(Karena Cinta Tak
Pernah Salah Memilih)
“CUT! Oke Prilly, Cakka bagus. Kamu
boleh istirahat sementara, 20 menit lagi kita take lagi.”
“Trimakasih semua.”
Prilly menundukan sedikit badannya
tanda hormat.
“Akting loe emang gak bisa diraguin
ya...”
Prilly tersenyum pada pemuda tampan
disampingnya, ia meneguk sedikit minumannya kemudian duduk disalah satu kursi.
“Loe juga keren. Apalagi lagu loe
bagus banget.”
“Bisa aja.”
Prilly meraih sebuah roll kemudian
meroll kembali poninya. Lalu ia beralih pada ponselnya. Ia mengerutkan
keningnya. Apa ini? kenapa beberapa hari
ini selalu ada kiriman ini? Prilly membatin begitu melihat sebuah kiriman
foto ke akun twitternya, dan beberapa foto yang di tag di instagramnya. Ia
mengerutkan keningnya. Ini...
Aliando’s
Calling...
“Ya? Kenapa?.”
“Aku
dimobil. Kesini.”
Panggilan itu ditutup begitu saja
membuat Prilly mengerutkan keningnya. Ia menghela nafas panjang kemudian
beranjak menuju sebuah mobil hitam yang tak asing lagi baginya dihalaman parkir
tempat shootingnya itu. tanpa basa-basi ia memasuki mobil tersebut.
“Ada apa? Kok tumben datengin aku?.”
“Pak. Bisa keluar sebentar? Saya
ingin bicara berdua.”
“Baik Den.”
Prilly menghela nafas. ia melirik Ali
sekilas. Jelas sekali air mukanya itu terlihat berbeda dari biasanya, yang
biasanya tenang kini terlihat sedikit berbeda.
“Jadi gitu kerjaan kamu?.”
Prilly merengut.
“Maksud kamu?.”
“Aku nyesel tau gak percayain hati
aku buat kamu. Sementara yang aku liat ini itu...”
“Kamu ngomong apaan sih Li? Aku gak
ngerti deh!.”
“Yang barusan adegan apa? Aku liat
semuanya. Aku juga udah tau semua adegan kamu sama dia itu kayak gimana. Apa
perlu cuma sebuah video clip kayak gitu? Shootingnya sampe seminggu lebih gak
rampung-rampung.”
Prilly menatap Ali yang sama sekali
tidak menatapnya.
“Kamu kenapa sih? Aku gak ngerti
deh! Lagian itu cuma adegan aja. Dulu juga aku kayak gitukan sama kamu? apa
bedanya?.”
“Oh! Jadi kamu pake hati juga sama
dia? Iya?.”
“Apa sih Li?.”
“Gak usah bohong deh! Aku udah tau
semuanya. Semua orang bilang kalian cinlok cuma gara-gara shooting video clip
yang gak kelar-kelar. Aku udah tau. Semua orang kirim gambar kamu ke aku.”
“Kamu ini aneh ya! akukan udah
bilang, aku shooting video clip sama dia itu bukan cuma satu lagu. Tapi
beberapa!. Video clipnya sengaja dibuat kayak sinetron yang nyambung-nyambung!.
Ngomong sama aku kamu kenapa sih? Aku aja liat kamu adegan yang lebih parah
dari ini apa aku pernah marah sama kamu? apa aku pernah bentak-bentak kamu?
enggak kan? Aku malah suruh kamu lebih! Karena biar dapet feelnya! Tapi kenapa
kamu malah kayak gini sama aku?.”
Nafas Prilly memburu menahan marah.
Air matanya pun mulai turun. Ia menepis air matanya itu kemudian menyandarkan
tubuhnya di sandaran kursi.
“Aku tuh udah gak ngerti lagi sama
kamu ya Li.”
Prilly menghela nafas.
“Dulu kamu yang bilang, aku jangan
cemburu kalau kamu adegan mesra sama cewek lain. Tapi sekarang apa? Kenapa malah
kamu yang kayak gini? Kamu kemakan gosip kayak gitu.”
“Terus yang barusan apa? Kamu masih
sempet-sempetan mesra-mesraan kayak gitu. Dan ini apa?.” Ali mengacungkan
ponselnya, dihadapkan pada Prilly. Saat Prilly hendak membawa ponsel itu,
tiba-tiba Ali menariknya kembali.
“Udahlah mendingan kita udahan aja
sekalian.”
Prilly tersenyum getir, air matanya
kembali turun.
“Biar kamu bebas adegannya.”
Prilly menyeka kasar air matanya.
“Udahan apa? Emang kita pernah
jadian? Emang kita pernah memulai sesuatu? Inget satu hal Li. Kita gak pernah
ada apa-apa!. Oiya... kalau kamu anggap kita ada hubungan, bukannya seharusnya
yang marah itu aku ya? aku mending mesra sama dia karena tuntutan peran. Kamu?
jalan-jalan di mall, dinner sama cewek yang katanya guru les kamu. aku udah
coba sabar Li, aku gak marah sama kamu setelah aku dapet foto itu, aku mencoba
sabar untuk gak mempermasalahkan ini, karena aku tahu kamu sibuk, gak ada waktu
buat ngurus yang kayak gini. Tapi ternyata... aku gak nyangka ternyata malah
jadi kayak gini, malah kamu yang cemburu sama peran aku. aku gak ngerti lagi
sama kamu.”
Prilly menyeka air matanya. Ia menatap
Ali dengan tajam.
“Kalo yang kamu mau kita gak ketemu
lagi, oke. Bye! Gak usah cari aku lagi.”
Setelah mengatakan hal itu ia
keluar dari mobil dan kembali ketempat istirahatnya tadi. Prilly mengatur
nafasnya, ia tak ingin menangis. Ia tak ingin orang-orang curiga terhadapnya.
“Prill? Kenapa? Loe nangis?.”
Prilly tersenyum.
“Enggak Kka.”
“Marahan ya sama pacar loe?.”
Prilly terkekeh kecil.
“Pacar? Sejak kapan gue punya
pacar? Oiya, gue kedalem dulu ya. gue capek mau tidur sebentar.”
Prilly beranjak setelah di angguki
oleh Cakka. Pikirannya bercabang kemana-mana yang mengharuskannya beristirahat
sejenak. Aku gak ngerti lagi sama pikiran
Ali... gak! dia aneh. Prilly memegang kepalanya sejenak sambil menarik
nafas dalam. hhh... oke Prilly fokus
Prilly loe lagi kerja. Prilly menarik nafas kembali kemudian merebahkan
tubuhnya pada sebuah pembaringan.
***
Cakka menatap kepergian Prilly. Gak biasanya Prilly kayak gitu. Cakka
menghela nafas kemudian ia berbalik saat mendengar suara sebuah ponsel
bergetar. Ternyata punya Prilly.
Aliando’s
Calling...
Cakka mengerutkan keningnya. Ia
meraih ponsel itu kemudian beranjak ketempat Prilly. Saat ia memasuki ruangan
itu yang ia dapat hanya Prilly yang sedang tertidur dengan begitu tenangnya. Ia
menghela nafas.
“Hallo...”
“Hallo maaf...”
“Siapa
ini?.”
“Saya Cakka.”
“Oh.
Prilly nya mana?.”
“Dia tidur. Sepertinya dia sedang
ada masalah.”
“Oh...
yasudah terimakasih.”
Cakka mengerutkan keningnya. Aneh!
Ponselnya tiba-tiba berdering, ia
segera beranjak dari tempat Prilly.
A’yang’s
Calling...
Cakka tersenyum kecil, tidak
biasanya kekasihnya itu menelponya dijam-jam seperti ini.
“Hallo.”
“Kamu
dimana? Lagi ngapain?.”
Cakka mengerutkan keningnya. “Aku?
aku dilokasi lagi mau take lagi. Kenapa emangnya?.”
“Lagi
ngapain? sama siapa?.”
“Aku lagi mau take lagi nih.
Sendiri sayang. Kamu kenapa sih?.”
Ini
HP nya Prilly. Saat Cakka
hendak mengembalikan ponsel itu tanpa sengaja ponsel itu menyala dan
menampilkan sebuah foto. Foto seseorang yang sangat ia kenal.
Cakka menghela nafas panjang, ia
menaruh ponsel itu kemudian keluar dari ruangan itu lagi.
“Cakka?.”
“Sekarang aku yang tanya sama kamu.
kamu lagi dimana? Sama siapa?.”
“A...
aku? aku lagi ditempat yang mau aku les.”
“Siapa dia?.”
“Siiapa
apa Kka? Aku gak ngerti deh.”
“Siapa yang kamu les itu?! jawab
Agni!.”
“Kok
tumben kamu peduli? Ada apa emang?.”
“Apa orang itu Aliando Syarief?!.”
“Kok...
kamu tahu?.”
Cakka tersenyum masam. Jadi ini
yang membuat gadisnya itu sibuk sendiri? Dia
mengikuti jadwal artis itu.
“Kamu dimana? Selesai take aku
jemput kamu kesana.”
“Gak...
gak usah Kka. Jangan...”
“Kenapa? Mau keliatah single
didepan artis pujaan loe itu hah?!.”
“Apa
sih Kka? Kok kamu kasar gitu? Enggak! Aku cuma gak enak aja. Gimana kalo ada
yang tahu hubungan kita?.”
“Jangan mentang-mentang kita
backstreet kamu jadi seenaknya ya Ni.”
“Aku
gak...”
“Udahlah! Kita gak ada gunanya juga
debat di telepon kayak gini. Terserah kamu ajalah mau gimana juga. Aku gak
peduli.”
Cakka mengakhiri panggilannya. Apa mungkin Prilly ada hubungan sama Ali?
Dan dia lagi ada masalah gara-gara foto Agni sama Ali? Cakka menarik
rambutnya ke atas frustasi. apa yang
harus aku lakukan sekarang?
***
Ali menatap Prilly yang baru saja
menutup pintu mobilnya dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa antara mereka
beberapa saat yang lalu. Perkataan Prilly yang selama ini tak pernah
terpikirpun akhirnya ia dengar, dan terus saja terngiang-ngiang ditelinganya.
“Udahan
apa? Emang kita pernah jadian? Emang kita pernah memulai sesuatu?”
“Kalo
yang kamu mau kita gak ketemu lagi, oke. Bye! Gak usah cari aku lagi.”
Ali mengerang kesal. Kenapa sih gue gak bisa pertahanin dia?
Kenapa gue gak bisa sabar? Kenapa gue jadi kayak gini?! Kenapa gue gak punya
keberanian buat nyusul dia?
Ali menyandarkan punggungnya, ia
merasakan sesuatu terangkat dan menghilang dari dalam dirinya begitu Prilly
mengatakan hal tadi. Sekarang, semuanya hampa. Ternyata benar. Separuh hati aku itu kamu Prill... Ali menghela
nafas.
“Pak masuk. Kita pulang.”
Sepanjang perjalanan tak ada apapun
dalam pikirannya kecuali perkataan Prilly dan bayangan wajah Prilly yang
terlihat begitu kecewa padanya. Ia menghela nafas panjang. Baru juga kita kayak gini, aku udah kangen kamu Prill...
Ali meraih ponselnya hendak
menghubungi Prilly. Ia menimang-nimang ponselnya tersebut. Gak! jangan sekarang. Ali kembali menyimpan ponselnya dan menghela
nafas panjang. Aku gak pernah nyangka
ternyata effek kamu buat aku luar biasa Prill...
Begitu sampai dikediamannya ia
telah disambut oleh guru les nya yang baru ia kenal satu bulan ini. menjelang
ujian nasional ia memang harus belajar apalagi dengan aktifitasnya yang padat,
membuatnya kesulitan belajar. Guru lesnya pun sengaja ia mengambil temannya
sendiri yang merupakan siswa terbaik disekolahnya.
“Udah dateng Ni?.”
“Seperti yang loe liat.”
Ali tersenyum sekilas kemudian
duduk disamping gadis itu.
Agni mulai membuka buku yang ia
bawa. Sesekali ia melirik Ali yang terlihat terus-terusan melamun.
“Tumben ngelamun mulu. Biasanya
juga terus-terusan megang HP.”
“Kayaknya gue salah faham.”
“Sama?.”
“Prilly lah siapa lagi?.”
“Ya kali aja loe ada cewek laen.”
“Gak mungkinlah. Kayaknya gue udah
stuck di dia.”
Agni terkekeh.
“Kenapa loe gak telpon aja dia?
Masalah kelarkan kalo loe udah jelasin baik-baik? Bukannya kalian gak bakat
berantem?.”
“Iya sih. Gue coba ya.”
Ali meraih ponselnya, lama sekali
tak ada jawaban.
“Hallo...”
“Hallo
maaf...”
Ali mengerutkan keningnya. Kenapa
bukan Prilly?
“Siapa ini?.”
“Saya
Cakka.”
Ali mengerutkan keningnya. Ohh penyanyi itu.
“Oh. Prilly nya mana?.”
“Dia
tidur. Sepertinya dia sedang ada masalah.”
“Oh... yasudah terimakasih.”
Ali mengakhiri sambungan teleponnya.
Ia melempar kesal ponselnya kesudut kursi yang berada didekatnya. Kamu kenapa sih Prill? Apa bener hubungan
kamu sedeket itu? kenapa sampai dia angkat telpon dari aku?
“Li? Kenapa?.”
“Prily lagi tidur dan yang angkat
teleponnya adalah Cakka. Hubungan macam apa sih sampe bisa angkat telepon kayak
gitu? Menurut loe gimana sih? Gue gak yakin mereka sedeket itu tanpa ada
hubungan apa-apa.”
Agni mengerutkan keningnya.
“Siapa tadi kamu bilang? Cakka?
Sama Prilly?.”
“Iya Cakka.”
Ali melirik ke arah Agni yang tak
merespon. Ia melihat gadis itu mengeluarkan ponselnya. Kenapa dia?
“Kamu dimana? Lagi ngapain?.”
“Aku?
aku dilokasi lagi mau take lagi. Kenapa emangnya?.”
“Lagi ngapain? sama siapa?.”
“Aku
lagi mau take lagi nih. Sendiri sayang. Kamu kenapa sih?.”
“Kamu gak bohongkan Kka?.”
Agni melirik ponselnya, kenapa
Cakka malah tidak nyaut?. “Kka... Cakka...Cakka?!.”
“Sekarang
aku yang tanya sama kamu. kamu lagi dimana? Sama siapa?.”
Agni mengerutkan keningnya, ia
melirik ke arah Ali yang ternyata sedang sibuk dengan bukunya.
“A... aku? aku lagi ditempat yang
mau aku les.”
“Siapa
dia?.”
Agni terlihat gugup, ia gak mungkin
kasih tau siapa yang ia les, mengingat ini perjanjian.
“Siiapa apa Kka? Aku gak ngerti
deh.”
“Siapa
yang kamu les itu?! jawab Agni!.”
“Kok tumben kamu peduli? Ada apa
emang?.”
“Apa
orang itu Aliando Syarief?!.”
Agni menatap Ali yang kini dia juga
menatapnya.
“Kok... kamu tahu?.”
“Kamu
dimana? Selesai take aku jemput kamu kesana.”
“Gak... gak usah Ni. Jangan...”
“Kenapa?
Mau keliatah single didepan artis pujaan loe itu hah?!.”
“Apa sih Ni? Kok kamu kasar gitu?
Enggak! Aku cuma gak enak aja. Gimana kalo ada yang tahu hubungan kita?.”
“Jangan
mentang-mentang kita backstreet kamu jadi seenaknya ya Ni.”
“Aku gak...”
“Udahlah!
Kita gak ada gunanya juga debat di telepon kayak gini. Terserah kamu ajalah mau
gimana juga. Aku gak peduli.”
“Bukannya...”
Agni melirik ponselnya.
“Kka? Cakka?! Cakka Nuraga?!.”
Ali mengerutkan keningnya.
“Cakka Nuraga?.”
“Eh.”
Agni menatap cepat ke arah Ali.
“Cakka? Maksud loe penyanyi itu?
ada hubungan apa loe sama dia?.”
“Gue... ya gue cuma kenal aja.”
“Gak gak mungkin. Loe ada hubungan
apa sama dia? Jangan-jangan dia pacar loe dan niat maenin Prilly? Gitu?!.”
Ali mengerang kesal kemudian
beranjak.
“Ali. Hey!.”
Aduuuh
gimana inii? Agni bergerak-gerak
gelisah. Jangan sampe ada apa-apa deh. Aminn
***
“Prilly apakah benar kamu kembali
terlibat cinta lokasi?.”
“Bagaimana hubungan kamu dengan
Aliando?.”
Prilly tersenyum.
“Ah enggak. Aku sama dia cuma
temen. Hubungan apa? Kami cuma temen, sahabatan. Sama kayak aku sama Cakka, aku
sama Ali masih sahabatan kok.”
“Tapi berbagai sumber mengatakan
kalau hubungan kalian berlanjut hingga sekarang dan katanya hubungan kalian
akan lebih serius lagi.”
Prilly tersenyum renyah.
“Ah kata siapa? Enggak. Gak ada
yang lebih dari sahabat, sampai sekarang aku masih sahabatan sama Ali. Gak tahu
kedepannya kayak gimana.”
“Eh itu ada Ali.”
“Hah? Ali? Ngapain Ali ke lokasi
Shooting Prilly?.”
“Yuk samperin.”
Prilly menghela nafas, apalagi sih ini? ngapain sih dia pake acara
kesini?
***
Begitu Ali turun dari mobilnya
beberapa wartawan langsung menghampirinya. Berbagai pertanyaanpun langsung
dilontarkan untuknya.
“Ali, ada urusan apa kamu kesini?.”
“Apa benar hubungan spesial kamu berlanjut
sampai sekarang?.”
“Apakah kamu cemburu mendengar
kabar cinta lokasi antara Prilly dan lawan mainnya?.”
Ali tersenyum.
“Enggak. Gak ada yang cemburu,
mencemburui dan dicemburui. Aku kesini mau ngomongin projek baru aja sama
Prilly.”
“Kira-kira Projek seperti apa?.”
“Adaa...”
“Tapi, apa benar hubungan kalian
meningkat lebih ke arah serius?.”
“Hubungan apa? Iya ke arah yang
serius dalam urusan pekerjaan. Kalau yang dimaksud hubungan asmara sampai
sekarang kami masih temenan, sahabatan aja. Gak lebih.”
Ali tersenyum kembali.
“Udah ya? saya ada keperluan dan
sepertinya Prilly tidak memiliki waktu luang banyak. Begitu juga saya. Maaf
ya... permisi semuanya dan terimakasih.”
Ali dan Prilly langsung saling
melempar senyuman, saat keduanya telah berhadapan Prilly mengajak Ali untuk
memasuki ruangan artis agar bisa berbicara lebih privasi lagi.
Prilly menghela nafas sambil
melepaskan tangan Ali.
“Mau ngapain lagi kesini? Belum
puas bentak-bentak aku?.”
“Aku mau minta maaf.”
“Udah deh Li. Lebih baik kamu pergi
sekarang. Aku masih banyak take dan aku harus konsentrasi. Aku gak ada waktu
urus yang kayak begini.”
“Prill, kamu kenapa sih?.”
“Kenapa apa? Kamu yang kenapa?
Kemaren marah-marah gak jelas dan kamu juga udah bilang kita udahan walaupun
aku gak tau apa yang kita udahin. Kamu yang kenapa?.”
“Aku minta maaf. Oke aku akuin aku
salah. Maaf.”
“Dimaafkan. Silahkan sekarang kamu
pergi.”
“Prill, liat aku. liat mata aku.
aku bener-bener minta maaf.”
“Buat apa aku liat kamu? yang
penting sekarang aku udah maafinkan? Yaudah. Aku juga udah bilang gak usah cari
aku lagi. Faham? Silahkan keluar.”
Ali menghela nafas. ia tak pernah
bisa menang jika Prilly tak mau menatapnya. Ali menatap Prilly yang
menyampinginya.
“Aku minta maaf. Aku gini, karena
aku sayang kamu.”
Prilly tak bergeming membuat Ali
hanya menghela nafas saja.
“Yaudah, aku pulang. Jangan lupa
makan dan istirahat yaa...”
Ali merangkul pundak Prilly sejenak
kemudian membelai rambut itu sebelum akhirnya beranjak meninggalkan Prilly.
Prilly berbalik ke arah pintu
begitu Ali menghilang dibalik pintu itu.
“Aku juga sayang kamu Li. Aku cuma
gak mau kamu bentak aku kayak kemaren. Maaf...”
Prilly menghela nafas kemudian
mendudukan dirinya disebuah sofa. Ali...
bayangan-bayangan kenangannya dahulu kembali terlintas dalam pikirannya.
Saat-saat bahagia kebersamaan mereka saat shooting bersama, jalan berdua, dan
masih banyak hal lainnya yang tak akan pernah bisa ia lupakan.
“Aku
sayang kamu, kamu juga sayang aku. kita sama-sama udah tahu perasaan kita
masing-masing. Tapi aku gak mau kita pacaran. Kita jalanin aja dulu semuanya...
meskipun tanpa pacaran yang penting kita tahu kita saling menyayangi itu udah
cukupkan Prill?.”
“Iya
Li... yang penting kita saling dukung aja, saling percaya.”
“Iya...
dan yang terpenting kamu juga tahu, walaupun aku beradegan sama sorang lain
tapi hati aku, sayang aku cuma buat kamu.”
“Begitupun
aku.”
“Aku
sayang kamu Prilly.”
“Aku
juga sayang kamu Ali.”
Prilly tersenyum getir jika
mengingat kejadian itu. kejadian beberapa bulan yang lalu yang ternyata
membawanya dalam kondisi seperti ini. kondisi yang sama sekali gak ada dalam
benaknya sedikitpun. Prilly melirik kearah pintu, siapa tahu Ali menjahilinya dan
dia masih berada disana. Prilly menghela nafas aku kangen kamu Li... kita emang gak bakat berantem.
***
“Ini apa?.”
Cakka menunjukkan ponselnya pada
Agni yang mematung didepannya. Ia sengaja mendatangi rumah kekasihnya itu
tiba-tiba. Agar kekasihnya itu tidak banyak alasan lagi untuk tidak bertemu
dengannya.
“Masuk dulu Kka.”
Cakka memasuki rumah itu kemudian
duduk disalah satu kursi. Sementara Agni hanya diam dan duduk disampingnya
saja.
“Ini apa? Kapan kamu jalan-jalan?.”
“Itu beberapa hari yang lalu. Itu
cuma iseng aja, refresh pikiran. Belajar teruskan mumet Kka, please percaya
sama aku.”
“Kenapa kamu gak ngasih tahu aku
dulu?.”
Agni menunduk.
“Maaf... waktu itu Hp aku mati.”
“Mati ya? oh. Mati atau dimatiin
biar gak diganggu?.”
“Mati Kka.”
Cakka menatap Agni tajam.
“Aku gak ngerti ya sama jalan
pikiran kamu. aku yang ajak kamu jalan aja gak mau, kenapa di ajak dia jalan
kamu mau gitu aja? Emang siapa yang gak sakit hati liat pacarnya sendiri yang
gak pernah mau aku ajak jalan-jalan sekarang malah sama cowok lain? siapa yang
gak sakit hati hah?.”
“Ya kan Kka. Itu.”
“Apa? Alesan apa lagi? Udahlah Ni,
aku bingung harus gimana. Aku gak tau harus gimana lagi sekarang.”
Agni menatap Cakka.
“Cakka! Aku gak pernah ya punya
alesan yang bohong buat kamu. selama ini aku udah jujur sama kamu! kenapa kamu
malah kayak gini sekarang?.”
“Terserahlah. Aku harus pergi
sekarang. Sekarang terserah kamu aja anggap hubungan kita kayak apa. Aku gak
percaya lagi sama kamu.”
APA?!
Gak percaya? “Kka... Cakka?! Please
percaya sama aku. aku gak pernah ada hubungan apa-apa sama Ali. Aku cuma sayang
kamu Kka. Aku sayang kamu.”
Ingin sekali ia berkata seperti itu
dan berlari memeluk kekasihnya yang kini telah menghilang dibalik pintu itu,
namun ia tak kuasa untuk berkata lebih kencang lagi.
“Aku sayang kamu Kka.”
***
Cakka menghela nafas. ia
menelungkupkan wajahnya keatas stir. Aku
juga sayang kamu Agni... tapi aku cemburu... aku gak bisa liat kamu sama cowok
lain.
“Maafin aku Agni, maafin aku.”
“NON AGNI?!”
“Agni?.”
Cakka mengangkat kepalanya begitu
mendengar pengurus rumah Agni. Dengan cepat ia segera berlari kembali kedalam
rumah itu dan mendapati kekasihnya terjatuh dilantai.
“Agni...”
***
Prilly menghela nafas lelah. Akhirnya adegan aku udah abis. Dengan gini
walaupun aku baikan sama Ali gak bakalan deh Ali bentak aku lagi, mungkin.
“Assalamu’alaikum... aku pulang.”
“Kamu udah pulang? Kok cepet?.”
“Iya Ma, cuma sedikit. Mama lagi
ngapain?.”
“Masak. Kamu mau ikutan?.”
Prilly mengangguk. Kali aja bisa ngobatin hati gue... Prilly
menghela nafas kemudian mendekati Mama nya yang sedang berkutat dengan beberapa
sayuran.
Prilly mengambil pisau dan beberapa
sayuran untuk di potong. Ia menghela nafas. li...
kamu lagi ngapain? Kok loe gak ada kabarin gue sih? Dari sejak tadi pagi sampai
udah mau malem gini.
“Aw.”
“Sayang kamu kenapa? Duhh... sini
Mama bersihin.”
“Aw. Sakit Ma...”
“Lagian kamu kenapa ceroboh sih?
Gak kayak biasanya.”
“Aw sakit Ma... perih...”
“Tahan sebentar...”
Prilly meringis beberapa kali saat
jari telunjuknya diobati oleh Mamanya. Kenapa
gue? Kok jadi gini sih? Masa iya cuma gara-gara Ali sih?
“Aw... sakit Ma...”
“Nah selesai.”
Ponsel Mamanya tiba-tiba berdering.
“Hallo assalamu’alaikum...”
“wa’alaikumsalam...”
“Ada apa Bu? Kok tumben?.”
“Prilly
ada?.”
“Ada. Kenapa emang? Dia lagi liatin
jarinya yang tiba-tiba keiris gitu. Kayak lagi banyak pikiran dia.”
“Lho
kok bisa? Gak biasanya Prilly gitu. Ini Ali juga badannya panas. Dia sebut
terus nama Prilly. Apa jangan-jangan mereka lagi ada masalah ya?.”
“Lho Ali sakit? Sejak kapan?.”
“Tadi
pagi. Bu kalau bisa bawa Prilly ya? kali aja dia bangun. dia gak mau diajak
makan.”
Mama melirik ke arah Prilly yang
ternyata sedang menatapnya dengan wajah yang pucat.
“Iya, saya kesana sekarang.”
“Yasudah
aku tunggu ya Bu... assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
“Ma? Ali sakit?.”
“Iya... kalian berantem?.”
Prilly menghela nafas.
“Iya, dari kemaren.”
“Yaudah kita tengok Ali yuk. Kamu
jangan egois ya...”
Prilly mengangguk. Dalam lubuk
hatinya yang paling dalam ia sangat mengkhawatirkan lelaki itu. bagaimanapun
juga ia tidak bisa memungkiri jika lelaki itu adalah orang yang ia sayang juga.
***
Agni membuka matanya perlahan. Ia
merasakan sebuah tangan menggenggamnya dengan erat.
“Kka...”
“Agni? Kamu udah sadar? Maafin aku
ya sayang... maaf.”
Agni tersenyum.
“Gapapa Kka.”
“Kenapa kamu bisa jatoh dari tangga
sih?.”
“Aku juga gak tau Kka, mungkin udah
nasib aku aja.”
Cakka menggenggam tangan Agni dan
mengecupnya pelan.
“Maafin aku ya... ini pasti
gara-gara aku. maaf...”
“Enggak Kka... aku aja yang
teledor. Please ya... kamu percaya sama aku. aku cuma sayang kamu. aku gak ada
apa-apa sama dia. Aku cuma temenan sama dia.”
Cakka tersenyum.
“Iya. Lagian kamu dari dulu gak
pernah bilang punya temen artis. Yaudahlah biar semuanya lebih gampang kita gak
usah backstreet aja ya...”
“Tapi Kka...”
Cakka menatap Agni.
“Aku sayang kamu Agni... apapun
yang akan terjadi nanti. Ada aku disamping kamu. ada aku yang lindungin kamu.”
Agni mengangguk.
“Aku juga sayang sama kamu Kka. Aku
percaya sama kamu.”
Cakka tersenyum, ia bangkit lalu
mencium kening Agni.
“Terimakasih sayang. Maaf aku kasar
sama kamu. aku cuma cemburu aja liat kamu yang jalan sama orang lain. maaf
ya...”
Agni mengangguk kecil dengan senyuman
yang menawan dibibirnya.
“Jangan kasar lagi ya...”
Cakka mengangguk.
“Janji?.”
“Aku janji.”
Agni tersenyum kembali, sebelah
tangannya yang terbebas dari infusan mengelus pipi Cakka.
“Aku harap kita gak gini lagi. Aku
gak mau kehilangan kamu.”
“Aku juga. Apapun yang terjadi
nanti lebih baik tanyakan dulu baik-baik ya? jangan langsung saling curiga.”
“Iya Kka... aku mengerti.”
Cakka mengelus pipi Agni dengan
lembut. Apapun yang terjadi nanti. Aku
akan tetap sayang sama kamu dan aku harap kamupun begitu.
***
Prilly memasuki kamar Ali dan
berjalan cepat kearah pembaringan. Ia menghela nafas.
“Ali... bangun.”
“Prilly...”
“Aku disini Li. Bangun...”
Perlahan mata itu mulai terbuka.
“Prilly.”
Prilly tersenyum getir. Ia tak
menyangka masalahnya akan membuat pemuda dihadapannya ini sakit seperti ini. ia
melupakan satu hal. Pemuda dihadapannya ini susah diajak makan.
“Iya Ali... aku disini.”
“Kok nangis. Jangan... jangan
nangis.”
Ali mendudukan dirinya kemudian
menyeka air mata Prilly. Ia mengelus pipi Prilly dengan lembut.
“Kamu baik-baik ajakan?.”
Prilly menangkup wajah Ali. Ia
meletakkan punggung tangannya di dahi Ali.
“Gak. aku gapapa. Itu... Jari kamu
kenapa?.”
Prilly tersenyum kecil.
“Tadi keiris.”
Ali meraih jari Prilly itu kemudian
meniupinya.
“Cepet sembuh ya...”
Prilly menatap Ali.
“Jangan teledor lagi ya Prill...
jangan buat jari kamu luka kayak gini...”
Ali membalas tatapan Prilly. Rongga
yang tadi ia rasa kosong sekarang mulai kembali.
“Aku sayang kamu Prilly... jangan
buat aku khawatir ya... jangan marah sama aku lagi ya...”
“Aku juga sayang kamu Ali. Kamu
juga jangan buat aku khawatir. Jaga kesehatan kamu. dan... jangan bentak aku
kayak kemaren lagi.”
Ali terkekeh.
“Aku cuma cemburu aja... aku kan
belum pernah deket sama cewek kayak gini.”
Prilly tersipu. Ia meraih semangkuk
bubur yang ada di meja.
“Makan ya?.”
“Iya. Tapi kamu ngadep sana dulu
deh.”
Ali menunjuk ke arah pintu. Membuat
Prilly duduk membelakanginya. Ia mengeluarkan sesuatu dari balik bantalnya.
“Tutup mata kamu.”
“Ngapain? Jangan macem-macem ya.”
“Enggak. Paling satu macem.”
“Ih Ali...”
“Aku gak ngapa-ngapain kok. Tutup
ya matanya.”
“Oke deh... awas ya kalo
macem-macem...”
“Enggak.”
Beberapa saat kemudian, Prilly
merasakan sesuatu berada di lehernya. Ia meraba lehernya itu.
“Li... ini...”
Prilly berbalik dan menatap Ali
yang menatapnya dengan begitu dalam.
“Happy anniversary yang ke 4 bulan
hubungan kita yang gak jelas ini.”
“Ali...”
Ali tersenyum tanpa ada niat
melepaskan pandangannya.
“Kenapa?.”
Prilly memeluk Ali dengan erat.
“Terimakasih.”
Ali membalas pelukan itu.
“Sama-sama... makasih juga sama
Mama gih.”
“Kok?.” Prilly melepaskan
pelukannya dengan alis bertautan tidak mengerti.
“Jangan-jangan kamu boongan lagi
sakitnya? Iyakan? Boongkan?.”
Ali tertawa terbahak-bahak.
“Ihh Ali kamu jahat banget sih sama
aku...”
Ali berhenti tertawa kemudian
kembali lagi menatap Prilly.
“Aku bingung mau buat apa lagi.
Tadinya tadi pagi aku mau kasihnya. Tapi kamu masih marah. Jadi aku pake cara
kayak gini. Maaf ya...”
“Ali...”
Ali kembali memeluk Prilly.
“Maaf... aku sayang kamu... aku
sayang banget sama kamu... kita gak bakat pisah, kita gak bakat berantem gini.”
“Iya... aku juga sayang kamu...
sayang banget malah.”
“Makasih ya Prill. Padahal aku udah
lakuin yang paling kamu benci. Aku bentak kamu kayak kemaren.”
“Gapapa. Aku terlalu sayang sama
kamu. tapi jangan diulang ya...”
“Iya... aku usahain. Kamu terus
ingetin aku aja ya...”
“Oke...”
“Aku sayang Kamu Prilly...”
“Aku juga sayang kamu Ali...”
“Semoga kita terus bersama ya...”
“Amin.”
Prilly dan Ali tersenyum, saling
melepas rindu. Kita gak ada bakat buat
berpisah... semoga hanya maut yang bisa memisahkan kita...
***
Sebuah cinta... dalam keadaan
apapun, bagaimanapun dengan prahara apapun akan kembali pada cinta
sesungguhnya. Cinta yang tulus... cinta yang sebenarnya...
“Enak ya double date kayak gini.
Aku gak pernah ngebayangin bareng artis kayak kalian.”
“Haha apaan sih? Kita sama-sama
manusiakan? Sekarang kita sahabatan kan?.”
“Untuk pertama kalinya aku
ngerasain perpisahan sehari dengan marahan sama Prilly gara-gara kejadian
kemarin.”
“Tapi kalian semakin lengketkan?.”
Cinta itu indah bukan? Apapun yang
terjadi asalakan saling percaya dan saling bertanya... sekuat apapun perpisahan
itu terjadi, pada akhirnya cinta akan kembali. Karena cinta tak pernah salah
memilih...
***
Tamat.
Bagus banget kakak :) pengen juga donk buat cerpen kyk gni. kasih tipsnya donk :)
ReplyDelete