Setelah
perjalanan menggunakan Mobil, peserta dari Perkemahan harus berjalan mendaki
sebuah bukit. Cukup jauh jika ingin sampai ke tempat tujuan.
“gue udah
gak kuat”rengek Agni
Rio menatap
Agni khawatir.
“mau gue
gendong?”tawar Rio
Agni
menggeleng pelan, “gak usah ahh”kalo ia gak ingat ada Ify pasti ia akan
mengiyakan.
Agni
menghela nafas,“istirahat dulu ya”pinta Agni.
Cakka
menatap Agni yang sudah lesehan, “gak bisa, kita bakalan ketinggalan kalo
istirahat”
Agni
cemberut, “yaudah tinggalin aja gue sendiri”
Cakka
berdecak,ia mendekati Agni.
“yuk gue
gendong, Rio bawa tas gue”Cakka berjongkok di depan Agni.
Agni menaiki
punggung Cakka, akhirnya ia membuang gengsinya, daripada di tinggal beneran.
Ia
menyamankan posisinya di punggung Cakka, “gapapa Kka?”
Cakka
tersenyum tipis, “gapapa, gue kuat kok”
Agni
menanggapinya hanya dengan senyuman lalu membenamkan kepalanya di bahu Cakka.
jengah juga jika melihat pemandangan dihadapannya, dua orang anak manusia yang
bergandengan tangan dengan akrabnya.
“Ni, gue mau
nanya yang tadi”ucap Cakka agak pelan.
“hn”
“loe beneran
mau tunangan? Sama siapa?”tanya Cakka
Agni
terkekeh, “kata siapa? Gak kok”ia menatap Cakka dari samping.
Cakka
sedikit menaikan Agni yang dirasa agak turun, “syukur deh”
Agni
mengerutkan keningnya, “kok syukur?”
Cakka tak
menjawabnya, ia berpura-pura tidak mendengarkan pertanyaan Agni.
“loe berat
juga ya”ujar Cakka
Agni
meringis, “yaudah sih, turunin aja kalo berat”
“gak ahh,
jarang-jarangkan gue bisa gendong loe”goda Cakka
Agni memukul
pundak Cakka kesal, “ihh gitu loe mah”
Rio yang ada
di depan Cakka dan Agni sesekali curi-curi pandang ke arah mereka, ada rasa
tidak rela dalam hatinya, Rio suka sama Agni? Tentu tidak. Tapi jika mengingat
status mereka yang akan tunanganlah yang membuat Rio tidak rela dengan
kedekatan Cakka dan Agni.
“Kka,
keliatannya loe capek, sini biar gue yang gendong Agni”tawar Rio
Cakka
menatap Agni meminta persetujuan, Agni malah menggeleng.
“gak ahh,
sama Cakka aja”ia tersenyum ramah pada Rio.
Rio menghela
nafas pelan, “yaudah”ia kembali berjalan berdampingan dengan Ify.
‘maaf’jerit hati seseorang.
***
Cindai
terus-terusan menghela nafas berat setelah mengambil undian urutan tampilnya,
tampilnyapun di percepat jadi nanti malam sekalian acara prom night.
‘loe dimana
sih Gas? Loe mau setega ini sama gue?’
Seseorang
menepuk pundak Cindai, Cindai berbalik dengan lesu.
“jangan
sedih Cin, gue janji bakalan bantu loe”ujar Marsha, orang itu.
Cindia
tersenyum samar, “tapi gue rasa yang gue butuhin cuma Bagas”
“yaudah sih,
gini aja... loe kan belum lancar main pianonya, kalo di tengah lagu loe lupa
entar gue bakalan naik ke panggung, gimana?”tawar Marsha.
“yaudah deh
gimana baiknya aja”kata Cindai, entah ia berlapang dada, pasrah atau putus asa
yang jelas ia sangat bingung.
“de, mau GR
dulu?”tawar seorang kakak kelas
Cindai
tersenyum, “enggak deh kak”
“ohh
yaudah”orang itu berlalu kembali.
Cindai
menatap Marsha, “loe sama Rafli gimana?”
Marsha
mengangkat bahunya, “dia aja paling bisa latihan cuma dua jam, gak tau deh mau
jadi kayak apa”
“kok gitu?
Sekarang dia kemana?”tanya Cindai
Marsha
menghela nafas berat, “gak tau, dia ngilang gitu aja pas mau gue ajak latian”
Cindai
mengelus punggung Marsha, “sabar ya”
***
Rombongan
yang mengikuti acara perkemahan telah sampai ke tempat tujuan.
“adek-adek,
setelah kalian mendirikan tenda kalian segera mencari ranting-ranting buat
unggun api, dan cari air buat pasokan minuman”
“iya
kak”sahut serempak.
“Kka, Io',
tendanya jangan jauh-jauh sama punya kita ya”ucap Ify, mereka sedang membuka
tenda masing-masing.
Rio membuka
tas tempat tendanya, “enggak kok, kita dapet di sebelah tenda kalian”
Mata Ify
berbinar, “asik dong deketan”
Rio
tersenyum, mencoba semanis mungkin.
Setelah
beberapa saat pendirian tendapun usai, mereka menyusuri hutan mencari kayu dan
air sebagai mana di perintahkan oleh kakak kelas mereka.
“siang-siang
tapi dingin ya”ujar Agni
Rio menatap
Agni khawatir, wajah Agni agak pucat karena kedinginan.
“dingin
banget? Yaudah pulang aja ya”kata Rio posesif.
Agni
mmendelik sangar, “apaan sih Io'? posesif banget”rutuk Agni, sebenarnya ia tau
kenapa Rio bersikap seperti itu, ‘pasti
Papa laporan’ sebenarnya ia hanya gak enak sama Ify.
Cakka
tersenyum sinis, “tuh ada sungai”tunjuk Cakka, ia berjalan mendahului
ketiganya. Tak lama ketiganya mengikuti Cakka.
Agni
menyentuh air sungai yang sangat jernih itu, “dingin” ia mencelupkan lagi
tangan yang satunya, “kalo berendem enak kali ya”gumannya.
Rio menatap
Agni garang, “gak boleh!”
Agni menatap
Rio menantang, “kenapa sih gak boleh?”
Cakka
berdecak, “udah deh Io' lagian hak dia mau berendem ato gimana”
Rio menatap
Cakka tak suka, “diem deh loe! Loe gak tau apa-apa! Gue di kasih amanat sama
bokapnya, supaya jagain Agni! AMANAT Cakka!”
Agni
melongos, “udah sih jangan berantem terus, yuk ahh Fy, udah inikan bawa
airnya”ia meraih beberapa ranting yang ia dapatkan.
Cakka dan
Rio salaing melempar pandangan, “gara-gara loe sih”kata Rio
“kok gue? Ya
elo lah!”balas Cakka.
“mau sampe
kapan kalian berantem?”teriak Agni
Cakka dan
Rio beralih menatap Agni, setelah itu Cakka mengambil air dan Rio mengambil
rantingnya.
Mereka sadar
ataukah tidak, ternyata kegiatan mereka itu membuat ada hati yang terluka, dan
sangat tersakiti meski harus berkamuflase dengan merekahkan senyumannya.
‘ya tuhan... kuatkan hambamu’
***
“welcome to
dance and singing competition, night all... gimana kabar kalian? Senang? Sedih?
Atau galau? Haha... oke lah apapun suasana hati kalian sebaiknya kita satukan
semangat kita, karena disini gak ada kata galau”
“nah, bener
juga, selain itu mari kita perkenalkan juri-juri kita kali ini, yang pertama
ada Ibu Ira, Ibu Angel dan Pak Indra sebagai juri bernyanyi dan Pak Joe, Ibu
Rika dan Pak Dave sebagai juri dari dance”
“oke, untuk
kompetisi pertama, kami awali dengan kompetisi dance”
Di belakang
panggung, Marsha mondar-mandir panik. Rafli hanya geleng-geleng kepala
melihatnya.
“kenapa sih
panik gitu?”tanya Rafli
Marsha
menatap Rafli, namun masih mondar-mandir “ini gara-gara loe, loe kan latiannya
gak bener? Gimana gue mau tenang coba? Gimana kalo entar gak kompak ato ada
kesalahan? Kan gak lucu”cerca Marsha.
Rafli
berdecak, “biasa aja dong, tenang aja... kita pasti menang”
Marsha
menggetok kepala Rafli dengan topinya, “gampang banget loe ngomong”
“kalian tuh
ya, saat-saat gini sempet aja berantem”komentar Cindai yang bau datang.
Marsha
berkacak pinggang, “dia nih yang rese”
Rafli
menatap Marsha tak terima, “kok gue?”ia berdiri menatap Marsha.
Marsha
membalas tatapan Rafli menantang, “apa? Emang iyakan?”
“udah
udah”Cindai berdiri di tengah-tengah, “bentar lagi kalian tampil”
“oke saatnya
kita memasuki peserta ke 5, kita panggilkan dari Sepuluh Dua”
“tuh, naik
gih”dorong Cindai.
Rafli dan
Marsha memasuki area panggung, dengan perlahan suara disco pun membahana.
Keduanya
menari dengan lincah dan kompak, sesekali ada gerakan dimana keduanya harus
beradu tatapan yang jujur saja membuat Marsha ‘agak’ gugup. Setelah banyak
gerakan dance modern tanpa di sangka oleh diapapun di tengahnya terdapat musik
gamelan yang di peruntukan tari bali. Tepuk tanganpun membahana. Setelah itu
kembali ke modern dance dan mengakhiri penampilan dengan gerakan yang cukup
rumit.
Tepuk tangan
semakin banyak, Rafli dan Marsha memunduk tanda penghormatan sebelum
meninggalkan panggung.
“kalian
keren banget”puji Cindai begitu Rafli dan Marsha memasuki backsgate.
Marsha
tersenyum, “makasih”
Rafli
tersenyum puas, “loe masih mau raguin gue?”tanya Rafli
Wajah Marsha
merona malu, “iya deh ya liat aja entar hasilnya”guman Marsha.
Setelah
penampilan terakhir dari kompetisi dance, kompetisi menyanyipun akan segera di
mulai. Kini Cindai yang terlihat gelisah.
“gimana nih
Sha?”tanyanya
Marsha
menepuk bahu Cindai, “santai aja”
Rafli
menyibukkan diri dengan sebuah kamera, “iya sih santai aja kenapa? Perasaan
cewek gue, cewek itu gak pernah bisa tenang ya”Rafli mencoba kameranya dengan
membidik Marsha sebagai objek.
“apaan sih
loe? Photo-photo gak jelas gitu”Marsha menunduk malu.
“kita sambut
peserta ke 5 dari kelas Sepuluh dua”
“gue udah di
panggil tuh”Cindai berlalu sendirian ke atas panggung. Sementara Marsha dan
Rafli berdiri di pinggir panggung.
“selamat
malam semuanya, saya akan membawakan lagu milik Rossa yang berjudul Tegar,
selamat mendengarkan”ucap Cindai, kemudian ia duduk di hadapan sebuah grand
piano yang di letakkan agak miring, 45 derajat menghadap penonton.
Cindai mulai
menekan tuts tuts piano itu.
Tergoda
aku tuk berfikir, Dia yang tercinta
Mengapa
tlah lama tak nampak, Dirimu disini
Jangankan
ingin ku tersenyum, Tak ada gairah
Ku
ingin slalu bersamamu...
Cindai
menghentikkan menekan tuts pianonya, ia memejamkan matanya menghela nafas
panjang ‘please loe dateng gue lupa lagi
abis ini not apa’
“gue harus
maju Raf, kasian Cindai”Marsha berbisik pada Rafli.
Ralfi
menahan tangan Marsha, “gue bilang jangan ya jangan”
“tapi...”
“tuh
liat”Rafli menunjuk Cindai yang sudah tidak sendiri.
Cindai
merasakan ada seseorang yang duduk di sebelah kanannya. Begitu mendengar nada
selanjutnya ia bernyanyi tanpa membuka mata.
Kiniku
resah
Diriku
lemah tanpamu
Ooohhh...
Cindai
membuka matanya kemudian menatap orang yang ada di sampingnya, ia tersenyum
tipis. Orang itu membalas senyumannya. ‘Bagas’
Gapai
semua jemariku
Rangkul
aku dalam bahagiamu
Ku
ingin bersama berdua
Selamanya...
Cindai
merebahkan kepalanya di bahu Bagas sesaat, kemudian menatap wajah Bagas.
Jika
ku buka mata ini
Ku
ingin slalu ada dirimu
Dalam
kelemahan hati ini bersamamu
Aku
tergar...
Bagas dan
Cindai menekan tuts piano di intro dengan bersamaan. Setelah intro selesai ia
kembali fokus pada lagunya.
Kiniku
resah
Diriku
lemah tanpamu
Ooohhh...
Gapai
semua jemariku
Rangkul
aku dalam bahagiamu
Ku
ingin bersama berdua
Selamanya...
Jika
ku buka mata ini
Ku
ingin slalu ada dirimu
Dalam
kelemahan hati ini bersamamu
Aku
tergar...
Jika
ku buka mata ini
Ku
ingin slalu ada dirimu
Dalam
kelemahan hati ini bersamamu
Aku
tergar...
Aku
tergar...
(Rossa-Tegar)
Cindai
sesekali menatap penonton kemudian menatap Bagas kembali, melempar senyum pada pemuda
itu yang juga sesekali menatapnya.
Rafli terus
mengabadikan momen itu dengan kameranya, sesekali ia tersenyum melihat hasil
jepretannya yang terlihat sempurna.
Tak lama
Bagas dan Cindaipun turun dari arah panggung, Rafli dan Marsha cepat-cepat mendekati
mereka.
“untung si
pangeran dateng”celetuk Marsha
Bagas dan
Cindai berpandangan, mereka saling melempar senyuman.
“photo-photo
dulu, awas Sha Bagas Cindai dulu”instruksi Rafli. Marsha menurut.
Setelah itu
mereka saling bergantian mengambil gambar dan terakhir berphoto bersama.
***
Cakka, Agni,
Rio dan Ify duduk berderet di dekat tenda mereka dari urutan kanan ke kiri.
“nah,
adek-adek, acara unggun api malam ini juga harus ada satu perwakilan dari tiap
kelompok bernyanyi, ya karena kami hanya menyediakan satu gitar saja... untuk
acara besok pagi acara photo-photo dan nanti photonya harus ada yang dikirimkan
pada kami di website OSIS kita untuk penilaian dan pemenangnya akan di umumkan
pada hari Senin, satu lagi photo terbaik akan kami pasang di mading utama
sekolah”
“bagai mana?
Dimengerti?”
“mengerti”seru
peserta.
“Siapa yang
siap untuk tampil urutan pertama? Hands up”
Cakka
mengacungkan tangan kanannya, setelah itu ia berjalan ke arah dekat perapian.
“sebutkan
nama dan kelas”
“nama saya Cakka,
dari sepuluh dua”ucap Cakka
Beberapa
gadis berbisik, mengagumi ketampanan Cakka yang walau dalam keremangan tetap
saja terlihat bahwa ia tampan.
Cakka
memangku gitarnya, mulai memetik satu persatu senarnya.
Ajari
aku tuk bisa
Menjadi
yang engkau cinta
Agar
ku bisa memiliki... rasa...
Yang
luar biasa untukmu dan untukku...
Sekilas
Cakka menatap Agni yang juga tengah menatapnya.
Kuharap
engkau mengerti
Akan
semua yang kupinta
Karna
kau cahaya hidupku... malamku...
Tuk
terangi jalanku yang berliku...
Agni
terlihat tersenyum, Cakka membalas senyuman itu dengan tulus. Ia kembali fokus
pada permainan gitarnya.
Ohh
Hanya
engkau yang bisa
Hanya
engkau yang tau
Hanya
engkau yang mengerti
Semua
inginku...
Mungkinkah
semua, akan terjadi pada diriku...
Cakka
menatap Agni kembali, dan ternyata Agni masih menatapnya.
Hanya
engkau yang tau...
Ajari
aku tuk bisa...
Mencintaimu...
(Adrian
Martadinata-Ajari Aku)
Suara tepuk
tangan terdengar, semua orang seakan terhanyut dengan permainan gitar Cakka.
Cakka berdiri,
sedikit menundukan badan tanda memberi hormat. Setelah itu ia duduk di sebelah
kanan Agni. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Agni, “itu buat loe”
Agni menatap
Cakka, membalas senyumannya “thanks”bisik Agni, setelah itu ia merebahkan
kepalanya di pundak Cakka, melingkarkan sebelah tangannya pada pinggang Cakka,
mencari kehangatan pada tubuh atletis itu karena sebenarnya ia benar-benar
kedinginan.
Cakka
merangkul pundak Agni, mengelusnya dengan lembut.
Ify menatap
Rio dengan senyuman, “nyanyi buat aku dong Io'”pinta Ify
Rio
tersenyum, “kapan-kapan ya? males kalo sekarang”
Ify
mengangguk mengerti, ia sandarkan juga kepalanya di pundak Rio, dan memeluk
lengan kanan Rio. Sementara tanpa Cakka dan Ify ketahui Rio menggenggam tangan
Agni begitu erat, begitupun Agni yang membalas genggaman itu.
Tanpa terasa
acara malam telah usai mereka telah kembali ke tenda masing-masing, sudah tidak
terdengar ke gaduhan lagi darimanapun.
“Fy, liat
selimut gue gak?”tanya Agni panik, ia benar-benar kedinginan sekarang.
Ify
menggeleng, ia sedang sibuk membereskan tasnya.
“Fy”panggil
Agni dengan suara parau.
Ify segera
berbalik, “Agni, loe kenapa?”
“panggilin
Rio, please”pinta Agni, ia memeluk dirinya sendiri yang hanya di balut kaus
panjang dan jaket yang tidak begitu tebal.
Tanpa
membangunkan yang lain Ify segera mengetuk tenda Cakka dan Rio.
“Fy, ada
apa?”tanya Rio
Ify menarik
nafas, “Agni Io', Agni...”
Wajah Rio
berubah menjadi panik, ia segera membawa selimutnya dan berlari ke arah tenda
Agni dan Ify.
Rio melihat
Agni yang wajahnya sudah pucat dan badannya menggigil, “Agni, tidur!”
Agni
menurut, ia tiduran dengan bantal baju-baju gantinya, “dingin Io'”lirih Agni
Rio segera
menyelimuti Agni, setelah itu ia mencari air hangat dan tak lama ia kembali lagi.
“minum dulu
Ni”Rio mengangkat sebagian tubuh Agni agar agak terduduk.
“udah
mendingan?”tanya Rio
Agni
mengangguk, “tidur disini, jaga gue”pinta Agni.
Rio
mengangguk pasti, ia gak mungkin meninggalkan Agni dalam kondisi seperti ini.
Cakka
menatap Ify yang duduk dengan kepala yang di benamkan di lutut di tendanya.
“kok masih
disini?”tanya Cakka
Ify
mengangkat wajahnya, “tenda gue udah gelap, kayaknya Agni di jagain Rio”
Cakka menghela nafas, ia bangun dari tidurannya,
“tidur gih, biar gue deket pintunya”
Ify menatap
Cakka curiga, Cakka membalas tatapan Ify mengerti jalan fikiran gadis ini. “gue
gak bakalan macem-macem kok, pake batas aja kalo gak percaya sama tas si Rio”
Ify menarik
tas Rio, “yang gue tau loe kan mesum”gerutu Ify
Cakka
menaikan satu alisnya, “kata siapa?”
“Agni lah,
siapa lagi?”Ify menenggelamkan dirinya pada selimut Rio yang di tinggalkan,
kebetulan Rio membawa dua selimut sebagai persediaan.
Cakka
sedikit tersenyum, sebegitu perhatiannyakah Agni padanya?
***
Esoknya...
Tepatnya
pada dini hari...
Agni
mengerjabkan matanya, begitu ia sadar indra penciumannya langsung mencium bau
maskulin parfum seorang laki-laki. Agni merasakan seseorang memeluknya semakin
erat dan sebuah pasang kaki membelit betisnya.
Agni membuka
matanya sempurna, ia mendongak.
“Rio”
Yang di
panggil mulai kembali ke alam sadarnya, “Agni, udah bangun”ia melepaskan
belitan kakinya.
“Io'
semalem...”
Rio menatap
Agni menunggu kelanjutannya, tapi Agni tak kunjung melanjutkan ucapannya. Rio menghela
nafas panjang, “kayaknya kita harus bener-bener tunangan deh”
Agni
terlihat menghela nafas pelan, ia rasa ada sesuatu yang keras menghantam
dadanya. “yaudah”
Rio menatap
dalam mata Agni, Agni menatapnya sebentar setelah itu menutupnya. Rio mendekatkan
wajahnya pada wajah Agni, semakin dekat...
SREEEETTT
Seseorang
membukakan tenda.
“Ni,
Io'”orang itu, Ify. Menutup mulutnya kaget. Matanya mulai berkaca-kaca melihat
adegan yang sangat amat tidak mengenakan itu. Tapi ia tetap pada posisi, duduk
di ambang pintu tenda.
Agni
menjauhkan diri dari Rio, bangun terduduk dan meraih tangan Ify sebelum
sahabatnya itu menjauh.
“Fy, gue
tadi kelilipan... jangan salah faham”dusta Agni
Ify masih
menutup mulutnya, ia menggeleng pelan.
Agni menatap
Ify meyakinkannya, “please, percaya... yang terlihat itu tidak selamanya yang
nyata Fy”
Ify menatap
Rio yang masih tiduran, kini ia telungkup. Ify mengangguk, sepertinya benar,
liat saja Rio nya aja masih ngantuk, pasti tadi Agni gangguin Rio gara-gara ia
kelilipan.
Tanpa Ify
sadari Agni menghela nafas begitu panjang.
“kalian
tidur satu selimut?”tanya Ify
Agni menatap
Ify takut, “hehe... tapi gak ngapa-ngapain kok, iyakan Io'”ia menggoyang tubuh
Rio yang masih ingin terlelap.
“hn”jawab
Rio malas.
“Rio bangun,
loe ke tenda loe gih”kata Agni, ia menggoyangkan badan Rio.
Rio
membangunkan dirinya, “iya”ia memasang jaket dan membenarkan sabuknya yang
terlepas.
Dengan
ogah-ogahan Rio keluar dari tenda.
“bokap Rio
sahabat bokap gue jadi bokap gue nitipin gue ke Rio Fy”jelas Agni, sepertinya
Ify dari kemarin mau menanyakan itu.
Ify
tersenyum, “gue yakin kok, loe gak bakalan khianatin gue”ujarnya
Agni meneguk
ludahnya dengan sukar, ‘maafin gue Fy’
***
Season
photo-photopun dimulai, Cakka dan Rio yang memang ahli juga dalam photo
memphoto jadilah mereka bergantian saling berphoto. Dari pertama mengambil
gambar Agni yang sedang memegang aliran air yang jernih, Ify yang merentangkan
tangannya dekat tebing, Cakka stay cool di sebuah batu dan Rio tiduran di atas
rumput. Setelah itu photo berdua-berdua, semuanya bergantian. Sampai terakhir
mereka berphoto bersama, Ify dan Rio yang saling berpandangan dengan tangan Ify
melingkar di leher Rio, tangan kirinya mengelus pipi kanan Ify. Sementara Agni
dan Cakka juga berhadapan dengan tangan kiri Cakka menggenggam tangan kanan
Agni, tangan kanan Cakka mengelus pipi Agni. Sementara tanpa mereka sadari,
tangan kanan Rio dan tangan kiri Agni saling bergandengan, begitu erat.
“udah ah
capek”keluh Agni
Cakka
mengacak-acak rambut Agni, “dasar manja”
Agni
tersenyum begitu tulus, entah kenapa ledekan itu terdengar menjadi sebuah
pujian di telinga Agni.
No comments:
Post a Comment