Rio berjalan memasuki kediaman Gabriel, sebenarnya ia malas
jika harus berhadapan dengan Uncle dan Aunty nya itu. Tapi, apa boleh buat?
Kalau gak di temui, mereka akan tetap saja berburu untuk bertemu dengannya.
“Mario... apa kabar ganteng?”
Zahra berjalan ke arah Rio kemudian mengecup pipi Rio yang
kanan dan kiri. Rio tersenyum meringis, aunty nya itu selalu berlebihan.
“Baik. Kalo aunty? Udah lama ya
Rio gak maen ke sini? Padahal deket dari rumah.”
“Iya, yuk kita ke belakang, ada
uncle juga.”
Rio mengangguk, ia hanya bisa pasrah. Tak ada lagi yang bisa
ia lakukan kecuali itu. Tapi, siapa sangka dalam otaknya sedang merancang
alasan untuk pergi dari rumah ini.
“Pa, Rio udah dateng nih.”
Sion berbalik ke arah Rio lalu tersenyum. Rio membalas
senyuman itu seadanya kemudian duduk di hadapan uncle nya itu. Pasti ada yang penting, gue gak pernah deh
perasaan di butuhin sama uncle sama aunty kalo gak di butuhin.
“Di minum Yo.”
Zahra berujar setelah salah satu pembantunya membawakan segelas
jus. Rio lagi-lagi hanya mengangguk.
“Euhm... aunty, uncle. Sebenernya
ada apa sih Rio di panggil kesini?”
Zahra terkekeh setelah menyeruput tehnya. Dengan anggun ia
menyimpan gelas itu ke atas meja kemudian melirik ke arah Sion sekilas.
Sion mengeluarkan sebuah artikel, lalu memberikannya pada
Rio.
Rio mengangkatkan sebelah alisnya, ia mulai membaca artikel
yang terpajangkan foto sahabatnya berserta suami.
“Terus? Apa hubungannya sama
Rio?”
Sion membenarkan duduknya, ia menatap ke arah Rio menyelidik.
“Kamu sahabatnya Agni kan?”
Rio mengangguk menanggapinya. Dalam pikirannya
bertanya-tanya, ke arah mana mereka akan membawa topik pembicaraannya.
“Kalau pemuda itu, dia siapa?”
Rio menarik ujung bibirnya, ia mengerti sekarang. Mereka
ingin mengorek informasi seputar Alvin toh?
“Dia Alvin, temen satu angkatan
juga. Tapi gak begitu akrab.”
Sion dan Zahra mengangguk-angguk mengerti.
“Ada hubungan apa antara dia
dengan Agni?”
Rio tersenyum masam mendengar pertanyaan Zahra, haruskah ia
mengatakannya? Ia berdehem cukup keras.
“Mereka suami istri, beberapa
minggu yang lalu mereka baru melangsungkan pernikahan. Kira-kira masuk dua
bulanan lah.”
Zahra terlihat menghela nafas panjang kecewa. Ia mendesah
kesal lalu melirik Sion.
Ia kehilangan menantu idaman gara-gara suaminya ini. kalau
saja Gabriel tidak di paksa pindah tugas.
“Papa sih.”
“Tapi dalam artikel itu...”
“Mereka emang sengaja gak bawa
status mereka dalam kerjaan. Yang tau mereka udah nikah cuma temen satu sekolah
dan keluarga besar.”
Sion menghela nafas panjang mendengar penjelasan Rio. hilang
sudah menjalin kerja sama dengan keluarga dari Agni. Ia melirik Zahra yang
terlihat lebih merengut. Ia meraih kedua tangan istrinya itu dan menatapnya
dalam seakan meminta maaf.
“Yaudah kalo gitu Rio pamit ya
aunty, uncle.”
Rio beranjak dari tempat itu setelah mendapat anggukan dari
mereka. ia menghela nafas begitu panjang karena lega bisa terlepas dari
pertanyaan-pertanyaan kepo itu. Saat baru saja ia memasuki mobilnya, sebuah
range rover yang selama ini hanya terbengkalai di garasi memasuki gerbang.
Rio terdiam cukup lama, ia tau betul jika yang di dalamnya
adalah Gabriel. Gabriel Alexander, kekasih Agni yang entah masih jadi kekasih
atau tidak.
Rio keluar kembali dari mobilnya.
“Gabriel.”
Yang merasa di panggilpun berbalik. Ia tersenyum kemudian
saling berpelukan sekilas saat sudah saling berdekatan.
“Kapan dateng?”
“Udah beberapa hari yang lalu.
Gue baru aja ketemu Agni.”
Rio menengok ke arah Gabriel dengan cepat, ia ingin dengan
cepat tau bagaimana ekspresi sepupunya itu.
Gabriel terlihat tersenyum masam saat mengingat pertemuannya
bersama Agni beberapa saat yang lalu.
“Agni bilang dia udah nikah, tapi
gue gak percaya.”
Gabriel berucap sembari beranjak memasuki kediamannya. Saat
Rio hendak mengejar Gabriel, ponselnya berdering.
“Hallo Bi, ada apa?”
“Barang yang Den Rio pesan sudah datang.”
“Yaudah, aku segera pulang.”
Rio nampak menimang-nimang, antara beranjak dan masuk. Ia
bergumam kemudian beranjak ke arah mobilnya.
***
Gabriel langsung beranjak ke kamarnya setelah bertegur sapa
dengan orang tuanya. Ia membuka jasnya kemudian di lemparkan kesembarangan
arah. Coba kalo udah nikah sama kamu Ni,
pasti di saat aku capek gini udah ada yang nyambut.
Gabriel menghela nafas panjang, ia membantingkan tubuhnya ke
atas tempat tidur dengan tangan yang sibuk melonggarkan dasinya. Aku belum puas ketemu kamu Ni, aku besok ke
kantor kamu ya sayang...
Clek.
Gabriel menengok ke arah pintu, kemudian mendudukan dirinya
saat yang ia lihat itu Sion. Ia segera duduk di sofa kamarnya, berhadapan
dengan Papanya itu.
“Gimana pertemuannya Yel?”
Sion menatap Gabriel dengan serius, ia berharap kabar baik
terlontar dari mulut puteranya itu. Gabriel terkekeh kecil, ia menyandarkan
punggungnya ke sandaran kursi.
“Gak berjalan lancar...”
“HAH?! Terus kenapa kamu
senyum-senyum gitu? Ini kabar buruk Gabriel.”
Gabriel menatap Papanya sambil tersenyum geli.
“Enggak lah Pa, akukan gak jadi
ngomongin bisnis gara-gara klien kita ternyata Agni.”
“Kamu serius?”
Gabriel mengangguk mantap sambil membayangkan pertemuannya
dengan Agni. Tidak begitu manis, tapi seenggaknya bisa mengobati rasa rindunya.
Berbeda jauh dengan Sion. Dalam hatinya terselip rasa
ketakutan, takut jika suatu saat nanti puteranya itu tau bahwa Agni terlah
memiliki suami, telah menikah. Ia takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.
***
Gabriel berjalan menyusuri koridor sebuah rumah sakit. Ia
memang selalu rutin memeriksakan kesehatannya setiap satu minggu satu kali.
Semenjak pulang tadi, ia tidak berminat untuk menghubungi Agni lagi untuk
sekarang. Karena ia ingin gadis itu yang terlebih dahulu menghubunginya, selain
itu ia juga tak ingin mengganggunya untuk sementara waktu.
“Dokter Kiki masih ada?”
“Ada Pak, baru saja selesai
keluar dari ruangan operasi.”
“Terimakasih.”
Gabriel kembali berjalan ke sebuah ruangan yang terletak di
antara deretan pintu.
Tok tok tok.
Terdengar sahutan dari dalam ruangan. Gabriel pun segera
memasuki ruangan itu.
“Gabriel?”
“Hai Ki, kaget ya?”
Kiki terkekeh. Ia berdiri menghormati.
“Duduk.”
Gabriel mengangguk lalu duduk di hadapan Kiki.
“Ikut bedah lagi?”
Kiki mengangkat sebelah alisnya, kemudian menyimpan
kacamatanya.
“Mendampingi. Ada apa datang
kemari?”
Gabriel terkekeh.
“Gak usah tergesa-gesa gitu.”
Baru saja Kiki mau menimpali ucapan Gabriel, terdengar
sebuah keributan di depan ruangannya. Ia segera beranjak dari mejanya begitupun
Gabriel.
“Dokter pasien di kamar VIP nomor
201 kejang-kejang.”
Kiki segera beranjak tanpa mempedulikan Gabriel yang
mendengus kesal. Ia beranjak ke tempat lain untuk menunggu Kiki bertugas.
Sebenarnya banyak yang ingin ia tanyakan pada Dokter itu selain mengenai
kesehatannya. Ia tau, Dokter Kiki adalah salah satu Dokter pribadi keluarga
Hayman. Jadi, ia yakin sedikit-sedikit tau mengenai Agni beberapa tahun ini.
kiki juga mengetahui hubungan Gabriel dan Agni di masa lalu.
Gabriel memicingkan matanya melihat ke arah sepasang kekasih
yang sedang berpelukan. Pemuda itu sepertinya sedang menenangkan gadisnya yang
sedang menangis tersedu. Sepertinya aku
kenal. Gabriel memutar kembali memorinya kemasa lalu. Tapi, nihil. Ia tidak
ingat sedikitpun. Yang ia ingat hanya pemuda itu berhubungan dekat dengan Rio
dan Agni. Ia mengeluarkan ponselnya lalu membidik pasangan itu dengan
kamerannya.
***
“Fy.”
Rio memasang wajah bingung saat melihat Ify berdiri di depan
rumahnya dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya.
“Gue kira loe gak disini Yo. Gue
cuma pengen liat-liat rumah loe boleh gak?”
Ify memamerkan deretan giginya, memasang wajah manis agar di
ijinkan oleh pemilik rumah itu.
Ia bersorak kecil saat Rio menganggukan kepalanya.
“Rumah loe nyaman banget lho Yo,
gue juga gak ngerti ada magnet apa di rumah loe. Sampe gue mau balik lagi
kesini.”
Rio terkekeh, ia merangkul pundak Ify. Membawa gadis itu
memenuhi keinginannya.
Ify tersendak kaget saat mendapat perlakuan itu, ia melirik
Rio dengan sedikit gugup. Sementara pemuda itu malah dengan santai
merangkulnya. Ya Tuhan... jangan sampe
dia dengar jantung gue dangdutan.
“Gue buat rumah ini dengan penuh
cinta, wajar dong nyaman.”
“Gue kira pake pasir, semen,
betonan, besi sama bahan bangunan lainnya.”
“Duduk Fy.”
Cukup lama mereka mengobrol, hingga tanpa terasa waktu telah
sore. Bertepatan dengan itu ponsel Ify berdering.
“Kenapa Fy?”
Ify memberikan ponselnya pada Rio, membiarkan pemuda itu
melihat isi pesannya.
“Lho? Inikan rumah yang itu, yang
sebelah kanan rumah gue.”
“Hah?! Masa sih?”
Ify menatap tidak percaya ke arah Rio. Rio menjelaskan
terlebih dahulu tataletak rumahnya itu kemudian mengantarkan gadis itu ke depan
pintu gerbang rumah Agni.
“Ini rumahnya, udah ya gue balik
dulu.”
Ify tersenyum ke arah Rio, kemudian membuka gerbang rumah
itu kemudian memasukinya.
Rio menghela nafas panjang, ternyata dunia ini bener-bener
sempit ya?
Rio mulai beranjak dari tempat itu kembali menuju rumahnya.
Tapi kemudian ia berbalik lagi ke arah gerbang rumah Agni, dimana ada sebuah
mobil akan memasuki rumah itu. Ia memicingkan matanya, seperti mengenal sosok
dalam mobil itu. Tapi siapa? Dan dimana?
Ponsel Rio berdering. Ia segera membuka ponselnya sambil
memasuki kediamannya.
Ini siapa?
Gue nemuin mereka di rumah sakit.
Rio menatap foto yang di kirimkan Gabriel lekat-lekat,
setelah melihatnya benar-benar ia membelalakan matanya dengan tidak percaya.
“Cakka? Inikan... Sivia.”
***
Cakka mengelus puncak kepala Sivia dengan sayang, ia tidak
bisa melihat seorang wanita menangis. Dalam dadanya terasa bergemuruh, juga ada
sebuah dentuman keras disana-sini. Ia merasa ada beban berat, sangat berat
menimpa dirinya.
“Ray, Kka... aku gak bisa liat
dia sakit gitu. Aku...”
“Udah Vi, ini juga salah aku. aku
yang gak tau apa-apa, aku yang ceroboh. Ini salah aku, bukan kamu.”
Sivia menggeleng-gelengkan kepalanya cepat.
“Ini salah aku Kka. Aku gak bisa
jagain Ray.”
“Tapi aku yang gak tau apapun Vi,
aku biarin kamu rawat Ray sendirian.”
Cakka mengeratkan pelukannya pada wanita itu. Ia mengecup
puncak kepalanya.
“Secepatnya kita menikah.”
Dengan cepat Sivia mendongakkan kepalanya. Ia menatap tidak
percaya ke arah lelaki di hadapannya ini. perkenalan yang begitu cepat,
pertemuan yang begitu cepat, dan sekarang?
“Ini sebagai tanda keseriusan
aku.”
Cakka menyelipkan sebuah cincin di jari manis Sivia. Ia
tersenyum pada Sivia, menguatkan.
Sivia tersenyum gatir. Pikirannya kembali melayang pada masa
lalunya.
Sivia yang merasa
suntuk karena baru saja putus cinta karena di selingkuhin dengan nekat memasuki
sebuah diskotik. Kenapa nekat? Karena ia terbilang masih SMA yang baru beberapa
saat lalu menyelesaikan Ujian Nasionalnya.
Ia duduk di samping
seorang pemuda yang menatap ke arah beberapa pasangan yang nampaknya pemuda itu
menatap mereka iri.
“Patah hati juga ya.”
Pemuda itu menoleh. Ia
tersenyum masam.
“Disini tempat have fun kan? Turun yuk.”
Pemuda itu memberikan
Sivia sebuah gelas berisi minuman, keduanya bersulang lalu meneguk minuman itu.
Paginya, Sivia
terbangun di sebuah tempat asing. Dengan sebuah tangan kekar melingkar di
pinggangnya. Tanpa basa-basi lagi, ia segera beranjak dari tempat itu tanpa ada
niat bertatap muka sedikitpun dengan pemuda itu.
Hingga akhirnya ia
bertemu dengan Cakka, dan tanpa kesengajaan mereka membicarakan kisah
masalalunya.
“Jadi kamu gadis itu? Yang tiba-tiba menghilang.”
“K.kamu?”
Cakka mengangguk
dengan lemah.
“Aku akan bertanggung jawab sekarang Sivia. Maaf... ya.”
“Tapi... Ray. Sakit.”
“Ray?”
“Anakku.”
“Anak kita.”
Koreksi Cakka yang
membuat Sivia mengangguk. Akankah kisah pahitnya berakhir manis?
***
Gabriel memasuki kawasan perusahaan Praha Group dengan
senyuman yang tak lepas dari bibirnya, ia tidak sabar untuk bertemu dengan Agni
lagi.
Tanpa di sangka, ia bertemu dengan Ify yang dulu selalu ia
temui saat akan menjemput Agni di sekolahnya saat baru saja memasuki loby
kantor itu. Mereka saling pandang cukup lama.
“Kak Gabriel?”
Gabriel tersenyum tulus ke arah Ify, ternyata gadis itu
masih mengingatnya.
“Hai Fy, ternyata masih inget ya?
Agni nya mana?”
“A.Agni?”
Ify nampak berpikir mencari-cari alasan. Tapi, pikirannya
yang panik membuatnya sulit untuk mencari alasan. Tanpa babibu, ia menarik
Gabriel memasuki lift untuk mencapai ruangannya. Meski beberapa staf
berbisik-bisik menilai, Ify tidak mengindahkannya. Karena baginya, yang
terpenting itu menyembunyikan Gabriel.
“Kakak tunggu disini, gue telpon
Agni dulu.”
Gabriel mengangguk menanggapinya. Ia duduk di kursi ruang
kerja itu. Sebenarnya ia agak terkejut di ajak dengan begitu tergesa, tapi apa
boleh buat? Mendingan bertemu dengan Agni daripada tidak sama sekali.
Tak lama Ify kembali lagi, ia menghela nafas panjang sebelum
akhirnya duduk di meja kerjanya, yang selalu di tempati Debo jika ada. Gabriel
terdengar mengoceh menceritakan semua pengalamannya, sementara Ify hanya
menanggapinya datar-datar saja. Ia tidak tau harus berkata apa.
“Kayaknya loe gak seneng gue
balik Fy.”
Ify menghela nafas panjang, ia menatap ke arah Gabriel
dengan malas.
“Apa tujuan Kakak balik lagi? Gue
saranin loe cepetan pergi deh. Agni udah married.”
Gabriel terkekeh kecil.
“Gak mungkin, dia masih nunggu
gue lagi.”
“Jangan mimpi.”
Gabriel tersenyum kecut mendengar desisan Ify yang
membuatnya tersinggung. Ia jadi tak ingin memperpanjang obrolannya.
“Selamat siang.”
Gabriel berbalik, melihat ke arah pintu. Disana terlihat
Agni yang baru datang, ia terlihat cantik dengan dress selutut seperti itu. Apalagi jika melihat kaki jenjang
yang di hiasi wedges. Ia menaikan satu alisnya melihat Ify berbisik pada Agni.
Kemudian Agni berbincang dengan Ify, lalu Ify meninggalkan
ruangan itu dengan tidak rela.
“Apa mau kamu Gab?”
Gabriel tersenyum puas. Ia senang pada wanita yang to the
point. Sikap seperti itu membuatnya semakin penasaran saja pada wanita di
hadapannya itu.
“Kamu.”
Agni mendesah, lelah.
“Aku udah nikah.”
“Aku akan merebutmu kembali.”
“Gab. Aku udah bahagia sekarang.
Jangan ganggu gue!”
Agni menatap Gabriel tajam. Kenapa lelaki di hadapannya ini
berubah jadi sangat terobsesi sih? Apa yang harus ia lakukan?
“Oke. Aku gak bakalan ganggu kamu
lagi dengan syarat...”
Agni menatap Gabriel, menunggu kelanjutan ucapan lelaki itu.
“Hari ini... kencan seharian sama
aku.”
***
Agni menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi range
rover hitam itu. Ingatannya kembali pada masalalu, dimana ia masih berpacaran
dengan pemuda itu. Disini, didalam kendaraan ini ia selalu menerima segala
bentuk kasih sayang dari pemuda di hadapannya ini. tapi sekarang? Tak di
pungkiri bahwa ia tidak bisa lagi menerimanya. Ia harus teguh pada
pendiriannya, ia telah menikah.
“Yuk turun.”
Ajak Gabriel sambil membuka sabuk pengamannya. Ia berjalan
keluar lalu membukakan pintu untuk Agni.
“Kamu duluan aja. Aku ada telepon
dulu dari Papa.”
Gabriel mengangguk kemudian berlalu tanpa mempedulikan
alasan Agni benar atau tidak.
Agni menghela nafas panjang, setidaknya para karyawan disana
tidak akan curiga jika ia beranjak tidak berbarengan dengan Gabriel. Setelah ia
rasa telah ada jarak antaranya dengan Gabriel ia memasuki gedung bertingkat itu.
***
Agni merasakan pelukan hangat dari arah belakang begitu ia
memasuki ruangan itu. Ia merasakan punggungnya yang tidak tertutupi bersentuhan
langsung dengan kulit dada pemuda di belakangnya ini. Agni menggeliatkan
badannya, meminta pemuda itu untuk menyingkir.
“Gab lepas.”
Gabriel mendesah sebal, ia membalikan Agni agar
menghadapnya.
Agni sempat menahan nafas saat melihat bentuk dada dan perut
Gabriel yang menurutnya semakin sempurna itu.
“Kamu kenapa sih Ag? Dulu juga
kamu gapapa aku giniin.”
“Pake baju kamu.”
“Enggak.”
“Pake.”
“Agni...”
“Atau gue pulang sekarang juga!”
“Oke fine!!! Aku pake sekarang.
Dan stop sebut diri kamu dengan kata gue!”
Gabriel membalikan badannya dengan cepat.
Agni sempat menahan ludah dengan sukar saat melihat rahang
Gabriel mengatup keras. Apalagi saat melihat langkah lebar Gabriel yang
menandakan kemarahannya. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Agni menghela nafas panjang, ia mendudukan dirinya di atas
sofa, menunggu Gabriel yang memasuki kamarnya.
Gabriel kembali dengan kaus berwarna hitam dan kemeja yang
tidak di kancingkan. Ia sempat melirik Agni dengan sebal. Kalo gue gini terus Agni pasti bakalan lebih ilfeel sama gue.
Gabriel menghela nafas panjang. Gue harus
lebih sabar, dan rebut hati Agni dengan lembut. Tanpa di sadari ia
mengangguk kecil kemudian duduk di samping Agni.
“Maaf ya...”
Agni menatap Gabriel saat pemuda itu membelai pipinya. Ia
menarik ujung bibirnya, memberikan senyuman. Kemudian Agni mengangguk kecil.
Gabriel tersenyum ke arah Agni. Belaian dipipi itu kini
berpindah ke rambut, menyampirkan rambut itu kebelakang telinga Agni, tangan
itu meremas lembut bagian belakang kepala Agni, lalu menariknya.
“Kamu semakin cantik sayang...
aku bener-bener nyesel ngelepas kamu gitu aja.”
Tangan yang bebas Gabriel gunakan untuk mengelus pipi Agni,
memberikan wanita di hadapannya itu keyakinan bahwa ia sangat menyesal dan
masih mencintainya.
Agni tersenyum, ia menyentuh kedua pipi Gabriel, lalu
menepuk-nepuknya pelan.
“Kamu gak pernah berubah Gab.
Kamu lembut, perhatian dan pengertian. Tapi kamu sekarang lebih tampan.”
Gabriel terkekeh menanggapinya, ia menurunkan tangannya ke
pinggang Agni.
“Aku sayang banget sama kamu,
Agni.”
Gabriel memiringkan wajahnya, saat ia tidak menerima
penolakan ia segera mengecup bibir mungil itu, lama dan dalam.
Agni memukul dada Gabriel sekuatnya, ia sadar, ini
kesalahan, ini di luar skenarionya. Jauh disana, Alvin pasti akan selalu
menjaga hatinya untuk Agni. Tapi jika seperti ini? Agni merasakan sesuatu
berlomba mencapai tenggorokannya, semakin atas. Dengan satu sentakan keras Agni
berhasil menjauhkan diri dari Gabriel, lalu secepat kilat ia berlari ke arah
westafel.
“Agni, kamu kenapa?”
Gabriel memijat tengkuk Agni dengan sabar. Ia melihat Agni
seperti ingin memuntahkan sesuatu tapi tidak ada sedikitpun sesuatu yang keluar
dari sana. Ia menarik rambut Agni yang terurai kebelakang, agar rambut indah
itu tidak tersiram air.
Gabriel memicingkan matanya melihat sebuah luka di leher
bagian dalam Agni, sepertinya luka itu sudah beberapa hari mengotori kulit
mulus Agni. Ia menyentuh luka itu.
Agni membasuh wajahnya kemudian ia berdiri saat merasakan
tangan Gabriel mulai turun ke lehernya. Keduanya saling bertatapan.
“Itu apa?”
“Apa?”
Gabriel menyibakan rambut Agni lalu menunjuk luka itu.
Agni diam, ia menghela nafas panjang kemudian menatap
Gabriel.
“Suamiku.”
Agni beranjak dari tempat itu tanpa ada niat untuk menjelaskannya.
Ia rasa lelaki itu cukup mengerti dengan apa yang ia katakan.
***
“Sekarang kita mau kemana sih?
Kenapa aku harus pake jeans gini?”
Agni bertanya saat pemuda di sampingnya itu mengajaknya
beranjak kembali. Ia mendengus sebal saat pertanyaannya tidak di tanggapi
sedikitpun. Gabriel aneh sekali menurutnya, ia sangat memaksa Agni untuk
memakai pakaian yang lebih santai lagi. Memakai jeans dan kaus panjang dengan
rambut yang di kuncir kuda. Tapi berbeda dengan wedgesnya, ia menolak untuk
menggantinya karena ia merasa sangat nyaman dengan sepatu berhak tinggi itu.
Tanpa berlama-lama lagi mereka telah berada di pelataran
parkir sebuah pusat wahana permainan terbesar di Kota Jakarta. Agni menghela
nafas lega, setidaknya ia di bawa ke tempat umum. Tidak akan ada lagi
adegan-adegan di luar kendalinya.
“Yuk.”
Agni turun dari range rover itu. Kemudian berjalan
berdampingan dengan Gabriel untuk memasuki tempat itu.
“Aku mau tantang kamu naik itu,
itu dan itu.”
Gabriel menunjuk wahana Tornado, Histeria dan Halilintar
dengan bergantian. Agni tersenyum kecut menanggapinya.
“Siapa takut. Kita mulai dari
antreannya paling sedikit.”
Gabriel mengangguk setuju, kemudian mereka mulai berjalan ke
arah wahana Halilintar.
Setelah mendapatkan giliran Agni duduk di wahana itu paling
depan, tentunta bersama Gabriel juga.
Setelah menyelesaikan wahana itu Agni tersenyum puas ke arah
Gabriel. Ia berjalan terlebih dahulu untuk membeli sebotol minuman.
“Mau yang mana dulu? Dua-duanya
antean panjang.”
Agni terlihat menimang-nimang, sesekali ia melirik ke arah
Tornado dan Histeria bergantian.
“Histeria.”
Gabriel tersenyum mendengarkan ucapan Agni. Ia mengikuti
Agni yang mulai beranjak menuju antrean.
Hampir setengah jam mereka ngantri, Gabriel melirik Agni
yang sesekali ia meringis mengeluh pegal pada kakinya. Gabriel menghela nafas
panjang, ia tidak tau harus melakukan apa. Ia sudah meminta Agni untuk
menggantinya tapi tak di gubris juga.
“Giliran kita.”
Gabriel duduk di sebelah kanan Agni. Ia melirik Agni yang terlihat
begitu ceria, sepertinya ia senang menaiki wahana seperti itu.
“Siap?”
Agni mengangguk menjawab pertanyaan itu. Gabriel tersenyum
kecil menanggapinya.
Wahana itu mulai di naikan, lalu di hempaskan, naik lagi dan
di hempaskan lagi. Agni meringis kesakitan, ia merasa ada yang aneh dengan
perutnya. Biasanya ia tak pernah merasakan hal seperti itu. Tapi kali ini?
“Sakit.”
“Agni kenapa?”
Gabriel bertanya dengan berteriak khawatir melihat Agni.
Gabriel berteriak minta berhenti pada petugas itu. Dan akhirnya wahana itu
berhenti.
Gabriel segera memapah Agni untuk duduk di sebuah bangku
panjang.
“Kenapa sayang?”
Agni meneguk air mineral dengan cukup banyak. Ia berharap
dengan hanya meminum itu rasa sakitnya akan hilang.
“Ag, kenapa?”
Agni menggelengkan kepalanya pelan, ia melirik ke arah
Gabriel dengan malas.
“Kita pulang ya?”
Gabriel melirik arlojinya, sudah cukup sore. Tapi ia belum
puas menghabiskan harinya bersama Agni.
Ia melirik Agni sebentar kemudian menghela nafas panjang
kemudian mengangguk lemah. Ia harus mengalah, ia harus mementingkan Agni
daripada egonya itu.
Mereka melakukan perjalanan dalam diam. Agni terlihat sibuk
dengan ponselnya sementara Gabriel fokus pada jalan raya. Sampai tanpa terasa
mereka telah kembali ke parkiran Praha Group dimana Agni tadi menyimpan
mobilnya.
“Gak sebaiknya aku anter aja? Ini
udah malem Ni.”
“Gak usah, aku ada janji. Bye.”
Agni terlihat dengan tergesa keluar dari mobil Gabriel.
Gabriel menghela nafas panjang, tak bisa melawan keras
kepalanya wanita itu. Ia sempat khawatir saat Agni masih sesekali meringis
dengan memegangi perutnya. Maaf Agni, aku
buntutin kamu sebentar.
Gabriel mengikuti mobil Agni yang mulai meninggalkan
parkiran itu. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada orang yang ia sayangi itu. Ia
tidak bisa membayangkan jika Agni terluka, ia pasti akan sangat terpukul
melihatnya.
Gabriel menaikan satu alisnya saat mobil Agni malah memasuki parkiran sebuah cafe. Ia
menghela nafas panjang lalu melihat kedalam cafe itu. Di dalam sana ia dapat
melihat Ify yang mungkin sedang menunggu Agni. Gabriel menghela nafas lega, ia
memicingkan mata saat seseorang berjalan ke arahnya.
“Sus tolong jaga anak saya dulu,
saya baru on the way kesana. Bilang saja seperti itu padanya.”
Gabriel memicingkan matanya saat melihat pemuda yang
beberapa saat lalu berada di rumah sakit tengah berdiri di samping sebuah mobil
dengan gusar. Tak lama setelah itu seorang wanita berjalan dengan tergesa
menghampiri pemuda itu.
“Katanya Ray cuma mau ketemu
kamu. Kok tiba-tiba kamu SMS sih? Pelanggan kamu kasian.”
“Tapi lebih penting Ray Via. Udah
yuk.”
Gabriel melihat mobil itu mulai beranjak pergi. Ia menaikan
satu alisnya heran melihat pasangan itu, menurutnya sangat aneh dan entah
kenapa ia selalu saja tanpa sengaja bertemu dengan pasangan itu. Gabriel
menghela nafas panjang, ia melirik ke arah cafe lagi memastikan ke adaan Agni.
Ia segera tancap gas kembali setelah melihat Agni baik-baik saja.
***
Gabriel merapihkan jas dan dasinya dengan teliti. Kemudian
ia menyambar ponselnya dengan cepat.
“Hallo Pak Gabriel.”
“Liburannya udah Shil? Hari ini
loe masuk kerja ya, gue kewalahan kerja sendiri.”
“Tapi, gue lagi sakit Yel, gue lagi mau periksa dulu nih di RS Medical.”
Gabriel meraih tasnya.
“Lho kenapa?”
“Loe gak denger suara gue serak? Gue pilek tau.”
“Oh, gak parah inikah? Masuk
kerja ya.”
Gabriel melirik ponselnya. Ia menaikan satu alisnya, masih
nyambung... tapi kok gak ada jawaban dari Shilla?
“Shil? Shilla?”
“Yel, Agni. Itu ada Agni.”
“Agni?”
“Iya. Cepetan kesini gue yakin keadaan Agni parah.”
“APA?!”
“CEPETAN! Dia baru keluar dari IGD”
Gabriel menyimpan kembali tasnya kemudian dengan cepat ia
beranjak dari kamarnya itu.
Ia melirik arlojinya saat telah berada dalam mobil.
“Jam sembilan?”
Gabriel menekan-nekan klaksonnya dengan kesal. Kenapa disaat
seperti ini jalanan malah macet sih? Tidak ada dukungannya sama sekali pada
dirinya.
Setengah jam kemudian ia sampai di rumah sakit itu.
Duk.
“Maaf.”
“Lho anda lagi?”
Gabriel bertatapan dengan pemuda itu, ia heran kenapa bisa
bertemu dengan orang yang sama dengan ke adaan yang sama yaitu saling
bertabrakan. Keduanya dengan cepat berjalan ke arah resepsionis.
“Mbak, pasien yang bernama Kanz
Agnida Hayman ang tadi pagi masuk kesini di rawat di ruangan mana?”
Gabriel bertanya dengan memburu, tidak lagi mempedulikan
sekelilingnya. Yang ia tau sekarang ia harus melihat ke adaan Agni.
“VIP 15 Pak.”
Gabriel dengan secepatnya segera melesat pergi.
Sementara pemuda yang bertambarakan dengan Gabriel tadi, terpaku
di tempat. Ia merasa ling lung sekarang, apa ia sedang berada di alam mimpi
atau di alam nyata? Dengan jelas sekali ia melihat seorang lelaki
mengkhawatirkan istrinya.
Pemuda itu berbalik saat merasakan sebuah tepukan.
“Alvin... Agni butuh kamu.”
***
Bersambung.
mbak lanjutttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttt..............
ReplyDeleteLanjut donk,, kagak sabar lagi
ReplyDeletegila semua nya keren hbs