Saturday, 23 March 2013

Cowok itu... #5


Agni keluar dari jok penumpang sebuah mobil sport, wajahnya tampak merengut, bete!

“gak usah manyun deh”kata Cakka yang baru keluar dari jok pengemudi.

Tadi pagi, Cakka datang menjemput Agni lagi, padahal saat itu Agni akan berangkat dengan mobilnya. Dan sangat terpaksa ia harus ikut dengan Cakka. Karena apa? Gabriel, sang Papa tercinta memaksa Agni ikut dengan Cakka, dengan alasan ‘menghargai’.
“loe tuh resek banget ya Kka? Gue bilang jangan jemput ya jangan jemput! Loe tuh ngeyel banget sih jadi cowok?”omel Agni

Cakka berjalan ke arah Agni, merangkul pundak gadis itu. “loe makin cantik lho kalo ngomel”goda Cakka

Agni menepis kasar tangan Cakka, “loe tuh emang resek banget ya?!”Agni menunjuk wajah Cakka, setelah itu hendak berjalan mendahului Cakka. Tapi, ia rasa seseorang menahan pergelangan tangannya.
“apa lagi sih?”tanya Agni kesal. Ia berbalik dan mendapati seseorang yang bukan Cakka menggenggam tangannya.

“apaan sih Vin?”Agni melepaskan tangannya paksa.

“diam!”perintah Alvin, orang itu.

Agni meringis, ia menatap Cakka yang ada di belakang Alvin dengan tatapan memohon.
“sakit”ringis Agni.

Cakka melepaskan tangan Alvin, ia menatap Alvin dengan sengit.
“gak usah kasar bisa?!”tanya Cakka dingin. Ia menggenggam tangan Agni dengan lembut.
“gak papa Ni?”Cakka beralih menatap Agni

Agni menggeleng lemah.

Alvin berdecis, “jadi loe cowok barunya Agni?”ia tersenyum miring.

Cakka nampak bingung menanggapinya, “apa mau loe?”tantang Cakka.

Alvin menatap sinis, “gak lebih baik dari gue”ia berlalu dari hadapan Cakka dan Agni, tanpa mempedulikan tatapan Cakka yang sudah menampakkan genderang perang.

Agni menepuk pelan pundak Cakka, “udah jangan di masukin ke hati, dia emang gitu”Agni tersenyum, membalas genggaman tangan Cakka, menariknya untuk beranjak.

Cakka mendesah, “dia siapa loe? Mantan?”

Agni mengangguk saja.

“kok bisa sih loe punya mantan ajaib kayak gitu? Cih”Cakka mendengus, ia masih kesal dengan ucapan Alvin tadi. Sangat merendahkannya!

Agni terkekeh, “emosi amat loe?”ia menghentikan langkahnya.

Cakka menatap Agni heran, “kenapa lagi?”

Agni melepaskan genggamannya, “guekan lagi marah! Gak usah sok manis deh”kata Agni karena melihat Cakka yang tersenyum, entah apa maksudnya.

Cakka mengerlingkan matanya, “cie yang marah”goda Cakka

Agni membulatkan matanya, “loe tuh ya, nyebelin ngeselin ngebetein!!! Gue benci sama loe!”Agni berjalan mendahului Cakka dengan perasaan yang dongkol. ‘kok gak di tahan sih? Ihh’

***

Ify, Marsha dan Cindai sedang berbincang di dalam kelas.
“Rafli ngeselin tau gak? Masa katanya mau latian di rumah gue taunya dia gak dateng?”kata Marsha.

Cindai menatap Marsha, “kok bisa? Padahal dari rumahnya berangkat lho Sha”

Mendengar penuturan Cindai Marsha tambah merengut, “terus? Kemana dong? Ihh dasar cowok emang nyebelin ya”

BRAK

Sebuah tas dengan sukses meluncur ke meja yang di duduki Cindai.
“kenapa loe?”tanya Ify pada Agni yang baru datang sudah cemberut.

“cowok itu emang nyebelin! Kapan sih gue bakalan ngejauh dari mahluk aneh itu? Ihh amit-amit deh gue kalo harus terus di gangguin dia”rutuk Agni tanpa henti.

Ketiga temannya yang memang tidak mengerti hanya menatap Agni dengan bingung, “siapa sih maksud loe?”tanya Marsha.

“siapa lagi kalo bukan si Cakka? Mahkluk paling aneh! Yang hobinya gangguin hidup orang!”Agni terus melampiaskan kekesalannya.

“kalian galau? Apalagi gue? Huaaaa.... si Rio juga ingkar janji, masa ya? kemaren gue udah rela-rela boong sama Mami cuma gara-gara mau ketemu dia, tapi dianya malah gak dateng! Stuck gue lama-lama”kata Ify dengan nada yang gak jauh beda sama Agni.

Agni mengerutkan keningnya, “kemaren kan loe ada di rumah? Loe gak inget gue ke rumah loe?”

“bukan, bukan waktu loe dateng, tapi gue janjian dua jam sebelum loe kerumah gue”sanggah Ify.

“dua jam ya?”Agni nampak berfikir, “diakan ada di rumah gue”celetuk Agni

Ify membulatkan matanya, “sama loe?”tanyanya agak geram

Agni menahan tubuh Ify, “santai dulu mbak, kemaren dia nganterin bokapnya ketemu bokap gue”

Ify menatap curiga, “bener?”

Agni mengangguk pasti.

Bel terdengar, tanda mata pelajaran pertama akan segera di mulai.

Cindai menatap ke arah bangku sebelahnya yang masih kosong, tak lama beberapa orang datang dan duduk di bangku masing-masing, tapi bangku di sebelahnya tetap saja kosong, hanya di isi satu dan itu Cakka tapi yang kosong... ‘Bagas kemana?’
Agni menatap Cindai, “are you oke?”

Cindai tersenyum dan mengangguk menanggapinya.

***

Tujuh orang itu berkumpul dalam satu bangku di sebuah kantin, keempatnya dengan akrab terus saja berbincang.
“kamu ngapain Io' kemaren ke rumah Agni?”tanya Ify memastikan.

Rio menghentikan menyuap makanannya, sejenak ia berfikir. “nganter Papa”

Ify mengangguk-angguk mengerti. Sementara dengan ekor matanya ia menatap Agni yang sedang becanda dengan Cakka.

“loe tuh sebenernya ganteng Kka, tapi... ya...”Agni menggantungkan kalimatnya, bermaksud menggoda Cakka.

Cakka menatap Agni dengan tatapan dingin, menanti kelanjutannya.

“gue rasa ya Kka, tetep aja deh cakepan adek loe”sambung Agni sambil menyeruput jus melonnya.

Cakka merengut, “ihh loe muji adek gue mulu, muji kakaknya aja kenapa?”

Agni terkikik geli melihat Cakka, pemuda ini benar-benar lucu, ia jadi semakin suka menggodanya.

“muka loe lucu deh Kka kayak gitu”gurau Rio

Cakka menatap Rio, “maksud loe?”

“kayak anak kecil”celetuk Marsha yang sedari tadi asyik memakan jajanannya.

Cakka melongos, “loe tuh yang anak kecil”cibir Cakka.

“Cakka marah? Uhh takut”ucap Marsha dengan di buat-buat.

“hahaha... muka loe Kka, hahah”Marsha tertawa melihat ekspresi Cakka yang bener-bener lucu. Semua yang disana pun ikut tertawa.

Ponsel Rafli bergetar.

POKOKNYA PERTUNANGAN ITU BAKALAN TETEP JALAN.

Rafli terdiam begitu melihat pesan tersebut.
“Raf”kata Cindai

“hn”Rafli tak menatap Cindai

“Bagas... kemana?”tanya Cindai berhati-hati.

Rafli semakin terdiam, wajahnya pucat pasi karena panik.
“Bagas? Bagas... gue... gue gak tau”ia buru-buru memasukan ponsel kedalam saku celananya lagi.

“muka loe pucet gitu Raf”kata Ify.

Serentak semuanya menatap Rafli dengan pandangan penuh tanya.
“sakit loe?”tanya Rio

Rafli hanya menggeleng, “gue kekelas duluan ya”pamit Rafli, ia segera saja berlalu.

Marsha menatap kepergian Rafli, “pasti ada yang di sembunyiin, dan itu tentang...”ia memejamkan matanya, mencoba memokuskan mencari jawaban. “Cindai”

Cindai mengerutkan keningnya, “maksud loe?”

Marsha menggeleng, “gue gak tau, tapi gue rasa dia tau sesuatu tentang loe”

Orang-orang yang ada di meja tersebut menyimak ucapan Marsha kecuali Rio.
Rio nampak melamun, ‘semoga Marsha gak bisa baca tentang gue dan Agni’

Ify menggoyangkan lengan Rio, “kamu sakit juga Io'?”

Rio menggeleng pelan, “cuma pusing dikit aja”keluhnya

Ify tersenyum, “kelo ada apa-apa bilang sama aku ya?”

Rio mengangguk ragu, “i..iya”

“hello my darling”sapa seorang perempuan sambil duduk di samping Cakka, menggeser posisi Agni.

Cakka mengerjabkan matanta tak percaya melihat orang yang ada di hadapannya.
“Mami? Ngapain Mami dateng kesini?”tanya Cakka agak berbisik.

“aduh sayang, Mamikan baru dateng dan harus pergi lagi ke luar kota dua hari, jadi ya... Mami dateng aja ke sekolahan kamu”Perempuan itu mengelus rambut Cakka.

“Mami loe?”tanya Agni pada Cakka.

Cakka mengangguk, “Mam, kenalin ini temen-temen Cakka, itu Agni, Cindai yang itu Marsha sama Ify”

Perempuan itu tersenyum anggun, “oh... hai kalian cantik-cantik... kenalin, saya Sivia, Maminya Cakka”

Agni nampak terkikik melihat ekspresi Cakka, “tante gahol juga ya”ucap Agni

“oya dong, itu harus”tanggap Sivia.

Cakka menarik Sivia menjauhi kentin, “Mami mendingan pulang aja ya? Cakka malu Mami”

Sivia menatap Cakka, kecewa. “kamu gak suka Mami pulang?”

Cakka mengacak rambut frustasi, “bukan, bukan gitu... maksud Cakka, Mami mendingan pulang dulu, Cakka takut banyak yang suka sama Mami”ia meringis mengatakan itu.

Wajah Sivia berbinar, “yaudah, jangan nakal lho ya kamu”ia mengelus kepala Cakka dan hendak mengecup pipi Cakka, tapi secepat kilat Cakka menghindar. “kenapa lagi sih?”tanya Sivia.

“Mami, ini sekolahan”kata Cakka

“oke oke, udahlah Mami pulang aja, bye”pamit Sivia.

“ciee... hallo my darling”Agni menirukan gaya Sivia.

Cakka mendelik, “apa sih?”

Agni menutup mulut, membelalakan matanya di buat-buat, “uhh takut”

Cakka menggebrak mejanya, “bisa gak sih loe diem”Cakka menatap Agni, agak membentak gadis itu.

Agni menatap Cakka aneh, kok jadi marah beneran? “apaan sih? Gak usah teriak-teriak juga bisa kan?”balas Agni yang terpancing emosi.

“loe”Cakka dan Agni saling menunjuk.

“argh”keduanya mengerang. Menghempaskan tangannya, saling berpaling.

Mereka barpandangan lagi, setelah lama dalam posisi itu Cakka berlalu, sementara Agni terdiam di tempat.

Rio menatap Agni, ia menarik lembut tangan Agni, bergeser duduk ke tempat Cakka.
“jangan ikut-ikut emosi”Rio dan Agni bertatapan. Agni mengangguk mengerti.

***

Cindai berulang kali menghubungi nomor Bagas, namun ternyata pemuda itu malah mematikan ponselnya. Sepulang sekolah ia menunggu Bagas di ruangan tempat yang biasa mereka pakai untuk latihan.
“loe kenapa sih Gas?”tanya Cindai pada dirinya sendiri.
Ia memutuskan untuk memanggil orang lain.

“ya Cin?”

“Sha, loe dimana?”

“rumah, kenapa?”

“gue kesana sekarang”

Cindai segera meninggalkan ruangan itu, dan pergi menuju ke rumah Marsha.

***

Marsha beberapa kali membenarkan posisi ponsel yang ada di telinganya,
“loe dimana? Bales SMS gue”

“gu..gue... lagi...”

“loe tuh niat gak sih Raf buat ikutan lomba?”

“sebentar, gue ada penting dulu”

“loe tuh ya, penting penting penting terus, loe pikir gue gak ada yang lebih penting dari ini?”

“kok loe sewot gitu?”

“ya salah loe sendiri lah”

“kok jadi gue?”

“pokoknya gue tunggu loe 15 menit lagi”

“Sha... ga...”

Marsha mematikan panggilannya secara sepihak.
Dua jam sudah Marsha menunggu kedatangan Rafli yang menghilang seperti di telan bumi, sekalinya di telpon malah balik marah-marah. Kenapa ssih tu cowok?

tok tok tok
“non, ada non Cindai”

“suruh masuk bi”

“baik non”

Tak lama Cindai masuk kedalam kamar Marsha, dengan masih mengenakan pakaian sekolah.
“loe belum pulang?”tanya Marsha.

“kayaknya gue harus belajar piano Sha, gue takut Bagas gak dateng”ucap Cindai putus asa.

Marsha menghela nafas, ternyata tidak hanya dirinya yang sedang ketar-ketir mencari pasangan.
“yaudah, yuk gue ajarin”Marsha menarik Cindai memasuki sebuah studio kecil rumahnya.

“oiya, loe gak latian sama Rafli?”tanya Cindai.

Wajah Marsha menegang, rahangnyapun mengeras, mendengar nama itu mendadak ia ingat kembali dengan kekesalannya yang tadi. “gak tau”

Cindai mengangguk-angguk mengerti, ia menyadari sekali perubahan air wajah Marsha.

Satu jam berlalu, hingga Cindai mulai dapat menguasai bait pertama lagu yang akan ia nyanyikan tapi Rafli tak kunjung datang.

Marsha meraih ponselnya lagi.
“loe masih dimana sih?”

“5 menit lagi gue nyampe”

“gak usahlah, gue tau kok loe punya urusan yang lebih penting”

“gak usah marah-marah bisakan?”

“udahlah terserah, gue capek loe cuekin terus”

Marsha mengakhiri panggilan itu secara sepihak kembali.

Cindai menatap Marsha, “ada masalah sama Rafli?”

Marsha mengangkat bahunya, “gue gak tau ini masalah apa bukan”
“kita terusin ini aja”Marsha kembali duduk di samping Cindai.

Beberapa menit berlalu, tak ada tanda-tanda kedatangan Rafli. Sebenarnya Marsha mengatakan gak usah itu supaya Rafli mau datang segera, tapi ini? kok belum datang juga?
Marsha meraih ponselnya, mengetikkan sesuatu.

Loe dimana? Katanya 5 menit.

Gue udah di rumah

Marsha menghentakkan kakinya semakin kesal.

Loe tuh keterlaluan banget ya Raf! Gue nunggu loe 3 jam tapi ternyata apa?

Siapa sih yang mau dateng kalo yang mau di datengin marah-marah? Gue bosen di marain mulu Sha.

Terserahlah! Loe emang gak bisa di atur!

Marsha menghempaskan tubuhnya ke atas sofa, perlahan pundaknya mulai bergetar.
Cindai mendekati Marsha, sahabatnya ini memang gampang menangis saat sedang kesal yang udah sampe ke ubun-ubun.
“udah Sha, entar gue marahin deh si Rafli nya”Cindai mengelus punggung Marsha menenangkan sahabatnya itu.

Marsha membalikan badannya menghadap Cindai, “cowok itu keterlaluan banget sih Cin? Gue benci dia! Gue benci!!!”ia menenggelamkan wajahnya di pundak Cindai.

‘cowok itu emang aneh, terlalu misterius’batin Cindai.

***

Ify dan Rio berjalan beriringan di sebuah pusat perbelanjaan. Keduanya memang sengaja kesana bersama untuk membeli kebutuhan buat Perkemahan.
“Io', beli apa lagi?”tanya Ify

Rio nampak berfikir, “kayaknya udah deh”

“masa? Kita keliling lagi yuk, takut ada yang ketinggalan”Ify menarik tangan Rio, Rio mengikuti gadis itu.

“tapi Fy, mendingan kita makan deh yuk”ajak Rio

“tapi Io'...”

“gue laper”ucap Rio lembut, mencoba meminta pengertian.

Akhirnya Ify mengangguk.

Rio dan Ify kini duduk berhadapan, mereka memutuskan makan di Mall itu, dekat eskalator.
“makan apa Fy?”tanya Rio

Ify tersenyum, ia senang Rio bersikap begitu baik padanya, “apa aja, terserah loe”

“yaudah, samaan aja gimana?”tawar Rio

Ify mengangguk antusias.

Rio berpamitan untuk memesan makanan.
Ponsel Rio berdering tanda sebuah pesan masuk.

Loe dimana? Cepet rumah gue, ada bokap loe.

Hah?! Bokap gue? Ngapain kerumah loe lagi?

Tau deh, ngurusin acara tunangan sih katanya.

Bentar ya, gue lagi makan dulu.

Oke boss

“mas ini pesanannya”

Rio segera memasukkan ponselnya kedalam saku. “eh iya”Rio mengambil nampan berisi dua porsi makanan, tentu saja untuknya dan Ify.

“sorry ya lama”ucap Rio, ia menyimpan nampan itu di mejanya.

“gapapa”Ify mengambil makanannya, dan mulai menyantap makanan itu sama halnya denga Rio.
“ eh iya... abis ini kita kemana lagi?”tanya Ify.

Rio menghentikan makannya, “gue harus langsung pulang, bokap udah nunggu di rumah”dustanya

Ify mengangguk mengerti, “yaudah deh”

“eh Fy, gue duluan gapapa?”Rio berdiri

Ify mengangguk, “gapapa, kasian bokap loe”

“yaudah, thanks ya loe udah ngerti, ini uang buat bayarnya”Rio meletakkan selembar uang seratus ribu di meja.

“bye Fy”Rio beranjak.

Ify menatap Rio seakan tak rela, sepertinya ada yang aneh dengannya.

***

Agni dengan gusar menunggu Rio di kamarnya, tak lama terdengar decitan rem dari motor milik Rio.
“Rio”panggil Agni

Rio menengadah melihat kearah Agni yang ada di lantai dua.
“kesini, cepetan”

Rio mengangguk menanggapinya. Ia memasuki kediaman Damanik.
“permisi”

“Rio, ngapain kesini?”tanya Patton yang sedang berbincang dengan Gabriel.

“Rio, itu Pa, Rio mau ketemu Agni”kata Rio gugup, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

“biar Om panggilkan”Gabriel berdiri

“gak usah om, tadi Agni suruh Rio buat naik kok”tahan Rio

Gabriel mengangguk, “yaudah”

Agni merapihkan pakaiannya, ia membukakan pintu kamarnya untuk Rio.
“Rio, lama banget sih loe?”rengek Agni, ia menarik Rio supaya duduk di sofa kamarnya.

“ada apa?”tanya Rio to the point.

Agni cemberut, “loe mau tunangan sama gue?”

Rio menyatukan alisnya, “kalo loe sendiri?”

Agni menghela nafas panjang, “jujur ya, sebenernya gue gak tau siap ato gak, tapi gue takut Ify marah sama gue, sumpah deh Io' gue gak mau persahabatan gue ancur cuma gara-gara hal kayak gini”

Rio menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, “gue bingung, gue juga gak enak sama Cakka tapi gue gak mau ngecewain bokap gue” Rio mendesah  “mendingan kita jalanin aja dulu”

Agni membulatkan matanya, “tapi... gue takut”

Rio menurunkan tangannya, membuka mata, menatap Agni dengan intens “percaya deh sama gue, gak bakalan kenapa-kenapa”

Agni mengangguk ragu.

Novi menatap Agni dan Rio dari pintu kamar Agni yang memang tidak di tutup.
“lagi ngintip ya loe?”

Novi menatap ponselnya, “kok loe tau?”ia berbisik, lalu meletakkan ponselnya di dekat telinga lagi.

“ngintip apa loe?”

“kakak gue sama calon tunangannya”

“HAH?!”

Dengan refleks Novi menjauhkan ponselnya, “biasa aja dong”

“heh Nov, asal loe tau aja ya... kakak gue itu suka sama kakak loe”

“APA?!” Novi menutup mulutnya, kenapa ia bisa berteriak gitu di saat ngintip.

“Nov, ngapain di depan pintu”sahut Agni dari dalam kamar.

Novi buru-buru memasuki kamarnya.
“eh Dif, apa loe bilang tadi?”
“Dif? Difa?”

Novi menatap ponselnya.
“ihh main matiin aja, dasar!”

***

Difa berlari menuruni tangga, ia harus segera bertemu kakaknya.
“kak Cakka”teriak Difa

“hn”sahut Cakka.

Difa berbalik ke arah dapur yang ternyata kakaknya ada di sana.
“kak Agni kak”Difa mengatur nafasnya yang ngos ngosan.

Cakka menatap adiknya aneh, “kenapa?”tanyanya dingin.

“udah punya calon tunangan”ucap Difa lancar.

Cakka nampak masih bersikap dingin, walau dalam hatinya bergemuruh seperti letupan lava di gunung berapi.

***

Hari dimana acara puncakpun datang, Cindai masih gusar dengan menghilangnya Bagas, sementara Rafli dan Marsha meski sudah bisa latihan bersama tetap saja saling cuek satu sama lain, sementara empat yang lain? Masih sibuk dengan fikiran-fikirannya masing-masing.

“oke, peserta perkemahan cepat berkumpul di lapangan belakang, yang nyanyi dan dance masuk ke aula untuk ambil urutan tampil”

Merekapun menuju tempat masing-masing.

Cakka menarik lengan Agni, “bisa gue ngomong?”

Agni menatap Cakka aneh, “biasanya juga loe nyerocos”

Cakka menajamkan matanya, “gue serius”

“oke”

“loe bener udah mau...”

“Agni”panggil seseorang.

Agni berbalik, “Papa” Agni tersenyum senang.

“om”sapa Cakka

Gabriel nampak tersenyum, “Rio mana?”tanya Gabriel

“tuh”tunjuk Agni pada Rio yang sedang berdiri berdekatan dengan Ify.

“Rio”panggil Gabriel

Rio berbalik, “eh... om”

Rio dan Gabriel saling mendekat, “om nitip Agni”

Rio mengangguk ragu, “iya om”ia tersenyum

“yaudah, om pamit ya, Agni Papa pamit, nak Cakka”Gabriel berlalu setelah mendapatkan anggukan dari ketiga orang yang di sebutkan.

Cakka menatap Rio dengan pandangan penuh tanya, Rio membalasnya dengan tatapan yang sulit di artikan sementara Agni bergantian menatap Cakka dan Rio yang nampak sedang perang dingin itu.


No comments:

Post a Comment