Sunday, 24 February 2013

Miss. A (Cakka Agni Short Story)


Seorang gadis berkacamata itu tengah berkutat dengan buku Fisikanya. Gadis itu biasa di sapa Agni, gadis sederhana yang bisa di bilang cerdas, satu hal yang tidak melekat pada dirinya yaitu cupu. Kebanyakan dari orang menganggap kalu orang yang cerdas dan pintar pasti berpenampilan cupu, gak gaul dan gak up to date lah. Namun berbeda dengan Agni, justru ia sangat memperhatikan penampilannya.

 “ehh gue ke toilet bentar ya”pamit Agni kemudian berlalu.


***


Seseorang berusaha naik ke atas tembok pembatas di belakang sekolah.
“gimana turunnya?”tanyanya pada diri sendiri
“satu... dua...”orang itu meloncat dan

BRUK

“aw, duh”rintihnya kemudian berdiri dan membersihkan pakaiannya.
“heh, ngapain loe? Maling ya”teriak Agni yang baru keluar dari toilet.
“enak aja loe!”kata orang itu
“dasar C10H21 (arti: dekil –termasuk golongan alkil dalam hidrokarbon-)”kata Agni karena melihat baju orang itu yang cukup kotor.
“apa?”tanya orang itu
“ya elo, loe itu C10H21”kata Agni seenaknya.
“maksud loe?”tanya orang itu agak geram

Agni malah meloyor pergi tanpa mempedulikan orang itu.
“eh”Agni merasakan ada yang menarik tangannya.
‘menarik juga’batin orang itu sambil menatap Agni yang sedang berusaha melepaskan tangannya.
“emang gue magnet narik-narik loe”kata Agni, ya... terkadang Agni bisa membaca fikiran orang yang sedang menatapnya intens seperti itu.

Orang itu menatap Agni semakin intens lalu memeluk pinggang Agni.
“loe kutub Utara, gue Selatannya”kata orang itu tanpa malu karena fikirannya dapat di baca Agni.
“lepas gak, ihh... siapa sih loe?”kata Agni sambil berusaha melepaskan diri dengan memukili dada orang itu.
“nama gue Cakka, anak baru disini”ucapnya
“gak nanya”kata Agni sambil menginjak kaki orang itu yang bernama Cakka kemudian menjauhinya.
“dasar nyamuk!”desis Agni

Sementara Cakka kesakitan sambil memegangi kakinya. “manis juga”gumannya
“tapi dia bisa baca fikiran, gak suka gue”gumannya.


***


“ini tugas dari bu Dila, tulis soalnya. Tentukan suhu permukaan matahari apabila panjang maksimunnya 500nm (cahaya biru kehijauan) anggap bahwa puncak kepekaan mata manisia terjadi pada kira-kira gelombang tersebut”kata Agni.
“gak ada kerjaan banget ngitung suhu permukaan matahari?”guman Cakka yang ternyata satu kelas dengan Agni.
“heh loe! C10H21, bisa gak gak usah komen? Kerjain aja napa sih”kata Agni agak membentak, ia paling tidak suka jika ada yang menyepelekan pelajaran.
“apa Ni? C10H21? Haha”tanya Ify kemudian tertawa puas, yang lainpun ikut tertawa.
“emang pantes dia di sebut gitu, nyamuk C10H21”kata Agni kemudian duduk di bangkunya.
“apa sih maksud loe?”tanya Cakka tepat di depan Agni
“apa loe? Gak suka?”tanya Agni menantang.
“gue bilang loe nyamuk C10H21 kenapa? Gak terima? Loe kan emang cowok tukang nyosor tanpa kasih tau! Kayak nyamuk dan loe itu C10H21! Alias DEKIL De E Ka I eL”kata Agni sambil menunjuk tepat di wajah Cakka.
Seluruh murid yang ada di kelas itu memperhatikan Agni dan Cakka tanpe terkecuali.

Cakka menurunkan tangan Agni kemudian menatapnya dalam, sambil tersenyum miring.
“loe cantik kalo lagi marah-marah”ucap Cakka sambil mengelus pipi Agni kemudian berlalu.

Agni yang merasa malu karena di perlakukan seperti itupun hanya menunduk kemudian duduk kembali.


***

Sudah mencapai satu minggu Cakka bersekolah disana, dan hari-harinya tak luput dari mengerjai Agni.


Kemarin adalah hari yang cukup melelahkan Agni, pasalnya setelah pulang sekolah ia harus mengikuti seminar yang di tugaskan oleh Rio, mantan Ketua Osis sekaligus fatner penelitiannya yang kata gadis-gadis di sekolahnya Perfect. Banyak  sekali yang selalu menjodohkan mereka, namun mereka hanya anteng-anteng saja mengahdapinya.

Dari arah berlawanan Cakka menatap Agni, memperhatikan gadis itu. Ia tersenyum misterius dalam fikirannya ia akan menjahili Agni lagi, namun sebelum ia berada di dekat Agni  seorang laki-laki sudah mendekatinya terlebih dahulu.

“hai Ni”sapa laki- laki itu yang tak lain adalah Rio.
“ehh... hai Io'”sapa Agni kembali
“seminar kemarin gimana? Sorry ya kemaren aku bener-bener gak  bisa”tanya dan pinta Rio sambil berjalan beriringan.
“biasa aja, iya gapapa kok”kata Agni sambil tersenyum ke arah Rio.
Rio membalas senyumannya. “Gak salah banyak orang yang suka sama Rio, dia itu baik, ganteng, pinter lagi, perfect deh, tapi... mendingan yang kemaren, dewasa banget”fikir Agni sambil senyum-senyum.
Rio menatap Agni kemudian tersenyum lagi.
“udah sampe kelas kamu, aku ke kelas aku dulu ya”pamit Rio kemudian tersenyum
Agni hanya menganggukan kepalanya.

“eciee... sama si ketua”sorak Ify yang sudah menyambutnya di dalam kelas.
“apaan sih?”kata Agni kemudian duduk.
“si dekil kenapa? Tumben gak jail”guman Agni.

Ify yang mendengarnya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Bel sangat nyaring terdengar, tanda pelajaran akan segera di mulai.


***


Sepulang sekolah Cakka nampak tak bergairah, ia terus memetik senar gitarnya dengan asal.
“Kka, kenapa sih? Kacau banget tau gak permainan loe! Gimana mau menang coba?”tanya Elang, Kakak sulungnya.

Yups, Cakka sebenarnya hendak mengikuti sebuah perlombaan di bidang musik, ia akan menjadi perwakilannya. Gak tau siapa yang tau akan bakatnya, yang jelas ia mengetahui hal itu dari guru Kesenian.

“gue gak bisa Mas”ucap Cakka.
“kenapa? Loe harus bisa”kata Elang menyemangati.

Cakka membalas tatapan Kakaknya yang menatapnya tajam kemudian mengangguk.

“ehh Kka”ucap Elang tiba-tiba

Cakka menatap Elang seakan bertanya, ‘apa?’

“yang perwakilan seminar dari sekolah loe pinter juga”guman Elang, “gue suka”lanjutnya

Cakka menatap Elang tak percaya, apakah yang di maksud kakaknya ini adalah Agni? Oh NO! Jangan sampe deh ya...


***


Agni berbaring di tempat tidurnya dengan terus saja tersenyum membayangkan lelaki yang kemarin, belum sempet kenalan sih tapi cakep banget deh.
“ngapain loe senyum-senyum de?”tanya seorang pemuda.

Agni yang kaget tiba-tiba duduk dan memukuli lengan pemuda itu.
“kak Mikha apaan sih ngagetin tau”rengek Agni

Kakaknya itu kerap di sapa Mikha, cowok super jenius yang memang sangat tampan, dan karena ketampanannya itulah jadi banyak wanita yang menyukainya.
“lagian loe aneh deh, gak biasanya”ucap Mikha

Tok tok tok

“den Mikha ada temennya di luar”ucap Bi Inah.

“iya bi, makasih”ucap Mikha

Mikha berdiri, “loe jangan senyum-senyum terus, entar ada yang bilang gue punya adek gila lagi, malu tau”ia berlalu dari hadapan Agni.

Namun melihat Agni yang siap menyerang ia dengan bantar ia segera berlari keluar kamar adiknya itu.
“kakak ihh”Agni yang geram terus mengejar kakaknya sampai ke ruang tamu, dan seperti yang di bilah Bi Inah tadi, disana ada tamu.

“Elang”sapa Mikha

“hey, kamu... yang seminar kemaren ya?”ucap tamu itu, Elang. Sambil menunjuk Agni.

Agni terlihat gugup, dia lirik ke kanan-kiri lalu mengangguk ragu.
“pantes ya kamu pinter, ternyata adeknya Mikha”puji Elang

“ehh... duduk lagi El, heh! Ngapain ngejogrog di situ? Ambil minum gih”kata Mikha pada Agni

Agni melotot garang, ini kakaknya nurunin drajat banget sih di depan cowok! Dengan terus merutuk Agni mengambilkan minumannya.

“namanya Agni”kata Mikha membaca gerak-gerik Elang yang terus menatap Agni hingga menghilang di pintu dapur, nampaknya ia menyukai adiknya itu.

“boleh ya gue pacarin adek loe...”ucap Elang

Mikha menatap aneh, “terserah Agni aja”


***


Agni menatap Cakka yang tidak seperti biasanya, pemuda itu seperti sedang ada masalah.
“kenapa Kka?”tanya Agni duduk di samping Cakka.

Cakka menatap Agni dan tersenyum jahil.
“ternyata diem-diem loe peduli juga ya sama gue”ucap Cakka menggoda.

Agni melongos, ternyata perbuatannya salah.
“gak usah geer deh ya”Agni berdiri hendak berlalu, namun pergelangan tangannya di tahan Cakka.

Agni berbalik, menatap Cakka.
“gue bisa ngomong bentar gak sama loe?”pinta Cakka
“silahkan”Agni tetap berdiri.

“nanti siang, gue ajak loe ke suatu tempat”ujar Cakka

Agni menatap curiga, “kemana? Awas ya, loe jangan macem-macem sama gue”ancam Agni

Cakka meneringai, “gak mecem-macem kok, paling satu macem”

Agni membulatkan matanya, “yaudah! Gak mau!”Agni menghentakan kakinya.

Cakka duduk di meja, meraih tangan Agni mengelusnya penuh kasih sayang.
“gue gak bakalan ngapa-ngapain kok”

Agni menatap Cakka tak berkedip, kemudian mengangguk.


***


Agni duduk berhadapan dengan Cakka, Cakka menggenggam dua ekor merpati putih yang sangat cantik.
“gue tau Ni, loe tukang analogiin sesuatu, gue rasa loe sangat suka dengan analogi”Cakka menghela nafas panjang.

Agni menatap Cakka menunggu kelanjutannya, kali ini Agni gak bisa membaca fikiran Cakka, karena Cakka fokus menatap merpati itu.

Cakka memberikan satu merpati itu pada Agni, “diem disini”

Agni mengangguk, Cakka nampak menjauh dan terus menjauh. “mau kemana?”teriak Agni

Cakka mengisyaratkan agar Agni tetap di tempat. Agni hanya mengangguk.

Dari kejauhan Cakka melepas merpati yang ada di tangannya dan secara otomatis merpati itu terbang ke arah Agni dan hinggap di tangan Agni yang memegangi merpati, yang tak lain adalah pasangannya.

Cakka tersenyum menatap Agni yang terlihat bingung karena pandangannya tak lepas dari pasangan merpati itu.

“Ni, loe taukan merpati itu setia sama pasangannya?”tanya Cakka

Agni berpaling ke arah Cakka, “iya tau”Agni mengembalikan merpati itu pada Cakka.

Cakka mengelus rambut Agni, “gue ibaratin itu gue sama loe Ni”

Agni membalas tatapan Cakka, “gue suka sama loe, bahkan mungkin gue sayang sama loe”ujar Cakka

Agni tersenyum, “merpati untuk setia itu membutuhkan latihan, begitu juga loe”Agni menepuk pundak Cakka dan berlalu tanpa mempedulikan Cakka yang masih mematung.


***


Esoknya, tak ada perubahan dari Cakka maupun Agni, keduanya tetap akrab, saling ledek dan Cakka tetap jahil pada Agni.
“loe tuh ya, jail banget sih”Agni merapihkan rambut yang kuncirannya di tarik oleh Cakka.

“Cakka loe di panggil Pak Duta tuh”kata seseorang.

Cakka menengok, “oh... oke”

Agni menatap Cakka aneh, “ada masalah apa loe sampe di panggil?”tanya Agni.

“gue jadi perwakilan buat lomba musik antar sekolah”ujar Cakka dan berlalu.

Tapi Cakka berbalik lagi, “kenapa?”tanya Agni

“gak ngasih semangat loe?”tanya balik Cakka.

Agni tertawa renyah, “dasar loe, iya gue semangatin loe kok, semangat, hamasah, ganbatte”

Cakka tertawa mendengar penuturan Agni, gadis itu membuatnya merasa punya semangat lagi.


***


Agni berjalan di koridor, Cakka lama banget ketemu Pak Dutanya, istirahat 15 menitpun berlalu begitu saja.

“aku kangen banget sama kamu”ucap seseorang.

Agni mundur beberapa langkah, karena suara itu dari arah tikungan lorong di jalan ke tempat kepala sekolah.

“aku juga”ucap pemuda itu dingin, dan Agni tau itu suara siapa. Gak salah lagi, itu Cakka! Apakah merpati bisa berhianat?



***


Hari ini perlombaan berlangsung, selama persiapan dan sampai sekarang Agni tak pernah merubah sikapnya terhadap Cakka. Cakka yang ‘mungkin’ tak menyadari itu juga bersikap biasa saja meski terkadang ada rasa bersalah karena ia beberapa kali jalan bersama orang lain. Dan tanpa sepengetahuan Cakka juga, Agni berjalan dengan pemuda lain di belakang Cakka, namun Agni tak pernah ada niat sedikitpun untuk melukai siapapun, ia jalan dengan pemuda lain juga karena kakaknya juga, kakaknya selalu mengajak dirinya untuk sekedar nonton, makan bersama temannya, dan itu gak berdua. Ingat! Gak berdua. Okey...

Cakka menenteng gitarnya,“Ni, ini waktunya gue tampil, do’ain ya”ucap Cakka.

Agni tersenyum, “pasti, semangat ya”ucap Agni.

Agni berjalan ke area penonton, ia ingin melihat penampilan Cakka. Lagunyapun Cakka rahasiakan dari Agni, jadilah ia sangat penasaran dengan lagu yang akan di bawakan Cakka.

 Hidupku tanpa cintamu
Bagai malam tanpa bintang
Cintaku tanpa sambutmu
Bagai panas tanpa hujan
Jiwaku berbisik lirih
Kuharus memilikimu

Reff:Aku bisa membuatmu
Jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta kepadaku beri sedikit waktu
Biar cinta datang karena telah terbiasa

Simpan mawar yang kuberi
Mungkin wanginya mengilhami
Sudikah dirimu untuk kenali aku dulu
Sebelum kau ludahi aku
Sebelum kau robek hatiku

(Dewa19 – Risalah Hati)

Agni tersenyum samar dari arah penonton, lagu itu untuk siapa? Untuknya atau...

“Ni”

Agni berbalik, “kak Elang”

Elang tersenyum, “sendiri aja?”

Agni mengangguk tanpa menatap Elang.

“oiya kak, aku ke backstage dulu ya sebentar, kakak tunggu di sini”pesan Agni.


***


Cakka turun dari atas panggung dan di backstage telah di tunggu seorang wanita.

Wanita itu tersenyum, “bagus banget Kka”ucapnya

Cakka tersenyum, “makasih”

Wanita itu memeluk Cakka, membenamkan wajahnya di dada Cakka, “aku sayang banget sama kamu Kka”ujar wanita itu.

Cakka tak berkata apapun, ia hanya mengelus puncak kepala Agni dengan lembut.

Tak lama, Cakka mengurai pelukannya, ia harus bicara dengan Agni.
“kak Sean, aku permisi dulu”

Wanita itu tak berusaha menatap Cakka, ia sadar atas kesalahannya. Jadi, mungkin Cakka memang sudah menemukan kebahagiaanya lagi.


***


Agni menatap pantulannya di cermin, benar-benar berantakan sekali. Meski ia rasa tubuhnya telah segar tapi wajahnya tetap saja kusut.

Ponsel Agni berdering.

Agni menatap ponselnya dengan malas, matanya sembab dan kepalanya sangat pusing.

Ternyata sebuah pesan, bukan sebuah tapi banyak pesan yang sejak semalam pemuda itu kirimkan untuk Agni.

Gue mau bicara sama loe Ni, gue udah ada di depan rumah loe.

Agni berjalan ke arah jendela, disana memang ada Cakka, tapi ia hanya berdiri di luar gerbang rumahnya.

“Agni”panggil Mikha

Agni berbalik, “ada Elang”

Agni tersenyum, “iya” Agni mengikuti kakaknya.

“El, gue tinggal duluan ya, ada penting”pamit Mikha.

Elang mengangguk, “siip”

“tunggu bentar ya kak, aku kedepan dulu ada temen”kata Agni

“iya”

Setelah ada persetujuan dari Elang Agni langsung melesat keluar.


***


Cakka berbalik melihat ada yang keluar dari rumah itu, ternyata bukan Agni tapi seorang pemuda yang mungkin kakaknya, pikir Cakka.

Tak lama setelah itu Agni keluar, menghampiri dirinya.
Cakka menarik lengan Agni, “Ni, yuk”ajak Cakka.

Agni mengurai tangan Cakka, “gue gak bisa”

Cakka menatap Agni, “kenapa?”

Agni menggeleng, “gue gak bisa”Agni menahan butiran air mata dengan menengadah, jika mengingat Cakka, ia juga ingat kejadian tadi malam. Bilang sayang tapi malah pelukan sama cewek lain. Apakah itu yang dinamakan setianya merpati?

“gue sayang sama loe Ni, gue janji gak bakalan sakitin loe dan khianatin loe, guekan udah janji bakalan kayak merpati yang setia pada pasangannya”ujar Cakka.

“Ni, Agni”seseorang dari dalam rumah memanggil Agni dengan nada khawatir.

Agni tau siapa itu, tapi Agni malah menatap Cakka tajam, “merpati emang setia tapi kalau di latih buat mencintai betina yang lain merpatipun bisa menghianati betinanya yang dulu. Satu hal yang harus loe tau, ELANG gak kalah setia sama pasangannya! Bahkan sampai akhir hayat ELANG akan setia pada pasangannya”Agni berlalu setelah mengatakan itu.

Sementara Cakka terpaku di tempat mencoba mencerna apa yang Agni ucapkan. Tak sampai beberapa lama, Cakka melihat sebuah mobil yang sangat familiar baginya, dan gak salah itu... itu mobil Elang. Kakaknya!


***


Malam itu Agni berjalan ke arah backstage dengan wajah yang riang, namun wajahnya berubah ketika melihat Cakka memeluk gadis yang waktu itu di koridor sekolah. Agni melihat itu sangat jelas!

Agni berlari ke arah Elang yang setia menunggu di kerumunan penonton.

“kenapa?”tanya Elang melihat perubahan Agni.

Agni menarik tangan Elang, “pulang”rengek Agni, menahan tangis.

Elang yang mendengar rengekan itu seketika membawa Agni segera kedalam mobilnya, lalu memeluk Agni, karena kakaknya bilang kalau Agni kecewa, atau sedih, Agni akan sangat lemah.

“jangan nangis Ni, aku gak pernah sanggup liat orang yang aku sayangin nangis gini”Elang mengecup puncak kepala Agni.

Agni menengadah, kemudian tersenyum “makasih kak”



***


THE END

No comments:

Post a Comment