Ify memasuki kediaman Rio yang begitu megah. Setelah beberapa
kali menekan bel tak ada seorangpun yang membukakan pintu untuknya. Ify mencoba
mendorong pintu itu, terbuka. Berarti ada orang.
Ify menaiki tangga rumah itu.
“Fy... ngapain?”
Rio yang sedang duduk di ruang duduk lantai atas pun kaget di
buatnya. Ia menegakkan posisi duduknya.
“Aku kan kangen sama kamu. Kamu
sih sibuk banget sampe gak ada waktu buat ngabarin aku.”
Rio merangkul pundak Ify, merapatkan tubuh gadisnya itu
padanya.
“Kangen ya? maaf... aku
bener-bener banyak banget tugas.”
“Iya gapapa aku ngerti kok. Eh
aku punya parfum baru lho. Coba deh...”
Ify menyemprotkan sedikit pada telapak tangannya. Rio menyesap
tangan Ify.
“Aku suka.”
Ify tersenyum ia merebahkan kepalanya di dada Rio, kemudian
kedua tangannya di simpan di sana.
“Rio...”
Rio terdiam. Ia segera melepaskan Ify dari pelukannya. Gawat!
Ia lupa memberi tau pada orang yang memanggil namanya itu tentang keberadaan
Ify. Rio bergerak-gerak gelisah.
“Ikut aku.”
Rio menarik tangan Ify memasuki kamar yang selalu di tempati
Agni.
“Rio, apaan sih?”
“Kamu diem dulu disini kalo gak
mau urusannya semakin gawat. Diem!.”
Rio segera keluar dengan tergesa dari kamar itu karena
terdengar sahutan yang semakin dekat.
***
Agni memejamkan matanya lama, sebelum benda yang ia pegang
terjatuh ia segera menyimpannya di atas meja lalu menyamankan duduknya.
Ia mengerang tertahan saat merasakan sesuatu yang lembut
menyentuh leher bagian belakangnya, tak lama sentuhan itu beralih ke belakang
telinganya.
“Sekarang kamu udah percayakan Bee?”
Agni memengang tangan yang sudah berjalan di area tubuhnya. Ia
menengok ke arah belakang.
“Yo...”
“Ya Bee? Kenapa sayangku?”
Agni mengerang lagi saat ia merasakan tangan yang begitu
hangat mengelus perutnya lalu sebelah tangan itu turun sebelah lagi naik di
area tubuhnya.
Rio mendengus menahan dirinya sendiri. Ia membalikkan tubuh
gadis itu lalu ia tindih.
“Aku kangen banget sama kamu Bee. Lebih dari satu bulan kita gak ketemu,
gak komunikasi.”
Rio mengecup setiap inci wajah Agni dengan penuh gairah.
Sementara kedua tangannya dengan lincah bermain membuat gadis itu meremas
rambutnya yang telah agak panjang.
Gadis itu semakin mengerang saat mendapatkan serangan di
bagian atasnya. Ia menatap Rio dengan mata berkabut. Ini, permainan tergila
yang penah mereka lakukan.
Rio menundukan kepalanya, membenamkan diri di dada Agni.
“AGNI!!! RIO!!!”
Rio secara cepat menengok ke sumber suara sementara Agni
merapihkan pakaiannya dan menunduk. Tak berani menatap sang ayah.
“Pa... maaf...” Rio menatap
Gabriel yang menatapnya dengan pandangan membunuh dengan tatapan penuh
penyesalan. Namun, sedetik kemudian ia membulatkan matanya “Tante? Tante
Sivia?”
Mendengar nama itu, Agni pun menatap ke arah Papa-nya yang
ternyata dengan seorang wanita.
“Ta..Tan...te?”
Sivia tersenyum, ia menghela nafas panjang.
“Dari awal, tante emang udah gak
setuju kamu pacaran sama Cakka. Jauhi anak saya!.” Sivia mengalihkan
pandangannya pada Gabriel. “Saya permisi.”
Agni menatap Sivia dengan air mata yang bercucuran. Ia tak
menyangka bahwa wanita itu akan datang kemudian pergi dengan begitu marahnya.
“Papa gak habis pikir.”
Rio dan Agni dengan kompak menatap Gabriel yang berkata dengan
nada yang begitu dingin. Pria itu kini duduk di hadapan mereka.
“Pa...”
“Diam Agni!.”
Agni menundukkan kepalanya dalam, menahan isakan yang tak lama
lagi akan terdengar. Sementara Rio hanya dapat melirik Agni sekilas.
“Didepan kami, Papa, Papa dan
Mama kamu Rio. kalian bersikap seolah benar-benar gak mau di satukan. Gak
cocok. Dan gak mau saling ada ikatan. Tapi di belakang? Sebenernya apa mau
kalian? Tunangan putus, rencana pernikahan batal. Tapi... apa yang barusan
kalian lakukan? Memalukan!”
“Maaf Pa, ini salah Rio... bukan
Agni.”
“Diam Rio!.”
“Tapi Pa...”
“Minggu depan kalian menikah.
Papa gak mau tau alasan kalian dan gak akan penah menerima penolakan lagi.
Mengerti?!.”
“PA... PAPA GAK BISA GITU DONG
SAMA AGNI. AGNI PUNYA PILIHAN AGNI SENDIRI PA.”
“IYA! Dan pilihan kamu menikah
dengan Rio. mengerti?!”
“PAPA...”
Agni berteriak dengan suara yang serak menahan tangis. Tak
lama tangisan pun pecah...
Rio yang merasa pihak yang paling bersalah berlutut dihadapan
Agni.
“Maaf... maaf Agni... maaf Bee... gak seharusnya aku gitu... maaf.”
Rio menumpukan kepalanya di lutut Agni. Agni hanya menangis
tersedu, tak bisa berkata apapun.
“Maaf... Maaf...”
Agni menghela nafas panjang, lalu menghapus air matanya. Ia
harus tegar.
“Gapapa Yo, mungkin ini emang
jalan takdir aku. mungkin kamu beneran jodoh aku. kalo enggak jodoh kenapa kita
gak bisa jauh setelah putusnya pertunangan kita, aku juga gak bisa jauh dari
kamu...”
Rio menatap dalam menyelami mata Agni. Ia tak percaya dengan
apa yang gadis ini ucapkan. Perlahan sebuah senyuman merekah di bibir Rio.
“Aku juga... gak akan pernah ada
yang bisa membuat aku sangat rindu pada seseorang kecuali kamu.”
Agni menghela nafas lagi, ia mengelus wajah Rio dengan lembut.
Menelusuri setiap inci wajah tampan itu.
Rio terlihat merogoh saku jaket yang tergeletak di kursi.
Kemudian mengeluarkan sebuah kotak kristal.
“Apa itu?”
Rio tersenyum kemudian membuka kotak itu.
“Untuk ketiga kalinya, tolonglah
pakai cincin ini lagi... sebagai pengikat hubungan kita.”
Agni meraih cincin itu. cincin yang dua tahun ini tak ia lihat
dan sekarang ia melihatnya lagi. Cincin pertunangan mereka.
“Aku mau...”
***
Rio mengacak-acak rambutnya bingung. Ia melirik rumah orang
tuanya dengan ragu. Apa yang harus ia katakan?
“Kak Lio...”
Suara anak kecil yang begitu melengking itu menyadarkan
lamunannya, itu Dinda adik bungsunya yang terlahir dengan begitu sehat dan
sempurna. Tanpa ragu lagi ia keluar dari dalam mobil.
“Hai sayang... udah makan belum?”
Dinda memeluk leher Rio yang mengangkatnya dengan sebelah
tangan.
“Udah dong.”
“Pinter.”
Rio mencubit hidung adiknya itu kemudian mengecup kedua
pipinya yang sangat menggemaskan.
“Rio.”
God. Ia
mendengar suara yang begitu ia kenal itu dari arah lain, nada itu penuh dengan
ketegasan dan sarat akan kemarahan. Semoga
prasangka ku salah Tuhan...
“Dinda, sini sama Mama, Kak
Rio-nya mau bicara dulu sama Papa.”
Zevana mengambil alih Dinda dari tangan Rio. tak ada tatapan
bersahabat Papanya, namun anehnya Mamanya tersenyum begitu manis padanya. Sepertinya harus siap untuk dibunuh. Tapi...
“Duduk.”
Rio mengikuti interupsi dari Patton.
Sebelum mengawali pembicaraannya, Patton berdehem kecil.
“Papa senang akhirnya kamu
melamar Agni, Yo. Tapi, apa gak kecepetan? Ya, Papa tau kamu udah punya
kerjaan. Udah punya rumah. Tapi, apa kamu bisa memimpin rumah tangga kamu
nanti?”
Kenapa
jadi begini? Apa yang di laporin Papa Gabriel?
“Rio, kamu dengerin Papa kan?”
“Iya Pa, Rio rasa... ya Rio bisa
Pa. Lagi pula, bukannya Agni emang gadis baik?”
Patton tersenyum kemudian menepuk pundak putera sulungnya itu.
“Baiklah. Tolong... jangan sakiti
Agni ya, jangan pernah menyakiti hati Perempuan. Karena Mama kamu juga seorang
Perempuan, apalagi sekarang kamu punya adek
Perempuan. Pasti kamu gak maukan kalo adek kamu di sakitin orang lain
juga?”
Rio mengangguk tegas. Ia faham, ia memang tak pernah ada niat
untuk menyakiti Agni sedikitpun. dari awal, ia memang sangat ingin menjaga
Agni. Menjaga jiwa dan raganya, menjaganya agar tetap bahagia di setiap detik
hidupnya. Terimakasih Papa Gabriel... aku
yakin Papa pasti gak bocorin betapa jahatnya aku sama Agni ke Papa.
Terimakasih...
***
Esoknya di sekolah, Agni mendapati kabar bahwa Cakka telah
mengajukan surat untuk pindah sekolah. Hatinya mencelos, hampa, sesak, dan
perih. Ia sadar ini semua karena kesalahannya tapi apa Cakka langsung begitu
saja percaya ucapan Mamanya? Tentu saja,
bodoh. satu sisi jiwa Agni menanggapi. Agni menenggelamkan kepalanya diatas
lipatan tangannya di atas meja. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Dari arah kejauhan Cakka memperhatikan Agni begitu intens.
Jujur, ia sangat mencintai gadisnya itu. sulit bagi hatinya untuk bisa
merelakan Agni, setelah hampir tiga tahun ini. tapi, sudut hatinya yang lain
merintih kesakitan begitu mendengar penuturan Mamanya yang tiba-tiba pulang.
Saat itu
Cakka sedang duduk dengan begitu akur bersama Alvin. Ya... setelah menelpon Agni
itu ia langsung gencatan senjata dengan Kakaknya. Setidaknya, ia bisa
mengandalkan Kakaknya itu dalam hal buntut-membuntuti.
“Cakka!
Secepatnya kamu jauhin puteri Gabriel.”
“Ma?
Kok pulang? Katanya mau pergi?”
“Jangan
mengalihkan pembicaraan Cakka!. Mama udah urus kepindahan kamu dari sekolah
itu. kemasi barang-barang kamu dan ikut Mama ke Singapura. Sekarang!.”
“MA!
MAMA kenapa sih? Apa salah Cakka? Kenapa harus jauhin Agni dan pergi?”
Sivia
menatap Cakka dengan tatapan begitu dingin.
“Lakukan
apa yang Mama katakan tadi sekarang.”
“MA...”
“Sekarang!.”
“Mama
kenapa sih?! Cakka gak akan pernah nurutin apa kata Mama yang tanpa sebab.”
Cakka
berlalu begitu saja menuju kamarnya. Namun, tepat disaat ia membuka pintu
kamar, Sivia berujar.
“Agni
selingkuh. Mama liat semuanya dengan matakepala Mama sendiri.”
“Gak...
gak mungkin... Ma jangan becanda...”
“Apa
Mama pernah becanda dengan wajah serius? Kamu percayakan sama Mama?.”
Dalam
relung hati yang terdalam ia percaya pada Mamanya, Mamanya memang tak pernah
membohongi dirinya walau jarang ada untuknya. Tapi, mana ada orang tua yang
akan menjerumuskan anaknya? Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya bahagia,
dan mereka tau jalan terbaik.
“Baik
Mama akan mengatakan semuanya, apa kamu akan percaya kalo Mama sendiri yang
liat dia pelukan, ciuman sama te...”
“Ok!
Cakka ikut.”
Cakka
muak mendengar itu semua. Karena ia tau, siapa yang di maksud Mamanya. Siapalagi
kalau bukan Rio? tak akan ada yang berani menyentuh Agni selain dia!. Sahabat yang
ternyata mengkhianatinya.
Jadi,
Agni benar-benar membohonginya? Dan Alvin benar... ternyata selama ini
kekasihnya memang mendua.
Ingin sekali Cakka merengkuh tubuh bergetar itu kedalam
pelukkannya. Tapi apadaya, ia tak akan sanggup untuk disakiti lebih dalam lagi.
Selamat tinggal Agni, selamat tinggal
semua kenangan kita. Semoga kamu bahagia dengan pilihan kamu. Aku akan selalu
mencintaimu...
***
Rio berkutat dengan laptopnya di areal Kampus. Ia harus segera
merampungkan tugasnya yang makin menumpuk itu sehingga kemana-mana bawa laptop.
Apalagi jika mengingat acara pernikahannya yang akan segera terselenggara
beberapa hari lagi. Rio menghela nafas panjang... jika teringat hal itu
membuatnya benar-benar bingung. Apa ia sudah bisa menjadi pemimpin yang baik?
Ditambah lagi masalahnya dengan Ify. Ia tak kunjung bisa bertemu dengan gadis
itu, ia terlalu sibuk mengurusi tugasnya yang begitu banyak.
Pucuk dicinta ulampun tiba. Baru saja ia pikirkan ternyata
yang di pikirkan langsung ada menghubunginya.
“Jadi
kamu lebih milih ngedate sama Agni Yo?”
“Maksud kamu?”
“Gak
usah bohong lagi deh sama aku. aku tau kamu gak pernah ada waktu buat aku
karena Agni kan? Karena...”
Rio mematikan sambungan telepon itu kemudian mengirimkan pesan
pada gadis itu. ia bosan mendengar ocehan di telepon. Ia harus bertemu dengan
gadis itu menyelesaikan semua kesalah fahaman selama ini.
Aku
tunggu di cafe biasa.
***
Rio menyeruput kopi kesukaannya dengan tenang. Sudah 15 menit
ia menunggu Ify, namun ia tak kunjung juga datang. 30 menit kemudian Ify datang
setelah Rio menghabiskan satu cangkir kopi dan baru saja ia memesan lagi.
“Untung ya aku dateng Agni nya
udah pulang.”
Rio menarik nafas panjang. Ia tidak boleh bersikap sama, ia
harus menjadi penengah juga.
“Daritadi aku sendiri. Malah,
Agni dimana pun aku gak tau.” Rio berucap sambil mengedikkan bahunya.
“Wah masa? Bukannya tiap hari
telponan ya? ketemu? Ngedate? Launch bareng, dinner.” Ify menghentikan
ucapannya saat melirik jari Rio yang ternyata ada yang aneh.
“Cie... nostalgia ya sama cincin
itu? kangen saat-saat tidur bareng?”
Ify diam setelah mengatakan itu. jujur, ia bingung mengatakan
apalagi. Terlalu banyak yang ada dalam pikirannya, terlalu banyak yang ingin ia
bicarakan.
“Cukup?”
Ify mendelik ke arah Rio yang bertanya dengan rasa penuh tanpa
dosa itu. seakan yang ia katakan barusan hanyalah suara radio jelek yang sudah
tak enak di dengar.
“Ini.” Rio mengacungkan tangannya
yang dihiasi cincin. “Minggu depan aku emang mau nikah sama Agni.”
Ify tersenyum kecut. Ia telah mempersiapkan diri jika Rio
mengatakan itu agar tidak terlalu sakit hati. Namun, hati tetaplah hati, yang
tak bisa di bohongi.
“Selamat kalau begitu.”
Ify berucap sambil mengambil tasnya hendak berlalu. Ia tak
akan pernah sanggup lagi mendengarkan ucapan Rio yang begitu menyakitkan itu.
“Dan sebelum kamu pergi ada yang
perlu kamu tau.” Rio menghela nafas, kemudian menatap Ify dengan tatapan sarat
akan kelelahan.
“Kalau kamu nyangka aku hubungan,
telponan, smsan ketemuan tiap hari sama Agni itu salah. Kalau kamu cemburu
karena itu, maka kamu yang salah.”
Rio melirik Ify yang terlihat kebingungan dengan ucapannya.
“Selama ini yang selalu aku
prioritasin itu kamu, aku selalu berusaha menghubungi kamu, selalu berusaha
bisa ketemu satu minggu sekali sama kamu. Aku ngorbanin waktu kuliah aku cuma
demi kamu. Asal kamu tau... aku menghubungi Agni itu paling sering 2 minggu
satu kali atau satubulan satu kali. Aku gak pernah ketemu sama dia kalo gak ada
urusan. Jadi, kalau selama ini penyebab semuanya adalah hal sepele kayak gitu.
Kamu sakit hati karena dirimu sendiri, karena prasangka kamu yang gak jelas
itu. andai... kamu mau ngomong baik-baik Fy sama aku. mungkin kamu gak akan
pernah sakit hati. Tapi... yasudahlah, semuanya sudah terjadi. Maaf... mulai sekarang
kita putus.”
Rio menarik nafas panjang, ia duduk di kursi yang berada tepat
di samping Ify. Ia mengelus puncak kepala Ify kemudian menarik gadis itu
kedalam pelukkannya.
“Aku sayang banget sama kamu...
Yo.”
Ify terisak. Ia membalas pelukan Rio dengan intens, ia tak
ingin melewatkan moment ini begitu saja. Ia sangat menyayangi pemuda ini,
sangat sayang.
“Aku juga...”
Getaran tubuh Ify semakin menguat kala Rio mengatakan itu. apa itu perkataan yang nyata?
“Aku nyesel... maaf...”
Rio mengelus punggung Ify dengan lembut.
“Gak usah minta maaf. Kamu masih
bisa jadi sahabat aku... dan Agni. Aku yakin Agni bakalan maafin kamu walaupun
dia selalu nangis setelah kamu musuhin gak jelas gitu.”
Ify terdiam. Apa ia sejahat itu? Ify segera menatap Rio meminta
kepastian.
“Agni nangis?”
“Iya. Siapa yang gak sakit hati
di musuhin sahabat baiknya sendiri?”
Ify lagi-lagi hanya bisa diam. Maaf Agni...
“Udah jangan nangis lagi...”
Rio menarik lagi Ify kedalam pelukkannya. Bertepatan dengan
itu seorang gadis dengan kuncir kudanya yang khas memasuki cafe itu, dan
melihat Rio yang sedang berpelukan.
Agni... Rio
melihatnya. Pandangannya bertemu, saat ia hendak melepaskan pelukkannya pada
Ify Agni terlihat mengisyaratkan untuk diam, tidak mengijinkan melepaskan pelukan
itu. setelah itu Agni kembali keluar.
***
Sesak.
Itulah gambaran hari ini bagi Agni.
Setelah ditinggalkan kekasihnya, ia juga memergoki pemuda yang
telah melamarnya berpelukan dengan seorang gadis. Salah jika ia merasakan hal
itu? Tuhan aku tau aku salah, tapi apakah
hukuman bagiku belum cukup jika hanya kehilangan Cakka? Apa aku harus juga
kehilangan Rio? Tuhan... aku gak mau kehilangan Rio...
***
Bersambung.
kak kok sadis, nyesek gw bacanya ahhhhh,,, btw gw udh 17 tahun lebih 2 bulan 22 hari jd gapapadonk bacanya hahaha
ReplyDelete