Friday, 15 February 2013

Mask... (SS)





Dua buah Ninja berwarna hitam dengan berplat Kka dan IEL terus saling berpacu dengan kecepatan di atas rata-rata dalam keheningan malam.
Salah satu dari pemilik motor itu mengacungkan jempol terbalik ke arah pengendara lain,  lalu menendang  ban belakang pengendara itu dan terdengarlah sebuah dentuman yang sangat keras.

“gak ada yang bisa ngalahin Cakka Rahadian”desis  pengendara itu dengan tersenyum picik sambil terus memacu Ninjanya tanpa memperdulikan pengendara lain.



***


Beberapa bulan kemudian...

Seorang pemuda berjalan bersamaan dengan seorang gadis yang bergelayut manja di tangan kanannya, pemuda itu sesekali mencolek hidung gadis itu, gadis itu nampak tersenyum manja.
Gadis itu memukul dada Cakka, “Cakka ihh jail kamu”rajuknya.

Pemuda tadi, Cakka Rahadian. mencubit hidung gadis itu dengan gemas.
“hidung kamu lucu banget sih Fy”

Dari arah berlawanan nampak seorang gadis yang mengenakan celana pendek di atas lutut,  jaket tanpa di sleting, rambut yang di gerai dan tak lupa highels yang membingkai kaki jenjang yang mulus tanpa cacad, berjalan ke arah Cakka dan gadis itu, Ify.

Cakka menatap gadis yang melintas  tanpa berkedip, sementara yang di pandang dengan cuek berjalan melalui Cakka.
“Cakka kamu tuh ya”Ify menjewer telinga Cakka kesal, pasalnya dari tadi ia merasa tak di gubris oleh Cakka.

“duuhh... Fy lepas dong”rengek Cakka.

Ify melepaskan jewerannya, “mata kamu itu jelalatan banget sih”Ify menggembungkan pipinya.

Cakka merengut, kemudian tersenyum “udah ah jangan cemberut, jelek tau kalo cemberut gitu.

Keduanyapun jalan kembali dengan canda dan tawanya.



***



Gadis tadi, yang melintas di hadapan Cakka tersenyum penuh kemenangan,
“Cakka Rahadian, gak akan selamanya menang”batinnya

“tunggu sayang, tanggal mainnya!”desis gadis itu dengan penekanan emosi.

Ponsel gadis itu berdering.
“ya kak”

“udah ketemu sama dia?”

“udahlah”

“gimana reaksinya”

“ya seperti yang loe kira, siapa sih yang gak bakalan kepincut sama Agni Mahesa? Apalagi cowok mata keranjang kayak dia”

“adik gue emang pinter, gak sia-sia gue punya adik secakep loe”

“baru sadar loe? Udah ah gue ada kelas dulu, bye kak”

“oke cantik, bye”


Gadis itu, Agni Mahesa.
Gadis yang memang sangat cantik, dan di dukung dengan badan yang ideal, siapa sih yang gak akan bilang gadis ini perfect?



***


Malam harinya Cakka berjalan memasuki club malam.
Seseorang menepuk pundak Cakka, “gak balapan?”

Cakka berbalik, “entar deh tengah malem, masih pagi juga”

Alvin, sahabat Cakka. Tersenyum kecu,  Jam sembilan malam masih di anggap pagi?

Cakka menepuk pundak Alvin, “Vin siapa dia?”tunjuk Cakka dengan dagu pada seorang gadis yang duduk di sebuah sofa sendirian.

Alvin tersenyum masam, sahabatnya ini memang tak pernah merasa cukup dengan satu wanita.
“namanya Agni”

Cakka tersenyum, “thanks Vin”
Setelah mengatakan itu Cakka berjalan mendekati gadis yang ia lihat tadi.


Cakka duduk di samping Agni. Agni hanya menatapnya sekilas.
“sendiri aja?”tanya Cakka.

Agni menatap Cakka, “seperti yang loe liat, emang loe liatnya gue lagi sama sepuluh orang?”ucap Agni agak dingin.

Cakka menghadap gadis itu, mengulurkan tangannya “gue Cakka”

Agni membalas tatapan Cakka “Agni”Agni membalas jabatan tangan itu.

“turun yuk”ajak Cakka

Agni tersenyum meremehkan, setelah itu berdiri dan berjalan ke lantai dance.

Cakka berjalan mengikuti Agni dan berjoget-joget ria berhadapan dengan Agni. Cakka menatap gadis itu tanpa berkedip, ia yakin gadis ini bukan seperti gadis-gadis lain.

Agni mengalungkan tangannya di leher Cakka, dan berjoget agresif di depan Cakka hingga membuat Cakka agak kelimpungan menahan sesuatu, namun ia juga merangkul pinggang Agni, memeluknya hingga tubuh gadis itu merapat di tubuhnya.

Agni menatap Cakka dengan tatapan aneh, kemudian mendekatkan wajahnya,
“naik ya?”goda Agni dengan berdesis.

Cakka tak bereaksi apa-apa, ia hanya tersenyum mendengar penuturan Agni, liar juga dia.

Dari belakang Cakka nampak ada yang mendekat, menepuk pundak Cakka.
Cakkapun melepaskan rangkulannya dan berbalik.

“eh. Vin, apa?”tanya Cakka

“jadi gak? Udah tengah malam nih”ucap Alvin agak berteriak karena memang suasana di tempat ini sangat gaduh.

“malam ini gak deh, besok aja”kata Cakka juga berteriak.

“yaudah kalo gitu, gue cabut dulu”

“oke”Cakka mengacungkan dua jempolnya ke arah Alvin.

Setelah Alvin berlalu, Cakka berbalik lagi ke arah Agni yang berjoget sama orang lain, Cakka memeluk perut Agni tanpa segan.
Agni menengok sebentar kemudian menyimpan tangannya di atas tangan Cakka yang berada di perutnya.

“cukup mudah”ungkap Agni membatin.


***


Agni keluar dari kamarnya setelah memakai pakaian yang rapih.
“kak”sapa Agni.

Yang di sapa menoleh dan tersenyum, “eh, Ni, udah rapih aja”

Agni tersenyum, “iya dong Gabriel, kakakku sayang”

“ada kelas pagi?”tanya  kakaknya, sebut saja Gabriel.

Agni menyuap satu sendok makanannya, “gak sih, masih punya misi aja”

Gabriel tersenyum masam, “bentar lagi juga dia minta loe jadi pacarnya, gue minta loe jangan dulu terima”

Agni tertawa mendengar penuturan Gabriel, “ya enggak lah, gila aja ya loe kalo gue terima, gue juga masih punya misi kali”

“syukur deh kalo loe udah ngerti, gue berangkat duluan ya”pamit Iel

“siip”Agni mengacungkan jempol kirinya.

Ponsel Agni berdering.
“siapa ya?”

“gue, Cakka”

“oh, ada apa?”

“belum berangkatkan? Gue jemput loe ya”

Agni tersenyum ternyata makin lebar tempat buat ia melebarkan sayap, “iya, gue smsin deh alamatnya”

“oke, bye”


Setelah mengirimkan pesan untuk Cakka, tak sampai setengah jam sebuah mobil Ferrari Sport silver memasuki pekarangan rumahnya.

Agni keluar dari rumahnya.
“lama ya?”tanya Cakka

Agni melihat kebelakang Cakka, “enggak, cewek loe mana? Gak marah loe jemput gue?”tanya Agni.

“cewek gue yang mana? Gak punya lagi”

Agni tersenyum, “halah itu sih modus loe aja, yang kemaren siapa?”

Cakka nampak diam, memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu, “oh itu.. Ify? Dia sih cuma temen doang”

Agni mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.
“yuk masuk”Cakka membukakan pintu untuk Agni, Agni juga dengan senang hati memasuki mobil itu. Cakkapun berlari segera ke tempat kemudi.


***


Cakka dan Agni duduk di bangku kantin paling pojok, keduanya hanya diam saja di sana.
Kalau Agni sih sudah jelas, menunggu masuk kelas, tapi Cakka? Dia hanya ikut-ikutan, alias bolos.
“loe tiap malem ke club?”tanya Cakka sambil menyeruput jusnya

Agni tersenyum miring, “gak juga, kalo cuma lagi suntuk aja”

Cakka membulatkan bibirnya, “tapi loe bener-bener...”

Agni menatap Cakka menunggu kelanjutan pembicaraan Cakka,
“apa?”tanya Agni

“hot”disis Cakka tepat di telinga Agni.

Lagi-lagi Agni hanya tersenyum, “sampe loe gak tahan ya? di tuntasin gak?”tanya Agni fulgar

Cakka mengerutkan keningnya, “gak, kalo sama loe sih mau”

“ganjen juga Ni cowok”batin Agni.

“Ni”

“hmm”

“mau gak jadi cewek gue?”tanya Cakka

“gak”jawab Agni dengan dingin

“kenapa?”tanya Cakka lagi, ia kesal juga pada gadis ini, dimanapun kapanpun gak pernah ada wanita yang berani menolaknya.

“tuh di belakang loe udah ada yang melotot”ucap Agni cuek kemudian sibuk dengan buku-bukunya.

Cakka berbalik.


Ify menatap Cakka garang “kamu mau selingkuh?”

Cakka menatap Ify dengan pandangan aneh, “emang kita kapan jadian?”

“oh, jadi kamu cuma maenin aku? Denger ya Cakka Rahadian! Suatu saat loe pasti rasain gimana rasanya di PHP-in”bentak Ify dengan penekanan emosi setelah itu berlalu.

Cakka mengalihkan pandangannya pada Agni kembali, “tuh, aku gak punya pacarkan? So gak ada alasan loe nolak gue”

Agni tersenyum meremehkan, “inget Kka, kita baru kenal dua hari”ucap Agni.
“terus dimana letak kesalahannya?”tanya Cakka

“gue mau cara yang ekstrim”desis Agni,

Cakka nampak berfikir, “oke”


***


Agni keluar dari mobil Cakka, “masuk dulu yuk”ajak Agni.

Cakka menatap ragu pada Agni, pasalnya meski ia playboy ia tak pernah mau jika di ajak mampir ke rumah.

“gak mau ya? yaudah, jangan pernah mau jadi cowok gue”guman Agni, ancang-ancang pergi.

Cakka menarik tangan Agni, “iya, yuk”

Agni mengangkat sebelah alisnya,“berani juga”batin Agni.

Mereka memasuki kediaman Agni,
“kak”teriak Agni

Seseorang berbalik, “hey Ni”

“kak Io'”guman Agni dengan agak kaget.

“Gabriel”desis Cakka melihat seorang pemuda yang lain.

“Kka, itu kakak gue Gabriel, dan itu kak Rio”jelas Agni

Cakka tersenyum sinis pada Gabriel, “ternyata loe masih hidup”guman Cakka,

Gabriel menghampiri Cakka, menepuk pundak Cakka.
“seperti yang loe liat! Gue sehat”ucap Gabriel.

“loe gak akan sangkut pautin masalah itukan?”tanya Cakka.

Gabriel tersenyum miring, “gak lah, masa lalu juga”guman Iel sambil berjalan ke arah Rio.

Agni tersenyum masam, “kalian ngobrol aja dulu, gue ka kamar dulu”pamit Agni.
“eh”Cakka menarik tangan Agni, “gue mau pulang aja”

Agni mengangguk, setelah itu beranjak. Sepeninggal Agni Cakka juga meninggalkan tempat itu.


***


Beberapa hari setelah hari itu, mereka semakin akrab. Sepertinya Agni telah memberi Cakka respon positif.
Hari ini Cakka putuskan akan ke rumah Agni dan menyatakan cinta di sana, sekalian meminta izin pada Gabriel untuk menjalin hubungan dengan Agni.

Cakka berjalan memasuki kediaman Agni, dari arah depan rumah itu nampak tak berpenghuni. Cakka berjalan ke ruang tamu dan di sana ia mendapati sesuatu yang sungguh tak terduga, ia melihat Agni yang duduk di pangkuan seseorang, itu Rio!
Yang jadi masalah bukan itu. Tapi, tangan Rio yang menggerayangi Agni dan bibir itu saling bertautan. Dengan jelas sekali Cakka melihat tangan itu menelinap kebalik baju Agni dan Agni terlihat menikmati itu.

Cakka masih mematugng di tempat, “Agni”ucapnya agak keras.

Rio dan Agni saling berpandangan, setelah itu Agni berbalik ke arah pintu dan di lihatnya Cakka yang menatap mereka dengan tatapan membunuh, meremas bunga yang ia pegang.

“ngapain dia?”tanya Rio pada Agni.

Agni mengangkat bahunya.

Cakka menghempaskan bunga itu kemudian berlalu.


***


Agni keluar dari mobilnya, “Io', nanti jemput lagi ya?”
Rio tersenyum, “okey cantik”Rio mengelus pipi Agni dari dalam mobil.
“yaudah, aku masuk kelas dulu ya Io'”pamit Agni, melambaikan tangan pada Rio.

Rio membalas lambaian tangan itu, “iya, bye”


Setelah melihat Rio menghilang di balik tikungan Agni berjalan ke arah kelasnya namun Cakka menarik tangan Agni dan menarik gadis itu ke sebuah pojokan kampus.
“lepas”bentak Agni.

Cakka menghempaskan Agni ke dinding, “ada hubungan apa loe sama cowok itu?”
Agni menatap Cakka dingin, kemudian mengangkat tangan kirinya, “gue rasa loe tau apa artinya cincin ini”guman Agni.

Cakka mengurung Agni dengan tangannya, “terus, maksud loe apa deketin gue?”tanya Cakka dengan penekanan emosi.

Agni tersenyum picik, “gue? Deketin loe? Gak kebalik?”Agni memegangi pergelangan kanannya yang terasa sakit.

Cakka menggebrak dinding belakang Agni, “argh...”erang Cakka, mengacak-acak rambutnya kesal.

Agni menatap Cakka dengan tatapan penuh kebencian, setelah itu berlalu.



***



Cakka memarkirkan Ninjanya di jalanan besar itu, pikiran kacaunya memaksa ia untuk mencari hal-hal yang menantang yang bisa membuatnya agak plong.

Alvin menepuk pundak Cakka, “hey... Cakka Rahadian, akhirnya loe dateng juga”ucap Alvin.
“suntuk gue”ujarnya.

“sabar bro”

Cakka menatap jalanan, baru ada beberapa orang.
“mana lawan gue?”tanya Cakka.

“tuh”Alvin menunjuk beberapa orang yang sudah berderet.

Cakka mengenakan helmnya, memulai menstater motornya, “mulai”

Cakka ikut berderet di deretan tengah.

Deruan-deruan motor itu telah membahana, sebelum bendera putih itu di angkat, seseorang juga berderet di samping Cakka.

Cakka menatap sekilas pengemudi itu.


Seorang gadis memberi aba-aba, “three, two, one, GO!”gadis itu mengangkat bendera putih.


Seluruh kendaraan berpacu dengan kecepatan di atas rata-rata.
Cakka memimpin, namun tak berapa lama ada yang menyusulnya, hingga beberapa tikungan keduanya saling bersaing.

Cakka memicingkan matanya untuk melihat plat nomor kendaraan itu, “Gabriel?”gumannya.

Cakka menambah kecepatan lagi, namun pengendara lain juga memacu kendaraan mereka lebih cepat.


Terdengar sorak-sorai penonton dan pendukung setia Cakka, “aaa.... Cakka”teriak histeris mereka.

Cakka dan yang si sangka Gabriel itu terus berpacu dan...

Ciiiittt.....

Terdengar decian rem dengan bersamaan.

Cakka segera turun dari motornya, membuka helm dengan kesal. Selama ini tak ada yang berani mengalahkannya, setelah ke jadian kecelakaan itu.

“Gabriel”bentak Cakka,

“iya”jawab tenang Gabriel yang baru saja keluar dari sebuah mobil.

Cakka menatap Gabriel aneh, kalau itu Gabriel ini siapa?

Si pengendara membuka helmnya, dengan di bukanya helm rambut si penggunapun terurai, dan ternyata rambutnya sangat panjang.

Ternyata seorang gadis, gadis itu tersenyum picik.
“Cakka Rahadian. Terlalu mudah bagi gue ngalain loe ya?”guman gadis itu.

Cakka menatap garang gadis itu, “apa lagi sih mau loe?”tanya Cakka keras.

Gadiss itu turun dari motornya, “gue? Agni Mahesa! Yang waktu itu kecelakaan! Dan itu gara-gara loe! Pengecut”desis gadis itu, Agni dengan penekanan emosi.

“asal loe tau Kka, hari pertama yang ngalahin loe itu emang gue, tapi hari kedua itu  Agni, bukan gue”jelas Gabriel dengan tatapan benci dan nada yang sinis.

“jangan pernah ngerasa jadi pemenang! Jangan sombong!”Agni berdesis kembali setelah itu berlalu meninggalkan Cakka, melempar kundi motornya pada Gabriel.

“hidup loe gak akan pernah sempurna Kka, yang sempurna cuma tuhan”ucap Gabriel.

Cakka mematung menatap kedua adik-kakak itu.


***


Cakka.

Kini ku sadar, hidup itu tak akan pernah sempurna. Manusia  tidak akan pernah ada yang sempurna. Ingatlah kawan, kesempurnaan hanya milik tuhan, hanya milik maha pencipta. Jangan pernah sombong atas apapun yang dimiliki, karena yang kalian miliki itu semuanya milik tuhan yang akan kembali pada tuhan juga.


Jangan pernah ingin selalu menang, karena jika kalian selalu menang kalian tak akan pernah bisa menerima yang namanya ke kalahan atau penolakan. Biarkanlah kemenangan dan kekalahan itu saling menyempurnakan. Karena hidup itu seperti roda yang tak selamanya di atas dan tak selamanya di bawah.

Katakan pada hati kalian sendiri, kalian bisa menghadapi apapun tanpa harus sombong dan selalu menang, hadapilah segala kebaikan dan keburukan dengan lapang dada. Karena pada dasarnya kekalahan dan kemenangan adalah ujian dari tuhan.



...THE END..

No comments:

Post a Comment