***
“gue duluan
ya, udah di tunggu sama pelatih”pamit Marsha kepada Cindai. Sementara Ify dan
Agni telah lebih dulu berlalu.
“iya”Cindai
tersenyum dan melambaikan tangannya.
Cindai
menghela nafas, ‘gak ada tebengan deh gue, kenapa harus beda sih jadwal
latiannya’guman Cindai kesal.
“Cindai”panggil
seseorang yang masih ada di kelas, Bagas.
Cindai
berbalik, “apa?”
“bareng gue
yuk”ajak Bagas.
Cindai
nampak berfikir, “gak ngerepotin nih?”
Bagas
mendekati Cindai, ia mencubit hidung Cindai. “kalo ngerepotin ngapain gue
ngajak? Hm”
Cindai
tersenyum miring, “bener juga, yaudah deh gue mau”
“tapi
anterin belanja dulu”Bagas tersenyum jahil
Cindai
melongos, “hahhh... oke deh”
Mereka
berdua berjalan beriringan.
“oiya, loe
gak latian?”tanya Bagas
“gak, kenapa
emang?”tanya balik Cindai.
“ya kan
temen-temen loe lagi latian, sampe temen-temen gue ngintilin”
Cindai
menahan tawanya, “masa?”
Bagas
mengangguk pasti, “iya, apalagi Rafli, semangat banget dia”
“emang kalo
gue latian loe mau liat gue juga”
“err...
ya... gak taulah kan loe nya gak latian”
Cindai
menghela nafas, entah karena apa.
“emang loe
atlet apa sih?”tanya Bagas sambil menaiki Ninjanya.
“gue? Mau
tau banget atau mau tau aja?”goda Cindai
Bagas
menghela nafas, “gak dua-duanya sih”ia menatap jail Cindai, ingin melihat
reaksi anak itu.
Gadis itu
ternyata cemberut, “kalo gitu ngapain tanya? Ihh”
“udah ahh
jangan ngambek, yuk naik”ajak Bagas. Cindai menurut tanpa berkomentar lagi, ia
benar-benar kesal. ‘Ihh, ternyata Bagas
nyebelin juga’
***
CLUP.
Untuk
kesekian kalinya Agni menceburkan diri kedalam kolam renang, pakaian renang
serba panjang yang ketat membalut tubuh indahnya. Sebenarnya latihan sudah
berakhir dari satujam yang lalu, tapi Agni masih betah di dalam air. Dengan terkagum-kagum
seseorang mengamatinya dari pintu utama yang mengarah ke kolam itu.
‘gak nyangka bisa sehebat itu’guman
orang itu, Cakka.
Cakka
mendekati kolam dengan wajah yang dingin.
“udah hampir
satu jam loe latian, gak bisa berhenti dulu?”tanya Cakka
Agni
mengapungkan dirinya di kolam, “ngapain loe di sini?”tanya Agni tanpa melihat
orang yang bertanya.
Cakka duduk
di bangku kosong dan menghadap ke arah Agni.
“mau liat
loe”jawab Cakka
“tapi gue
gak mau di liatin, apalagi sama loe!”Agni mencelupkan dirinya lagi memasuki air
dan berjalan ke pinggir kolam, mengambil handuk di sebelah Cakka.
Cakka
menatap Agni tak berkedip, ia begitu mengagumi tubuh ideal Agni, ia rasa gadis
itu bertubuh sempurna. ‘perfect’
Agni
mendelik menatap Cakka yang melihatnya dengan tatapan aneh, “apa loe liat-liat?”
Cakka tersenyum,
ia menatap Agni dengan nakal. “loe seksi, bener deh”
Agni
melongos, mengambil tas kemudian berlalu. Cakka membuntuti Agni sampai pada
sebuah ruangan ganti.
“kok loe
ngikutin gue?”tanya Agni
Cakka menatap
Agni dengan intens, “emang loe mau ngapain?”
Agni
melempar handuk ke arah Cakka, “mau ganti baju, sana pergi”
Cakka
terkekeh, “emang gak boleh kalo gue liat?”
TUK
Agni
melemparkan penutup matanya.
“pergi gak
loe? Sebelum gue lempar”Agni bersiap melempar Cakka dengan botol air mineral
yang masih terisi penuh oleh air.
“ck, iya
iya, gitu aja marah”cibir Cakka sambil mundur menjauhi ruangan itu.
Agni
melongos, “dasar cowok mesum”
BLAM
Agni menutup
pintu dengan kencang.
Namun
setelah menutup pintu itu tanpa Agni sadari ia tersenyum, entah senang atau apa
yang jelas hanya ia yang tau jawabannya.
Agni memukul
kepalanya pelan ‘sadar Agni, dia gak beda
sama Alvin’
Sementara
Cakka terkikik geli melihat tingkah Agni, sampai muka gadis itu merona ke merahan.
‘gue makin suka sama loe’guman Cakka.
***
Marsha
berbincang dengan pelatihnya, mencari dimana letak kekurangan gerakkannya yang
harus di perbaiki.
“latian lagi
hand standnya, masih kurang mantep”kata
pelatihnya.
“siap”Marsha
mengacungkan tangannya.
“yaudah,
selamat ketemu minggu depan”
Marsha
mengangguk menanggapinya.
Setelah
pelatihnya berlalu, ia kembali berlatih karena penasaran dengan gerakan itu.
‘gini kali ya’batin Marsha.
Terlihat
dari arah pintu ada yang memasuki ruangan itu. Marsha mengerutkan keningnya, ‘ngapain dia kesini?’
Marsha
menurunkan kakinya, ia berdiri setelah itu duduk dan mengambil minuman.
“ngapain loe
kesini?”
Rafli
menatap ke arah lain, “sengaja, mau liat loe”
“ohh,
thanks”Marsha mengambil handuknya.
“oiya-“Rafli
menatap Marsha, “kok bisa sih loe kayak tadi? Ajarin gue dong”pinta Rafli
Marsha
membulatkan matanya, “loe gak bisa hand
stand?”
Rafli
menyimpan tasnya ia mulai berdiri, “kalo bisa ngapain gue minta di ajarin”
“gimana
caranya?”tanya Rafli
Marsha
mendekati Rafli, “loe coba deket dinding dulu kayak gue tadi”
“liat,
posisi tangannya gini”
“gini?”
tanya Rafli. Marsha menghela nafas lalu membenarkan posisi tangan Rafli.
‘naikin
kakinya satu-satu”Marsha menatap Rafli, “sini aku bantu”ia memegang kaki Rafli
hingga dapat naik dengan sempurna.
“udah? Gini
doang?”tanya Rafli
Marsha
mengangguk, ia duduk kembali di kursi semula, “iyalah, mau loe gimana lagi?
Koprol? Sambil bilang yuhuuuu”ia memeragakan ala orang yang ngondek.
Rafli
terkekeh, “haha... ada-ada aja loe”ia menurunkan kedua kakinya.
“gue mau
pulang, loe masih mau disini?”Marsha membenahi tas nya.
Rafli meraih
tasnya, “bareng gue yuk”
Marsha
mengangguk, “boleh”
Rafli
meninju-ninju ke udara, ‘yes yes yes’
Marsha
menatap Rafli aneh, “kenapa loe?”
Rafli menggaruk
kepalanya yang tak gatal, “hehe... gak... yuk pulang”
***
Ify dan Agni
saling menguji kecepatan, mereka sedang bermain basket lagi. Ify gak puas
dengan hasil kemarin yang kalah dari Rio.
“jangan
cepet-cepet kek”rutuk Rio
Ify
menyeringai jahil, “masa kalah sih sama cewek? Payah”
“ihh siapa
yang kalah? Emang kemaren yang kalah siapa? Loe kan?”Rio menjulurkan lidahnya.
Ify
menghentakkan kakinya, ia tak suka di ledek. “liat nih”
Tring
Bola itu
dengan cantik meluncur ke arah ring.
Rio
tersenyum, “iya deh iya loe hebat”
Ify
mengambil bola tadi, ia simpan di pinggangnya. “iya dong, harus loe akuin itu”
Rio berlagak
berfikir sambil membersihkan telapak tangan dengan telapak tangannya –seperti
bertepuktangan- “emang hebat, banget malah... “ Rio mendekatkan wajahnya pada
wajah Ify, “-tapi tetep hebatan gue”ia berbisik tepat di telinga kanan Ify.
Wajah Ify
terlihat memerah, bukan karena marah melainkan ia malu dengan perlakuan Rio
padanya. Ia tertunduk dalam masih shock
dengan adegan tadi.
Perlahan
rintikan hujan jatuh, lama kelamaan semakin banyak, banyak, banyak dan sekarang
hujan idu lebat. Namun Rio dan Ify tetap tak bergeming, mereka tetap diam di
tempat.
Ify
mengangkat wajahnya, membalas tatapan Rio yang sedari tadi menatapnya.
“main
lagi?”tawar Ify
Rio
menggeleng, “jangan, nanti loe sakit”
“cie yang
khwatir sama gue”Ify berlari lagi sambil mendrible bola.
Rio mengejar
Ify, namun setelah dekat bukan bola yang ia raih, tapi pinggang ramping Ify
lah yang menjadi sasarannya. Rio
memutarkan badannya dan Ify.
“aaaa.....
Rio”teriak Ify.
“hahaha...
loe bandel sih”Rio terus saja memutar badannya.
BRUK
Keduanya
jatuh terduduk, Rio memandang Ify yang berada di pangkuannya.
“sakit
Io'?”tanya Ify
Rio
menggeleng, ia menarik tubuh Ify dan tubuhnya sehingga berbaring, Ify yang
berada di atasnya hanya membulatkan matanya tanda bahwa ia kaget.
“Io'”Ify
menundukan wajahnya, malu.
“apa?”tanya
Rio.
“laper”Ify
memamerkan giginya.
Rio
mendudukan dirinya lagi. “gak bisa di ajak romantis banget sih loe”
Ify mencubit
pipi Rio, “ayo pulang...”rengek Ify. Rio hanya mengangguk pasrah.
***
Agni segera
berlari memasuki kediamannya, di ambang pintu sudah ada Gabriel yang
menantinya.
“udah pulang
Pa? Jam berapa ini?”Agni menengok kedalam rumahnya. 17.30.
“hei ajak
dulu temen kamu, kasian”kata Gabriel
Agni
merengut, “Papa ihh biarin pulang aja”
Gabriel
menggeleng, “masuk yuk, hujannya masih lebat”
Cakka orang
yang mengantarkan Agni dengan senang hati mengikuti ajakan Gabriel.
“yuk, kita
makan-makan dulu”Gabriel merangkul Cakka di sebelah kirinya.
Sementara di
sebelah kanan, Agni cemberut kesal. “Agni ganti baju dulu”
Cakka
menatap punggung Agni yang perlahan menjauh.
“kamu suka
renang juga?”tanya Gabriel sambil mempersilahkan duduk dengan isyarat.
Cakka tersenyum
canggung, “cuma di rumah aja om, kalo kayak Agni sih enggak”
“oiya, nama
kamu siapa?”tanya Gabriel
“saya Cakka
om”Cakka tersenyum dengan tulus.
Gabriel
membulatkan bibirnya. “bi, makanannya udah jadi?”tanya Gabriel
“sebentar
lagi tuan”sahut dari arah dapur.
Novi
berjalan menuruni tangga, menghampiri Gabriel dan Cakka.
“kakak pacar
baru kak Agni ya?”tanya Novi, ia duduk di samping Gabriel
“belum de,
maish calon”ucap Cakka di iringi dengan tawa renyah.
“heh! Gak
akan ya... jangan ngarep”sahut Agni yang kembali dengan pakaian yang lebih
santai.
Gabriel
menyibukkan diri dengan sebuah majalah, “nak Cakka jangan di ambil hati ya
omongan Agni, dia cuma malu-malu aja kok”ucap Gabriel tanpa memalingkan diri
dari majalah.
Agni menatap
Papanya jengkel, “ihh apa sih Pa? Jangan ngaco deh”
“tuh, liat
aja masih malu-malukan?”goda Gabriel lagi.
“Papa”rengek
Agni, ia jengkel pada Papanya. Terlalu mengenali sifatnya, ihh.
“Agni emang
biasa gitu om, Cakka udah tau kok”Cakka menimpali.
Agni hanya
melongos mendengarkan penuturan Cakka, pamuda ini bener-bener men-jeng-kel-ken.
“Pa, ada
temen aku di depan, tadi abis dari rumahnya Gilang ban mobilnya bocor dan
supirnya gak bawa ban serep, boleh di ajak masuk?”jelas Novi.
“gak
boleh”potong Agni sebelum Papanya menjawab.
“Pa... kak
Agni jahat”adu Novi.
“yaudah ajak
aja, sekalian kita makan bareng-bareng”kata Gabriel, ia menyimpan majalahnya.
Novi
menjulurkan lidah pada Agni yang kemudian mendapatkan pelototan sadis dari
Agni.
Ponsel Cakka
berdering.
Kak dimana? Jemput!
Lagi ngapel, jangan ganggu!
Dasar!
Kalo gitu bilang Mama aku ke rumah temen dulu, ban bocor.
Iya.
“Pa boleh ya
Agni bawa mobil lagi”pinta Agni, memelas.
“gak boleh,
kalo kecelakaan lagi gimana?”jawab Gabriel tegas
Agni
cemberut, “Papa gitu ih”
“sayang,
Papa cuma khawatir sama kamu”Gabriel mengelus rambut Agni.
Cakka
menatap Gabriel dan Agni, ia rasa ia rindu dengan perlakuan seorang lelaki yang
di sebut ayah.
“Ni, biar
aku jemput kamu tiap pagi, Papa kamu kan cuma khawatir”
Sebelum Agni
menjawab terdengar bahwa Novi telah kembali dengan temannya.
“Papa aku
juga udah pulang, tuh dia”kata Novi.
Yang bersama
Novi tersenyum pada Gabriel, Gabriel pun membalasnya.
“hai om”
Cakka
berbalik, ia rasa sangat mengenali suara itu.
“Difa”
Agni menatap
Cakka yang ternyata mengenali teman adiknya.
“loe kenal?
Dia siapa?”tanya Agni
“adek” jawab
Cakka, Agni melongos mendengarnya, ternyata dunia ini bener-bener sempit.
“ngapain disini?”tanya Cakka pada Difa.
“kakak yang
ngapain disini?”Difa tersenyum jail, “ohh jadi ini ya yang kakak sebut
ngapel... Difa bilang Mama lho”
Cakka
membulatkan matanya, ia menarik adiknya menjauh.
“jangan
bilang-bilang”
“jadi kalian
kakak-adek?”tanya Gabriel
Cakka dan
Difa tersenyum, mereka duduk di kursi yang di tempati Cakka.
“pantesan
mirip”Gabriel tersenyum, “seneng ya punya anak akur kayak kalian, gak kayak
anak om berantem terus”
“jadi Papa
gak mau punya Novi?”Novi menggembungkan pipinya.
Gabriel
tersenyum, “mau dong, kaliankan anak kesayangan Papa, ya... walau bandel”
Difa dan
Cakka tertawa melihat tingkah Agni dan Novi. Begitupun Gabriel.
“makan
yuk”ajak Gabriel
***
Rafli
menatap pantulan dirinya di cermin, ia mirip seperti orang-orangan sawah kalo
bajunya gede gini. Tapi, apa boleh buat? Di rumah yang cuma di tempati wanita
dan satu lelaki masa ada pakaian yang pas padanya.
Tok tok tok
“Raf, udah
belum?”tanya Marsha, ya... sekarang Rafli berada di kediaman Marsha, karena
tadi ia terjebak hujan saat beberapa meter lagi ke rumah Marsha.
Rafli
membuka pintu, “udah”
Marsha
hampir saja tertawa terbahak-bahak melihat Rafli dengan baju yang kebesaran.
Rafli
mengkerutkan keningnya, menatap Marshaaneh, “kenapa?”
“lucu,
sumpah deh”
Rafli
menatap dirinya lagi, “terus gimana lagi dong?”
Marsha
menahan senyumannya, “yaudah yuk makan udah di tunggu Mama sama Papa”ajak
Marsha.
“kebesaran
ya? om gak punya yang lebih kecil sih”kata Papa Marsha, Irshad.
“ya, gapapa
om, ini juga cuma kebesaran dikit”Rafli duduk di hadapan Gita, Mama Marsha.
“yaudah,
silahkan cobain”kata Gita.
“masakan
Mama aku enak-enak lho Raf”kata Marsha.
Rafli
terdiam, kapannya ia terakhir di masakin Mamanya? Maklumlah Mamanya wanita
karier dan sekarang kedua orang tuanya bekerja, jadilah ia tinggal di rumah
sendiri dan kadang di temani Cindai kalau orang tua Cindai juga pergi keluar
kota atau ke luar negeri.
“kenapa Raf?
Gak suka ya?”tanya Marsha.
Rafli
tersenyum, “bukan gak suka, cuma kefikiran mama aja”
Gita menatap
Rafli, “emang Mama kamu kemana?”
“wanita
karier tante, sibuk kerja jadi mana mungkin sempet buatin Rafli makanan kayak
gini”curhat Rafli dengan nada penuh kekecewaan.
Gita
tersenyum, “udah, sekarang makan, anggap aja ini masakan Mama kamu sendiri”
Irshad
mengangguk, “kalau kamu mau makanannya lagi, kapan-kapan kesini juga boleh”
Rafli
mengangguk, “makasih om, tante”
“yaudah,
makan dong”kata Gita
Rafli
lagi-lagi mengangguk, kemudian melahap makanan yang ada di depannya.
Marsha
sedari tadi menunduk, ia begitu mengerti kondisi keluarga Rafli dan untung
Rafli tidak terjerumus ke arah yang negatif, ia dapat membaca kondisi rumah
Rafli sekarang, dimana ia memiliki segalanya yang bisa saja ia salah gunakan,
tapi untung Rafli tidak melakukan itu. ‘semoga kamu selalu di lindungi Rafli’
Gita menatap
Marsha, ia merasakan putrinya itu sedang memikirkan sesuatu.
“makan Sha”
Marsha
mengangkat wajahnya, “iya Ma”ia tersenyum
Gita
membalas senyuman itu.
***
Cindai
dengan gusar terus mondar mandir di dekat jam dinding, udah mau masuk jam makan
malam begini dia belum pulang juga. Berbagai pertanyaanpun tak henti menghantui
fikirannya. Dia dimana? Sama siapa? Udah makan? Apa belum makan? Dia
ujan-ujanan? Atau ban motornya kempes?
Bagas
menepuk pundak Cindai, “tenang palingan nganterin Marsha, jangan terlalu parno”
Cindai untuk
beberapa hari ini memang tinggal di rumah Rafli karena ornag tuanya harus
keluar kota.
“tapi Gas,
Rafli...”
Bagas
menggeleng, ia duduk di depan grandpiano, lalu menepuk tempat di sampingnya
agar Cindai duduk di sana.
Cindai
menghela nafas, akhirnya ia menuruti kemauan Bagas.
Dentingan
mulai terdengar mengalun, tenang, menyejukkan hati. Cindai menatap Bagas, Bagas
terlihat mengangguk menjawab pertanyaan dari tatapan Cindai.
Cindai mulai
menarik nafas dan memejamkan mata untuk meresapi lagu itu.
Suara sang malam dan siang seakan berlagu
Dapat aku dengar rindumu memanggil namaku
Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian
Aku tak pernah pergi, selalu ada di hatimu
Kau tak pernah jauh, selalu ada di dalam hatiku
Dalam
memainkan tuts tuts piano itu, sesekali Bagas melirik Cindai, begitu kurang
percaya kalau gadis ini bersuara indah.
Terima kasih pada maha cinta menyatukan kita
Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian
Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati
Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian
Cindai mulai
membuka matanya. Kemudian menatap Bagas.
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Bagas
membalas tatapan Cindai, ia tersenyum begitu tulus. Dengan segera Cindai
memalingkan wajahnya ke arah lain.
Membentuk melekuk memeluk kita
Dua jiwa yang melebur jadi satu
Dalam kesunyian cinta
Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati
Bagas tersenyum begitu bahagia ketika Cindai mengakhiri lantunan lagu tersebut.
"bagus banget"
Cindai menunduk, malu. "makasih"gumannya.
Sementara
dari arah pintu, sedari tadi seorang pemuda mengamatinya dalam diam. Pemuda itu
meraih ponsel.
Silahkan
tinggalkan pesan anda
Lebih baik, bahkan lebih baik dari perkiraan
Pemuda itu,
Rafli. Ia menyimpan ponselnya kedalam saku.
“Rafli”panggil
sebuah suara
Rafli
menatap ke arah Cindai, terlihat sekali gurat kekhawatiran dari sepupunya itu.
“darimana
sih loe? Loe udah makan? Makan yuk loe kan punya maag! Gak inget penyakit
banget!”Cindai menghijani Rafli dengan segudang pertanyaannya.
Rafli hanya
memamerkan giginya, “udah tadi di rumah Marsha, loe udah makan?”
Cindai
menggeleng, “kan nunggu loe”
Rafli
menepuk-nepuk pundak Cindai, “sepupu yang baik, sadar banget kalo numpang”
Cindai
melongos, “ternyata salah ya gue nunggu loe”ia menghampiri Bagas lagi, “makan
yuk”
“gak deh,
udah malem gue pulang aja”pamit Bagas.
“kok
buru-buru banget?”tanya Rafli
“ah elaah,
loe aja yang kelamaan ngapelnya”Bagas mengenakan jaketnya, “udah ah, bye”ia
berlalu dari kediaman Rafli.
“gue ke
kamar dulu, loe jangan lupa makan, kalo loe sakit gue yang kena imbasnya”Rafli
berjalan menjauhi Cindai.
Cindai
mencibir, “dasar! Biarin aja gue sakit. Biar semua fasilitas loe di sita!”
“eh”Rafli
berbalik. Cindai menatap Rafli dengan garang, “apa?”tanya Cindai.
“serasi juga
loe sama Bagas, kenapa gak jadian”goda Rafli
Cindai
membulatkan matanya, bersiap menghajar Rafli.
“heh
tunggu”kata Cindai begitu melihat Rafli berlari.
Cindai
mengejar Rafli, ia tak akan pernah melepaskan pemuda itu!
***
Rio
mengaduk-aduk gelas kopinya, sesekali ia melirik jam tangannya.
“setengah
jam”gumannya agak kesal.
Seseorang
dengan tergesa duduk di depan Rio, “sorry ya, sorry banget gue telat”ucap orang
itu, Ify.
“dinner
pertama lho, udah telat aja”rutuk Rio.
“dinner?
Mana aja dinner cuma ngopi? Gak modal banget”cibir Ify.
“mbak coklat
panas satu”pesan Ify pada seorang pelayan.
Rio menatap
Ify, “terus mau loe?”
Ify nempak
berfikir, “ya, minimal yang lebih romantis kek”
“udah untung
gue ajak jalan, udah telat nawar lagi”kata Rio.
“kok loe
gitu? Kan gue telat juga ada alesannya”bela Ify
Rio menatap
Ify intens, “apa?”
“ya adalah
pokoknya”Ify mengalihkan pandangan ke arah lain.
“apa alesan
loe gak mau di jemput?”tanya Rio.
“err...
itu...”Ify menggaruk belakang kepalanya bingung.
“loe mau
bohong?”selidik Rio curiga.
“gak!
Ngapain bohong, gini ya kalo loe emang bener-bener tau. Gue itu susah maen kalo
gak bawa-bawa nama Agni dan gue harus bilang dulu sama Agni kalo nyokap gue
nelpon dia bilang lagi pergi sama gue, lemot juga otak loe”jelas Ify setengah
hati.
Rio mengelus
pipi kanan Ify, “yaudah, gapapa. Kalo loe mau yang romantis kapan-kapan ya”
Ify
mengangguk, sebenarnya ini kali pertama Ify pergi dengan seorang laki-laki, ia
memang memiliki Ibu yang sangat disiplin dan mau tidak mau ia kena imbasnya,
Ify kalo mau jalan cuma boleh sama teman-teman perempuannya. Ia juga memang di
ijinkan berpacaran, tapi... dengan syarat gak boleh kemana-mana cuma berdua,
minimal ajak temen atau siapapun itu yang penting jangan berdua. Pacaran gitu?
Apa-apaan? gak bisa dong cuma pegangan tangan juga? Hhh...
Ify melirik
jamnya, “Io' sorry ya gue harus pulang sekarang, gue cuma di kasih waktu satu
jam”ia membenahi pakaiannya.
“tapi Fy”Rio
menggenggam tangan Ify.
“maaf Io'
kapan-kapan lagi ya”Ify berdiri.
Rio menghela
nafas, “gue ikutin loe, gua takut loe kenapa-napa”
Ify menatap Rio
yang menatapnya penuh ke khawatiran, Ify
mengangguk. Lagian apa salahnya kalo cuma di ikutin? Buat jaga-jaga juga.
***
PENGUMUMAN
Di karenakan OSIS 2011/2012 akan segera
turun jabatan, jadi akan mengadakan tiga acara dalam satu waktu.
1. Kompetisi Bernyanyi yang di wakili oleh dua
peserta (satu untuk bernyanyi dan satu bermain alat musik).
2. Kompetisi Menari (Daerah/Modern) di wakili
dua peserta.
3. Acara Perkemahan di wakili empat peserta.
Yang akan di adakan pada:
Hari: sabtu-minggu
Tanggal: 14-15
Pemenangnya akan mendapatkan juara umum yang
sangat menarik.
Dari satu kelas harus mengirimkan 8
perwakilannya.
Untuk yang menjadi perwakilan dapat
mendaftar di Sekretariat OSIS.
Waktu pendaftaran akan di tutup tanggal 9
September 2012.
Terimakasih.
Beberapa orang
dari kelas atlet melongos, “gak ada sejarahnya kelas ini bisa jadi juara umum”
Agni, Marsha,
Cindai dan Ify menerobos.
“apaan sih
ribut banget?”gerutu Agni.
Dari arah
lain terlihat Cakka, Rafli, Bagas dan Rio menyerobot dalam kerumunan itu juga.
“seru nih”guman
Rafli
Bagas melirik
Cindai yang ternyata menatapnya. Cindai memalingkan wajahnya.
Cakka mendekati
Agni, “ikut perkemahan yuk, sama Ify Rio juga”
Agni mendelik,
“tanpa loe suruh gue juga mau kali”ia tak menatap Cakka sedikitpun.
Cakka tersenyum
dingin menanggapinya.
No comments:
Post a Comment