Friday, 22 March 2013

Cowok itu... #4




Empat gadis dan empat pemuda itu masih saja berdebat di dalam kelas.
“udah deh, yang dance gue sama Marsha, Cindai sama Bagas nyanyi, sisanya Perkemahan gimana?”saran Rafli

“gue sih mau-mau aja ya kalo gak ada mahkluk mesum itu”kata Agni, menunjuk Cakka dengan ekor matanya.

Ify menatap dengan memelas, “ayolah Ni, loe tega gue gak bisa ikut kalo loe gak ikut?”

“bodo”Agni acuh tak acuh.

Ify menatap Rio meminta bantuan, Rio menghela nafas. “gue turutin satu permintaan dari loe, apapun”

“cuma satu? Jin aja 3 permintaan”Agni menyibukkan diri dengan ponselnya, bermain game.

“tapi gue bukan jin”kata Rio lembut

Agni nampak berfikir, mencari sesuatu yang benar-benar ia butuhkan, “yaudah, gue mau loe bujukin bokap gue supaya gue di ijinin lagi bawa mobil”

Rio meneguk ludah, “ada yang lebih ringan?”

Agni menatap Rio, “kalo gak mau yaudah”Agni berdiri hendak beranjak.

“iya deh, gue coba”putus Rio

Agni menyeringai puas.

“daftarin yuk”ajak Rafli

Marsha mendelik, “semangat amat loe?”

Namun akhirnya mereka berdiri bersamaan.

***

“oke, kalian dari kelas mana?”

“Sepuluh dua”jawab Rio

Yang bertanya tadi nampak terdiam, “kelas atlet kan?”

Ke delapan orang berpandangan, dan berkata “iya” bersama.

“baru ada dari kelas atlet yang ikutan semuanya”guman orang itu

“kalo gitu yang mau ikutan lomba nyanyi silahkan bawa kupon lagunya di sana”tunjuk orang itu pada sebuah meja yang banyak di kerumuni orang.

“buat yang dance tinggal nunggu ngambil kupon urutan satu hari sebelum tampil dan buat yang Perkemahan tinggal nunggu pembimbing aja”

“segitu aja kak?”tanya Rafli

“iya”

“yaudah, makasih kak”pamit Cakka mewakili.

***

“di dalamnya ada tiga pilihan lagu di antaranya BCL-Cinta Sejati, Agnes-Rindu, Rossa-Tegar, silahkan bawa kuponnya”

Cindai mengambil sebagai perwakilan, ‘semoga cinta sejati’batin Cindai

Cindai dan Bagas saling berpandangan, Cindai membuka kupon itu dengan ragu-ragu.
“lagu... Rossa-Tegar”ucap Cindai agak kecewa.

Bagas tersenyum, “lagu bagus”

“kak, kita dapet lagu tegar”kata Cindai pada panitianya.

Setelah itu keduanya berlalu.

***

Agni dan Cakka duduk berdampingan di bangku kantin yang menghadap ke lapangan basket.
“adek loe lebih cakep ya Kka”gurau Agni

Cakka menatap aneh, “gantengan gue”

Agni menyeringai, ia suka jika menggoda seseorang, “tapi beneran deh Kka, cakep, imut, lucu lagi, ngegemesin banget”

Cakka melongos, “katarak kali ya mata loe? Jelas-jelas cakepan gue”

Agni memukul Cakka, “enak aja, mata gue normal tau. Justru itu karena kelewat normal makannya tau siapa yang cakep”

“cieee yang akur”kata Rio dan Ify yang datang dengan nampan berisi makanan miliknya dan temannya.

Agni mengambil makanan dari nampan yang dibawa Ify, “gue cuma lagi ngomongin adeknya dia, cakep banget lho Fy”

“Difa maksud loe?”tanya Rio.

Agni mengangguk antusias, “iya, cakepkan Io'?”

Rio menyantap makanannya, “gak sih, cakepan gue”

Agni melongos, “cowok itu emang gak pernah ngakuin yang lebih cakep”

“loe suka sama adek gue?”tanya Cakka

Agni mengetuk-ngetukkan telunjuk di dagunya, “mmm... gimana ya?”

“udah sih sama kakaknya aja napa? Ribet amat”kata Cakka agak kesal dengan respon Agni.

Agni terkikik geli, “sama adek aja jealous”

“heh Kka, nembak itu yang romantis napa? Masa gitu”kata Rio

Cakka menatap Rio, “emang siapa yang nembak dia? Gak akan!”

Agni mencibir, “kena tulahnya baru tau rasa loe”

Cakka mendekatkan diri pada Rio, membisikan sesuatu.
“kapan loe mau tembak si Ify?”

Rio balas membisik, “kapan-kapan deh, gue nunggu loe jadian dulu sama si Agni”

Ify menatap kedua “so penting banget bisik-bisik”

Rio dan Cakka saling menjauh, “urusan cowok”ucap Rio

***

Rio mengemudikan mobilnya dengan santai, di sebelah kirinya ada seorang lelaki yang mirip sekali dengannya.
“mau kemana sih Pa?”tanya Rio.

“perumahan Grass A 4”jawab lelaki itu yang ternyata Papanya Rio, Patton.

Rio mengerem mobilnya perlahan, “udah nyampe”

Begitu gerbang di buka, Rio memasukan mobilnya hingga memasuki sebuah pekarangan yang sangat luas.
“Patton? Apa kabar loe?”tanya Gabriel begitu melihat Patton keluar dari mobil.

Patton dan Gabriel berangkulan, “baik dong, loe sendiri?”

“baik juga, loe sama siapa kesini?”mereka berjalan memasuki kediaman Gabriel.

“anak gue, tapi gak mau masuk, katanya sih malu”jelas Patton.

Setelah beberapa menit Rio di dalam mobil sendiri ia memutuskan untuk keluar.

“non Agni, ini salad nya bibi simpen di meja”

Rio menajamkan pendengarannya.

“iya bi”

Rio perlahan berjalan ke samping rumah itu, terkesan gak sopan sih tapi kayaknya ia kenal dengan suara itu.
Rio menatap gadis yang baru keluar dari kolam renang, dia meraih handuk lalu menggulungkan pada rambutnya yang basah dan handuk yang berbentuk jubah kemudian ia pakai untuk membalut tubuhnya. Rio menelan ludah sukar, “Agni?”

Yang merasa di panggilpun menoleh, “eh Rio, ngapain disini?”

Rio melirik ke sana kemari menetralisir kegugupannya, “itu... aku err... nganter Papa”

“kok gak masuk? Duduk sini”Agni menunjuk tempat di sampingnya.

Rio berjalan menuju ke arah Agni, ia tersenyum canggung.

Ponsel Agni untuk kesekian kalinya berdering. Agni meraih ponselnya, ternyata masih orang yang sama. Alvin!

“kok gak di angkat?”tanya Rio

Agni menyantap salad nya, “gak penting”jawab Agni asal.

“kalo gak penting gak mungkin nelpon teruskan?”Rio menatap Agni sekilas.

“loe angkatin ya, dan bilang loe cowok gue. Jangan ganggu gue lagi”

Rio menatapnya ragu, namunia raih juga ponsel Agni dari tangan pemiliknya.

“Agni, darimana sih kamu?”

“hallo? Siapa ya?”

Dari arah berlawanan mendengus, “siapa loe?”

Rio menatap Agni, “gue cowoknya Agni, loe siapa?”

“argh”

Rio menatap ponsel Agni, “dasar gak sopan”dengus Rio

“kenapa Io'?”Agni menatap Rio

“gak sopan banget, main tutup aja tanpa pamit”rutuk Rio

Agni tersenyum miring, “emang gitu, dia orang aneh”

Rio membalas tatapan Agni , setelah itu mengembalikan ponselnya.

“Agni”seseorang dari arah dalam rumah memanggil Agni. Agni berbalik menghadap pintu.
“apa Pa?”tanya Agni

“ini da temen Papa, lho siapa dia?”tanya Gabriel melihat Rio

“sore om, aku anaknya Papa Patton”Rio menghampiri Gabriel

“astaga nak Rio? Udah besar ya kamu”Gabriel merangkul Rio.

“Rio, ternyata kamu disini? Papa cari ke depan pantesan aja gak ada”sahut Patton dari arah lain.

“Pa, om ini ternyata Papanya temen aku, Agni”jelas Rio

Patton mengangguk mengerti.

“kalo gitu yuk ngobrol-ngonrol”Gabriel menarik Rio

Rio mengangguk, ia mengikuti Gabriel menuju ruang tamu. Sementara Agni pamit untuk membersihkan diri dulu.

“gak nyangka ya anak loe udah ganteng gini”puji Gabriel, “oiya, kata Novi anak loe yang kedua satu sekolah juga ya sama anak gue?”

Patton nampak berfikir, “Gilang? Iya iya... tapi kalo Rio gue baru tau lho ternyata satu sekolahan sama anak loe”

Gabriel tertawa, sementara Rio hanya menyimak bingung untuk mengikuti pembicaraan orang dewasa itu.
“oiya om, kata Agni dia mau bawa mobil lagi, katanya gak enak kalo nebeng terus”kata Rio

Agni yang baru ,menuruni tangga agak kaget mendengar ucapan Rio, ingat juga dia sama janjinya, Agni aja hampir lupa sama hal itu.

“bukannya apa-apa ya nak Rio, om gak ngijinin itu juga karena om khawatir sama kondisi Agni, takut tabrakan lagi”

Agni mendekati Gabriel, “itukan dulu Pa, lagian Agni gak banyak luka kan?”

Gabriel mengacak-acak rambut Agni saat putrinya itu duduk di sampingnya.
“Papakan cuma khawatir”

Agni merengut, sementara Rio terkikik geli melihat ekspresi wajah Agni yang baru sekali ia lihat ini.

“gini aja om, ijinin sekali dulu kalo gapapa ijinin lagi, tapi kalo baru pertama udah kecelakaan lagi udah aja jangan di ijinin lagi, gimana?”saran Rio

Gabriel nampak menimang-nimang, “boleh juga, yaudah Agni, kamu boleh pake lagi mobil kamu”

Mata Agni berbinar, “asik, Agni mau ke rumah Ify ya... oiya Agni ikutan acara Perkemahan. Dadaa Pa”Agni mengecup pipi Gabriel, “Agni pamit dulu Pa, Om, Io'”Agni berlalu

Patton menatap Rio yang senyum-senyum sendiri.
“kenapa kamu?”tanya Patton

Rio kembali bersikap biasa, “hah? Apa?”tanya Rio pura-pura tak mengerti.

Gabriel menatap Rio, “kamu ikut gak acara perkemahan itu?”

Rio mengangguk, “ikut om”

Gabriel menghela nafas, “kalo gitu tolong jagain Agni ya? Agni gampang hepotermia, paling gak kuat dia sama udara dingin”

Rio mengangguk ragu, “i..iya om, Rio usahain”

Ponsel Rio berdering, “sebentar ya Pa, om”pamit Rio untuk mengangkat telpon.

Patton melihat Rio yang sudah menjauh, “boleh juga nih kalo kita jodohin el”saran Patton

Gabriel menatap Patton, “apa gak keterlaluan jodoh-jodohan?”

“enggak, kan demi kebaikan juga”

Gabriel mengangguk-ngangguk mengerti, sekaligus mempertimbangkan ajakan sahabatnya itu.

***

Seseorang menatap Cindai yang sedang berpacu dengan kecepatan larinya. Ya... hari ini Cindai memang harus latihan fisik, sebagai atlet yang profesional ia mau tidak mau harus latihan ini dengan rutin.
Orang itu, Bagas. mengangguk-angguk mengerti ketika melihat seorang pemuda yang merupakan kakak kelas Cindai mendekati gadis itu. Dia Dayat! Yang mengganggu waktunya bersama Cindai saat latihan nyanyi.

Flashback

Bagas memainkan piano di sebuah ruangan kesenian dengan apik.

Tergoda aku tuk berfikir, Dia yang tercinta
Mengapa tlah lama tak nampak, Dirimu disini
Jangankan ingin ku tersenyum, Tak ada gairah
Ku ingin slalu bersamamu...

Bagas menghentikan permainannya karena melihat Cindai tiba-tiba tersenyum.
“kenapa? Ada yang lucu?”

Cindai tersenyum lagi, “enggak sih, tapi gimana ya? kayaknya gak sesuai sama suasana aja”ia menatap ke arah lain.

Bagas mulai memainkan tuts tuts piano itu lagi.

“Cindai”panggil seseorang

Cindai berbalik dan permainan Bagas berhenti.
“kak Dayat, ada apa?”Cindai mendekati orang itu, Dayat.

Dayat tersenyum, “jangan lupa entar siang latian fisik di lapangan belakang sekolah”

Cindai mengacungkan jempolnya, “oke”

“yaudah gue pamit”kata Dayat

Cindai hanya tersenyum menanggapinya.

Flashback off

Rafli menepuk pundak Bagas, “santai bro, tangannya gak usah ngepal gitu”

Bagas mendengus, “gue pulang duluan”ia berlalu meninggalkan Rafli yang menatapnya aneh.

“Bagas”panggil Cindai ketika melihat Bagas hendak berlalu. Kebetulan ia sedang beristirahat di pinggir lapangan.

Bagas menghentikan langkahnya, ia rasa gadis itu mendekat.
“kok buru-buru gitu?”tanya Cindai.

Bagas tersenyum, “gue udah di sms Mami buat pulang, ini smsnya”ia menunjukan pesan yang memang baru datang itu pada Cindai.

Cindai membulatkan bibirnya, “ohh... yaudah”

“loe gagah pake karategi gitu” (karategi: pakaian khusus karate)

Cindai tersenyum, “makasih”

“gue pulang dulu ya, bye”pamit Bagas

Ada sesuatu dalam hatinya yang membuat kecewa, entah apa itu.

Satujam berlalu, latiannya telah usai. Cindai segera meninggalkan area sekolah yang di antar dengan Rafli yang menunggunya.

“Cindai pulang”ucap Cindai

“Cindai, sini”

“Mom, Dad? Udah pulang?”ia mendekati kedua orang tuanya.

Mom Dea, tersenyum. “duduk dulu”

“Cindai, Daddy udah jodohkan kamu sama anak temen Dad”ucap Dad, Riko.

Cindai membulatkan matanya, “Cindai gak mau, Cindai punya pilihan sendiri”ia beranjak dari tempat itu.
“sekalinya pulang gak enak banget akhirnya”rutuk Cindai

“kamu keterlaluan banget, udah tau Cindai baru dateng. Pelan-pelan ngomongnya bisakan?”tanya Dea pada Riko.

“lagian ngapain bertele-tele, Cindai juga kan gak suka yang bertele-tele”balas Riko membela diri.

“yaudahlah”Riko beranjak.

***

“Cindai menolak perjodohan itu”

Dengan tatapan dingin, pemuda itu menatap kedua orang tuanya, “yaudahlah”


To Be Continue...

No comments:

Post a Comment