Sunday, 6 July 2014

Immortal Love




Part 5: Prom Night
 



Ali terlihat begitu santai, ia berjalan sendiri menuju sebuah papan pengumuman yang sedang dikelilingi oleh orang-orang. Ia menajamkan pendengarannya.
“Prom Night? Ada angin apa Prom Night ditengah semester seperti ini?.”
“Hey Li.”
Ali menoleh saat Prilly memanggil namanya.
“Ada apa sih kok ribut gitu?.”
“Pengumuman Prom Night.”
Prilly mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.
“Oh.”
“Kamu gak niat dateng?.”

Prilly mengedikan bahunya kemudian berlalu. Masa sih gue ikutan acara kayak gituan kan malem. Prilly menghela nafas. setelah duduk dibangkunya ia memandangi pergelangan tangannya. Tapi kata Bunda gelang ini...
“Ciee gelang dari pacar ya?.”
“Eh.” Prilly menengok kearah Ali yang baru saja duduk disampingnya. “Kenapa emang?.”
“Gapapa sih, bukan urusan gue juga.” Ali tersenyum. “Oiya, kemaren gue gak sengaja liat loe berantem sama cowok loe. Kenapa?.”
Prilly tersenyum. “Gapapa.”
“Yakin nih? Bukan gara-gara omongan guekan? Atau cemburu gara-gara gue terlalu deket sama loe?.”
Prilly terkekeh, ia menepuk pundak Ali pelan.
“Apaan sih loe? Cemburu apa? Dia gak cemburuan keless.”
Ali tersenyum menanggapinya. Seneng deh liat senyuman loe. Loe bener-bener mirip Prilly gue. Semuanya... semua yang ada pada diri loe itu sama.
Prilly menghela nafas. maaf Li... gue belum bisa... ia tersenyum kaku pada Ali.

***

“Kevin.”
Kevin menoleh kearah Mila yang baru saja memanggilnya. Ia tersenyum.
“Kenapa?.”
“Loe dateng keacara Prom Night gak?.”
“Dateng. Kenapa emang? Loe dateng juga. Gak bakalan nyesel deh pokoknya.”
Mila tersenyum.
“Oke. Oiya loe mau kemana sekarang?.”
“Gue mau keperpus. Loe mau ikut?.”
“Boleh. Yuk...”
Kevin dan Mila berjalan berdampingan. Keduanya bercengkerama dengan begitu akrabnya.
“Entar berangkat sama siapa?.”
“Adek gue lah biasa. Kalo loe?.”
“Michelle gak mau ikutan katanya, ya jadi sendirian paling.”
Mila mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. ia berbalik ke arah Kevin, tapi Kevin malah melihat kearah lain.
“Hai Kak Kev?.”
“Prilly...”
Prilly tersenyum kemudian mengalihkan pandangannya pada Mila. Vampir... masih aja dia nyari kesempatan buat dapetin mutiara itu.
“Kak Kevin mau kemana? Kantin yuk...”
“Gue mau keperpus. Sorry ya? gue lagi banyak tugas nih.”
“Oh. Oke. Kalo gitu gue duluan ya Kak.”
Kevin mengangguk kecil.
Prilly tersenyum, sebelum berlalu ia beradu pandang dengan Mila yang menatapnya penuh minat.
Gue gak ngerti. Kenapa gue gak bisa tembus pikiran dia? Kenapa dia bisa ngeblok pikirannya? Kalo dia Vampir dia gak mungkin ngajak ke kantin. Tapi... apa ada manusia yang memiliki kekuatan super? Mila membatin.
“Mil. Ayo... kenapa sih? Kok malah bengong gitu?.”
“Eh iya... ayo.”
Gue gak yakin dia manusia. Tapi kalau dia bukan manusia dia siapa? Gak mungkin dia vampir. Hhh... sudahlah.

***

Ali dan Prilly keluar dari kelas bersamaan.
“Loe pulang sama siapa? Tumben gak dijemput pacar loe itu kekelas.”
Prilly terkekeh. Ia menoleh ke arah Ali.
“Emang harus ya bareng terus? gue pulang sendiri kok sekarang.”
“Ya kali aja. Mau gue anterin?.”
Prilly menatap Ali sekilas. Gue inget... dulu loe emang selalu nganterin gue Li. Kapanpun dan kemanapun. Tapi gue takut Bunda masih dirumah.
“Yakin loe mau anterin gue? Kakak loe gimana?.”
“Gampang. Yuk.”
Prilly menapis lembut tangan Ali yang menggandeng tangannya. Gak! gue gak boleh sentuhan. Ia menatap Ali yang juga menatapnya. Maaf...
“Maaf... kebiasaan gue narik-narik Mila.”
Prilly tersenyum canggung.
“Oke. Gapapa...”

***

Ali daribalik kacamata hitamnya sesekali mencuri pandang kearah Prilly yang terlihat fokus ke arah depan kacamata hitam yang membingkai mata indahnya.
“Kenapa Li? Ada yang aneh?.”
Prilly menoleh sempurna kearah Ali yang ia rasakan sedang menatapnya.
Ali terkekeh.
“Enggak. Cuma ya... loe cantik.”
Prilly tersenyum.
“Jago gombal ya loe. Gue kira loe gak bisa gombal-gombal gitu.”
“Ya... gue jugakan manusia biasa.”
“Ada-ada aja loe.”
Prilly kembali menatap kearah depan.
“Itu rumah gue didepan situ.”
Ali mengangguk kemudian mengantarkan Prilly hingga pekarangan rumahnya.
Prilly terdiam saat hendak membuka pintu mobil itu. ia menatap lurus kedepan kaget. Kak Cio?
Ali tertegun. Ia menatap kearah depan kemudian kearah Prilly bergantian. Ia dapat melihat wajah kaget Prilly, apalagi kacamatanya itu juga telah dibukanya.
“Prill... Loe gapapa?.”
Tanpa menanggapi perkataan Ali ia segera keluar dari mobil itu dan berjalan kearah beranda rumahnya.
Kenapa ada acara cowoknya disini sih?! Kacaukan! Ali memukul stirnya kesal. Ali melihat gerak-gerik Prilly yang terlihat begitu kacau dimatanya ia menajamkan pendengarannya. Ia keluar dari mobilnya itu saat melihat Prilly dipeluk begitu erat. jangan... Prill...
“Prilly.”
Prilly refleks menjauh dari Cio kemudian tersenyum.
“Kenapa Li? Oiya... makasih ya udah nganterin.”
“Enggak. Gapapa. Gue cuma mau pamit. Bye...”
Prilly mengangguk kemudian melambaikan tangannya pada Ali.
Ali tersenyum, ia membalas lambaian tangan Prilly kemudian melirik Cio sekilas lalu kembali memasuki mobilnya. Apa-apaan sih gue? Argh!. Ali kembali memukul stirnya kemudian mulai menstater mobilnya dan meninggalkan tempat itu.

***

Prilly mendekati Cio dengan tergesa.
“Cio...”
“Pulang sama siapa?.”
“Itu aku sama Ali. Kenapa kamu disini?.”
Cio melirik sekilas kearah mobil yang masih berada dipekarangan rumahnya.
“Gak boleh aku disini?.”
Prilly menunduk.
“Boleh.”
Cio terkekeh kecil kemudian memeluk Prilly yang begitu mungil itu.

“Prilly.”
Prilly menjauh dari Cio kemudian tersenyum kearah Ali.
“Kenapa Li? Oiya... makasih ya udah nganterin.”
Ali terlihat kikuk. Prilly merasakannya.
“Enggak. Gapapa. Gue cuma mau pamit. Bye...”
Prilly mengangguk kemudian melambaikan tangannya. Setelah Ali benar-benar pergi dari rumahnya, ia bersama Cio segera memasuki rumahnya itu.
“HAHA... dia pasti parno Kakak gigit kamu Pril. Panik gitu mukanya.”
Prilly memukul bahu Cio.
“Maybe. Kenapa masih disini? Katanya mau berangkat ke Itali.”
“Penerbangannya dipending jadi sore ini. Oiya Prill, lain kali hati-hati ajak dia kesini. Untung Bunda udah pergi.”
“Ya aku cuma kangen aja Kak dianterin dia. Aku...”
Cio merangkul Prilly dan mencubit pipinya itu dengan gemas.
“Iya Kakak ngerti. Kakakkan cuma bilang Hati-hati.”
Prilly mengangguk.
“Iya Kak. Oiya nanti malam ada Prom Night. Aku mau berangkat. Boleh ya?.”
“Boleh. Tapi hati-hati ya? Kakak gak bisa jagain kamu malam ini.”
“Oke Kakak sayang.”
Prilly memeluk Cio sesaat kemudian melesat memasuki kamarnya.

***

Prilly memastikan “alat” keamanannya ada. Ia melihat jemari, lengan dan meraba lehernya. Memastikan barang-barang itu ada. Kemudian ia meraih topeng yang sengaja ia padukan dengan gaun hitamnya dan keluar dari mobilnya.
Tenang Prilly tenang... semuanya aman... suhu tubuhmu akan sama dengan manusia pada umumnya juga... ia tersenyum begitu memasuki auditorium tempat berlangsungnya acara. Ia dapat dengan mudah mengenali keberadaan Ali dan saudaranya. Ia mengedarkan kembali pandangannya. Kevin...
“Kak Kevin.”
Kevin terlihat diam. Ia menatap Prilly sejenak.
“Aku Prilly Kak. OMG... masa Kak Kevin gak kenal sih.”
“Prilly? Loe beda banget. Cantik.”
Prilly tersenyum kecil sementara tangannya menerima sebuah minuman yang diberikan oleh seorang waiters begitupun dengan Kevin.
“Ada-ada aja ah. Ini biasa aja kok.”
“Biasanya aja cantik gini, gimana cantiknya dong?.” Goda Kevin.
“Ih Kak Kevin gombal yaa...”
Kevin terkekeh kecil begitupun dengan Prilly yang terlihat tersipu malu.
“Kevin...”
Kevin dan Prilly berbalik.
“Mila...”
“Dansa bareng gue yuk.”
Kevin melirik kearah Prilly merasa tak enak hati.
“Gapapa, gih Kakak dansa aja. Gue tunggu disini.”
“Yaudah. Yuk Mil.”
Prilly menatap Kevin dan Mila turun kelantai dansa bersama dengan beberapa siswa lainnya. Ia tersenyum kecil sambil menimbang-nimbang gelas yang berada di tangannya. Nikmatin kedekatan kalian... yang penting gue dapetin mutiara itu.
“Sendirian aja?.”
Prilly tersenyum tanpa ada niat menoleh.
“Keliatannya emang sendiriankan Li?.”
Ali terkekeh, kemudian ia menatap kearah Prilly.
“Kok loe bisa tahu ini gue? Gua aja hampir gak ngenalin kalo itu elo Prill.”
Prilly tertawa kecil.
“Konyol. Udah ah.”
Ali meraih tangan Prilly yang hendak berlalu. Prilly berbalik.
“Dansa bareng gue yuk.”
Prilly tersenyum.
“Gak.”
“Oh. Oke. Loe kesini sama cowok loe kan? Yaudah... daripada loe marahan lagi entar.”
“Enggak kok. Dia lagi pergi ke Itali. Lagian gue gak pernah tuh marahan sama dia.”
“Wah masa? Yaudah ikut gue yuk.”
“Kemana?.”
“Dansa.”
“Gue gak bisa.” Gue gak mungkin dansa. Gue gak mau dia tahu gue gak punya detakkan jantung.
“Oke. Kalo gitu ketempat lain yuk.”
Prilly menatap Ali.
“Kemana?.”
“Loe tutup mata loe dulu dan janji jangan buka sampe gue bilang buka.”
“Jangan macem-macem ya.”
Ali tertawa.
“Enggaklah. Tutup mata loe coba.”
Prilly menutup matanya, ia dituntun berjalan beberapa langkah kemudian ia merasakan tubuhnya melayang karena diangkat, beberapa saat kemudian ia merasakan kakinya berpijak kembali.
“Sebentar, hati-hati.”
Prilly mengangguk, topeng yang ia kenakan terasa terlepas digantikan oleh sebuah tangan besar yang dingin tepat di area matanya.
“Aku hitung sampai 10 ya...”
“Kebanyakan. 3 aja.”
Ali tersenyum.
“Oke. Satu... dua... tiga...”
Prilly tertegun. Tempat ini... ia menatap kearah Ali.
“Ini tempat spesial antara gue sama Prilly.”
Ali menatap Prilly sambil tersenyum. Ia menarik Prilly dalam pelukannya.
“Yang gue gak ngerti, kenapa loe bisa bawa gue secepat ini? gue tahu tempat ini... dan... dan tempat ini jauh dari sekolah.”
Ali mengurai pelukannya.
“Nanti juga kamu tahu.” Atau kamu udah tahu...
Prilly menaruh tangannya di leher Ali. Ali pun mengeratkan pelukannya dipinggang Prilly. Kemudian... semuanya gelap. Dengan cepat Prilly menatap Ali cepat. Sementara Ali memang menatap Prilly dengan intens.
“Kenapa?.”
“Engg... Enggak...”
Saat Prilly hendak melepaskan tangannya, dengan cepat Ali menahan dan menarik kembali tangan Prilly agar kembali berada di lehernya. Ali menatap Prilly intens.
“Biarin sebentar aja kayak gini.”
Ali mengeratkan pelukannya pada pinggang Prilly.  Aku kangen banget sama kamu Prill... andai Prilly yang dihadapan aku ini kamu... aku berjanji untuk tidak akan meninggalkan kamu lagi. Terlalu sesak, semuanya terlalu sulit. Bahkan sampai sekarang aku sangat mencintaimu... merindukanmu selalu... sebenernya bagaimana kabar kamu? dimana kamu?. I love you Barbie...
Prilly mengeratkan pelukannya. Menyandarkan kepalanya pada bahu Ali. Aku juga kangen kamu Li... aku juga cinta banget sama kamu... aku juga sesak. Aku gak kuat gini terus Li. Tapi keadaan membuat aku harus kayak gini... sampai pada saatnya nanti kamu akan tahu aku aku juga berjanji tidak akan seperti ini lagi jika sudah saatnya. Aku merindukanmu selalu, mencintai kamu selalu dan selamanya Ali. I love you too...

***

Bersambung.

Ada saran dan kritik  bisa di add ID line aku, follow juga instagram, twitter dan ask.fm aku ya biar kita bisa sharing tentang cerita-cerita aku. usernamenya @sopiahnenden, berlaku untuk semuanya :)
Terimakasih udah mau baca ya :)

1 comment:

  1. Pengen deh kalo prilly jadi prillynya ali :')
    kasian mereka , sama-sama nyesek ><
    IL ke 6 ditunggu ya kak :)
    semangat

    ReplyDelete