Part 5: Prom Night
Ali terlihat begitu santai, ia berjalan
sendiri menuju sebuah papan pengumuman yang sedang dikelilingi oleh
orang-orang. Ia menajamkan pendengarannya.
“Prom Night? Ada angin apa Prom Night
ditengah semester seperti ini?.”
“Hey Li.”
Ali menoleh saat Prilly memanggil namanya.
“Ada apa sih kok ribut gitu?.”
“Pengumuman Prom Night.”
Prilly mengangguk-anggukan kepalanya
mengerti.
“Oh.”
“Kamu gak niat dateng?.”
Prilly mengedikan bahunya kemudian berlalu.
Masa sih gue ikutan acara kayak gituan
kan malem. Prilly menghela nafas. setelah duduk dibangkunya ia memandangi
pergelangan tangannya. Tapi kata Bunda
gelang ini...
“Ciee gelang dari pacar ya?.”
“Eh.” Prilly menengok kearah Ali yang baru
saja duduk disampingnya. “Kenapa emang?.”
“Gapapa sih, bukan urusan gue juga.” Ali
tersenyum. “Oiya, kemaren gue gak sengaja liat loe berantem sama cowok loe.
Kenapa?.”
Prilly tersenyum. “Gapapa.”
“Yakin nih? Bukan gara-gara omongan guekan?
Atau cemburu gara-gara gue terlalu deket sama loe?.”
Prilly terkekeh, ia menepuk pundak Ali
pelan.
“Apaan sih loe? Cemburu apa? Dia gak
cemburuan keless.”
Ali tersenyum menanggapinya. Seneng deh liat senyuman loe. Loe
bener-bener mirip Prilly gue. Semuanya... semua yang ada pada diri loe itu
sama.
Prilly menghela nafas. maaf Li... gue belum bisa... ia tersenyum kaku pada Ali.
***
“Kevin.”
Kevin menoleh kearah Mila yang baru saja
memanggilnya. Ia tersenyum.
“Kenapa?.”
“Loe dateng keacara Prom Night gak?.”
“Dateng. Kenapa emang? Loe dateng juga. Gak
bakalan nyesel deh pokoknya.”
Mila tersenyum.
“Oke. Oiya loe mau kemana sekarang?.”
“Gue mau keperpus. Loe mau ikut?.”
“Boleh. Yuk...”
Kevin dan Mila berjalan berdampingan.
Keduanya bercengkerama dengan begitu akrabnya.
“Entar berangkat sama siapa?.”
“Adek gue lah biasa. Kalo loe?.”
“Michelle gak mau ikutan katanya, ya jadi
sendirian paling.”
Mila mengangguk-anggukan kepalanya
mengerti. ia berbalik ke arah Kevin, tapi Kevin malah melihat kearah lain.
“Hai Kak Kev?.”
“Prilly...”
Prilly tersenyum kemudian mengalihkan
pandangannya pada Mila. Vampir... masih
aja dia nyari kesempatan buat dapetin mutiara itu.
“Kak Kevin mau kemana? Kantin yuk...”
“Gue mau keperpus. Sorry ya? gue lagi
banyak tugas nih.”
“Oh. Oke. Kalo gitu gue duluan ya Kak.”
Kevin mengangguk kecil.
Prilly tersenyum, sebelum berlalu ia beradu
pandang dengan Mila yang menatapnya penuh minat.
Gue
gak ngerti. Kenapa gue gak bisa tembus pikiran dia? Kenapa dia bisa ngeblok
pikirannya? Kalo dia Vampir dia gak mungkin ngajak ke kantin. Tapi... apa ada manusia
yang memiliki kekuatan super? Mila
membatin.
“Mil. Ayo... kenapa sih? Kok malah bengong
gitu?.”
“Eh iya... ayo.”
Gue
gak yakin dia manusia. Tapi kalau dia bukan manusia dia siapa? Gak mungkin dia
vampir. Hhh... sudahlah.
***
Ali dan Prilly keluar dari kelas bersamaan.
“Loe pulang sama siapa? Tumben gak dijemput
pacar loe itu kekelas.”
Prilly terkekeh. Ia menoleh ke arah Ali.
“Emang harus ya bareng terus? gue pulang
sendiri kok sekarang.”
“Ya kali aja. Mau gue anterin?.”
Prilly menatap Ali sekilas. Gue inget... dulu loe emang selalu nganterin
gue Li. Kapanpun dan kemanapun. Tapi gue takut Bunda masih dirumah.
“Yakin loe mau anterin gue? Kakak loe
gimana?.”
“Gampang. Yuk.”
Prilly menapis lembut tangan Ali yang
menggandeng tangannya. Gak! gue gak boleh
sentuhan. Ia menatap Ali yang juga menatapnya. Maaf...
“Maaf... kebiasaan gue narik-narik Mila.”
Prilly tersenyum canggung.
“Oke. Gapapa...”
***
Ali daribalik kacamata hitamnya sesekali
mencuri pandang kearah Prilly yang terlihat fokus ke arah depan kacamata hitam
yang membingkai mata indahnya.
“Kenapa Li? Ada yang aneh?.”
Prilly menoleh sempurna kearah Ali yang ia
rasakan sedang menatapnya.
Ali terkekeh.
“Enggak. Cuma ya... loe cantik.”
Prilly tersenyum.
“Jago gombal ya loe. Gue kira loe gak bisa gombal-gombal
gitu.”
“Ya... gue jugakan manusia biasa.”
“Ada-ada aja loe.”
Prilly kembali menatap kearah depan.
“Itu rumah gue didepan situ.”
Ali mengangguk kemudian mengantarkan Prilly
hingga pekarangan rumahnya.
Prilly terdiam saat hendak membuka pintu mobil
itu. ia menatap lurus kedepan kaget. Kak
Cio?
Ali tertegun. Ia menatap kearah depan
kemudian kearah Prilly bergantian. Ia dapat melihat wajah kaget Prilly, apalagi
kacamatanya itu juga telah dibukanya.
“Prill... Loe gapapa?.”
Tanpa menanggapi perkataan Ali ia segera
keluar dari mobil itu dan berjalan kearah beranda rumahnya.
Kenapa
ada acara cowoknya disini sih?! Kacaukan!
Ali memukul stirnya kesal. Ali melihat gerak-gerik Prilly yang terlihat begitu
kacau dimatanya ia menajamkan pendengarannya. Ia keluar dari mobilnya itu saat
melihat Prilly dipeluk begitu erat. jangan...
Prill...
“Prilly.”
Prilly refleks menjauh dari Cio kemudian
tersenyum.
“Kenapa Li? Oiya... makasih ya udah
nganterin.”
“Enggak. Gapapa. Gue cuma mau pamit.
Bye...”
Prilly mengangguk kemudian melambaikan
tangannya pada Ali.
Ali tersenyum, ia membalas lambaian tangan
Prilly kemudian melirik Cio sekilas lalu kembali memasuki mobilnya. Apa-apaan sih gue? Argh!. Ali kembali
memukul stirnya kemudian mulai menstater mobilnya dan meninggalkan tempat itu.
***
Prilly mendekati Cio dengan tergesa.
“Cio...”
“Pulang sama siapa?.”
“Itu aku sama Ali. Kenapa kamu disini?.”
Cio melirik sekilas kearah mobil yang masih
berada dipekarangan rumahnya.
“Gak boleh aku disini?.”
Prilly menunduk.
“Boleh.”
Cio terkekeh kecil kemudian memeluk Prilly
yang begitu mungil itu.
“Prilly.”
Prilly menjauh dari Cio kemudian tersenyum
kearah Ali.
“Kenapa Li? Oiya... makasih ya udah
nganterin.”
Ali terlihat kikuk. Prilly merasakannya.
“Enggak. Gapapa. Gue cuma mau pamit.
Bye...”
Prilly mengangguk kemudian melambaikan
tangannya. Setelah Ali benar-benar pergi dari rumahnya, ia bersama Cio segera
memasuki rumahnya itu.
“HAHA... dia pasti parno Kakak gigit kamu
Pril. Panik gitu mukanya.”
Prilly memukul bahu Cio.
“Maybe. Kenapa masih disini? Katanya mau
berangkat ke Itali.”
“Penerbangannya dipending jadi sore ini.
Oiya Prill, lain kali hati-hati ajak dia kesini. Untung Bunda udah pergi.”
“Ya aku cuma kangen aja Kak dianterin dia.
Aku...”
Cio merangkul Prilly dan mencubit pipinya
itu dengan gemas.
“Iya Kakak ngerti. Kakakkan cuma bilang
Hati-hati.”
Prilly mengangguk.
“Iya Kak. Oiya nanti malam ada Prom Night.
Aku mau berangkat. Boleh ya?.”
“Boleh. Tapi hati-hati ya? Kakak gak bisa
jagain kamu malam ini.”
“Oke Kakak sayang.”
Prilly memeluk Cio sesaat kemudian melesat
memasuki kamarnya.
***
Prilly memastikan “alat” keamanannya ada.
Ia melihat jemari, lengan dan meraba lehernya. Memastikan barang-barang itu
ada. Kemudian ia meraih topeng yang sengaja ia padukan dengan gaun hitamnya dan
keluar dari mobilnya.
Tenang
Prilly tenang... semuanya aman... suhu tubuhmu akan sama dengan manusia pada
umumnya juga... ia tersenyum begitu
memasuki auditorium tempat berlangsungnya acara. Ia dapat dengan mudah
mengenali keberadaan Ali dan saudaranya. Ia mengedarkan kembali pandangannya. Kevin...
“Kak Kevin.”
Kevin terlihat diam. Ia menatap Prilly
sejenak.
“Aku Prilly Kak. OMG... masa Kak Kevin gak
kenal sih.”
“Prilly? Loe beda banget. Cantik.”
Prilly tersenyum kecil sementara tangannya
menerima sebuah minuman yang diberikan oleh seorang waiters begitupun dengan
Kevin.
“Ada-ada aja ah. Ini biasa aja kok.”
“Biasanya aja cantik gini, gimana cantiknya
dong?.” Goda Kevin.
“Ih Kak Kevin gombal yaa...”
Kevin terkekeh kecil begitupun dengan Prilly
yang terlihat tersipu malu.
“Kevin...”
Kevin dan Prilly berbalik.
“Mila...”
“Dansa bareng gue yuk.”
Kevin melirik kearah Prilly merasa tak enak
hati.
“Gapapa, gih Kakak dansa aja. Gue tunggu
disini.”
“Yaudah. Yuk Mil.”
Prilly menatap Kevin dan Mila turun
kelantai dansa bersama dengan beberapa siswa lainnya. Ia tersenyum kecil sambil
menimbang-nimbang gelas yang berada di tangannya. Nikmatin kedekatan kalian... yang penting gue dapetin mutiara itu.
“Sendirian aja?.”
Prilly tersenyum tanpa ada niat menoleh.
“Keliatannya emang sendiriankan Li?.”
Ali terkekeh, kemudian ia menatap kearah
Prilly.
“Kok loe bisa tahu ini gue? Gua aja hampir
gak ngenalin kalo itu elo Prill.”
Prilly tertawa kecil.
“Konyol. Udah ah.”
Ali meraih tangan Prilly yang hendak
berlalu. Prilly berbalik.
“Dansa bareng gue yuk.”
Prilly tersenyum.
“Gak.”
“Oh. Oke. Loe kesini sama cowok loe kan?
Yaudah... daripada loe marahan lagi entar.”
“Enggak kok. Dia lagi pergi ke Itali.
Lagian gue gak pernah tuh marahan sama dia.”
“Wah masa? Yaudah ikut gue yuk.”
“Kemana?.”
“Dansa.”
“Gue gak bisa.” Gue gak mungkin dansa. Gue gak mau dia tahu gue gak punya detakkan
jantung.
“Oke. Kalo gitu ketempat lain yuk.”
Prilly menatap Ali.
“Kemana?.”
“Loe tutup mata loe dulu dan janji jangan
buka sampe gue bilang buka.”
“Jangan macem-macem ya.”
Ali tertawa.
“Enggaklah. Tutup mata loe coba.”
Prilly menutup matanya, ia dituntun
berjalan beberapa langkah kemudian ia merasakan tubuhnya melayang karena
diangkat, beberapa saat kemudian ia merasakan kakinya berpijak kembali.
“Sebentar, hati-hati.”
Prilly mengangguk, topeng yang ia kenakan
terasa terlepas digantikan oleh sebuah tangan besar yang dingin tepat di area
matanya.
“Aku hitung sampai 10 ya...”
“Kebanyakan. 3 aja.”
Ali tersenyum.
“Oke. Satu... dua... tiga...”
Prilly tertegun. Tempat ini... ia menatap kearah Ali.
“Ini tempat spesial antara gue sama
Prilly.”
Ali menatap Prilly sambil tersenyum. Ia
menarik Prilly dalam pelukannya.
“Yang gue gak ngerti, kenapa loe bisa bawa
gue secepat ini? gue tahu tempat ini... dan... dan tempat ini jauh dari
sekolah.”
Ali mengurai pelukannya.
“Nanti juga kamu tahu.” Atau kamu udah tahu...
Prilly menaruh tangannya di leher Ali. Ali
pun mengeratkan pelukannya dipinggang Prilly. Kemudian... semuanya gelap.
Dengan cepat Prilly menatap Ali cepat. Sementara Ali memang menatap Prilly
dengan intens.
“Kenapa?.”
“Engg... Enggak...”
Saat Prilly hendak melepaskan tangannya,
dengan cepat Ali menahan dan menarik kembali tangan Prilly agar kembali berada
di lehernya. Ali menatap Prilly intens.
“Biarin sebentar aja kayak gini.”
Ali mengeratkan pelukannya pada pinggang
Prilly. Aku kangen banget sama kamu Prill... andai Prilly yang dihadapan aku
ini kamu... aku berjanji untuk tidak akan meninggalkan kamu lagi. Terlalu
sesak, semuanya terlalu sulit. Bahkan sampai sekarang aku sangat mencintaimu...
merindukanmu selalu... sebenernya bagaimana kabar kamu? dimana kamu?. I love
you Barbie...
Prilly mengeratkan pelukannya. Menyandarkan
kepalanya pada bahu Ali. Aku juga kangen
kamu Li... aku juga cinta banget sama kamu... aku juga sesak. Aku gak kuat gini
terus Li. Tapi keadaan membuat aku harus kayak gini... sampai pada saatnya
nanti kamu akan tahu aku aku juga berjanji tidak akan seperti ini lagi jika
sudah saatnya. Aku merindukanmu selalu, mencintai kamu selalu dan selamanya
Ali. I love you too...
***
Bersambung.
Ada saran dan kritik bisa di add ID line aku, follow juga
instagram, twitter dan ask.fm aku ya biar kita bisa sharing tentang
cerita-cerita aku. usernamenya @sopiahnenden, berlaku untuk semuanya :)
Terimakasih udah mau baca ya :)
Pengen deh kalo prilly jadi prillynya ali :')
ReplyDeletekasian mereka , sama-sama nyesek ><
IL ke 6 ditunggu ya kak :)
semangat