Monday, 25 March 2013

Cowok itu... #6


Setelah perjalanan menggunakan Mobil, peserta dari Perkemahan harus berjalan mendaki sebuah bukit. Cukup jauh jika ingin sampai ke tempat tujuan.
“gue udah gak kuat”rengek Agni

Rio menatap Agni khawatir.
“mau gue gendong?”tawar Rio

Agni menggeleng pelan, “gak usah ahh”kalo ia gak ingat ada Ify pasti ia akan mengiyakan.
Agni menghela nafas,“istirahat dulu ya”pinta Agni.

Cakka menatap Agni yang sudah lesehan, “gak bisa, kita bakalan ketinggalan kalo istirahat”

Agni cemberut, “yaudah tinggalin aja gue sendiri”

Cakka berdecak,ia mendekati Agni.
“yuk gue gendong, Rio bawa tas gue”Cakka berjongkok di depan Agni.

Agni menaiki punggung Cakka, akhirnya ia membuang gengsinya, daripada di tinggal beneran.
Ia menyamankan posisinya di punggung Cakka, “gapapa Kka?”

Cakka tersenyum tipis, “gapapa, gue kuat kok”

Agni menanggapinya hanya dengan senyuman lalu membenamkan kepalanya di bahu Cakka. jengah juga jika melihat pemandangan dihadapannya, dua orang anak manusia yang bergandengan tangan dengan akrabnya.

“Ni, gue mau nanya yang tadi”ucap Cakka agak pelan.

“hn”

“loe beneran mau tunangan? Sama siapa?”tanya Cakka

Agni terkekeh, “kata siapa? Gak kok”ia menatap Cakka dari samping.

Cakka sedikit menaikan Agni yang dirasa agak turun, “syukur deh”

Agni mengerutkan keningnya, “kok syukur?”

Cakka tak menjawabnya, ia berpura-pura tidak mendengarkan pertanyaan Agni.
“loe berat juga ya”ujar Cakka

Agni meringis, “yaudah sih, turunin aja kalo berat”

“gak ahh, jarang-jarangkan gue bisa gendong loe”goda Cakka

Agni memukul pundak Cakka kesal, “ihh gitu loe mah”

Rio yang ada di depan Cakka dan Agni sesekali curi-curi pandang ke arah mereka, ada rasa tidak rela dalam hatinya, Rio suka sama Agni? Tentu tidak. Tapi jika mengingat status mereka yang akan tunanganlah yang membuat Rio tidak rela dengan kedekatan Cakka dan Agni.
“Kka, keliatannya loe capek, sini biar gue yang gendong Agni”tawar Rio

Cakka menatap Agni meminta persetujuan, Agni malah menggeleng.
“gak ahh, sama Cakka aja”ia tersenyum ramah pada Rio.

Rio menghela nafas pelan, “yaudah”ia kembali berjalan berdampingan dengan Ify.

‘maaf’jerit hati seseorang.

***

Cindai terus-terusan menghela nafas berat setelah mengambil undian urutan tampilnya, tampilnyapun di percepat jadi nanti malam sekalian acara prom night.
‘loe dimana sih Gas? Loe mau setega ini sama gue?’

Seseorang menepuk pundak Cindai, Cindai berbalik dengan lesu.
“jangan sedih Cin, gue janji bakalan bantu loe”ujar Marsha, orang itu.

Cindia tersenyum samar, “tapi gue rasa yang gue butuhin cuma Bagas”

“yaudah sih, gini aja... loe kan belum lancar main pianonya, kalo di tengah lagu loe lupa entar gue bakalan naik ke panggung, gimana?”tawar Marsha.

“yaudah deh gimana baiknya aja”kata Cindai, entah ia berlapang dada, pasrah atau putus asa yang jelas ia sangat bingung.

“de, mau GR dulu?”tawar seorang kakak kelas

Cindai tersenyum, “enggak deh kak”

“ohh yaudah”orang itu berlalu kembali.

Cindai menatap Marsha, “loe sama Rafli gimana?”

Marsha mengangkat bahunya, “dia aja paling bisa latihan cuma dua jam, gak tau deh mau jadi kayak apa”

“kok gitu? Sekarang dia kemana?”tanya Cindai

Marsha menghela nafas berat, “gak tau, dia ngilang gitu aja pas mau gue ajak latian”

Cindai mengelus punggung Marsha, “sabar ya”

***

Rombongan yang mengikuti acara perkemahan telah sampai ke tempat tujuan.
“adek-adek, setelah kalian mendirikan tenda kalian segera mencari ranting-ranting buat unggun api, dan cari air buat pasokan minuman”

“iya kak”sahut serempak.

“Kka, Io', tendanya jangan jauh-jauh sama punya kita ya”ucap Ify, mereka sedang membuka tenda masing-masing.

Rio membuka tas tempat tendanya, “enggak kok, kita dapet di sebelah tenda kalian”

Mata Ify berbinar, “asik dong deketan”

Rio tersenyum, mencoba semanis mungkin.

Setelah beberapa saat pendirian tendapun usai, mereka menyusuri hutan mencari kayu dan air sebagai mana di perintahkan oleh kakak kelas mereka.
“siang-siang tapi dingin ya”ujar Agni

Rio menatap Agni khawatir, wajah Agni agak pucat karena kedinginan.
“dingin banget? Yaudah pulang aja ya”kata Rio posesif.

Agni mmendelik sangar, “apaan sih Io'? posesif banget”rutuk Agni, sebenarnya ia tau kenapa Rio bersikap seperti itu, ‘pasti Papa laporan’ sebenarnya ia hanya gak enak sama Ify.

Cakka tersenyum sinis, “tuh ada sungai”tunjuk Cakka, ia berjalan mendahului ketiganya. Tak lama ketiganya mengikuti Cakka.

Agni menyentuh air sungai yang sangat jernih itu, “dingin” ia mencelupkan lagi tangan yang satunya, “kalo berendem enak kali ya”gumannya.

Rio menatap Agni garang, “gak boleh!”

Agni menatap Rio menantang, “kenapa sih gak boleh?”

Cakka berdecak, “udah deh Io' lagian hak dia mau berendem ato gimana”

Rio menatap Cakka tak suka, “diem deh loe! Loe gak tau apa-apa! Gue di kasih amanat sama bokapnya, supaya jagain Agni! AMANAT Cakka!”

Agni melongos, “udah sih jangan berantem terus, yuk ahh Fy, udah inikan bawa airnya”ia meraih beberapa ranting yang ia dapatkan.

Cakka dan Rio salaing melempar pandangan, “gara-gara loe sih”kata Rio

“kok gue? Ya elo lah!”balas Cakka.

“mau sampe kapan kalian berantem?”teriak Agni

Cakka dan Rio beralih menatap Agni, setelah itu Cakka mengambil air dan Rio mengambil rantingnya.

Mereka sadar ataukah tidak, ternyata kegiatan mereka itu membuat ada hati yang terluka, dan sangat tersakiti meski harus berkamuflase dengan merekahkan senyumannya.
‘ya tuhan... kuatkan hambamu’

***

“welcome to dance and singing competition, night all... gimana kabar kalian? Senang? Sedih? Atau galau? Haha... oke lah apapun suasana hati kalian sebaiknya kita satukan semangat kita, karena disini gak ada kata galau”
“nah, bener juga, selain itu mari kita perkenalkan juri-juri kita kali ini, yang pertama ada Ibu Ira, Ibu Angel dan Pak Indra sebagai juri bernyanyi dan Pak Joe, Ibu Rika dan Pak Dave sebagai juri dari dance”
“oke, untuk kompetisi pertama, kami awali dengan kompetisi dance”

Di belakang panggung, Marsha mondar-mandir panik. Rafli hanya geleng-geleng kepala melihatnya.
“kenapa sih panik gitu?”tanya Rafli

Marsha menatap Rafli, namun masih mondar-mandir “ini gara-gara loe, loe kan latiannya gak bener? Gimana gue mau tenang coba? Gimana kalo entar gak kompak ato ada kesalahan? Kan gak lucu”cerca Marsha.

Rafli berdecak, “biasa aja dong, tenang aja... kita pasti menang”

Marsha menggetok kepala Rafli dengan topinya, “gampang banget loe ngomong”

“kalian tuh ya, saat-saat gini sempet aja berantem”komentar Cindai yang bau datang.

Marsha berkacak pinggang, “dia nih yang rese”

Rafli menatap Marsha tak terima, “kok gue?”ia berdiri menatap Marsha.

Marsha membalas tatapan Rafli menantang, “apa? Emang iyakan?”

“udah udah”Cindai berdiri di tengah-tengah, “bentar lagi kalian tampil”

“oke saatnya kita memasuki peserta ke 5, kita panggilkan dari Sepuluh Dua”

“tuh, naik gih”dorong Cindai.

Rafli dan Marsha memasuki area panggung, dengan perlahan suara disco pun membahana.
Keduanya menari dengan lincah dan kompak, sesekali ada gerakan dimana keduanya harus beradu tatapan yang jujur saja membuat Marsha ‘agak’ gugup. Setelah banyak gerakan dance modern tanpa di sangka oleh diapapun di tengahnya terdapat musik gamelan yang di peruntukan tari bali. Tepuk tanganpun membahana. Setelah itu kembali ke modern dance dan mengakhiri penampilan dengan gerakan yang cukup rumit.
Tepuk tangan semakin banyak, Rafli dan Marsha memunduk tanda penghormatan sebelum meninggalkan panggung.

“kalian keren banget”puji Cindai begitu Rafli dan Marsha memasuki backsgate.

Marsha tersenyum, “makasih”

Rafli tersenyum puas, “loe masih mau raguin gue?”tanya Rafli

Wajah Marsha merona malu, “iya deh ya liat aja entar hasilnya”guman Marsha.

Setelah penampilan terakhir dari kompetisi dance, kompetisi menyanyipun akan segera di mulai. Kini Cindai yang terlihat gelisah.
“gimana nih Sha?”tanyanya

Marsha menepuk bahu Cindai, “santai aja”

Rafli menyibukkan diri dengan sebuah kamera, “iya sih santai aja kenapa? Perasaan cewek gue, cewek itu gak pernah bisa tenang ya”Rafli mencoba kameranya dengan membidik Marsha sebagai objek.

“apaan sih loe? Photo-photo gak jelas gitu”Marsha menunduk malu.

“kita sambut peserta ke 5 dari kelas Sepuluh dua”

“gue udah di panggil tuh”Cindai berlalu sendirian ke atas panggung. Sementara Marsha dan Rafli berdiri di pinggir panggung.

“selamat malam semuanya, saya akan membawakan lagu milik Rossa yang berjudul Tegar, selamat mendengarkan”ucap Cindai, kemudian ia duduk di hadapan sebuah grand piano yang di letakkan agak miring, 45 derajat menghadap penonton.

Cindai mulai menekan tuts tuts piano itu.

Tergoda aku tuk berfikir, Dia yang tercinta
Mengapa tlah lama tak nampak, Dirimu disini
Jangankan ingin ku tersenyum, Tak ada gairah
Ku ingin slalu bersamamu...

Cindai menghentikkan menekan tuts pianonya, ia memejamkan matanya menghela nafas panjang ‘please loe dateng gue lupa lagi abis ini not apa’

“gue harus maju Raf, kasian Cindai”Marsha berbisik pada Rafli.

Ralfi menahan tangan Marsha, “gue bilang jangan ya jangan”

“tapi...”

“tuh liat”Rafli menunjuk Cindai yang sudah tidak sendiri.

Cindai merasakan ada seseorang yang duduk di sebelah kanannya. Begitu mendengar nada selanjutnya ia bernyanyi tanpa membuka mata.

Kiniku resah
Diriku lemah tanpamu
Ooohhh...

Cindai membuka matanya kemudian menatap orang yang ada di sampingnya, ia tersenyum tipis. Orang itu membalas senyumannya. ‘Bagas’

Gapai semua jemariku
Rangkul aku dalam bahagiamu
Ku ingin bersama berdua
Selamanya...

Cindai merebahkan kepalanya di bahu Bagas sesaat, kemudian menatap wajah Bagas.

Jika ku buka mata ini
Ku ingin slalu ada dirimu
Dalam kelemahan hati ini bersamamu
Aku tergar...

Bagas dan Cindai menekan tuts piano di intro dengan bersamaan. Setelah intro selesai ia kembali fokus pada lagunya.

Kiniku resah
Diriku lemah tanpamu
Ooohhh...

Gapai semua jemariku
Rangkul aku dalam bahagiamu
Ku ingin bersama berdua
Selamanya...

Jika ku buka mata ini
Ku ingin slalu ada dirimu
Dalam kelemahan hati ini bersamamu
Aku tergar...

Jika ku buka mata ini
Ku ingin slalu ada dirimu
Dalam kelemahan hati ini bersamamu
Aku tergar...
Aku tergar...

(Rossa-Tegar)

Cindai sesekali menatap penonton kemudian menatap Bagas kembali, melempar senyum pada pemuda itu yang juga sesekali menatapnya.

Rafli terus mengabadikan momen itu dengan kameranya, sesekali ia tersenyum melihat hasil jepretannya yang terlihat sempurna.

Tak lama Bagas dan Cindaipun turun dari arah panggung, Rafli dan Marsha cepat-cepat mendekati mereka.
“untung si pangeran dateng”celetuk Marsha

Bagas dan Cindai berpandangan, mereka saling melempar senyuman.

“photo-photo dulu, awas Sha Bagas Cindai dulu”instruksi Rafli. Marsha menurut.

Setelah itu mereka saling bergantian mengambil gambar dan terakhir berphoto bersama.

***

Cakka, Agni, Rio dan Ify duduk berderet di dekat tenda mereka dari urutan kanan ke kiri.

“nah, adek-adek, acara unggun api malam ini juga harus ada satu perwakilan dari tiap kelompok bernyanyi, ya karena kami hanya menyediakan satu gitar saja... untuk acara besok pagi acara photo-photo dan nanti photonya harus ada yang dikirimkan pada kami di website OSIS kita untuk penilaian dan pemenangnya akan di umumkan pada hari Senin, satu lagi photo terbaik akan kami pasang di mading utama sekolah”
“bagai mana? Dimengerti?”

“mengerti”seru peserta.

“Siapa yang siap untuk tampil urutan pertama? Hands up”

Cakka mengacungkan tangan kanannya, setelah itu ia berjalan ke arah dekat perapian.

“sebutkan nama dan kelas”

“nama saya Cakka, dari sepuluh dua”ucap Cakka

Beberapa gadis berbisik, mengagumi ketampanan Cakka yang walau dalam keremangan tetap saja terlihat bahwa ia tampan.

Cakka memangku gitarnya, mulai memetik satu persatu senarnya.

Ajari aku tuk bisa
Menjadi yang engkau cinta
Agar ku bisa memiliki... rasa...
Yang luar biasa untukmu dan untukku...

Sekilas Cakka menatap Agni yang juga tengah menatapnya.

Kuharap engkau mengerti
Akan semua yang kupinta
Karna kau cahaya hidupku... malamku...
Tuk terangi jalanku yang berliku...

Agni terlihat tersenyum, Cakka membalas senyuman itu dengan tulus. Ia kembali fokus pada permainan gitarnya.

Ohh
Hanya engkau yang bisa
Hanya engkau yang tau
Hanya engkau yang mengerti
Semua inginku...

Mungkinkah semua, akan terjadi pada diriku...

Cakka menatap Agni kembali, dan ternyata Agni masih menatapnya.

Hanya engkau yang tau...

Ajari aku tuk bisa...
Mencintaimu...

(Adrian Martadinata-Ajari Aku)

Suara tepuk tangan terdengar, semua orang seakan terhanyut dengan permainan gitar Cakka.
Cakka berdiri, sedikit menundukan badan tanda memberi hormat. Setelah itu ia duduk di sebelah kanan Agni. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Agni, “itu buat loe”

Agni menatap Cakka, membalas senyumannya “thanks”bisik Agni, setelah itu ia merebahkan kepalanya di pundak Cakka, melingkarkan sebelah tangannya pada pinggang Cakka, mencari kehangatan pada tubuh atletis itu karena sebenarnya ia benar-benar kedinginan.

Cakka merangkul pundak Agni, mengelusnya dengan lembut.

Ify menatap Rio dengan senyuman, “nyanyi buat aku dong Io'”pinta Ify

Rio tersenyum, “kapan-kapan ya? males kalo sekarang”

Ify mengangguk mengerti, ia sandarkan juga kepalanya di pundak Rio, dan memeluk lengan kanan Rio. Sementara tanpa Cakka dan Ify ketahui Rio menggenggam tangan Agni begitu erat, begitupun Agni yang membalas genggaman itu.

Tanpa terasa acara malam telah usai mereka telah kembali ke tenda masing-masing, sudah tidak terdengar ke gaduhan lagi darimanapun.

“Fy, liat selimut gue gak?”tanya Agni panik, ia benar-benar kedinginan sekarang.

Ify menggeleng, ia sedang sibuk membereskan tasnya.

“Fy”panggil Agni dengan suara parau.

Ify segera berbalik, “Agni, loe kenapa?”

“panggilin Rio, please”pinta Agni, ia memeluk dirinya sendiri yang hanya di balut kaus panjang dan jaket yang tidak begitu tebal.


Tanpa membangunkan yang lain Ify segera mengetuk tenda Cakka dan Rio.
“Fy, ada apa?”tanya Rio

Ify menarik nafas, “Agni Io', Agni...”

Wajah Rio berubah menjadi panik, ia segera membawa selimutnya dan berlari ke arah tenda Agni dan Ify.

Rio melihat Agni yang wajahnya sudah pucat dan badannya menggigil, “Agni, tidur!”

Agni menurut, ia tiduran dengan bantal baju-baju gantinya, “dingin Io'”lirih Agni

Rio segera menyelimuti Agni, setelah itu ia mencari air hangat dan tak lama ia kembali lagi.
“minum dulu Ni”Rio mengangkat sebagian tubuh Agni agar agak terduduk.
“udah mendingan?”tanya Rio

Agni mengangguk, “tidur disini, jaga gue”pinta Agni.

Rio mengangguk pasti, ia gak mungkin meninggalkan Agni dalam kondisi seperti ini.


Cakka menatap Ify yang duduk dengan kepala yang di benamkan di lutut di tendanya.
“kok masih disini?”tanya Cakka

Ify mengangkat wajahnya, “tenda gue udah gelap, kayaknya Agni di jagain Rio”

Cakka  menghela nafas, ia bangun dari tidurannya, “tidur gih, biar gue deket pintunya”

Ify menatap Cakka curiga, Cakka membalas tatapan Ify mengerti jalan fikiran gadis ini. “gue gak bakalan macem-macem kok, pake batas aja kalo gak percaya sama tas si Rio”

Ify menarik tas Rio, “yang gue tau loe kan mesum”gerutu Ify

Cakka menaikan satu alisnya, “kata siapa?”

“Agni lah, siapa lagi?”Ify menenggelamkan dirinya pada selimut Rio yang di tinggalkan, kebetulan Rio membawa dua selimut sebagai persediaan.

Cakka sedikit tersenyum, sebegitu perhatiannyakah Agni padanya?

***

Esoknya...
Tepatnya pada dini hari...

Agni mengerjabkan matanya, begitu ia sadar indra penciumannya langsung mencium bau maskulin parfum seorang laki-laki. Agni merasakan seseorang memeluknya semakin erat dan sebuah pasang kaki membelit betisnya.
Agni membuka matanya sempurna, ia mendongak.
“Rio”

Yang di panggil mulai kembali ke alam sadarnya, “Agni, udah bangun”ia melepaskan belitan kakinya.

“Io' semalem...”

Rio menatap Agni menunggu kelanjutannya, tapi Agni tak kunjung melanjutkan ucapannya. Rio menghela nafas panjang, “kayaknya kita harus bener-bener tunangan deh”

Agni terlihat menghela nafas pelan, ia rasa ada sesuatu yang keras menghantam dadanya. “yaudah”

Rio menatap dalam mata Agni, Agni menatapnya sebentar setelah itu menutupnya. Rio mendekatkan wajahnya pada wajah Agni, semakin dekat...

SREEEETTT

Seseorang membukakan tenda.
“Ni, Io'”orang itu, Ify. Menutup mulutnya kaget. Matanya mulai berkaca-kaca melihat adegan yang sangat amat tidak mengenakan itu. Tapi ia tetap pada posisi, duduk di ambang pintu tenda.

Agni menjauhkan diri dari Rio, bangun terduduk dan meraih tangan Ify sebelum sahabatnya itu menjauh.
“Fy, gue tadi kelilipan... jangan salah faham”dusta Agni

Ify masih menutup mulutnya, ia menggeleng pelan.

Agni menatap Ify meyakinkannya, “please, percaya... yang terlihat itu tidak selamanya yang nyata Fy”

Ify menatap Rio yang masih tiduran, kini ia telungkup. Ify mengangguk, sepertinya benar, liat saja Rio nya aja masih ngantuk, pasti tadi Agni gangguin Rio gara-gara ia kelilipan.

Tanpa Ify sadari Agni menghela nafas begitu panjang.

“kalian tidur satu selimut?”tanya Ify

Agni menatap Ify takut, “hehe... tapi gak ngapa-ngapain kok, iyakan Io'”ia menggoyang tubuh Rio yang masih ingin terlelap.
“hn”jawab Rio malas.

“Rio bangun, loe ke tenda loe gih”kata Agni, ia menggoyangkan badan Rio.

Rio membangunkan dirinya, “iya”ia memasang jaket dan membenarkan sabuknya yang terlepas.
Dengan ogah-ogahan Rio keluar dari tenda.

“bokap Rio sahabat bokap gue jadi bokap gue nitipin gue ke Rio Fy”jelas Agni, sepertinya Ify dari kemarin mau menanyakan itu.

Ify tersenyum, “gue yakin kok, loe gak bakalan khianatin gue”ujarnya

Agni meneguk ludahnya dengan sukar, ‘maafin gue Fy’

***

Season photo-photopun dimulai, Cakka dan Rio yang memang ahli juga dalam photo memphoto jadilah mereka bergantian saling berphoto. Dari pertama mengambil gambar Agni yang sedang memegang aliran air yang jernih, Ify yang merentangkan tangannya dekat tebing, Cakka stay cool di sebuah batu dan Rio tiduran di atas rumput. Setelah itu photo berdua-berdua, semuanya bergantian. Sampai terakhir mereka berphoto bersama, Ify dan Rio yang saling berpandangan dengan tangan Ify melingkar di leher Rio, tangan kirinya mengelus pipi kanan Ify. Sementara Agni dan Cakka juga berhadapan dengan tangan kiri Cakka menggenggam tangan kanan Agni, tangan kanan Cakka mengelus pipi Agni. Sementara tanpa mereka sadari, tangan kanan Rio dan tangan kiri Agni saling bergandengan, begitu erat.

“udah ah capek”keluh Agni

Cakka mengacak-acak rambut Agni, “dasar manja”

Agni tersenyum begitu tulus, entah kenapa ledekan itu terdengar menjadi sebuah pujian di telinga Agni.




No comments:

Post a Comment