Tuesday, 8 July 2014

ASK! (Aku Sayang Kamu!)



(Karena Cinta Tak Pernah Salah Memilih)

“CUT! Oke Prilly, Cakka bagus. Kamu boleh istirahat sementara, 20 menit lagi kita take lagi.”
“Trimakasih semua.”
Prilly menundukan sedikit badannya tanda hormat.
“Akting loe emang gak bisa diraguin ya...”
Prilly tersenyum pada pemuda tampan disampingnya, ia meneguk sedikit minumannya kemudian duduk disalah satu kursi.
“Loe juga keren. Apalagi lagu loe bagus banget.”
“Bisa aja.”
Prilly meraih sebuah roll kemudian meroll kembali poninya. Lalu ia beralih pada ponselnya. Ia mengerutkan keningnya. Apa ini? kenapa beberapa hari ini selalu ada kiriman ini? Prilly membatin begitu melihat sebuah kiriman foto ke akun twitternya, dan beberapa foto yang di tag di instagramnya. Ia mengerutkan keningnya. Ini...
Aliando’s Calling...
“Ya? Kenapa?.”
“Aku dimobil. Kesini.”

Panggilan itu ditutup begitu saja membuat Prilly mengerutkan keningnya. Ia menghela nafas panjang kemudian beranjak menuju sebuah mobil hitam yang tak asing lagi baginya dihalaman parkir tempat shootingnya itu. tanpa basa-basi ia memasuki mobil tersebut.
“Ada apa? Kok tumben datengin aku?.”
“Pak. Bisa keluar sebentar? Saya ingin bicara berdua.”
“Baik Den.”
Prilly menghela nafas. ia melirik Ali sekilas. Jelas sekali air mukanya itu terlihat berbeda dari biasanya, yang biasanya tenang kini terlihat sedikit berbeda.
“Jadi gitu kerjaan kamu?.”
Prilly merengut.
“Maksud kamu?.”
“Aku nyesel tau gak percayain hati aku buat kamu. Sementara yang aku liat ini itu...”
“Kamu ngomong apaan sih Li? Aku gak ngerti deh!.”
“Yang barusan adegan apa? Aku liat semuanya. Aku juga udah tau semua adegan kamu sama dia itu kayak gimana. Apa perlu cuma sebuah video clip kayak gitu? Shootingnya sampe seminggu lebih gak rampung-rampung.”
Prilly menatap Ali yang sama sekali tidak menatapnya.
“Kamu kenapa sih? Aku gak ngerti deh! Lagian itu cuma adegan aja. Dulu juga aku kayak gitukan sama kamu? apa bedanya?.”
“Oh! Jadi kamu pake hati juga sama dia? Iya?.”
“Apa sih Li?.”
“Gak usah bohong deh! Aku udah tau semuanya. Semua orang bilang kalian cinlok cuma gara-gara shooting video clip yang gak kelar-kelar. Aku udah tau. Semua orang kirim gambar kamu ke aku.”
“Kamu ini aneh ya! akukan udah bilang, aku shooting video clip sama dia itu bukan cuma satu lagu. Tapi beberapa!. Video clipnya sengaja dibuat kayak sinetron yang nyambung-nyambung!. Ngomong sama aku kamu kenapa sih? Aku aja liat kamu adegan yang lebih parah dari ini apa aku pernah marah sama kamu? apa aku pernah bentak-bentak kamu? enggak kan? Aku malah suruh kamu lebih! Karena biar dapet feelnya! Tapi kenapa kamu malah kayak gini sama aku?.”
Nafas Prilly memburu menahan marah. Air matanya pun mulai turun. Ia menepis air matanya itu kemudian menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
“Aku tuh udah gak ngerti lagi sama kamu ya Li.”
Prilly menghela nafas.
“Dulu kamu yang bilang, aku jangan cemburu kalau kamu adegan mesra sama cewek lain. Tapi sekarang apa? Kenapa malah kamu yang kayak gini? Kamu kemakan gosip kayak gitu.”
“Terus yang barusan apa? Kamu masih sempet-sempetan mesra-mesraan kayak gitu. Dan ini apa?.” Ali mengacungkan ponselnya, dihadapkan pada Prilly. Saat Prilly hendak membawa ponsel itu, tiba-tiba Ali menariknya kembali.
“Udahlah mendingan kita udahan aja sekalian.”
Prilly tersenyum getir, air matanya kembali turun.
“Biar kamu bebas adegannya.”
Prilly menyeka kasar air matanya.
“Udahan apa? Emang kita pernah jadian? Emang kita pernah memulai sesuatu? Inget satu hal Li. Kita gak pernah ada apa-apa!. Oiya... kalau kamu anggap kita ada hubungan, bukannya seharusnya yang marah itu aku ya? aku mending mesra sama dia karena tuntutan peran. Kamu? jalan-jalan di mall, dinner sama cewek yang katanya guru les kamu. aku udah coba sabar Li, aku gak marah sama kamu setelah aku dapet foto itu, aku mencoba sabar untuk gak mempermasalahkan ini, karena aku tahu kamu sibuk, gak ada waktu buat ngurus yang kayak gini. Tapi ternyata... aku gak nyangka ternyata malah jadi kayak gini, malah kamu yang cemburu sama peran aku. aku gak ngerti lagi sama kamu.”
Prilly menyeka air matanya. Ia menatap Ali dengan tajam.
“Kalo yang kamu mau kita gak ketemu lagi, oke. Bye! Gak usah cari aku lagi.”
Setelah mengatakan hal itu ia keluar dari mobil dan kembali ketempat istirahatnya tadi. Prilly mengatur nafasnya, ia tak ingin menangis. Ia tak ingin orang-orang curiga terhadapnya.
“Prill? Kenapa? Loe nangis?.”
Prilly tersenyum.
“Enggak Kka.”
“Marahan ya sama pacar loe?.”
Prilly terkekeh kecil.
“Pacar? Sejak kapan gue punya pacar? Oiya, gue kedalem dulu ya. gue capek mau tidur sebentar.”
Prilly beranjak setelah di angguki oleh Cakka. Pikirannya bercabang kemana-mana yang mengharuskannya beristirahat sejenak. Aku gak ngerti lagi sama pikiran Ali... gak! dia aneh. Prilly memegang kepalanya sejenak sambil menarik nafas dalam. hhh... oke Prilly fokus Prilly loe lagi kerja. Prilly menarik nafas kembali kemudian merebahkan tubuhnya pada sebuah pembaringan.

***

Cakka menatap kepergian Prilly. Gak biasanya Prilly kayak gitu. Cakka menghela nafas kemudian ia berbalik saat mendengar suara sebuah ponsel bergetar. Ternyata punya Prilly.
Aliando’s Calling...
Cakka mengerutkan keningnya. Ia meraih ponsel itu kemudian beranjak ketempat Prilly. Saat ia memasuki ruangan itu yang ia dapat hanya Prilly yang sedang tertidur dengan begitu tenangnya. Ia menghela nafas.
“Hallo...”
“Hallo maaf...”
“Siapa ini?.”
“Saya Cakka.”
“Oh. Prilly nya mana?.”
“Dia tidur. Sepertinya dia sedang ada masalah.”
“Oh... yasudah terimakasih.”
Cakka mengerutkan keningnya. Aneh!
Ponselnya tiba-tiba berdering, ia segera beranjak dari tempat Prilly.
A’yang’s Calling...
Cakka tersenyum kecil, tidak biasanya kekasihnya itu menelponya dijam-jam seperti ini.
“Hallo.”
“Kamu dimana? Lagi ngapain?.”
Cakka mengerutkan keningnya. “Aku? aku dilokasi lagi mau take lagi. Kenapa emangnya?.”
“Lagi ngapain? sama siapa?.”
“Aku lagi mau take lagi nih. Sendiri sayang. Kamu kenapa sih?.”
Ini HP nya Prilly. Saat Cakka hendak mengembalikan ponsel itu tanpa sengaja ponsel itu menyala dan menampilkan sebuah foto. Foto seseorang yang sangat ia kenal.
Cakka menghela nafas panjang, ia menaruh ponsel itu kemudian keluar dari ruangan itu lagi.
“Cakka?.”
“Sekarang aku yang tanya sama kamu. kamu lagi dimana? Sama siapa?.”
“A... aku? aku lagi ditempat yang mau aku les.”
“Siapa dia?.”
“Siiapa apa Kka? Aku gak ngerti deh.”
“Siapa yang kamu les itu?! jawab Agni!.”
“Kok tumben kamu peduli? Ada apa emang?.”
“Apa orang itu Aliando Syarief?!.”
“Kok... kamu tahu?.”
Cakka tersenyum masam. Jadi ini yang membuat gadisnya itu sibuk sendiri? Dia mengikuti jadwal artis itu.
“Kamu dimana? Selesai take aku jemput kamu kesana.”
“Gak... gak usah Kka. Jangan...”
“Kenapa? Mau keliatah single didepan artis pujaan loe itu hah?!.”
“Apa sih Kka? Kok kamu kasar gitu? Enggak! Aku cuma gak enak aja. Gimana kalo ada yang tahu hubungan kita?.”
“Jangan mentang-mentang kita backstreet kamu jadi seenaknya ya Ni.”
“Aku gak...”
“Udahlah! Kita gak ada gunanya juga debat di telepon kayak gini. Terserah kamu ajalah mau gimana juga. Aku gak peduli.”
Cakka mengakhiri panggilannya. Apa mungkin Prilly ada hubungan sama Ali? Dan dia lagi ada masalah gara-gara foto Agni sama Ali? Cakka menarik rambutnya ke atas frustasi. apa yang harus aku lakukan sekarang?

***

Ali menatap Prilly yang baru saja menutup pintu mobilnya dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa antara mereka beberapa saat yang lalu. Perkataan Prilly yang selama ini tak pernah terpikirpun akhirnya ia dengar, dan terus saja terngiang-ngiang ditelinganya.
“Udahan apa? Emang kita pernah jadian? Emang kita pernah memulai sesuatu?”
“Kalo yang kamu mau kita gak ketemu lagi, oke. Bye! Gak usah cari aku lagi.”
Ali mengerang kesal. Kenapa sih gue gak bisa pertahanin dia? Kenapa gue gak bisa sabar? Kenapa gue jadi kayak gini?! Kenapa gue gak punya keberanian buat nyusul dia?
Ali menyandarkan punggungnya, ia merasakan sesuatu terangkat dan menghilang dari dalam dirinya begitu Prilly mengatakan hal tadi. Sekarang, semuanya hampa. Ternyata benar. Separuh hati aku itu kamu Prill... Ali menghela nafas.
“Pak masuk. Kita pulang.”

Sepanjang perjalanan tak ada apapun dalam pikirannya kecuali perkataan Prilly dan bayangan wajah Prilly yang terlihat begitu kecewa padanya. Ia menghela nafas panjang. Baru juga kita kayak gini, aku udah kangen kamu Prill...
Ali meraih ponselnya hendak menghubungi Prilly. Ia menimang-nimang ponselnya tersebut. Gak! jangan sekarang. Ali kembali menyimpan ponselnya dan menghela nafas panjang. Aku gak pernah nyangka ternyata effek kamu buat aku luar biasa Prill...

Begitu sampai dikediamannya ia telah disambut oleh guru les nya yang baru ia kenal satu bulan ini. menjelang ujian nasional ia memang harus belajar apalagi dengan aktifitasnya yang padat, membuatnya kesulitan belajar. Guru lesnya pun sengaja ia mengambil temannya sendiri yang merupakan siswa terbaik disekolahnya.
“Udah dateng Ni?.”
“Seperti yang loe liat.”
Ali tersenyum sekilas kemudian duduk disamping gadis itu.
Agni mulai membuka buku yang ia bawa. Sesekali ia melirik Ali yang terlihat terus-terusan melamun.
“Tumben ngelamun mulu. Biasanya juga terus-terusan megang HP.”
“Kayaknya gue salah faham.”
“Sama?.”
“Prilly lah siapa lagi?.”
“Ya kali aja loe ada cewek laen.”
“Gak mungkinlah. Kayaknya gue udah stuck di dia.”
Agni terkekeh.
“Kenapa loe gak telpon aja dia? Masalah kelarkan kalo loe udah jelasin baik-baik? Bukannya kalian gak bakat berantem?.”
“Iya sih. Gue coba ya.”
Ali meraih ponselnya, lama sekali tak ada jawaban.
“Hallo...”
“Hallo maaf...”
Ali mengerutkan keningnya. Kenapa bukan Prilly?
“Siapa ini?.”
“Saya Cakka.”
Ali mengerutkan keningnya. Ohh penyanyi itu.
“Oh. Prilly nya mana?.”
“Dia tidur. Sepertinya dia sedang ada masalah.”
“Oh... yasudah terimakasih.”
Ali mengakhiri sambungan teleponnya. Ia melempar kesal ponselnya kesudut kursi yang berada didekatnya. Kamu kenapa sih Prill? Apa bener hubungan kamu sedeket itu? kenapa sampai dia angkat telpon dari aku?
“Li? Kenapa?.”
“Prily lagi tidur dan yang angkat teleponnya adalah Cakka. Hubungan macam apa sih sampe bisa angkat telepon kayak gitu? Menurut loe gimana sih? Gue gak yakin mereka sedeket itu tanpa ada hubungan apa-apa.”
Agni mengerutkan keningnya.
“Siapa tadi kamu bilang? Cakka? Sama Prilly?.”
“Iya Cakka.”
Ali melirik ke arah Agni yang tak merespon. Ia melihat gadis itu mengeluarkan ponselnya. Kenapa dia?
 “Kamu dimana? Lagi ngapain?.”
“Aku? aku dilokasi lagi mau take lagi. Kenapa emangnya?.”
“Lagi ngapain? sama siapa?.”
“Aku lagi mau take lagi nih. Sendiri sayang. Kamu kenapa sih?.”
“Kamu gak bohongkan Kka?.”
Agni melirik ponselnya, kenapa Cakka malah tidak nyaut?. “Kka... Cakka...Cakka?!.”
“Sekarang aku yang tanya sama kamu. kamu lagi dimana? Sama siapa?.”
Agni mengerutkan keningnya, ia melirik ke arah Ali yang ternyata sedang sibuk dengan bukunya.
“A... aku? aku lagi ditempat yang mau aku les.”
“Siapa dia?.”
Agni terlihat gugup, ia gak mungkin kasih tau siapa yang ia les, mengingat ini perjanjian.
“Siiapa apa Kka? Aku gak ngerti deh.”
“Siapa yang kamu les itu?! jawab Agni!.”
“Kok tumben kamu peduli? Ada apa emang?.”
“Apa orang itu Aliando Syarief?!.”
Agni menatap Ali yang kini dia juga menatapnya.
“Kok... kamu tahu?.”
“Kamu dimana? Selesai take aku jemput kamu kesana.”
“Gak... gak usah Ni. Jangan...”
“Kenapa? Mau keliatah single didepan artis pujaan loe itu hah?!.”
“Apa sih Ni? Kok kamu kasar gitu? Enggak! Aku cuma gak enak aja. Gimana kalo ada yang tahu hubungan kita?.”
“Jangan mentang-mentang kita backstreet kamu jadi seenaknya ya Ni.”
“Aku gak...”
“Udahlah! Kita gak ada gunanya juga debat di telepon kayak gini. Terserah kamu ajalah mau gimana juga. Aku gak peduli.”
“Bukannya...”
Agni melirik ponselnya.
“Kka? Cakka?! Cakka Nuraga?!.”
Ali mengerutkan keningnya.
“Cakka Nuraga?.”
“Eh.”
Agni menatap cepat ke arah Ali.
“Cakka? Maksud loe penyanyi itu? ada hubungan apa loe sama dia?.”
“Gue... ya gue cuma kenal aja.”
“Gak gak mungkin. Loe ada hubungan apa sama dia? Jangan-jangan dia pacar loe dan niat maenin Prilly? Gitu?!.”
Ali mengerang kesal kemudian beranjak.
“Ali. Hey!.”
Aduuuh gimana inii? Agni bergerak-gerak gelisah. Jangan sampe ada apa-apa deh. Aminn

***

“Prilly apakah benar kamu kembali terlibat cinta lokasi?.”
“Bagaimana hubungan kamu dengan Aliando?.”
Prilly tersenyum.
“Ah enggak. Aku sama dia cuma temen. Hubungan apa? Kami cuma temen, sahabatan. Sama kayak aku sama Cakka, aku sama Ali masih sahabatan kok.”
“Tapi berbagai sumber mengatakan kalau hubungan kalian berlanjut hingga sekarang dan katanya hubungan kalian akan lebih serius lagi.”
Prilly tersenyum renyah.
“Ah kata siapa? Enggak. Gak ada yang lebih dari sahabat, sampai sekarang aku masih sahabatan sama Ali. Gak tahu kedepannya kayak gimana.”
“Eh itu ada Ali.”
“Hah? Ali? Ngapain Ali ke lokasi Shooting Prilly?.”
“Yuk samperin.”

Prilly menghela nafas, apalagi sih ini? ngapain sih dia pake acara kesini?

***

Begitu Ali turun dari mobilnya beberapa wartawan langsung menghampirinya. Berbagai pertanyaanpun langsung dilontarkan untuknya.
“Ali, ada urusan apa kamu kesini?.”
“Apa benar hubungan spesial kamu berlanjut sampai sekarang?.”
“Apakah kamu cemburu mendengar kabar cinta lokasi antara Prilly dan lawan mainnya?.”
Ali tersenyum.
“Enggak. Gak ada yang cemburu, mencemburui dan dicemburui. Aku kesini mau ngomongin projek baru aja sama Prilly.”
“Kira-kira Projek seperti apa?.”
“Adaa...”
“Tapi, apa benar hubungan kalian meningkat lebih ke arah serius?.”
“Hubungan apa? Iya ke arah yang serius dalam urusan pekerjaan. Kalau yang dimaksud hubungan asmara sampai sekarang kami masih temenan, sahabatan aja. Gak lebih.”
Ali tersenyum kembali.
“Udah ya? saya ada keperluan dan sepertinya Prilly tidak memiliki waktu luang banyak. Begitu juga saya. Maaf ya... permisi semuanya dan terimakasih.”

Ali dan Prilly langsung saling melempar senyuman, saat keduanya telah berhadapan Prilly mengajak Ali untuk memasuki ruangan artis agar bisa berbicara lebih privasi lagi.
Prilly menghela nafas sambil melepaskan tangan Ali.
“Mau ngapain lagi kesini? Belum puas bentak-bentak aku?.”
“Aku mau minta maaf.”
“Udah deh Li. Lebih baik kamu pergi sekarang. Aku masih banyak take dan aku harus konsentrasi. Aku gak ada waktu urus yang kayak begini.”
“Prill, kamu kenapa sih?.”
“Kenapa apa? Kamu yang kenapa? Kemaren marah-marah gak jelas dan kamu juga udah bilang kita udahan walaupun aku gak tau apa yang kita udahin. Kamu yang kenapa?.”
“Aku minta maaf. Oke aku akuin aku salah. Maaf.”
“Dimaafkan. Silahkan sekarang kamu pergi.”
“Prill, liat aku. liat mata aku. aku bener-bener minta maaf.”
“Buat apa aku liat kamu? yang penting sekarang aku udah maafinkan? Yaudah. Aku juga udah bilang gak usah cari aku lagi. Faham? Silahkan keluar.”
Ali menghela nafas. ia tak pernah bisa menang jika Prilly tak mau menatapnya. Ali menatap Prilly yang menyampinginya.
“Aku minta maaf. Aku gini, karena aku sayang kamu.”
Prilly tak bergeming membuat Ali hanya menghela nafas saja.
“Yaudah, aku pulang. Jangan lupa makan dan istirahat yaa...”
Ali merangkul pundak Prilly sejenak kemudian membelai rambut itu sebelum akhirnya beranjak meninggalkan Prilly.
Prilly berbalik ke arah pintu begitu Ali menghilang dibalik pintu itu.
“Aku juga sayang kamu Li. Aku cuma gak mau kamu bentak aku kayak kemaren. Maaf...”
Prilly menghela nafas kemudian mendudukan dirinya disebuah sofa. Ali... bayangan-bayangan kenangannya dahulu kembali terlintas dalam pikirannya. Saat-saat bahagia kebersamaan mereka saat shooting bersama, jalan berdua, dan masih banyak hal lainnya yang tak akan pernah bisa ia lupakan.

“Aku sayang kamu, kamu juga sayang aku. kita sama-sama udah tahu perasaan kita masing-masing. Tapi aku gak mau kita pacaran. Kita jalanin aja dulu semuanya... meskipun tanpa pacaran yang penting kita tahu kita saling menyayangi itu udah cukupkan Prill?.”
“Iya Li... yang penting kita saling dukung aja, saling percaya.”
“Iya... dan yang terpenting kamu juga tahu, walaupun aku beradegan sama sorang lain tapi hati aku, sayang aku cuma buat kamu.”
“Begitupun aku.”
“Aku sayang kamu Prilly.”
“Aku juga sayang kamu Ali.”

Prilly tersenyum getir jika mengingat kejadian itu. kejadian beberapa bulan yang lalu yang ternyata membawanya dalam kondisi seperti ini. kondisi yang sama sekali gak ada dalam benaknya sedikitpun. Prilly melirik kearah pintu, siapa tahu Ali menjahilinya dan dia masih berada disana. Prilly menghela nafas aku kangen kamu Li... kita emang gak bakat berantem.

***

“Ini apa?.”
Cakka menunjukkan ponselnya pada Agni yang mematung didepannya. Ia sengaja mendatangi rumah kekasihnya itu tiba-tiba. Agar kekasihnya itu tidak banyak alasan lagi untuk tidak bertemu dengannya.
“Masuk dulu Kka.”
Cakka memasuki rumah itu kemudian duduk disalah satu kursi. Sementara Agni hanya diam dan duduk disampingnya saja.
“Ini apa? Kapan kamu jalan-jalan?.”
“Itu beberapa hari yang lalu. Itu cuma iseng aja, refresh pikiran. Belajar teruskan mumet Kka, please percaya sama aku.”
“Kenapa kamu gak ngasih tahu aku dulu?.”
Agni menunduk.
“Maaf... waktu itu Hp aku mati.”
“Mati ya? oh. Mati atau dimatiin biar gak diganggu?.”
“Mati Kka.”
Cakka menatap Agni tajam.
“Aku gak ngerti ya sama jalan pikiran kamu. aku yang ajak kamu jalan aja gak mau, kenapa di ajak dia jalan kamu mau gitu aja? Emang siapa yang gak sakit hati liat pacarnya sendiri yang gak pernah mau aku ajak jalan-jalan sekarang malah sama cowok lain? siapa yang gak sakit hati hah?.”
“Ya kan Kka. Itu.”
“Apa? Alesan apa lagi? Udahlah Ni, aku bingung harus gimana. Aku gak tau harus gimana lagi sekarang.”
Agni menatap Cakka.
“Cakka! Aku gak pernah ya punya alesan yang bohong buat kamu. selama ini aku udah jujur sama kamu! kenapa kamu malah kayak gini sekarang?.”
“Terserahlah. Aku harus pergi sekarang. Sekarang terserah kamu aja anggap hubungan kita kayak apa. Aku gak percaya lagi sama kamu.”
APA?! Gak percaya? “Kka... Cakka?! Please percaya sama aku. aku gak pernah ada hubungan apa-apa sama Ali. Aku cuma sayang kamu Kka. Aku sayang kamu.”
Ingin sekali ia berkata seperti itu dan berlari memeluk kekasihnya yang kini telah menghilang dibalik pintu itu, namun ia tak kuasa untuk berkata lebih kencang lagi.
“Aku sayang kamu Kka.”

***

Cakka menghela nafas. ia menelungkupkan wajahnya keatas stir. Aku juga sayang kamu Agni... tapi aku cemburu... aku gak bisa liat kamu sama cowok lain.
“Maafin aku Agni, maafin aku.”

“NON AGNI?!”

“Agni?.”
Cakka mengangkat kepalanya begitu mendengar pengurus rumah Agni. Dengan cepat ia segera berlari kembali kedalam rumah itu dan mendapati kekasihnya terjatuh dilantai.
“Agni...”

***

Prilly menghela nafas lelah. Akhirnya adegan aku udah abis. Dengan gini walaupun aku baikan sama Ali gak bakalan deh Ali bentak aku lagi, mungkin.
“Assalamu’alaikum... aku pulang.”
“Kamu udah pulang? Kok cepet?.”
“Iya Ma, cuma sedikit. Mama lagi ngapain?.”
“Masak. Kamu mau ikutan?.”
Prilly mengangguk. Kali aja bisa ngobatin hati gue... Prilly menghela nafas kemudian mendekati Mama nya yang sedang berkutat dengan beberapa sayuran.
Prilly mengambil pisau dan beberapa sayuran untuk di potong. Ia menghela nafas. li... kamu lagi ngapain? Kok loe gak ada kabarin gue sih? Dari sejak tadi pagi sampai udah mau malem gini.
“Aw.”
“Sayang kamu kenapa? Duhh... sini Mama bersihin.”
“Aw. Sakit Ma...”
“Lagian kamu kenapa ceroboh sih? Gak kayak biasanya.”
“Aw sakit Ma... perih...”
“Tahan sebentar...”
Prilly meringis beberapa kali saat jari telunjuknya diobati oleh Mamanya. Kenapa gue? Kok jadi gini sih? Masa iya cuma gara-gara Ali sih?
“Aw... sakit Ma...”
“Nah selesai.”
Ponsel Mamanya tiba-tiba berdering.
“Hallo assalamu’alaikum...”
“wa’alaikumsalam...”
“Ada apa Bu? Kok tumben?.”
“Prilly ada?.”
“Ada. Kenapa emang? Dia lagi liatin jarinya yang tiba-tiba keiris gitu. Kayak lagi banyak pikiran dia.”
“Lho kok bisa? Gak biasanya Prilly gitu. Ini Ali juga badannya panas. Dia sebut terus nama Prilly. Apa jangan-jangan mereka lagi ada masalah ya?.”
“Lho Ali sakit? Sejak kapan?.”
“Tadi pagi. Bu kalau bisa bawa Prilly ya? kali aja dia bangun. dia gak mau diajak makan.”
Mama melirik ke arah Prilly yang ternyata sedang menatapnya dengan wajah yang pucat.
“Iya, saya kesana sekarang.”
“Yasudah aku tunggu ya Bu... assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”

“Ma? Ali sakit?.”
“Iya... kalian berantem?.”
Prilly menghela nafas.
“Iya, dari kemaren.”
“Yaudah kita tengok Ali yuk. Kamu jangan egois ya...”
Prilly mengangguk. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia sangat mengkhawatirkan lelaki itu. bagaimanapun juga ia tidak bisa memungkiri jika lelaki itu adalah orang yang ia sayang juga.

***

Agni membuka matanya perlahan. Ia merasakan sebuah tangan menggenggamnya dengan erat.
“Kka...”
“Agni? Kamu udah sadar? Maafin aku ya sayang... maaf.”
Agni tersenyum.
“Gapapa Kka.”
“Kenapa kamu bisa jatoh dari tangga sih?.”
“Aku juga gak tau Kka, mungkin udah nasib aku aja.”
Cakka menggenggam tangan Agni dan mengecupnya pelan.
“Maafin aku ya... ini pasti gara-gara aku. maaf...”
“Enggak Kka... aku aja yang teledor. Please ya... kamu percaya sama aku. aku cuma sayang kamu. aku gak ada apa-apa sama dia. Aku cuma temenan sama dia.”
Cakka tersenyum.
“Iya. Lagian kamu dari dulu gak pernah bilang punya temen artis. Yaudahlah biar semuanya lebih gampang kita gak usah backstreet aja ya...”
“Tapi Kka...”
Cakka menatap Agni.
“Aku sayang kamu Agni... apapun yang akan terjadi nanti. Ada aku disamping kamu. ada aku yang lindungin kamu.”
Agni mengangguk.
“Aku juga sayang sama kamu Kka. Aku percaya sama kamu.”
Cakka tersenyum, ia bangkit lalu mencium kening Agni.
“Terimakasih sayang. Maaf aku kasar sama kamu. aku cuma cemburu aja liat kamu yang jalan sama orang lain. maaf ya...”
Agni mengangguk kecil dengan senyuman yang menawan dibibirnya.
“Jangan kasar lagi ya...”
Cakka mengangguk.
“Janji?.”
“Aku janji.”
Agni tersenyum kembali, sebelah tangannya yang terbebas dari infusan mengelus pipi Cakka.
“Aku harap kita gak gini lagi. Aku gak mau kehilangan kamu.”
“Aku juga. Apapun yang terjadi nanti lebih baik tanyakan dulu baik-baik ya? jangan langsung saling curiga.”
“Iya Kka... aku mengerti.”
Cakka mengelus pipi Agni dengan lembut. Apapun yang terjadi nanti. Aku akan tetap sayang sama kamu dan aku harap kamupun begitu.

***

Prilly memasuki kamar Ali dan berjalan cepat kearah pembaringan. Ia menghela nafas.
“Ali... bangun.”
“Prilly...”
“Aku disini Li. Bangun...”
Perlahan mata itu mulai terbuka.
“Prilly.”
Prilly tersenyum getir. Ia tak menyangka masalahnya akan membuat pemuda dihadapannya ini sakit seperti ini. ia melupakan satu hal. Pemuda dihadapannya ini susah diajak makan.
“Iya Ali... aku disini.”
“Kok nangis. Jangan... jangan nangis.”
Ali mendudukan dirinya kemudian menyeka air mata Prilly. Ia mengelus pipi Prilly dengan lembut.
“Kamu baik-baik ajakan?.”
Prilly menangkup wajah Ali. Ia meletakkan punggung tangannya di dahi Ali.
“Gak. aku gapapa. Itu... Jari kamu kenapa?.”
Prilly tersenyum kecil.
“Tadi keiris.”
Ali meraih jari Prilly itu kemudian meniupinya.
“Cepet sembuh ya...”
Prilly menatap Ali.
“Jangan teledor lagi ya Prill... jangan buat jari kamu luka kayak gini...”
Ali membalas tatapan Prilly. Rongga yang tadi ia rasa kosong sekarang mulai kembali.
“Aku sayang kamu Prilly... jangan buat aku khawatir ya... jangan marah sama aku lagi ya...”
“Aku juga sayang kamu Ali. Kamu juga jangan buat aku khawatir. Jaga kesehatan kamu. dan... jangan bentak aku kayak kemaren lagi.”
Ali terkekeh.
“Aku cuma cemburu aja... aku kan belum pernah deket sama cewek kayak gini.”
Prilly tersipu. Ia meraih semangkuk bubur yang ada di meja.
“Makan ya?.”
“Iya. Tapi kamu ngadep sana dulu deh.”
Ali menunjuk ke arah pintu. Membuat Prilly duduk membelakanginya. Ia mengeluarkan sesuatu dari balik bantalnya.
“Tutup mata kamu.”
“Ngapain? Jangan macem-macem ya.”
“Enggak. Paling satu macem.”
“Ih Ali...”
“Aku gak ngapa-ngapain kok. Tutup ya matanya.”
“Oke deh... awas ya kalo macem-macem...”
“Enggak.”
Beberapa saat kemudian, Prilly merasakan sesuatu berada di lehernya. Ia meraba lehernya itu.
“Li... ini...”
Prilly berbalik dan menatap Ali yang menatapnya dengan begitu dalam.
“Happy anniversary yang ke 4 bulan hubungan kita yang gak jelas ini.”
“Ali...”
Ali tersenyum tanpa ada niat melepaskan pandangannya.
“Kenapa?.”
Prilly memeluk Ali dengan erat.
“Terimakasih.”
Ali membalas pelukan itu.
“Sama-sama... makasih juga sama Mama gih.”
“Kok?.” Prilly melepaskan pelukannya dengan alis bertautan tidak mengerti.
“Jangan-jangan kamu boongan lagi sakitnya? Iyakan? Boongkan?.”
Ali tertawa terbahak-bahak.
“Ihh Ali kamu jahat banget sih sama aku...”
Ali berhenti tertawa kemudian kembali lagi menatap Prilly.
“Aku bingung mau buat apa lagi. Tadinya tadi pagi aku mau kasihnya. Tapi kamu masih marah. Jadi aku pake cara kayak gini. Maaf ya...”
“Ali...”
Ali kembali memeluk Prilly.
“Maaf... aku sayang kamu... aku sayang banget sama kamu... kita gak bakat pisah, kita gak bakat berantem gini.”
“Iya... aku juga sayang kamu... sayang banget malah.”
“Makasih ya Prill. Padahal aku udah lakuin yang paling kamu benci. Aku bentak kamu kayak kemaren.”
“Gapapa. Aku terlalu sayang sama kamu. tapi jangan diulang ya...”
“Iya... aku usahain. Kamu terus ingetin aku aja ya...”
“Oke...”
“Aku sayang Kamu Prilly...”
“Aku juga sayang kamu Ali...”
“Semoga kita terus bersama ya...”
“Amin.”
Prilly dan Ali tersenyum, saling melepas rindu. Kita gak ada bakat buat berpisah... semoga hanya maut yang bisa memisahkan kita...

***

Sebuah cinta... dalam keadaan apapun, bagaimanapun dengan prahara apapun akan kembali pada cinta sesungguhnya. Cinta yang tulus... cinta yang sebenarnya...

“Enak ya double date kayak gini. Aku gak pernah ngebayangin bareng artis kayak kalian.”
“Haha apaan sih? Kita sama-sama manusiakan? Sekarang kita sahabatan kan?.”
“Untuk pertama kalinya aku ngerasain perpisahan sehari dengan marahan sama Prilly gara-gara kejadian kemarin.”
“Tapi kalian semakin lengketkan?.”

Cinta itu indah bukan? Apapun yang terjadi asalakan saling percaya dan saling bertanya... sekuat apapun perpisahan itu terjadi, pada akhirnya cinta akan kembali. Karena cinta tak pernah salah memilih...

***

Tamat.


1 comment:

  1. Bagus banget kakak :) pengen juga donk buat cerpen kyk gni. kasih tipsnya donk :)

    ReplyDelete