Saturday, 16 March 2013

Cowok itu... #1




Ratusan siswa All Star SHS berkumpul di satu papan pengumuman, yang menginformasikan posisi kelas mereka masing-masing.

“then? Seperti biasalah kita satu kelaskan?”tanya Ify pada teman-temannya sambil melihat daftar pembagian kelas di papan pengumuman.

“kita sekelas bro”sahut seorang pemuda pada teman-temannya.

Keempat pemuda itu tertawa, “jelaslah, loe pada kan anak buah gue”ucap seorang pemuda yang rambutnya gak beraturan.

Agni tersenyum masam, “sama mereka juga?”tunjuk Agni pada empat pemuda itu.

“pastilah, merekakan katanya atlet basket”guman Marsha.

“cabut yuk”ajak Cindai sambil beranjak yang di ikuti ke tiga temannya.

“sekelas sama mereka?”tanya Bagas pada Cakka tanpa mengalihkan pandangan dari empat gadis yang baru meninggalkan tempat itu.

Yang ditanya malah menaikan bahu tanda tak tau.

“kalo mereka atlet pasti satu kelas, so? Liat aja nanti”kata Rafli

***

Ify, Agni, Marsha dan Cindai berembuk dalam dua bangku. Namun tak berselang lama beberapa murid dengan tergesa memasuki kelas dan di ikuti seorang guru.

“see? Omongan loe jadi nyata Marsha”guman Ify dengan senyum yang mengembang karena melihat seorang pemuda yang ia sukai.

“dan gue mendingan keluar terus nyemplung di kolam”desis Agni kesal.

“selamat pagi, bagaimana hari pertama sekolah di sini? Sudah saling kenal?”tanya guru itu.

“belum pak”sahut murid-murid itu.

“oke. Perkenalkan nama saya Lintar wali kelas kalian. Untuk perkenalan kalian saya akan sekalian membagi kelompok untuk tugas dan segala hal yang berkaitan dengan mata pelajaran disini” Lintar menghela nafas.
“kelompok pertama, Agnita Safanah, Cindai Glorya, Mario Aditya dan Rafli Alfandi, untuk kelompok kedua Bagas Syahputra, Cakka Nuraga, Marsha Luthfa dan Saufika Abla kelompok ketiga...”
“mungkin hari ini hanya itu, saya pamit dulu, selamat bertemu di lain waktu. Terimakasih”pamit Lintar setelah itu berlalu.

Agni menghela nafas panjang, “kayaknya hidup kita gak jauh-jauh dari mereka ya?”

Cindai mengangguk, “mending kalo mereka bisa di andelin”

“hai, Agnita? Cindai?”tunjuk Rio pada Agni dan Cindai.

“yups, gue Agni dan ini Cindai. Mohon kerjasamanya ya?”kata Agni memperkenalkan diri dengan setengah hati.

Dari arah lain Ify menatap tak rela ke arah Agni yang nampak akrab dengan Rio.

Marsha menyenggol lengan Ify, “udahlah gak usah di fikirin”

Ify mengangguk mengerti, “kalian bisa panggil gue Ify”

“gue Bagas dan ini Cakka”ucap Bagas.

Marsha mengangguk mengerti, “oke Bagas, Cakka, selamat bekerja sama”

Cakka yang tak mengindahkan perkataan Marshapun berlalu.

“gak sopan”umpat Marsha

Bagas tersenyum kecil, “biasalah”

Marsha hanya berdecak kesal.

***

Agni berjalan dengan acuh tak acuh, tak mengindahkan tatapan tak suka dari senior-seniornya. Gadis itu malah melenggang tak peduli.

Agni duduk di bangku pojok kantin, ia rasa sangat mumet dan pusing berada di dalam kelas yang lebih cocok di katakan pasar dadakan.
“heh loe! Jangan belagu deh, baru junior juga”bentak seseorang sambil menggebrak meja.

Agni mendelik, mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang mengajaknya berbicara. Agni berdiri dan kini giliran seniornya menengadah pada Agni.
“masalah buat kakak?”tanya Agni dengan penekanan kata.

Senior itu malah tersenyum masam, “mau jadi apa loe sekolah aja roknya pendek gitu”

Seragam dengan pakaian yang begitu pas di badan dan rok berwarna biru tua bermotif kotak-kotak di atas lutut, dan itu pemberian dari pihak sekolah bukan hasil karyanya. Ada yang salah?
“maaf ya kak, bukan saya yang mau rok pendek tapi dari sekolahnya gak ada rok yang lebih panjang dari ini, permisi”Agni berlalu, berniat menghilangkan penat malah semakin penat. Dasar senior kepo! Kutuk Agni dalam hati.

Di saat Agni berjalan dengan tergesa seseorang menarik tangannya, “jangan fikirin mereka”

Agni tersenyum miring, “emang siapa yang mikirin mereka?”

Orang itu Cakka, terlihat menyeringai jahil, “tapi loe bener-bener seksi lho...”

Agni memutar bola matanya, “mesum”Agni menarik tangannya paksa kemudian berlalu lagi.

Sementara Cakka tersenyum puas melihat respon Agni dapanya. Tapi, dengan cekatan ia menarik pergelangan tangan Agni lagi, menariknya ke arah pojokan lorong.

Agni mendongakkan matanya menatap Cakka. Ya... meski ia lebih tinggi dari teman-temannya tapi jika berhadapan dengan pemuda ini ia tetap saja harus menengadah.
“mau apa loe?”

“loe?”Cakka mendekatkan wajahnya ke arah Agni.

Agni menyeringai, “loe mau gue?”ia mengalungkan tangannya di leher Cakka.

Cakka semakin mendekatkan dirinya pada Agni setelah melihat respon Agni.

DUK

Agni menginjak kaki Cakka dengan sekuat tenanga, “jangan mimpi!”Agni beranjak.

Sementara Cakka meringis kesakitan memegangi kakinya yang benar-benar berdenyut, sangat ngilu.

***

Cindai berjalan di koridor yang tak jauh dari lapangan, tadi ia di panggil oleh seorang guru yang juga pelatih karate di sekolah ini. ia di daulat sebagai ketua karate di sana dan itu sangat membuatnya pusing. Mau nerima? Gak enak sama seniornya. Gak nerima? Gak enak juga sama pelatihnya itu.
Cindai melah memukuli kepalanya pusing.
“hey awas”teriak seseorang.

Cindai berbalik ke arah suara dan dengan refleks menahan bola yang mengarah ke arah dirinya.
“lain kali hati-hati”ucap Cindai pada orang itu.

Sementara di lain sudut ada yang menghela nafas lega karena melihat kejadian itu.

“Cindai”panggil seseorang.

Cindai menoleh ke arah lapangan basket.

“sini”

Cindai berjalan ke arah Ify yang memangggilnya, “basket?”

Ify mengangguk, “tuh”Ify menunjuk Rio dengan dagunya.

Cindai melongos, “pantesan loe rela panas-panasan”

“hai Cindai, mau belajar basket juga?”tanya Rio

Cindai membulatkan matanya, “belajar basket juga? Jadi Ify lagi belajar basket?”

Ify memamerkan giginya, “hehe”

“bukannya loe bisa basket ya, kenapa loe belajar lagi? Dasar”cibir Cindai

“jadi loe bisa?”tanya Rio sepeninggal Cindai.

“ya, lumayanlah”Ify menimang-nimang bola itu.

Rio  merembut bola itu secara tiba-tiba kemudian berlari mendrible bola itu, Ify yang merasa tertantangpun mengikuti permainan Rio.

***

Agni, Cindai dan Marsha duduk di kantin yang berdekatan dengan lapangan basket. Mereka tengah melihat permainan basket Ify dengan pujaan hatinya.
“si Ify payah”kata Agni

Cindai meneguk minumannya sambil mengangguk, “sama kita aja paling gak suka di kalain”

“hai”sapa Rafli, yang bersama Cakka dan Bagas.

Agni memutar bola matanya, “ngapain loe kesini?”

“nyamperin loe”ucap Cakka santai.

Agni mendengus, “bisa gak sih loe gak ngerecokin gue terus?”

Rafli menghela nafas melihat Cakka dan Agni, “bisa diem gak sih kalian berdua?”Rafli duduk di hadapan Agni, menggeser posisi Cakka agar mereka tak cekcok lagi.

Marsha terlihat cemberut, “kok jauh”bisiknya pada diri sendiri.

Bagas menyeringai mendengarnya, jangan salah meski sangat pelan ia dapat mendengarnya dengan jelas. “cemburu loe?”

Marsha mengangkat wajahnya, “apa? Cemburu? GAK!”

“muka orang cemburu suka merah lho”canda Bagas.

“masa?”Marsha memegangi wajahnya yang tidak merah.

“haha loe cemburu sama siapa?”tanya Rafli yang menyimak.

“GAK! Gue gak cemburu”

“ciee... yang cemburu”mereka berlima berkoor menggoda Marsha yang wajahnya kini benar-benar memerah.

Cakka terus menatap Agni yang asik menyantap mie ayam nya. Begitu melihat saus di ujung bibir Agni dengan refleks Cakka mengusapnya dengan ibu jarinya.

Agni terdiam, setelah itu menatap Cakka yang tengah menatapnya. Mata elang itu sangat tajam, menusuk, tapi... nyaman.
“err... thanks”ucap Agni

Cakka tersenyum, “urwell”

***

Rio dan Ify terus berlomba memasukan bola ke dalam ring.
“hebat juga”ujar Rio. Ia beranjak ke pinggir lapangan

Ify tersenyum, “loe tuh hebat banget, tapi speed loe tingkatin dong, masa kalah sama cewek”

Rio menatap Ify, menyampirkan rambut yang menutupi wajah Ify ke belakang telinga. “lagian loe, cewek kok cepet banget larinya”

Ify tersipu, ia menunduk malu. “itu sih loe aja yang kurang cepet”

Rio memberikan botol air mineral pada Ify, “gak kok, itu maksimal”

Ify menautkan alisnya, “masa?”

Rio mengangguk dengan yakin.

Keduanya diam dengan cukup lama, sampai Rio memecah keheningan.
“kalo boleh tau, loe atlet apa? Kok bisa masuk kelas atlet?”tanya Rio

“katanya sih lari, hehe”Ify menutupi kegugupannya dengan tersenyum garing.

Rio tertawa, “pantesan gesit banget”

Ify menunduk lagi, semakin malu dengan perkataan yang terlontar dari Rio.

***

Bel tanda pulang telah terdengar, hari ini memang tidak begitu efektif belajar.
“ada yang mau nebeng?”tanya Ify.

“gue”kata Agni dan Marsha bersamaan.

“kalo loe Dai?”tawar Ify

Cindai sibuk berkutat dengan ponselnya, “gue kudu ketemu senpai dulu”

“yaudah, duluan ya”pamit Ify

Setelah melihat anggukan Cindai ketiganya berlalu.

Cindai menyimpan headset di telinganya, “senpai? Lima menit lagi saya ke sana”kata Cindai berlari tergesa.

Sementara dari arah lain seseorang mengamatinya.
“gas, duluan ya”pamit orang di sebelah orang itu.

***

Seorang pemuda dengan santai berada di parkiran dan duduk di atas Ninjanya. Agni mendengus kesal. Ia tau, pasti pemuda tukang maksa itu ingin menjemputnya. Kapan sih ia akan merasa tenang tanpa pemuda itu?

“ngapain loe disini?”tanya Agni to the point.

“jemput loe lah, udah naik aja. Gak enak debat disini banyak yang liatin”orang itu berkata dengan melihat sekelilingnya.

“Al, please deh jangan ganggu gue lagi! Bisa kan?”tanya Agni geram.

Pemuda itu menaikan satu alisnya, “Al?” ia menyeringai penuh kemenangan, “-sampai nama kesayangan itu masih loe ingat ya? cepet naik”perintah orang itu. Alvin Jo! Mantan kekasih Agni, pewaris tunggal dari keluarga Jonathan yang kekayaannya berada di seluruh penjuru bumi.

Agni menatap Ify dan Marsha meminta pertolongan tapi keduanya malah menggeleng.
Agni menarik nafas, lalu menaiki motor itu.
“duluan ya”pamit Agni. Terlihat Alvin menarik tangan Agni agar memeluk pinggangnya.

“kasian gue sama Agni, dia di perlakuin kayak budak banget”guman Marsha.

Ify menatap Marsha, ia tau betul kalau Marsha memang terkadang bisa membaca kehidupan seseorang. “jangan ngaco”Ify memasuki mobilnya setelah itu di ikuti Marsha.

***

Rio, Cakka, Rafli dan Bagas serta beberapa anggota team basket tengah melakukan pemanasan untuk tes awal masuk team inti.
“itu Agni bukan?”tanya Rafli yang tak tertuju pada siapapun tapi pandangannya terus menatap Agni yang di bonceng seseorang.

Rahang Cakka mengeras, “siapa sih?”desisnya kesal.

***

Sore sekali Cindai masih menunggu angkutan umum melintas, tadi selepas menemui senpai-nya ternyata ia di suruh memperlihatkan beberapa kelihaiannya dalam beladiri dari lipatan, patahan dan bantingan.

Tin

Cindai melihat siapa yang berhenti di hadapannya. Orang itu mempuka helm pacefull nya.
“eh Raf”

Rafli tersenyum, “mau pulang? Bareng aja yuk”ajak Rafli.

Cindai meringis, “gapapa nih?”

“mau gak? Kalo gak gue tinggal nih”ancam Rafli

“ehh ehh iya deh iya gue ikut, udah sore juga”Cindai duduk di tempat penumpang.

Rafli memasang helm-nya lagi, “pegangan ya”

Cindai mengeratkan tangannya di pinggang Rafli tanpa memeluknya.

Tanpa mereka sadari, ternyata ada seseorang yang kecewa. Menatap mereka dengan menahan amarah.




To Be Continue...

No comments:

Post a Comment