Agni keluar
dari jok penumpang sebuah mobil sport, wajahnya tampak merengut, bete!
“gak usah
manyun deh”kata Cakka yang baru keluar dari jok pengemudi.
Tadi pagi,
Cakka datang menjemput Agni lagi, padahal saat itu Agni akan berangkat dengan
mobilnya. Dan sangat terpaksa ia harus ikut dengan Cakka. Karena apa? Gabriel,
sang Papa tercinta memaksa Agni ikut dengan Cakka, dengan alasan ‘menghargai’.
“loe tuh
resek banget ya Kka? Gue bilang jangan jemput ya jangan jemput! Loe tuh ngeyel
banget sih jadi cowok?”omel Agni
Cakka
berjalan ke arah Agni, merangkul pundak gadis itu. “loe makin cantik lho kalo
ngomel”goda Cakka
Agni menepis
kasar tangan Cakka, “loe tuh emang resek banget ya?!”Agni menunjuk wajah Cakka,
setelah itu hendak berjalan mendahului Cakka. Tapi, ia rasa seseorang menahan
pergelangan tangannya.
“apa lagi
sih?”tanya Agni kesal. Ia berbalik dan mendapati seseorang yang bukan Cakka
menggenggam tangannya.
“apaan sih
Vin?”Agni melepaskan tangannya paksa.
“diam!”perintah
Alvin, orang itu.
Agni
meringis, ia menatap Cakka yang ada di belakang Alvin dengan tatapan memohon.
“sakit”ringis
Agni.
Cakka
melepaskan tangan Alvin, ia menatap Alvin dengan sengit.
“gak usah
kasar bisa?!”tanya Cakka dingin. Ia menggenggam tangan Agni dengan lembut.
“gak papa
Ni?”Cakka beralih menatap Agni
Agni
menggeleng lemah.
Alvin
berdecis, “jadi loe cowok barunya Agni?”ia tersenyum miring.
Cakka nampak
bingung menanggapinya, “apa mau loe?”tantang Cakka.
Alvin
menatap sinis, “gak lebih baik dari gue”ia berlalu dari hadapan Cakka dan Agni,
tanpa mempedulikan tatapan Cakka yang sudah menampakkan genderang perang.
Agni menepuk
pelan pundak Cakka, “udah jangan di masukin ke hati, dia emang gitu”Agni
tersenyum, membalas genggaman tangan Cakka, menariknya untuk beranjak.
Cakka
mendesah, “dia siapa loe? Mantan?”
Agni
mengangguk saja.
“kok bisa
sih loe punya mantan ajaib kayak gitu? Cih”Cakka mendengus, ia masih kesal
dengan ucapan Alvin tadi. Sangat merendahkannya!
Agni
terkekeh, “emosi amat loe?”ia menghentikan langkahnya.
Cakka
menatap Agni heran, “kenapa lagi?”
Agni
melepaskan genggamannya, “guekan lagi marah! Gak usah sok manis deh”kata Agni
karena melihat Cakka yang tersenyum, entah apa maksudnya.
Cakka
mengerlingkan matanya, “cie yang marah”goda Cakka
Agni
membulatkan matanya, “loe tuh ya, nyebelin ngeselin ngebetein!!! Gue benci sama
loe!”Agni berjalan mendahului Cakka dengan perasaan yang dongkol. ‘kok gak di tahan sih? Ihh’
***
Ify, Marsha
dan Cindai sedang berbincang di dalam kelas.
“Rafli ngeselin
tau gak? Masa katanya mau latian di rumah gue taunya dia gak dateng?”kata
Marsha.
Cindai
menatap Marsha, “kok bisa? Padahal dari rumahnya berangkat lho Sha”
Mendengar
penuturan Cindai Marsha tambah merengut, “terus? Kemana dong? Ihh dasar cowok emang
nyebelin ya”
BRAK
Sebuah tas
dengan sukses meluncur ke meja yang di duduki Cindai.
“kenapa
loe?”tanya Ify pada Agni yang baru datang sudah cemberut.
“cowok itu
emang nyebelin! Kapan sih gue bakalan ngejauh dari mahluk aneh itu? Ihh
amit-amit deh gue kalo harus terus di gangguin dia”rutuk Agni tanpa henti.
Ketiga
temannya yang memang tidak mengerti hanya menatap Agni dengan bingung, “siapa
sih maksud loe?”tanya Marsha.
“siapa lagi
kalo bukan si Cakka? Mahkluk paling aneh! Yang hobinya gangguin hidup
orang!”Agni terus melampiaskan kekesalannya.
“kalian
galau? Apalagi gue? Huaaaa.... si Rio juga ingkar janji, masa ya? kemaren gue
udah rela-rela boong sama Mami cuma gara-gara mau ketemu dia, tapi dianya malah
gak dateng! Stuck gue lama-lama”kata Ify dengan nada yang gak jauh beda sama
Agni.
Agni
mengerutkan keningnya, “kemaren kan loe ada di rumah? Loe gak inget gue ke
rumah loe?”
“bukan,
bukan waktu loe dateng, tapi gue janjian dua jam sebelum loe kerumah
gue”sanggah Ify.
“dua jam
ya?”Agni nampak berfikir, “diakan ada di rumah gue”celetuk Agni
Ify
membulatkan matanya, “sama loe?”tanyanya agak geram
Agni menahan
tubuh Ify, “santai dulu mbak, kemaren dia nganterin bokapnya ketemu bokap gue”
Ify menatap
curiga, “bener?”
Agni
mengangguk pasti.
Bel
terdengar, tanda mata pelajaran pertama akan segera di mulai.
Cindai
menatap ke arah bangku sebelahnya yang masih kosong, tak lama beberapa orang
datang dan duduk di bangku masing-masing, tapi bangku di sebelahnya tetap saja
kosong, hanya di isi satu dan itu Cakka tapi yang kosong... ‘Bagas kemana?’
Agni menatap
Cindai, “are you oke?”
Cindai
tersenyum dan mengangguk menanggapinya.
***
Tujuh orang
itu berkumpul dalam satu bangku di sebuah kantin, keempatnya dengan akrab terus
saja berbincang.
“kamu ngapain
Io' kemaren ke rumah Agni?”tanya Ify memastikan.
Rio
menghentikan menyuap makanannya, sejenak ia berfikir. “nganter Papa”
Ify
mengangguk-angguk mengerti. Sementara dengan ekor matanya ia menatap Agni yang
sedang becanda dengan Cakka.
“loe tuh
sebenernya ganteng Kka, tapi... ya...”Agni menggantungkan kalimatnya, bermaksud
menggoda Cakka.
Cakka
menatap Agni dengan tatapan dingin, menanti kelanjutannya.
“gue rasa ya
Kka, tetep aja deh cakepan adek loe”sambung Agni sambil menyeruput jus
melonnya.
Cakka
merengut, “ihh loe muji adek gue mulu, muji kakaknya aja kenapa?”
Agni
terkikik geli melihat Cakka, pemuda ini benar-benar lucu, ia jadi semakin suka
menggodanya.
“muka loe
lucu deh Kka kayak gitu”gurau Rio
Cakka
menatap Rio, “maksud loe?”
“kayak anak
kecil”celetuk Marsha yang sedari tadi asyik memakan jajanannya.
Cakka
melongos, “loe tuh yang anak kecil”cibir Cakka.
“Cakka
marah? Uhh takut”ucap Marsha dengan di buat-buat.
“hahaha...
muka loe Kka, hahah”Marsha tertawa melihat ekspresi Cakka yang bener-bener
lucu. Semua yang disana pun ikut tertawa.
Ponsel Rafli
bergetar.
POKOKNYA PERTUNANGAN ITU BAKALAN TETEP
JALAN.
Rafli
terdiam begitu melihat pesan tersebut.
“Raf”kata
Cindai
“hn”Rafli
tak menatap Cindai
“Bagas...
kemana?”tanya Cindai berhati-hati.
Rafli
semakin terdiam, wajahnya pucat pasi karena panik.
“Bagas?
Bagas... gue... gue gak tau”ia buru-buru memasukan ponsel kedalam saku
celananya lagi.
“muka loe
pucet gitu Raf”kata Ify.
Serentak
semuanya menatap Rafli dengan pandangan penuh tanya.
“sakit
loe?”tanya Rio
Rafli hanya
menggeleng, “gue kekelas duluan ya”pamit Rafli, ia segera saja berlalu.
Marsha
menatap kepergian Rafli, “pasti ada yang di sembunyiin, dan itu tentang...”ia
memejamkan matanya, mencoba memokuskan mencari jawaban. “Cindai”
Cindai
mengerutkan keningnya, “maksud loe?”
Marsha
menggeleng, “gue gak tau, tapi gue rasa dia tau sesuatu tentang loe”
Orang-orang
yang ada di meja tersebut menyimak ucapan Marsha kecuali Rio.
Rio nampak
melamun, ‘semoga Marsha gak bisa baca tentang
gue dan Agni’
Ify
menggoyangkan lengan Rio, “kamu sakit juga Io'?”
Rio
menggeleng pelan, “cuma pusing dikit aja”keluhnya
Ify
tersenyum, “kelo ada apa-apa bilang sama aku ya?”
Rio
mengangguk ragu, “i..iya”
“hello my
darling”sapa seorang perempuan sambil duduk di samping Cakka, menggeser posisi
Agni.
Cakka
mengerjabkan matanta tak percaya melihat orang yang ada di hadapannya.
“Mami?
Ngapain Mami dateng kesini?”tanya Cakka agak berbisik.
“aduh
sayang, Mamikan baru dateng dan harus pergi lagi ke luar kota dua hari, jadi
ya... Mami dateng aja ke sekolahan kamu”Perempuan itu mengelus rambut Cakka.
“Mami
loe?”tanya Agni pada Cakka.
Cakka
mengangguk, “Mam, kenalin ini temen-temen Cakka, itu Agni, Cindai yang itu
Marsha sama Ify”
Perempuan
itu tersenyum anggun, “oh... hai kalian cantik-cantik... kenalin, saya Sivia,
Maminya Cakka”
Agni nampak
terkikik melihat ekspresi Cakka, “tante gahol juga ya”ucap Agni
“oya dong,
itu harus”tanggap Sivia.
Cakka
menarik Sivia menjauhi kentin, “Mami mendingan pulang aja ya? Cakka malu Mami”
Sivia
menatap Cakka, kecewa. “kamu gak suka Mami pulang?”
Cakka
mengacak rambut frustasi, “bukan, bukan gitu... maksud Cakka, Mami mendingan
pulang dulu, Cakka takut banyak yang suka sama Mami”ia meringis mengatakan itu.
Wajah Sivia
berbinar, “yaudah, jangan nakal lho ya kamu”ia mengelus kepala Cakka dan hendak
mengecup pipi Cakka, tapi secepat kilat Cakka menghindar. “kenapa lagi
sih?”tanya Sivia.
“Mami, ini
sekolahan”kata Cakka
“oke oke,
udahlah Mami pulang aja, bye”pamit Sivia.
“ciee...
hallo my darling”Agni menirukan gaya Sivia.
Cakka
mendelik, “apa sih?”
Agni menutup
mulut, membelalakan matanya di buat-buat, “uhh takut”
Cakka
menggebrak mejanya, “bisa gak sih loe diem”Cakka menatap Agni, agak membentak
gadis itu.
Agni menatap
Cakka aneh, kok jadi marah beneran? “apaan sih? Gak usah teriak-teriak juga
bisa kan?”balas Agni yang terpancing emosi.
“loe”Cakka
dan Agni saling menunjuk.
“argh”keduanya
mengerang. Menghempaskan tangannya, saling berpaling.
Mereka
barpandangan lagi, setelah lama dalam posisi itu Cakka berlalu, sementara Agni
terdiam di tempat.
Rio menatap
Agni, ia menarik lembut tangan Agni, bergeser duduk ke tempat Cakka.
“jangan
ikut-ikut emosi”Rio dan Agni bertatapan. Agni mengangguk mengerti.
***
Cindai
berulang kali menghubungi nomor Bagas, namun ternyata pemuda itu malah
mematikan ponselnya. Sepulang sekolah ia menunggu Bagas di ruangan tempat yang
biasa mereka pakai untuk latihan.
“loe kenapa
sih Gas?”tanya Cindai pada dirinya sendiri.
Ia memutuskan
untuk memanggil orang lain.
“ya Cin?”
“Sha, loe
dimana?”
“rumah,
kenapa?”
“gue kesana
sekarang”
Cindai
segera meninggalkan ruangan itu, dan pergi menuju ke rumah Marsha.
***
Marsha
beberapa kali membenarkan posisi ponsel yang ada di telinganya,
“loe dimana?
Bales SMS gue”
“gu..gue... lagi...”
“loe tuh
niat gak sih Raf buat ikutan lomba?”
“sebentar, gue ada penting dulu”
“loe tuh ya,
penting penting penting terus, loe pikir gue gak ada yang lebih penting dari
ini?”
“kok loe sewot gitu?”
“ya salah
loe sendiri lah”
“kok jadi gue?”
“pokoknya
gue tunggu loe 15 menit lagi”
“Sha... ga...”
Marsha
mematikan panggilannya secara sepihak.
Dua jam
sudah Marsha menunggu kedatangan Rafli yang menghilang seperti di telan bumi,
sekalinya di telpon malah balik marah-marah. Kenapa ssih tu cowok?
tok tok tok
“non, ada
non Cindai”
“suruh masuk
bi”
“baik non”
Tak lama
Cindai masuk kedalam kamar Marsha, dengan masih mengenakan pakaian sekolah.
“loe belum
pulang?”tanya Marsha.
“kayaknya
gue harus belajar piano Sha, gue takut Bagas gak dateng”ucap Cindai putus asa.
Marsha
menghela nafas, ternyata tidak hanya dirinya yang sedang ketar-ketir mencari
pasangan.
“yaudah, yuk
gue ajarin”Marsha menarik Cindai memasuki sebuah studio kecil rumahnya.
“oiya, loe
gak latian sama Rafli?”tanya Cindai.
Wajah Marsha
menegang, rahangnyapun mengeras, mendengar nama itu mendadak ia ingat kembali
dengan kekesalannya yang tadi. “gak tau”
Cindai
mengangguk-angguk mengerti, ia menyadari sekali perubahan air wajah Marsha.
Satu jam
berlalu, hingga Cindai mulai dapat menguasai bait pertama lagu yang akan ia
nyanyikan tapi Rafli tak kunjung datang.
Marsha
meraih ponselnya lagi.
“loe masih
dimana sih?”
“5 menit lagi gue nyampe”
“gak
usahlah, gue tau kok loe punya urusan yang lebih penting”
“gak usah marah-marah bisakan?”
“udahlah
terserah, gue capek loe cuekin terus”
Marsha
mengakhiri panggilan itu secara sepihak kembali.
Cindai
menatap Marsha, “ada masalah sama Rafli?”
Marsha
mengangkat bahunya, “gue gak tau ini masalah apa bukan”
“kita
terusin ini aja”Marsha kembali duduk di samping Cindai.
Beberapa
menit berlalu, tak ada tanda-tanda kedatangan Rafli. Sebenarnya Marsha
mengatakan gak usah itu supaya Rafli mau datang segera, tapi ini? kok belum
datang juga?
Marsha
meraih ponselnya, mengetikkan sesuatu.
Loe dimana? Katanya 5 menit.
Gue
udah di rumah
Marsha
menghentakkan kakinya semakin kesal.
Loe tuh keterlaluan banget ya Raf! Gue
nunggu loe 3 jam tapi ternyata apa?
Siapa
sih yang mau dateng kalo yang mau di datengin marah-marah? Gue bosen di marain
mulu Sha.
Terserahlah! Loe emang gak bisa di atur!
Marsha
menghempaskan tubuhnya ke atas sofa, perlahan pundaknya mulai bergetar.
Cindai
mendekati Marsha, sahabatnya ini memang gampang menangis saat sedang kesal yang
udah sampe ke ubun-ubun.
“udah Sha,
entar gue marahin deh si Rafli nya”Cindai mengelus punggung Marsha menenangkan
sahabatnya itu.
Marsha
membalikan badannya menghadap Cindai, “cowok itu keterlaluan banget sih Cin?
Gue benci dia! Gue benci!!!”ia menenggelamkan wajahnya di pundak Cindai.
‘cowok itu emang aneh, terlalu misterius’batin
Cindai.
***
Ify dan Rio
berjalan beriringan di sebuah pusat perbelanjaan. Keduanya memang sengaja
kesana bersama untuk membeli kebutuhan buat Perkemahan.
“Io', beli
apa lagi?”tanya Ify
Rio nampak
berfikir, “kayaknya udah deh”
“masa? Kita
keliling lagi yuk, takut ada yang ketinggalan”Ify menarik tangan Rio, Rio
mengikuti gadis itu.
“tapi Fy,
mendingan kita makan deh yuk”ajak Rio
“tapi
Io'...”
“gue
laper”ucap Rio lembut, mencoba meminta pengertian.
Akhirnya Ify
mengangguk.
Rio dan Ify
kini duduk berhadapan, mereka memutuskan makan di Mall itu, dekat eskalator.
“makan apa
Fy?”tanya Rio
Ify
tersenyum, ia senang Rio bersikap begitu baik padanya, “apa aja, terserah loe”
“yaudah,
samaan aja gimana?”tawar Rio
Ify
mengangguk antusias.
Rio
berpamitan untuk memesan makanan.
Ponsel Rio
berdering tanda sebuah pesan masuk.
Loe
dimana? Cepet rumah gue, ada bokap loe.
Hah?! Bokap gue? Ngapain kerumah loe lagi?
Tau
deh, ngurusin acara tunangan sih katanya.
Bentar ya, gue lagi makan dulu.
Oke
boss
“mas ini
pesanannya”
Rio segera
memasukkan ponselnya kedalam saku. “eh iya”Rio mengambil nampan berisi dua
porsi makanan, tentu saja untuknya dan Ify.
“sorry ya
lama”ucap Rio, ia menyimpan nampan itu di mejanya.
“gapapa”Ify
mengambil makanannya, dan mulai menyantap makanan itu sama halnya denga Rio.
“ eh iya...
abis ini kita kemana lagi?”tanya Ify.
Rio
menghentikan makannya, “gue harus langsung pulang, bokap udah nunggu di rumah”dustanya
Ify
mengangguk mengerti, “yaudah deh”
“eh Fy, gue
duluan gapapa?”Rio berdiri
Ify
mengangguk, “gapapa, kasian bokap loe”
“yaudah,
thanks ya loe udah ngerti, ini uang buat bayarnya”Rio meletakkan selembar uang
seratus ribu di meja.
“bye Fy”Rio
beranjak.
Ify menatap
Rio seakan tak rela, sepertinya ada yang aneh dengannya.
***
Agni dengan
gusar menunggu Rio di kamarnya, tak lama terdengar decitan rem dari motor milik
Rio.
“Rio”panggil
Agni
Rio
menengadah melihat kearah Agni yang ada di lantai dua.
“kesini,
cepetan”
Rio
mengangguk menanggapinya. Ia memasuki kediaman Damanik.
“permisi”
“Rio,
ngapain kesini?”tanya Patton yang sedang berbincang dengan Gabriel.
“Rio, itu
Pa, Rio mau ketemu Agni”kata Rio gugup, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“biar Om
panggilkan”Gabriel berdiri
“gak usah
om, tadi Agni suruh Rio buat naik kok”tahan Rio
Gabriel
mengangguk, “yaudah”
Agni
merapihkan pakaiannya, ia membukakan pintu kamarnya untuk Rio.
“Rio, lama
banget sih loe?”rengek Agni, ia menarik Rio supaya duduk di sofa kamarnya.
“ada
apa?”tanya Rio to the point.
Agni
cemberut, “loe mau tunangan sama gue?”
Rio
menyatukan alisnya, “kalo loe sendiri?”
Agni
menghela nafas panjang, “jujur ya, sebenernya gue gak tau siap ato gak, tapi
gue takut Ify marah sama gue, sumpah deh Io' gue gak mau persahabatan gue ancur
cuma gara-gara hal kayak gini”
Rio
menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi, menutup wajahnya dengan kedua
telapak tangan, “gue bingung, gue juga gak enak sama Cakka tapi gue gak mau ngecewain
bokap gue” Rio mendesah “mendingan kita
jalanin aja dulu”
Agni
membulatkan matanya, “tapi... gue takut”
Rio
menurunkan tangannya, membuka mata, menatap Agni dengan intens “percaya deh
sama gue, gak bakalan kenapa-kenapa”
Agni
mengangguk ragu.
Novi menatap
Agni dan Rio dari pintu kamar Agni yang memang tidak di tutup.
“lagi ngintip ya loe?”
Novi menatap
ponselnya, “kok loe tau?”ia berbisik, lalu meletakkan ponselnya di dekat
telinga lagi.
“ngintip apa loe?”
“kakak gue
sama calon tunangannya”
“HAH?!”
Dengan
refleks Novi menjauhkan ponselnya, “biasa aja dong”
“heh Nov, asal loe tau aja ya... kakak gue
itu suka sama kakak loe”
“APA?!” Novi
menutup mulutnya, kenapa ia bisa berteriak gitu di saat ngintip.
“Nov,
ngapain di depan pintu”sahut Agni dari dalam kamar.
Novi
buru-buru memasuki kamarnya.
“eh Dif, apa
loe bilang tadi?”
“Dif? Difa?”
Novi menatap
ponselnya.
“ihh main
matiin aja, dasar!”
***
Difa berlari
menuruni tangga, ia harus segera bertemu kakaknya.
“kak
Cakka”teriak Difa
“hn”sahut
Cakka.
Difa
berbalik ke arah dapur yang ternyata kakaknya ada di sana.
“kak Agni
kak”Difa mengatur nafasnya yang ngos ngosan.
Cakka
menatap adiknya aneh, “kenapa?”tanyanya dingin.
“udah punya
calon tunangan”ucap Difa lancar.
Cakka nampak
masih bersikap dingin, walau dalam hatinya bergemuruh seperti letupan lava di
gunung berapi.
***
Hari dimana
acara puncakpun datang, Cindai masih gusar dengan menghilangnya Bagas,
sementara Rafli dan Marsha meski sudah bisa latihan bersama tetap saja saling cuek
satu sama lain, sementara empat yang lain? Masih sibuk dengan
fikiran-fikirannya masing-masing.
“oke,
peserta perkemahan cepat berkumpul di lapangan belakang, yang nyanyi dan dance
masuk ke aula untuk ambil urutan tampil”
Merekapun
menuju tempat masing-masing.
Cakka
menarik lengan Agni, “bisa gue ngomong?”
Agni menatap
Cakka aneh, “biasanya juga loe nyerocos”
Cakka
menajamkan matanya, “gue serius”
“oke”
“loe bener
udah mau...”
“Agni”panggil
seseorang.
Agni
berbalik, “Papa” Agni tersenyum senang.
“om”sapa
Cakka
Gabriel
nampak tersenyum, “Rio mana?”tanya Gabriel
“tuh”tunjuk
Agni pada Rio yang sedang berdiri berdekatan dengan Ify.
“Rio”panggil
Gabriel
Rio
berbalik, “eh... om”
Rio dan
Gabriel saling mendekat, “om nitip Agni”
Rio mengangguk
ragu, “iya om”ia tersenyum
“yaudah, om
pamit ya, Agni Papa pamit, nak Cakka”Gabriel berlalu setelah mendapatkan
anggukan dari ketiga orang yang di sebutkan.
Cakka
menatap Rio dengan pandangan penuh tanya, Rio membalasnya dengan tatapan yang
sulit di artikan sementara Agni bergantian menatap Cakka dan Rio yang nampak
sedang perang dingin itu.
No comments:
Post a Comment