Come Back, for
You
Title :
Come Back, for You
Author :
Nenden S. Sopiah
Gendre :
Fanfiction, Romance
Cast :
Kang Gary, Song Ji Hyo (MondayCouple)
***
“Song Ji Hyo...”
“Hm...”
Dia hanya bergumam dari seberang sana, aku hanya
bisa menghela nafas dengan ponsel yang masih aku tempelkan ditelinga.
Pandanganku menyapu setiap penjuru kamar ini, koper telah siap disudut ruangan,
beberapa barang telah dikemas dan barang lainnya masih tersisa disini.
“Kau sedang apa?.”
“Aku baru
selesai makan malam.”
“Ohh... Syukurlah.”
“Ngomong-ngomong,
ada apa Oppa menelponku?.”
“Merindukanmu, tidak boleh?.”
“Haha Oppa...
becandamu sungguh lucu.”
Aku sedang tidak becanda... ucapku dalam hati, namun
yang aku lakukan hanya bisa tertawa terpaksa.
“Aku akan menjemputmu besok, bersiaplah lebih awal
kita sarapan di cafeku.”
“Oke... hmm...
Oppa, kau sudah makan?.”
Belum... bagaimana aku bisa memikirkan makan
sementara besok hari terakhir kita bertemu? Aku hanya bisa berkata dalam hati.
Kupejamkan mataku sejenak, menenangkan diriku. Sepertinya aku tidak siap pergi
dari sisinya.
“Oppa? Hallo?.”
Aku menghela nafas panjang. “Hm... aku juga baru
selesai makan.”
“Kau tidak
berbohongkan Oppa?.”
Dia entah bagaimana caranya, selalu saja tau saat
aku berbohong. Song Ji Hyo... betapa beruntungnya aku jika kau milikku.
“Tentu saja tidak. bagaimana mungkin aku
berbohong?.”
“Hm Oke. Aku
percaya.”
“Ji Hyo...”
“Hm.”
“Sudah dulu ya, aku lelah.”
“Oke. Selamat
malam Oppa.”
“Selamat malam Ji Hyo. Semoga mimpi indah.”
Aku mengakhiri panggilan itu, kemudian merebahkan
tubuhku keatas pembaringan. Apa aku bisa berpisah selama 4 bulan dari Ji Hyo?
Ji Hyo... saat aku pergi, apa kau akan merasa kehilanganku? Ponselku berdering.
Song Joong Ki’s
Calling...
Joong Ki? Apa member lainnya sedang berkumpul?
“Hallo Joong Ki.”
“Apa benar kau
akan pergi?.”
“Sementara.”
“Bagaimana
dengan Ji Hyo Noona?.”
“Jagalah dia untukku.”
“Apa Noona tau
kau akan pergi?.”
“Tidak.”
“Hyung! Apa kau
gila? Jadi, kau akan pergi begitu saja meninggalkan Ji Hyo Noona?.”
“Aku akan mengatakannya.”
“Kapan?.”
“Besok.”
“Hyung! Kau akan
menyakitinya!.”
“Gary Hyung!
Jangan gila! Ji Hyo Noona pasti akan kecewa. Meskipun dia sedikit kasar dan
terlihat tegar, tetap saja dia perempuan.” Kata Kwang Soo menyela ucapan Joong
Ki disebrang sana.
“Ya! Kwang
Soo-ah.” Seru Haha
“Berikan
padaku.”
Sesuai dugaanku, mereka memang sedang berkumpul
disalah-satu tempat member.
“Gary-ah.” Kali
ini Jae Suk yang berbicara.
“Iya... Hyung.”
“Meskipun aku
tidak tau hubungan kalian sedekat apa, tapi tidak adil bagi Ji Hyo jika hanya
dia yang tidak tau tentang kepergianmu. Yang kau takutkan hanyalah takut dia
tidak merasa kehilanganmu, kan? Tapi, Bagaimana jika dia kehilanganmu? Setelah
kalian berjauhan apa yang bisa kalian lakukan? Menyesal?.”
Aku menghela nafas panjang. “Hyung...”
“Ya! Kang
Gary!!!.” Kali ini Jong Kook berseru nyaring. “Kau tidak boleh menyakitinya!.”
“Jagalah dia untukku. Aku sungguh menyayanginya.” Ku
hela nafas kembali. “Aku lelah, kita bicarakan ini lagi nanti. Tapi, tolong
jangan katakan apapun pada Ji Hyo. Aku akan mengatakannya sendiri.”
“Baiklah.
Terserah kau saja.”
“Hm.”
Panggilan berakhir. Apakah benar caraku ini salah? Apakah
dia akan kehilanganku nanti?
***
Paginya sebelum aku ke apartemen Ji Hyo, aku membeli
buket bunga. Entah kenapa, aku begitu ingin memberikan itu pada Ji Hyo. Semoga
kau suka Ji Hyo. Begitu sampai di depan pintu apartemennya aku segera menekan
bell.
“Oppa, kau datang pagi sekali.”
Aku hanya tertawa kecil kemudian mencubit pipinya.
“Kau lupa? Aku bilang aku akan menjemputmu untuk sarapan dicafeku.”
“Tentu saja ingat. Oppa, apa yang kau sembunyikan di
balik punggungmu?.”
“Oh... ini untukmu.”
Ji Hyo tersenyum menerimanya. “Oppa romantis sekali.
Ayo duduk. Aku ambil tas dulu.”
Aku menatap punggungnya ragu. Apa aku harus
mengatakannya sekarang? “Ji Hyo...”
“Iya...”
Tidak! “Aku ambil minum ya, aku haus sekali.”
“Ambil saja.” Ucapnya seraya berlalu memasuki kamar.
Sepertinya, aku tidak bisa mengatakannya sekarang.
Tidak. melihat bagaimana dia tersenyum padaku, menatapku seperti itu. aku tidak
bisa mengatakannya. Aku takut kehilangan dia.
***
“Untuk apa aku ikut kesini? Kau sibuk sekali!.”
Gerutu Ji Hyo.
Aku tersenyum kecil mendengarnya, begitu datang ke
cafe aku memang langsung mengecek beberapa file yang sudah tertumpuk dimeja
sementara dia sedang menyantap ice cream pesanannya.
“Oppa...”
“Hm.”
Dia mendesis kesal. Aku masih membiarkannya. Dia
benar-benar lucu jika marah seperti itu.
“Ya! Kang Gary!.”
Dia benar-benar marah padaku. Aku tersenyum
menatapnya kemudian meninggalkan setumpuk file itu.
“Jangan tertawa.” Dia memalingkan wajah, menatap
keluar jendela.
Aku menatapnya dalam diam, mematri wajahnya dalam
ingatanku. Aku yakin akan sangat merindukannya nanti.
“Oppa...”
“Iya...”
“Kenapa Oppa menatapku seperti itu? apa ada yang
aneh?.”
“Aku takut merindukanmu.”
Dia tertawa lepas. “Ya! Oppa. Kau ini kenapa?
Biasanya kau sering datang ketempatku, kenapa kau berbicara seolah ini hari
terakhir kita bertemu?.”
“Bagaimana seandainya itu yang terjadi?.”
Ji Hyo mengerutkan keningnya saat aku mengatakan itu
dengan menatapnya serius. Dia belum berkata apapun. Apa yang kamu pikirkan
sekarang Ji Hyo? Wajah datarmu benar-benar membuatku frustasi.
Aku hanya bisa tertawa kecil menertawakan
kebodohanku, untuk apa aku mengharapkan dia akan kehilanganku? Banyak pria
disekitarnya yang lebih dariku segalanya. Aku meraih kepalanya, mengacak-acak
rambutnya sesaat.
“Kau serius sekali!.”
“Jadi Oppa hanya bercanda?.” Tanyanya dengan wajah
bingung, ini dia hanya ini yang bisa aku baca dari wajahnya. Ekspresi
kebingungan.
“Ayo kita berangkat, pasti kita akan terlambat.” Aku
menyela perkataannya, aku tak ingin membahasnya sekarang.
***
Sepanjang perjalanan tak ada perubahan, aku belum
mampu mengatakannya. Sekarang Ji Hyo nampak sedang berbincang melalui
ponselnya. Itu pasti member lain yang mengatakan kedatangan Joong Ki karena dia
terlihat mendesis menyebutkannya sambil melirik aneh kearahku.
“Gary Oppa...” panggil Ji Hyo.
“Kenapa?.”
Tanyaku tanpa mengalihkan pandangan dari jalan raya.
“Oppa tau Song
Joong Ki kembali?.” Dia bertanya dengan penuh selidik. Apa dia mulai
mencurigaiku? Memangnya apa yang aneh dariku?
“Hm.” Aku hanya mengangguk
kecil menanggapinya.
“Kata Jae Suk
Oppa dia datang menggantikan seseorang, siapa?.”
Aku Ji Hyo, aku
yang akan digantikan! jawabku
sayangnya hal itu hanya mampu aku katakan dalam hati.
***
Begitu kami sampai Ji Hyo menghampiri Joong Ki yang memanggilnya
begitu kami keluar dari mobilku. Mereka berdua sangat akrab, bahkan aku sangat
cemburu dengan kedekatan mereka. Aku mendudukan diriku diantara Jong Kook dan
HaHa.
“Apa kau sudah mengatakannya?.” Tanya HaHa
“Belum.”
HaHa menghela nafas kemudian merangkul pundakku
sesaat. Sementara Jong Kook hanya diam dan sesekali menghela nafas dalam.
“Hyung.”
Jong Kook tidak menoleh kearahku masih saja diam
dengan pandangan lurus kedepan.
“Jong Kook Hyung.”
Dia menoleh kearahku dengan cepat, tatapannya begitu
tajam. Aku tau, dia marah padaku.
“Siapa yang kau panggil Hyung? Aku tidak pernah
merasa memiliki adik pengecut seperti kau.”
Benar aku memang pengecut, aku bahkan tidak sanggup
menatap gadis yang aku sukai itu.
“Maaf.”
“Katakan itu pada Ji Hyo.” Ucap Jong Kook kemudian
berlalu.
***
Sepanjang Shooting sekilas tak ada yang berbeda
dengan Ji Hyo, namun jika dilihat seksama dia begitu berbeda. apakah dia sudah
tau aku akan pergi? Namun aku masih bersyukur karena sesekali masih bisa
melihat senyumannya. Begitu race berakhir Jae Suk Hyung merangkulku.
“Mungkin ini sedikit terlambat untuk dikatakan. Tapi
setelah beberapa tahun in Gary telah bekerja dengan begitu keras bersama kami.
Namun, untuk sementara waktu Gary akan meninggalkan kita semua.”
“Apa kau berbohong Oppa?.” Samar-sama aku mendengar
pertanyaan itu, pertanyaan dari Ji Hyo.
“Tidak, aku memang akan meninggalkan kalian
sementara. Aku harus pergi. Suatu saat jika ada kesempatan lagi untuk berada
disini, aku akan kembali.” Dengan berat hati aku mengatakannya tanpa menatap
gadis yang begitu aku sayangi.
“Gary Oppa...”
Dia memanggilku lagi, aku mencoba mengabaikannya.
Aku mengalihkan perhatianku pada member lain memeluknya secara bergantian. Ji
Hyo terlihat bersama Suk Jin Hyung, matanya memerah. Apa dia menangis karena
aku akan pergi? Apakah yang harus aku rasakan sekarang? Haruskah aku bahagia
karena mungkin saja dia memiliki perasaan yang sama, ataukah sedih? Entahlah...
Begitu aku dihadapannya, dia menatapku tajam. Dia
nampak begitu kecewa sekarang.
“Kita perlu bicara.”
***
“Apa ini alasan
Oppa hari ini menjemputku?.”
“Ini hari
spesial kita. Senin.” Lagi-lagi aku belum mampu menatap matanya. Aku hanya
menatap lurus tanpa tau apa yang sedang aku lihat.
“Kenapa Oppa
tidak mengatakannya sejak tadi?.”
“Apa kau akan
kehilangan aku? apa kau keberatan aku pergi? Ji Hyo aku cemas, jika mengingat
kau tidak akan pernah merasa kehilanganku.” Aku menghempaskan tubuhku
kesandaran kursi. Memejamkan mataku sejenak.
“Apa yang Oppa
katakan?.” Dia menarik jaketku sehingga aku menghadap kearahnya.
“Kenapa Oppa
berpikir seperti itu? Tentu saja aku kehilangan kau Oppa...”
“Ji Hyo-ah...”
Tiba-tiba Ji Hyo
menerjangku, memelukku erat. Tanpa ragu lagi aku juga membalas pelukkannya,
mengecup puncak kepalanya lama.
“Aku menyukaimu
dari sejak lama, Ji Hyo.”
“Oppa...” dia
semakin mengeratkan pelukannya padaku. Kenapa dia bersikap seperti ini?
“Jangan pergi.”
“Ini tidak akan
lama.”
“Tidak. Jangan
pergi, sampai kapanpun.”
“Ji Hyo-ah...” apa
yang harus aku lakukan selanjutnya? Aku harus pergi tapi hatiku berat
meninggalkannya disini, sendiri.
“Oppa...”
“Tunggu aku,
sebentar saja.”
Kukecup
bibirnya, Ji Hyo nampak mematung. Dia tidak melakukan reksi apapun. Setelah
cukup lama aku beralih pada kening dan kedua pipinya. Ku tatap wajahnya,
meyakinkannya.
“Tunggu aku,
sebentar. Ini tidak akan lama.”
“Oppa... aku
akan menunggumu.”
Syukurlah... aku
hanya bisa tersenyum kecil padanya kemudian meraihnya kembali dalam pelukanku.
“Tunggu aku, ditempat dimana biasanya aku
berada.”
***
“Oppa...”
“Hm...”
Aku menatapnya
yang sedang merebahkan kepalanya dalam dekapanku. Kemudian kuelus rambutnya
perlahan.
“Jangan
pergi...” Ji Hyo mengeratkan pelukannya dipinggangku. Dia benar-benar tidak
membiarkan aku pergi malam ini.
“Aku disini.”
“Oppa...”
“Iya...”
“Kenapa harus pergi?.”
Demi kita, aku harus meyakinkan hatimu bahwa aku
memang yang terbaik untukmu. Sayangnya, kata-kata itu hanya mampu kuucapkan
dalam hati.
“Aku harus bekerja ditempat lain.”
“Oppa...” Suaranya kembali parau. Ku eratkan lagi
pelukanku pada tubuhnya.
“Tidurlah, aku disini.” Kutarik selimut untuk
menutupi tubuh kami. Kukecup puncak kepalanya sesaat kemudian memeluknya
kembali, membuatnya nyaman. Dia juga melakukan hal sama. Memelukku begitu erat.
“Mimpi Indah sayang.”
***
Kini aku telah berada didalam pesawat. Pagi-pagi
sekali aku segera meninggalkan apartemen Ji Hyo. Sebelum dia terbangun. Maafkan
aku Ji Hyo... bersabarlah dan tunggu aku. aku mencintaimu selalu...
Begitu berat rasanya saat aku ingat meninggalkannya
sekarang. Tidak bisa ku pungkiri bahwa beberapa minggu belakangan ini kami
lebih dekat dari biasanya. Dia yang tak sungkan lagi menghampiriku ditempat
kerja dan apartemenku, begitupun dia yang mulai mengijinkanku untuk mengantar
jemputnya bekerja dan kami juga beberapa kali singgah di apatemen Ji Hyo.
“Gary Oppa...
aku membuat sesuatu.”
Ji Hyo berjalan
kearahku dengan nampan ditangannya, sementara aku yang sedari menunggunya diruang
tamu apartemennya hanya bisa tersenyum. Ternyata ini yang dia siapkan untukku?
“Makanlah.”
“Baik.” Rasanya
benar-benar enak.
“Sekarang aku
tak percaya bahwa kau tidak bisa memasak. Ini enak sekali.”
“Benarkah?.”
“Permisi Tuan.”
Seorang pramugari menyadarkanku dari lamunanku
tentang Ji Hyo. Baru beberapa saat aku meninggalkannya aku sudah merasakan
rindu yang luar biasa. Sedang apa kau sekarang Ji Hyo?
***
Apakah dia hari ini datang kesana?
Iya Boss, setiap
hari dia datang...
Apakah dia baik-baik saja?
Dia terlihat baik
meski sedikit lebih kurus.
Baiklah... terimakasih.
Aku menyimpan kembali ponselku. Syukurlah jika dia
benar-benar datang ketempatku. Dengan begitu, aku bisa mengewasimu dari sini Ji
Hyo.
Jagalah dirimu baik-baik.
***
Hari demi hari berlalu tanpa terasa tour-ku selesai,
pergi dari satu tempat ketempat lain. kesibukan benar-benar menyita waktuku.
Pergi pagi dan pulang larut malam, tak ada waktu untuk melakukan hal lain.
Beberapa waktu lalu aku sempat melihat Ji Hyo. Dia
nampak baik-baik saja, dia begitu cantik dengan tawa yang selalu terbingkai
dalam wajahnya. Dia tak nampak sedih. Aku lega sekaligus bingung. Melihatnya
bahagia seperti itu, apakah lebih baik aku tidak kembali?
Ponselku berdering.
Mong Ji’s Calling...
Selarut ini apa yang dia lakukan? Apakah dia
merindukanku? Maafkan aku Ji Hyo aku belum sempat menghubungimu. Aku
menjawabnya.
“Gary Oppa...
aku merindukanmu... Balas pesanku atau angkatlah panggilanku sesekali.”
Ji Hyo... kau kenapa?
“Jika kau memang
tidak pernah mau bicara denganku setidaknya dengarkanlah aku. aku merindukanmu
Oppa...”
Tut.
Panggilan berakhir, dia memutuskan panggilannya
sebelum sempat aku berkata. Ji Hyo kenapa?
Dia sedang mabuk
Gary. Jawab diriku yang
lain.
Tidak. dia mungkin saja benar-benar merindukanku.
Mana mungkin dia
merindukanmu tapi tidak terlihat sedih sama sekali? Jangan bodoh. dia tidak
merindukanmu Gary. Dia sedang mabuk.
Dia menjawab lagi
Benar, dia mungkin saja sedang mabuk.
Ponselku kembali berdering, sebuah pesan diterima.
Gary, dulu kau
mengatakan ingin belajar membuat Dessert. Datanglah kerumah.
Ku hempaskan tubuhku, sepertinya belum saatnya aku
kembali.
***
Pagi ini entah kenapa aku masih memikirkan ucapan Ji
Hyo malam itu. apakah sebaiknya aku menghubunginya? Tidak. ini tidak akan
berjalan baik. Ini hari apa? Senin. Mungkin saja hari ini Ji Hyo sedang
shooting. Kuraih ponselku mendial nomor Joong Ki.
“Joong Ki.”
“Gary Hyung.
Bagaimana kabarmu?.”
“Baik. Bagaimana denganmu dan yang lain?.”
“Baik. Kapan kau
kembali Hyung? Tour-mu sudah selesaikan?.”
“Iya, tapi aku belum memutuskan untuk kembali.”
“Kenapa?.”
“Bukan apa-apa.” Tidak mengatakannya pun dia akan
tau maksudku.
“Hyung! Berhenti menjadi pengecut! Datanglah...”
“Belum saatnya,
aku memang pengecut. Aku takut dia... belum melihatku.”
“Gary Hyung...”
“Lagipula Ji Hyo
terlihat baik, aku sangat lega melihatnya.”
“Hyung! Ji Hyo Noona tidak sebaik dilayar kaca. Ji
Hyo Noona sering melamun, dia lebih sering diam. Apa kau tega membuatnya
seperti ini Hyung? Apa kau berbohong tentang kau yang mencintainya?.”
Benarkah? Benarkah Ji Hyo seperti itu?
“Hyung! Apa kau masih mencintai Ji Hyo Noona? Atau
kepergianmu ini karena mendapatkan yang lain?.”
“Aku akan segera
kembali.”
***
Aku berjalan memasuki ruang kerja di cafe-ku. Begitu
mendengar ucapan Joong Ki, rasa ketakutanku bertumbuh semakin banyak. Bukan
ketakutan yang selama ini mengurungku, tapi takut terjadi apa-apa dengannya.
Dia tidak baik-baik saja. Begitu memasuki ruanganku sebuah kejutan luar biasa
dihadapanku. Dia benar-benar datang kesini. Aku melihat kearah dinding. Apakah
selama ini Ji Hyo membuat ini untukku?
Aku mencintaimu
Oppa...
Sudut dalam hatiku membuat kebahagiaan yang
membuncah disana, senyumpun tak bisa kutahan lagi. Ji Hyo... aku mendekat
kearahnya membelai rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya. Dia nampak
membuka matanya sedikit.
“Oppa...”
“Jangan pergi lagi Oppa...”
Aku tersenyum mendengarnya. Aku mendekatkan diriku
padanya.
“Tidak akan.”
“Aku merindukanmu Oppa...”
“Aku Juga Ji Hyo.” Aku mengecup kepalanya sesaat
kemudian beranjak meninggalkannya.
Tunggu Ji Hyo... ini akan berakhir bahagia... aku
benar-benar kembali hanya untukmu.
***
Satu jam sudah aku berkutat di kichenset di cafe-ku.
Sesekali aku memandang kotak cincin yang sengaja aku simpan tak jauh dariku.
Saat tour aku sengaja membeli ini untuknya, aku pernah berjanji tentang hal itu
padanya.
“Tolong bawakan aku makanan seperti biasa.”
Samar-samar aku mendengar suara Ji Hyo yang meminta
makanan. aku tersenyum lagi, beruntung aku hampir menyelesaikan masakanku
sekarang. Aku memang sengaja memasak sekarang untuk Ji Hyo. Apakah dia masih
ingat rasa masakanku?
Aku meraih box ice cream yang tadi aku buat,
kemudian meraih cincin itu. Sekarang saatnya kau berada ditangan yang tepat
cincin. Semoga dia senang dengan ini.
“Ini, bawakan makanan ini untuknya.”
“Baik Boss.”
Setelah mengatakan itu aku kembali memasak, membuat
makanan untukku sendiri. cafe ini sengaja aku tutup hanya untukku dan Ji Hyo. Aku
bukan pria romantis, namun aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuknya.
Suara derap langkah terdengar mendekat.
“Chef.”
Aku berbalik menatapnya, dia terlihat menahan nafas.
dia kenapa? Apakah aku terlalu mengejutkannya?
“Ji Hyo...”
“Gary Oppa...”
Dia menerjang tubuhku, memelukku erat. Aku membalas
pelukannya, mengelus punggung dan puncak kepalanya.
“Oppa...”
“Kau kembali Oppa...”
“Ya. aku kembali, hanya untukmu Ji Hyo.”
Aku meraih kedua tangannya, mengambil cincin dari
genggaman tangannya.
“Marry me?.”
Ji Hyo mengangguk, matanya nampak berkaca-kaca. Aku
memasangkan cincin itu dijarinya.
“Oppa...” Ji Hyo memelukku lagi.
“Aku mencintaimu Ji Hyo.”
“Aku Juga, Oppa... Jangan pergi lagi.”
“Tidak akan.”
***
Tamat.
Seri kedua dari Monday Couple Short Story akhirnya
selesai. Semoga suka ya J

No comments:
Post a Comment