Seorang
gadis berkacamata itu tengah berkutat dengan buku Fisikanya. Gadis itu biasa di
sapa Agni, gadis sederhana yang bisa di bilang cerdas, satu hal yang tidak
melekat pada dirinya yaitu cupu. Kebanyakan dari orang menganggap kalu orang
yang cerdas dan pintar pasti berpenampilan cupu, gak gaul dan gak up to date lah. Namun berbeda dengan
Agni, justru ia sangat memperhatikan penampilannya.
“ehh gue ke toilet bentar ya”pamit Agni
kemudian berlalu.
***
Seseorang
berusaha naik ke atas tembok pembatas di belakang sekolah.
“gimana
turunnya?”tanyanya pada diri sendiri
“satu...
dua...”orang itu meloncat dan
BRUK
“aw,
duh”rintihnya kemudian berdiri dan membersihkan pakaiannya.
“heh,
ngapain loe? Maling ya”teriak Agni yang baru keluar dari toilet.
“enak aja
loe!”kata orang itu
“dasar C10H21
(arti: dekil –termasuk golongan alkil
dalam hidrokarbon-)”kata Agni karena melihat baju orang itu yang cukup
kotor.
“apa?”tanya
orang itu
“ya elo, loe
itu C10H21”kata Agni seenaknya.
“maksud
loe?”tanya orang itu agak geram
Agni malah
meloyor pergi tanpa mempedulikan orang itu.
“eh”Agni
merasakan ada yang menarik tangannya.
‘menarik
juga’batin orang itu sambil menatap Agni yang sedang berusaha melepaskan
tangannya.
“emang gue
magnet narik-narik loe”kata Agni, ya... terkadang Agni bisa membaca fikiran
orang yang sedang menatapnya intens seperti itu.
Orang itu
menatap Agni semakin intens lalu memeluk pinggang Agni.
“loe kutub
Utara, gue Selatannya”kata orang itu tanpa malu karena fikirannya dapat di baca
Agni.
“lepas gak,
ihh... siapa sih loe?”kata Agni sambil berusaha melepaskan diri dengan memukili
dada orang itu.
“nama gue
Cakka, anak baru disini”ucapnya
“gak
nanya”kata Agni sambil menginjak kaki orang itu yang bernama Cakka kemudian
menjauhinya.
“dasar
nyamuk!”desis Agni
Sementara
Cakka kesakitan sambil memegangi kakinya. “manis juga”gumannya
“tapi dia
bisa baca fikiran, gak suka gue”gumannya.
***
“ini tugas
dari bu Dila, tulis soalnya. Tentukan suhu permukaan matahari apabila panjang
maksimunnya 500nm (cahaya biru kehijauan) anggap bahwa puncak kepekaan mata
manisia terjadi pada kira-kira gelombang tersebut”kata Agni.
“gak ada
kerjaan banget ngitung suhu permukaan matahari?”guman Cakka yang ternyata satu
kelas dengan Agni.
“heh loe! C10H21,
bisa gak gak usah komen? Kerjain aja napa sih”kata Agni agak membentak, ia
paling tidak suka jika ada yang menyepelekan pelajaran.
“apa Ni? C10H21?
Haha”tanya Ify kemudian tertawa puas, yang lainpun ikut tertawa.
“emang
pantes dia di sebut gitu, nyamuk C10H21”kata Agni
kemudian duduk di bangkunya.
“apa sih
maksud loe?”tanya Cakka tepat di depan Agni
“apa loe?
Gak suka?”tanya Agni menantang.
“gue bilang
loe nyamuk C10H21 kenapa? Gak terima? Loe kan emang cowok
tukang nyosor tanpa kasih tau! Kayak nyamuk dan loe itu C10H21!
Alias DEKIL De E Ka I eL”kata Agni sambil menunjuk tepat di wajah Cakka.
Seluruh
murid yang ada di kelas itu memperhatikan Agni dan Cakka tanpe terkecuali.
Cakka
menurunkan tangan Agni kemudian menatapnya dalam, sambil tersenyum miring.
“loe cantik
kalo lagi marah-marah”ucap Cakka sambil mengelus pipi Agni kemudian berlalu.
Agni yang
merasa malu karena di perlakukan seperti itupun hanya menunduk kemudian duduk
kembali.
***
Sudah
mencapai satu minggu Cakka bersekolah disana, dan hari-harinya tak luput dari
mengerjai Agni.
Kemarin
adalah hari yang cukup melelahkan Agni, pasalnya setelah pulang sekolah ia
harus mengikuti seminar yang di tugaskan oleh Rio, mantan Ketua Osis sekaligus
fatner penelitiannya yang kata gadis-gadis di sekolahnya Perfect. Banyak sekali yang selalu menjodohkan mereka, namun
mereka hanya anteng-anteng saja mengahdapinya.
Dari arah
berlawanan Cakka menatap Agni, memperhatikan gadis itu. Ia tersenyum misterius
dalam fikirannya ia akan menjahili Agni lagi, namun sebelum ia berada di dekat
Agni seorang laki-laki sudah
mendekatinya terlebih dahulu.
“hai Ni”sapa
laki- laki itu yang tak lain adalah Rio.
“ehh... hai
Io'”sapa Agni kembali
“seminar
kemarin gimana? Sorry ya kemaren aku bener-bener gak bisa”tanya dan pinta Rio sambil berjalan
beriringan.
“biasa aja,
iya gapapa kok”kata Agni sambil tersenyum ke arah Rio.
Rio membalas
senyumannya. “Gak salah banyak orang yang
suka sama Rio, dia itu baik, ganteng, pinter lagi, perfect deh, tapi...
mendingan yang kemaren, dewasa banget”fikir Agni sambil senyum-senyum.
Rio menatap
Agni kemudian tersenyum lagi.
“udah sampe
kelas kamu, aku ke kelas aku dulu ya”pamit Rio kemudian tersenyum
Agni hanya
menganggukan kepalanya.
“eciee...
sama si ketua”sorak Ify yang sudah menyambutnya di dalam kelas.
“apaan
sih?”kata Agni kemudian duduk.
“si dekil
kenapa? Tumben gak jail”guman Agni.
Ify yang mendengarnya
hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Bel sangat
nyaring terdengar, tanda pelajaran akan segera di mulai.
***
Sepulang
sekolah Cakka nampak tak bergairah, ia terus memetik senar gitarnya dengan asal.
“Kka, kenapa
sih? Kacau banget tau gak permainan loe! Gimana mau menang coba?”tanya Elang,
Kakak sulungnya.
Yups, Cakka
sebenarnya hendak mengikuti sebuah perlombaan di bidang musik, ia akan menjadi
perwakilannya. Gak tau siapa yang tau akan bakatnya, yang jelas ia mengetahui
hal itu dari guru Kesenian.
“gue gak
bisa Mas”ucap Cakka.
“kenapa? Loe
harus bisa”kata Elang menyemangati.
Cakka
membalas tatapan Kakaknya yang menatapnya tajam kemudian mengangguk.
“ehh
Kka”ucap Elang tiba-tiba
Cakka
menatap Elang seakan bertanya, ‘apa?’
“yang
perwakilan seminar dari sekolah loe pinter juga”guman Elang, “gue
suka”lanjutnya
Cakka
menatap Elang tak percaya, apakah yang di maksud kakaknya ini adalah Agni? Oh
NO! Jangan sampe deh ya...
***
Agni
berbaring di tempat tidurnya dengan terus saja tersenyum membayangkan lelaki
yang kemarin, belum sempet kenalan sih tapi cakep banget deh.
“ngapain loe
senyum-senyum de?”tanya seorang pemuda.
Agni yang
kaget tiba-tiba duduk dan memukuli lengan pemuda itu.
“kak Mikha
apaan sih ngagetin tau”rengek Agni
Kakaknya itu
kerap di sapa Mikha, cowok super jenius yang memang sangat tampan, dan karena
ketampanannya itulah jadi banyak wanita yang menyukainya.
“lagian loe
aneh deh, gak biasanya”ucap Mikha
Tok tok tok
“den Mikha
ada temennya di luar”ucap Bi Inah.
“iya bi,
makasih”ucap Mikha
Mikha
berdiri, “loe jangan senyum-senyum terus, entar ada yang bilang gue punya adek
gila lagi, malu tau”ia berlalu dari hadapan Agni.
Namun
melihat Agni yang siap menyerang ia dengan bantar ia segera berlari keluar
kamar adiknya itu.
“kakak
ihh”Agni yang geram terus mengejar kakaknya sampai ke ruang tamu, dan seperti
yang di bilah Bi Inah tadi, disana ada tamu.
“Elang”sapa
Mikha
“hey,
kamu... yang seminar kemaren ya?”ucap tamu itu, Elang. Sambil menunjuk Agni.
Agni
terlihat gugup, dia lirik ke kanan-kiri lalu mengangguk ragu.
“pantes ya
kamu pinter, ternyata adeknya Mikha”puji Elang
“ehh...
duduk lagi El, heh! Ngapain ngejogrog di situ? Ambil minum gih”kata Mikha pada
Agni
Agni melotot
garang, ini kakaknya nurunin drajat banget sih di depan cowok! Dengan terus
merutuk Agni mengambilkan minumannya.
“namanya
Agni”kata Mikha membaca gerak-gerik Elang yang terus menatap Agni hingga
menghilang di pintu dapur, nampaknya ia menyukai adiknya itu.
“boleh ya
gue pacarin adek loe...”ucap Elang
Mikha menatap
aneh, “terserah Agni aja”
***
Agni menatap
Cakka yang tidak seperti biasanya, pemuda itu seperti sedang ada masalah.
“kenapa
Kka?”tanya Agni duduk di samping Cakka.
Cakka
menatap Agni dan tersenyum jahil.
“ternyata
diem-diem loe peduli juga ya sama gue”ucap Cakka menggoda.
Agni
melongos, ternyata perbuatannya salah.
“gak usah
geer deh ya”Agni berdiri hendak berlalu, namun pergelangan tangannya di tahan
Cakka.
Agni
berbalik, menatap Cakka.
“gue bisa
ngomong bentar gak sama loe?”pinta Cakka
“silahkan”Agni
tetap berdiri.
“nanti
siang, gue ajak loe ke suatu tempat”ujar Cakka
Agni menatap
curiga, “kemana? Awas ya, loe jangan macem-macem sama gue”ancam Agni
Cakka
meneringai, “gak mecem-macem kok, paling satu macem”
Agni
membulatkan matanya, “yaudah! Gak mau!”Agni menghentakan kakinya.
Cakka duduk
di meja, meraih tangan Agni mengelusnya penuh kasih sayang.
“gue gak
bakalan ngapa-ngapain kok”
Agni menatap
Cakka tak berkedip, kemudian mengangguk.
***
Agni duduk
berhadapan dengan Cakka, Cakka menggenggam dua ekor merpati putih yang sangat
cantik.
“gue tau Ni,
loe tukang analogiin sesuatu, gue rasa loe sangat suka dengan analogi”Cakka
menghela nafas panjang.
Agni menatap
Cakka menunggu kelanjutannya, kali ini Agni gak bisa membaca fikiran Cakka,
karena Cakka fokus menatap merpati itu.
Cakka
memberikan satu merpati itu pada Agni, “diem disini”
Agni
mengangguk, Cakka nampak menjauh dan terus menjauh. “mau kemana?”teriak Agni
Cakka
mengisyaratkan agar Agni tetap di tempat. Agni hanya mengangguk.
Dari
kejauhan Cakka melepas merpati yang ada di tangannya dan secara otomatis
merpati itu terbang ke arah Agni dan hinggap di tangan Agni yang memegangi
merpati, yang tak lain adalah pasangannya.
Cakka
tersenyum menatap Agni yang terlihat bingung karena pandangannya tak lepas dari
pasangan merpati itu.
“Ni, loe
taukan merpati itu setia sama pasangannya?”tanya Cakka
Agni
berpaling ke arah Cakka, “iya tau”Agni mengembalikan merpati itu pada Cakka.
Cakka
mengelus rambut Agni, “gue ibaratin itu gue sama loe Ni”
Agni
membalas tatapan Cakka, “gue suka sama loe, bahkan mungkin gue sayang sama
loe”ujar Cakka
Agni
tersenyum, “merpati untuk setia itu membutuhkan latihan, begitu juga loe”Agni
menepuk pundak Cakka dan berlalu tanpa mempedulikan Cakka yang masih mematung.
***
Esoknya, tak
ada perubahan dari Cakka maupun Agni, keduanya tetap akrab, saling ledek dan
Cakka tetap jahil pada Agni.
“loe tuh ya,
jail banget sih”Agni merapihkan rambut yang kuncirannya di tarik oleh Cakka.
“Cakka loe
di panggil Pak Duta tuh”kata seseorang.
Cakka
menengok, “oh... oke”
Agni menatap
Cakka aneh, “ada masalah apa loe sampe di panggil?”tanya Agni.
“gue jadi
perwakilan buat lomba musik antar sekolah”ujar Cakka dan berlalu.
Tapi Cakka
berbalik lagi, “kenapa?”tanya Agni
“gak ngasih
semangat loe?”tanya balik Cakka.
Agni tertawa
renyah, “dasar loe, iya gue semangatin loe kok, semangat, hamasah, ganbatte”
Cakka
tertawa mendengar penuturan Agni, gadis itu membuatnya merasa punya semangat
lagi.
***
Agni
berjalan di koridor, Cakka lama banget ketemu Pak Dutanya, istirahat 15
menitpun berlalu begitu saja.
“aku kangen
banget sama kamu”ucap seseorang.
Agni mundur
beberapa langkah, karena suara itu dari arah tikungan lorong di jalan ke tempat
kepala sekolah.
“aku
juga”ucap pemuda itu dingin, dan Agni tau itu suara siapa. Gak salah lagi, itu
Cakka! Apakah merpati bisa berhianat?
***
Hari ini
perlombaan berlangsung, selama persiapan dan sampai sekarang Agni tak pernah
merubah sikapnya terhadap Cakka. Cakka yang ‘mungkin’ tak menyadari itu juga
bersikap biasa saja meski terkadang ada rasa bersalah karena ia beberapa kali
jalan bersama orang lain. Dan tanpa sepengetahuan Cakka juga, Agni berjalan
dengan pemuda lain di belakang Cakka, namun Agni tak pernah ada niat sedikitpun
untuk melukai siapapun, ia jalan dengan pemuda lain juga karena kakaknya juga,
kakaknya selalu mengajak dirinya untuk sekedar nonton, makan bersama temannya,
dan itu gak berdua. Ingat! Gak berdua. Okey...
Cakka
menenteng gitarnya,“Ni, ini waktunya gue tampil, do’ain ya”ucap Cakka.
Agni
tersenyum, “pasti, semangat ya”ucap Agni.
Agni
berjalan ke area penonton, ia ingin melihat penampilan Cakka. Lagunyapun Cakka
rahasiakan dari Agni, jadilah ia sangat penasaran dengan lagu yang akan di
bawakan Cakka.
Bagai malam tanpa bintang
Cintaku tanpa sambutmu
Bagai panas tanpa hujan
Jiwaku berbisik lirih
Kuharus memilikimu
Reff:Aku bisa membuatmu
Jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta kepadaku beri sedikit waktu
Biar cinta datang karena telah terbiasa
Simpan mawar yang kuberi
Mungkin wanginya mengilhami
Sudikah dirimu untuk kenali aku dulu
Sebelum kau ludahi aku
Sebelum kau robek hatiku
(Dewa19 – Risalah
Hati)
Agni
tersenyum samar dari arah penonton, lagu itu untuk siapa? Untuknya atau...
“Ni”
Agni
berbalik, “kak Elang”
Elang
tersenyum, “sendiri aja?”
Agni
mengangguk tanpa menatap Elang.
“oiya kak,
aku ke backstage dulu ya sebentar, kakak tunggu di sini”pesan Agni.
***
Cakka turun
dari atas panggung dan di backstage telah di tunggu seorang wanita.
Wanita itu
tersenyum, “bagus banget Kka”ucapnya
Cakka
tersenyum, “makasih”
Wanita itu
memeluk Cakka, membenamkan wajahnya di dada Cakka, “aku sayang banget sama kamu
Kka”ujar wanita itu.
Cakka tak
berkata apapun, ia hanya mengelus puncak kepala Agni dengan lembut.
Tak lama,
Cakka mengurai pelukannya, ia harus bicara dengan Agni.
“kak Sean,
aku permisi dulu”
Wanita itu
tak berusaha menatap Cakka, ia sadar atas kesalahannya. Jadi, mungkin Cakka
memang sudah menemukan kebahagiaanya lagi.
***
Agni menatap
pantulannya di cermin, benar-benar berantakan sekali. Meski ia rasa tubuhnya
telah segar tapi wajahnya tetap saja kusut.
Ponsel Agni berdering.
Agni menatap
ponselnya dengan malas, matanya sembab dan kepalanya sangat pusing.
Ternyata sebuah
pesan, bukan sebuah tapi banyak pesan yang sejak semalam pemuda itu kirimkan
untuk Agni.
Gue mau
bicara sama loe Ni, gue udah ada di depan rumah loe.
Agni berjalan
ke arah jendela, disana memang ada Cakka, tapi ia hanya berdiri di luar gerbang
rumahnya.
“Agni”panggil
Mikha
Agni berbalik,
“ada Elang”
Agni tersenyum,
“iya” Agni mengikuti kakaknya.
“El, gue
tinggal duluan ya, ada penting”pamit Mikha.
Elang mengangguk,
“siip”
“tunggu
bentar ya kak, aku kedepan dulu ada temen”kata Agni
“iya”
Setelah ada
persetujuan dari Elang Agni langsung melesat keluar.
***
Cakka berbalik
melihat ada yang keluar dari rumah itu, ternyata bukan Agni tapi seorang pemuda
yang mungkin kakaknya, pikir Cakka.
Tak lama
setelah itu Agni keluar, menghampiri dirinya.
Cakka menarik
lengan Agni, “Ni, yuk”ajak Cakka.
Agni mengurai
tangan Cakka, “gue gak bisa”
Cakka menatap
Agni, “kenapa?”
Agni menggeleng,
“gue gak bisa”Agni menahan butiran air mata dengan menengadah, jika mengingat Cakka,
ia juga ingat kejadian tadi malam. Bilang sayang tapi malah pelukan sama cewek
lain. Apakah itu yang dinamakan setianya merpati?
“gue sayang
sama loe Ni, gue janji gak bakalan sakitin loe dan khianatin loe, guekan udah
janji bakalan kayak merpati yang setia pada pasangannya”ujar Cakka.
“Ni, Agni”seseorang
dari dalam rumah memanggil Agni dengan nada khawatir.
Agni tau
siapa itu, tapi Agni malah menatap Cakka tajam, “merpati emang setia tapi kalau
di latih buat mencintai betina yang lain merpatipun bisa menghianati betinanya
yang dulu. Satu hal yang harus loe tau, ELANG gak kalah setia sama pasangannya!
Bahkan sampai akhir hayat ELANG akan setia pada pasangannya”Agni berlalu
setelah mengatakan itu.
Sementara Cakka
terpaku di tempat mencoba mencerna apa yang Agni ucapkan. Tak sampai beberapa
lama, Cakka melihat sebuah mobil yang sangat familiar baginya, dan gak salah
itu... itu mobil Elang. Kakaknya!
***
Malam itu Agni
berjalan ke arah backstage dengan wajah yang riang, namun wajahnya berubah
ketika melihat Cakka memeluk gadis yang waktu itu di koridor sekolah. Agni melihat
itu sangat jelas!
Agni berlari
ke arah Elang yang setia menunggu di kerumunan penonton.
“kenapa?”tanya
Elang melihat perubahan Agni.
Agni menarik
tangan Elang, “pulang”rengek Agni, menahan tangis.
Elang yang
mendengar rengekan itu seketika membawa Agni segera kedalam mobilnya, lalu
memeluk Agni, karena kakaknya bilang kalau Agni kecewa, atau sedih, Agni akan
sangat lemah.
“jangan
nangis Ni, aku gak pernah sanggup liat orang yang aku sayangin nangis gini”Elang
mengecup puncak kepala Agni.
Agni menengadah,
kemudian tersenyum “makasih kak”
***
THE
END
No comments:
Post a Comment