Wednesday, 20 March 2013

Cowok itu... #3




***

“gue duluan ya, udah di tunggu sama pelatih”pamit Marsha kepada Cindai. Sementara Ify dan Agni telah lebih dulu berlalu.

“iya”Cindai tersenyum dan melambaikan tangannya.

Cindai menghela nafas, ‘gak ada tebengan deh gue, kenapa harus beda sih jadwal latiannya’guman Cindai kesal.

“Cindai”panggil seseorang yang masih ada di kelas, Bagas.

Cindai berbalik, “apa?”

“bareng gue yuk”ajak Bagas.

Cindai nampak berfikir, “gak ngerepotin nih?”

Bagas mendekati Cindai, ia mencubit hidung Cindai. “kalo ngerepotin ngapain gue ngajak? Hm”

Cindai tersenyum miring, “bener juga, yaudah deh gue mau”

“tapi anterin belanja dulu”Bagas tersenyum jahil

Cindai melongos, “hahhh... oke deh”

Mereka berdua berjalan beriringan.
“oiya, loe gak latian?”tanya Bagas

“gak, kenapa emang?”tanya balik Cindai.

“ya kan temen-temen loe lagi latian, sampe temen-temen gue ngintilin”

Cindai menahan tawanya, “masa?”

Bagas mengangguk pasti, “iya, apalagi Rafli, semangat banget dia”

“emang kalo gue latian loe mau liat gue juga”

“err... ya... gak taulah kan loe nya gak latian”

Cindai menghela nafas, entah karena apa.

“emang loe atlet apa sih?”tanya Bagas sambil menaiki Ninjanya.

“gue? Mau tau banget atau mau tau aja?”goda Cindai

Bagas menghela nafas, “gak dua-duanya sih”ia menatap jail Cindai, ingin melihat reaksi anak itu.

Gadis itu ternyata cemberut, “kalo gitu ngapain tanya? Ihh”

“udah ahh jangan ngambek, yuk naik”ajak Bagas. Cindai menurut tanpa berkomentar lagi, ia benar-benar kesal. ‘Ihh, ternyata Bagas nyebelin juga’

***

CLUP.

Untuk kesekian kalinya Agni menceburkan diri kedalam kolam renang, pakaian renang serba panjang yang ketat membalut tubuh indahnya. Sebenarnya latihan sudah berakhir dari satujam yang lalu, tapi Agni masih betah di dalam air. Dengan terkagum-kagum seseorang mengamatinya dari pintu utama yang mengarah ke kolam itu.
‘gak nyangka bisa sehebat itu’guman orang itu, Cakka.

Cakka mendekati kolam dengan wajah yang dingin.
“udah hampir satu jam loe latian, gak bisa berhenti dulu?”tanya Cakka

Agni mengapungkan dirinya di kolam, “ngapain loe di sini?”tanya Agni tanpa melihat orang yang bertanya.

Cakka duduk di bangku kosong dan menghadap ke arah Agni.
“mau liat loe”jawab Cakka

“tapi gue gak mau di liatin, apalagi sama loe!”Agni mencelupkan dirinya lagi memasuki air dan berjalan ke pinggir kolam, mengambil handuk di sebelah Cakka.

Cakka menatap Agni tak berkedip, ia begitu mengagumi tubuh ideal Agni, ia rasa gadis itu bertubuh sempurna. ‘perfect’

Agni mendelik menatap Cakka yang melihatnya dengan tatapan aneh, “apa loe liat-liat?”

Cakka tersenyum, ia menatap Agni dengan nakal. “loe seksi, bener deh”

Agni melongos, mengambil tas kemudian berlalu. Cakka membuntuti Agni sampai pada sebuah ruangan ganti.
“kok loe ngikutin gue?”tanya Agni

Cakka menatap Agni dengan intens, “emang loe mau ngapain?”

Agni melempar handuk ke arah Cakka, “mau ganti baju, sana pergi”

Cakka terkekeh, “emang gak boleh kalo gue liat?”

TUK

Agni melemparkan penutup matanya.
“pergi gak loe? Sebelum gue lempar”Agni bersiap melempar Cakka dengan botol air mineral yang masih terisi penuh oleh air.

“ck, iya iya, gitu aja marah”cibir Cakka sambil mundur menjauhi ruangan itu.

Agni melongos, “dasar cowok mesum”

BLAM

Agni menutup pintu dengan kencang.
Namun setelah menutup pintu itu tanpa Agni sadari ia tersenyum, entah senang atau apa yang jelas hanya ia yang tau jawabannya.
Agni memukul kepalanya pelan ‘sadar Agni, dia gak beda sama Alvin’

Sementara Cakka terkikik geli melihat tingkah Agni, sampai muka gadis itu merona ke merahan.
‘gue makin suka sama loe’guman Cakka.

***
Marsha berbincang dengan pelatihnya, mencari dimana letak kekurangan gerakkannya yang harus di perbaiki.
“latian lagi hand standnya, masih kurang mantep”kata pelatihnya.

“siap”Marsha mengacungkan tangannya.

“yaudah, selamat ketemu minggu depan”
Marsha mengangguk menanggapinya.
Setelah pelatihnya berlalu, ia kembali berlatih karena penasaran dengan gerakan itu.

‘gini kali ya’batin Marsha.

Terlihat dari arah pintu ada yang memasuki ruangan itu. Marsha mengerutkan keningnya, ‘ngapain dia kesini?’

Marsha menurunkan kakinya, ia berdiri setelah itu duduk dan mengambil minuman.
“ngapain loe kesini?”

Rafli menatap ke arah lain, “sengaja, mau liat loe”

“ohh, thanks”Marsha mengambil handuknya.

“oiya-“Rafli menatap Marsha, “kok bisa sih loe kayak tadi? Ajarin gue dong”pinta Rafli

Marsha membulatkan matanya, “loe gak bisa hand stand?”

Rafli menyimpan tasnya ia mulai berdiri, “kalo bisa ngapain gue minta di ajarin”
“gimana caranya?”tanya Rafli

Marsha mendekati Rafli, “loe coba deket dinding dulu kayak gue tadi”
“liat, posisi tangannya gini”

“gini?” tanya Rafli. Marsha menghela nafas lalu membenarkan posisi tangan Rafli.

‘naikin kakinya satu-satu”Marsha menatap Rafli, “sini aku bantu”ia memegang kaki Rafli hingga dapat naik dengan sempurna.

“udah? Gini doang?”tanya Rafli

Marsha mengangguk, ia duduk kembali di kursi semula, “iyalah, mau loe gimana lagi? Koprol? Sambil bilang yuhuuuu”ia memeragakan ala orang yang ngondek.

Rafli terkekeh, “haha... ada-ada aja loe”ia menurunkan kedua kakinya.

“gue mau pulang, loe masih mau disini?”Marsha membenahi tas nya.

Rafli meraih tasnya, “bareng gue yuk”

Marsha mengangguk, “boleh”

Rafli meninju-ninju ke udara, ‘yes yes yes’

Marsha menatap Rafli aneh, “kenapa loe?”

Rafli menggaruk kepalanya yang tak gatal, “hehe... gak... yuk pulang”

***

Ify dan Agni saling menguji kecepatan, mereka sedang bermain basket lagi. Ify gak puas dengan hasil kemarin yang kalah dari Rio.

“jangan cepet-cepet kek”rutuk Rio

Ify menyeringai jahil, “masa kalah sih sama cewek? Payah”

“ihh siapa yang kalah? Emang kemaren yang kalah siapa? Loe kan?”Rio menjulurkan lidahnya.

Ify menghentakkan kakinya, ia tak suka di ledek. “liat nih”

Tring

Bola itu dengan cantik meluncur ke arah ring.

Rio tersenyum, “iya deh iya loe hebat”

Ify mengambil bola tadi, ia simpan di pinggangnya. “iya dong, harus loe akuin itu”

Rio berlagak berfikir sambil membersihkan telapak tangan dengan telapak tangannya –seperti bertepuktangan- “emang hebat, banget malah... “ Rio mendekatkan wajahnya pada wajah Ify, “-tapi tetep hebatan gue”ia berbisik tepat di telinga kanan Ify.

Wajah Ify terlihat memerah, bukan karena marah melainkan ia malu dengan perlakuan Rio padanya. Ia tertunduk dalam masih shock dengan adegan tadi.

Perlahan rintikan hujan jatuh, lama kelamaan semakin banyak, banyak, banyak dan sekarang hujan idu lebat. Namun Rio dan Ify tetap tak bergeming, mereka tetap diam di tempat.
Ify mengangkat wajahnya, membalas tatapan Rio yang sedari tadi menatapnya.
“main lagi?”tawar Ify

Rio menggeleng, “jangan, nanti loe sakit”

“cie yang khwatir sama gue”Ify berlari lagi sambil mendrible bola.

Rio mengejar Ify, namun setelah dekat bukan bola yang ia raih, tapi pinggang ramping Ify lah  yang menjadi sasarannya. Rio memutarkan badannya dan Ify.

“aaaa..... Rio”teriak Ify.

“hahaha... loe bandel sih”Rio terus saja memutar badannya.

BRUK

Keduanya jatuh terduduk, Rio memandang Ify yang berada di pangkuannya.
“sakit Io'?”tanya Ify

Rio menggeleng, ia menarik tubuh Ify dan tubuhnya sehingga berbaring, Ify yang berada di atasnya hanya membulatkan matanya tanda bahwa ia kaget.
“Io'”Ify menundukan wajahnya, malu.

“apa?”tanya Rio.

“laper”Ify memamerkan giginya.

Rio mendudukan dirinya lagi. “gak bisa di ajak romantis banget sih loe”

Ify mencubit pipi Rio, “ayo pulang...”rengek Ify. Rio hanya mengangguk pasrah.

***

Agni segera berlari memasuki kediamannya, di ambang pintu sudah ada Gabriel yang menantinya.
“udah pulang Pa? Jam berapa ini?”Agni menengok kedalam rumahnya. 17.30.

“hei ajak dulu temen kamu, kasian”kata Gabriel

Agni merengut, “Papa ihh biarin pulang aja”

Gabriel menggeleng, “masuk yuk, hujannya masih lebat”

Cakka orang yang mengantarkan Agni dengan senang hati mengikuti ajakan Gabriel.
“yuk, kita makan-makan dulu”Gabriel merangkul Cakka di sebelah kirinya.

Sementara di sebelah kanan, Agni cemberut kesal. “Agni ganti baju dulu”

Cakka menatap punggung Agni yang perlahan menjauh.
“kamu suka renang juga?”tanya Gabriel sambil mempersilahkan duduk dengan isyarat.

Cakka tersenyum canggung, “cuma di rumah aja om, kalo kayak Agni sih enggak”

“oiya, nama kamu siapa?”tanya Gabriel

“saya Cakka om”Cakka tersenyum dengan tulus.

Gabriel membulatkan bibirnya. “bi, makanannya udah jadi?”tanya Gabriel

“sebentar lagi tuan”sahut dari arah dapur.

Novi berjalan menuruni tangga, menghampiri Gabriel dan Cakka.
“kakak pacar baru kak Agni ya?”tanya Novi, ia duduk di samping Gabriel

“belum de, maish calon”ucap Cakka di iringi dengan tawa renyah.

“heh! Gak akan ya... jangan ngarep”sahut Agni yang kembali dengan pakaian yang lebih santai.

Gabriel menyibukkan diri dengan sebuah majalah, “nak Cakka jangan di ambil hati ya omongan Agni, dia cuma malu-malu aja kok”ucap Gabriel tanpa memalingkan diri dari majalah.

Agni menatap Papanya jengkel, “ihh apa sih Pa? Jangan ngaco deh”

“tuh, liat aja masih malu-malukan?”goda Gabriel lagi.

“Papa”rengek Agni, ia jengkel pada Papanya. Terlalu mengenali sifatnya, ihh.

“Agni emang biasa gitu om, Cakka udah tau kok”Cakka menimpali.

Agni hanya melongos mendengarkan penuturan Cakka, pamuda ini bener-bener men-jeng-kel-ken.

“Pa, ada temen aku di depan, tadi abis dari rumahnya Gilang ban mobilnya bocor dan supirnya gak bawa ban serep, boleh di ajak masuk?”jelas Novi.

“gak boleh”potong Agni sebelum Papanya menjawab.

“Pa... kak Agni jahat”adu Novi.

“yaudah ajak aja, sekalian kita makan bareng-bareng”kata Gabriel, ia menyimpan majalahnya.

Novi menjulurkan lidah pada Agni yang kemudian mendapatkan pelototan sadis dari Agni.

Ponsel Cakka berdering.

Kak dimana? Jemput!

Lagi ngapel, jangan ganggu!

Dasar! Kalo gitu bilang Mama aku ke rumah temen dulu, ban bocor.

Iya.

“Pa boleh ya Agni bawa mobil lagi”pinta Agni, memelas.

“gak boleh, kalo kecelakaan lagi gimana?”jawab Gabriel tegas

Agni cemberut, “Papa gitu ih”

“sayang, Papa cuma khawatir sama kamu”Gabriel mengelus rambut Agni.

Cakka menatap Gabriel dan Agni, ia rasa ia rindu dengan perlakuan seorang lelaki yang di sebut ayah.
“Ni, biar aku jemput kamu tiap pagi, Papa kamu kan cuma khawatir”

Sebelum Agni menjawab terdengar bahwa Novi telah kembali dengan temannya.
“Papa aku juga udah pulang, tuh dia”kata Novi.

Yang bersama Novi tersenyum pada Gabriel, Gabriel pun membalasnya.
“hai om”

Cakka berbalik, ia rasa sangat mengenali suara itu.
“Difa”

Agni menatap Cakka yang ternyata mengenali teman adiknya.
“loe kenal? Dia siapa?”tanya Agni

“adek” jawab Cakka, Agni melongos mendengarnya, ternyata dunia ini bener-bener sempit.
 “ngapain disini?”tanya Cakka pada Difa.

“kakak yang ngapain disini?”Difa tersenyum jail, “ohh jadi ini ya yang kakak sebut ngapel... Difa bilang Mama lho”

Cakka membulatkan matanya, ia menarik adiknya menjauh.
“jangan bilang-bilang”

“jadi kalian kakak-adek?”tanya Gabriel

Cakka dan Difa tersenyum, mereka duduk di kursi yang di tempati Cakka.

“pantesan mirip”Gabriel tersenyum, “seneng ya punya anak akur kayak kalian, gak kayak anak om berantem terus”

“jadi Papa gak mau punya Novi?”Novi menggembungkan pipinya.

Gabriel tersenyum, “mau dong, kaliankan anak kesayangan Papa, ya... walau bandel”

Difa dan Cakka tertawa melihat tingkah Agni dan Novi. Begitupun Gabriel.
“makan yuk”ajak Gabriel

***

Rafli menatap pantulan dirinya di cermin, ia mirip seperti orang-orangan sawah kalo bajunya gede gini. Tapi, apa boleh buat? Di rumah yang cuma di tempati wanita dan satu lelaki masa ada pakaian yang pas padanya.

Tok tok tok

“Raf, udah belum?”tanya Marsha, ya... sekarang Rafli berada di kediaman Marsha, karena tadi ia terjebak hujan saat beberapa meter lagi ke rumah Marsha.

Rafli membuka pintu, “udah”

Marsha hampir saja tertawa terbahak-bahak melihat Rafli dengan baju yang kebesaran.

Rafli mengkerutkan keningnya, menatap Marshaaneh, “kenapa?”

“lucu, sumpah deh”

Rafli menatap dirinya lagi, “terus gimana lagi dong?”

Marsha menahan senyumannya, “yaudah yuk makan udah di tunggu Mama sama Papa”ajak Marsha.

“kebesaran ya? om gak punya yang lebih kecil sih”kata Papa Marsha, Irshad.

“ya, gapapa om, ini juga cuma kebesaran dikit”Rafli duduk di hadapan Gita, Mama Marsha.

“yaudah, silahkan cobain”kata Gita.

“masakan Mama aku enak-enak lho Raf”kata Marsha.

Rafli terdiam, kapannya ia terakhir di masakin Mamanya? Maklumlah Mamanya wanita karier dan sekarang kedua orang tuanya bekerja, jadilah ia tinggal di rumah sendiri dan kadang di temani Cindai kalau orang tua Cindai juga pergi keluar kota atau ke luar negeri.
“kenapa Raf? Gak suka ya?”tanya Marsha.

Rafli tersenyum, “bukan gak suka, cuma kefikiran mama aja”

Gita menatap Rafli, “emang Mama kamu kemana?”

“wanita karier tante, sibuk kerja jadi mana mungkin sempet buatin Rafli makanan kayak gini”curhat Rafli dengan nada penuh kekecewaan.

Gita tersenyum, “udah, sekarang makan, anggap aja ini masakan Mama kamu sendiri”

Irshad mengangguk, “kalau kamu mau makanannya lagi, kapan-kapan kesini juga boleh”

Rafli mengangguk, “makasih om, tante”

“yaudah, makan dong”kata Gita

Rafli lagi-lagi mengangguk, kemudian melahap makanan yang ada di depannya.

Marsha sedari tadi menunduk, ia begitu mengerti kondisi keluarga Rafli dan untung Rafli tidak terjerumus ke arah yang negatif, ia dapat membaca kondisi rumah Rafli sekarang, dimana ia memiliki segalanya yang bisa saja ia salah gunakan, tapi untung Rafli tidak melakukan itu. ‘semoga kamu selalu di lindungi Rafli’

Gita menatap Marsha, ia merasakan putrinya itu sedang memikirkan sesuatu.
“makan Sha”

Marsha mengangkat wajahnya, “iya Ma”ia tersenyum

Gita membalas senyuman itu.

***

Cindai dengan gusar terus mondar mandir di dekat jam dinding, udah mau masuk jam makan malam begini dia belum pulang juga. Berbagai pertanyaanpun tak henti menghantui fikirannya. Dia dimana? Sama siapa? Udah makan? Apa belum makan? Dia ujan-ujanan? Atau ban motornya kempes?

Bagas menepuk pundak Cindai, “tenang palingan nganterin Marsha, jangan terlalu parno”

Cindai untuk beberapa hari ini memang tinggal di rumah Rafli karena ornag tuanya harus keluar kota.
“tapi Gas, Rafli...”

Bagas menggeleng, ia duduk di depan grandpiano, lalu menepuk tempat di sampingnya agar Cindai duduk di sana.

Cindai menghela nafas, akhirnya ia menuruti kemauan Bagas.
Dentingan mulai terdengar mengalun, tenang, menyejukkan hati. Cindai menatap Bagas, Bagas terlihat mengangguk menjawab pertanyaan dari tatapan Cindai.

Cindai mulai menarik nafas dan memejamkan mata untuk meresapi lagu itu.

 Manakala hati menggeliat mengusik renungan
Mengulang kenangan saat cinta menemui cinta
Suara sang malam dan siang seakan berlagu
Dapat aku dengar rindumu memanggil namaku


Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian
Aku tak pernah pergi, selalu ada di hatimu
Kau tak pernah jauh, selalu ada di dalam hatiku



Dalam memainkan tuts tuts piano itu, sesekali Bagas melirik Cindai, begitu kurang percaya kalau gadis ini bersuara indah.

Sukmaku berteriak, menegaskan ku cinta padamu
Terima kasih pada maha cinta menyatukan kita
Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian


Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati
Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian


Cindai mulai membuka matanya. Kemudian menatap Bagas.

Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan

Pasti tahu cinta kita sejati  

Bagas membalas tatapan Cindai, ia tersenyum begitu tulus. Dengan segera Cindai memalingkan wajahnya ke arah lain.

Lembah yang berwarna
Membentuk melekuk memeluk kita
Dua jiwa yang melebur jadi satu
Dalam kesunyian cinta

Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati

(BCL-Cinta Sejati)

Bagas tersenyum begitu bahagia ketika Cindai mengakhiri lantunan lagu tersebut.
"bagus banget"

Cindai menunduk, malu. "makasih"gumannya.


Sementara dari arah pintu, sedari tadi seorang pemuda mengamatinya dalam diam. Pemuda itu meraih ponsel.

Silahkan tinggalkan pesan anda

Lebih baik, bahkan lebih baik dari perkiraan

Pemuda itu, Rafli. Ia menyimpan ponselnya kedalam saku.

“Rafli”panggil sebuah suara

Rafli menatap ke arah Cindai, terlihat sekali gurat kekhawatiran dari sepupunya itu.
“darimana sih loe? Loe udah makan? Makan yuk loe kan punya maag! Gak inget penyakit banget!”Cindai menghijani Rafli dengan segudang pertanyaannya.

Rafli hanya memamerkan giginya, “udah tadi di rumah Marsha, loe udah makan?”

Cindai menggeleng, “kan nunggu loe”

Rafli menepuk-nepuk pundak Cindai, “sepupu yang baik, sadar banget kalo numpang”

Cindai melongos, “ternyata salah ya gue nunggu loe”ia menghampiri Bagas lagi, “makan yuk”

“gak deh, udah malem gue pulang aja”pamit Bagas.

“kok buru-buru banget?”tanya Rafli

“ah elaah, loe aja yang kelamaan ngapelnya”Bagas mengenakan jaketnya, “udah ah, bye”ia berlalu dari kediaman Rafli.

“gue ke kamar dulu, loe jangan lupa makan, kalo loe sakit gue yang kena imbasnya”Rafli berjalan menjauhi Cindai.

Cindai mencibir, “dasar! Biarin aja gue sakit. Biar semua fasilitas loe di sita!”

“eh”Rafli berbalik. Cindai menatap Rafli dengan garang, “apa?”tanya Cindai.

“serasi juga loe sama Bagas, kenapa gak jadian”goda Rafli

Cindai membulatkan matanya, bersiap menghajar Rafli.
“heh tunggu”kata Cindai begitu melihat Rafli berlari.

Cindai mengejar Rafli, ia tak akan pernah melepaskan pemuda itu!

***

Rio mengaduk-aduk gelas kopinya, sesekali ia melirik jam tangannya.
“setengah jam”gumannya agak kesal.

Seseorang dengan tergesa duduk di depan Rio, “sorry ya, sorry banget gue telat”ucap orang itu, Ify.

“dinner pertama lho, udah telat aja”rutuk Rio.

“dinner? Mana aja dinner cuma ngopi? Gak modal banget”cibir Ify.
“mbak coklat panas satu”pesan Ify pada seorang pelayan.

Rio menatap Ify, “terus mau loe?”

Ify nempak berfikir, “ya, minimal yang lebih romantis kek”

“udah untung gue ajak jalan, udah telat nawar lagi”kata Rio.

“kok loe gitu? Kan gue telat juga ada alesannya”bela Ify

Rio menatap Ify intens, “apa?”

“ya adalah pokoknya”Ify mengalihkan pandangan ke arah lain.

“apa alesan loe gak mau di jemput?”tanya Rio.

“err... itu...”Ify menggaruk belakang kepalanya bingung.

“loe mau bohong?”selidik Rio curiga.

“gak! Ngapain bohong, gini ya kalo loe emang bener-bener tau. Gue itu susah maen kalo gak bawa-bawa nama Agni dan gue harus bilang dulu sama Agni kalo nyokap gue nelpon dia bilang lagi pergi sama gue, lemot juga otak loe”jelas Ify setengah hati.

Rio mengelus pipi kanan Ify, “yaudah, gapapa. Kalo loe mau yang romantis kapan-kapan ya”

Ify mengangguk, sebenarnya ini kali pertama Ify pergi dengan seorang laki-laki, ia memang memiliki Ibu yang sangat disiplin dan mau tidak mau ia kena imbasnya, Ify kalo mau jalan cuma boleh sama teman-teman perempuannya. Ia juga memang di ijinkan berpacaran, tapi... dengan syarat gak boleh kemana-mana cuma berdua, minimal ajak temen atau siapapun itu yang penting jangan berdua. Pacaran gitu? Apa-apaan? gak bisa dong cuma pegangan tangan juga? Hhh...

Ify melirik jamnya, “Io' sorry ya gue harus pulang sekarang, gue cuma di kasih waktu satu jam”ia membenahi pakaiannya.

“tapi Fy”Rio menggenggam tangan Ify.

“maaf Io' kapan-kapan lagi ya”Ify berdiri.

Rio menghela nafas, “gue ikutin loe, gua takut loe kenapa-napa”

Ify menatap Rio yang menatapnya penuh ke khawatiran,  Ify mengangguk. Lagian apa salahnya kalo cuma di ikutin? Buat jaga-jaga juga.

***

PENGUMUMAN

Di karenakan OSIS 2011/2012 akan segera turun jabatan, jadi akan mengadakan tiga acara dalam satu waktu.
1.       Kompetisi Bernyanyi yang di wakili oleh dua peserta (satu untuk bernyanyi dan satu bermain alat musik).
2.       Kompetisi Menari (Daerah/Modern) di wakili dua peserta.
3.       Acara Perkemahan di wakili empat peserta.

Yang akan di adakan pada:
Hari: sabtu-minggu
Tanggal: 14-15
Pemenangnya akan mendapatkan juara umum yang sangat menarik.

Dari satu kelas harus mengirimkan 8 perwakilannya.
Untuk yang menjadi perwakilan dapat mendaftar di Sekretariat OSIS.
Waktu pendaftaran akan di tutup tanggal 9 September 2012.

Terimakasih.

Beberapa orang dari kelas atlet melongos, “gak ada sejarahnya kelas ini bisa jadi juara umum”

Agni, Marsha, Cindai dan Ify menerobos.
“apaan sih ribut banget?”gerutu Agni.

Dari arah lain terlihat Cakka, Rafli, Bagas dan Rio menyerobot dalam kerumunan itu juga.
“seru nih”guman Rafli

Bagas melirik Cindai yang ternyata menatapnya. Cindai memalingkan wajahnya.

Cakka mendekati Agni, “ikut perkemahan yuk, sama Ify Rio juga”

Agni mendelik, “tanpa loe suruh gue juga mau kali”ia tak menatap Cakka sedikitpun.

Cakka tersenyum dingin menanggapinya.


No comments:

Post a Comment