Rio menaraik Agni hingga kini posisi keduanya terbalik, Agni
berada di bawah kuasa Rio. Agni bingung, ada keinginan untuk memberontak tapi
entah kenapa dorongan hati kecilnya agar diam membuat ia hanya bisa diam. Ia
merasa telah mengalami kejadian ini, tapi kapan? Atau hanya de javu? Agni
merasakan pergerakan Rio semakin menjadi, mulai menyentuh beberapa bagian tubuh
terpentingnya.
“kak...”
Agni mencengkram kepala Rio yang mulai turun ke arah
lehernya, ia merasa sebelah tangan Rio bertugas di tempat yang lain, membuka
piamanya.
Namun, gerakan Rio terhenti. Ia mencengkram kepalanya
kesakitan. Ia menjauhkan diri dari Agni, dan mencengkram kuat kepalanya.
“argh...”
“kak... kak Rio...”
Agni segera menghampiri Rio yang berguling-guling kesakitan.
Agni meraih tangan Rio agar tidak menyakiti kepalanya sendiri.
“kakak... maaf... apa gara-gara Agni? Kak... jangan anfal
kak. Agni takut”
Rio terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya kuat. Kedua
tangannya terus meronta dari genggaman Agni.
“pu...pusing... Agni...”
“kak...”
Agni segera memeluk kepala Rio, ia benar-benar iba melihat
kakaknya itu kesakitan. Sekarang, ia tak bisa lagi membendung air matanya.
Suara yang bergetar itu terus berusaha menenangkan kakaknya, dan dengan tangan
gemetar ia mengelus kepala Rio agar tidak kesakitan lagi.
Saat Rio mulai tenang Agni melepaskan pelukannya.
“kak...”
“hhmm...”
Agni menghela nafas panjang, ia merasa bersyukur karena
kakaknya tidak sampai pingsan. Agni mengelus peluh Rio yang bercucuran di
wajahnya. Kakaknya itu mulai tenang, nafasnya mulai teratur.
“maafin kakak Ni”
Rio berkata tanpa membuka mata, hanya satu tangannya
menggenggam tangan Agni yang tadi mengelus dahinya.
“iya... sekarang yang penting kakak istirahat dulu ya...
jangan mikirin apa-apa. Agni gak mau kakak sakit lagi, apalagi sampai anfal”
Rio mengangguk kecil.
Tak lama setelah itu, Agni melepaskan genggaman tangan Rio
kemudian beranjak dari tempat tidur itu. Sebelum meninggalkan kakaknya, ia
menyelimutinya terlebih dahulu dan mengelus dahi Rio sebentar. ‘cepet sembuh kak’
***
Cakka menyantap sarapannya tanpa minat. Pikirannya masih
melayang entah kemana, ia masih memikirkan harus bersikap seperti apa nanti,
saat di persidangan.
Angel menyimpan sendok dan garpunya di atas piring, ia menghela
nafas panjang saat melihat adiknya itu, ia merasa adiknya yang selama ini
begitu kuat dan siap menjaganya kapanpun menjadi lemah dan rapuh hanya
gara-gara masalah perceraian.
“Kka...”
Cakka menatap Angel dengan lambat, ia tersenyum penuh
paksaan pada kakaknya itu.
“kita gak usah kepersidangan ya? kakak khawatir sama kamu
kalo kamu gini terus”
“Cakka gapapa kak, yaudah yuk kita berangkat kalo kakak udah
selesai makannya”
Angel menghela nafas panjang, selalu saja seperti ini. Cakka
itu pemaksa dan keras kepala, seperti Mamanya. Angel mengangguk saat Cakka
mengajaknya pergi.
Cakka seperti mayat hidup, raganya memang ada tapi jiwanya
entah sedang berlayar kemana.
“Kka... biar kakak yang nyetir”
Cakka menghela nafas panjang lalu memberikan kunci mobilnya
pada Angel, ia duduk di kursi di sebelah Angel.
Sekali lagi, Angel menatap Cakka ragu.
“Kka... sanggup?”
Cakka mengangguk penuh kepastian. Ia tersenyum tipis pada
Angel.
Cakka mengalihkan pandangannya pada ponsel yang berdering
tanda sebuah pesan masuk.
Kka... hari ini Papa aku mau nikah. :(
Kamu bisa temenin aku? sekalian ajak kak Angel, aku takut kak Rio anfal
lagi.
Cakka menghela nafas panjang lalu mengetikkan sesuatu di
ponselnya.
“siapa Kka?”
“Agni”
Angel mengangguk saat mendengarnya. Sepertinya adiknya itu
sedang tidak mau di ganggu karena jawaban yang begitu dingin dan datar
terhadapnya, tidak seperti biasanya.
***
Agni merapihkan kebaya kiriman yang beberapa jam lalu ia
dapatkan. Papanya, mengirimkan kebaya untuknya dan jas beserta yang lainnya
untuk Rio.
Agni menghela nafas panjang saat menatap pantulan dirinya di
cermin. Kebaya itu begitu pas, Gabriel memang tidak pernah salah memilihkan
pakaian untuknya.
“Agni”
Agni berbalik bersamaan dengan pintu kamarnya terbuka.
Disana telah ada Rio yang juga memakai pakaian kiriman dari Papanya.
Rio mengerutkan keningnya saat menatap Agni.
“masa pake kebaya di kuncir gitu?”
“ini itu trend jaman sekarang kak, gak up to date sih”
“trend? Itu sih bisa-bisanya kamu aja”
Agni berbalik lagi menatap dirinya di cermin. Sudah siapkah
ia menerima kenyataan Papanya akan menikah lagi? Agni menghela nafas panjang.
Dengan gerakan cepat Agni meraih tas tangan dan ponselnya.
Kemudian menggamit tangan kakaknya agar segera beranjak dari sana.
“yuk kak”
Agni dan Rio melakukan perjalanan dalam diam. Keduanya
nampak berpikir, namun untungnya Rio masih bisa memfokuskan diri pada jalan
raya.
Sementara Agni tak hentinya menghela nafas panjang dan
melirik ponselnya, entah kenapa ia rindu dengan deringan ponselnya karena
gangguan Cakka. Kemudian tanpa mempedulikan gengsinya, ia mengetikkan sesuatu
di ponselnya.
Tak lama terdengar sebuah deringan dari ponselnya. Agni
dengan antusias membukanya, ada sepercik rasa bahagia dalam hatinya walau
kebanyakan di selimuti oleh rasa kecewa dan sedih.
Aku gak bisa. Kak Angel juga.
Hari ini sidang perdana perceraian orang tua kami.
‘Perceraian? Apa kak
Rio gak tau?’
Agni melirik Rio sebentar, kemudian ia menghela nafas
panjang saat melihat kakaknya itu dengan fokus mengendarai mobilnya. Ia akan
tunda pertanyaannya itu sampai nanti saja.
Oh yaudah, nanti kalau
salah satu dari kita ada yang sempet nemuin dateng ya :)
Semangat Kka... :D
Oke. Thanks...
Agni menghela nafas panjang. Kenapa Cakka sekarang begitu
dingin? Tapi untunglah pemuda itu tidak kasar. Beberapa hari ini entah kenapa
pemuda itu menggunakan aksen aku-kamu padanya, yang membuat ia juga
mengikutinya. Tapi sudahlah, itu bukan hal penting yang perlu di pikirkan.
***
Tepat seperti dugaan awal, para wartawan langsung berkerumunan
di pintu mobil yang di kendarai Cakka dan Angel begitu mobil itu masuk
pelataran parkir.
“mbak Angel, bagaimana perasaan anda mengenai perceraian
ini?”
“mbak adakah alasan khusus sampai orang tua anda tidak bisa
di satukan kembali?”
“oiya mbak, kekasih anda tidak menemani? Apa hubungan kalian
sudah berakhir?”
Dan berbagai pertanyaan lainnya berbondong-bondong menyerbu
Angel. Tapi Angel tidak menjawab satupun pertanyaan dari wartawan itu, ia hanya
tersenyum menanggapinya. Cakka yang melihat gelagat kebingungan kakaknya itu
langsung melindungi kakaknya dan segera memasuki ruangan persidangan.
Begitu memasuki ruangan persidangan keduanya di sambut oleh
kedua orang tuanya yang sudah duduk berdampingan di hadapan hakim.
Setelah melihat kedatangan Cakka dan Angel persidanganpun di
mulai.
Sepanjang persidangan Cakka hanya menunduk, begitupun dengan
Angel. Keduanya bingung harus berbuat apa lagi, sampai untuk berbicarapun
mereka rasa lupa bagaimana caranya.
***
Tak berbeda jauh dengan suasana persidangan orang tua Cakka
dan Angel, suasana pernikahan orang tua Agni dan Rio pun sama sendunya,
terutama bagi Agni dan Rio.
Agni terus menggenggam tangan Rio, entah kenapa ada rasa
tidak rela melihat Papanya yang kini sudah berdampingan dengan Sivia dan siap
mengucapkan ijab kabul. Ia melirik Rio yang mengeratkan genggamannya.
Rio terlihat menunduk dengan mata yang terpejam, setelah itu
tangan kirinya menyangga kepalanya yang mulai pusing kembali.
“kak... jangan buat Agni takut” bisik Agni. Kedua tangannya
menggenggam tangan kanan Rio memberi kekuatan.
Bertepatan dengan kooran para saksi menyebutkan ‘sah’
Rio-pun terjatuh dari kursi yang ia duduki hingga tak sadarkan diri.
“KAK!”
Agni segera duduk bersimpuh di samping Rio dan
mengguncangkan tubuh kakaknya itu dengan panik. Ini bukan kali pertamanya Agni
melihat kakaknya seperti ini, tapi entah kenapa rasa paniknya selalu sama, tak
pernah ada yang berubah sedikitpun.
Gabriel mendekati Agni dan Rio. wajahnya terlihat dingin
tapi entah kenapa tidak ada sedikitpun gurat kepanikah di wajahnya itu.
“panggil ambulance” perintahnya.
***
Akhirnya persidangan selesai, tapi tenyata masih ada
persidangan-persidangan lainnya. Cakka menghela nafas berat, tubuhnya begitu
lemas. Ia masih enggan beranjak dari ruang persidangan itu, ia membutuhkan
tenaga untuk berdiri.
“Cakka... kenapa?”
Cakka mengalihkan pandangannya pada Mamanya, Shilla. Ia
mendelik kesal, sudah tau kok masih nanya sih?
Cakka meraih ponselnya yang berdering.
“Kka...”
“Agni kenapa? Kok nangis?”
“kak Rio”
Cakka melirik Angel yang terlihat menatapnya dengan tatapan
penuh tanya.
“kenapa kak Rio?”
“kak Rio... anfal”
“apa? Sekarang posisi kamu dimana?”
“rumah sakit pelita”
Cakka melirik arlojinya, memperkirakan waktu yang ia
butuhkan.
“15 menit lagi aku sampai”
Cakka segera berdiri dan berjalan cepat meninggalkan ruangan
persidangan itu, tanpa mempedulikan Shilla yang memanggilnya dan Angel yang
mengejarnya, yang ia pikirkan hanya kondisi Agni, ia yakin Agni begitu
terpukul.
“Cakka! Rio kenapa?”
“anfal”
“apa? Kakak mau liat dia”
“ayo”
Cakka segera memasuki pintu kemudi dan Angel berlari ke sisi
lain tanpa mempedulikan wartawan yang terus saja bertanya.
Begitu sampai di rumah sakit yang di tuju, ia bingung
mencari keberadaan Agni yang lupa ia tanyakan.
“pasti IGD Kka...”
Cakka dan Angel segera berjalan menuju IGD dan tenyata
tapat, disana ada Agni yang sedang berdiri di hadapan orang tuanya, sepertinya
gadis itu sedang marah karena samar-samar Cakka bisa mendengar teriakan
tertahan Agni itu. Ia segera menghampiri Agni, lalu membawa gadis itu dalam
pelukannya.
***
Agni menelungkupkan kedua telapak tangannya di wajah.
Tubuhnya terus bergetar seiring dengan air mata yang terus saja meluncur.
Sementara di sebelah kanannya ada Gabriel yang terus saja menenangkannya, dan
di sebelah kiri ada Sivia yang sekarang jadi Mamanya.
Agni menyeka air matanya dengan kasar lalu berdiri dan
menatap Gabriel dan Sivia bergantian.
“ini semua itu gara-gara kalian! Kalian egois! Asal kalian
tau! Semalam kak Rio anfal dan sekarang anfal lagi! Itu semua gara-gara kalian!
Kalian gak pernah mikirin gimana perasaan kami! Kalian...”
Cakka mengeratkan pelukannya pada Agni yang terus saja
meronta dan memukuli dadanya.
“Agni! Sadar Agni! Kamu gak boleh gini! Bagaimanapun juga
mereka orang tua kamu! Kamu gak boleh bentak-bentak mereka”
Cakka berujar dengan sedikit penekanan emosi, saat ia rasa
Agni mulai melemah dan tubuhnya mulai normal kembali ia melepaskan pelukannya.
Ia menatap tepat di mata Agni, kedua tangannya mengelus pipi Agni, mengusap air
mata yang masih saja turun.
“udah... sekarang kamu minta maaf sama Papa dan ehm... Mama
kamu”
“tapi...”
“sekarang!”
Agni mengangguk lesu mendengar perintah Cakka yang ia rasa
sangat tegas. Ia menghela nafas panjang kemudian berbalik menghadap Gabriel dan
Sivia.
Cakka mendorong bahu Agni agar duduk di tengah mereka, ia
tersenyum saat Agni menatapnya dengan kesal. Setelah itu ia berjalan agak
menjauh dari mereka, menunggu tepat di depan pintu IGD bersama Angel.
Cakka mengamati Agni yang sedang meminta maaf pada Gabriel,
namun sekali-sekali ia masih agak menekan kata-katanya pada Gabriel hingga
Cakka harus mempelototi Agni agar tidak bersikap seperti itu.
Tak lama kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan itu.
Agni, Gabriel dan Sivia berjalan mendekat, Dokter itu nampak tersenyum tipis
pada mereka semua.
“putera anda sudah membaik, kalian semua boleh menemuinya
saat sudah di pindahkan ke ruang rawat”
Semua yang ada di sana menghela nafas lega, Agni melirik
Cakka yang merangkul pundaknya.
Dalam hatinya ia tersenyum begitu bahagia karena diam-diam
ternyata Cakka perhatian padanya.
“thanks ya Kka...”
“buat?”
Cakka membalas tatapan Agni.
“semuanya”
Agni tersenyum ke arah Cakka, yang di tanggapi dengan
senyuman juga dan tangan yang tadi merangkul kini mengacak-acak poni Agni
dengan gemas.
“oiya, Agni... siapa dia? Kamu gak mau ngenalin dia sama
Papa?”
Agni melirik Gabriel dan Cakka bergantian, kemudian
tersenyum ke arah Gabriel.
Cakka mengulurkan tangannya pada Gabriel.
“Cakka”
Gabriel membalas uluran tangan Cakka dan tersenyum begitu
ramah.
“Gabriel, dan ini Sivia... istriku”
“Sivia... kayaknya kalian jodoh ya? bentuk wajah kalian
hampir sama”
‘Mengapa semua orang
mengatakan yang memiliki ke samaan wajah dengan berjodoh? Tapi, semoga itu
benar’ Cakka membatin dengan senyuman yang kini tak lepas dari wajah
tampannya.
***
Next...
Kak nextnya mana? lama bgt..
ReplyDeleteMengapa VIII sampai selesai donkk :)