Seorang
pemuda yang di apit kedua orang tuanya duduk dengan santai dan terkesan cuek di
sebuah ruang tamu rumah yang bisa di bilang sangat mewah itu.
“nah, ini
Cakka Shad, dia putra kami yang pertama”seorang lelaki yang belum terlalu tua
mengenalkan anaknya.
“ganteng ya
Pa”sahut wanita di sebelah lelaki yang di panggil Shad itu, panggil aja Zahra.
Irshad,
mengangguk menyetujui ungkapan istrinya. “tapi... ada satu hal nih, Riko
Sivia”ucap Irshad
“apa?”tanya
Papa Cakka, Riko.
“putri kami
tidak seperti gadis lain”ungkap Irshad
Zahra
menghela nafas, “anak kami juga untuk sekarang tidak mau bertemu sama kalian,
terutama putra kalian”
Cakka
menatap aneh, “kalo gitu kayak beli kucing dalam karung dong”ucapnya malas
“Cakka! Kamu
gak boleh gitu”tegur Riko.
Cakka
melongos, “terserah deh”
Irshad dan
Zahra tersenyum, “kalau gak mau juga gapapa”ucap Irshad
“hah?! Cakka
mau kok”Sivia mengalihkan pandangan pada Cakka, “iyakan sayang?”tanya Sivia
agak meloto pada Cakka.
Cakka
mengangguk saja, meski tak pernah ada niat mengangguk.
Kalian mau
tau kenapa Cakka bersikap seperti itu?
Begini
ceritanya, Papanya Riko memaksanya untuk menikah dengan anak cliennya, kalian
tau untuk apa? Hahh... itu semua untuk kelancaran Papanya dalam berbisnis,
padahal ia seorang Penyanyi yang sangat di gandrungi wanita. Meski ia tak di
jodohkan seperti ini ia dapat dengan mudah mendapatkan wanita. Wanita yang
seperti apapun! Tapi ini? ya... sudahlah, mungkin ini takdir.
***
Cakka
merapihkan ramputnya yang memang selalu acak-acakan. Hari ini ia harus
menjemput adiknya pulang, kalian tau kenapa ia harus menjemput? Pasti kalian
tidak akan pernah percaya dengan alasan konyol ini. Mamanya tercinta, Sivia
Azizah yang menurutnya sangat parno, tidak mengijinkan adiknya itu pulang
sengan kendaraan umum, alasannya “kasian adik kamu” “gimana kalo di culik?”
“gimana kalo nyasar?” “gimana kalau uangnya abis” dan gimana-gimana yang
lainnya, dan assal kalian tau, padahal adiknya itu sudah SMP, dan adiknya itu
juga suka protes pada Cakka kalau ia di jemput.
Cakka keluar
dari mobil, menunggu adiknya di koridor setempat.
Seorang
gadis yang memakai gamis berwarna soft ungu dan kerudung besar berwarna senada
berjalan di koridor yang berbeda. Cakka tak berkedip melihat gadis itu yang
menurutnya sangat cantik dan berbeda.
Seseorang
mengibaskan tangan di depan wajah Cakka, “kak Cakka”
Cakka segera
berbalik karena kaget, “kok ngelamun, ayo pulang”ajak adiknya itu.
Cakka
menarik tangan adinya agar mundur, “apa sih kak?”
“gas, dia
siapa?”tanya Cakka menunjuk gadis tadi dengan dagu.
“Bu Agni,
udah ahh... ayo”adiknya itu, Bagas. Menarik tangan Cakka dengan sekuat
tenaganya.
Cakka dan
Bagas memasuki mobil Cakka, “ehh... siapa tadi namanya?”tanya Cakka memastikan.
Bagas menghela
nafas kesal, “Bu Agni kak Cakka... udah ahh... cepet jalan”
Cakka
menyeringai senang.
***
Cakka duduk
di sebuah cafe dengan wajah yang sangat terlihat senang, setelah satu minggu
yang lalu ia melihat gurunya Bagas ia jadi semangat untuk menjemput Bagas
sampai Sivia juga sangat heran dengan prilaku anaknya.
Seseorang
menepuk pundak Cakka, “Kka” Cakka merubah ekspresi wajahnya menjadi kusut.
Cakka
berbalik, “akhirnya kamu dateng”
Orang itu
tersenyum, “ada apa sih? Kok kayaknya sedih gitu?”
Cakka menghela
nafas panjang, “aku di jodohin Shill”
Orang itu,
Shilla kekasihnya Cakka “tapi kamu gak mau kan Kka?”
Cakka
menunduk, “maaf Shill kita putus aja, aku gak bisa bangkang orang tua aku”
Shilla
menatap Cakka tak terima, “tapi Kka, please perjuangin aku dong”
Cakka
menggeleng, “maaf Shill, aku gak sanggup bantah Papa”Cakka berlalu meninggalkan
Shilla begitu saja.
Shilla diam
di tempat tak bisa berkata apapun.
Cakka
menyeringai senang, akhirnya ia bisa bebas mendekati siapapun. Yuhuuu...
Sebenarnya
alasan utama Cakka memutuskan hubungan dengan pacarnya itu adalah bukan karena
perjodohan konyol itu, tapi demi niatnya untuk mendekati Agni, guru agama
Bagas.
***
Suara tepuk
tangan bergemuruh di lapangan itu, hari ini Cakka show off air di daerah Jakarta.
Cakka
melihat sekitar, “banyak banget wartawan”gumannya
“yaudahlah
cuek aja”gumannya lagi, setelah itu ia melenggang pergi dengan santainya.
Dugaannya
itu sangat tepat, tepat sekali.
Begitu Cakka
keluar dari backstage Cakka langsung di kerumuni wartawan yang menanyakan
prihal kandasnya hubungan Cakka.
“jadi begini
ya temen-temen semua, saya putus dengan dia itu mungkin udah takdir. Di antara
kami memang tidak ada masalah, tapi saya harus berpisah dengan dia dengan
alasan yang sangat privacy”jelas Cakka dengan tenang.
“lho? Kenapa
gitu?”tanya salah satu wartawan.
“maaf mas,
mbak, nanti lagi ya? saya harus menjemput adik saya dulu, terimakasih dan
selamat siang”pamit Cakka yang langsung memasuki mobilnya.
***
Bagas duduk
dengan gusar di parkiran, telah satu jam ia menunggu kakaknya yang tak kunjung
datang. Yang membuatnya kesal dan sangat membuatnya BAD MOOD! Tapi untung ada
Agni, guru favorit Bagas yang rela menemani Bagas hingga kakaknya datang
menjemput.
Sebuah mobil
Ferrari berwarna perak mendekat ke arah mereka.
“itu kakak
aku Bu”kata Bagas
Agni
berdiri, “yasudah, ibu tinggal ya”pamit Agni
Bagas
mengangguk.
Cakka keluar
dari mobilnya kemudian dengan segera menghampiri Bagas, “maaf ya, tadi di
wawancara dulu”kata Cakka
Bagas
mengangguk, “gapapa, padahal kalo lebih tadi Bagas di temenin sama Bu
Agni”pamer Bagas sambil nyeloyor memasuki mobil Cakka.
Mata Cakka
berbinar, ia segera memasuki mobilnya, “serius?”
Bagas
mengangguk pasti.
“kok gak
ngasih tau?”tanya Cakka agak kecewa.
“buat apa?
Udah ahh... yuk pulang”ajak Bagas.
Dengan
segera Cakkapun tancap gas karena sudah melihat ke galauan adiknya karena harus
menunggu begitu lama.
***
Riko dan
Sivia duduk berdua di ruang keluarga, sementara kedua putranya sibuk dengan
urusan masing-masing.
“tanyain deh
Pa, bener gak udah putus”desak Sivia pada Riko.
“Cakka
kemari”pinta Riko.
Cakka
mendekat dan duduk di hadapan Papanya, “apa Pa?”tanya Cakka
Riko menatap
Cakka serius, “kamu sudah putus dengan gadis itu?”
Cakka
mengangguk, “iya, emang kenapa?”
Riko
tersenyum puas, “bagus kalau kamu sudah mengerti sendiri, gak usah suruh
susah-susah”
Cakka
tersenyum masam “kalau bukan karena
gurunya Bagas, gue juga ogah putus”batin Cakka.
“yaudah Pa,
Ma, kalau ngomongnya udah, Cakka mau ke kamar dulu, mau tidur”Cakka berdiri
“yaudah,
istirahat yang cukup ya? besok malam kan kamu akan menikah”ujar Riko.
Cakka
membulatkan matanya. “nikah? Kok cepet banget Pa”
Riko menatap
Cakka aneh, “lho? Kan waktu itu kamu yang nyetujuin”
Cakka nampak
berfikir.
---
“pernikahannya
mau kapan Kka?”tanya Sivia. Mereka masih di rumah clien Papanya, menyiapkan
tanggal yang pas.
“terserah
aja”jawab Cakka seadanya, ia lebih senang menyibukan diri dengan fikirannya.
“tanggal
tiga belas bulan ini gimana?”saran Zahra
Sivia dan
Riko nampak berfikir, “satu mingguan lagi dong?”
Zahra
mengangguk pasti.
“menurut
kamu gimana Kka?”tanya Irshad
Cakka tak
mendengarkannya, ia masih sibuk berfikir.
Sivia
menyenggol lengan Cakka, “ehh... iya... om, Cakka setuju”
___
Cakka
merutuki dirinya, bagaimana bisa ia seceroboh itu? Hahhh... menyebalkan! Apa ia
harus kabur aja ya?
“jangan
coba-coba kabur lho Kka, kamu harus konsisten”ucap tegas Sivia
Mamanya ini
memang selalu tau jika Cakka memikirkan sesuatu, Cakka mendengus kesal. “iya Ma”
***
Hari ini
tepat hari pernikahan konyol Cakka dengan wanita yang belum terlihat jenisnya.
Cakka
mendesah kesal, bagaimana dia bisa menikah kalau calonnya aja belum pernah
ketemu sama sekali, wanita itu cuma mau keluar setelah ijab kabul. Dan yang paling
konyol adalah ia juga belum mengetahui nama gadis itu, haahh sungguh konyol.
“untuk
Ibunda dari mempelai laki-laki, silahkan melihat calon mempelai istri sebelum
ijab kabul”
Sivia
mengangguk, setelah itu mengikuti Zahra yang berjalan di depannya memberi
petunjuk.
“ini
kamarnya”kata Zahra
Sivia
membuka pintu, terlihat seorang gadis duduk di atas tempat tidur. Sivia
mendekatinya.
“boleh saya
buka?”tanya Sivia, karena gadis itu memang mengenakan kerudung dan memakai
penutup wajah –bukan cadar-.
Gadis itu
mengangguk memberi isyarat.
Terlihat
sekali gadis yang sangat cantik dengan make up yang sederhana, kesederhanaan
itulah yang membuatnya cantik.
Sivia
tersenyum puas, pilihannya memang tak pernah salah.
Setelah itu
Sivia berpamitan keluar dari kamar itu.
“gimana anak
saya?”tanya Zahra
“gak beda
sama kamu, sangat cantik”komentar Sivia
Cakka
melihat Sivia dengan tatapan penuh tanya, Sivia hanya membalas tatapan anaknya
itu dengan mengangguk dan bergumam, “cantik”
Cakka
menunduk, ia sungguh kesal.
“bagaimana
saudara Cakka? Siap?”
“siap”jawab
Cakka pasti.
“bagaimana
Pak? Mau di wakilkan atau mau bapak sendiri yang menikahkannya?”tanya penghulu
itu pada Irshad.
“biar saya
saja”kata Irshad, lalu menjabat tangan Cakka.
“ananda
Cakka Nuraga, saya nikahkan dan kawinkan anda dengan putri saya, Agni A’yun
Az-Zahra binti Fachrul Irshad, dengan maskawin seperangkat alat sholat dan
sebuah mushaf di bayar tunai”kata Cakka
Cakka
menghela nafas panjang, “saya terima nikah dan kawinnya Agni A’yun Az-Zahra
binti Fachrul Irshad dengan maskawin tersebut tunai”ucap Cakka lancar tanpa
cacad, Cakka juga agak kaget dengan ucapannya barusan, dengan sangat fasih ia
mengatakan itu, dan hanya dengan beberapa detik ia mendengar nama itu tapi
kenapa bisa selancar itu?
Sivia dan
Riko tersenyum penuh kesenangan.
“bagaimana?
Sah?”
“sah”seruan
orang-orang yang ada di sana.
“Kka”seseorang
menepuk pundak Cakka.
Cakka
menengok, ternyata Zahra yang menepuknya. “apa tante?”
Zahra
mengerutkan keningnya, “kok tante?”
Cakka tersenyum,
“ehh... ada apa Ma?”ralat Cakka.
“setelah ini
sudah tidak ada acara lagi, kalau kamu mau lihat istri kamu, dia ada di kamar
yang tadi mama kamu masuk”jelas Zahra
Cakka
mengangguk mengerti.
***
Cakka
memasuki kamar itu dengan wajah yang datar, ia sungguh belum siap.
“kamu istri
aku?”tanya Cakka.
Gadis itu
mengangguk. Cakka mendekati gadis itu, membuka kain yang menutupi wajahnya.
Cakka
tersenyum begitu melihat siapa wanita itu, “kamu gurunya Bagaskan?”
Gadis itu
Agni, tersenyum ke arah Cakka, meraih tangan pemuda itu dan mencium punggung
tangan itu.
Cakka
menarik gadis itu, kemudian mencium kening Agni lama.
“aku seneng
banget, gak nyangka ternyata gadis aneh itu kamu”
Agni
merengut, “kok aneh?”
Cakka
tersenyum, “enggak kok bukan apa-apa”Cakka menarik Agni kedalam pelukannya.
Cakka
mengecup puncak kepala Agni,“untung aku gak nolak”batin Cakka.
***
Dua keluarga
yang telah menjadi satu sedang merayakan kegembiraan mereka, betapa bahagianya
mereka telah melihat anak mereka telah bersatu.
“aku sampai
kaget Cakka bisa selancar itu”komentar Irshad.
“iya,
padahal dia belum tau nama anak saya”kata Zahra.
“iya, aku
juga was-was, takut salah. Kan malu juga kalo sampe salah”ungkap Sivia
“yaudahlah,
yang penting udah lancar, yang aku bingung gimana mereka sekarang ya? kan belum
saling kenal tuh”kata Riko menengahi.
“Cakka pasti
melting sendiri, Agnikan cantik banget Pa”kata Sivia.
Merekapun
terus melanjutkan perbincangan mengenai anak-anak mereka.
***
Cakka dan
Agni terlihat dengan hampir bersamaan mengucapkan salam, menengok ke kanan dan
ke kiri. Setelah itu Cakka menengadahkan tangannya, berdo’a.
“ya Allah,
semoga keluarga kami akan menjadi keluarga yang Sakinah, Mawaddah dan Warahmah,
semoga Engkau melindungi kami dari segala cobaan dan ujian, ingatkanlah selalu
kami akan Engkau ya Allah, jangan sampai kami melupakanmu...”begitulah
sepenggal do’a Cakka yang di amini oleh Agni, masih banyak do’a yang terucap
dari Cakka, do’a untuknya, istrinya, seluruh keluarganya dan seluruh umat
manusia.
Seusai
membaca do’a Cakka berbalik ke arah Agni, Agni meraih meraih tangan Cakka lalu
menciumnya, sementara Cakka mencium puncak kepala dan kening Agni agak lama.
“Kka, kamu
mau sekarang?”tanya Agni, begitu selesai merapihkan alat sholat tadi.
Cakka menatap
Agni, “duduk dulu”pinta Cakka sambil menepuk tempat tidur di sebelahnya.
Agni
menddekati Cakka dan duduk di tempat yang di tunjuk Cakka.
Cakka
membuka kerudung Agni, membelai rambut
panjang istrinya itu dengan lembut, “kamu cantik”
Agni
tersenyum, “alhamdulillah”
Cakka
mendekatkan wajahnya pada Agni, Agni memejamkan matanya menunggu.
***
Agni
menyiapkan sarapan untuk Cakka, sementara Cakka sedang bersiap-siap di kamarnya
untuk mengisi sebuah acara.
“Ni”panggil
Cakka
Agni
berbalik, “iya”
Kali ini
Agni tak secanggung biasanya, karena memang sudah cukup terbiasa. Memang, usia
pernikahan mereka baru satu bulan, tapi dengan cepat Cakka dan Agni dapat
menyesuaikan.
“mau ikut
gak?”tanya Cakka
Agni
tersenyum, “terserah kamu, aku ikutin kamu aja”
“kalau gitu
kamu ke sekolah aja ya? aku gak mau kamu di kerumunin wartawan lagi”Cakka duduk
di meja makan.
Agni
membereskan makanan dan memberi satu piring makanan untuk Cakka.
Agni
mengangguk, “iya, kamu makan aja dulu”
Cakka
mengangguk. Keduanya sarapan dalam diam, tak ada yang berkata satupun hingga
makanan dalam piring mereka masing-masing habis.
“aku tunggu
kamu di depan ya”kata Cakka, ia bergegas ke garasi untuk memanaskan mobilnya.
Sementara
Agni membereskan piring bekas makan tadi, namun entah kenapa perutnya sangat
mual, kepalanya juga sangat pusing.
***
Cakka
menunggu Agni di depan rumah dengan gusar, hampir dua puluh menit ia menunggu
tapi Agni tak kunjung datang, iapun memutuskan untuk menyusul Agni. Takut
istrinya terjadi apa-apa.
Cakka berjalan
ke arah dapur, “Ni”sahut Cakka
Cakka
melihat Agni yang membelakanginya, “Agni, kenapa?”
Cakka
mengecek suhu tubuh Agni, “gak panas kok”
Agni
berbali, memeluk pinggang Cakka mencari ketenangan, “aku hamil”
Mata Cakka
berbinar, “alhamdulillah... makasih sayang”Cakka memeluk Agni erat, ia mengecup
puncak kepala Agni dengan sayang.
***
Beberapa tahun kemudian...
“Difa Dinda,
gak boleh berantem terus, kaliankan udah gede”kata Agni, mencoba mengejar kedua
buah hatinya.
“Bunda, kak
Difa jahat jailin Dinda terus”rengek putrinya yang bernama Dinda A’yun Nuraga.
“Difa,
jangan gangguin adeknya dong”ucap Agni agak tegas.
Difa
menunduk, “ayaaahhhh”Difa mendekati Cakka dengan memelas, putra pertamanya Difa
Ryansyah Nuraga.
Cakka mengacak-acak
rambut Difa, “bilang sama Bunda jangan belain adek mulu dong”rajuk Difa.
Cakka
tersenyum, Agni mendekati Cakka berjongkok di depan Difa. “bunda gak belain
adek Dinda, Difakan kakaknya, Difa jangan gangguin adek Dinda terus”
Difa
menunduk.
“maafin
bunda ya”Agni memeluk Difa.
“maafin Difa
juga ya bunda”Difa memeluk leher Agni.
Dinda
mendekati Difa dan Cakka.
Cakka
melihat Dinda kemudian mengelus puncak kepala putrinya.
“duduk
sini”ajak Cakka, mengajak kedua anaknya duduk mengapit dirinya.
“Difa, Dinda,
dengerin ayah, kalian itukan kembar, kalian harusnya akur, jangan gitu mulu,
jangan jail-jailan lagi ya?”ucap Cakka
Difa dan
Dinda mengangguk, “iya ayah, Difa janji”ucap Difa.
“Dinda
juga”ucap Dinda.
“yaudah,
ayah mau latian dulu, ada yang mau ikut?”
“Dinda
ikut”kata Dinda.
Cakka
menatap Difa, “kamu gak mau ikut?”
Difa
menggeleng, “Difa mau latian dance ya Pa”
Cakka
mengangguk, anaknya yang satu ini memang berbeda, entah kenapa Difa malah minat
banget sama dance padahal antara Cakka dan Agni gak ada yang suka sama dance,
tapi anaknya? Hhh... benar-benar berbeda.
***
Difa
memasuki tempat latihan dance nya, Difa yang agak terlambat sedikit menautkan
alisnya.
“siapa
dia?”gumannya.
Seseorang
berdiri di samping Difa, “pelatih baru, galak. Aku gak suka”guman orang itu.
“masa sih
Nov?”tanya Difa tak percaya, orang itu sapa saja dengan nama Novi.
“hey
kalian... latian”perintah orang itu.
“eh... hai
kamu baru dateng ya?”tanya pelatih baru itu pada Difa.
Difa
menunduk,“err... iya... maaf”ucap Difa.
“gapapa, yuk
mulai latian”ajak orang itu.
Difa
mengangguk setuju, terlihat seringaian dari wajah cantik itu.
***
Cakka, Agni,
Difa dan Dinda duduk bersama di ruang keluarga. Setiap malam mereka memang
selalu menghabiskan waktu bersama, mendengarkan cerita-cerita kedua anaknya
yang tidak bisa di sebut balita lagi.
“ayah,
bunda, tadi di tempat latian ada pelatih baru lho, baik, cantik lagi”guman
Difa.
Agni
memicingkan pandangannya pada putra sulungnya, “kecil-kecil udah tau yang
cantik, siapa namanya?”
“namanya...
hehe Difa lupa nanya bun”Difa memamerkan deretan gigi rapihnya.
Cakka
mengacak-acak rambut putranya itu.
“oiya kak,
aku mau konser lho sama ayah, kakak mau ikutan gak?”ucap Dinda agak pamer.
“nyanyi?
Ogah! Difa gak bisa”tolak Difa.
Dinda merengut
kecewa mendengar penolakan kakaknya, “kok gitu? Acaranyakan emang buat kakak
sama Dinda”
Difa
menghela nafas, “nanti deh, Difa usahain kalo bisa”
Mata Dinda
berbinar, “beneran ya kak?”
Difa hanya
mengangguk pasrah.
***
Hari ini
Difa seperti biasa, latian dance. Tapi hari ini ia harus menghafal beberapa
lagu yang katanya buat konser itu. Haahh benar-benar membosankan.
“hai
Difa”sapa seseorang.
Difa
menoleh, “eh tante”
Yang di
sebut tante tersenyum,“lagi ngapain?”
“ngapalin
lagu, padahal jelas-jelas Difa gak bisa”rutuk Difa.
“oiya, nama
tante siapa? Difa sampe lupa nanya nama pelatih Difa sendiri”sambung Difa.
“nama tante,
Shilla”
Difa
tersenyum, “Shilla?”
Shilla
nampak merubah ekspresi wajahnya, “kamu mengingatkan tante pada seseorang”
Difa menatap
Shilla aneh, “siapa?”
“Cakka,
penyanyi itu”Shilla terlihat agak menerawang.
Difa
mengerutkan keningnya, “ayah? Ada hubungan apa tante sama ayah?”
Shilla
nampak membulatkan matanya, “jadi ka..kamu anaknya Cakka?”
Difa
mengangguk.
“anak...ku”
***
Difa menarik
Cakka menuju kamarnya, “ada apa sih Difa?”tanya Cakka sambil berjongkok
menyamakan tingginya dengan Difa.
“Shilla
Mutiara siapa yah?”tanya Difa datar.
“Shilla
Mutiara? Darimana kamu tau nama itu?”
“jawab Difa
dulu yah! Siapa Shilla?”
“Shilla itu
mantan pacar ayah, emang kenapa?”
Difa
menghentakkan kakinya setelah itu keluar dari kamar dan berlari.
Agni melihat
Difa yang berlari keluar rumah mengejar putranya itu dengan susah payah.
“Difa”panggil
Agni.
“biar aku,
kamu jaga Dinda”perintah Cakka
Agni hanya
mengangguk, sebenarnya ia bingung dengan semuanya. Kenapa Difa bersikap seperti
itu? Kenapa Difa jadi tak seceria biasa?
***
“tante...”sapa
Difa pada seorang wanita yang tengah sibuk menelpon.
Wanita itu
berbalik, “Difa...”wanita itu memeluk Difa, sebut saja ia Shilla.
“ternyata
benar...”ucap Difa lirih.
Shilla
menyeringai, “sudahlah itu masa lalu, sekarang kamu tinggal sama Mama ya?”
Difa
mengangguk, “iya... Ma..”ucap Difa agak ragu.
***
Difa Ryansyah Nuraga, anak sulung dari
penyanyi Cakka Nuraga ternyata bukan anak dari istrinya yang sekarang, rumor
itu beredar setelah Difa pergi dari kediaman Cakka dan sekarang tinggal bersama
wanita yang katanya ibu kandung dari Difa.
“maaf ya, semuanya cukup jelas bukan? Anak ini...
Difa. Memang berbeda dengan Cakka! Difa itu sangat berbakat dalam dance dan itu
di turunkan dari saya! Kalian tau sendirikan Cakka Nuraga tidak pernah bisa
Dance apalagi ibunya yang terlihat sangat alim”tutur Shilla
Shilla Mutiara, dia adalah wanita yang dulu
pernah menjadi kekasih Cakka Nuraga, tapi apakah benar rumor itu? Entahlah...
hanya waktu yang akan menjawabnya.
Agni yang
melihat berita itu terus menangis, tak sanggup membendung air matanya. Ia
sungguh sakit hati dengan penuturan wanita itu, sangat sakit hati!
Cakka
merangkul pundak Agni, menarik istrinya itu kedalam pelukannya,“Ni, nanti kita
jumpa pers! Kita lurusin semuanya! Dan kita harus bawa Difa pulang”ucap Cakka.
“ayah,
bunda... kak Difa mana? Kenapa belum pulang juga?”tanya Dinda.
Agni menarik
Dinda dan memeluknya erat.
Ponsel Cakka
berdering.
“Jangan
coba-coba lapor polisi kalau mau anak kamu selamat!”
“mau loe apa hah?!”
“aku?
Aku gak bakalan lepasin anak kamu sampai kamu mau nikah sama aku, aku sayang
banget sama kamu Cakka”
“gak! Gak mungkin!”
“yasudah,
biarkan saja anakmu disini!”
“heh?! Jangan macam-macam”
“dadaaa
sayang”
***
Cakka Nuraga dan Istrinya membantah
perkataan Shilla, mantan kekasihnya dahulu. Kira-kira seperti apa bantahannya
itu?
“begini ya, saya tau anak saya memang
mungkin gak punya bakat dalam dunia tarik suara. Tapi itu bukan berarti dia
bukan anak saya. Saya berani tes DNA atau apapun. Dan saya tegaskan tolong
kembalikan anak saya! Sebelum saya melakukan tindakan lebih!”ucap Cakka dengan
penekanan emosi.
“untuk siapapun, tolong... kembalikan anak
saya... kalau ada masalah dengan kami tolong... saya mohon jangan membawa-bawa
anak saya, anak saya tidak tau apa-apa”ucap Agni dengan mata yang berkaca-kaca.
Tok tok tok.
Shilla
mendelik, siapa sih yang namu malam-malam begini?
“Difa”teriak
Shilla
“DIFAA”teriak
Shilla lagi semakin kencang.
“i.i..iya
Ma”
“buka
pintu”kata Shilla.
Perlahan
Difa membuka pintu, “kak Bagas”
Ucap Difa
pelan pada sosok pemuda yang harusnya di panggil om itu.
“sstt...
kenapa kamu gak pulang?”
Difa
menunduk, “Difa di ancam kak, Difa di ancam kalo Difa pulang, Bunda bakalan di
celakain”
“Difa
siapa?”tanya Shilla sambil mendekati Difa.
“hai... maaf
saya mengganggu, tadi mobil saya mogok, dan air dalam legulatornya habis...
saya berniat meminta air”jelas Bagas.
Shilla
tersenyum ramah, “mari masuk”ajak Shilla.
Bagas
mengedipkan sebelah matanya pada Difa, Difa tersenyum senang.
***
Kak,
Difa... benar-benar menghawatrkan...
Agni
mencelos begitu membaca pesan dari Bagas, mereka memang meminta Bagas mencari
Difa karena selain Shilla tidak mengetahui Bagas yang sekarang, Bagas juga kini
seorang polisi muda yang sangat tampan.
“Kka...”ucap
lirih Agni, ia memanggil suaminya perlahan karena setelah jumpa pers itu Agni
langsung drop.
Cakka
memasuki kamanrya dengan tergesa karena mendengar suara istrinya yang sangat
menghawatirkan.
“tenang
sayang, Difa pasti selamat dengan Bagas”Cakka mengecup puncak kepala Agni.
Agni
sesenggukan dalam pelukan Cakka, “tapi pesan itu...”
Cakka meraih
ponselnya dari tangan Agni, setelah membaca pesan tersebut Cakka memejamkan
matanya mencoba menahan emosi dan air matanya. Ia mengeratkan pelukannya pada
Agni dan mengecupnya memberikan ketenangan.
***
Hari ini
konser akbar yang telah di rencanakan, meski mereka masih mencari keberadaan
Difa tapi mereka tetap harus melangsungkan konser ini karena terlanjur tanda
tangan kontrak.
“Bunda, kau
pahlawan hidupku, kau bagaikan lentera di hidupku yang gelap.
Bunda,
Bunda... jangan menangis”ucap Dinda yang tak sesuai dengan isi puisi yang ia
bacakan karena tak kuasa melihat sang bunda menangis tersedu.
“Dinda”ucap
lirih Cakka yang berada di balik grand piano putih.
Dinda
mengangguk menandakan ia siap dengan lagu terakhirnya. Dinda menghela nafas
dalam.
Bunda cinta jangan menangis...
Do’amu menyinariku...
Ingat perjuangan diriku...
Cerminan dari cintamu yang indah...
Kau sabar menyayangiku...
Kau peluk kemarahanku...
Bunda sayang jadi senyumlah...
Demi bunda cintaku, ku kejar impianku...
Dinda
berbalik melihat siapa yang melanjutkan alunan lagu itu, ia tersenyum dan
memeluknya, dia... Difa. Kakaknya!
Atas nama cintamu
Ku akan meraih semua impian aku
Untuk bahagiakanmu huoo...
Atas
nama cintamu
Ku
akan menjadi yang terbaik untukmu
Ku
cinta kamu bunda...
Atas nama cintamu
Kuakan menjadi yang terbaik untukmu
Bunda...
Ku cinta kamu Bunda...
Atas nama cintamu
Kukan jadi yang terbaik bunda...
Bunda...
Difa segera
berlari ke arah Agni yang menyambutnya dengan merentangkan kedua tangannya.
“maafin Difa
bunda... maaf udah buat bunda sakit”
Agni
mengangguk pelan.
Perlahan
tepuk tangan menggema di dalam ruangan itu, beberapa lebih tepatnya kebanyakan
dari mereka menyeka air matanya terharu melihat keluarga itu.
Cakka
menggandeng Dinda kemudian menunduk memberikan penghormatan kepada mereka.
***
“Difa ayo
berangkat”kata Agni, semenjak Difa pulang Agni memang jadi sangat posesif pada
Difa. Sampai Difa risih juga jika perhatian itu sangat berlebihan.
Samapi-sampai ia kalau sekolah di tungguin dan kalau mau dance lagi ia juga di
tungguin.
“bunda, Difa
udah SMP masa di anterin terus?”Difa memajukan bibir mungilnya.
Agni
menunduk, “bunda cuma takut kehilangan kamu lagi”
Agni
beranjak memasuki rumahnya.
“hayoh...
Difa tanggung jawab”gurau Cakka sambil berkacak pinggang.
Difa
mengacak-acak rambutnya frustasi, “bunda... maaf... iya deh gapapa di anterin”
Agni dengan
ceria berjalan ke arah anaknya, “beneran ya?”
Difa
mengangguk ragu, Agni tersenyum puas.
Sementara
Cakka tersenyum sambil mengelus kepala putri kesayangannya.
Tuhan
benar-benar baik kepadanya memberikan segalanya terasa begitu sempurna dimata
Cakka. Tak henti-hentinya Cakka mengucapkan kata Syukur dalam hati.
‘kalian memang anugerah terbaik, aku
berjanji akan selalu menjaga kalian’
***
“Shilla...
makan dulu yuk”
“Cakka mana
Cakka? Aku mau Cakka... anakku? Anakku juga mana? Haahhhhh....”
“shilla
makan dulu”
“aku mau
Cakkaaaaaa”
***
~o The End
o~
No comments:
Post a Comment