Dalam kemacetan Agni merenung, merenungkan semua pertemuan
yang telah terjadi dengan pemuda yang ia anggap sebagai mantan kekasihnya itu.
Ia masih belum percaya dengan apa yang pemuda itu katakan. Kenapa gak dari dulu Gabriel bilang gue mau di jodohin? Kenapa baru
sekarang? Setelah semuanya terlanjur?
“Tapi untungnya kamu belum mengikat hubungan kalian. Aku akan menagih
janji Papamu yang membolehkan aku menikahimu sebelum kamu menikah sama pemuda
yang di jodohkan sama kamu.”
Agni mendesah frustasi mengingatnya. Kenapa Papa bisa-bisanya ngejanjiin kayak gitu sama Gabriel?
“Aku emang udah nikah Gab.”
“Dan aku... akan merebutmu kembali untukku... Agni.”
Ponsel Agni berdering, ia mengambilnya dari jok samping lalu
mengangkatnya tanpa melihat siapa si pemanggil karena ia tau bahwa itu adalah
Alvin, karena menggunakan nada dering khusus untuk suaminya itu.
“Masih dimana sayang?”
“Lampu merah terakhir, aku
kejebak macet nih.”
“Yaudah, hati-hati ya.”
“Iya sayang, bye.”
Agni kembali memfokuskan dirinya pada jalanan padat itu, ia
menghela nafas panjang begitu melihat mobil di depannya maju.
***
Alvin menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celana
setelah menghubungi Agni yang ternyata terjebak macet. Ia kembali duduk di
hadapan Dayat dan Irshad.
“Sebentar lagi juga sampe.”
Alvin berujar setelah mendapatkan tatapan penuh tanya dari
kedua Papanya itu. Ia menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi, kemudian
membaca artikel yang di bawa oleh Papanya.
“Ini artikel udah lama Pa, lagian
kenapa Papa baru tanya ini?”
“Papa gak pernah baca artikel
itu, Papa cuma melihat sepintas saja. Tapi begitu Papa baca kalian itu
bener-bener ya... padahal tinggal bilang kalian sudah menikah dan akan segera
menggelar resepsi pernikahan kalian.”
Dayat menatap puteranya dengan tidak percaya. Melakukan hal
yang menurutnya sangat ceroboh. Bisa saja kan di luar sana ada yang mengincar
Agni kalau mereka tidak mempublikasikan hubungan mereka? Semua teman mereka dan
keluarga memang tau, tapi semua rekan bisnis mereka? cuma para Staf yang sering
meeting bersama dia saja yang mengetahui itu.
“Dalam bisniskan harus
profesional Pa, biarin ajalah kalo masalah itu. Lagian gak bakalan ada efek
apapun kok.”
Saat Dayat hendak membuka suara terdengar sebuah mobil
berhenti di pekarangan rumah itu. Mereka bertiga mengalihkan pandangannya ke
arah pintu.
Agni memasuki rumahnya hanya dengan menenteng tas, sementara
berkas sisa di simpan di dalam mobil. Ia tersenyum ke arah ketiga lelaki yang
senantiasa menunggunya, kemudian duduk di samping Alvin.
“Agni, cincin pernikahan kamu
mana?”
Agni mengerutkan keningnya menanggapi ucapan Irshad. Ia
melirik Papa-nya dan Alvin bergantian. Kenapa berasa tegang banget? Ada apaan
sih?
“Kan emang belum beli Pa.”
“Ya Tuhan Alvin! Kamu itu bener-bener
ya...”
Agni mengalihkan pandangannya pada Papa mertuanya, lalu pada
Alvin yang menanggapinya dengan datar saja. Ia menyenggol lengan Alvin, pemuda
itu menengok ke arahnya.
“Al... ngomong.”
Alvin menghela nafas begitu mendengar bisikan Agni, ia melirik
Papa-nya satu persatu.
“Begini Pa, rencananya Alvin mau
beli cincinnya nanti pas mau resepsi. Beberapa minggu setelah pelulusan. Gak
enak jugakan kalo mereka semua tau Alvin udah nikah padahal status Alvin masih
pelajar.” Alvin melirik Agni yang sedari tadi menatapnya. “Lagian, Alvin yakin
kok. Agni gak bakalan pindah kelain hati cuma gak Alvin beliin cincin. Iya
kan?”
Deg!
Pindah kelain hati? Setelah kedatangan Gabriel? Apa bisa?
Setelah yang mereka lalui bersama, walaupun Agni sempat
merasa kesal dengan pemuda itu. Tapi, tak bisa ia pungkiri bahwa rasa sayang
itu masih ada, masih tersisa dalam hatinya, yang mungkin suatu waktu bisa saja
kembali utuh.
“Sayang?”
“Eh... I.iya Al... aku gak
bakalan kok pindah kelain hati.”
Agni tersenyum di sela-sela ke gugupannya, ia mencoba
meyakinkan Alvin dengan ucapan alakadarnya itu.
“Alvin besok mau ke Bandung Pa,
Alvin titip Agni di rumah ya.”
Alvin berkata pada Irshad yang mendapat anggukan dari sang
mertua. Ia tersenyum pada Irshad lalu pada Agni, ia membelai rambut istrinya
itu dengan sayang. Bisakah ia meninggalkan istrinya itu?
“Setelah kamu pulang pokoknya
Papa mau resepsi Alvin.”
Alvin menghela nafas panjang, ia melirik ke arah Papanya
dengan malas kemudian mengangguk. Sebenarnya ia tidak yakin sepulang dari
Bandung tidak akan sibuk, tapi demi kepatuhan dan kesehatan kupingnya ia
mengangguk saja. Daripada harus menerima wejangan-wejangan terus menerus.
***
Alvin memeluk Agni dari belakang saat wanita itu duduk
dengan memeluk kedua lututnya di beranda belakang rumah mereka.
“Agni, sebaiknya kamu ajak Ify
jadi sekertaris sementara kamu deh.”
Agni memiringkan kepalanya, menatap Alvin yang menyimpan
dagu di bahunya. Matanya menyipit curiga. Kemaren aja Alvin mengancam akan
membunuh sahabatnya itu, tapi sekarang?
“Buat?”
“Ya bantu-bantu kamu. Sore ini
Debo juga bakalan dateng kesini ngurus berkas buat besok. Jadi kalo kamu setuju
kamu bisa ajak Ify juga kesini biar dia belajar sama Debo.”
Agni nampak berpikir, sedetik kemudian ia menganggukan
kepalanya dengan tangan yang menggapai ponselnya kemudian mengetikkan sesuatu
di sana.
Alvin menatap Agni dari samping tangan kirinya memainkan
poni Agni yang mulai memanjang, sementara tangan kananya mengelus permukaan
perut Agni. Ia terkekeh saat melihat Agni cemberut karena poninya acak-acakan.
“Al...”
Agni menyandarkan badannya di dada Alvin, entah kenapa ia
merasa sangat lelah setelah pertemuannya dengan Gabriel. Pikirannya benar-benar
butuh di jernihkan oleh kesih sayang Alvin.
“Kenapa?”
“Jangan lama-lama ya perginya?
Aku gak mau kamu pergi lebih dari tiga hari.”
Alvin terkekeh, ia melingkarkan tangan kirinya di pinggang
Agni, memeluknya erat. Sepertinya ia setuju dengan istrinya itu. Alvin menghela
nafas panjang.
“Aku usahain ya? do’ain aja
semoga disana gak ada masalah, jadi aku bisa pulang cepet.”
Agni mengangguk pelan. Ia menyamankan posisinya di dada
Alvin, mulai memejamkan matanya.
“Agni...”
Agni segera menegakkan posisi duduknya mendengar suara
cempreng khas sahabatnya itu, Ify. Apa benar Ify? Kenapa cepat sekali? Padahal
jarak rumah Ify ke tempat ini lumayan jauh. Perjalanan 45 menitan lah.
“Cepet banget loe Fy? Lagian kok
gue gak denger suara mobil loe sih?”
Ify memamerkan deretan giginya, ia duduk di samping Agni
menghadap ke taman belakang itu. Ia menunjuk rumah di sebelah rumah Agni dan
Alvin.
Agni dan Alvin saling melempar tatapan bingung. Tidak
mengerti dengan ucapan non-verbal sahabatnya itu.
***
Pagi itu Ify kembali pada kediaman Rio. Entah kenapa ia
rindu sekali dengan rumah itu. Sangat nyaman dan tenang. Berbeda sekali dengan
rumah-rumah lainnya.
“Fy.”
Ify tersenyum pada Rio yang memandangnya dengan tatapan
bingung, apalagi matanya yang agak membelalak membuat Ify tak bisa menahan senyumannya.
“Gue kira loe gak disini Yo. Gue
cuma pengen liat-liat rumah loe boleh gak?”
Rio tersenyum tipis lalu mengangguk. Ia melebarkan pintunya
agar Ify bisa memasuki kediamannya.
“Rumah loe nyaman banget lho Yo,
gue juga gak ngerti ada magnet apa di rumah loe. Sampe gue mau balik lagi
kesini.”
Rio terkekeh, ia merangkul pundak Ify. Membawa gadis itu
memenuhi keinginannya.
“Gue buat rumah ini dengan penuh
cinta, wajar dong nyaman.”
Ify memutar bola matanya, kesal.
“Gue kira pake pasir, semen,
betonan, besi sama bahan bangunan lainnya.”
Ify mencibir Rio yang semakin terkekeh. Kenapa pemuda itu
terlihat sangat bahagia?
“Duduk Fy.”
Rio mempersilahkan Ify duduk di kursi yang berada di halaman
belakang. Halaman belakang rumah ini tidak ada taman, taman di tata di samping
rumah. Itupun tidak begitu luas, mungkin hanya sebagai hiasan saja. Sementara
di hadapan Ify terlihat lebih sporty, dengan lapangan basket disana. Ada juga
pohon yang tidak begitu besar, tapi sepertinya akan sangat sejuk bila duduk di
bawah sana.
Ponsel Ify berdering tanda pesan masuk.
Fy, dateng ke rumah gue.
Jln. Kompleks Baru Blok B nomor 6. Gue tunggu.
“Kenapa Fy?”
Rio bertanya saat gadis itu terlihat kebingungan. Ify
menoleh ke arah Rio lalu menunjukan pesan dari Agni pada Rio.
“Lho? Inikan rumah yang itu, yang
sebelah kanan rumah gue.”
“Hah?! Masa sih?”
Rio mengangguk lalu menjelaskan bahwa rumahnya itu memang
berada di sebelah rumahnya. Ify mengangguk mengerti kemudian meminta Rio untuk
mengantarnya hingga rumah Agni.
“Ini rumahnya, udah ya gue balik
dulu.”
Ify tersenyum ke arah Rio kemudian ia mulai membuka gerbang
kediaman itu dan memasukinya.
Rio berbalik pada saat ia mendengar deruan mobil berhenti di
depan rumah Agni, ia memicingkan matanya begitu pengemudi itu juga menatapnya
dalam mobil itu. Sepertinya ia pernah menemui pemuda itu. Tapi kapan? Dimana?
***
Debo mencengkeram stir mobilnya dengan kuat sesaat setelah
memasuki halaman kediaman boss sekaligus sahabatnya. Ia menenggelamkan
kepalanya di atas stir itu. Bayangan malam itu kembali berkelebat dalam pikirannya.
Tanpa sengaja, Debo
melihat sebuah mobil yang berplat sangat ia kenali. IFY? Tak lain dan tidak
bukan adalah milik Ify, gadis masalalu yang datang kembali padanya,
menggoyahkan hatinya yang telah sempurna itu.
Tak lama setelah itu,
ia melihat gadis yang ia maksud keluar dari sebuah cafe dengan di angkat oleh
seorang pemuda, Ify mengalungkan tangannya dengan manja bahkan sesekali gadis
itu mengecup pemuda yang menggendongnya.
Rahang Debo mengeras
begitu pandangan mereka, bertemu. Pemuda itu terlihat tidak ambil pusing dengan
pandangan Debo, bahkan pemuda itu memasukan Ify dalam mobil yang bukan milik
Ify, lalu membawanya pergi.
Debo menarik nafas dalam, ia segera mengambil beberapa
dokumen yang Alvin minta kemudian beranjak dari dalam mobilnya itu.
***
“Kok kalian gak bilang sih pindah
rumah?”
Ify bertanya dengan tangannya yang sibuk mengambil camilan
yang di sediakan oleh Agni. Kini, mereka telah berada di ruang keluarga yang
berada di lantai atas.
“Buat apa? Toh kita jarang di
rumah.”
Agni melirik Alvin yang sesekali memandangi ponselnya dengan
heran. Sepertinya suaminya itu sangat gusar. Tapi kenapa?
“Kenapa Al?”
Alvin menengok saat ia merasakan sebuah sentuhan halus di
pipinya. Ia menarik tangan yang berada di pipinya itu, menggenggamnya.
“Gapapa sayang.”
Alvin mengelus puncak kepala Agni, ia tersenyum pada
istrinya itu dengan penuh.
“Hey, sorry gue telat...”
Agni dan Alvin mengalihkan pandangannya pada sumber suara,
begitupun dengan Ify. Ify mengembangkan senyumannya saat melihat orang yang
datang, ia segera menghampiri orang itu.
“Deb, kemana aja sih kamu? Aku
hubungin kamu tapi gak di respon-respon.”
Debo menatap Ify dengan dingin, ia tidak melemparkan
sedikitpun senyuman pada gadis itu. Ia tidak bisa berpura-pura dalam sikapnya,
sekarang ia harus memutuskan semuanya. Mengakhiri semuanya, dan memulai apapun
yang udah ada di depannya.
“Aku, ada.” Debo mengalihkan
pandangannya pada Alvin, ia berjalan pada bossnya itu. “Vin, nih file yang loe
minta. Gue harus cepet-cepet pulang.”
“Jangan cepet-cepet, gue minta
ajari Ify tugas loe. Selama gue pergi gue mau dia bantuin Agni.”
Debo terlihat menghela nafas panjang, ia melirik Ify yang
terlihat begitu bingung. Ia mengangguk kemudian mengajak Ify untuk menjauh dari
tempat itu.
Ify dan Debo duduk di balkon rumah Agni yang cukup luas.
Debo menjelaskan segala tugasnya pada Ify dengan begitu sabar, sementara Ify
menatap Debo tidak lepas. Seakan ia tak ingin kehilangan pemuda di hadapannya
itu lagi.
Debo menyadari hal itu, namun keputusan dalam dirinya sudah
bulat. Ia akan mengambil keputusan itu. Keputusan yang mungkin akan menyakiti
gadis di hadapannya ini untuk kedua kalinya.
***
Alvin terus memperhatikan Agni yang sedang menata pakaiannya
pada sebuah koper. Begitu telaten dan apik. Ia memperhatikan Agni semakin
intens, terlihat ada sebuah ketakutan dalam mata wanita itu.
Beberapa kali Agni menghela nafas panjang, ia bingung dengan
apa yang ia rasakan sekarang. Ia merasa enggan sekali untuk Alvin tinggalkan.
Seperti akan ada sesuatu yang membahayakannya.
Sebuah tangan memeluk pinggang Agni dengan lembut, secara
otomatis Agni berbalik dan tersenyum pada Alvin. Ia menangkupkan kedua
tangannya ke pipi Alvin.
“Kamu tetep pergi Al?”
Alvin mengangguk, ia mulai menghujam-hujamkan kecupan di
wajah Agni dengan lembut dan penuh perasaan. Ia mengeratkan pelukannya saat ia
merasa Agni memeluk lehernya.
“Aku bakalan kangen banget sama
kamu Al.”
Agni mengerang keras saat Alvin mulai menurunkan kecupan itu
ke lehernya. Begitu lama dan dalam. Agni meremas rambut Alvin saat ia merasakan
sebuah gigitan di lehernya.
“Sakit Al.”
Alvin menarik dirinya dari Agni, membiarkan Agni merapihkan
dahulu pakaiannya.
Ia duduk di tengah-tengah tempat tidur.
“Gimana pertemuan kamu sama
pemimpin Fahd?”
Agni terdiam, ia menghentikan aktifitasnya beberapa saat.
Menatap ke arah beberapa barang di hadapannya dengan tatapan kosong. Apa yang
harus ia katakan? Haruskah ia jujur?
Agni berbalik ke arah Alvin kemudian tersenyum, ia duduk di
samping Alvin setelah menyimpan koper yang akan di bawa suaminya itu di lantai.
“Gak buruk, tapi belum ada
hasil.”
Alvin menaikan satu alisnya, heran. Tumben sekali tidak ada
hasil dari satu pertemuan? Biasanya akan langsung ada hasil seberapa sulitpun
bagi Agni.
“Ada masalah Ni?”
Agni tersenyum agak memaksa kemudian menggeleng pelan. Ia
menyandarkan dirinya di dada Alvin.
“Gak ada, aku juga gak tau
kenapa.”
Alvin menghela nafas cukup panjang, ia mengelus-elus
istrinya itu yang mulai menguap. Akhir-akhir ini Agni memang selalu tidur di
bawah jam sembilan. Yang membuatnya harus menahan keinginannya.
“Agni...”
Alvin mengguncangkan tubuh Agni dengan lembut, namun gadis
itu etrlihat nyenyak sekali tidurnya yang membuat ia tidak tega. Ia merebahkan
Agni dan mengaturnya, agar istrinya itu nyaman dengan tidurnya.
Alvin menatap Agni dari dekat. Kemudian mengecup keningnya.
“Good night sayang. I love
you...”
***
Agni melambaikan tangannya pada Alvin yang setelah
sebelumnya mengantar ia untuk menginap di rumah Papanya, kini suaminya itu
telah pergi untuk ke luar kota. Ia menghela nafas panjang saat Alvin menghilang
di balik gerbang, ia berjalan kembali memasuki kediaman Papanya itu.
“Kamu harus terbiasa sayang,
jangan berat gitu dong ngelepasnya.”
Agni tersenyum masam pada Irshad yang sedang duduk di ruang
tamu dengan koran pagi di tangannya. Ia duduk di samping Papanya itu.
“Gabriel dateng lagi Pa. Klien
Agni kemaren itu dia.”
Irshad menatap Agni dengan terkejut, ia membuka kacamatanya
meyakinkan pada Agni.
“Kok bisa? Kamu udah cerita sama
Alvin?”
Agni menghela nafas panjang, ia menggelengkan kepalanya.
“Agni gak tau harus bilang apa
Pa. Apalagi Gabriel gak percaya kalo Agni udah nikah.”
Irshad membelalakan matanya, ia memegang kedua pundak
puterinya itu.
“Kamu serius sayang?”
Agni mengangguk lemah, ia merebahkan diri kedalam pelukan
Papanya. Ia bingung, rapuh. Ia takut, kalau ia cerita ia takut Alvin marah,
lalu menyakiti Gabriel. Kalau gak cerita dan Alvin tau dari orang lain itu akan
lebih parah.
Agni meraih ponselnya yang berdering.
“Ya Fy.”
“Agni. Ada Gabriel. Cepetan loe ke kantor.”
“HAH?! Ngapain dia kekantor. Usir
aja, gue cuma nerima yang udah janjian.”
“Katanya loe berdua udah janjian kemaren.”
Agni berdecak kesal, ia melirik ke arah Irshad yang
menatapnya dengan penuh tanya.
“Oke fine! Gue berangkat
sekarang, loe awasin dia jangan sampe ngomong sesuatu yang enggak-enggak sama
karyawan gue!”
“Kenapa Agni?”
“Gabriel dateng ke kantor Pa,
Agni berangkat dulu ya. dah..”
Agni segera mengambil langkah seribu menuju mobil sport berwarna
merah miliknya itu.
Telat sedikit saja bisa gawat!.
***
Ify beberapa kali menghela nafas panjang menanggapi ocehan
Gabriel yang sengaja ia bawa ke ruangannya. Ia tidak bisa membawa dia ke
ruangan Agni karena ruangan itu memiliki CCTV yang aktif, sementara ruangannya
ini tidak memiliki CCTV.
“Apa tujuan Kakak balik lagi? Gue
saranin loe cepetan pergi deh. Agni udah married.”
Gabriel terkekeh mendengar ucapan Ify. Dengan gaya angkuhnya
ia menyandarkan punggung dan menaikan satu kakinya di kaki yang lain. Ia
menatap Ify dengan tatapan geli.
“Gak mungkin, dia masih nunggu
gue lagi.”
“Jangan mimpi.”
Ify berdesis sadis, kemudian ia memfokuskan diri pada
laptopnya. Tak ia pungkiri, keringat dingin keluar di sekujur tubuhnya,
tangannya bergetar takut. Ia takut bertindak salah, salah sedikit saja
akibatnya pasti sangat fatal. Mengingat cerita Agni yang ternyata Alvin pernah
mengancam Agni akan membunuh dirinya. Apalagi dengan kedatangan Gabriel. Bisa-bisa sampe di mutilasi dan di kubur
beda tempat lagi. Ify menggelengkan kepalanya cepat, menyingkirkan hal
mengerikan itu dari pikirannya.
Clek.
“Selamat siang.”
Mata Ify berbinar begitu mendengar suara Agni. Ia segera
menghampiri sahabatnya itu dengan antusias. Ia berbisik.
“Syukurlah loe udah dateng.”
Agni melirik Ify lalu tersenyum kecil. Kemudian ia
mengalihkan pandangan pada Gabriel yang sudah menyambutnya dengan senyuman.
“Fy, tinggalin dulu gue berdua.
Gue mau ngomong privasi sama dia.”
Ify mengangguk kemudian keluar setelah meraih laptop dan
tasnya.
Gabriel menghampiri Agni yang masih berdiri mematung di
dekat pintu. Ia mengulurkan tangannya untuk mengelus pipi Agni.
“Apa mau kamu Gab?”
“Kamu.”
“Aku udah nikah.”
“Aku akan merebutmu kembali.”
“Gab. Aku udah bahagia sekarang.
Jangan ganggu gue!”
Gabriel menatap Agni dengan menyelidik kedalam mata Agni
yang menatapnya begitu tajam. Terlihat kejujuran disana, tapi tersimpan juga
luka. Entah luka apa.
“Oke. Aku gak bakalan ganggu kamu
lagi dengan syarat...”
Agni menatap Gabriel dengan was-was. Tapi ia harus tetap
bisa mendengarkannya, ia harus secepatnya menyingkirkan pemuda di hadapannya
ini demi kebaikannya.
“Hari ini... kencan seharian sama
aku.”
***
Alvin sekali-sekali melirik Debo yang ia pergoki beberapa
kali sedang melamun, ia heran dengan selertarisnya itu. Kenapa jadi aneh begini
semenjak kedatangan Ify? Apakah gadis itu efek buruk bagi Debo?
“Loe ada masalah apa sama Ify?”
Debo melirik lamban, ia menarik ujung bibirnya sedikit.
“Gak ada. Gue cuma lagi mikirin
acara pernikahan gue.”
“HAH?!”
Alvin menatap Debo tidak percaya. Selama ini sahabatnya itu
tidak pernah terlihat dengan seorang wanita manapun, tapi kenapa sekarang dia
mengatakan akan menikah? Dengan siapa? Apa mungkin Ify?
“Acaranya dua minggu lagi Vin,
gue harap loe dateng ya sama Agni.”
Alvin mengangguk. Ia menatao lurus kedepan. Masih memikirkan
sesuatu yang menurutnya janggal. Ia melirik Debo lagi yang kini terlihat
menyimpan luka dalam hatinya.
“Dengan alesan apa loe
cepet-cepet nikah gini? Sementara gue gak pernah liat loe bawa cewek.”
Debo tersenyum sinis. Ia melirik Alvin sekilas.
“Sama halnya sama loe. Loe juga
gak keliatan bawa cewek tau-tau nikah.”
Alvin menghela nafas panjang, sahabatnya ini memang pintar
sekali berkelit. Ia jadi capek sendiri menanggapinya.
“Eh Deb, gue mau itu.”
Alvin menunjuk sebuah gerobak penjual rujak.
Debo melirik Alvin dengan malas.
“Gak inget punya maag loe? Malem-malem
gini mau makan rujak. Lagian loe aneh banget sih, dari tadi terus aja mau ini
mau itu. Heran gue. Kayak ibu-ibu ngidam tau gak!”
Alvin terkekeh geli mendengar ocehan Debo. Ia lebih suka di
omeli begini daripada di diemin. Sahabatnya ini memang terlalu khas dengan
mengomelnya.
“Kayaknya sih gitu. Tapi bedanya
bini gue yang hamil.”
Debo membulatkan matanya.
“Jadi loe udah gituan sama Agni?”
Alvin mengangguk santai.
“Gila loe, masih sekolah juga. Gak
pake pengaman? Bukannya waktu itu loe minta gue beliin itu ya?”
“Pake sih.”
“TERUS?”
“Pernah sekali gak make.”
“APA?!”
Debo menatap Alvin dengan pandangan tak percaya. Sementara yang
ditatap malah dengan santai menyetop mobil dan turun menuju pedagang kaki lima
yang kali ini menjual makanan khas Bandung, Batagor.
***
Ify menatap layar ponselnya dengan gusar. Sesekali ia
meneguk minumannya dengan cepat. Ini sudah hampir satu setengah jam ia menunggu
Agni di cafe milik Cakka, sesuai janjinya beberapa jam yang lalu.
“Fy, gue tinggal dulu ya. kalo
butuh temen ajak Sivia ngobrol aja.”
Ify mengangguk pada Cakka yang terlihat sudah bersiap untuk
pergi. Cakka mulai kembali pada Cakka yang dulu pasca menghilangnya Agni. Ify
menghela nafas panjang. Semoga pada move
on deh yang suka sama Agni, termasuk Gabriel.
Begitu sampai di pelataran parkir Agni tidak langsung
memasuki cafe itu karena ia merasa perutnya begitu sakit dan kakinya pun begitu
pegal. Maag gue kambuh kali ya?
Saat ia hendak membuka pintu ia menutupnya kembali karena
melihat Cakka yang keluar dari cafe itu. Mau
kemana dia? Tujuan gue pengen ketemu eh malah pergi.
Agni meraih ponselnya yang berdering.
Ia mendesah lelah, dengan sesekali meringis.
“Al...”
“Sayang... kamu kenapa? Kok kayaknya kesakitan gitu?”
“Perut aku, sakit banget Al...”
“Kenapa? Kamu belum makan ya? cepetan makan gih aku gak mau kamu
kenapa-napa.”
Agni terkekeh kecil.
“Iya sayang, aku juga lagi mau
makan nih. Kamu udah makan?”
“Udah, yaudah makan dulu ya nanti aku telpon lagi. Bye”
“Iya, Bye”
Agni segera keluar dari mobilnya lalu berjalan ke arah cafe
itu, mencari sahabatnya.
“Fy.”
“Agni... loe kemana aja sih? Gue
khawatir tau takut si Gabriel apa-apain loe.”
Agni terkekeh kecil, ia mengambil makanan Ify dan
melahapnya.
“Agni... loe cerita dong. Sejak
kapan si Gabriel itu dateng? Kok loe gak cerita sih? Terus, tadi gimana?”
Agni menghela nafas panjang, ia mengaduk-aduk minuman yang
baru saja datang dengan malas. Ia melirik Ify sebentar.
“Gak tau, gue ketemu dia kemaren.
Gue belum bisa cerita Fy. Gue cuma ngdate biasa aja kok. Gak ada yang spesial
bagi gue.”
Ify menghela nafas panjang. Memasng susah kalau Agni gak mau
cerita, mengorek-ngorek sedikitpun sangat susah. Kini ia putuskan untuk diam
hingga seseorang menghampiri mereka.
“Hai Fy.”
“Eh hai Via. Sibuk ya?”
Gadis berlesung pipit itu tersenyum. Ia melirik Agni yang
juga tengah meliriknya, mereka saling melempar senyuman.
“Ag, ini Via. Bartender baru
sekaligus... tungangan Cakka.”
Pandangan Agni seketika menajam, ia tidak habis pikir pada
pemuda itu. Sebegitu cepatnya ia move on? Oh my God. Untung ia tak sempat
benar-benar mencintai pemuda itu, kalau benar-benar mencintainya ia yakin
sekarang akan sakit hati mendengarnya.
“Gue Agni, Cakka’s old friend.”
Sivia menganggukkan kepalanya pelan, mengingat-ingat
sesuatu. Oh God. Jadi ini Agni yang di
ceritain Cakka? Sivia menatap Agni menyelidik. Adakah indikasi wanita itu
akan merebut tunangannya sekarang?
“Tenang aja Via, Agni udah punya
suami.
Sivia mengalihkan pandangannya pada Ify yang seolah menjawab
pertanyaan di otaknya. Ia tersenyum tipis pada keduanya.
“Kalo gitu aku pergi dulu ya, aku
harus pergi nyusul Cakka. Bye.”
Agni dan Ify mengiringi Sivia dengan tatapannya, sepertinya
ada sesuatu. Agni yang tak mau ambil pusing malah menyantap makanan yang
beberapa saat lalu sampai, ia tidak mau mengambil resiko sakit gara-gara belum
makan.
Namun berbeda dengan Ify yang masih menatap ke arah Sivia
yang baru saja memasuki mobilnya. Sepertinya ada sesuatu yang aneh.
***
Agni merasakan sakit di bagian perutnya belum hilang juga. Ia
bangkit dari tempat tidur dengan meringis. Ya Tuhan... sebenernya kenapa sih
gue?
Agni menuangkan air yang memang selalu ada di sebelah tempat
tidurnya. Lalu meneguk air itu hingga habis.
Agni menghela nafas panjang, sakit di perutnya belum juga
hilang. Kemudian dengan tertatih ia beranjak menuju kamar mandi. Andai aja ada kamu Al... pasti kamu nolongin
aku.
Saat Agni mulai menapaki lantai kamar mandi yang licin kaki Agni
tergelincir. Dan...
“Aaaa...”
Bruk.
“Aw... argh... Papa...”
Seketika pandangan Agni menjadi gelap.
***
Bersambung.
Maaf semalem
ketiduran, jadi sebagai bonusnya aku udah panjangin beberapa lembar. :D
Terimakasih udah mau
baca :)
Makin seru ni ceritanya
ReplyDeletesukses deh buat kamu, jgn lama2 ya part selanjutnya :D :D