Ify
termenung di balkon kamarnya, ia merasa langit tak begitu bersahabat dengannya,
senyumannya itu tak lepas dari wajah cantiknya.
---
“loe
cantik”ucap Rio saat mereka masih bermain basket.
Ify
tersenyum kaku, “kayaknya loe playboy ya?”Ify tertawa garing menyambut pujian
Rio.
Rio
tersenyum nakal, “kok gitu? Padahal gue gak pernah pacaran lho”
Tring.
“yey,
masuk”sorak Rio.
“ihh loe mah
gitu... curang”Ify memukul pundak Rio
“ihh jail
gimana?”Rio menjulurkan lidahnya.
---
Lamunan Ify
terganggu oleh deringan ponselnya yang begitu kencang.
“siapa
sih?”rutuk Ify.
“hallo?
Siapa ini?”
“waduh... santai aja dong non”
“siapa sih
loe?”
“masa udah lupa? Baru beberapa jam gak
ketemu”
Ify
mengerutkan keningnya, “siapa?”
“loe beneran gak kenal gue?”
Ify sedikit
berfikir, “err... gak”
Dari seberang berdecak, “gue Rio”
Wajah Ify
berseri, “ohh loe, tau darimana nomor gue?”
“em... kasih tau gak ya?”
“Rio, ihh”
“haha, ada deh pokoknya”
“aku ngambek
nih”
“ihh kok gitu?”
“abisnya
kamu rahasia-rahasiaan gitu”
“yaudah aku kasih tau nih”
“dari
siapa?”
“sepupunya Rafli”
“siapa?”
“gak tau?”
“hehe...
enggak”
“astaga... loe itu yaa... heuh”
“terus
siapa?”
“sepupunya Rafli?”
“iya Rio...
ih loe malah gitu mulu”
“hehe...”
“siapa?”
“dia...”
***
Agni menatap
kesal orang yang ada di hadapannya, ia masih mengenakan seragam sekolahnya.
“loe tuh
maunya apa sih Vin?”tanya Agni.
“aku-kamu”Alvin
masih sibuk dengan file-file di hadapannya.
“oke! Vin,
aku mau pulang”Agni berdiri.
“silahkan”ujar
Alvin entah sadar atau tidak.
Agni
menghentakkan kakinya kesal, jadi beberapa jam ia hanya di cuekin gini?
Buang-buang waktu. Begitu Agni hendak beranjak Alvin manarik pundak Agni
membalikkan gadis itu dan langsung di peluknya.
“jangan pergi”ucap
Alvin lirih.
Selalu dan
selalu begini, pemuda ini memang keterlaluan. Ia rasa pemuda ini hanya
menganggapnya boneka, yang bisa di mainkan seenaknya!
“aku mau
pulang”kata Agni lembut.
Alvin
membenamkan wajahnya di leher Agni, ia menggeleng.
Agni
menghela nafas panjang, Alvin pasti ada masalah.
“kita udah
gak ada hubungan Vin, kita gak bisa gini terus”
“aw”Agni
memekik tertahan, ia merasa lehernya di gigit oleh Alvin, Agni mendorong Alvin
paksa.
Menatap
pemuda itu dengan amarah, “kamu udah keterlaluan Vin”
“kamu itu
milik aku! Selamanya milik aku!”bentak Alvin.
Agni menatap
pemuda itu dengan tatapan tajam, “kamu gak akan pernah bisa berubah”
BRAK
Agni membuka
dan menutup pintu itu dengan kesal, ia bersumpah ia gak akan pernah mau lagi
kembali pada pemuda itu.
Agni
menengok kanan-kiri, malam-malam gini masih ada gak sih taksinya?
Seseorang
menepuk pundak Agni, dengan cepat Agni berbalik dan mundur.
“ngapain
disini?”tanya orang itu
Agni tanpa
sadar menghembuskan nafas lega, “gue baru mau pulang, loe sendiri ngapain Kka?”
Orang itu,
Cakka. Tersenyum miring, “lagi iseng aja, perlu tumpangan gak?”
“boleh deh,
yuk...”ajak Agni
“bentar gue
bawa mobil gue dulu”pamit Cakka, Agni hanya mengangguk.
Tak berapa
lama Cakka telah kembali dengan mobilnya, “yuk masuk” Cakka membukakan mobilnya
dari dalam.
Tanpa
basa-basi Agni memasuki mobil itu.
“rumah loe
dimana?”tanya Cakka tanpa mengalihkan fokusnya dari jalan raya.
“perumahan Grass
blok A 4” Agni menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.
Keduanya tak
saling komunikasi, mereka hanya diam saja hingga memasuki perumahan yang Agni
maksud.
“ini
Ni?”tanya Cakka
Agni
mengangguk, kemudian keluar. “thanks ya...”
“oke,
kapan-kapan gue jemput ya”
“ogah!”
“pokoknya
besok gue jemput”
Agni
berkacak pinggang, “jangan”
“gue ke
rumah loe tepat jam setengah 7”Cakka tak mempedulikan pelototan Agni.
“gue bilang
jangan ya jangan, budek ya loe... ihh”Agni menghentakkan kakinya kesal.
“terserah...
bye seksi... mimpi indah”goda Cakka setelah itu tancap gas sebelum kena omelan
Agni lagi.
“dasar cowok
mesum! Awas loe ya... gue kerjain baru tau rasa”umpat Agni, setelah itu Agni
memasuki gerbang rumahnya.
“Agni,
darimana kamu?”tanya laki-laki yang nampak masih keren itu.
Agni
cemberut kemudian memeluk laki-laki itu, “Alvin ngeselin Pa”adu Agni pada
laki-laki itu, Gabriel.
Gabriel
mengelus puncak kepala putrinya, “terus mau kamu gimana?”
“aku mau
pertunangan ini udahan aja Pa, aku capek”lirih Agni.
Gabriel
menghela nafas, “kayaknya kamu emang gak siap ya?” Gabriel mengajak Agni masuk.
“yaudah nanti Papa yang bilang”
Agni
mengangguk, “aku istirahat dulu Pa”
“yaudah,
sana”Gabriel tersenyum pada Agni.
Agni
mengecup kilat pipi Gabriel setelah itu berlalu ke kamarnya.
Agni
berjalan dengan lunglai ke kamarnya, apakah kali ini ia benar-benar bisa lepas
dari pemuda itu? Semoga...
“nah,
setelah di kali baru di tambah”
“udah?”
“ya adalah,
loe pasti cuma salah jalannya aja, atau salah rumusnya?”
Agni
menengok ke dalam kamar adiknya yang kayaknya sedang asyik bertelpon.
“nelpon
siapa de?”tanya Agni
“eh udah
dulu ya ada kakak gue”
Agni duduk
di tempat tidur adiknya, kayaknya adiknya itu harus di godain. Gak asyik kalo
sehari aja gak godain adiknya itu.
“cie...”
Adiknya itu,
Novi. Berbalik ke arah Agni, memutar kursi meja belajarnya.
“apaan kak?”
“pacar loe
ya?”tanya Agni.
Novi
membulatkan matanya, “Difa? Pacar gue? Bukanlah”
Agni
tersenyum menggoda, “ohh jadi Difa namanya? Ciee”
Novi
melempar boneka yang ada di pangkuannya, “ihh... mandi sana, bau tau”
Agni tertawa
melihat reaksi adiknya itu yang biasanya cuek bebek menjadi malu-malu.
“ciee...
Difa... haha” Agni berlari keluar sebelum Novi menyerangnya lagi.
***
Sejak pulang
sekolah tadi mood Marsha benar-benar rusak karena melihat pemandangan yang
sangat menyesakkan hati, ia merasa benar-benar kecewa dengan pemandangan tadi.
Mama Marsha
memasuki kamar Marsha, mendekati anaknya itu yang terlihat sedang dilema.
“kenapa
sayang?”tanya Mama.
Marsha
menatap Mamanya, membiarkan Mamanya itu membaca fikirannya.
“siapa tau mereka
saudara sayang”
Marsha
menghela nafas menggeleng pelan, “kayaknya mereka ada hubungan Ma”
Mama
tersenyum, “emangnya saudara bukan hubungan ya?”
Marsha diam,
ia mencoba mencerna perkataan Mamanya.
***
Gabriel,
Agni dan Novi berkumpul di meja makan, menyantap hidangan pagi. Mereka sudah
tidak mempunyai Mama, Larissa Safanah. Acha meninggal saat melahirkan Novi, ia
pendarahan hebat dan begitu melahirkan Novi ia langsung meninggal.
“Pa, Novi
udah pacaran tuh”adu Agni yang mendapatkan pelototan dari Novi.
Novi meneguk
minuman di depannya, “ihh... enggak kok Pa... kak Agni tuh yang punya pacar
baru”
Papa
tersenyum, “beneran Ni?”
Agni
berdecis, “gak kok”
“tuan ada
tamu”
Gabriel
mengangguk, “ajak kesini”
“pagi
om”sapa tamu itu yang tak lain adalah Cakka.
Agni
membulatkan matanya melihat Cakka. Pemuda itu bener-bener nekat!
“jemput...”Gabriel
menggantungkan perkataannya sambil melirik kedua putrinya.
“Agni om”Cakka
tersenyum ramah.
Gabriel
tersenyum, “ini Ni?”tanya Gabriel menggoda.
Wajah Agni merona,
“udah ah, Agni berangkat dulu Pa”pamit Agni mencium pipi Papanya.
Agni menatap
Cakka tajam ketika sudah berada dalam mobil, “dasar gila”
Cakka
menyeringai, menatap Agni “kan gara-gara loe”
Agni
komat-kamit menyumpahi Cakka.
“Ni”Cakka
memegang leher Agni. “ini... kissmark?”
Agni memukul
tangan Cakka yang berada di lehernya, “ngaco!” Agni menaikan kerah bajunya,
mencoba menutupi luka itu kembali. Alvin! Pasti gara-gara malam tadi. Alvin...
dia bener-bener keterlaluan.
“gak masalah
kok buat gue, wajar aja... loe kan udah punya cowok”ucap Cakka dengan setengah
hati.
Agni
menautkan keningnya, “maksud loe? Gue gak punya cowok!”
Cakka
tersenyum hambar.
Agni
menanggapinya dengan diam, tapi fikirannya melayang entah kemana.
***
Cindai turun
dari Ninja Putih Rafli, hari ini mereka berangkat bersama.
“Rafli
gilaaa...”Cindai menjitak kepala Rafli yang masih berhelm.
“haha...
lagian loe gokil banget... masa kayak gitu ngebut”ejek Rafli.
“masih pagi
mas mbak... jangan perang dulu”ucap Bagas yang turun dari motor yang terparkir
agak jauh.
“lagian
punya sepupu kok aneh, ya... gue senneng ngegodainnya lah”gurau Rafli.
“Rafli...”Cindai
bersiap menggetok kepala Rafli lagi.
“hehe...
ampun mbak ampun, sakit woy”rengek Rafli
“udah ah,
yuk jangan ribut terus”Bagas menarik tangan Cindai, tadinya ia mau menarik
tangan Rafli.
“loe gak
ngalah banget sama cewek, malu-maluin”kata Bagas.
“ngomong-ngomong
sepupu loe, dia manis juga...”guman Bagas.
“gas,
Bagas”kata Cindai, ia terus saja mengikuti Bagas karena tangannya masih di
tarik.
“BAGAASS...
gue Cindai woy”teriak Cindai yang kesal karena di tarik begitu kencang.
Bagas yang
baru menyadari kesalahannya menarik orang. berbalik ragu, tersenyum malu dan
menggaruk tengkuk yang.
“maaf”ucap
Bagas.
Cindai
tersenyum sambil meringis, “hehe... iya gapapa”
Bagas
mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“eh”Cindai
teringat sesuatu, “loe bilang apa tadi? Gak denger”
“apa? Gue
gak bilang apa-apa”tanya Bagas dengan santai.
“beneran?”tanya
Cindai memastikan.
“udah ah, ke
kelas yuk”ajak Bagas
Cindai
mengangguk setuju.
***
“rese”Agni
membanting tasnya.
“ngeselin”kata
Marsha.
“hai hai...
pagi....”dengan ceria Ify memasuki kelasnya.
“eh kenapa
kalian?”tanya Ify, duduk di samping Agni.
“tau deh,
cowok emang nyebelin”rutuk Marsha.
Beberapa
orang masuk secara bersamaan.
Agni
melongos begitu melihat Cakka, ia masih kesel sama Cakka yang seenaknya.
Sementara Marsha menggertakan giginya menahan kesal melihat Cindai yang bersama
dengan keempat pemuda itu.
“hai Fy”sapa
Rio
Ify
menjawabnya dengan senyuman dan anggukan.
“hei,
kenapa? Pagi-pagi kok galau?”tanya Cindai, melihat Agni dan Marsha cemberut.
“gapapa”jawab
Marsha.
“hai
Sha”sapa Rafli, duduk di sebelah Marsha.
“apa?”tanya
Marsha jutek
“kok jutek
banget?”tanya Rafli.
“masalah?”tanya
Marsha lagi
“yaudah”Rafli
kembali ke bangkunya, sementara Marsha semakin kesal karena tidak ada
perjuangan Rafli untuk membuatnya lebih baik. ‘cowok emang gak peka!’batin
Marsha.
***
Istirahatpun
tiba, Marsha memutuskan untuk tidak pergi kemanapun, ia berusaha menetralisir
dulu mood nya yang rusak. Sementara Ify duduk di bangku Rio, keduanya
berbincang seperti sudah sangat dekat. Bikin iri!
“Sha, buat
loe”kata Cindai sambil memberikan sebuah roti.
“gak
laper”jawab Marsha.
“loe kenapa
sih? Dingin banget sama gue?”tanya Cindai
“loe tuh
yang kenapa? Gak ngerti perasaan temen banget! Pagar makan tanaman loe”kata
Marsha tanpa membentak.
“maksud loe
apa sih?”tanya Cindai tak mengerti.
Marsha
tersenyum miring, “tega ya, loe jalan sama cowok yang udah jelas-jelas temen
loe suka sama dia”
Cindai
menatap Marsha masih belum mengerti, “siapa maksud loe? Bagas?”
“Rafli”
Cindai
menutup mulutnya, bukan kaget tapi ia menahan tawanya, “haha... Rafli? Si cungkring itu?”
Marsha menatap
Cindai aneh, emangnya ada yang lucu?
“Marsha
Marsha, loe tuh selalu bisa baca hidup orang tapi kenapa kalo udah cemburu
malah nuduh gini?”Cindai menepuk pundak Marsha.
“gue
cemburu?”tanya Marsha pada dirinya sendiri.
Cindai
menyeringai jail, “loe suka sama si cungkring?”
“Rafli!”bentak
Marsha, merasa gak rela kalau sang pujaan hati di sebut cungkring walau pada
kenyataannya memang seperti itu.
“oke
oke”Cindai menahan tawanya, “cung... eh maksud gue Rafli, dia sepupu gue”
Marsha
menatap Cindai intens, “beneran?”
“belum
percaya?”tanya Cindai
Cindai
melambaikan tangan ke arah luar. Seseorang menghampirinya.
“apa?”
“gue sepupu
loe kan?”tanya Cindai
“iyalah, loe
amnesia ya nanya yang kayak gitu?”tanya orang itu, Rafli.
“gak, cuma
ada yang cemburu tuh”Cindai menyeringai jail.
“siapa?”tanya
Rafli
Cindai
menunjuk Marsha dengan dagunya setelah itu keluar kelas. Marsha hanya menunduk
menyembunyikan rona merah di wajahnya.
“loe?”tanya
Rafli pada Marsha.
Marsha
menghela nafas, berdiri menatap Rafli. “ga usah geer!”kata Marsha kemudian
mengejar Cindai dengan roti di tangannya.
Rafli
tersenyum tipis melihat respon Marsha.
“lucu”
***
Cakka duduk
berhadapan dengan Agni, pandangan Cakka tak lepas dari leher Agni yang sedikit
terlihat merah.
“kentara banget
kissmark nya”guman Cakka.
Agni
memegang lehernya, perasaan semalam gak terlalu keliatan deh, tapi kalo di
perhatiin banget emang keliatan sih.
“cowok emang
mesum”desis Agni.
Cakka
tersenyum jail, “tapi gue engga kok”
Agni
tersenyum miring, “emang enggak, tapi loe lebih mesum”
Cakka
tertawa, “darimana loe tau gue mesum?”
Agni
berfikir sejenak, “orang mesum idungnya belang”
“ciee...
pacar loe yang dulu idungnya belang ya?”goda Cakka.
“ihh gak!”
“tapi kok
bisa...”Cakka menggoda Agni lagi.
“ihh loe
ngeselin banget sih”Agni menghentakkan kakinya kemudian berlalu.
“yahh...
ngambek beneran yaahhh”kata Cakka.
“Ni, Agni”
Cakka
mengejar Agni.
To Be Continue...
No comments:
Post a Comment