rio...”Agni menunduk kembali, ia takut jika mengingat hal itu.
Cakka
menghela nafas, “kapan loe tunangan?”
“semalem”Agni
menjatuhkan kepalanya di pundak Cakka. Cakka menghentikan elusan di pundak
Agni. Hatinya benar-benar runtuh.
“Ni”Cakka
menegakkan tubuh Agni, ia merengkuh wajah Agni, “apa loe cinta sama Rio?”
Mata Agni
berkaca-kaca, “gue...”
Cakka
menghela nafas, ibu jarinya menghapus air mata Agni yang menetes “jujur Ni,
sebenernya sejak awal gue ketemu loe gue udah suka sama loe dan beberapa kali
kita ada kesempatan bareng hati gue udah mantep cinta sama loe, meski gue
mungkin udah telat tapi dari hati gue, gue cinta sama loe gue mau loe jadi
milik gue, seutuhnya, selamanya”
Agni
memaksakan senyumannya, “gue juga Kka, gue juga cinta sama loe”
Cakka
mendekatkan wajahnya ke wajah Agni, menghapus jarak keduanya untuk beberapa
saat. Agni diam, turut larut di dalamnya.
“jadiin gue
kedua”bisik Cakka
Agni membuka
matanya, ia menggeleng pelan.
Cakka
menunduk kecewa melihat gelengan itu, ia menyerahkan cincin tadi “yaudah”ia
beranjak.
“bukan kedua
Kka, loe pertama di hati gue, selamanya”ujar Agni, ia meremas cincinnya,
setelah itu memakainya.
Cakka
tersenyum tipis, namun ia tetap pada posisi tidak berbalik sedikitpun pada Agni
hingga ia merasakan sebuah tanga melingkar di perutnya.
***
Rafli memacu
mobilnya dengan kecepatan sangat lambat, sampai Marsha terlihat bosan
dengannya.
“gue naek
siput ato mobil sport mewah sih?”rutuk Marsha
Rafli
tersenyum miring, kenapa ia jadi senang membuat gadis ini jengkel ya?
“kan biar
lama kita berduanya”
Marsha
mendelik, “gak gini-gini juga kali”
“yaudah sih
yang penting nyampe dengan selamat kan?”tanya Rafli.
Hingga tanpa
terasa mereka sampai di suatu butik.
“ngapain
kesini?”tanya Marsha
“nyokap loe
ada di sini”Rafli keluar dari mobilnya. Marsha mengikuti.
Marsha
menggembungkan pipinya, “yang anaknya itu siapa sih?”
Mereka
berdua memasuki butik tersebut, kemudian menghampiri Gita.
“tante”sapa
Rafli
“Mama kok
malah bilang sama dia sih kalo ada disini? Kan bisa telpon aku”rajuk Marsha.
Gita
mengelus rambut Marsha, “ya kan yang Mama tau kamu selalu sibuk makannya Mama
telpon Rafli”
Gita
mengambil sebuah dress berwarna soft blue “coba ini, entar malem kita kepesta”
Marsha
mengangguk dengan malas.
“Marsha
manja ya tante?”tanya Rafli
“gak juga
sih, kadang-kadang aja”jawab Gita, ia tersenyum pada Rafli.
Tak lama
kemudian Marsha keluar dari kamar ganti, “gimana?”
Gita melihat
Marsha kemudian melirik Rafli, “cantik gak?”tanyanya pada Rafli
Rafli
tersenyum, “cantik, cocok sama Marsha tant bajunya”
Gita
tersenyum, “ganti lagi gih, abis itu kita pulang”
Marsha
kembali keruang ganti, setelah itu keluar lagi dengan seragam sekolahnya lagi.
***
Agni menatap
pantulan dirinya di cermin, cantik. Hari ini ada pesta rahasia yang di undang
oleh Rafli. Entah pesta apa yang pasti mereka harus hadir.
“Ni”panggil
Rio
“masuk
aja”kata Agni, ia merapihkan pakaian dan rambutnya yang ia gerai.
Clek
“udah
siap?”tanya Rio
Agni
berbalik, “udah”
“eh iya,
kamu gak jemput Ify?”ia berjalan ke arah tempai tidur, memasangkan sepatu
wedgesnya.
Rio duduk di
sebelah kiri Agni, “kok malah nanyain dia?”
Agni menatap
Rio setelah menyelesaikan memasang sepatunya, “aku gak mau kamu jadiin hubungan
kita beban Io', aku tau kamu itu cintanya sama Ify jadi aku gak bakalan larang
kamu buat deket sama dia, dan aku juga udah janjian sama Cakka berangkat
bareng”
“jadi? Kamu
gak mau berangkat sama aku?”tanya Rio agak kecewa.
“bukan...
bukan gitu, tapi... aku gak mau sampe Ify tau tentang kita dulu, aku gak mau
ada masalah”sanggah Agni
Rio menghela
nafas, ia mengelus pipi kanan Agni, “yaudah”ia mengecup pelan kening gadis itu
cukup lama, entah sejak kapan pemuda itu jadi berani seperti ini pada Agni.
“Agni,
Rio”sapa seseorang dari arah pintu, Cakka.
Agni dan Rio
berbalik, “Kka?”sapa Rio agak gugup
“berangkat
yuk, udah hampir telat”ajak Cakka, ia berlalu terlebih dahulu, jadi yang kedua
memang menyebalkan!
“oiya Ni,
aku lupa, Papa katanya udah nyampe ke Spore”ucap Rio, setelah itu ia
meninggalkan Agni yang masih berdiam diri.
Cakka duduk
di ruang tamu rumah Agni bersama Difa dan ada Novi juga yang menjamunya, tak
lama Rio turun dan di susul oleh Agni.
“Ni, titip
Difa sama adek loe ya... katanya ada tugas”kata Cakka
“yaudah,
jangan kemana-mana ya Nov”pesan Agni pada Novi.
“aku jemput
Ify dulu”bisik Rio tepat di telinga Agni, Agni hanya mengangguk mengerti.
“yuk Kka,
Dif, Nov jaga rumah ya kalo kalian ada apa-apa telpon kakak aja, pintunya
jangan lupa kunci kakak bawa kunci cadangan kok”jelas Agni
Novi hanya
mengangguk.
“kakak
pamit”Agni dan Cakka beranjak.
“bawel
banget sih”umpat Novi
Difa menatap
Agni dan kakaknya yang sudah berlalu, “gue mau tanya nov”
“apa?”ia
menatap Difa
“yang tadi
siapa? Yang berangkat duluan”
“tunangannya
kak Agni”jawab Novi
“hah?! Dia
kakaknya Gilang Nov, sahabat kakak gue juga, wahhh... wahhh...”
“tau deh
ya... urusan orang yang udah gede emang ribet Dif, bentar ya gue ambil buku
dulu”Novi berlalu mengambil perlengkapan untuk belajarnya.
***
Ify
tersenyum begitu melihat sebuah mobil yang ia kenal memasuki pekarangan
rumahnya, ia merasa beruntung karena entah kenapa malam ini mengijinkannya
untuk pergi dengan teman-temannya lebih dari satu jam.
“Ma, Ify
berangkat”pamit Ify setelah itu ia mendekati Rio yang telah membukakan pintu
untuknya. “makasih”
Rio
tersenyum, segera ia menuju ketempat pengemudi “udah siap?”
Ify
mengangguk, “siap pangeran”
Rio tersenyum
menatap Ify begitu dalam, mengelus rambut Ify yang di uraikan. “loe cantik
banget deh Fy”
Wajah Ify
dengan seketika merona, ia menunduk malu “bisa aja sih loe”
“beneran
Fy”Rio mulai tancap gas.
Di
perjalanan mereka saling diam tak ada yang berniat mengawali pembicaraan.
Hingga mereka sampai di tempat tujuan.
“ini beneran
Io' tempatnya?”tanya Ify
Rio
mengangguk, “yuk keluar”ajak Rio
Mereka
dengan bergandengan memasuki ruangan itu, mereka takjub dengan dekorasi di
ruangan itu, begitu elegan dan glamour.
“hei bro,
lama banget sih”kata Rafli menyambut
Rio
terkekeh, “acara apaan sih nih? Kawinan loe ya?”tanya Rio
Rafli
memukul lengan Rio, “bukanlah, gila loe”
“tuh liat
aja ada photo siapa? Masa iya Rafli yang kawin”guman Marsha
Ify dan Rio
melihat kearah yang di tunjukan oleh Marsha, mereka benar-benar takjub.
“Cakka sama
Agni mana?”tanya Rio, ia mengedarkan pandangannya.
“ada, tuh
lagi duduk-duduk”tunjuk Marsha pada Cakka Agni yang sedang duduk di sebuah sofa
berwarna putih yang memang di peruntukan untuk mereka berdelapan.
“gabung
yuk”Ify menggandeng tangan Rio dengan agresif.
Agni
tersenyum ke arah Ify, “hai, lama banget sih”
Ify
menyenggol Rio, “dianya telat jemput”
Agni
mengangguk-angguk mengerti.
“eh,
silahkan duduk anggap aja rumah sendiri”kata Cakka, ia bergeser emberi tempat
untuk Rio dan Ify.
Rio
mencibirnya, “sok tuan rumah loe”ia duduk di samping kiri Agni.
Keduanya
tersenyum canggung.
***
Bagas dengan
setelan putih-putih telah menunggu sang pujaan hati keluar dari istananya. Di
tangan kanannya ia telah membawa setangkai bunga yang memang di siapkan khusus
untuk gadis ini.
Clek
Cindai
tersenyum pada Bagas yang setia menunggu di depan pintu, “lama ya?”
Bagas
tersenyum, ia menggeleng kemudian memberikan bunga mawar putih itu pada Cindai.
“yuk,
acaranya udah mau di mulai”ia menggandeng tangan Cindai dengan lembut, membawa
gadis itu kedalam mobil putihnya.
Setelah
Bagas memasuki mobilnya, Cindai menghadap ke arah Bagas. “sebenernya acara apa
sih? Kenapa aku pake gaun gini?”tanya Cindai karena memang ia menggunakan gaun
yang glamour dan WOW.
Bagas tak
menjawab, ia melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang. Ia tak ingin Cindai
mengetahuinya sebelum gadis ini melihatnya sendiri.
Tak lama
berselang, merekapun telah sampai pada tempat yang di tuju, tamu undangan telah
banyak yang berdatangan dan memenuhi gedung itu.
“yuk
masuk”ajak Bagas, Cindai megikuti Bagas dan berjalan beriringan dengan saling
bergandengan tangan.
Seluruh
pandangan tertuju pada Cindai dan Bagas, Cindai sampai tergugup melihat tamu
undangan yang tersenyum dengan ramah.
“Bagas...”
Cindai menghela nafas, “itu foto kita... ini acara apa?”
Bagas
tersenyum, “iya itu emang foto kita waktu acara kemaren, aku sengaja suruh
Rafli buat foto kita”
Cindai masih
agak linglung, ia bingung sebenarnya ini acara apa?
“Cindai,
kamu itu cinta gak sama aku? Atau suka mungkin”tanya Bagas
Cindai
menatap pemuda itu, ia mengangguk ragu.
Bagas
menghela nafas, “terus kenapa kamu tolak acara perjodohan kita?”
Cindai
menatap aneh pada Bagas, “perjodohan kita?”
Seseorang
menepuk pundak Cindai, “iya, kamu emang di jodohkan sama Bagas”
Cindai
berbalik, “Mom, kenapa ada di sini?”
“ini acara
pertunangan kita, Mami yang rencanain ini semua sama Mom kamu... aku yang maksa
mereka dan sebelum acara kemaren aku sengaja ngilang dari kamu karena aku mau
liat reaksi kamu, dan setelah dapet info dari Rafli aku yakin kalo kamu emang
suka aku”jelas Bagas
Cindai
tersenyum, “kalo aku tau yang mau di jodohkan itu sama kamu, aku gak bakalan
nolak gas”matanya sunggug berbinar.
“jadi kamu
mau?”tanya Bagas
Cindai
mengangguk pasti. “jadi selama ini Rafli mata-matanya?”
Dari arah
sofa yang di duduki beberapa orang Rafli memamerkan giginya dengan polos
mengacungkan jempolnya.
To Be Continue...

No comments:
Post a Comment