Ratusan
siswa All Star SHS berkumpul di satu papan pengumuman, yang menginformasikan
posisi kelas mereka masing-masing.
“then?
Seperti biasalah kita satu kelaskan?”tanya Ify pada teman-temannya sambil
melihat daftar pembagian kelas di papan pengumuman.
“kita
sekelas bro”sahut seorang pemuda pada teman-temannya.
Keempat
pemuda itu tertawa, “jelaslah, loe pada kan anak buah gue”ucap seorang pemuda
yang rambutnya gak beraturan.
Agni
tersenyum masam, “sama mereka juga?”tunjuk Agni pada empat pemuda itu.
“pastilah,
merekakan katanya atlet basket”guman Marsha.
“cabut
yuk”ajak Cindai sambil beranjak yang di ikuti ke tiga temannya.
“sekelas
sama mereka?”tanya Bagas pada Cakka tanpa mengalihkan pandangan dari empat
gadis yang baru meninggalkan tempat itu.
Yang ditanya
malah menaikan bahu tanda tak tau.
“kalo mereka
atlet pasti satu kelas, so? Liat aja nanti”kata Rafli
***
Ify, Agni,
Marsha dan Cindai berembuk dalam dua bangku. Namun tak berselang lama beberapa
murid dengan tergesa memasuki kelas dan di ikuti seorang guru.
“see?
Omongan loe jadi nyata Marsha”guman Ify dengan senyum yang mengembang karena
melihat seorang pemuda yang ia sukai.
“dan gue
mendingan keluar terus nyemplung di kolam”desis Agni kesal.
“selamat
pagi, bagaimana hari pertama sekolah di sini? Sudah saling kenal?”tanya guru
itu.
“belum
pak”sahut murid-murid itu.
“oke.
Perkenalkan nama saya Lintar wali kelas kalian. Untuk perkenalan kalian saya
akan sekalian membagi kelompok untuk tugas dan segala hal yang berkaitan dengan
mata pelajaran disini” Lintar menghela nafas.
“kelompok
pertama, Agnita Safanah, Cindai Glorya, Mario Aditya dan Rafli Alfandi, untuk
kelompok kedua Bagas Syahputra, Cakka Nuraga, Marsha Luthfa dan Saufika Abla
kelompok ketiga...”
“mungkin
hari ini hanya itu, saya pamit dulu, selamat bertemu di lain waktu.
Terimakasih”pamit Lintar setelah itu berlalu.
Agni
menghela nafas panjang, “kayaknya hidup kita gak jauh-jauh dari mereka ya?”
Cindai
mengangguk, “mending kalo mereka bisa di andelin”
“hai,
Agnita? Cindai?”tunjuk Rio pada Agni dan Cindai.
“yups, gue
Agni dan ini Cindai. Mohon kerjasamanya ya?”kata Agni memperkenalkan diri
dengan setengah hati.
Dari arah
lain Ify menatap tak rela ke arah Agni yang nampak akrab dengan Rio.
Marsha
menyenggol lengan Ify, “udahlah gak usah di fikirin”
Ify
mengangguk mengerti, “kalian bisa panggil gue Ify”
“gue Bagas
dan ini Cakka”ucap Bagas.
Marsha
mengangguk mengerti, “oke Bagas, Cakka, selamat bekerja sama”
Cakka yang
tak mengindahkan perkataan Marshapun berlalu.
“gak
sopan”umpat Marsha
Bagas
tersenyum kecil, “biasalah”
Marsha hanya
berdecak kesal.
***
Agni
berjalan dengan acuh tak acuh, tak mengindahkan tatapan tak suka dari
senior-seniornya. Gadis itu malah melenggang tak peduli.
Agni duduk
di bangku pojok kantin, ia rasa sangat mumet dan pusing berada di dalam kelas
yang lebih cocok di katakan pasar dadakan.
“heh loe!
Jangan belagu deh, baru junior juga”bentak seseorang sambil menggebrak meja.
Agni
mendelik, mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang mengajaknya berbicara.
Agni berdiri dan kini giliran seniornya menengadah pada Agni.
“masalah
buat kakak?”tanya Agni dengan
penekanan kata.
Senior itu
malah tersenyum masam, “mau jadi apa loe sekolah aja roknya pendek gitu”
Seragam dengan
pakaian yang begitu pas di badan dan rok berwarna biru tua bermotif kotak-kotak
di atas lutut, dan itu pemberian dari pihak sekolah bukan hasil karyanya. Ada
yang salah?
“maaf ya
kak, bukan saya yang mau rok pendek tapi dari sekolahnya gak ada rok yang lebih
panjang dari ini, permisi”Agni berlalu, berniat menghilangkan penat malah
semakin penat. Dasar senior kepo! Kutuk Agni dalam hati.
Di saat Agni
berjalan dengan tergesa seseorang menarik tangannya, “jangan fikirin mereka”
Agni
tersenyum miring, “emang siapa yang mikirin mereka?”
Orang itu
Cakka, terlihat menyeringai jahil, “tapi loe bener-bener seksi lho...”
Agni memutar
bola matanya, “mesum”Agni menarik tangannya paksa kemudian berlalu lagi.
Sementara
Cakka tersenyum puas melihat respon Agni dapanya. Tapi, dengan cekatan ia
menarik pergelangan tangan Agni lagi, menariknya ke arah pojokan lorong.
Agni
mendongakkan matanya menatap Cakka. Ya... meski ia lebih tinggi dari
teman-temannya tapi jika berhadapan dengan pemuda ini ia tetap saja harus
menengadah.
“mau apa
loe?”
“loe?”Cakka
mendekatkan wajahnya ke arah Agni.
Agni
menyeringai, “loe mau gue?”ia mengalungkan tangannya di leher Cakka.
Cakka
semakin mendekatkan dirinya pada Agni setelah melihat respon Agni.
DUK
Agni
menginjak kaki Cakka dengan sekuat tenanga, “jangan mimpi!”Agni beranjak.
Sementara
Cakka meringis kesakitan memegangi kakinya yang benar-benar berdenyut, sangat
ngilu.
***
Cindai
berjalan di koridor yang tak jauh dari lapangan, tadi ia di panggil oleh
seorang guru yang juga pelatih karate di sekolah ini. ia di daulat sebagai
ketua karate di sana dan itu sangat membuatnya pusing. Mau nerima? Gak enak
sama seniornya. Gak nerima? Gak enak juga sama pelatihnya itu.
Cindai melah
memukuli kepalanya pusing.
“hey
awas”teriak seseorang.
Cindai
berbalik ke arah suara dan dengan refleks menahan bola yang mengarah ke arah
dirinya.
“lain kali
hati-hati”ucap Cindai pada orang itu.
Sementara di
lain sudut ada yang menghela nafas lega karena melihat kejadian itu.
“Cindai”panggil
seseorang.
Cindai
menoleh ke arah lapangan basket.
“sini”
Cindai
berjalan ke arah Ify yang memangggilnya, “basket?”
Ify
mengangguk, “tuh”Ify menunjuk Rio dengan dagunya.
Cindai
melongos, “pantesan loe rela panas-panasan”
“hai Cindai,
mau belajar basket juga?”tanya Rio
Cindai
membulatkan matanya, “belajar basket juga? Jadi Ify lagi belajar basket?”
Ify
memamerkan giginya, “hehe”
“bukannya
loe bisa basket ya, kenapa loe belajar lagi? Dasar”cibir Cindai
“jadi loe
bisa?”tanya Rio sepeninggal Cindai.
“ya, lumayanlah”Ify
menimang-nimang bola itu.
Rio merembut bola itu secara tiba-tiba kemudian
berlari mendrible bola itu, Ify yang merasa tertantangpun mengikuti permainan Rio.
***
Agni, Cindai
dan Marsha duduk di kantin yang berdekatan dengan lapangan basket. Mereka
tengah melihat permainan basket Ify dengan pujaan hatinya.
“si Ify
payah”kata Agni
Cindai
meneguk minumannya sambil mengangguk, “sama kita aja paling gak suka di kalain”
“hai”sapa
Rafli, yang bersama Cakka dan Bagas.
Agni memutar
bola matanya, “ngapain loe kesini?”
“nyamperin
loe”ucap Cakka santai.
Agni
mendengus, “bisa gak sih loe gak ngerecokin gue terus?”
Rafli
menghela nafas melihat Cakka dan Agni, “bisa diem gak sih kalian berdua?”Rafli
duduk di hadapan Agni, menggeser posisi Cakka agar mereka tak cekcok lagi.
Marsha
terlihat cemberut, “kok jauh”bisiknya pada diri sendiri.
Bagas
menyeringai mendengarnya, jangan salah meski sangat pelan ia dapat mendengarnya
dengan jelas. “cemburu loe?”
Marsha
mengangkat wajahnya, “apa? Cemburu? GAK!”
“muka orang
cemburu suka merah lho”canda Bagas.
“masa?”Marsha
memegangi wajahnya yang tidak merah.
“haha loe
cemburu sama siapa?”tanya Rafli yang menyimak.
“GAK! Gue
gak cemburu”
“ciee...
yang cemburu”mereka berlima berkoor menggoda Marsha yang wajahnya kini
benar-benar memerah.
Cakka terus
menatap Agni yang asik menyantap mie ayam nya. Begitu melihat saus di ujung
bibir Agni dengan refleks Cakka mengusapnya dengan ibu jarinya.
Agni
terdiam, setelah itu menatap Cakka yang tengah menatapnya. Mata elang itu
sangat tajam, menusuk, tapi... nyaman.
“err...
thanks”ucap Agni
Cakka
tersenyum, “urwell”
***
Rio dan Ify
terus berlomba memasukan bola ke dalam ring.
“hebat
juga”ujar Rio. Ia beranjak ke pinggir lapangan
Ify
tersenyum, “loe tuh hebat banget, tapi speed
loe tingkatin dong, masa kalah sama cewek”
Rio menatap
Ify, menyampirkan rambut yang menutupi wajah Ify ke belakang telinga. “lagian
loe, cewek kok cepet banget larinya”
Ify tersipu,
ia menunduk malu. “itu sih loe aja yang kurang cepet”
Rio memberikan
botol air mineral pada Ify, “gak kok, itu maksimal”
Ify
menautkan alisnya, “masa?”
Rio
mengangguk dengan yakin.
Keduanya
diam dengan cukup lama, sampai Rio memecah keheningan.
“kalo boleh
tau, loe atlet apa? Kok bisa masuk kelas atlet?”tanya Rio
“katanya sih
lari, hehe”Ify menutupi kegugupannya dengan tersenyum garing.
Rio tertawa,
“pantesan gesit banget”
Ify menunduk
lagi, semakin malu dengan perkataan yang terlontar dari Rio.
***
Bel tanda
pulang telah terdengar, hari ini memang tidak begitu efektif belajar.
“ada yang
mau nebeng?”tanya Ify.
“gue”kata
Agni dan Marsha bersamaan.
“kalo loe Dai?”tawar
Ify
Cindai sibuk
berkutat dengan ponselnya, “gue kudu ketemu senpai
dulu”
“yaudah,
duluan ya”pamit Ify
Setelah
melihat anggukan Cindai ketiganya berlalu.
Cindai
menyimpan headset di telinganya, “senpai?
Lima menit lagi saya ke sana”kata Cindai berlari tergesa.
Sementara
dari arah lain seseorang mengamatinya.
“gas, duluan
ya”pamit orang di sebelah orang itu.
***
Seorang
pemuda dengan santai berada di parkiran dan duduk di atas Ninjanya. Agni
mendengus kesal. Ia tau, pasti pemuda tukang maksa itu ingin menjemputnya.
Kapan sih ia akan merasa tenang tanpa pemuda itu?
“ngapain loe
disini?”tanya Agni to the point.
“jemput loe
lah, udah naik aja. Gak enak debat disini banyak yang liatin”orang itu berkata
dengan melihat sekelilingnya.
“Al, please
deh jangan ganggu gue lagi! Bisa kan?”tanya Agni geram.
Pemuda itu
menaikan satu alisnya, “Al?” ia menyeringai penuh kemenangan, “-sampai nama
kesayangan itu masih loe ingat ya? cepet naik”perintah orang itu. Alvin Jo!
Mantan kekasih Agni, pewaris tunggal dari keluarga Jonathan yang kekayaannya
berada di seluruh penjuru bumi.
Agni menatap
Ify dan Marsha meminta pertolongan tapi keduanya malah menggeleng.
Agni menarik
nafas, lalu menaiki motor itu.
“duluan
ya”pamit Agni. Terlihat Alvin menarik tangan Agni agar memeluk pinggangnya.
“kasian gue
sama Agni, dia di perlakuin kayak budak banget”guman Marsha.
Ify menatap
Marsha, ia tau betul kalau Marsha memang terkadang bisa membaca kehidupan
seseorang. “jangan ngaco”Ify memasuki mobilnya setelah itu di ikuti Marsha.
***
Rio, Cakka,
Rafli dan Bagas serta beberapa anggota team basket tengah melakukan pemanasan
untuk tes awal masuk team inti.
“itu Agni
bukan?”tanya Rafli yang tak tertuju pada siapapun tapi pandangannya terus
menatap Agni yang di bonceng seseorang.
Rahang Cakka
mengeras, “siapa sih?”desisnya kesal.
***
Sore sekali
Cindai masih menunggu angkutan umum melintas, tadi selepas menemui senpai-nya ternyata
ia di suruh memperlihatkan beberapa kelihaiannya dalam beladiri dari lipatan,
patahan dan bantingan.
Tin
Cindai
melihat siapa yang berhenti di hadapannya. Orang itu mempuka helm pacefull nya.
“eh Raf”
Rafli
tersenyum, “mau pulang? Bareng aja yuk”ajak Rafli.
Cindai
meringis, “gapapa nih?”
“mau gak?
Kalo gak gue tinggal nih”ancam Rafli
“ehh ehh iya
deh iya gue ikut, udah sore juga”Cindai duduk di tempat penumpang.
Rafli
memasang helm-nya lagi, “pegangan ya”
Cindai
mengeratkan tangannya di pinggang Rafli tanpa memeluknya.
Tanpa mereka
sadari, ternyata ada seseorang yang kecewa. Menatap mereka dengan menahan
amarah.
To Be Continue...
No comments:
Post a Comment