Friday, 20 December 2013

(Bukan) Kesalahan! Part 2

Ify memasuki kediaman Rio yang begitu megah. Setelah beberapa kali menekan bel tak ada seorangpun yang membukakan pintu untuknya. Ify mencoba mendorong pintu itu, terbuka. Berarti ada orang.

Ify menaiki tangga rumah itu.

“Fy... ngapain?”

Rio yang sedang duduk di ruang duduk lantai atas pun kaget di buatnya. Ia menegakkan posisi duduknya.

“Aku kan kangen sama kamu. Kamu sih sibuk banget sampe gak ada waktu buat ngabarin aku.”

Rio merangkul pundak Ify, merapatkan tubuh gadisnya itu padanya.


“Kangen ya? maaf... aku bener-bener banyak banget tugas.”
“Iya gapapa aku ngerti kok. Eh aku punya parfum baru lho. Coba deh...”

Ify menyemprotkan sedikit pada telapak tangannya. Rio menyesap tangan Ify.

“Aku suka.”

Ify tersenyum ia merebahkan kepalanya di dada Rio, kemudian kedua tangannya di simpan di sana.

“Rio...”

Rio terdiam. Ia segera melepaskan Ify dari pelukannya. Gawat! Ia lupa memberi tau pada orang yang memanggil namanya itu tentang keberadaan Ify. Rio bergerak-gerak gelisah.

“Ikut aku.”

Rio menarik tangan Ify memasuki kamar yang selalu di tempati Agni.

“Rio, apaan sih?”
“Kamu diem dulu disini kalo gak mau urusannya semakin gawat. Diem!.”

Rio segera keluar dengan tergesa dari kamar itu karena terdengar sahutan yang semakin dekat.

***

Agni memejamkan matanya lama, sebelum benda yang ia pegang terjatuh ia segera menyimpannya di atas meja lalu menyamankan duduknya.
Ia mengerang tertahan saat merasakan sesuatu yang lembut menyentuh leher bagian belakangnya, tak lama sentuhan itu beralih ke belakang telinganya.

“Sekarang kamu udah percayakan Bee?”

Agni memengang tangan yang sudah berjalan di area tubuhnya. Ia menengok ke arah belakang.

“Yo...”
“Ya Bee? Kenapa sayangku?”

Agni mengerang lagi saat ia merasakan tangan yang begitu hangat mengelus perutnya lalu sebelah tangan itu turun sebelah lagi naik di area tubuhnya.
Rio mendengus menahan dirinya sendiri. Ia membalikkan tubuh gadis itu lalu ia tindih.

“Aku kangen banget sama kamu Bee. Lebih dari satu bulan kita gak ketemu, gak komunikasi.”

Rio mengecup setiap inci wajah Agni dengan penuh gairah. Sementara kedua tangannya dengan lincah bermain membuat gadis itu meremas rambutnya yang telah agak panjang.

Gadis itu semakin mengerang saat mendapatkan serangan di bagian atasnya. Ia menatap Rio dengan mata berkabut. Ini, permainan tergila yang penah mereka lakukan.
Rio menundukan kepalanya, membenamkan diri di dada Agni.

“AGNI!!! RIO!!!”

Rio secara cepat menengok ke sumber suara sementara Agni merapihkan pakaiannya dan menunduk. Tak berani menatap sang ayah.

“Pa... maaf...” Rio menatap Gabriel yang menatapnya dengan pandangan membunuh dengan tatapan penuh penyesalan. Namun, sedetik kemudian ia membulatkan matanya “Tante? Tante Sivia?”

Mendengar nama itu, Agni pun menatap ke arah Papa-nya yang ternyata dengan seorang wanita.

“Ta..Tan...te?”

Sivia tersenyum, ia menghela nafas panjang.

“Dari awal, tante emang udah gak setuju kamu pacaran sama Cakka. Jauhi anak saya!.” Sivia mengalihkan pandangannya pada Gabriel. “Saya permisi.”

Agni menatap Sivia dengan air mata yang bercucuran. Ia tak menyangka bahwa wanita itu akan datang kemudian pergi dengan begitu marahnya.

“Papa gak habis pikir.”

Rio dan Agni dengan kompak menatap Gabriel yang berkata dengan nada yang begitu dingin. Pria itu kini duduk di hadapan mereka.

“Pa...”
“Diam Agni!.”

Agni menundukkan kepalanya dalam, menahan isakan yang tak lama lagi akan terdengar. Sementara Rio hanya dapat melirik Agni sekilas.

“Didepan kami, Papa, Papa dan Mama kamu Rio. kalian bersikap seolah benar-benar gak mau di satukan. Gak cocok. Dan gak mau saling ada ikatan. Tapi di belakang? Sebenernya apa mau kalian? Tunangan putus, rencana pernikahan batal. Tapi... apa yang barusan kalian lakukan? Memalukan!”
“Maaf Pa, ini salah Rio... bukan Agni.”
“Diam Rio!.”
“Tapi Pa...”
“Minggu depan kalian menikah. Papa gak mau tau alasan kalian dan gak akan penah menerima penolakan lagi. Mengerti?!.”
“PA... PAPA GAK BISA GITU DONG SAMA AGNI. AGNI PUNYA PILIHAN AGNI SENDIRI PA.”
“IYA! Dan pilihan kamu menikah dengan Rio. mengerti?!”
“PAPA...”

Agni berteriak dengan suara yang serak menahan tangis. Tak lama tangisan pun pecah...
Rio yang merasa pihak yang paling bersalah berlutut dihadapan Agni.

“Maaf... maaf Agni... maaf Bee... gak seharusnya aku gitu... maaf.”

Rio menumpukan kepalanya di lutut Agni. Agni hanya menangis tersedu, tak bisa berkata apapun.

“Maaf... Maaf...”

Agni menghela nafas panjang, lalu menghapus air matanya. Ia harus tegar.

“Gapapa Yo, mungkin ini emang jalan takdir aku. mungkin kamu beneran jodoh aku. kalo enggak jodoh kenapa kita gak bisa jauh setelah putusnya pertunangan kita, aku juga gak bisa jauh dari kamu...”

Rio menatap dalam menyelami mata Agni. Ia tak percaya dengan apa yang gadis ini ucapkan. Perlahan sebuah senyuman merekah di bibir Rio.

“Aku juga... gak akan pernah ada yang bisa membuat aku sangat rindu pada seseorang kecuali kamu.”

Agni menghela nafas lagi, ia mengelus wajah Rio dengan lembut. Menelusuri setiap inci wajah tampan itu.

Rio terlihat merogoh saku jaket yang tergeletak di kursi. Kemudian mengeluarkan sebuah kotak kristal.

“Apa itu?”

Rio tersenyum kemudian membuka kotak itu.

“Untuk ketiga kalinya, tolonglah pakai cincin ini lagi... sebagai pengikat hubungan kita.”

Agni meraih cincin itu. cincin yang dua tahun ini tak ia lihat dan sekarang ia melihatnya lagi. Cincin pertunangan mereka.

“Aku mau...”

***

Rio mengacak-acak rambutnya bingung. Ia melirik rumah orang tuanya dengan ragu. Apa yang harus ia katakan?

“Kak Lio...”

Suara anak kecil yang begitu melengking itu menyadarkan lamunannya, itu Dinda adik bungsunya yang terlahir dengan begitu sehat dan sempurna. Tanpa ragu lagi ia keluar dari dalam mobil.

“Hai sayang... udah makan belum?”

Dinda memeluk leher Rio yang mengangkatnya dengan sebelah tangan.

“Udah dong.”
“Pinter.”

Rio mencubit hidung adiknya itu kemudian mengecup kedua pipinya yang sangat menggemaskan.

“Rio.”

God. Ia mendengar suara yang begitu ia kenal itu dari arah lain, nada itu penuh dengan ketegasan dan sarat akan kemarahan. Semoga prasangka ku salah Tuhan...

“Dinda, sini sama Mama, Kak Rio-nya mau bicara dulu sama Papa.”

Zevana mengambil alih Dinda dari tangan Rio. tak ada tatapan bersahabat Papanya, namun anehnya Mamanya tersenyum begitu manis padanya. Sepertinya harus siap untuk dibunuh. Tapi...

“Duduk.”

Rio mengikuti interupsi dari Patton.
Sebelum mengawali pembicaraannya, Patton berdehem kecil.

“Papa senang akhirnya kamu melamar Agni, Yo. Tapi, apa gak kecepetan? Ya, Papa tau kamu udah punya kerjaan. Udah punya rumah. Tapi, apa kamu bisa memimpin rumah tangga kamu nanti?”

Kenapa jadi begini? Apa yang di laporin Papa Gabriel?

“Rio, kamu dengerin Papa kan?”
“Iya Pa, Rio rasa... ya Rio bisa Pa. Lagi pula, bukannya Agni emang gadis baik?”

Patton tersenyum kemudian menepuk pundak putera sulungnya itu.

“Baiklah. Tolong... jangan sakiti Agni ya, jangan pernah menyakiti hati Perempuan. Karena Mama kamu juga seorang Perempuan, apalagi sekarang kamu punya adek  Perempuan. Pasti kamu gak maukan kalo adek kamu di sakitin orang lain juga?”

Rio mengangguk tegas. Ia faham, ia memang tak pernah ada niat untuk menyakiti Agni sedikitpun. dari awal, ia memang sangat ingin menjaga Agni. Menjaga jiwa dan raganya, menjaganya agar tetap bahagia di setiap detik hidupnya. Terimakasih Papa Gabriel... aku yakin Papa pasti gak bocorin betapa jahatnya aku sama Agni ke Papa. Terimakasih...

***

Esoknya di sekolah, Agni mendapati kabar bahwa Cakka telah mengajukan surat untuk pindah sekolah. Hatinya mencelos, hampa, sesak, dan perih. Ia sadar ini semua karena kesalahannya tapi apa Cakka langsung begitu saja percaya ucapan Mamanya? Tentu saja, bodoh. satu sisi jiwa Agni menanggapi. Agni menenggelamkan kepalanya diatas lipatan tangannya di atas meja. Apa yang harus ia lakukan sekarang?

Dari arah kejauhan Cakka memperhatikan Agni begitu intens. Jujur, ia sangat mencintai gadisnya itu. sulit bagi hatinya untuk bisa merelakan Agni, setelah hampir tiga tahun ini. tapi, sudut hatinya yang lain merintih kesakitan begitu mendengar penuturan Mamanya yang tiba-tiba pulang.

Saat itu Cakka sedang duduk dengan begitu akur bersama Alvin. Ya... setelah menelpon Agni itu ia langsung gencatan senjata dengan Kakaknya. Setidaknya, ia bisa mengandalkan Kakaknya itu dalam hal buntut-membuntuti.

“Cakka! Secepatnya kamu jauhin puteri Gabriel.”
“Ma? Kok pulang? Katanya mau pergi?”
“Jangan mengalihkan pembicaraan Cakka!. Mama udah urus kepindahan kamu dari sekolah itu. kemasi barang-barang kamu dan ikut Mama ke Singapura. Sekarang!.”
“MA! MAMA kenapa sih? Apa salah Cakka? Kenapa harus jauhin Agni dan pergi?”

Sivia menatap Cakka dengan tatapan begitu dingin.

“Lakukan apa yang Mama katakan tadi sekarang.”
“MA...”
“Sekarang!.”
“Mama kenapa sih?! Cakka gak akan pernah nurutin apa kata Mama yang tanpa sebab.”

Cakka berlalu begitu saja menuju kamarnya. Namun, tepat disaat ia membuka pintu kamar, Sivia berujar.

“Agni selingkuh. Mama liat semuanya dengan matakepala Mama sendiri.”
“Gak... gak mungkin... Ma jangan becanda...”
“Apa Mama pernah becanda dengan wajah serius? Kamu percayakan sama Mama?.”

Dalam relung hati yang terdalam ia percaya pada Mamanya, Mamanya memang tak pernah membohongi dirinya walau jarang ada untuknya. Tapi, mana ada orang tua yang akan menjerumuskan anaknya? Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya bahagia, dan mereka tau jalan terbaik.

“Baik Mama akan mengatakan semuanya, apa kamu akan percaya kalo Mama sendiri yang liat dia pelukan, ciuman sama te...”
“Ok! Cakka ikut.”

Cakka muak mendengar itu semua. Karena ia tau, siapa yang di maksud Mamanya. Siapalagi kalau bukan Rio? tak akan ada yang berani menyentuh Agni selain dia!. Sahabat yang ternyata mengkhianatinya.
Jadi, Agni benar-benar membohonginya? Dan Alvin benar... ternyata selama ini kekasihnya memang mendua.

Ingin sekali Cakka merengkuh tubuh bergetar itu kedalam pelukkannya. Tapi apadaya, ia tak akan sanggup untuk disakiti lebih dalam lagi. Selamat tinggal Agni, selamat tinggal semua kenangan kita. Semoga kamu bahagia dengan pilihan kamu. Aku akan selalu mencintaimu...

***

Rio berkutat dengan laptopnya di areal Kampus. Ia harus segera merampungkan tugasnya yang makin menumpuk itu sehingga kemana-mana bawa laptop. Apalagi jika mengingat acara pernikahannya yang akan segera terselenggara beberapa hari lagi. Rio menghela nafas panjang... jika teringat hal itu membuatnya benar-benar bingung. Apa ia sudah bisa menjadi pemimpin yang baik? Ditambah lagi masalahnya dengan Ify. Ia tak kunjung bisa bertemu dengan gadis itu, ia terlalu sibuk mengurusi tugasnya yang begitu banyak.
Pucuk dicinta ulampun tiba. Baru saja ia pikirkan ternyata yang di pikirkan langsung ada menghubunginya.

“Jadi kamu lebih milih ngedate sama Agni Yo?”
“Maksud kamu?”
“Gak usah bohong lagi deh sama aku. aku tau kamu gak pernah ada waktu buat aku karena Agni kan? Karena...”

Rio mematikan sambungan telepon itu kemudian mengirimkan pesan pada gadis itu. ia bosan mendengar ocehan di telepon. Ia harus bertemu dengan gadis itu menyelesaikan semua kesalah fahaman selama ini.

Aku tunggu di cafe biasa.

***

Rio menyeruput kopi kesukaannya dengan tenang. Sudah 15 menit ia menunggu Ify, namun ia tak kunjung juga datang. 30 menit kemudian Ify datang setelah Rio menghabiskan satu cangkir kopi dan baru saja ia memesan lagi.

“Untung ya aku dateng Agni nya udah pulang.”

Rio menarik nafas panjang. Ia tidak boleh bersikap sama, ia harus menjadi penengah juga.

“Daritadi aku sendiri. Malah, Agni dimana pun aku gak tau.” Rio berucap sambil mengedikkan bahunya.
“Wah masa? Bukannya tiap hari telponan ya? ketemu? Ngedate? Launch bareng, dinner.” Ify menghentikan ucapannya saat melirik jari Rio yang ternyata ada yang aneh.
“Cie... nostalgia ya sama cincin itu? kangen saat-saat tidur bareng?”

Ify diam setelah mengatakan itu. jujur, ia bingung mengatakan apalagi. Terlalu banyak yang ada dalam pikirannya, terlalu banyak yang ingin ia bicarakan.

“Cukup?”

Ify mendelik ke arah Rio yang bertanya dengan rasa penuh tanpa dosa itu. seakan yang ia katakan barusan hanyalah suara radio jelek yang sudah tak enak di dengar.

“Ini.” Rio mengacungkan tangannya yang dihiasi cincin. “Minggu depan aku emang mau nikah sama Agni.”

Ify tersenyum kecut. Ia telah mempersiapkan diri jika Rio mengatakan itu agar tidak terlalu sakit hati. Namun, hati tetaplah hati, yang tak bisa di bohongi.

“Selamat kalau begitu.”

Ify berucap sambil mengambil tasnya hendak berlalu. Ia tak akan pernah sanggup lagi mendengarkan ucapan Rio yang begitu menyakitkan itu.

“Dan sebelum kamu pergi ada yang perlu kamu tau.” Rio menghela nafas, kemudian menatap Ify dengan tatapan sarat akan kelelahan.
“Kalau kamu nyangka aku hubungan, telponan, smsan ketemuan tiap hari sama Agni itu salah. Kalau kamu cemburu karena itu, maka kamu yang salah.”

Rio melirik Ify yang terlihat kebingungan dengan ucapannya.

“Selama ini yang selalu aku prioritasin itu kamu, aku selalu berusaha menghubungi kamu, selalu berusaha bisa ketemu satu minggu sekali sama kamu. Aku ngorbanin waktu kuliah aku cuma demi kamu. Asal kamu tau... aku menghubungi Agni itu paling sering 2 minggu satu kali atau satubulan satu kali. Aku gak pernah ketemu sama dia kalo gak ada urusan. Jadi, kalau selama ini penyebab semuanya adalah hal sepele kayak gitu. Kamu sakit hati karena dirimu sendiri, karena prasangka kamu yang gak jelas itu. andai... kamu mau ngomong baik-baik Fy sama aku. mungkin kamu gak akan pernah sakit hati. Tapi... yasudahlah, semuanya sudah terjadi. Maaf... mulai sekarang kita putus.”

Rio menarik nafas panjang, ia duduk di kursi yang berada tepat di samping Ify. Ia mengelus puncak kepala Ify kemudian menarik gadis itu kedalam pelukkannya.

“Aku sayang banget sama kamu... Yo.”

Ify terisak. Ia membalas pelukan Rio dengan intens, ia tak ingin melewatkan moment ini begitu saja. Ia sangat menyayangi pemuda ini, sangat sayang.

“Aku juga...”

Getaran tubuh Ify semakin menguat kala Rio mengatakan itu. apa itu perkataan yang nyata?

“Aku nyesel... maaf...”

Rio mengelus punggung Ify dengan lembut.

“Gak usah minta maaf. Kamu masih bisa jadi sahabat aku... dan Agni. Aku yakin Agni bakalan maafin kamu walaupun dia selalu nangis setelah kamu musuhin gak jelas gitu.”

Ify terdiam. Apa ia sejahat itu? Ify segera menatap Rio meminta kepastian.

“Agni nangis?”
“Iya. Siapa yang gak sakit hati di musuhin sahabat baiknya sendiri?”

Ify lagi-lagi hanya bisa diam. Maaf Agni...

“Udah jangan nangis lagi...”

Rio menarik lagi Ify kedalam pelukkannya. Bertepatan dengan itu seorang gadis dengan kuncir kudanya yang khas memasuki cafe itu, dan melihat Rio yang sedang berpelukan.

Agni... Rio melihatnya. Pandangannya bertemu, saat ia hendak melepaskan pelukkannya pada Ify Agni terlihat mengisyaratkan untuk diam, tidak mengijinkan melepaskan pelukan itu. setelah itu Agni kembali keluar.

***

Sesak.
Itulah gambaran hari ini bagi Agni.
Setelah ditinggalkan kekasihnya, ia juga memergoki pemuda yang telah melamarnya berpelukan dengan seorang gadis. Salah jika ia merasakan hal itu? Tuhan aku tau aku salah, tapi apakah hukuman bagiku belum cukup jika hanya kehilangan Cakka? Apa aku harus juga kehilangan Rio? Tuhan... aku gak mau kehilangan Rio...

***


Bersambung.

1 comment:

  1. kak kok sadis, nyesek gw bacanya ahhhhh,,, btw gw udh 17 tahun lebih 2 bulan 22 hari jd gapapadonk bacanya hahaha

    ReplyDelete