ini sambungan dari 2 cerpen.
1. Bukan sebuah kekeliruan, klik disini
2. Difa..., klik disini
add facebook saya disini.
Ketika
sebuah kenyataan terkuak...
Difa
sekarang telah menjelma menjadi seorang pemuda berumur 15 tahun, dan telah
menduduki kelas 12 di SMA terbaik di Jakarta.
“Hemofilia
itu hanya akan di derita oleh seorang laki-laki, dan apabila seorang wanita
penderita pasti mereka akan meninggal di usia yang masih kecil, bahkan balita”
DEG
Difa
tertegun mendengarnya, Hemofilia yang telah merenggut nyawa Papanya, Rio.
“bu”sahut
Difa
Guru itu
memalingkan wajahnya pada Difa, “Hemofilia penyakit keturunankan?”
“tentu saja
Difa, memangnya kamu belum tau?”
Kepala Difa
mendadak pusing, dengan beribu pertanyaan yang ada di kepalanya.
“apakah anak
lelaki pertamanya akan terindikasi hemofilia juga?”
“kebanyakan
tidak, tapi ada sebagian menjadi penderita, tapi itu hanya kemungkinan kecil
saja”
***
Difa menatap
Ibunya yang baru datang, masih dengan jas khas kedokterannya.
“Ma”
“kenapa?”tanya
Agni tanpa menoleh
“Papa...”
Agni
menghentikan aktifitasnya, tapi tak sedikitpun menoleh.
“-hemofiliakan
Ma?”
Agni
berbalik, “iya, emang kenapa?”ia duduk di samping Difa.
Difa
meletakkan kepalanya di pangkuan Agni, “kenapa aku normal?”
Agni
mengerutkan keningnya, “emang maunya gimana?”
Difa
menghela nafas, “jujur sama Difa Ma, Difa masih inget waktu Papa meninggal,
Mama bilang Difa bukan anak Papa, apa itu emang bener? Apa bener Difa bukan
anak dari Papa Rio? Terus anak siapa kalo bukan anak Papa Rio?”ia menutup
matanya, tak sanggup menatap Ibunya.
Agni
menghela nafas, mungkin ini saatnya Difa tau segalanya. Tapi apakah ini waktu
yang tepat?
“Difa...”
“Difa mau
tau semuanya, dari waktu Mama kenal sama Papa dan Om... Cakka”
Agni
tertegun, “darimana kamu tau tentang Cakka?”tanya Agni heran.
Difa
menggeleng, “Difa mimpi ketemu om itu”
Agni mengelus
rambut Difa, “awalnya Papa Rio itu pasien Mama, setiap saat mama selalu temenin
dia, sampai pada suatu saat Mama tau kalau Papa Rio itu Kakaknya Cakka, Papa
kandungmu. dan malam itu mereka datang ke rumah Oma kamu...”
***
Rio, Cakka
beserta Mama dan Papanya memasuki sebuah rumah, malam ini malam yang sangat
spesial untuk mereka, terutama momen membahagiakan untuk orang tua mereka,
karena salah satu putranya akan melamar putri dari pemilik rumah ini.
“ayo
silahkan masuk, duduk, nanti saya panggilkan Agni nya dulu”kata Bunda Agni
“iya
terimakasih”kata Mama
Tak lama
kemudian dengan tatapan sendu seorang gadis turun, dia Agni menatap satu
persatu orang yang ada di ruang tamu. Rio menyambutnya dengan sebuah senyuman
manis yang di balas oleh Agni. Sementara Cakka hanya menundukan kepalanya.
“om,
tante”sapa Agni sambil menyalami masing-masing.
“Pak, Bu...
langsung saja, kami datang kesini untuk...”
“pa, biar
Rio aja”kata Rio memotong perkataan Papa, sambil menatap papanya.
“begini Pak,
Bu... kami datang kesini bermaksud untuk melamar Agni”ucap Rio sambil terseyum
menatap Agni
Agni
membalas senyuman itu dengan agak memaksa, menahan air matanya. Ntah air mata
sedih atau air mata bahagia.
“kami tentu
menerimanya dengan baik”ucap Ayah Agni
“kami
melamarkan Agni untuk Cakka”lanjut Rio.
Agni dan
Cakka mendongakkan kepalanya, menatap
Rio tak percaya.
“Io'”ucap
Agni lirih.
“kak”kata
Cakka.
Rio
mengerutkan keningnya, “kenapa? Kan bener ini lamaran buat kalian”
Agni dan
Cakka tersenyum penuh kebahagiaan
-o0o-
Sebuah
gedung mewah dan penuh dengan orang-orang yang menjadi tamu undangan pada acara
itu.
***
Difa
merasakan ada setitik air yang jatuh ke Pipinya, ia membuka matanya dan bangun.
“Ma, jangan
nangis... maafin Difa udah maksa Mama cerita”
Agni
menggeleng, ia rasa kenangannya berssama Cakka terus berputar di otaknya.
“Mama gapapa
kok, tidur lagi”
Difa menatap
Agni mencoba mencari keyakinan, Agni mengangguk melihat tatapan itu.
***
“selamat ya
kalian, cepet-cepet buatin kakak ponakan”gurau Rio.
Agni dan
Cakka tersenyum, “makasih ya kak, kakak udah relain Agni buat Cakka”
Rio
menyeringai, “udah berapa kali ya kamu bilang makasih? Lagian ngapain kakak
nikah kalo kenyataannya kakak udah mau mati”
Agni melotot
mendengarnya, “jangan gitu Io', kamu ngeraguin aku? Aku bisa rawat kamu kok”
Rio menepuk
pundak Agni, “gak usah, kakak udah punya dokter baru”
Agni
menautkan alisnya, “dokter Ify”
“yaudah ya,
kakak pergi dulu gabung sama yang lain”pamit Rio
Yang di
hadiahi anggukan oleh Cakka dan Agni.
-o0o-
Cakka dan
Agni berbaring di atas tempat tidur, keduanya saling berhadapan dan senyum
kebahagiaan tak lepas dari wajahnya.
“aku bahagia
banget Ni, ternyata pada akhirnya kamu jadi milik aku juga”Cakka mengeratkan
pelukannya di pinggang Agni.
Senyuman
Agni memudar, ia teringat sesuatu.
“aku boleh
tanya?”
Cakka
mengangguk, “kalo aku tau aku akan jawab”
“kamu tau
kenapa Rio malah lamarin aku buat kamu?”Agni menghela nafas, “-kan udah jelas
banget, kalo Rio itu cinta dan sayang sama aku”
Cakka
merenggangkan pelukannya, ia malah terdiam.
Agni menatap
Cakka yang melihat ke arah lain, “maaf kalo aku salah, kamu gak perlu jawab
kalo kamu gak mau jawab”
Cakka
menghela nafas panjang, menatap Agni kembali.
“Mama aku
sama Kak Rio itu beda Ni, dulu... Mama aku istri pertama Papa, udah nikah
sampai lima taun belum juga punya anak, sampai Papa mutusin nikah lagi...”
“sama
Mamanya Rio?”
Cakka
mengangguk, “baru nikah 3 bulan mama kak Rio bilang kalo udah ngandung, Papa
seneng banget... tapi di saat itu juga Mama tau kalo Mama sedang hamil”
“Pada saat
melahirkan Mama kak Rio meninggal dan tanpa sepengetahuan Papa ternyata Mama
carrier Hemofilia, jadilah kak Rio penderita Hemofilia”
Agni
mengangguk, akhirnya pertanyaan tentang keluarga ini terjawab juga.
“kata kak
Rio, kak Rio mau liat aku bahagia, dan dia juga mau nebus kesalahannya sama
Mama aku, karena dulu Mamanya yang udah rebut Papa, jadi dia gak mau rebut kamu
dari aku”
Agni memeluk
leher Cakka, membenamkan wajahnya di leher Cakka.
“Rio baik
banget Kka, aku salut sama dia”
Cakka
mengangguk, ia mengecup puncak kepala Agni.
-o0o-
Cakka
membuka matanya, karena merasakan tempat di sebelah kanannya sudah kosong.
Setengah
tahun menjadi seorang suami menjadikan ia terbiasa jika terbangun dengan
seseorang di sampingnya, tapi kali ini kenapa ia sendiri?
“Kka”ucap
lirih Agni dari kamar mandi, terdengar pula gemerincik air.
“Cakka”Agni
memanggilnya dengan agak kencang.
Mendengar
itu Cakka langsung berlari ke arah kamar mandi.
“Ni,
kenapa?”
Agni
mengalungkan tangannya di leher Cakka, ia tak kuat berdiri lagi.
“aku hamil”
Mata Cakka
berbinar, “beneran Ni?”
Agni
mengangguk lemah, ia merasakan kecupan di kening dan puncak kepalanya.
“makasih
sayang”
-o0o-
Dari bulan
kebulan kehamilan Agni semakin membesar, bersamaan dengan kehamilan Agni yang
menginjak usia 8 bulan, kondisi Rio memburuk.
“aku harus
rawat kak Rio Kka, please...”Agni memohon pada Cakka.
“kamu lagi
hamil Ni, lagian kamu udah mau cuti”Cakka tetap bersikeras dengan pendiriannya
yang tak mau mengijinkan Agni.
“Kka, kak
Rio itu kakak kamu, kamu tega liat dia kritis? Kamu itu gak tau terimakasih
banget ya ternyata, beruntung Rio udah mau biarin aku nikah sama kamu dan jaga
aku kalo kamu lagi gak ada. Tapi apa balasan kamu Kka?”Agni menatap Cakka penuh
amarah, ia sangat kesal dengan suaminya ini yang ternyata egois.
“kan udah
ada dokter Ify”Cakka tetap tak bergeming.
Ponsel Agni
berdering,
“ya hallo”
“dokter Agni, Pak Rio semakin kritis”
“terus
gimana dong? Dokter Ify kemana?”
“big boss cuma mau dokter Agni, cepetan
dokter kesini”
“yaudah,
saya on the way sekarang”
Agni nampak
berdiri
“kemana?”tanya
Cakka.
“Papa suruh
aku ke RS sekarang”ujar Agni.
Cakka
menghela nafas panjang, “aku anter”
-o0o-
Kondisi Rio
mulai stabil, Agni menghela nafas.
“duduk Ni,
istirahat dulu”kata Cakka
Agni
menurut, ia sandarkan kepalanya ke dada Cakka. Entah kenapa ia rasa ada
seseorang yang akan meninggalkannya, hatinya terasa mencelos hampa.
Ponsel Cakka
berdering.
“hallo
selamat malam”
“Pak Cakka?”
“iya saya
sendiri”
“Pak ada clien yang komplain yang di
Lampung, mereka merasa tidak puas dengan hasil kerja anak buah Bapak”
“kita
bicarakan besok”
“gak bisa Pak,mereka bilang harus ada
konfirmasi dari bapak sekarang, sekarang
saja saya masih di kantor”
“mereka
disana?”
“iya Pak”
“saya segera
ke sana”
Agni menatap
Cakka tak rela, ia tau suaminya akan pergi ke kantor lagi.
“jangan
pergi”
Cakka
memeluk Agni erat, “sebentar kok, aku janji cepet pulang”
Agni
menggeleng, “jangan pergi, aku takut”
Cakka
mengecup puncak kepala Agni, “jangan takut, banyak yang jagain kamu kok”
Cakka
mengurai pelukannya, “aku pergi sebentar”
Agni menatap
Cakka, lalu mengangguk samar.
Ify
mendekati Agni, “kamu beruntung banget ya punya segalanya”
Agni
tersenyum, “makasih”
‘sampai Pak dirut aja nyerahin Pak Rio buat
di rawat kamu, padahal jelas-jelas Pak Rio sudah meminta aku jadi dokter
pribadinya’batin Ify.
Agni
berjalan ke arah Bapak mertuanya yang baru saja keluar dari ruang ICU.
“Pa”
Papa
mengelus rambut Agni, “kamu selamatkan lagi anakku”
Agni
tersenyum, “udah kewajiban Agni Pa”
Tiba-tiba ia
merasakan kakinya lemas, dan tak sanggup berdiri lalu... gelap.
-o0o-
Berbagai
media cetak maupun elektronik di gegerkan dengan sebuah kecelakaan, yang sampai
sekarang jasad pemilik kendaraan itu belum juga di temukan.
Agni duduk
di depan televisi dengan mata yang sembab, ternyata benar firasatnya.
“kamu bandel
Kka”
Bunda Agni
mendekati Agni, memeluk putrinya dengan erat.
“yang kuat
sayang, kamu harus ingat sama kendungan kamu”
Agni mengelus
perutnya, ia ingat. Ada nyawa lain di dalam tubuh Agni yang tidak boleh
merasakan kesedihannya.
“Cakka...
bun”Agni menatap nanar ke arah televisi.
“sabar”Bunda
mengelus puncak kepala anaknya.
-o0o-
Agni menatap
bayi yang ada dalam gendongannya, sesekali ia menitikan air mata.
“Ni”
Agni melihat
ke arah pintu, ia mengusap air matanya.
“Io' aku
bingung”
Rio duduk di
sebelah Agni, Agni menyandarkan tubuhnya pada Rio.
“gimana kalo
anak aku nanyain Papanya? Aku gak mau dia tau kalo...”
“st...”Rio
meletakkan satu jarinya di bibir Agni, “jangan bilang gitu”
Agni menatap
Rio, “mau gak kamu jadi Papa buat anak aku?”
Rio
tertegun, ia bingung.”aku gak mungkin khianatin Cakka”
Agni
menggeleng, “gak akan, kamu cukup jadi Papanya aja”
***
Difa menatap
Agni dengan sendu, ternyata semuanya begitu mengejutkan.
“kak Difa”panggil
seorang anak perempuan.
“Mama kenapa
kak Difa sedih gitu?”tanya anak perempuan itu.
Agni mengelusnya,
“gapapa kok dinda”
Difa menatap
Agni, “kalo gitu, Dinda carrier dong Ma”
Agni menghela
nafas, “kemungkinan begitu”
THE END
No comments:
Post a Comment