Sunday, 17 March 2013

Cowok itu... #2




Ify termenung di balkon kamarnya, ia merasa langit tak begitu bersahabat dengannya, senyumannya itu tak lepas dari wajah cantiknya.

---

“loe cantik”ucap Rio saat mereka masih bermain basket.

Ify tersenyum kaku, “kayaknya loe playboy ya?”Ify tertawa garing menyambut pujian Rio.

Rio tersenyum nakal, “kok gitu? Padahal gue gak pernah pacaran lho”

Tring.

“yey, masuk”sorak Rio.

“ihh loe mah gitu... curang”Ify memukul pundak Rio

“ihh jail gimana?”Rio menjulurkan lidahnya.

---

Lamunan Ify terganggu oleh deringan ponselnya yang begitu kencang.
“siapa sih?”rutuk Ify.

“hallo? Siapa ini?”

“waduh... santai aja dong non”

“siapa sih loe?”

“masa udah lupa? Baru beberapa jam gak ketemu”

Ify mengerutkan keningnya, “siapa?”

“loe beneran gak kenal gue?”

Ify sedikit berfikir, “err... gak”

Dari seberang berdecak, “gue Rio”

Wajah Ify berseri, “ohh loe, tau darimana nomor gue?”

“em... kasih tau gak ya?”

“Rio, ihh”

“haha, ada deh pokoknya”

“aku ngambek nih”

“ihh kok gitu?”

“abisnya kamu rahasia-rahasiaan gitu”

“yaudah aku kasih tau nih”

“dari siapa?”

“sepupunya Rafli”

“siapa?”

“gak tau?”

“hehe... enggak”

“astaga... loe itu yaa... heuh”

“terus siapa?”

“sepupunya Rafli?”

“iya Rio... ih loe malah gitu mulu”

“hehe...”

“siapa?”

“dia...”

***

Agni menatap kesal orang yang ada di hadapannya, ia masih mengenakan seragam sekolahnya.
“loe tuh maunya apa sih Vin?”tanya Agni.

“aku-kamu”Alvin masih sibuk dengan file-file di hadapannya.

“oke! Vin, aku mau pulang”Agni berdiri.

“silahkan”ujar Alvin entah sadar atau tidak.

Agni menghentakkan kakinya kesal, jadi beberapa jam ia hanya di cuekin gini? Buang-buang waktu. Begitu Agni hendak beranjak Alvin manarik pundak Agni membalikkan gadis itu dan langsung di peluknya.
“jangan pergi”ucap Alvin lirih.

Selalu dan selalu begini, pemuda ini memang keterlaluan. Ia rasa pemuda ini hanya menganggapnya boneka, yang bisa di mainkan seenaknya!
“aku mau pulang”kata Agni lembut.

Alvin membenamkan wajahnya di leher Agni, ia menggeleng.

Agni menghela nafas panjang, Alvin pasti ada masalah.
“kita udah gak ada hubungan Vin, kita gak bisa gini terus”

“aw”Agni memekik tertahan, ia merasa lehernya di gigit oleh Alvin, Agni mendorong Alvin paksa.
Menatap pemuda itu dengan amarah, “kamu udah keterlaluan Vin”

“kamu itu milik aku! Selamanya milik aku!”bentak Alvin.

Agni menatap pemuda itu dengan tatapan tajam, “kamu gak akan pernah bisa berubah”

BRAK

Agni membuka dan menutup pintu itu dengan kesal, ia bersumpah ia gak akan pernah mau lagi kembali pada pemuda itu.

Agni menengok kanan-kiri, malam-malam gini masih ada gak sih taksinya?
Seseorang menepuk pundak Agni, dengan cepat Agni berbalik dan mundur.
“ngapain disini?”tanya orang itu

Agni tanpa sadar menghembuskan nafas lega, “gue baru mau pulang, loe sendiri ngapain Kka?”

Orang itu, Cakka. Tersenyum miring, “lagi iseng aja, perlu tumpangan gak?”

“boleh deh, yuk...”ajak Agni

“bentar gue bawa mobil gue dulu”pamit Cakka, Agni hanya mengangguk.

Tak berapa lama Cakka telah kembali dengan mobilnya, “yuk masuk” Cakka membukakan mobilnya dari dalam.

Tanpa basa-basi Agni memasuki mobil itu.

“rumah loe dimana?”tanya Cakka tanpa mengalihkan fokusnya dari jalan raya.

“perumahan Grass blok A 4” Agni menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.

Keduanya tak saling komunikasi, mereka hanya diam saja hingga memasuki perumahan yang Agni maksud.
“ini Ni?”tanya Cakka

Agni mengangguk, kemudian keluar. “thanks ya...”

“oke, kapan-kapan gue jemput ya”

“ogah!”

“pokoknya besok gue jemput”

Agni berkacak pinggang, “jangan”

“gue ke rumah loe tepat jam setengah 7”Cakka tak mempedulikan pelototan Agni.

“gue bilang jangan ya jangan, budek ya loe... ihh”Agni menghentakkan kakinya kesal.

“terserah... bye seksi... mimpi indah”goda Cakka setelah itu tancap gas sebelum kena omelan Agni lagi.

“dasar cowok mesum! Awas loe ya... gue kerjain baru tau rasa”umpat Agni, setelah itu Agni memasuki gerbang rumahnya.

“Agni, darimana kamu?”tanya laki-laki yang nampak masih keren itu.

Agni cemberut kemudian memeluk laki-laki itu, “Alvin ngeselin Pa”adu Agni pada laki-laki itu, Gabriel.

Gabriel mengelus puncak kepala putrinya, “terus mau kamu gimana?”

“aku mau pertunangan ini udahan aja Pa, aku capek”lirih Agni.

Gabriel menghela nafas, “kayaknya kamu emang gak siap ya?” Gabriel mengajak Agni masuk. “yaudah nanti Papa yang bilang”

Agni mengangguk, “aku istirahat dulu Pa”

“yaudah, sana”Gabriel tersenyum pada Agni.

Agni mengecup kilat pipi Gabriel setelah itu berlalu ke kamarnya.

Agni berjalan dengan lunglai ke kamarnya, apakah kali ini ia benar-benar bisa lepas dari pemuda itu? Semoga...

“nah, setelah di kali baru di tambah”
“udah?”
“ya adalah, loe pasti cuma salah jalannya aja, atau salah rumusnya?”

Agni menengok ke dalam kamar adiknya yang kayaknya sedang asyik bertelpon.
“nelpon siapa de?”tanya Agni

“eh udah dulu ya ada kakak gue”

Agni duduk di tempat tidur adiknya, kayaknya adiknya itu harus di godain. Gak asyik kalo sehari aja gak godain adiknya itu.
“cie...”

Adiknya itu, Novi. Berbalik ke arah Agni, memutar kursi meja belajarnya.
“apaan kak?”

“pacar loe ya?”tanya Agni.

Novi membulatkan matanya, “Difa? Pacar gue? Bukanlah”

Agni tersenyum menggoda, “ohh jadi Difa namanya? Ciee”

Novi melempar boneka yang ada di pangkuannya, “ihh... mandi sana, bau tau”

Agni tertawa melihat reaksi adiknya itu yang biasanya cuek bebek menjadi malu-malu.
“ciee... Difa... haha” Agni berlari keluar sebelum Novi menyerangnya lagi.

***

Sejak pulang sekolah tadi mood Marsha benar-benar rusak karena melihat pemandangan yang sangat menyesakkan hati, ia merasa benar-benar kecewa dengan pemandangan tadi.
Mama Marsha memasuki kamar Marsha, mendekati anaknya itu yang terlihat sedang dilema.
“kenapa sayang?”tanya Mama.

Marsha menatap Mamanya, membiarkan Mamanya itu membaca fikirannya.
“siapa tau mereka saudara sayang”

Marsha menghela nafas menggeleng pelan, “kayaknya mereka ada hubungan Ma”

Mama tersenyum, “emangnya saudara bukan hubungan ya?”

Marsha diam, ia mencoba mencerna perkataan Mamanya.

***

Gabriel, Agni dan Novi berkumpul di meja makan, menyantap hidangan pagi. Mereka sudah tidak mempunyai Mama, Larissa Safanah. Acha meninggal saat melahirkan Novi, ia pendarahan hebat dan begitu melahirkan Novi ia langsung meninggal.
“Pa, Novi udah pacaran tuh”adu Agni yang mendapatkan pelototan dari Novi.

Novi meneguk minuman di depannya, “ihh... enggak kok Pa... kak Agni tuh yang punya pacar baru”

Papa tersenyum, “beneran Ni?”

Agni berdecis, “gak kok”

“tuan ada tamu”

Gabriel mengangguk, “ajak kesini”

“pagi om”sapa tamu itu yang tak lain adalah Cakka.

Agni membulatkan matanya melihat Cakka. Pemuda itu bener-bener nekat!

“jemput...”Gabriel menggantungkan perkataannya sambil melirik kedua putrinya.

“Agni om”Cakka tersenyum ramah.

Gabriel tersenyum, “ini Ni?”tanya Gabriel menggoda.

Wajah Agni merona, “udah ah, Agni berangkat dulu Pa”pamit Agni mencium pipi Papanya.

Agni menatap Cakka tajam ketika sudah berada dalam mobil, “dasar gila”

Cakka menyeringai, menatap Agni “kan gara-gara loe”

Agni komat-kamit menyumpahi Cakka.

“Ni”Cakka memegang leher Agni. “ini... kissmark?”

Agni memukul tangan Cakka yang berada di lehernya, “ngaco!” Agni menaikan kerah bajunya, mencoba menutupi luka itu kembali. Alvin! Pasti gara-gara malam tadi. Alvin... dia bener-bener keterlaluan.

“gak masalah kok buat gue, wajar aja... loe kan udah punya cowok”ucap Cakka dengan setengah hati.

Agni menautkan keningnya, “maksud loe? Gue gak punya cowok!”

Cakka tersenyum hambar.

Agni menanggapinya dengan diam, tapi fikirannya melayang entah kemana.

***

Cindai turun dari Ninja Putih Rafli, hari ini mereka berangkat bersama.
“Rafli gilaaa...”Cindai menjitak kepala Rafli yang masih berhelm.

“haha... lagian loe gokil banget... masa kayak gitu ngebut”ejek Rafli.

“masih pagi mas mbak... jangan perang dulu”ucap Bagas yang turun dari motor yang terparkir agak jauh.

“lagian punya sepupu kok aneh, ya... gue senneng ngegodainnya lah”gurau Rafli.

“Rafli...”Cindai bersiap menggetok kepala Rafli lagi.

“hehe... ampun mbak ampun, sakit woy”rengek Rafli

“udah ah, yuk jangan ribut terus”Bagas menarik tangan Cindai, tadinya ia mau menarik tangan Rafli.

“loe gak ngalah banget sama cewek, malu-maluin”kata Bagas.

“ngomong-ngomong sepupu loe, dia manis juga...”guman Bagas.

“gas, Bagas”kata Cindai, ia terus saja mengikuti Bagas karena tangannya masih di tarik.

“BAGAASS... gue Cindai woy”teriak Cindai yang kesal karena di tarik begitu kencang.

Bagas yang baru menyadari kesalahannya menarik orang. berbalik ragu, tersenyum malu dan menggaruk tengkuk yang.
“maaf”ucap Bagas.

Cindai tersenyum sambil meringis, “hehe... iya gapapa”

Bagas mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“eh”Cindai teringat sesuatu, “loe bilang apa tadi? Gak denger”

“apa? Gue gak bilang apa-apa”tanya Bagas dengan santai.

“beneran?”tanya Cindai memastikan.

“udah ah, ke kelas yuk”ajak Bagas

Cindai mengangguk setuju.

***

“rese”Agni membanting tasnya.

“ngeselin”kata Marsha.

“hai hai... pagi....”dengan ceria Ify memasuki kelasnya.

“eh kenapa kalian?”tanya Ify, duduk di samping Agni.

“tau deh, cowok emang nyebelin”rutuk Marsha.

Beberapa orang masuk secara bersamaan.

Agni melongos begitu melihat Cakka, ia masih kesel sama Cakka yang seenaknya. Sementara Marsha menggertakan giginya menahan kesal melihat Cindai yang bersama dengan keempat pemuda itu.

“hai Fy”sapa Rio

Ify menjawabnya dengan senyuman dan anggukan.

“hei, kenapa? Pagi-pagi kok galau?”tanya Cindai, melihat Agni dan Marsha cemberut.

“gapapa”jawab Marsha.

“hai Sha”sapa Rafli, duduk di sebelah Marsha.

“apa?”tanya Marsha jutek

“kok jutek banget?”tanya Rafli.

“masalah?”tanya Marsha lagi

“yaudah”Rafli kembali ke bangkunya, sementara Marsha semakin kesal karena tidak ada perjuangan Rafli untuk membuatnya lebih baik. ‘cowok emang gak peka!’batin Marsha.

***

Istirahatpun tiba, Marsha memutuskan untuk tidak pergi kemanapun, ia berusaha menetralisir dulu mood nya yang rusak. Sementara Ify duduk di bangku Rio, keduanya berbincang seperti sudah sangat dekat. Bikin iri!

“Sha, buat loe”kata Cindai sambil memberikan sebuah roti.

“gak laper”jawab Marsha.

“loe kenapa sih? Dingin banget sama gue?”tanya Cindai

“loe tuh yang kenapa? Gak ngerti perasaan temen banget! Pagar makan tanaman loe”kata Marsha tanpa membentak.

“maksud loe apa sih?”tanya Cindai tak mengerti.

Marsha tersenyum miring, “tega ya, loe jalan sama cowok yang udah jelas-jelas temen loe suka sama dia”

Cindai menatap Marsha masih belum mengerti, “siapa maksud loe? Bagas?”

“Rafli”

Cindai menutup mulutnya, bukan kaget tapi ia menahan tawanya,  “haha... Rafli? Si cungkring itu?”

Marsha menatap Cindai aneh, emangnya ada yang lucu?

“Marsha Marsha, loe tuh selalu bisa baca hidup orang tapi kenapa kalo udah cemburu malah nuduh gini?”Cindai menepuk pundak Marsha.

“gue cemburu?”tanya Marsha pada dirinya sendiri.

Cindai menyeringai jail, “loe suka sama si cungkring?”

“Rafli!”bentak Marsha, merasa gak rela kalau sang pujaan hati di sebut cungkring walau pada kenyataannya memang seperti itu.

“oke oke”Cindai menahan tawanya, “cung... eh maksud gue Rafli, dia sepupu gue”

Marsha menatap Cindai intens, “beneran?”

“belum percaya?”tanya Cindai

Cindai melambaikan tangan ke arah luar. Seseorang menghampirinya.
“apa?”

“gue sepupu loe kan?”tanya Cindai

“iyalah, loe amnesia ya nanya yang kayak gitu?”tanya orang itu, Rafli.

“gak, cuma ada yang cemburu tuh”Cindai menyeringai jail.

“siapa?”tanya Rafli

Cindai menunjuk Marsha dengan dagunya setelah itu keluar kelas. Marsha hanya menunduk menyembunyikan rona merah di wajahnya.

“loe?”tanya Rafli pada Marsha.

Marsha menghela nafas, berdiri menatap Rafli. “ga usah geer!”kata Marsha kemudian mengejar Cindai dengan roti di tangannya.

Rafli tersenyum tipis melihat respon Marsha.
“lucu”

***

Cakka duduk berhadapan dengan Agni, pandangan Cakka tak lepas dari leher Agni yang sedikit terlihat merah.
“kentara banget kissmark nya”guman Cakka.

Agni memegang lehernya, perasaan semalam gak terlalu keliatan deh, tapi kalo di perhatiin banget emang keliatan sih.
“cowok emang mesum”desis Agni.

Cakka tersenyum jail, “tapi gue engga kok”

Agni tersenyum miring, “emang enggak, tapi loe lebih mesum”

Cakka tertawa, “darimana loe tau gue mesum?”

Agni berfikir sejenak, “orang mesum idungnya belang”

“ciee... pacar loe yang dulu idungnya belang ya?”goda Cakka.

“ihh gak!”

“tapi kok bisa...”Cakka menggoda Agni lagi.

“ihh loe ngeselin banget sih”Agni menghentakkan kakinya kemudian berlalu.

“yahh... ngambek beneran yaahhh”kata Cakka.

“Ni, Agni”

Cakka mengejar Agni.


To Be Continue...

No comments:

Post a Comment