baca artikel ini yuk sebelum baca :)
***
Chapter 11
Prilly memberikan benda kecil yang
agak panjang itu pada Riani, kemudian ia duduk disamping Ali yang sedari tadi
duduk sendiri. Sementara itu Reina beranjak mendekati Riani.
“Negatif? Kok?.” Ujar Riani
“Ya emang gak mungkin Ma hasilnya
positif.” Ucap Ali.
Riani memicingkan mata, menatap
putera kesayangannya penuh rasa curiga.
“Kamu... gak normal?.”
“Mama ih tega banget nyumpahin
anaknya gak normal. Ya normal lah Ma...”
“Terus kenapa gak mungkin?.”
“Ya karena kita emang belum pernah
melakukan itu.”
Ali dan Prilly saling melirik,
sementara Riani dan Reina berdiri dihadapan mereka menatap keduanya dengan rasa
tak percaya. Bagaimana mungkin bisa mereka belum pernah melakukannya?. Kedua
Mama mereka terlihat kecewa pada kedua anaknya itu harapan akan mendapatkan
anggota keluarga baru pupuslah sudah. keduanya masih tak percaya dengan apa
yang baru saja dituturkan Ali.
“Masa sih kalian belum?.”
Prilly melirik ke arah Ali kemudian
menunduk. Entah kenapa ia merasa bersalah juga pada kedua Mamanya itu.
“Ya... kita emang belum pernah. Bener
apa kata Ali tadi Ma.”
“Tapi bagaimana bisa Prilly? Emang
kamu gak ngasih sama Ali?.” tanya Reina
Prilly mengerutkan keningnya. Ia
menatap Reina kemudian melirik Ali dan kembali menatap Reina. Ia menghela nafas
panjang.
“Ngasih apa Ma?.”
“Sayaang... masa kamu gak ngerti
sih? Itu sayaang...”
Prilly masih mengerutkan keningnya
bingung, ia melirik ke arah Ali yang menutup mulutnya menahan tawa.
“Apa sih Ma?.” Tanya Prilly. Ia
masih belum faham dengan perkataan Reina.
Reina dan Riani berpandangan
bingung, bagaimana cara menjelaskannya? Masa iya sih harus menjelaskan secara
gamblang pada Prilly? Harus secara frontal? Lagi pula kenapa Prilly begitu
polos sih? Kemudian keduanya mengalihkan pandangannya pada Ali. Ali menghela
nafas panjang untuk menahan tawanya, kemudian ia menegakkan posisi duduknya.
“Itu lho sayaang... gimana ya?
hm...”
Prilly semakin mengerutkan
keningnya.
“Apaan sih? Jangan buat aku semakin
pusing deh.”
“Oke oke.” Ucap Ali.
“Jadi maksudnya itu...” Ali melirik
Reina dan Riani, jujur saja ia malu juga mengatakannya. Kemudian Ali
mendekatkan diri pada Prilly, berbisik sangat pelan.
Prilly membulatkan matanya kemudian
memukul lengan Ali pelan.
“Ih Ali apaan sih?.”
“Tapi emang gitu yaang yang
dimaksud Mama.”
Reina menatap Prilly penuh selidik.
“Jadi kamu gak ngasih?.”
“Gak ngasih? Idih Ma siapa yang gak
ngasih? Orang Ali nya aja gak minta. Yaudah deh.”
Ali berdehem kecil.
“Jadi gini Ma... Ali pikir kita
masih muda dan kita juga masih dalam proses pacaran. Ehm maksudnya perkenalan
lebih dekat. Jadi ya mendingan gini aja dulu.” Ali melirik ke arah Prilly.
“Ali juga mikirin Prilly. Buat
kesana kesannya terlalu jauhlah Ma. Kasian juga sama Prilly nya. Masih skripsi
dan terlalu muda. Ali takut Prilly belum siap aja.”
Prilly mengerutkan keningnya sambil
menatap Ali.
“Belum siap? Emang siapa yang
bilang belum siap?.”
“Ya kan takutnya sayaang... emang
kamu siap gitu?.”
Prilly nampak berpikir. Ia melirik
ke arah Riani, Reina dan Ali secara bergantian.
“Siap-siap aja tuh. Kalo emang udah
diberi kepercayaan sama Allah kenapa enggak? Toh kita udah nikah. Kita udah
sah. Apalagi yang mesti ditakutin?.”
Tiga pasang mata yang berada
disekeliling Prilly menatap Prilly dengan mata yang penuh binar kebahagiaan,
ketidak percayaan dengan ucapan Prilly. Kalau begitu... tunggu apa lagi?
***
Ali membantu Prilly untuk kembali
merebahkan tubuhnya dipembaringan. Menurut Riani beberapa hari ini Prilly harus
istirahat total dan makan secara teratur. Pasalnya asam lambung Prilly masih
belum stabil dan masih membutuhkan perawatan khusus.
“Parah ya asam lambungnya.” Ujar
Ali.
“Iya. Itulah kenapa aku gak boleh
makan sembarangan dan gak boleh telat juga. Sementara beberapa hari terakhir
aku terlalu terburu-buru mau rampungin skripsi, aku kangen banget sama kamu
sampe-sampe makan aja males saking pengen cepet-cepetnya skripsi selesai dan
ketemu kamu.”
Ali mengelus kepala Prilly dengan
mata yang tak pernah lepas dari istrinya itu. ia sangat khawatir pada istrinya
itu, apalagi jika melihat wajahnya yang masih saja sangat pucat.
“Jangan kayak gitu lagi yaang...
kamu terus-terusan ingetin aku tapi kamunya sendiri kayak gini. Aku gak suka
liat kamu sakit. Jangan kayak gini lagi yaang.”
Prilly dapat melihat tatapan kekhawatiran
yang terpancar dari kedua bola mata Ali kemudian ia hanya tersenyum.
Ali mendekatkan diri pada Prilly,
mengecup keningnya cukup lama.
“Cepet sembuh sayaang.”
Prilly tersenyum begitu manis, ia
menjangkau pipi Ali mengelusnya pelan.
“Aku sayang kamu.”
Ali tersenyum, ia mengelus pipi
Prilly begitu lembut. Menyalurkan seluruh rasa sayang yang ia punya, rasa
sayang yang begitu melimpah hanya untuk gadis dihadapannya ini.
“Aku lebih sayang kamu yaang...
tidur ya... biar cepet sembuh.”
Prilly mengangguk kecil, kemudian
menyamkan posisi tidurnya kemudian terlelap.
Ali masih menatap Prilly sambil
terus menerus mengelus kening istrinya itu. untuk pertama kalinya ia dihadapkan
pada seseorang yang sakit. Orang yang sangat ia sayang menderita karena sakit.
Dan ternyata menyaksikan orang yang kita sayang sakit itu rasanya begitu luar
biasa, luar biasa khawatir, luar biasa panik dan luar biasa mempengaruhinya
hingga ia merasa sangat tidak karuan dibuatnya.
“Aku sayang kamu... kamu jangan
sakit lagi ya yaang... aku gak bisa liat kamu kayak gini. Aku terlalus sayang
kamu.”
Setelah mengatakan itu Ali menarik
selimut untuk menutupi tubuh Prilly, kemudian ia mengecup kening Prilly sekali
lagi.
“Aku sayang kamu. cepet sembuh
sayaang.”
***
Beberapa hari Prilly mulai membaik,
semuanya terasa begitu cepat dan begitu mudah bagi Prilly karena ada Ali
disampingnya. Semuanya terasa begitu berbeda dengan saat dimana dulu masih
sendiri.
Prilly memandangi Ali yang masih
saja ingin terus menyuapinya. Sesekali ia dan Ali melempar senyum tanda
kebahagiaan mereka. Prilly mengelus pipi Ali.
“Aku beruntung punya kamu Honey.”
Ali menghela nafas, ia meraih
Prilly kemudian menggenggamnya sementara matanya memandangi istrinya begitu
lekat. Seakan memberitahukan bahwa ia juga merasakan hal yang sama dan lebih
dari sekedar apa yang Prilly rasakan.
“Aku lebih beruntung lagi punya
kamu sayaang.”
Prilly tersenyum.
“Terimakasih Honey.”
Ali terkekeh kecil. ia mencubit
hidung Prilly dengan begitu gemasnya.
“Ngapain terimakasih? Udah ah.
Makan dulu baru ngobrol lagi.”
Prilly tersenyum tipis kemudian
mengangguk patuh. Entah kenapa, pria dihadapannya ini selalu saja ada cara
membuatnya tersipu malu. meskipun dengan cara-cara yang mungkin biasa saja.
Namun tetap saja pipinya selalu terasa panas dan memerah.
***
Prilly menyentakkan tangannya ke
atas meja dengan kesal, ia mendelik ke arah Agni yang hanya duduk dengan tangan
yang terus menyuap memakan cemilan yang berada didalam toples, sementara Agni
hanya diam tak mengindahkan Prilly yang memang sedari tadi hanya mendelik dan
menggerutu.
“Makan aja terus.” Rutuk Prilly.
Agni melirik ke arah Prilly tanpa
minat kemudian menyimpan toples berisi cemilan itu dengan kesal.
“Kenapa sih loe? Sensi amat
perasaan. Biasanya juga gue nyemil gak pernah loe masalahin. Aneh banget sih
loe. Gak dikasih jatah loe sama laki loe?.”
“Idih jatah maksud loe? Lagian loe
ngapain kesini kalo gak mau bantu? Menuh-menuhin apartemen gue aja loe.”
Agni memutar bola matanya. Ia
mendengus kesal kemudian beranjak dari tempat duduknya kemudian mengambil tas
dan setelah itu berjalan ke arah pintu.
“Eh... mau kemana loe?.” Tanya
Prilly.
Agni menghela nafas, ia berbalik
dengan lambat untuk menatap ke arah Prilly.
“Kata loe gue menuhin apartemen
loe. Ya gue mau pulanglah.”
“Ya... tunggu Ali kek. Gue takut
sendirian di apartemen.”
Agni menghela nafas untuk kesekian
kalinya, kemudian ia duduk dihadapan Prilly. Menatap sahabatnya itu dengan penuh
tanya.
“Loe kenapa sih Ly? Aneh banget
sumpah dari semenjak gue dateng.”
Prilly mendengus kesal, ia
menghentakkan tangannya ke atas meja sambil melemparkan pensil yang sedari tadi
ia genggam.
“Ya gue kesel aja. Loe bayangin
ya... seharian gue dicuekin sama Ali. biasanya dia bangunin gue terus
sayang-sayangan sama gue, manjain gue. Eh tadi pagi loe tau apa yang dia
lakuin? Dia udah rapih Ni. Dia udah rapih!!! Mau ngapain coba dia pagi-pagi
udah rapih?. Dan asal loe tau aja ya Ni. Dari bangun tidur sampe sekarang dia
belum ngomong sepatah katapun sama gue. Sms gue gak dibalas, telpon gue gak di
angkat. Gue denger suara dia aja pas dia pamit sama gue. Sedangkan smaa gue dia
gak pamit sama sekali!. Apa coba Ni salah gue? Apa?! Seenggaknya kalo gue punya
salah ya dia harusnya ngomong! Bukan diemin gue kayak gini. Gue bingung Ni, gue
gak tau harus ngapain.”
Agni hanya bisa menghela nafas, ia
menatap sahabatnya itu dengan iba. Kemudian ia mendekati Prilly, merangkul
pundak Prilly, menenangkannya.
“Nanti juga loe bakalan tau Ly. Gue
yakin semuanya bakalan balik kok kayak semula. Asalkan loe sabar aja.”
Prilly memeluk pinggang Agni.
Menyandarkan kepalanya pada pundak sahabatnya itu.
“Ya tapi gue bingung harus ngapain
Ni.”
Agni menaikan kedua bahunya.
“Mana gue tau, loe tau sendirikan
gue balum married?.”
Prilly melongos. Benar juga.
“Nyesel gue ngomong sama loe, gak
ada solusi-solusinya sama sekali.” Rutuk Prilly.
Agni hanya memamerkan deretan gigi
putih bersihnya. Bukan salahnya jugakan tidak memberikan solusi baik? Salah Prilly
juga kenapa meminta solusi pada yang belum menikah. Kan aneh.
***
“Agniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii......
loe yang mau dinner kenapa gue juga harus dandan hah? Loe kira gue sudi jadi
nyamuk liatin loe berdua romantis-romantisan?.”
Agni mendengus kesal sambil
berkacak pinggang menatap Prilly yang sedari tadi terus saja mengomel tanpa
henti.
“Terserah deh ya... gue cuma
nawarin yang terbaik! Emang loe yakin Ali bakalan pulang kesini hah dengan loe
diem aja dirumah? Loe tunjukin dong loe gak tergantung sama dia. Kalo loe
terus-terusan tergantung sama dia dia bakalan seenaknya sama loe, emang loe mau
selamanya dia giniin loe?.” Agni menatap tajam pada Prilly, Prilly pun perlahan
menganggukan kepalanya pelan. “Enggak kan? Yaudah. Ikut gue!!!.”
***
Disinilah dia sekarang, disalah
satu restaurant yang menyajikan makanan khas Indonesia. Tempat itu terlihat
begitu sepi.
Prilly melirik kearah Agni yang
baru saja keluar dari pintu kemudi. Ia mengerutkan keningnya, tanda
keheranannya.
“Yakin Ni ini tempatnya? Selera cowok
loe parah banget sih. Angker banget ini tempat. Mana gelap lagi.”
“Bener kok ini tempatnya, kata Al emang
disini. Mungkin dia mau ngasih kejutan.” Ucap Agni dengan mata yang berbinar. Ia
melirik Prilly kemudian tanpa basa-basi ia menarik tangan Prilly memasuki
ruangan yang begitu gelap itu.
“Agni awas aja ya loe ninggalin
gue. Gelap banget iniiiiiii..........”
Setelah mengatakan itu, bukannya Agni
menyaut tangan yang sedari tadi di genggam Agni malah terlepas. Ia ditinggalkan!!!
“Agni woy! Ini gak lucu sumpah!!! Awas
ya loe.... Agni?!.”
Prilly menarik nafas panjang.
“Agni? Loe disekitar sinikan? Agni?.”
Prilly melirik kekanan dan
kekirinya. Namun semuanya percuma karena disekelilingnya begitu gelap dan
gelap. Prilly mundur teratur.
Duk!
Tubuhnya membentur sesuatu, sebelum
ia berbalik mulutnya telah dibekap kemudian matanya ditutup, tangannya juga
tidak bisa melakukan perlawanan karena diikat.
Agni.........
loe dimana? Tolongin gue... tolong please siapapun dateng. Prilly terus menerus memberontak meski tidak ada
hasilnya. Tubuhnyapun ia rasa melayang tak menginjak tanah. Ada apa sebenarnya ini? Agni? Loe tega sama
gue Agni.
“Siapa loe? Tolooooooooooooong!!!.”
Prilly berteriak sekencang yang ia bisa saat orang yang mengikat tangannya itu
melepaskan bekapan pada mulutnya.
“Please lepasin gue
pleaseeeeeeee..... Agniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii..............”
Setelah beberapa saat tubuhnya
kembali.
“Please lepasin gue...”
Ikatan pada tangannya perlahan
terlepas. Tanpa pikir panjang ia segera melepas penutup matanya. Prilly terdiam,
“Ini....”
Tangan Prilly menutup mulutnya,
begitu terkejut dengan apa yang ia lihat. Pemandangan yang sangat indah. Dimana
dibawah sana tepat disebuah kolam bertabur lilin yang membentuk namanya dan Ali.
dipinggiran kolam itu bertabur mawar berwarna merah menyala yang menambah kesan
keromantisan itu. ini luar biasa, ini....
sangat indah. Batin Prilly. ia segera berbalik dan memeluk pria
dibelakangnya itu.
“Ali... ini keren.”
Ali, orang yang sedari tadi
menyekapnya tersenyum kemudian membalas pelukan Prilly dengan erat.
“Kamu suka?.”
“Ini sangat indah, aku tidak
mungkin tidak menyukainya.”
“Ini tak seberapa sayang, karena
hal yang paling indah didunia ini hanyalah dirimu, hanya dirimu yang selalu ada
disetiap hela nafasku, yang selalu ada disetiap denyut nadiku yang selalu hadir
dalam setiap mimpi indahku. Aku sayang kamu Prilly...”
Prilly mengurai pelukannya. Ia menatap
mata pria yang sangat ia cintai ini.
“Aku juga sayang kamu Ali. jangan buat
aku takut lagi. Aku gak bisa dicuekin kamu, aku gak mau kamu dingin sama aku,
aku sangat menyayangimu.”
“Maaf sayaang... aku hanya ingin
membuatkan sebuah hadiah kecil untukmu sebagai hadiah pernikahan kita yang
belum dirayakan.”
Air mata Prilly menetes, ia begitu
terharu dengan segala yang dilakukan prianya itu, segala yang dilakukan
suaminya itu.
“Ali... terimakasih.”
Prilly kembali memeluk Ali begitu
erat. Melampiaskan segala buncahan kasih sayang yang telah meluap dari dalam
hatinya. Begitu banyak, hingga tak kuat rasanya jika kasih sayangnya itu tak
disalurkan sedikitpun.
“Aku sayang kamu, cuma kamu,
selamanya hanya kamu. aku akan selalu mendampingimu saat suka dan duka, Ali...”
“Terimakasih sayaang, semoga
semuanya bisa sesuai dengan apa yang kita harapkan. Aku sayang kamu, aku akan
selalu berusaha menjadi yang kau mau dan terbaik untukmu.”
Ali mengecup puncak kepala Prilly dengan
penuh kasih sayang. Biarlah malam ini menjadi malam terindah bagi mereka, malam
yang tak akan pernah terlupakan sedikitpun.
***
Ali terjaga, ia melirik
kesampingnya sambil tersenyum. Ia tersenyum begitu bahagia sambil menatap wajah
Prilly yang masih terlelap. Malam indah, malam yang panjang, malam yang penuh
kebahagiaan baru saja terlewati. Ternyata segalanya begitu indah, melebihi yang
ia bayangkan.
“Semoga ini menjadi awal
kebahagiaan bagi kita sayaang.” Ucap Ali sambil mengecup kening Prilly.
***
Bersambung.
Jangan lupa baca artikel iniyaaaa..........
Terimakasih buat semuanya yang udah
mau nungguin cerita ini. saya mohon maklumnya karena aku udah efektif kuliah
dan tugas selalu numpuk, tiap minggunya gak ada minggu tenang tanpa tugas, jadi
harap maklum ya kalau ceritanya bakalan lamaaaaaaaaaaaaaa lanjutinnya. Maaf sekali.
Oiya bagi yang mau di follback
dilahkan jawab 3 pertanyaan yang berkaitan dengan “IMMORTAL LOVE” dibawah ini.
1.
Apakah nama
lengkap Prilly dan Ali?
2.
Kenapa Prilly ingin
membuat Ali benci padanya?
3.
Dengan cara apa Prilly
membuat Ali benci padanya?
Kirimkan
jawabanmu ke twitter @SopiahNenden dan 13 orang tercepat dan jawabannya benar
maka akan saya follback yaaa :)
Terimakasih
sebelumnya :)
Akhirnyaaaa...ditunggu lanjutannya yaaaah hehe
ReplyDeleteakhir nya stlah bgtu lma menunggu akhir nya di next jga. min q ska bngt ma cerita nya mkin hri mkin bgus ja crta nya. di next ya min. tetap semangat :-)
ReplyDeleteayo dong di next uah gg sabar nie,
ReplyDeletenext dongg ka gk sbar nihh :D
ReplyDeleteabis bagus sih crta.na hehe :D
ayo donk d next certa y kan bagus
ReplyDeleteNextt donkkk.. Kece bingitss ff nyaa... Lanjut yaakkk..!! Fighting yakkk... Yg kece lagi bikin nya biar tambah semangat baca nyaa....
ReplyDeletelanjutannya manaaaa?
ReplyDeleteGeje bingo
ReplyDeletecepat dilanjut ya kak ceritanya.. bagus nih ceritanya :)
ReplyDelete