Saturday, 18 October 2014

Long Distance Marriage



baca artikel ini yuk sebelum baca :)

***

Chapter 11

Prilly memberikan benda kecil yang agak panjang itu pada Riani, kemudian ia duduk disamping Ali yang sedari tadi duduk sendiri. Sementara itu Reina beranjak mendekati Riani.
“Negatif? Kok?.” Ujar Riani
“Ya emang gak mungkin Ma hasilnya positif.” Ucap Ali.
Riani memicingkan mata, menatap putera kesayangannya penuh rasa curiga.
“Kamu... gak normal?.”
“Mama ih tega banget nyumpahin anaknya gak normal. Ya normal lah Ma...”
“Terus kenapa gak mungkin?.”
“Ya karena kita emang belum pernah melakukan itu.”
“APA?!.”


Ali dan Prilly saling melirik, sementara Riani dan Reina berdiri dihadapan mereka menatap keduanya dengan rasa tak percaya. Bagaimana mungkin bisa mereka belum pernah melakukannya?. Kedua Mama mereka terlihat kecewa pada kedua anaknya itu harapan akan mendapatkan anggota keluarga baru pupuslah sudah. keduanya masih tak percaya dengan apa yang baru saja dituturkan Ali.
“Masa sih kalian belum?.”
Prilly melirik ke arah Ali kemudian menunduk. Entah kenapa ia merasa bersalah juga pada kedua Mamanya itu.
“Ya... kita emang belum pernah. Bener apa kata Ali tadi Ma.”
“Tapi bagaimana bisa Prilly? Emang kamu gak ngasih sama Ali?.” tanya Reina
Prilly mengerutkan keningnya. Ia menatap Reina kemudian melirik Ali dan kembali menatap Reina. Ia menghela nafas panjang.
“Ngasih apa Ma?.”
“Sayaang... masa kamu gak ngerti sih? Itu sayaang...”
Prilly masih mengerutkan keningnya bingung, ia melirik ke arah Ali yang menutup mulutnya menahan tawa.
“Apa sih Ma?.” Tanya Prilly. Ia masih belum faham dengan perkataan Reina.
Reina dan Riani berpandangan bingung, bagaimana cara menjelaskannya? Masa iya sih harus menjelaskan secara gamblang pada Prilly? Harus secara frontal? Lagi pula kenapa Prilly begitu polos sih? Kemudian keduanya mengalihkan pandangannya pada Ali. Ali menghela nafas panjang untuk menahan tawanya, kemudian ia menegakkan posisi duduknya.
“Itu lho sayaang... gimana ya? hm...”
Prilly semakin mengerutkan keningnya.
“Apaan sih? Jangan buat aku semakin pusing deh.”
“Oke oke.” Ucap Ali.
“Jadi maksudnya itu...” Ali melirik Reina dan Riani, jujur saja ia malu juga mengatakannya. Kemudian Ali mendekatkan diri pada Prilly, berbisik sangat pelan.
Prilly membulatkan matanya kemudian memukul lengan Ali pelan.
“Ih Ali apaan sih?.”
“Tapi emang gitu yaang yang dimaksud Mama.”
Reina menatap Prilly penuh selidik.
“Jadi kamu gak ngasih?.”
“Gak ngasih? Idih Ma siapa yang gak ngasih? Orang Ali nya aja gak minta. Yaudah deh.”
Ali berdehem kecil.
“Jadi gini Ma... Ali pikir kita masih muda dan kita juga masih dalam proses pacaran. Ehm maksudnya perkenalan lebih dekat. Jadi ya mendingan gini aja dulu.” Ali melirik ke arah Prilly.
“Ali juga mikirin Prilly. Buat kesana kesannya terlalu jauhlah Ma. Kasian juga sama Prilly nya. Masih skripsi dan terlalu muda. Ali takut Prilly belum siap aja.”
Prilly mengerutkan keningnya sambil menatap Ali.
“Belum siap? Emang siapa yang bilang belum siap?.”
“Ya kan takutnya sayaang... emang kamu siap gitu?.”
Prilly nampak berpikir. Ia melirik ke arah Riani, Reina dan Ali secara bergantian.
“Siap-siap aja tuh. Kalo emang udah diberi kepercayaan sama Allah kenapa enggak? Toh kita udah nikah. Kita udah sah. Apalagi yang mesti ditakutin?.”
Tiga pasang mata yang berada disekeliling Prilly menatap Prilly dengan mata yang penuh binar kebahagiaan, ketidak percayaan dengan ucapan Prilly. Kalau begitu... tunggu apa lagi?

***

Ali membantu Prilly untuk kembali merebahkan tubuhnya dipembaringan. Menurut Riani beberapa hari ini Prilly harus istirahat total dan makan secara teratur. Pasalnya asam lambung Prilly masih belum stabil dan masih membutuhkan perawatan khusus.
“Parah ya asam lambungnya.” Ujar Ali.
“Iya. Itulah kenapa aku gak boleh makan sembarangan dan gak boleh telat juga. Sementara beberapa hari terakhir aku terlalu terburu-buru mau rampungin skripsi, aku kangen banget sama kamu sampe-sampe makan aja males saking pengen cepet-cepetnya skripsi selesai dan ketemu kamu.”
Ali mengelus kepala Prilly dengan mata yang tak pernah lepas dari istrinya itu. ia sangat khawatir pada istrinya itu, apalagi jika melihat wajahnya yang masih saja sangat pucat.
“Jangan kayak gitu lagi yaang... kamu terus-terusan ingetin aku tapi kamunya sendiri kayak gini. Aku gak suka liat kamu sakit. Jangan kayak gini lagi yaang.”
Prilly dapat melihat tatapan kekhawatiran yang terpancar dari kedua bola mata Ali kemudian ia hanya tersenyum.
Ali mendekatkan diri pada Prilly, mengecup keningnya cukup lama.
“Cepet sembuh sayaang.”
Prilly tersenyum begitu manis, ia menjangkau pipi Ali mengelusnya pelan.
“Aku sayang kamu.”
Ali tersenyum, ia mengelus pipi Prilly begitu lembut. Menyalurkan seluruh rasa sayang yang ia punya, rasa sayang yang begitu melimpah hanya untuk gadis dihadapannya ini.
“Aku lebih sayang kamu yaang... tidur ya... biar cepet sembuh.”
Prilly mengangguk kecil, kemudian menyamkan posisi tidurnya kemudian terlelap.
Ali masih menatap Prilly sambil terus menerus mengelus kening istrinya itu. untuk pertama kalinya ia dihadapkan pada seseorang yang sakit. Orang yang sangat ia sayang menderita karena sakit. Dan ternyata menyaksikan orang yang kita sayang sakit itu rasanya begitu luar biasa, luar biasa khawatir, luar biasa panik dan luar biasa mempengaruhinya hingga ia merasa sangat tidak karuan dibuatnya.
“Aku sayang kamu... kamu jangan sakit lagi ya yaang... aku gak bisa liat kamu kayak gini. Aku terlalus sayang kamu.”
Setelah mengatakan itu Ali menarik selimut untuk menutupi tubuh Prilly, kemudian ia mengecup kening Prilly sekali lagi.
“Aku sayang kamu. cepet sembuh sayaang.”

***

Beberapa hari Prilly mulai membaik, semuanya terasa begitu cepat dan begitu mudah bagi Prilly karena ada Ali disampingnya. Semuanya terasa begitu berbeda dengan saat dimana dulu masih sendiri.
Prilly memandangi Ali yang masih saja ingin terus menyuapinya. Sesekali ia dan Ali melempar senyum tanda kebahagiaan mereka. Prilly mengelus pipi Ali.
“Aku beruntung punya kamu Honey.”
Ali menghela nafas, ia meraih Prilly kemudian menggenggamnya sementara matanya memandangi istrinya begitu lekat. Seakan memberitahukan bahwa ia juga merasakan hal yang sama dan lebih dari sekedar apa yang Prilly rasakan.
“Aku lebih beruntung lagi punya kamu sayaang.”
Prilly tersenyum.
“Terimakasih Honey.”
Ali terkekeh kecil. ia mencubit hidung Prilly dengan begitu gemasnya.
“Ngapain terimakasih? Udah ah. Makan dulu baru ngobrol lagi.”
Prilly tersenyum tipis kemudian mengangguk patuh. Entah kenapa, pria dihadapannya ini selalu saja ada cara membuatnya tersipu malu. meskipun dengan cara-cara yang mungkin biasa saja. Namun tetap saja pipinya selalu terasa panas dan memerah.

***

Prilly menyentakkan tangannya ke atas meja dengan kesal, ia mendelik ke arah Agni yang hanya duduk dengan tangan yang terus menyuap memakan cemilan yang berada didalam toples, sementara Agni hanya diam tak mengindahkan Prilly yang memang sedari tadi hanya mendelik dan menggerutu.
“Makan aja terus.” Rutuk Prilly.
Agni melirik ke arah Prilly tanpa minat kemudian menyimpan toples berisi cemilan itu dengan kesal.
“Kenapa sih loe? Sensi amat perasaan. Biasanya juga gue nyemil gak pernah loe masalahin. Aneh banget sih loe. Gak dikasih jatah loe sama laki loe?.”
“Idih jatah maksud loe? Lagian loe ngapain kesini kalo gak mau bantu? Menuh-menuhin apartemen gue aja loe.”
Agni memutar bola matanya. Ia mendengus kesal kemudian beranjak dari tempat duduknya kemudian mengambil tas dan setelah itu berjalan ke arah pintu.
“Eh... mau kemana loe?.” Tanya Prilly.
Agni menghela nafas, ia berbalik dengan lambat untuk menatap ke arah Prilly.
“Kata loe gue menuhin apartemen loe. Ya gue mau pulanglah.”
“Ya... tunggu Ali kek. Gue takut sendirian di apartemen.”
Agni menghela nafas untuk kesekian kalinya, kemudian ia duduk dihadapan Prilly. Menatap sahabatnya itu dengan penuh tanya.
“Loe kenapa sih Ly? Aneh banget sumpah dari semenjak gue dateng.”
Prilly mendengus kesal, ia menghentakkan tangannya ke atas meja sambil melemparkan pensil yang sedari tadi ia genggam.
“Ya gue kesel aja. Loe bayangin ya... seharian gue dicuekin sama Ali. biasanya dia bangunin gue terus sayang-sayangan sama gue, manjain gue. Eh tadi pagi loe tau apa yang dia lakuin? Dia udah rapih Ni. Dia udah rapih!!! Mau ngapain coba dia pagi-pagi udah rapih?. Dan asal loe tau aja ya Ni. Dari bangun tidur sampe sekarang dia belum ngomong sepatah katapun sama gue. Sms gue gak dibalas, telpon gue gak di angkat. Gue denger suara dia aja pas dia pamit sama gue. Sedangkan smaa gue dia gak pamit sama sekali!. Apa coba Ni salah gue? Apa?! Seenggaknya kalo gue punya salah ya dia harusnya ngomong! Bukan diemin gue kayak gini. Gue bingung Ni, gue gak tau harus ngapain.”
Agni hanya bisa menghela nafas, ia menatap sahabatnya itu dengan iba. Kemudian ia mendekati Prilly, merangkul pundak Prilly, menenangkannya.
“Nanti juga loe bakalan tau Ly. Gue yakin semuanya bakalan balik kok kayak semula. Asalkan loe sabar aja.”
Prilly memeluk pinggang Agni. Menyandarkan kepalanya pada pundak sahabatnya itu.
“Ya tapi gue bingung harus ngapain Ni.”
Agni menaikan kedua bahunya.
“Mana gue tau, loe tau sendirikan gue balum married?.”
Prilly melongos. Benar juga.
“Nyesel gue ngomong sama loe, gak ada solusi-solusinya sama sekali.” Rutuk Prilly.
Agni hanya memamerkan deretan gigi putih bersihnya. Bukan salahnya jugakan tidak memberikan solusi baik? Salah Prilly juga kenapa meminta solusi pada yang belum menikah. Kan aneh.

***

“Agniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii...... loe yang mau dinner kenapa gue juga harus dandan hah? Loe kira gue sudi jadi nyamuk liatin loe berdua romantis-romantisan?.”
Agni mendengus kesal sambil berkacak pinggang menatap Prilly yang sedari tadi terus saja mengomel tanpa henti.
“Terserah deh ya... gue cuma nawarin yang terbaik! Emang loe yakin Ali bakalan pulang kesini hah dengan loe diem aja dirumah? Loe tunjukin dong loe gak tergantung sama dia. Kalo loe terus-terusan tergantung sama dia dia bakalan seenaknya sama loe, emang loe mau selamanya dia giniin loe?.” Agni menatap tajam pada Prilly, Prilly pun perlahan menganggukan kepalanya pelan. “Enggak kan? Yaudah. Ikut gue!!!.”

***

Disinilah dia sekarang, disalah satu restaurant yang menyajikan makanan khas Indonesia. Tempat itu terlihat begitu sepi.
Prilly melirik kearah Agni yang baru saja keluar dari pintu kemudi. Ia mengerutkan keningnya, tanda keheranannya.
“Yakin Ni ini tempatnya? Selera cowok loe parah banget sih. Angker banget ini tempat. Mana gelap lagi.”
“Bener kok ini tempatnya, kata Al emang disini. Mungkin dia mau ngasih kejutan.” Ucap Agni dengan mata yang berbinar. Ia melirik Prilly kemudian tanpa basa-basi ia menarik tangan Prilly memasuki ruangan yang begitu gelap itu.
“Agni awas aja ya loe ninggalin gue. Gelap banget iniiiiiii..........”
Setelah mengatakan itu, bukannya Agni menyaut tangan yang sedari tadi di genggam Agni malah terlepas. Ia ditinggalkan!!!
“Agni woy! Ini gak lucu sumpah!!! Awas ya loe.... Agni?!.”
Prilly menarik nafas panjang.
“Agni? Loe disekitar sinikan? Agni?.”
Prilly melirik kekanan dan kekirinya. Namun semuanya percuma karena disekelilingnya begitu gelap dan gelap. Prilly mundur teratur.
Duk!
Tubuhnya membentur sesuatu, sebelum ia berbalik mulutnya telah dibekap kemudian matanya ditutup, tangannya juga tidak bisa melakukan perlawanan karena diikat.
Agni......... loe dimana? Tolongin gue... tolong please siapapun dateng. Prilly terus menerus memberontak meski tidak ada hasilnya. Tubuhnyapun ia rasa melayang tak menginjak tanah. Ada apa sebenarnya ini? Agni? Loe tega sama gue Agni.
“Siapa loe? Tolooooooooooooong!!!.” Prilly berteriak sekencang yang ia bisa saat orang yang mengikat tangannya itu melepaskan bekapan pada mulutnya.
“Please lepasin gue pleaseeeeeeee..... Agniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii..............”
Setelah beberapa saat tubuhnya kembali.
“Please lepasin gue...”
Ikatan pada tangannya perlahan terlepas. Tanpa pikir panjang ia segera melepas penutup matanya. Prilly terdiam,
“Ini....”
Tangan Prilly menutup mulutnya, begitu terkejut dengan apa yang ia lihat. Pemandangan yang sangat indah. Dimana dibawah sana tepat disebuah kolam  bertabur lilin yang membentuk namanya dan Ali. dipinggiran kolam itu bertabur mawar berwarna merah menyala yang menambah kesan keromantisan itu. ini luar biasa, ini.... sangat indah. Batin Prilly. ia segera berbalik dan memeluk pria dibelakangnya itu.
“Ali... ini keren.”
Ali, orang yang sedari tadi menyekapnya tersenyum kemudian membalas pelukan Prilly dengan erat.
“Kamu suka?.”
“Ini sangat indah, aku tidak mungkin tidak menyukainya.”
“Ini tak seberapa sayang, karena hal yang paling indah didunia ini hanyalah dirimu, hanya dirimu yang selalu ada disetiap hela nafasku, yang selalu ada disetiap denyut nadiku yang selalu hadir dalam setiap mimpi indahku. Aku sayang kamu Prilly...”
Prilly mengurai pelukannya. Ia menatap mata pria yang sangat ia cintai ini.
“Aku juga sayang kamu Ali. jangan buat aku takut lagi. Aku gak bisa dicuekin kamu, aku gak mau kamu dingin sama aku, aku sangat menyayangimu.”
“Maaf sayaang... aku hanya ingin membuatkan sebuah hadiah kecil untukmu sebagai hadiah pernikahan kita yang belum dirayakan.”
Air mata Prilly menetes, ia begitu terharu dengan segala yang dilakukan prianya itu, segala yang dilakukan suaminya itu.
“Ali... terimakasih.”
Prilly kembali memeluk Ali begitu erat. Melampiaskan segala buncahan kasih sayang yang telah meluap dari dalam hatinya. Begitu banyak, hingga tak kuat rasanya jika kasih sayangnya itu tak disalurkan sedikitpun.
“Aku sayang kamu, cuma kamu, selamanya hanya kamu. aku akan selalu mendampingimu saat suka dan duka, Ali...”
“Terimakasih sayaang, semoga semuanya bisa sesuai dengan apa yang kita harapkan. Aku sayang kamu, aku akan selalu berusaha menjadi yang kau mau dan terbaik untukmu.”
Ali mengecup puncak kepala Prilly dengan penuh kasih sayang. Biarlah malam ini menjadi malam terindah bagi mereka, malam yang tak akan pernah terlupakan sedikitpun.

***

Ali terjaga, ia melirik kesampingnya sambil tersenyum. Ia tersenyum begitu bahagia sambil menatap wajah Prilly yang masih terlelap. Malam indah, malam yang panjang, malam yang penuh kebahagiaan baru saja terlewati. Ternyata segalanya begitu indah, melebihi yang ia bayangkan.
“Semoga ini menjadi awal kebahagiaan bagi kita sayaang.” Ucap Ali sambil mengecup kening Prilly.

***

Bersambung.
Jangan lupa baca artikel iniyaaaa..........
Terimakasih buat semuanya yang udah mau nungguin cerita ini. saya mohon maklumnya karena aku udah efektif kuliah dan tugas selalu numpuk, tiap minggunya gak ada minggu tenang tanpa tugas, jadi harap maklum ya kalau ceritanya bakalan lamaaaaaaaaaaaaaa lanjutinnya. Maaf sekali.
Oiya bagi yang mau di follback dilahkan jawab 3 pertanyaan yang berkaitan dengan “IMMORTAL LOVE” dibawah ini.
1.      Apakah nama lengkap Prilly dan Ali?
2.      Kenapa Prilly ingin membuat Ali benci padanya?
3.      Dengan cara apa Prilly membuat Ali benci padanya?
Kirimkan jawabanmu ke twitter @SopiahNenden dan 13 orang tercepat dan jawabannya benar maka akan saya follback yaaa :)
Terimakasih sebelumnya :)

9 comments:

  1. Akhirnyaaaa...ditunggu lanjutannya yaaaah hehe

    ReplyDelete
  2. akhir nya stlah bgtu lma menunggu akhir nya di next jga. min q ska bngt ma cerita nya mkin hri mkin bgus ja crta nya. di next ya min. tetap semangat :-)

    ReplyDelete
  3. ayo dong di next uah gg sabar nie,

    ReplyDelete
  4. next dongg ka gk sbar nihh :D
    abis bagus sih crta.na hehe :D

    ReplyDelete
  5. ayo donk d next certa y kan bagus

    ReplyDelete
  6. Nextt donkkk.. Kece bingitss ff nyaa... Lanjut yaakkk..!! Fighting yakkk... Yg kece lagi bikin nya biar tambah semangat baca nyaa....

    ReplyDelete
  7. cepat dilanjut ya kak ceritanya.. bagus nih ceritanya :)

    ReplyDelete