Empat gadis
dan empat pemuda itu masih saja berdebat di dalam kelas.
“udah deh,
yang dance gue sama Marsha, Cindai sama Bagas nyanyi, sisanya Perkemahan
gimana?”saran Rafli
“gue sih
mau-mau aja ya kalo gak ada mahkluk mesum itu”kata Agni, menunjuk Cakka dengan
ekor matanya.
Ify menatap
dengan memelas, “ayolah Ni, loe tega gue gak bisa ikut kalo loe gak ikut?”
“bodo”Agni
acuh tak acuh.
Ify menatap
Rio meminta bantuan, Rio menghela nafas. “gue turutin satu permintaan dari loe,
apapun”
“cuma satu?
Jin aja 3 permintaan”Agni menyibukkan diri dengan ponselnya, bermain game.
“tapi gue
bukan jin”kata Rio lembut
Agni nampak
berfikir, mencari sesuatu yang benar-benar ia butuhkan, “yaudah, gue mau loe
bujukin bokap gue supaya gue di ijinin lagi bawa mobil”
Rio meneguk
ludah, “ada yang lebih ringan?”
Agni menatap
Rio, “kalo gak mau yaudah”Agni berdiri hendak beranjak.
“iya deh,
gue coba”putus Rio
Agni
menyeringai puas.
“daftarin
yuk”ajak Rafli
Marsha
mendelik, “semangat amat loe?”
Namun akhirnya
mereka berdiri bersamaan.
***
“oke, kalian
dari kelas mana?”
“Sepuluh
dua”jawab Rio
Yang
bertanya tadi nampak terdiam, “kelas atlet kan?”
Ke delapan
orang berpandangan, dan berkata “iya” bersama.
“baru ada
dari kelas atlet yang ikutan semuanya”guman orang itu
“kalo gitu
yang mau ikutan lomba nyanyi silahkan bawa kupon lagunya di sana”tunjuk orang
itu pada sebuah meja yang banyak di kerumuni orang.
“buat yang
dance tinggal nunggu ngambil kupon urutan satu hari sebelum tampil dan buat
yang Perkemahan tinggal nunggu pembimbing aja”
“segitu aja
kak?”tanya Rafli
“iya”
“yaudah,
makasih kak”pamit Cakka mewakili.
***
“di dalamnya
ada tiga pilihan lagu di antaranya BCL-Cinta Sejati, Agnes-Rindu, Rossa-Tegar,
silahkan bawa kuponnya”
Cindai
mengambil sebagai perwakilan, ‘semoga cinta sejati’batin Cindai
Cindai dan
Bagas saling berpandangan, Cindai membuka kupon itu dengan ragu-ragu.
“lagu...
Rossa-Tegar”ucap Cindai agak kecewa.
Bagas
tersenyum, “lagu bagus”
“kak, kita
dapet lagu tegar”kata Cindai pada panitianya.
Setelah itu
keduanya berlalu.
***
Agni dan
Cakka duduk berdampingan di bangku kantin yang menghadap ke lapangan basket.
“adek loe
lebih cakep ya Kka”gurau Agni
Cakka
menatap aneh, “gantengan gue”
Agni
menyeringai, ia suka jika menggoda seseorang, “tapi beneran deh Kka, cakep,
imut, lucu lagi, ngegemesin banget”
Cakka
melongos, “katarak kali ya mata loe? Jelas-jelas cakepan gue”
Agni memukul
Cakka, “enak aja, mata gue normal tau. Justru itu karena kelewat normal
makannya tau siapa yang cakep”
“cieee yang
akur”kata Rio dan Ify yang datang dengan nampan berisi makanan miliknya dan
temannya.
Agni
mengambil makanan dari nampan yang dibawa Ify, “gue cuma lagi ngomongin adeknya
dia, cakep banget lho Fy”
“Difa maksud
loe?”tanya Rio.
Agni
mengangguk antusias, “iya, cakepkan Io'?”
Rio
menyantap makanannya, “gak sih, cakepan gue”
Agni
melongos, “cowok itu emang gak pernah ngakuin yang lebih cakep”
“loe suka
sama adek gue?”tanya Cakka
Agni
mengetuk-ngetukkan telunjuk di dagunya, “mmm... gimana ya?”
“udah sih
sama kakaknya aja napa? Ribet amat”kata Cakka agak kesal dengan respon Agni.
Agni
terkikik geli, “sama adek aja jealous”
“heh Kka,
nembak itu yang romantis napa? Masa gitu”kata Rio
Cakka
menatap Rio, “emang siapa yang nembak dia? Gak akan!”
Agni
mencibir, “kena tulahnya baru tau rasa loe”
Cakka
mendekatkan diri pada Rio, membisikan sesuatu.
“kapan loe
mau tembak si Ify?”
Rio balas
membisik, “kapan-kapan deh, gue nunggu loe jadian dulu sama si Agni”
Ify menatap
kedua “so penting banget bisik-bisik”
Rio dan
Cakka saling menjauh, “urusan cowok”ucap Rio
***
Rio mengemudikan
mobilnya dengan santai, di sebelah kirinya ada seorang lelaki yang mirip sekali
dengannya.
“mau kemana
sih Pa?”tanya Rio.
“perumahan
Grass A 4”jawab lelaki itu yang ternyata Papanya Rio, Patton.
Rio mengerem
mobilnya perlahan, “udah nyampe”
Begitu
gerbang di buka, Rio memasukan mobilnya hingga memasuki sebuah pekarangan yang
sangat luas.
“Patton? Apa
kabar loe?”tanya Gabriel begitu melihat Patton keluar dari mobil.
Patton dan
Gabriel berangkulan, “baik dong, loe sendiri?”
“baik juga,
loe sama siapa kesini?”mereka berjalan memasuki kediaman Gabriel.
“anak gue,
tapi gak mau masuk, katanya sih malu”jelas Patton.
Setelah
beberapa menit Rio di dalam mobil sendiri ia memutuskan untuk keluar.
“non Agni,
ini salad nya bibi simpen di meja”
Rio menajamkan
pendengarannya.
“iya bi”
Rio perlahan
berjalan ke samping rumah itu, terkesan gak sopan sih tapi kayaknya ia kenal
dengan suara itu.
Rio menatap
gadis yang baru keluar dari kolam renang, dia meraih handuk lalu menggulungkan
pada rambutnya yang basah dan handuk yang berbentuk jubah kemudian ia pakai
untuk membalut tubuhnya. Rio menelan ludah sukar, “Agni?”
Yang merasa
di panggilpun menoleh, “eh Rio, ngapain disini?”
Rio melirik
ke sana kemari menetralisir kegugupannya, “itu... aku err... nganter Papa”
“kok gak
masuk? Duduk sini”Agni menunjuk tempat di sampingnya.
Rio berjalan
menuju ke arah Agni, ia tersenyum canggung.
Ponsel Agni
untuk kesekian kalinya berdering. Agni meraih ponselnya, ternyata masih orang
yang sama. Alvin!
“kok gak di
angkat?”tanya Rio
Agni
menyantap salad nya, “gak penting”jawab Agni asal.
“kalo gak
penting gak mungkin nelpon teruskan?”Rio menatap Agni sekilas.
“loe
angkatin ya, dan bilang loe cowok gue. Jangan ganggu gue lagi”
Rio
menatapnya ragu, namunia raih juga ponsel Agni dari tangan pemiliknya.
“Agni, darimana sih kamu?”
“hallo?
Siapa ya?”
Dari arah berlawanan mendengus, “siapa loe?”
Rio menatap
Agni, “gue cowoknya Agni, loe siapa?”
“argh”
Rio menatap
ponsel Agni, “dasar gak sopan”dengus Rio
“kenapa
Io'?”Agni menatap Rio
“gak sopan
banget, main tutup aja tanpa pamit”rutuk Rio
Agni
tersenyum miring, “emang gitu, dia orang aneh”
Rio membalas
tatapan Agni , setelah itu mengembalikan ponselnya.
“Agni”seseorang
dari arah dalam rumah memanggil Agni. Agni berbalik menghadap pintu.
“apa
Pa?”tanya Agni
“ini da
temen Papa, lho siapa dia?”tanya Gabriel melihat Rio
“sore om,
aku anaknya Papa Patton”Rio menghampiri Gabriel
“astaga nak
Rio? Udah besar ya kamu”Gabriel merangkul Rio.
“Rio,
ternyata kamu disini? Papa cari ke depan pantesan aja gak ada”sahut Patton dari
arah lain.
“Pa, om ini
ternyata Papanya temen aku, Agni”jelas Rio
Patton
mengangguk mengerti.
“kalo gitu
yuk ngobrol-ngonrol”Gabriel menarik Rio
Rio
mengangguk, ia mengikuti Gabriel menuju ruang tamu. Sementara Agni pamit untuk
membersihkan diri dulu.
“gak nyangka
ya anak loe udah ganteng gini”puji Gabriel, “oiya, kata Novi anak loe yang
kedua satu sekolah juga ya sama anak gue?”
Patton
nampak berfikir, “Gilang? Iya iya... tapi kalo Rio gue baru tau lho ternyata
satu sekolahan sama anak loe”
Gabriel
tertawa, sementara Rio hanya menyimak bingung untuk mengikuti pembicaraan orang
dewasa itu.
“oiya om,
kata Agni dia mau bawa mobil lagi, katanya gak enak kalo nebeng terus”kata Rio
Agni yang
baru ,menuruni tangga agak kaget mendengar ucapan Rio, ingat juga dia sama
janjinya, Agni aja hampir lupa sama hal itu.
“bukannya
apa-apa ya nak Rio, om gak ngijinin itu juga karena om khawatir sama kondisi
Agni, takut tabrakan lagi”
Agni
mendekati Gabriel, “itukan dulu Pa, lagian Agni gak banyak luka kan?”
Gabriel
mengacak-acak rambut Agni saat putrinya itu duduk di sampingnya.
“Papakan
cuma khawatir”
Agni
merengut, sementara Rio terkikik geli melihat ekspresi wajah Agni yang baru
sekali ia lihat ini.
“gini aja
om, ijinin sekali dulu kalo gapapa ijinin lagi, tapi kalo baru pertama udah
kecelakaan lagi udah aja jangan di ijinin lagi, gimana?”saran Rio
Gabriel
nampak menimang-nimang, “boleh juga, yaudah Agni, kamu boleh pake lagi mobil
kamu”
Mata Agni
berbinar, “asik, Agni mau ke rumah Ify ya... oiya Agni ikutan acara Perkemahan.
Dadaa Pa”Agni mengecup pipi Gabriel, “Agni pamit dulu Pa, Om, Io'”Agni berlalu
Patton
menatap Rio yang senyum-senyum sendiri.
“kenapa
kamu?”tanya Patton
Rio kembali
bersikap biasa, “hah? Apa?”tanya Rio pura-pura tak mengerti.
Gabriel
menatap Rio, “kamu ikut gak acara perkemahan itu?”
Rio
mengangguk, “ikut om”
Gabriel
menghela nafas, “kalo gitu tolong jagain Agni ya? Agni gampang hepotermia,
paling gak kuat dia sama udara dingin”
Rio mengangguk
ragu, “i..iya om, Rio usahain”
Ponsel Rio
berdering, “sebentar ya Pa, om”pamit Rio untuk mengangkat telpon.
Patton
melihat Rio yang sudah menjauh, “boleh juga nih kalo kita jodohin el”saran
Patton
Gabriel
menatap Patton, “apa gak keterlaluan jodoh-jodohan?”
“enggak, kan
demi kebaikan juga”
Gabriel
mengangguk-ngangguk mengerti, sekaligus mempertimbangkan ajakan sahabatnya itu.
***
Seseorang
menatap Cindai yang sedang berpacu dengan kecepatan larinya. Ya... hari ini
Cindai memang harus latihan fisik, sebagai atlet yang profesional ia mau tidak
mau harus latihan ini dengan rutin.
Orang itu,
Bagas. mengangguk-angguk mengerti ketika melihat seorang pemuda yang merupakan
kakak kelas Cindai mendekati gadis itu. Dia Dayat! Yang mengganggu waktunya bersama
Cindai saat latihan nyanyi.
Flashback
Bagas
memainkan piano di sebuah ruangan kesenian dengan apik.
Tergoda
aku tuk berfikir, Dia yang tercinta
Mengapa
tlah lama tak nampak, Dirimu disini
Jangankan
ingin ku tersenyum, Tak ada gairah
Ku
ingin slalu bersamamu...
Bagas
menghentikan permainannya karena melihat Cindai tiba-tiba tersenyum.
“kenapa? Ada
yang lucu?”
Cindai
tersenyum lagi, “enggak sih, tapi gimana ya? kayaknya gak sesuai sama suasana
aja”ia menatap ke arah lain.
Bagas mulai
memainkan tuts tuts piano itu lagi.
“Cindai”panggil
seseorang
Cindai
berbalik dan permainan Bagas berhenti.
“kak Dayat,
ada apa?”Cindai mendekati orang itu, Dayat.
Dayat
tersenyum, “jangan lupa entar siang latian fisik di lapangan belakang sekolah”
Cindai
mengacungkan jempolnya, “oke”
“yaudah gue
pamit”kata Dayat
Cindai hanya
tersenyum menanggapinya.
Flashback off
Rafli
menepuk pundak Bagas, “santai bro, tangannya gak usah ngepal gitu”
Bagas
mendengus, “gue pulang duluan”ia berlalu meninggalkan Rafli yang menatapnya
aneh.
“Bagas”panggil
Cindai ketika melihat Bagas hendak berlalu. Kebetulan ia sedang beristirahat di
pinggir lapangan.
Bagas
menghentikan langkahnya, ia rasa gadis itu mendekat.
“kok
buru-buru gitu?”tanya Cindai.
Bagas
tersenyum, “gue udah di sms Mami buat pulang, ini smsnya”ia menunjukan pesan
yang memang baru datang itu pada Cindai.
Cindai
membulatkan bibirnya, “ohh... yaudah”
“loe gagah
pake karategi gitu” (karategi: pakaian khusus karate)
Cindai
tersenyum, “makasih”
“gue pulang
dulu ya, bye”pamit Bagas
Ada sesuatu
dalam hatinya yang membuat kecewa, entah apa itu.
Satujam
berlalu, latiannya telah usai. Cindai segera meninggalkan area sekolah yang di
antar dengan Rafli yang menunggunya.
“Cindai
pulang”ucap Cindai
“Cindai,
sini”
“Mom, Dad? Udah
pulang?”ia mendekati kedua orang tuanya.
Mom Dea,
tersenyum. “duduk dulu”
“Cindai,
Daddy udah jodohkan kamu sama anak temen Dad”ucap Dad, Riko.
Cindai
membulatkan matanya, “Cindai gak mau, Cindai punya pilihan sendiri”ia beranjak
dari tempat itu.
“sekalinya
pulang gak enak banget akhirnya”rutuk Cindai
“kamu
keterlaluan banget, udah tau Cindai baru dateng. Pelan-pelan ngomongnya
bisakan?”tanya Dea pada Riko.
“lagian
ngapain bertele-tele, Cindai juga kan gak suka yang bertele-tele”balas Riko
membela diri.
“yaudahlah”Riko
beranjak.
***
“Cindai menolak
perjodohan itu”
Dengan tatapan
dingin, pemuda itu menatap kedua orang tuanya, “yaudahlah”
To Be
Continue...
No comments:
Post a Comment