Saturday, 12 September 2015

Come Back, for You

Come Back, for You
Title                 : Come Back, for You
Author             : Nenden S. Sopiah
Gendre                        : Fanfiction, Romance
Cast                 : Kang Gary, Song Ji Hyo (MondayCouple)

***

“Song Ji Hyo...”

“Hm...”

Dia hanya bergumam dari seberang sana, aku hanya bisa menghela nafas dengan ponsel yang masih aku tempelkan ditelinga. Pandanganku menyapu setiap penjuru kamar ini, koper telah siap disudut ruangan, beberapa barang telah dikemas dan barang lainnya masih tersisa disini.


“Kau sedang apa?.”

“Aku baru selesai makan malam.”

“Ohh... Syukurlah.”

“Ngomong-ngomong, ada apa Oppa menelponku?.”

“Merindukanmu, tidak boleh?.”

“Haha Oppa... becandamu sungguh lucu.”

Aku sedang tidak becanda... ucapku dalam hati, namun yang aku lakukan hanya bisa tertawa terpaksa.

“Aku akan menjemputmu besok, bersiaplah lebih awal kita sarapan di cafeku.”

“Oke... hmm... Oppa, kau sudah makan?.”

Belum... bagaimana aku bisa memikirkan makan sementara besok hari terakhir kita bertemu? Aku hanya bisa berkata dalam hati. Kupejamkan mataku sejenak, menenangkan diriku. Sepertinya aku tidak siap pergi dari sisinya.

“Oppa? Hallo?.”

Aku menghela nafas panjang. “Hm... aku juga baru selesai makan.”

“Kau tidak berbohongkan Oppa?.”

Dia entah bagaimana caranya, selalu saja tau saat aku berbohong. Song Ji Hyo... betapa beruntungnya aku jika kau milikku.

“Tentu saja tidak. bagaimana mungkin aku berbohong?.”

“Hm Oke. Aku percaya.”

“Ji Hyo...”

“Hm.”

“Sudah dulu ya, aku lelah.”

“Oke. Selamat malam Oppa.”

“Selamat malam Ji Hyo. Semoga mimpi indah.”

Aku mengakhiri panggilan itu, kemudian merebahkan tubuhku keatas pembaringan. Apa aku bisa berpisah selama 4 bulan dari Ji Hyo? Ji Hyo... saat aku pergi, apa kau akan merasa kehilanganku? Ponselku berdering.

Song Joong Ki’s Calling...
Joong Ki? Apa member lainnya sedang berkumpul?

“Hallo Joong Ki.”

“Apa benar kau akan pergi?.”

“Sementara.”

“Bagaimana dengan Ji Hyo Noona?.”

“Jagalah dia untukku.”

“Apa Noona tau kau akan pergi?.”

“Tidak.”

“Hyung! Apa kau gila? Jadi, kau akan pergi begitu saja meninggalkan Ji Hyo Noona?.”

“Aku akan mengatakannya.”

“Kapan?.”

“Besok.”

“Hyung! Kau akan menyakitinya!.”

“Gary Hyung! Jangan gila! Ji Hyo Noona pasti akan kecewa. Meskipun dia sedikit kasar dan terlihat tegar, tetap saja dia perempuan.” Kata Kwang Soo menyela ucapan Joong Ki disebrang sana.

“Ya! Kwang Soo-ah.” Seru Haha

“Berikan padaku.”

Sesuai dugaanku, mereka memang sedang berkumpul disalah-satu tempat member.

“Gary-ah.” Kali ini Jae Suk yang berbicara.

“Iya... Hyung.”

“Meskipun aku tidak tau hubungan kalian sedekat apa, tapi tidak adil bagi Ji Hyo jika hanya dia yang tidak tau tentang kepergianmu. Yang kau takutkan hanyalah takut dia tidak merasa kehilanganmu, kan? Tapi, Bagaimana jika dia kehilanganmu? Setelah kalian berjauhan apa yang bisa kalian lakukan? Menyesal?.”

Aku menghela nafas panjang. “Hyung...”

“Ya! Kang Gary!!!.” Kali ini Jong Kook berseru nyaring. “Kau tidak boleh menyakitinya!.”

“Jagalah dia untukku. Aku sungguh menyayanginya.” Ku hela nafas kembali. “Aku lelah, kita bicarakan ini lagi nanti. Tapi, tolong jangan katakan apapun pada Ji Hyo. Aku akan mengatakannya sendiri.”

“Baiklah. Terserah kau saja.”

“Hm.”

Panggilan berakhir. Apakah benar caraku ini salah? Apakah dia akan kehilanganku nanti?

***

Paginya sebelum aku ke apartemen Ji Hyo, aku membeli buket bunga. Entah kenapa, aku begitu ingin memberikan itu pada Ji Hyo. Semoga kau suka Ji Hyo. Begitu sampai di depan pintu apartemennya aku segera menekan bell.

“Oppa, kau datang pagi sekali.”

Aku hanya tertawa kecil kemudian mencubit pipinya. “Kau lupa? Aku bilang aku akan menjemputmu untuk sarapan dicafeku.”

“Tentu saja ingat. Oppa, apa yang kau sembunyikan di balik punggungmu?.”

“Oh... ini untukmu.”

Ji Hyo tersenyum menerimanya. “Oppa romantis sekali. Ayo duduk. Aku ambil tas dulu.”

Aku menatap punggungnya ragu. Apa aku harus mengatakannya sekarang? “Ji Hyo...”

“Iya...”

Tidak! “Aku ambil minum ya, aku haus sekali.”

“Ambil saja.” Ucapnya seraya berlalu memasuki kamar.

Sepertinya, aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Tidak. melihat bagaimana dia tersenyum padaku, menatapku seperti itu. aku tidak bisa mengatakannya. Aku takut kehilangan dia.

***

“Untuk apa aku ikut kesini? Kau sibuk sekali!.” Gerutu Ji Hyo.

Aku tersenyum kecil mendengarnya, begitu datang ke cafe aku memang langsung mengecek beberapa file yang sudah tertumpuk dimeja sementara dia sedang menyantap ice cream pesanannya.

“Oppa...”

“Hm.”

Dia mendesis kesal. Aku masih membiarkannya. Dia benar-benar lucu jika marah seperti itu.

“Ya! Kang Gary!.”

Dia benar-benar marah padaku. Aku tersenyum menatapnya kemudian meninggalkan setumpuk file itu.

“Jangan tertawa.” Dia memalingkan wajah, menatap keluar jendela.

Aku menatapnya dalam diam, mematri wajahnya dalam ingatanku. Aku yakin akan sangat merindukannya nanti.

“Oppa...”

“Iya...”

“Kenapa Oppa menatapku seperti itu? apa ada yang aneh?.”

“Aku takut merindukanmu.”

Dia tertawa lepas. “Ya! Oppa. Kau ini kenapa? Biasanya kau sering datang ketempatku, kenapa kau berbicara seolah ini hari terakhir kita bertemu?.”

“Bagaimana seandainya itu yang terjadi?.”

Ji Hyo mengerutkan keningnya saat aku mengatakan itu dengan menatapnya serius. Dia belum berkata apapun. Apa yang kamu pikirkan sekarang Ji Hyo? Wajah datarmu benar-benar membuatku frustasi.

Aku hanya bisa tertawa kecil menertawakan kebodohanku, untuk apa aku mengharapkan dia akan kehilanganku? Banyak pria disekitarnya yang lebih dariku segalanya. Aku meraih kepalanya, mengacak-acak rambutnya sesaat.

“Kau serius sekali!.”

“Jadi Oppa hanya bercanda?.” Tanyanya dengan wajah bingung, ini dia hanya ini yang bisa aku baca dari wajahnya. Ekspresi kebingungan.

“Ayo kita berangkat, pasti kita akan terlambat.” Aku menyela perkataannya, aku tak ingin membahasnya sekarang.

***

Sepanjang perjalanan tak ada perubahan, aku belum mampu mengatakannya. Sekarang Ji Hyo nampak sedang berbincang melalui ponselnya. Itu pasti member lain yang mengatakan kedatangan Joong Ki karena dia terlihat mendesis menyebutkannya sambil melirik aneh kearahku.

“Gary Oppa...” panggil Ji Hyo.

“Kenapa?.” Tanyaku tanpa mengalihkan pandangan dari jalan raya.

“Oppa tau Song Joong Ki kembali?.” Dia bertanya dengan penuh selidik. Apa dia mulai mencurigaiku? Memangnya apa yang aneh dariku?

“Hm.” Aku hanya mengangguk kecil menanggapinya.

“Kata Jae Suk Oppa dia datang menggantikan seseorang, siapa?.”

Aku Ji Hyo, aku yang akan digantikan! jawabku sayangnya hal itu hanya mampu aku katakan dalam hati.

***

Begitu kami sampai Ji Hyo menghampiri Joong Ki yang memanggilnya begitu kami keluar dari mobilku. Mereka berdua sangat akrab, bahkan aku sangat cemburu dengan kedekatan mereka. Aku mendudukan diriku diantara Jong Kook dan HaHa.

“Apa kau sudah mengatakannya?.” Tanya HaHa

“Belum.”

HaHa menghela nafas kemudian merangkul pundakku sesaat. Sementara Jong Kook hanya diam dan sesekali menghela nafas dalam.

“Hyung.”

Jong Kook tidak menoleh kearahku masih saja diam dengan pandangan lurus kedepan.

“Jong Kook Hyung.”

Dia menoleh kearahku dengan cepat, tatapannya begitu tajam. Aku tau, dia marah padaku.

“Siapa yang kau panggil Hyung? Aku tidak pernah merasa memiliki adik pengecut seperti kau.”

Benar aku memang pengecut, aku bahkan tidak sanggup menatap gadis yang aku sukai itu.

“Maaf.”

“Katakan itu pada Ji Hyo.” Ucap Jong Kook kemudian berlalu.

***

Sepanjang Shooting sekilas tak ada yang berbeda dengan Ji Hyo, namun jika dilihat seksama dia begitu berbeda. apakah dia sudah tau aku akan pergi? Namun aku masih bersyukur karena sesekali masih bisa melihat senyumannya. Begitu race berakhir Jae Suk Hyung merangkulku.

“Mungkin ini sedikit terlambat untuk dikatakan. Tapi setelah beberapa tahun in Gary telah bekerja dengan begitu keras bersama kami. Namun, untuk sementara waktu Gary akan meninggalkan kita semua.”

“Apa kau berbohong Oppa?.” Samar-sama aku mendengar pertanyaan itu, pertanyaan dari Ji Hyo.

“Tidak, aku memang akan meninggalkan kalian sementara. Aku harus pergi. Suatu saat jika ada kesempatan lagi untuk berada disini, aku akan kembali.” Dengan berat hati aku mengatakannya tanpa menatap gadis yang begitu aku sayangi.

“Gary Oppa...”

Dia memanggilku lagi, aku mencoba mengabaikannya. Aku mengalihkan perhatianku pada member lain memeluknya secara bergantian. Ji Hyo terlihat bersama Suk Jin Hyung, matanya memerah. Apa dia menangis karena aku akan pergi? Apakah yang harus aku rasakan sekarang? Haruskah aku bahagia karena mungkin saja dia memiliki perasaan yang sama, ataukah sedih? Entahlah...
Begitu aku dihadapannya, dia menatapku tajam. Dia nampak begitu kecewa sekarang.

“Kita perlu bicara.”

***

“Apa ini alasan Oppa hari ini menjemputku?.”

“Ini hari spesial kita. Senin.” Lagi-lagi aku belum mampu menatap matanya. Aku hanya menatap lurus tanpa tau apa yang sedang aku lihat.

“Kenapa Oppa tidak mengatakannya sejak tadi?.”

“Apa kau akan kehilangan aku? apa kau keberatan aku pergi? Ji Hyo aku cemas, jika mengingat kau tidak akan pernah merasa kehilanganku.” Aku menghempaskan tubuhku kesandaran kursi. Memejamkan mataku sejenak.

“Apa yang Oppa katakan?.” Dia menarik jaketku sehingga aku menghadap kearahnya.

“Kenapa Oppa berpikir seperti itu? Tentu saja aku kehilangan kau Oppa...”

“Ji Hyo-ah...”

Tiba-tiba Ji Hyo menerjangku, memelukku erat. Tanpa ragu lagi aku juga membalas pelukkannya, mengecup puncak kepalanya lama.

“Aku menyukaimu dari sejak lama, Ji Hyo.”

“Oppa...” dia semakin mengeratkan pelukannya padaku. Kenapa dia bersikap seperti ini?
 “Jangan pergi.”

“Ini tidak akan lama.”

“Tidak. Jangan pergi, sampai kapanpun.”

“Ji Hyo-ah...” apa yang harus aku lakukan selanjutnya? Aku harus pergi tapi hatiku berat meninggalkannya disini, sendiri.

“Oppa...”

“Tunggu aku, sebentar saja.”

Kukecup bibirnya, Ji Hyo nampak mematung. Dia tidak melakukan reksi apapun. Setelah cukup lama aku beralih pada kening dan kedua pipinya. Ku tatap wajahnya, meyakinkannya.

“Tunggu aku, sebentar. Ini tidak akan lama.”

“Oppa... aku akan menunggumu.”

Syukurlah... aku hanya bisa tersenyum kecil padanya kemudian meraihnya kembali dalam pelukanku.

 “Tunggu aku, ditempat dimana biasanya aku berada.”

***

“Oppa...”

“Hm...”

Aku menatapnya yang sedang merebahkan kepalanya dalam dekapanku. Kemudian kuelus rambutnya perlahan.

“Jangan pergi...” Ji Hyo mengeratkan pelukannya dipinggangku. Dia benar-benar tidak membiarkan aku pergi malam ini.

“Aku disini.”

“Oppa...”

“Iya...”

“Kenapa harus pergi?.”

Demi kita, aku harus meyakinkan hatimu bahwa aku memang yang terbaik untukmu. Sayangnya, kata-kata itu hanya mampu kuucapkan dalam hati.

“Aku harus bekerja ditempat lain.”

“Oppa...” Suaranya kembali parau. Ku eratkan lagi pelukanku pada tubuhnya.

“Tidurlah, aku disini.” Kutarik selimut untuk menutupi tubuh kami. Kukecup puncak kepalanya sesaat kemudian memeluknya kembali, membuatnya nyaman. Dia juga melakukan hal sama. Memelukku begitu erat.

“Mimpi Indah sayang.”

***

Kini aku telah berada didalam pesawat. Pagi-pagi sekali aku segera meninggalkan apartemen Ji Hyo. Sebelum dia terbangun. Maafkan aku Ji Hyo... bersabarlah dan tunggu aku. aku mencintaimu selalu...

Begitu berat rasanya saat aku ingat meninggalkannya sekarang. Tidak bisa ku pungkiri bahwa beberapa minggu belakangan ini kami lebih dekat dari biasanya. Dia yang tak sungkan lagi menghampiriku ditempat kerja dan apartemenku, begitupun dia yang mulai mengijinkanku untuk mengantar jemputnya bekerja dan kami juga beberapa kali singgah di apatemen Ji Hyo.

“Gary Oppa... aku membuat sesuatu.”

Ji Hyo berjalan kearahku dengan nampan ditangannya, sementara aku yang sedari menunggunya diruang tamu apartemennya hanya bisa tersenyum. Ternyata ini yang dia siapkan untukku?

“Makanlah.”

“Baik.” Rasanya benar-benar enak.

“Sekarang aku tak percaya bahwa kau tidak bisa memasak. Ini enak sekali.”

“Benarkah?.”

“Permisi Tuan.”

Seorang pramugari menyadarkanku dari lamunanku tentang Ji Hyo. Baru beberapa saat aku meninggalkannya aku sudah merasakan rindu yang luar biasa. Sedang apa kau sekarang Ji Hyo?

***

Apakah dia hari ini datang kesana?

Iya Boss, setiap hari dia datang...

Apakah dia baik-baik saja?

Dia terlihat baik meski sedikit lebih kurus.

Baiklah... terimakasih.

Aku menyimpan kembali ponselku. Syukurlah jika dia benar-benar datang ketempatku. Dengan begitu, aku bisa mengewasimu dari sini Ji Hyo.

Jagalah dirimu baik-baik.

***
Hari demi hari berlalu tanpa terasa tour-ku selesai, pergi dari satu tempat ketempat lain. kesibukan benar-benar menyita waktuku. Pergi pagi dan pulang larut malam, tak ada waktu untuk melakukan hal lain.

Beberapa waktu lalu aku sempat melihat Ji Hyo. Dia nampak baik-baik saja, dia begitu cantik dengan tawa yang selalu terbingkai dalam wajahnya. Dia tak nampak sedih. Aku lega sekaligus bingung. Melihatnya bahagia seperti itu, apakah lebih baik aku tidak kembali?

Ponselku berdering.

Mong Ji’s Calling...

Selarut ini apa yang dia lakukan? Apakah dia merindukanku? Maafkan aku Ji Hyo aku belum sempat menghubungimu. Aku menjawabnya.

“Gary Oppa... aku merindukanmu... Balas pesanku atau angkatlah panggilanku sesekali.”

Ji Hyo... kau kenapa?

“Jika kau memang tidak pernah mau bicara denganku setidaknya dengarkanlah aku. aku merindukanmu Oppa...”

Tut.

Panggilan berakhir, dia memutuskan panggilannya sebelum sempat aku berkata. Ji Hyo kenapa?
Dia sedang mabuk Gary. Jawab diriku yang lain.
Tidak. dia mungkin saja benar-benar merindukanku.
Mana mungkin dia merindukanmu tapi tidak terlihat sedih sama sekali? Jangan bodoh. dia tidak merindukanmu Gary. Dia sedang mabuk. Dia menjawab lagi
Benar, dia mungkin saja sedang mabuk.

Ponselku kembali berdering, sebuah pesan diterima.

Gary, dulu kau mengatakan ingin belajar membuat Dessert. Datanglah kerumah.

Ku hempaskan tubuhku, sepertinya belum saatnya aku kembali.

***

Pagi ini entah kenapa aku masih memikirkan ucapan Ji Hyo malam itu. apakah sebaiknya aku menghubunginya? Tidak. ini tidak akan berjalan baik. Ini hari apa? Senin. Mungkin saja hari ini Ji Hyo sedang shooting. Kuraih ponselku mendial nomor Joong Ki.

“Joong Ki.”

“Gary Hyung. Bagaimana kabarmu?.”

“Baik. Bagaimana denganmu dan yang lain?.”

“Baik. Kapan kau kembali Hyung? Tour-mu sudah selesaikan?.”

“Iya, tapi aku belum memutuskan untuk kembali.”
“Kenapa?.”

“Bukan apa-apa.” Tidak mengatakannya pun dia akan tau maksudku.

“Hyung! Berhenti menjadi pengecut! Datanglah...”

“Belum saatnya, aku memang pengecut. Aku takut dia... belum melihatku.”

“Gary Hyung...”

“Lagipula Ji Hyo terlihat baik, aku sangat lega melihatnya.”

“Hyung! Ji Hyo Noona tidak sebaik dilayar kaca. Ji Hyo Noona sering melamun, dia lebih sering diam. Apa kau tega membuatnya seperti ini Hyung? Apa kau berbohong tentang kau yang mencintainya?.”

Benarkah? Benarkah Ji Hyo seperti itu?

“Hyung! Apa kau masih mencintai Ji Hyo Noona? Atau kepergianmu ini karena mendapatkan yang lain?.”

“Aku akan segera kembali.”

***

Aku berjalan memasuki ruang kerja di cafe-ku. Begitu mendengar ucapan Joong Ki, rasa ketakutanku bertumbuh semakin banyak. Bukan ketakutan yang selama ini mengurungku, tapi takut terjadi apa-apa dengannya. Dia tidak baik-baik saja. Begitu memasuki ruanganku sebuah kejutan luar biasa dihadapanku. Dia benar-benar datang kesini. Aku melihat kearah dinding. Apakah selama ini Ji Hyo membuat ini untukku?

Aku mencintaimu Oppa...

Sudut dalam hatiku membuat kebahagiaan yang membuncah disana, senyumpun tak bisa kutahan lagi. Ji Hyo... aku mendekat kearahnya membelai rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya. Dia nampak membuka matanya sedikit.

“Oppa...”

“Jangan pergi lagi Oppa...”

Aku tersenyum mendengarnya. Aku mendekatkan diriku padanya.

“Tidak akan.”

“Aku merindukanmu Oppa...”

“Aku Juga Ji Hyo.” Aku mengecup kepalanya sesaat kemudian beranjak meninggalkannya.

Tunggu Ji Hyo... ini akan berakhir bahagia... aku benar-benar kembali hanya untukmu.

***

Satu jam sudah aku berkutat di kichenset di cafe-ku. Sesekali aku memandang kotak cincin yang sengaja aku simpan tak jauh dariku. Saat tour aku sengaja membeli ini untuknya, aku pernah berjanji tentang hal itu padanya.

“Tolong bawakan aku makanan seperti biasa.”

Samar-samar aku mendengar suara Ji Hyo yang meminta makanan. aku tersenyum lagi, beruntung aku hampir menyelesaikan masakanku sekarang. Aku memang sengaja memasak sekarang untuk Ji Hyo. Apakah dia masih ingat rasa masakanku?

Aku meraih box ice cream yang tadi aku buat, kemudian meraih cincin itu. Sekarang saatnya kau berada ditangan yang tepat cincin. Semoga dia senang dengan ini.

“Ini, bawakan makanan ini untuknya.”

“Baik Boss.”

Setelah mengatakan itu aku kembali memasak, membuat makanan untukku sendiri. cafe ini sengaja aku tutup hanya untukku dan Ji Hyo. Aku bukan pria romantis, namun aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuknya.

Suara derap langkah terdengar mendekat.

“Chef.”

Aku berbalik menatapnya, dia terlihat menahan nafas. dia kenapa? Apakah aku terlalu mengejutkannya?

“Ji Hyo...”

“Gary Oppa...”

Dia menerjang tubuhku, memelukku erat. Aku membalas pelukannya, mengelus punggung dan puncak kepalanya.

“Oppa...”

“Kau kembali Oppa...”

“Ya. aku kembali, hanya untukmu Ji Hyo.”

Aku meraih kedua tangannya, mengambil cincin dari genggaman tangannya.

“Marry me?.”

Ji Hyo mengangguk, matanya nampak berkaca-kaca. Aku memasangkan cincin itu dijarinya.

“Oppa...” Ji Hyo memelukku lagi.

“Aku mencintaimu Ji Hyo.”

“Aku Juga, Oppa... Jangan pergi lagi.”

“Tidak akan.”

***

Tamat.

Seri kedua dari Monday Couple Short Story akhirnya selesai. Semoga suka ya J



No comments:

Post a Comment