Thursday, 28 March 2013

Cowok itu... #7

Tanpa terasa hari seninpun tiba, seluruh siswa dan siswi AS kembali kesekolah setelah kegiatan melelahkan mereka. Dan satuhal yang membuat banyak orang malas untuk bertemu hari senin yaitu Upacara Bendera.
“...sebagaimana kegiatan yang telah di laksanakan, Ibu selaku kepala sekolah mengucapkan sangat berterimakasih pada semua pihak yang telah ikut andil, baik dari guru, panitia maupun peserta. Dan yang terakhir ibu mempersilahkan kepada ketua panitia penyelenggara untuk mengumumkan pemenangnya”
“terimakasih kepada Ibu kepala sekolah, berikut ini adalah pemenang dari beberapa lomba yang telah dilaksanakan, untuk lomba dance juara pertama dimenangkan oleh Sepuluh Dua...”

Anak-anak sepuluh dua saling berpandangan, mereka tersenyum “yeyyy”

“untuk lomba bernyanyi juara pertamanya dari... Sebelas Satu...”

Bagas dan Cindai berpandangan, menghela nafas kecewa.
“juara ketiga diraih oleh Sepuluh Dua... sebenarnya penampilan Sepuluh Dua itu memang bagus tapi ada beberapa pelanggaran, di antaranya pasangan dari penyanyinya datang terlambat, nah... yang terakhir untuk lomba yang di adakan saat perkemahan, untuk juara ke tiga di menangkan oleh Sebelas Empat, untuk juara Kedua...”

Agni berganggaman dengan Ify was-was, “pokoknya kita harus menang”guman Ify

“dan untuk juara pertama, di menangkan oleh Sepuluh Dua”

Agni dan Ify berpandangan dengan senyuman yang merekah, “yeyyy”

“...jadi sudah terlihatkan? Juara umum kita kali ini adalah... Sepuluh Dua”

Seluruh murid di kelas itu bersorak, selain mereka senang mereka juga bangga karena bisa menjadikan kelas itu juara untuk pertama kalinya.
“untuk wali kelasnya di harapkan maju...”

***

Kedelapan orang itu seperti biasa berkumpul di kantin dekat lapangan basket.
“Rio, photo yang mana yang loe kirimin?”tanya Cakka

Rio menuntaskan mengunyahnya, “yang berempat”ia meneguk minumannya.

“liat dong, guekan belum liat”pinta Cindai

Rio mengambil ponsel di sakunya, “ini, gue udah pindahin semuanya ke hape kok”ia memberikan ponsel itu pada Cindai

Ify terkekeh melihat Rio yang sedang makan, seperti orang yang gak makan seminggu aja.
“belepotan Io'”Ify membersihkan sudut bibir Rio.

Rio meraih tangan Ify, menunrunkannya ke atas meja dan mengelusnya lembut “makasih”bisiknya

Ify mengangguk kaku, sepertinya alat koordinasinya selalu terganggu jika disentuh Rio.
“sejak kapan kamu pake cincin?”tanya Ify, saat tak sengaja menunduk dan melihat benda perak melingkar di jari manis Rio.

Agni mendongak, ‘dasar ceroboh’ ia menatap tajam ke arah Rio yang sedang kebingungan mencari alasan.

Rio menggaruk tengkuknya yang tak gatal, “ini... hehe iseng aja sih, emang kenapa?”

Ify tersenyum, “enggak, kirain loe udah tunangan”

Glek

Agni tiba-tiba merasa sukar untuk menelan makanannya, begitupun dengan Rio.
“uhuk”Agni terbatuk pelan

Cakka menepuk punggung Agni pelan, kemudian memberikan segelas air pada Agni. “thanks”

“Rio, kenapa gak foto loe sama Agni aja yang ini keren tau, atau gak yang lagi sama Ify yang ini”koor Cindai
“baguskan Gas? Selera Rio payah”ejek Cindai

Rio mengambil ponselnya, melihat photo yang di maksud. Ternyata photonya bersama Ify yang dimana ia mengapit Ify di antara sebuah pohon besar dan dirinya, Rio akui ekspresi mereka memang bisa dibilang dapet banget. Kalo yang sedang bersama Agni, photo dimana mereka berdua tengkurap berhadapan dengan tangan saling menggenggam dan kening yang menyatu, keduanya tersenyum dan tak Rio pungkiri kalau photonya dengan Agni memang bagus.

Marsha tak henti melihat ekspresi wajah Rio, yang menurutnya pemuda itu dalam keadaan dilema. Seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan dari mereka. ‘aneh’ batin Marsha.
“kita juga punya banyak foto”ucap Rafli.

Rio mendongak, beralih perhatian dari ponselnya. “mana?”

Bagas menatap Rafli dengan mengisyaratkan sesuatu yang hanya di mengerti Rafli. Rafli memamerkan deretan giginya, “entar loe juga tau”

Rio melongos, “pelit”

Ponsel Agni yang berada di atas meja bergetar.
“hallo Pa?”

“ya hallo Ni, ada Rio?”

Agni menjauhi tempat duduknya “hn... ada, nelpon langsung ke orangnya ajalah Pa, gak enak”

“yaudah, bye”

“bye”

Agni kembali duduk di bangkunya, “rahasia banget ya kayaknya?”ujar Cakka tanpa bermaksud bertanya
Agni menatap Cakka, “masalah buat loe?”setelah itu mengalihkan pandangannya pada Rio yang beranjak dari kursinya.

Cakka tersenyum tipis, “enggak sih,oiya... mantan loe itu siapa?”

“Alvin”jawab Agni dengan ketus

“iya Alvin, dia SMS gue lho Ni, suruh gue jauhin loe”guman Cakka.

Agni mendengus, “kok gitu? Gue udah gak ada hubungan kok sama dia, beneran deh”

Ify menjentikan jarinya, “kayaknya dia masih suka lagi sama loe”

Agni berdecak, “ihh enggak mungkin”

“mungkin lagi Ag, yang gue tau ya... Alvin itukan secara ya bukan sekedar mantan pacar loe, tapi mantan tunangan jadi pasti belum relalah ngelepasin loe, apalagi cuma gara-gara murid SMA kayak Cakka”guman Marsha, meski ia sibuk dengan minumannya tetap saja ia nimbrung untuk berbicara.

Agni mendengus, “tapi itukan gue anggap cuma tunangan anak kecil yang ya... loe tau lah, fist love”

“oiya Ni, bahkan dia kira gue tunangan loe yang baru lho, gara-gara dia dapet info kalo loe udah tunangan”guman Cakka

Agni membulatkan matanya, ‘tau darimana dia’ “sial”umpat Agni.

“bel tuh, masuk yuk”ucap Bagas, semenjak kejadian ngilang itu Bagas jadi terlihat lebih pendiam dari biasanya, biasa aja pendiam apalagi sekarang? Jadi lebih pendiam.

Mereka semuapun beranjak dari tempat duduknya.

***

Hari ini seperti biasa jadwal latihan untuk anak-anak basket dan latihan karate.
Dengan setia Ify melihat Rio yang sedang berlatih. “semangat Rio”teriaknya.

Agni dan Marsha duduk di sebelah Ify, “semangat Rafli”teriak Marsha”
Rafli berbalik, sedikit melempar senyumnya.

Cakka berbalik, memastikan Agni datang. Cakka tersenyum begitu melihat Agni melambaikan tangannya ke arah dirinya.

“kayaknya cuma gue yang kurang beruntung”ujar Bagas, ia melompat dan bole itu masuk kedalam ring.

Ify meraih tas Rio, namun pandangannya tertuju pada cincin yang tadi di pakai Rio, cincin itu di letakkan di dalam tas Rio yang agak terbuka. Ia mengambilnya.
“cincin Rio?”tanya Ify

Agni menatap barang yang di genggam Ify, ‘mati gue’

Rio berlari ke arah Ify dan segera meraih cincinnya. Ify merengut, “kok diambil? Kan gue mau liat Io'”rengek Ify

“gak boleh”Rio membawa tasnya menjauh dari jangkauan Ify.

‘benerkan? Rio pasti nyembunyiin sesuatu’ guman Marsha, pandangannya tak lepas dari Rio yang menurutnya aneh.

Ralfi berdiri di depan Marsha, “jangan baca fikiran orang terus, gak sopan tau”ucapnya

Marsha merengut, lagi asik juga. “apa sih loe? Sok tau banget”

Rafli mensejajarkan dirinya dengan Marsha, membelai pipi gadis itu, “gue udah tau dari nyokap loe”

Marsha menyipitkan matanya curiga, “kapan loe kerumah gue lagi?”

Rafli menyeringai, mengambil air dari dekat Marsha, “sering lagi, gue juga sering jalan sama nyokap loe. loe aja yang marah-marah mulu sama gue, jadilah gue jalan sama nyokap loe daripada loe yang labil”

Agni berdiri, “gue ketoilet dulu”pamit Agni

Ify dan Marsha menatap Agni, “tumben gak minta di anter”guman Ify

“lagi mau sendiri kali”guman Marsha

Tuk

Rafli memukul pundak Marsha dengan botol air yang kosong, “jangan baca pikiran orang terus”ia berlalu ke arah lapangan lagi.

***

Dayat mendekati Cindai yang sedang istirahat di pinggir lapangan, kelihatannya gadis itu kurang fit.
“loe sakit?”tanya Dayat.

Cindai menatap Dayat, ia tersenyum “enggak kok, cuma tadi tangan gue keseleo kak”

“mana gue liat”tawar Dayat

Cindai mengangkat tangan kanannya yang terasa ngilu. Perlahan Dayat mulai memijat pergelangan tangan Cindai.
“aw”rintih Cindai

“tahan bentar”Dayat terus memijat pergelangan tangan Cindai

Cindai tak henti-hentinya meringis menahan sakit pada tangannya. Seseorang menepuk pundak Cindai. Cindai berbalik, melepaskan genggaman tangan Dayat dan tersenyum “Gas”

Bagas memaksakan senyumnya, “kenapa tangannya?”ia melirik Dayat kurang suka. Setelah itu meraih tangan Cindai dan duduk di sebelah Cindai.

“itu tadi keseleo aja, pemanasannya kurang”ucap Cindai, ia menatap Bagas yang tidak menunjukan kekhawatiran sedikitpun dimatanya, ia heran sendiri sebenarnya ada apa dengan Bagas?

“khm... gimana udah mendingan?”tanya Bagas, risih juga diliatin intens kayak gitu.

“eh, lumayan”Cindai kembali pada kenyataan setelah berkutat dengan pikirannya. “loe gak latian?”

Bagas berdiri, begitupun Cindai “udah, pelatihnya ada kependingan mendadak”

Cindai mengangguj-angguk mengerti, “gue latian dulu deh ya? loe mau nunggu apa gimana?”

Bagas menghela nafas pelan, “gue tunggu aja, tapi gue mau ganti baju dulu”

Cindai mengangguk mengerti, setelah itu keduanya berpisah menuju tempat tujuan masing-masing.

***

Agni menatap pantulan dirinya di toilet itu, ia sangat merasa bersalah pada Ify, tapi ia juga tidak mau mengecewakan Papanya, bagaimanapun juga ia harus menuruti apa kata Papanya yang udah merawat dirinya dan adiknya dari kecil semenjak Mamanya meninggal. Pertunangannya kali ini juga berbeda dengan dulu, saat Alvin datang kerumahnya, meminta agar Agni bisa bertunangan dengannya meski tanpa perayaan karena saat itu Agni masih kelas 3 SMP tapi sekarang? Sekarang yang meminta ini semua adalah Papanya.
Agni membuka kalung berbandul cincin, ia memandangi cincin yang baru beberapa jam ini ia miliki sangat jelas sekali dalam cincin itu ada sebuah nama. Nama yang tidak ia inginkan. ‘Mario’

Agni memutuskan untuk keluar, ia rasa telah cukup untuk kali ini ia menyendiri.

Duk

Begitu Agni keluar ia menabrak seseorang yang kebelutan melintasi jalan itu. “Ni, kenapa loe?”tanya orang itu cuek, Cakka.

Agni menggeleng, ia hendak beranjak tapi lengannya di tahan oleh Cakka.
“lepas Kka”

Cakka menarik Agni hingga duduk di sebuah kursi panjang, “cerita kegue, loe kenapa?”

Agni menunduk, ia menggeleng pelan. “sorry gue gak bisa”

Cakka melirik kalung yang di genggam Agni, merebutnya tanpa permisi.
“ini cincin Rio kan?”

Agni menggeleng, “itu punya gue, balikin”ia mencoba menggapai cincin itu.

“Mario?”Cakka menatap nama yang berada dalam cincin itu, ia menatap Agni dalam “jujur sama gue? Loe ada hubungan apa sama Rio?”

Agni menggeleng pelan.

Cakka berdecak, “udah gue duga, kalian emang pasti ada hubungan”Cakka berdiri

Agni meraih tangan Cakka, “please jangan kasih tau siapapun apalagi Ify”

Cakka menghela nafas, ia duduk kembali. “cerita kegue!”

Agni mengangguk ragu, “bokap gue sama bokap Rio itu sahabatan dari sejak SMA, kemaren-kemaren”Agni menghela nafas panjang, Cakka mengelus pundak Agni memberi ketenangan
“...sekitar seminggu yang lalu dia dateng ke rumah gue sama Rio, dan saat itu juga bokap Rio tau kalo gue itu satu sekolahan sama Rio dan...”Agni menatap Cakka ragu,
“...gak tau sejak kapan mereka ngerencanain ini semua, sampe kejadian pas perkemahan gue... sama Rio...”Agni menunduk kembali, ia takut jika mengingat hal itu.

Cakka menghela nafas, “kapan loe tunangan?”

“semalem”Agni menjatuhkan kepalanya di pundak Cakka. Cakka menghentikan elusan di pundak Agni. Hatinya benar-benar runtuh.

“Ni”Cakka menegakkan tubuh Agni, ia merengkuh wajah Agni, “apa loe cinta sama Rio?”

Mata Agni berkaca-kaca, “gue...”

Cakka menghela nafas, ibu jarinya menghapus air mata Agni yang menetes “jujur Ni, sebenernya sejak awal gue ketemu loe gue udah suka sama loe dan beberapa kali kita ada kesempatan bareng hati gue udah mantep cinta sama loe, meski gue mungkin udah telat tapi dari hati gue, gue cinta sama loe gue mau loe jadi milik gue, seutuhnya, selamanya”

Agni memaksakan senyumannya, “gue juga Kka, gue juga cinta sama loe”

Cakka mendekatkan wajahnya ke wajah Agni, menghapus jarak keduanya untuk beberapa saat. Agni diam, turut larut di dalamnya.
“jadiin gue kedua”bisik Cakka

Agni membuka matanya, ia menggeleng pelan.

Cakka menunduk kecewa melihat gelengan itu, ia menyerahkan cincin tadi “yaudah”ia beranjak.

“bukan kedua Kka, loe pertama di hati gue, selamanya”ujar Agni, ia meremas cincinnya, setelah itu memakainya.

Cakka tersenyum tipis, namun ia tetap pada posisi tidak berbalik sedikitpun pada Agni hingga ia merasakan sebuah tanga melingkar di perutnya.

***

Rafli memacu mobilnya dengan kecepatan sangat lambat, sampai Marsha terlihat bosan dengannya.
“gue naek siput ato mobil sport mewah sih?”rutuk Marsha

Rafli tersenyum miring, kenapa ia jadi senang membuat gadis ini jengkel ya?
“kan biar lama kita berduanya”

Marsha mendelik, “gak gini-gini juga kali”

“yaudah sih yang penting nyampe dengan selamat kan?”tanya Rafli.

Hingga tanpa terasa mereka sampai di suatu butik.
“ngapain kesini?”tanya Marsha

“nyokap loe ada di sini”Rafli keluar dari mobilnya. Marsha mengikuti.

Marsha menggembungkan pipinya, “yang anaknya itu siapa sih?”

Mereka berdua memasuki butik tersebut, kemudian menghampiri Gita.
“tante”sapa Rafli

“Mama kok malah bilang sama dia sih kalo ada disini? Kan bisa telpon aku”rajuk Marsha.

Gita mengelus rambut Marsha, “ya kan yang Mama tau kamu selalu sibuk makannya Mama telpon Rafli”
Gita mengambil sebuah dress berwarna soft blue “coba ini, entar malem kita kepesta”

Marsha mengangguk dengan malas.

“Marsha manja ya tante?”tanya Rafli

“gak juga sih, kadang-kadang aja”jawab Gita, ia tersenyum pada Rafli.

Tak lama kemudian Marsha keluar dari kamar ganti, “gimana?”

Gita melihat Marsha kemudian melirik Rafli, “cantik gak?”tanyanya pada Rafli

Rafli tersenyum, “cantik, cocok sama Marsha tant bajunya”

Gita tersenyum, “ganti lagi gih, abis itu kita pulang”

Marsha kembali keruang ganti, setelah itu keluar lagi dengan seragam sekolahnya lagi.

***

Agni menatap pantulan dirinya di cermin, cantik. Hari ini ada pesta rahasia yang di undang oleh Rafli. Entah pesta apa yang pasti mereka harus hadir.
“Ni”panggil Rio

“masuk aja”kata Agni, ia merapihkan pakaian dan rambutnya yang ia gerai.

Clek

“udah siap?”tanya Rio

Agni berbalik, “udah”
“eh iya, kamu gak jemput Ify?”ia berjalan ke arah tempai tidur, memasangkan sepatu wedgesnya.

Rio duduk di sebelah kiri Agni, “kok malah nanyain dia?”

Agni menatap Rio setelah menyelesaikan memasang sepatunya, “aku gak mau kamu jadiin hubungan kita beban Io', aku tau kamu itu cintanya sama Ify jadi aku gak bakalan larang kamu buat deket sama dia, dan aku juga udah janjian sama Cakka berangkat bareng”

“jadi? Kamu gak mau berangkat sama aku?”tanya Rio agak kecewa.

“bukan... bukan gitu, tapi... aku gak mau sampe Ify tau tentang kita dulu, aku gak mau ada masalah”sanggah Agni

Rio menghela nafas, ia mengelus pipi kanan Agni, “yaudah”ia mengecup pelan kening gadis itu cukup lama, entah sejak kapan pemuda itu jadi berani seperti ini pada Agni.

“Agni, Rio”sapa seseorang dari arah pintu, Cakka.

Agni dan Rio berbalik, “Kka?”sapa Rio agak gugup

“berangkat yuk, udah hampir telat”ajak Cakka, ia berlalu terlebih dahulu, jadi yang kedua memang menyebalkan!

“oiya Ni, aku lupa, Papa katanya udah nyampe ke Spore”ucap Rio, setelah itu ia meninggalkan Agni yang masih berdiam diri.

Cakka duduk di ruang tamu rumah Agni bersama Difa dan ada Novi juga yang menjamunya, tak lama Rio turun dan di susul oleh Agni.
“Ni, titip Difa sama adek loe ya... katanya ada tugas”kata Cakka

“yaudah, jangan kemana-mana ya Nov”pesan Agni pada Novi.

“aku jemput Ify dulu”bisik Rio tepat di telinga Agni, Agni hanya mengangguk mengerti.

“yuk Kka, Dif, Nov jaga rumah ya kalo kalian ada apa-apa telpon kakak aja, pintunya jangan lupa kunci kakak bawa kunci cadangan kok”jelas Agni

Novi hanya mengangguk.

“kakak pamit”Agni dan Cakka beranjak.

“bawel banget sih”umpat Novi

Difa menatap Agni dan kakaknya yang sudah berlalu, “gue mau tanya nov”

“apa?”ia menatap Difa

“yang tadi siapa? Yang berangkat duluan”

“tunangannya kak Agni”jawab Novi

“hah?! Dia kakaknya Gilang Nov, sahabat kakak gue juga, wahhh... wahhh...”

“tau deh ya... urusan orang yang udah gede emang ribet Dif, bentar ya gue ambil buku dulu”Novi berlalu mengambil perlengkapan untuk belajarnya.

***

Ify tersenyum begitu melihat sebuah mobil yang ia kenal memasuki pekarangan rumahnya, ia merasa beruntung karena entah kenapa malam ini mengijinkannya untuk pergi dengan teman-temannya lebih dari satu jam.
“Ma, Ify berangkat”pamit Ify setelah itu ia mendekati Rio yang telah membukakan pintu untuknya. “makasih”

Rio tersenyum, segera ia menuju ketempat pengemudi “udah siap?”

Ify mengangguk, “siap pangeran”

Rio tersenyum menatap Ify begitu dalam, mengelus rambut Ify yang di uraikan. “loe cantik banget deh Fy”

Wajah Ify dengan seketika merona, ia menunduk malu “bisa aja sih loe”

“beneran Fy”Rio mulai tancap gas.

Di perjalanan mereka saling diam tak ada yang berniat mengawali pembicaraan. Hingga mereka sampai di tempat tujuan.
“ini beneran Io' tempatnya?”tanya Ify

Rio mengangguk, “yuk keluar”ajak Rio

Mereka dengan bergandengan memasuki ruangan itu, mereka takjub dengan dekorasi di ruangan itu, begitu elegan dan glamour.
“hei bro, lama banget sih”kata Rafli menyambut

Rio terkekeh, “acara apaan sih nih? Kawinan loe ya?”tanya Rio

Rafli memukul lengan Rio, “bukanlah, gila loe”

“tuh liat aja ada photo siapa? Masa iya Rafli yang kawin”guman Marsha

Ify dan Rio melihat kearah yang di tunjukan oleh Marsha, mereka benar-benar takjub.
“Cakka sama Agni mana?”tanya Rio, ia mengedarkan pandangannya.

“ada, tuh lagi duduk-duduk”tunjuk Marsha pada Cakka Agni yang sedang duduk di sebuah sofa berwarna putih yang memang di peruntukan untuk mereka berdelapan.

“gabung yuk”Ify menggandeng tangan Rio dengan agresif.

Agni tersenyum ke arah Ify, “hai, lama banget sih”

Ify menyenggol Rio, “dianya telat jemput”

Agni mengangguk-angguk mengerti.

“eh, silahkan duduk anggap aja rumah sendiri”kata Cakka, ia bergeser emberi tempat untuk Rio dan Ify.

Rio mencibirnya, “sok tuan rumah loe”ia duduk di samping kiri Agni.

Keduanya tersenyum canggung.

***

Bagas dengan setelan putih-putih telah menunggu sang pujaan hati keluar dari istananya. Di tangan kanannya ia telah membawa setangkai bunga yang memang di siapkan khusus untuk gadis ini.

Clek

Cindai tersenyum pada Bagas yang setia menunggu di depan pintu, “lama ya?”

Bagas tersenyum, ia menggeleng kemudian memberikan bunga mawar putih itu pada Cindai.
“yuk, acaranya udah mau di mulai”ia menggandeng tangan Cindai dengan lembut, membawa gadis itu kedalam mobil putihnya.

Setelah Bagas memasuki mobilnya, Cindai menghadap ke arah Bagas. “sebenernya acara apa sih? Kenapa aku pake gaun gini?”tanya Cindai karena memang ia menggunakan gaun yang glamour dan WOW.

Bagas tak menjawab, ia melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang. Ia tak ingin Cindai mengetahuinya sebelum gadis ini melihatnya sendiri.

Tak lama berselang, merekapun telah sampai pada tempat yang di tuju, tamu undangan telah banyak yang berdatangan dan memenuhi gedung itu.

“yuk masuk”ajak Bagas, Cindai megikuti Bagas dan berjalan beriringan dengan saling bergandengan tangan.

Seluruh pandangan tertuju pada Cindai dan Bagas, Cindai sampai tergugup melihat tamu undangan yang tersenyum dengan ramah.
“Bagas...” Cindai menghela nafas, “itu foto kita... ini acara apa?”

Bagas tersenyum, “iya itu emang foto kita waktu acara kemaren, aku sengaja suruh Rafli buat foto kita”

Cindai masih agak linglung, ia bingung sebenarnya ini acara apa?
“Cindai, kamu itu cinta gak sama aku? Atau suka mungkin”tanya Bagas

Cindai menatap pemuda itu, ia mengangguk ragu.

Bagas menghela nafas, “terus kenapa kamu tolak acara perjodohan kita?”

Cindai menatap aneh pada Bagas, “perjodohan kita?”

Seseorang menepuk pundak Cindai, “iya, kamu emang di jodohkan sama Bagas”

Cindai berbalik, “Mom, kenapa ada di sini?”

“ini acara pertunangan kita, Mami yang rencanain ini semua sama Mom kamu... aku yang maksa mereka dan sebelum acara kemaren aku sengaja ngilang dari kamu karena aku mau liat reaksi kamu, dan setelah dapet info dari Rafli aku yakin kalo kamu emang suka aku”jelas Bagas

Cindai tersenyum, “kalo aku tau yang mau di jodohkan itu sama kamu, aku gak bakalan nolak gas”matanya sunggug berbinar.

“jadi kamu mau?”tanya Bagas

Cindai mengangguk pasti. “jadi selama ini Rafli mata-matanya?”

Dari arah sofa yang di duduki beberapa orang Rafli memamerkan giginya dengan polos mengacungkan jempolnya.


To Be Continue...

No comments:

Post a Comment