Tuesday, 12 March 2013

Anugerah Terindah... (CAgniFa Short Story)


 Seorang pemuda yang di apit kedua orang tuanya duduk dengan santai dan terkesan cuek di sebuah ruang tamu rumah yang bisa di bilang sangat mewah itu.

“nah, ini Cakka Shad, dia putra kami yang pertama”seorang lelaki yang belum terlalu tua mengenalkan anaknya.

“ganteng ya Pa”sahut wanita di sebelah lelaki yang di panggil Shad itu, panggil aja Zahra.

Irshad, mengangguk menyetujui ungkapan istrinya. “tapi... ada satu hal nih, Riko Sivia”ucap Irshad

“apa?”tanya Papa Cakka, Riko.

“putri kami tidak seperti gadis lain”ungkap Irshad

Zahra menghela nafas, “anak kami juga untuk sekarang tidak mau bertemu sama kalian, terutama putra kalian”

Cakka menatap aneh, “kalo gitu kayak beli kucing dalam karung dong”ucapnya malas

“Cakka! Kamu gak boleh gitu”tegur Riko.

Cakka melongos, “terserah deh”

Irshad dan Zahra tersenyum, “kalau gak mau juga gapapa”ucap Irshad

“hah?! Cakka mau kok”Sivia mengalihkan pandangan pada Cakka, “iyakan sayang?”tanya Sivia agak meloto pada Cakka.

Cakka mengangguk saja, meski tak pernah ada niat mengangguk.

Kalian mau tau kenapa Cakka bersikap seperti itu?
Begini ceritanya, Papanya Riko memaksanya untuk menikah dengan anak cliennya, kalian tau untuk apa? Hahh... itu semua untuk kelancaran Papanya dalam berbisnis, padahal ia seorang Penyanyi yang sangat di gandrungi wanita. Meski ia tak di jodohkan seperti ini ia dapat dengan mudah mendapatkan wanita. Wanita yang seperti apapun! Tapi ini? ya... sudahlah, mungkin ini takdir.

***

Cakka merapihkan ramputnya yang memang selalu acak-acakan. Hari ini ia harus menjemput adiknya pulang, kalian tau kenapa ia harus menjemput? Pasti kalian tidak akan pernah percaya dengan alasan konyol ini. Mamanya tercinta, Sivia Azizah yang menurutnya sangat parno, tidak mengijinkan adiknya itu pulang sengan kendaraan umum, alasannya “kasian adik kamu” “gimana kalo di culik?” “gimana kalo nyasar?” “gimana kalau uangnya abis” dan gimana-gimana yang lainnya, dan assal kalian tau, padahal adiknya itu sudah SMP, dan adiknya itu juga suka protes pada Cakka kalau ia di jemput.

Cakka keluar dari mobil, menunggu adiknya di koridor setempat.

Seorang gadis yang memakai gamis berwarna soft ungu dan kerudung besar berwarna senada berjalan di koridor yang berbeda. Cakka tak berkedip melihat gadis itu yang menurutnya sangat cantik dan berbeda.

Seseorang mengibaskan tangan di depan wajah Cakka, “kak Cakka”

Cakka segera berbalik karena kaget, “kok ngelamun, ayo pulang”ajak adiknya itu.

Cakka menarik tangan adinya agar mundur, “apa sih kak?”

“gas, dia siapa?”tanya Cakka menunjuk gadis tadi dengan dagu.

“Bu Agni, udah ahh... ayo”adiknya itu, Bagas. Menarik tangan Cakka dengan sekuat tenaganya.

Cakka dan Bagas memasuki mobil Cakka, “ehh... siapa tadi namanya?”tanya Cakka memastikan.

Bagas menghela nafas kesal, “Bu Agni kak Cakka... udah ahh... cepet jalan”

Cakka menyeringai senang.

***

Cakka duduk di sebuah cafe dengan wajah yang sangat terlihat senang, setelah satu minggu yang lalu ia melihat gurunya Bagas ia jadi semangat untuk menjemput Bagas sampai Sivia juga sangat heran dengan prilaku anaknya.

Seseorang menepuk pundak Cakka, “Kka” Cakka merubah ekspresi wajahnya menjadi kusut.

Cakka berbalik, “akhirnya kamu dateng”

Orang itu tersenyum, “ada apa sih? Kok kayaknya sedih gitu?”

Cakka menghela nafas panjang, “aku di jodohin Shill”

Orang itu, Shilla kekasihnya Cakka “tapi kamu gak mau kan Kka?”

Cakka menunduk, “maaf Shill kita putus aja, aku gak bisa bangkang orang tua aku”

Shilla menatap Cakka tak terima, “tapi Kka, please perjuangin aku dong”

Cakka menggeleng, “maaf Shill, aku gak sanggup bantah Papa”Cakka berlalu meninggalkan Shilla begitu saja.

Shilla diam di tempat tak bisa berkata apapun.

Cakka menyeringai senang, akhirnya ia bisa bebas mendekati siapapun. Yuhuuu...
Sebenarnya alasan utama Cakka memutuskan hubungan dengan pacarnya itu adalah bukan karena perjodohan konyol itu, tapi demi niatnya untuk mendekati Agni, guru agama Bagas.

***

Suara tepuk tangan bergemuruh di lapangan itu, hari ini Cakka show off air di daerah Jakarta.
Cakka melihat sekitar, “banyak banget wartawan”gumannya

“yaudahlah cuek aja”gumannya lagi, setelah itu ia melenggang pergi dengan santainya.

Dugaannya itu sangat tepat, tepat sekali.
Begitu Cakka keluar dari backstage Cakka langsung di kerumuni wartawan yang menanyakan prihal kandasnya hubungan Cakka.

“jadi begini ya temen-temen semua, saya putus dengan dia itu mungkin udah takdir. Di antara kami memang tidak ada masalah, tapi saya harus berpisah dengan dia dengan alasan yang sangat privacy”jelas Cakka dengan tenang.

“lho? Kenapa gitu?”tanya salah satu wartawan.

“maaf mas, mbak, nanti lagi ya? saya harus menjemput adik saya dulu, terimakasih dan selamat siang”pamit Cakka yang langsung memasuki mobilnya.

***

Bagas duduk dengan gusar di parkiran, telah satu jam ia menunggu kakaknya yang tak kunjung datang. Yang membuatnya kesal dan sangat membuatnya BAD MOOD! Tapi untung ada Agni, guru favorit Bagas yang rela menemani Bagas hingga kakaknya datang menjemput.

Sebuah mobil Ferrari berwarna perak mendekat ke arah mereka.
“itu kakak aku Bu”kata Bagas

Agni berdiri, “yasudah, ibu tinggal ya”pamit Agni
Bagas mengangguk.

Cakka keluar dari mobilnya kemudian dengan segera menghampiri Bagas, “maaf ya, tadi di wawancara dulu”kata Cakka

Bagas mengangguk, “gapapa, padahal kalo lebih tadi Bagas di temenin sama Bu Agni”pamer Bagas sambil nyeloyor memasuki mobil Cakka.

Mata Cakka berbinar, ia segera memasuki mobilnya, “serius?”

Bagas mengangguk pasti.

“kok gak ngasih tau?”tanya Cakka agak kecewa.

“buat apa? Udah ahh... yuk pulang”ajak Bagas.

Dengan segera Cakkapun tancap gas karena sudah melihat ke galauan adiknya karena harus menunggu begitu lama.

***

Riko dan Sivia duduk berdua di ruang keluarga, sementara kedua putranya sibuk dengan urusan masing-masing.

“tanyain deh Pa, bener gak udah putus”desak Sivia pada Riko.

“Cakka kemari”pinta Riko.

Cakka mendekat dan duduk di hadapan Papanya, “apa Pa?”tanya Cakka

Riko menatap Cakka serius, “kamu sudah putus dengan gadis itu?”

Cakka mengangguk, “iya, emang kenapa?”

Riko tersenyum puas, “bagus kalau kamu sudah mengerti sendiri, gak usah suruh susah-susah”

Cakka tersenyum masam “kalau bukan karena gurunya Bagas, gue juga ogah putus”batin Cakka.

“yaudah Pa, Ma, kalau ngomongnya udah, Cakka mau ke kamar dulu, mau tidur”Cakka berdiri

“yaudah, istirahat yang cukup ya? besok malam kan kamu akan menikah”ujar Riko.

Cakka membulatkan matanya. “nikah? Kok cepet banget Pa”

Riko menatap Cakka aneh, “lho? Kan waktu itu kamu yang nyetujuin”

Cakka nampak berfikir.

---

“pernikahannya mau kapan Kka?”tanya Sivia. Mereka masih di rumah clien Papanya, menyiapkan tanggal yang pas.

“terserah aja”jawab Cakka seadanya, ia lebih senang menyibukan diri dengan fikirannya.

“tanggal tiga belas bulan ini gimana?”saran Zahra

Sivia dan Riko nampak berfikir, “satu mingguan lagi dong?”

Zahra mengangguk pasti.

“menurut kamu gimana Kka?”tanya Irshad

Cakka tak mendengarkannya, ia masih sibuk berfikir.

Sivia menyenggol lengan Cakka, “ehh... iya... om, Cakka setuju”
___

Cakka merutuki dirinya, bagaimana bisa ia seceroboh itu? Hahhh... menyebalkan! Apa ia harus kabur aja ya?

“jangan coba-coba kabur lho Kka, kamu harus konsisten”ucap tegas Sivia

Mamanya ini memang selalu tau jika Cakka memikirkan sesuatu, Cakka mendengus kesal. “iya Ma”

***

Hari ini tepat hari pernikahan konyol Cakka dengan wanita yang belum terlihat jenisnya.
Cakka mendesah kesal, bagaimana dia bisa menikah kalau calonnya aja belum pernah ketemu sama sekali, wanita itu cuma mau keluar setelah ijab kabul. Dan yang paling konyol adalah ia juga belum mengetahui nama gadis itu, haahh sungguh konyol.

“untuk Ibunda dari mempelai laki-laki, silahkan melihat calon mempelai istri sebelum ijab kabul”

Sivia mengangguk, setelah itu mengikuti Zahra yang berjalan di depannya memberi petunjuk.
“ini kamarnya”kata Zahra

Sivia membuka pintu, terlihat seorang gadis duduk di atas tempat tidur. Sivia mendekatinya.
“boleh saya buka?”tanya Sivia, karena gadis itu memang mengenakan kerudung dan memakai penutup wajah –bukan cadar-.

Gadis itu mengangguk memberi isyarat.

Terlihat sekali gadis yang sangat cantik dengan make up yang sederhana, kesederhanaan itulah yang membuatnya cantik.

Sivia tersenyum puas, pilihannya memang tak pernah salah.

Setelah itu Sivia berpamitan keluar dari kamar itu.

“gimana anak saya?”tanya Zahra

“gak beda sama kamu, sangat cantik”komentar Sivia

Cakka melihat Sivia dengan tatapan penuh tanya, Sivia hanya membalas tatapan anaknya itu dengan mengangguk dan bergumam, “cantik”

Cakka menunduk, ia sungguh kesal.

“bagaimana saudara Cakka? Siap?”

“siap”jawab Cakka pasti.

“bagaimana Pak? Mau di wakilkan atau mau bapak sendiri yang menikahkannya?”tanya penghulu itu pada Irshad.

“biar saya saja”kata Irshad, lalu menjabat tangan Cakka.

“ananda Cakka Nuraga, saya nikahkan dan kawinkan anda dengan putri saya, Agni A’yun Az-Zahra binti Fachrul Irshad, dengan maskawin seperangkat alat sholat dan sebuah mushaf di bayar tunai”kata Cakka

Cakka menghela nafas panjang, “saya terima nikah dan kawinnya Agni A’yun Az-Zahra binti Fachrul Irshad dengan maskawin tersebut tunai”ucap Cakka lancar tanpa cacad, Cakka juga agak kaget dengan ucapannya barusan, dengan sangat fasih ia mengatakan itu, dan hanya dengan beberapa detik ia mendengar nama itu tapi kenapa bisa selancar itu?

Sivia dan Riko tersenyum penuh kesenangan.
“bagaimana? Sah?”

“sah”seruan orang-orang yang ada di sana.

“Kka”seseorang menepuk pundak Cakka.

Cakka menengok, ternyata Zahra yang menepuknya. “apa tante?”

Zahra mengerutkan keningnya, “kok tante?”

Cakka tersenyum, “ehh... ada apa Ma?”ralat Cakka.

“setelah ini sudah tidak ada acara lagi, kalau kamu mau lihat istri kamu, dia ada di kamar yang tadi mama kamu masuk”jelas Zahra

Cakka mengangguk mengerti.

***

Cakka memasuki kamar itu dengan wajah yang datar, ia sungguh belum siap.

“kamu istri aku?”tanya Cakka.

Gadis itu mengangguk. Cakka mendekati gadis itu, membuka kain yang menutupi wajahnya.

Cakka tersenyum begitu melihat siapa wanita itu, “kamu gurunya Bagaskan?”

Gadis itu Agni, tersenyum ke arah Cakka, meraih tangan pemuda itu dan mencium punggung tangan itu.

Cakka menarik gadis itu, kemudian mencium kening Agni lama.
“aku seneng banget, gak nyangka ternyata gadis aneh itu kamu”

Agni merengut, “kok aneh?”

Cakka tersenyum, “enggak kok bukan apa-apa”Cakka menarik Agni kedalam pelukannya.

Cakka mengecup puncak kepala Agni,“untung aku gak nolak”batin Cakka.

***

Dua keluarga yang telah menjadi satu sedang merayakan kegembiraan mereka, betapa bahagianya mereka telah melihat anak mereka telah bersatu.
“aku sampai kaget Cakka bisa selancar itu”komentar Irshad.

“iya, padahal dia belum tau nama anak saya”kata Zahra.

“iya, aku juga was-was, takut salah. Kan malu juga kalo sampe salah”ungkap Sivia

“yaudahlah, yang penting udah lancar, yang aku bingung gimana mereka sekarang ya? kan belum saling kenal tuh”kata Riko menengahi.

“Cakka pasti melting sendiri, Agnikan cantik banget Pa”kata Sivia.

Merekapun terus melanjutkan perbincangan mengenai anak-anak mereka.

***

Cakka dan Agni terlihat dengan hampir bersamaan mengucapkan salam, menengok ke kanan dan ke kiri. Setelah itu Cakka menengadahkan tangannya, berdo’a.

“ya Allah, semoga keluarga kami akan menjadi keluarga yang Sakinah, Mawaddah dan Warahmah, semoga Engkau melindungi kami dari segala cobaan dan ujian, ingatkanlah selalu kami akan Engkau ya Allah, jangan sampai kami melupakanmu...”begitulah sepenggal do’a Cakka yang di amini oleh Agni, masih banyak do’a yang terucap dari Cakka, do’a untuknya, istrinya, seluruh keluarganya dan seluruh umat manusia.

Seusai membaca do’a Cakka berbalik ke arah Agni, Agni meraih meraih tangan Cakka lalu menciumnya, sementara Cakka mencium puncak kepala dan kening Agni agak lama.


“Kka, kamu mau sekarang?”tanya Agni, begitu selesai merapihkan alat sholat tadi.

Cakka menatap Agni, “duduk dulu”pinta Cakka sambil menepuk tempat tidur di sebelahnya.

Agni menddekati Cakka dan duduk di tempat yang di tunjuk Cakka.

Cakka membuka kerudung Agni, membelai rambut  panjang istrinya itu dengan lembut, “kamu cantik”

Agni tersenyum, “alhamdulillah”

Cakka mendekatkan wajahnya pada Agni, Agni memejamkan matanya menunggu.

***

Agni menyiapkan sarapan untuk Cakka, sementara Cakka sedang bersiap-siap di kamarnya untuk mengisi sebuah acara.
“Ni”panggil Cakka

Agni berbalik, “iya”
Kali ini Agni tak secanggung biasanya, karena memang sudah cukup terbiasa. Memang, usia pernikahan mereka baru satu bulan, tapi dengan cepat Cakka dan Agni dapat menyesuaikan.

“mau ikut gak?”tanya Cakka

Agni tersenyum, “terserah kamu, aku ikutin kamu aja”

“kalau gitu kamu ke sekolah aja ya? aku gak mau kamu di kerumunin wartawan lagi”Cakka duduk di meja makan.

Agni membereskan makanan dan memberi satu piring makanan untuk Cakka.
Agni mengangguk, “iya, kamu makan aja dulu”

Cakka mengangguk. Keduanya sarapan dalam diam, tak ada yang berkata satupun hingga makanan dalam piring mereka masing-masing habis.

“aku tunggu kamu di depan ya”kata Cakka, ia bergegas ke garasi untuk memanaskan mobilnya.

Sementara Agni membereskan piring bekas makan tadi, namun entah kenapa perutnya sangat mual, kepalanya juga sangat pusing.

***

Cakka menunggu Agni di depan rumah dengan gusar, hampir dua puluh menit ia menunggu tapi Agni tak kunjung datang, iapun memutuskan untuk menyusul Agni. Takut istrinya terjadi apa-apa.

Cakka berjalan ke arah dapur, “Ni”sahut Cakka

Cakka melihat Agni yang membelakanginya, “Agni, kenapa?”

Cakka mengecek suhu tubuh Agni, “gak panas kok”

Agni berbali, memeluk pinggang Cakka mencari ketenangan, “aku hamil”

Mata Cakka berbinar, “alhamdulillah... makasih sayang”Cakka memeluk Agni erat, ia mengecup puncak kepala Agni dengan sayang.

***

Beberapa tahun kemudian...

“Difa Dinda, gak boleh berantem terus, kaliankan udah gede”kata Agni, mencoba mengejar kedua buah hatinya.

“Bunda, kak Difa jahat jailin Dinda terus”rengek putrinya yang bernama Dinda A’yun Nuraga.

“Difa, jangan gangguin adeknya dong”ucap Agni agak tegas.

Difa menunduk, “ayaaahhhh”Difa mendekati Cakka dengan memelas, putra pertamanya Difa Ryansyah Nuraga.

Cakka mengacak-acak rambut Difa, “bilang sama Bunda jangan belain adek mulu dong”rajuk Difa.

Cakka tersenyum, Agni mendekati Cakka berjongkok di depan Difa. “bunda gak belain adek Dinda, Difakan kakaknya, Difa jangan gangguin adek Dinda terus”

Difa menunduk.

“maafin bunda ya”Agni memeluk Difa.

“maafin Difa juga ya bunda”Difa memeluk leher Agni.

Dinda mendekati Difa dan Cakka.

Cakka melihat Dinda kemudian mengelus puncak kepala putrinya.

“duduk sini”ajak Cakka, mengajak kedua anaknya duduk mengapit dirinya.

“Difa, Dinda, dengerin ayah, kalian itukan kembar, kalian harusnya akur, jangan gitu mulu, jangan jail-jailan lagi ya?”ucap Cakka

Difa dan Dinda mengangguk, “iya ayah, Difa janji”ucap Difa.

“Dinda juga”ucap Dinda.

“yaudah, ayah mau latian dulu, ada yang mau ikut?”

“Dinda ikut”kata Dinda.

Cakka menatap Difa, “kamu gak mau ikut?”

Difa menggeleng, “Difa mau latian dance ya Pa”

Cakka mengangguk, anaknya yang satu ini memang berbeda, entah kenapa Difa malah minat banget sama dance padahal antara Cakka dan Agni gak ada yang suka sama dance, tapi anaknya? Hhh... benar-benar berbeda.

***

Difa memasuki tempat latihan dance nya, Difa yang agak terlambat sedikit menautkan alisnya.
“siapa dia?”gumannya.

Seseorang berdiri di samping Difa, “pelatih baru, galak. Aku gak suka”guman orang itu.

“masa sih Nov?”tanya Difa tak percaya, orang itu sapa saja dengan nama Novi.

“hey kalian... latian”perintah orang itu.

“eh... hai kamu baru dateng ya?”tanya pelatih baru itu pada Difa.

Difa menunduk,“err... iya... maaf”ucap Difa.

“gapapa, yuk mulai latian”ajak orang itu.

Difa mengangguk setuju, terlihat seringaian dari wajah cantik itu.

***

Cakka, Agni, Difa dan Dinda duduk bersama di ruang keluarga. Setiap malam mereka memang selalu menghabiskan waktu bersama, mendengarkan cerita-cerita kedua anaknya yang tidak bisa di sebut balita lagi.
“ayah, bunda, tadi di tempat latian ada pelatih baru lho, baik, cantik lagi”guman Difa.

Agni memicingkan pandangannya pada putra sulungnya, “kecil-kecil udah tau yang cantik, siapa namanya?”

“namanya... hehe Difa lupa nanya bun”Difa memamerkan deretan gigi rapihnya.

Cakka mengacak-acak rambut putranya itu.

“oiya kak, aku mau konser lho sama ayah, kakak mau ikutan gak?”ucap Dinda agak pamer.

“nyanyi? Ogah! Difa gak bisa”tolak Difa.

Dinda merengut kecewa mendengar penolakan kakaknya, “kok gitu? Acaranyakan emang buat kakak sama Dinda”

Difa menghela nafas, “nanti deh, Difa usahain kalo bisa”

Mata Dinda berbinar, “beneran ya kak?”

Difa hanya mengangguk pasrah.

***

Hari ini Difa seperti biasa, latian dance. Tapi hari ini ia harus menghafal beberapa lagu yang katanya buat konser itu. Haahh benar-benar membosankan.
“hai Difa”sapa seseorang.

Difa menoleh, “eh tante”

Yang di sebut tante tersenyum,“lagi ngapain?”

“ngapalin lagu, padahal jelas-jelas Difa gak bisa”rutuk Difa.
“oiya, nama tante siapa? Difa sampe lupa nanya nama pelatih Difa sendiri”sambung Difa.

“nama tante, Shilla”

Difa tersenyum, “Shilla?”

Shilla nampak merubah ekspresi wajahnya, “kamu mengingatkan tante pada seseorang”

Difa menatap Shilla aneh, “siapa?”

“Cakka, penyanyi itu”Shilla terlihat agak menerawang.

Difa mengerutkan keningnya, “ayah? Ada hubungan apa tante sama ayah?”

Shilla nampak membulatkan matanya, “jadi ka..kamu anaknya Cakka?”

Difa mengangguk.

“anak...ku”

***

Difa menarik Cakka menuju kamarnya, “ada apa sih Difa?”tanya Cakka sambil berjongkok menyamakan tingginya dengan Difa.

“Shilla Mutiara siapa yah?”tanya Difa datar.

“Shilla Mutiara? Darimana kamu tau nama itu?”

“jawab Difa dulu yah! Siapa Shilla?”

“Shilla itu mantan pacar ayah, emang kenapa?”

Difa menghentakkan kakinya setelah itu keluar dari kamar dan berlari.

Agni melihat Difa yang berlari keluar rumah mengejar putranya itu dengan susah payah.
“Difa”panggil Agni.

“biar aku, kamu jaga Dinda”perintah Cakka

Agni hanya mengangguk, sebenarnya ia bingung dengan semuanya. Kenapa Difa bersikap seperti itu? Kenapa Difa jadi tak seceria biasa?

***

“tante...”sapa Difa pada seorang wanita yang tengah sibuk menelpon.

Wanita itu berbalik, “Difa...”wanita itu memeluk Difa, sebut saja ia Shilla.

“ternyata benar...”ucap Difa lirih.

Shilla menyeringai, “sudahlah itu masa lalu, sekarang kamu tinggal sama Mama ya?”

Difa mengangguk, “iya... Ma..”ucap Difa agak ragu.

***

Difa Ryansyah Nuraga, anak sulung dari penyanyi Cakka Nuraga ternyata bukan anak dari istrinya yang sekarang, rumor itu beredar setelah Difa pergi dari kediaman Cakka dan sekarang tinggal bersama wanita yang katanya ibu kandung dari Difa.
“maaf ya, semuanya cukup jelas bukan? Anak ini... Difa. Memang berbeda dengan Cakka! Difa itu sangat berbakat dalam dance dan itu di turunkan dari saya! Kalian tau sendirikan Cakka Nuraga tidak pernah bisa Dance apalagi ibunya yang terlihat sangat alim”tutur Shilla
Shilla Mutiara, dia adalah wanita yang dulu pernah menjadi kekasih Cakka Nuraga, tapi apakah benar rumor itu? Entahlah... hanya waktu yang akan menjawabnya.

Agni yang melihat berita itu terus menangis, tak sanggup membendung air matanya. Ia sungguh sakit hati dengan penuturan wanita itu, sangat sakit hati!

Cakka merangkul pundak Agni, menarik istrinya itu kedalam pelukannya,“Ni, nanti kita jumpa pers! Kita lurusin semuanya! Dan kita harus bawa Difa pulang”ucap Cakka.

“ayah, bunda... kak Difa mana? Kenapa belum pulang juga?”tanya Dinda.

Agni menarik Dinda dan memeluknya erat.

Ponsel Cakka berdering.

“Jangan coba-coba lapor polisi kalau mau anak kamu selamat!”
“mau loe apa hah?!”
“aku? Aku gak bakalan lepasin anak kamu sampai kamu mau nikah sama aku, aku sayang banget sama kamu Cakka”
“gak! Gak mungkin!”
“yasudah, biarkan saja anakmu disini!”
“heh?! Jangan macam-macam”
“dadaaa sayang”

***

Cakka Nuraga dan Istrinya membantah perkataan Shilla, mantan kekasihnya dahulu. Kira-kira seperti apa bantahannya itu?
“begini ya, saya tau anak saya memang mungkin gak punya bakat dalam dunia tarik suara. Tapi itu bukan berarti dia bukan anak saya. Saya berani tes DNA atau apapun. Dan saya tegaskan tolong kembalikan anak saya! Sebelum saya melakukan tindakan lebih!”ucap Cakka dengan penekanan emosi.
“untuk siapapun, tolong... kembalikan anak saya... kalau ada masalah dengan kami tolong... saya mohon jangan membawa-bawa anak saya, anak saya tidak tau apa-apa”ucap Agni dengan mata yang berkaca-kaca.

Tok tok tok.

Shilla mendelik, siapa sih yang namu malam-malam begini?
“Difa”teriak Shilla

“DIFAA”teriak Shilla lagi semakin kencang.

“i.i..iya Ma”

“buka pintu”kata Shilla.

Perlahan Difa membuka pintu, “kak Bagas”

Ucap Difa pelan pada sosok pemuda yang harusnya di panggil om itu.
“sstt... kenapa kamu gak pulang?”

Difa menunduk, “Difa di ancam kak, Difa di ancam kalo Difa pulang, Bunda bakalan di celakain”

“Difa siapa?”tanya Shilla sambil mendekati Difa.

“hai... maaf saya mengganggu, tadi mobil saya mogok, dan air dalam legulatornya habis... saya berniat meminta air”jelas Bagas.

Shilla tersenyum ramah, “mari masuk”ajak Shilla.

Bagas mengedipkan sebelah matanya pada Difa, Difa tersenyum senang.

***

Kak, Difa... benar-benar menghawatrkan...

Agni mencelos begitu membaca pesan dari Bagas, mereka memang meminta Bagas mencari Difa karena selain Shilla tidak mengetahui Bagas yang sekarang, Bagas juga kini seorang polisi muda yang sangat tampan.

“Kka...”ucap lirih Agni, ia memanggil suaminya perlahan karena setelah jumpa pers itu Agni langsung drop.

Cakka memasuki kamanrya dengan tergesa karena mendengar suara istrinya yang sangat menghawatirkan.

“tenang sayang, Difa pasti selamat dengan Bagas”Cakka mengecup puncak kepala Agni.

Agni sesenggukan dalam pelukan Cakka, “tapi pesan itu...”

Cakka meraih ponselnya dari tangan Agni, setelah membaca pesan tersebut Cakka memejamkan matanya mencoba menahan emosi dan air matanya. Ia mengeratkan pelukannya pada Agni dan mengecupnya memberikan ketenangan.

***

Hari ini konser akbar yang telah di rencanakan, meski mereka masih mencari keberadaan Difa tapi mereka tetap harus melangsungkan konser ini karena terlanjur tanda tangan kontrak.
“Bunda, kau pahlawan hidupku, kau bagaikan lentera di hidupku yang gelap.
Bunda, Bunda... jangan menangis”ucap Dinda yang tak sesuai dengan isi puisi yang ia bacakan karena tak kuasa melihat sang bunda menangis tersedu.

“Dinda”ucap lirih Cakka yang berada di balik grand piano putih.

Dinda mengangguk menandakan ia siap dengan lagu terakhirnya. Dinda menghela nafas dalam.

Bunda cinta jangan menangis...
Do’amu menyinariku...
Ingat perjuangan diriku...
Cerminan dari cintamu yang indah...

Kau sabar menyayangiku...
Kau peluk kemarahanku...
Bunda sayang jadi senyumlah...
Demi bunda cintaku, ku kejar impianku...

Dinda berbalik melihat siapa yang melanjutkan alunan lagu itu, ia tersenyum dan memeluknya, dia... Difa. Kakaknya!

Atas nama cintamu
Ku akan meraih semua impian aku
Untuk bahagiakanmu huoo...

Atas nama cintamu
Ku akan menjadi yang terbaik untukmu
Ku cinta kamu bunda...

Atas nama cintamu
Kuakan menjadi yang terbaik untukmu
Bunda...
Ku cinta kamu Bunda...

Atas nama cintamu
Kukan jadi yang terbaik bunda...
Bunda...

Difa segera berlari ke arah Agni yang menyambutnya dengan merentangkan kedua tangannya.
“maafin Difa bunda... maaf udah buat bunda sakit”

Agni mengangguk pelan.

Perlahan tepuk tangan menggema di dalam ruangan itu, beberapa lebih tepatnya kebanyakan dari mereka menyeka air matanya terharu melihat keluarga itu.

Cakka menggandeng Dinda kemudian menunduk memberikan penghormatan kepada mereka.

***

“Difa ayo berangkat”kata Agni, semenjak Difa pulang Agni memang jadi sangat posesif pada Difa. Sampai Difa risih juga jika perhatian itu sangat berlebihan. Samapi-sampai ia kalau sekolah di tungguin dan kalau mau dance lagi ia juga di tungguin.

“bunda, Difa udah SMP masa di anterin terus?”Difa memajukan bibir mungilnya.

Agni menunduk, “bunda cuma takut kehilangan kamu lagi”

Agni beranjak memasuki rumahnya.

“hayoh... Difa tanggung jawab”gurau Cakka sambil berkacak pinggang.

Difa mengacak-acak rambutnya frustasi, “bunda... maaf... iya deh gapapa di anterin”

Agni dengan ceria berjalan ke arah anaknya, “beneran ya?”

Difa mengangguk ragu, Agni tersenyum puas.

Sementara Cakka tersenyum sambil mengelus kepala putri kesayangannya.
Tuhan benar-benar baik kepadanya memberikan segalanya terasa begitu sempurna dimata Cakka. Tak henti-hentinya Cakka mengucapkan kata Syukur dalam hati.

‘kalian memang anugerah terbaik, aku berjanji akan selalu menjaga kalian’

***

“Shilla... makan dulu yuk”

“Cakka mana Cakka? Aku mau Cakka... anakku? Anakku juga mana? Haahhhhh....”

“shilla makan dulu”

“aku mau Cakkaaaaaa”

***

~o The End o~

No comments:

Post a Comment