Wednesday, 20 March 2013

Kisah Klasik (SS)


ini sambungan dari 2 cerpen.
1. Bukan sebuah kekeliruan, klik disini
2. Difa..., klik disini

add facebook saya disini.

Ketika sebuah kenyataan terkuak...

Difa sekarang telah menjelma menjadi seorang pemuda berumur 15 tahun, dan telah menduduki kelas 12 di SMA terbaik di Jakarta.
“Hemofilia itu hanya akan di derita oleh seorang laki-laki, dan apabila seorang wanita penderita pasti mereka akan meninggal di usia yang masih kecil, bahkan balita”

DEG

Difa tertegun mendengarnya, Hemofilia yang telah merenggut nyawa Papanya, Rio.
“bu”sahut Difa

Guru itu memalingkan wajahnya pada Difa, “Hemofilia penyakit keturunankan?”

“tentu saja Difa, memangnya kamu belum tau?”

Kepala Difa mendadak pusing, dengan beribu pertanyaan yang ada di kepalanya.
“apakah anak lelaki pertamanya akan terindikasi hemofilia juga?”

“kebanyakan tidak, tapi ada sebagian menjadi penderita, tapi itu hanya kemungkinan kecil saja”

***

Difa menatap Ibunya yang baru datang, masih dengan jas khas kedokterannya.
“Ma”

“kenapa?”tanya Agni tanpa menoleh

“Papa...”

Agni menghentikan aktifitasnya, tapi tak sedikitpun menoleh.

“-hemofiliakan Ma?”

Agni berbalik, “iya, emang kenapa?”ia duduk di samping Difa.

Difa meletakkan kepalanya di pangkuan Agni, “kenapa aku normal?”

Agni mengerutkan keningnya, “emang maunya gimana?”

Difa menghela nafas, “jujur sama Difa Ma, Difa masih inget waktu Papa meninggal, Mama bilang Difa bukan anak Papa, apa itu emang bener? Apa bener Difa bukan anak dari Papa Rio? Terus anak siapa kalo bukan anak Papa Rio?”ia menutup matanya, tak sanggup menatap Ibunya.

Agni menghela nafas, mungkin ini saatnya Difa tau segalanya. Tapi apakah ini waktu yang tepat?
“Difa...”

“Difa mau tau semuanya, dari waktu Mama kenal sama Papa dan Om... Cakka”

Agni tertegun, “darimana kamu tau tentang Cakka?”tanya Agni heran.

Difa menggeleng, “Difa mimpi ketemu om itu”

Agni mengelus rambut Difa, “awalnya Papa Rio itu pasien Mama, setiap saat mama selalu temenin dia, sampai pada suatu saat Mama tau kalau Papa Rio itu Kakaknya Cakka, Papa kandungmu. dan malam itu mereka datang ke rumah Oma kamu...”

***

Rio, Cakka beserta Mama dan Papanya memasuki sebuah rumah, malam ini malam yang sangat spesial untuk mereka, terutama momen membahagiakan untuk orang tua mereka, karena salah satu putranya akan melamar putri dari pemilik rumah ini.

“ayo silahkan masuk, duduk, nanti saya panggilkan Agni nya dulu”kata Bunda Agni
“iya terimakasih”kata Mama

Tak lama kemudian dengan tatapan sendu seorang gadis turun, dia Agni menatap satu persatu orang yang ada di ruang tamu. Rio menyambutnya dengan sebuah senyuman manis yang di balas oleh Agni. Sementara Cakka hanya menundukan kepalanya.
“om, tante”sapa Agni sambil menyalami masing-masing.

“Pak, Bu... langsung saja, kami datang kesini untuk...”

“pa, biar Rio aja”kata Rio memotong perkataan Papa, sambil menatap papanya.

“begini Pak, Bu... kami datang kesini bermaksud untuk melamar Agni”ucap Rio sambil terseyum menatap Agni

Agni membalas senyuman itu dengan agak memaksa, menahan air matanya. Ntah air mata sedih atau air mata bahagia.
“kami tentu menerimanya dengan baik”ucap Ayah Agni

“kami melamarkan Agni untuk Cakka”lanjut Rio.

Agni dan Cakka mendongakkan kepalanya, menatap  Rio tak percaya.
“Io'”ucap Agni lirih.
“kak”kata Cakka.

Rio mengerutkan keningnya, “kenapa? Kan bener ini lamaran buat kalian”

Agni dan Cakka tersenyum penuh kebahagiaan

-o0o-

Sebuah gedung mewah dan penuh dengan orang-orang yang menjadi tamu undangan pada acara itu.

***

Difa merasakan ada setitik air yang jatuh ke Pipinya, ia membuka matanya dan bangun.
“Ma, jangan nangis... maafin Difa udah maksa Mama cerita”

Agni menggeleng, ia rasa kenangannya berssama Cakka terus berputar di otaknya.
“Mama gapapa kok, tidur lagi”

Difa menatap Agni mencoba mencari keyakinan, Agni mengangguk melihat tatapan itu.

***

“selamat ya kalian, cepet-cepet buatin kakak ponakan”gurau Rio.

Agni dan Cakka tersenyum, “makasih ya kak, kakak udah relain Agni buat Cakka”

Rio menyeringai, “udah berapa kali ya kamu bilang makasih? Lagian ngapain kakak nikah kalo kenyataannya kakak udah mau mati”

Agni melotot mendengarnya, “jangan gitu Io', kamu ngeraguin aku? Aku bisa rawat kamu kok”

Rio menepuk pundak Agni, “gak usah, kakak udah punya dokter baru”

Agni menautkan alisnya, “dokter Ify”
“yaudah ya, kakak pergi dulu gabung sama yang lain”pamit Rio

Yang di hadiahi anggukan oleh Cakka dan Agni.

-o0o-

Cakka dan Agni berbaring di atas tempat tidur, keduanya saling berhadapan dan senyum kebahagiaan tak lepas dari wajahnya.

“aku bahagia banget Ni, ternyata pada akhirnya kamu jadi milik aku juga”Cakka mengeratkan pelukannya di pinggang Agni.

Senyuman Agni memudar, ia teringat sesuatu.
“aku boleh tanya?”

Cakka mengangguk, “kalo aku tau aku akan jawab”

“kamu tau kenapa Rio malah lamarin aku buat kamu?”Agni menghela nafas, “-kan udah jelas banget, kalo Rio itu cinta dan sayang sama aku”

Cakka merenggangkan pelukannya, ia malah terdiam.

Agni menatap Cakka yang melihat ke arah lain, “maaf kalo aku salah, kamu gak perlu jawab kalo kamu gak mau jawab”

Cakka menghela nafas panjang, menatap Agni kembali.
“Mama aku sama Kak Rio itu beda Ni, dulu... Mama aku istri pertama Papa, udah nikah sampai lima taun belum juga punya anak, sampai Papa mutusin nikah lagi...”

“sama Mamanya Rio?”

Cakka mengangguk, “baru nikah 3 bulan mama kak Rio bilang kalo udah ngandung, Papa seneng banget... tapi di saat itu juga Mama tau kalo Mama sedang hamil”

“Pada saat melahirkan Mama kak Rio meninggal dan tanpa sepengetahuan Papa ternyata Mama carrier Hemofilia, jadilah kak Rio penderita Hemofilia”

Agni mengangguk, akhirnya pertanyaan tentang keluarga ini terjawab juga.

“kata kak Rio, kak Rio mau liat aku bahagia, dan dia juga mau nebus kesalahannya sama Mama aku, karena dulu Mamanya yang udah rebut Papa, jadi dia gak mau rebut kamu dari aku”

Agni memeluk leher Cakka, membenamkan wajahnya di leher Cakka.
“Rio baik banget Kka, aku salut sama dia”

Cakka mengangguk, ia mengecup puncak kepala Agni.

-o0o-

Cakka membuka matanya, karena merasakan tempat di sebelah kanannya sudah kosong.
Setengah tahun menjadi seorang suami menjadikan ia terbiasa jika terbangun dengan seseorang di sampingnya, tapi kali ini kenapa ia sendiri?

“Kka”ucap lirih Agni dari kamar mandi, terdengar pula gemerincik air.
“Cakka”Agni memanggilnya dengan agak kencang.

Mendengar itu Cakka langsung berlari ke arah kamar mandi.
“Ni, kenapa?”

Agni mengalungkan tangannya di leher Cakka, ia tak kuat berdiri lagi.
“aku hamil”

Mata Cakka berbinar, “beneran Ni?”

Agni mengangguk lemah, ia merasakan kecupan di kening dan puncak kepalanya.

“makasih sayang”

-o0o-

Dari bulan kebulan kehamilan Agni semakin membesar, bersamaan dengan kehamilan Agni yang menginjak usia 8 bulan, kondisi Rio memburuk.

“aku harus rawat kak Rio Kka, please...”Agni memohon pada Cakka.

“kamu lagi hamil Ni, lagian kamu udah mau cuti”Cakka tetap bersikeras dengan pendiriannya yang tak mau mengijinkan Agni.

“Kka, kak Rio itu kakak kamu, kamu tega liat dia kritis? Kamu itu gak tau terimakasih banget ya ternyata, beruntung Rio udah mau biarin aku nikah sama kamu dan jaga aku kalo kamu lagi gak ada. Tapi apa balasan kamu Kka?”Agni menatap Cakka penuh amarah, ia sangat kesal dengan suaminya ini yang ternyata egois.

“kan udah ada dokter Ify”Cakka tetap tak bergeming.

Ponsel Agni berdering,

“ya hallo”

“dokter Agni, Pak Rio semakin kritis”

“terus gimana dong? Dokter Ify kemana?”

“big boss cuma mau dokter Agni, cepetan dokter kesini”

“yaudah, saya on the way sekarang”

Agni nampak berdiri

“kemana?”tanya Cakka.

“Papa suruh aku ke RS sekarang”ujar Agni.

Cakka menghela nafas panjang, “aku anter”

-o0o-

Kondisi Rio mulai stabil, Agni menghela nafas.
“duduk Ni, istirahat dulu”kata Cakka

Agni menurut, ia sandarkan kepalanya ke dada Cakka. Entah kenapa ia rasa ada seseorang yang akan meninggalkannya, hatinya terasa mencelos hampa.

Ponsel Cakka berdering.

“hallo selamat malam”

“Pak Cakka?”

“iya saya sendiri”

“Pak ada clien yang komplain yang di Lampung, mereka merasa tidak puas dengan hasil kerja anak buah Bapak”

“kita bicarakan besok”

“gak bisa Pak,mereka bilang harus ada konfirmasi dari bapak sekarang,  sekarang saja saya masih di kantor”

“mereka disana?”

“iya Pak”

“saya segera ke sana”

Agni menatap Cakka tak rela, ia tau suaminya akan pergi ke kantor lagi.
“jangan pergi”

Cakka memeluk Agni erat, “sebentar kok, aku janji cepet pulang”

Agni menggeleng, “jangan pergi, aku takut”

Cakka mengecup puncak kepala Agni, “jangan takut, banyak yang jagain kamu kok”

Cakka mengurai pelukannya, “aku pergi sebentar”

Agni menatap Cakka, lalu mengangguk samar.

Ify mendekati Agni, “kamu beruntung banget ya punya segalanya”

Agni tersenyum, “makasih”

‘sampai Pak dirut aja nyerahin Pak Rio buat di rawat kamu, padahal jelas-jelas Pak Rio sudah meminta aku jadi dokter pribadinya’batin Ify.

Agni berjalan ke arah Bapak mertuanya yang baru saja keluar dari ruang ICU.
“Pa”

Papa mengelus rambut Agni, “kamu selamatkan lagi anakku”

Agni tersenyum, “udah kewajiban Agni Pa”
Tiba-tiba ia merasakan kakinya lemas, dan tak sanggup berdiri lalu... gelap.

-o0o-

Berbagai media cetak maupun elektronik di gegerkan dengan sebuah kecelakaan, yang sampai sekarang jasad pemilik kendaraan itu belum juga di temukan.

Agni duduk di depan televisi dengan mata yang sembab, ternyata benar firasatnya.
“kamu bandel Kka”

Bunda Agni mendekati Agni, memeluk putrinya dengan erat.
“yang kuat sayang, kamu harus ingat sama kendungan kamu”

Agni mengelus perutnya, ia ingat. Ada nyawa lain di dalam tubuh Agni yang tidak boleh merasakan kesedihannya.

“Cakka... bun”Agni menatap nanar ke arah televisi.

“sabar”Bunda mengelus puncak kepala anaknya.

-o0o-

Agni menatap bayi yang ada dalam gendongannya, sesekali ia menitikan air mata.
“Ni”

Agni melihat ke arah pintu, ia mengusap air matanya.
“Io' aku bingung”

Rio duduk di sebelah Agni, Agni menyandarkan tubuhnya pada Rio.
“gimana kalo anak aku nanyain Papanya? Aku gak mau dia tau kalo...”

“st...”Rio meletakkan satu jarinya di bibir Agni, “jangan bilang gitu”

Agni menatap Rio, “mau gak kamu jadi Papa buat anak aku?”

Rio tertegun, ia bingung.”aku gak mungkin khianatin Cakka”

Agni menggeleng, “gak akan, kamu cukup jadi Papanya aja”

***

Difa menatap Agni dengan sendu, ternyata semuanya begitu mengejutkan.
“kak Difa”panggil seorang anak perempuan.

“Mama kenapa kak Difa sedih gitu?”tanya anak perempuan itu.

Agni mengelusnya, “gapapa kok dinda”

Difa menatap Agni, “kalo gitu, Dinda carrier dong Ma”

Agni menghela nafas, “kemungkinan begitu”


THE END

No comments:

Post a Comment