Friday, 24 May 2013

Between Love and Obsession Part 10

“HoneyMoon’s Trip”
Bab 10


Aku sangat bahagia melihat perubahan Rio, meskipun pada awalnya aku menyangka dia itu Fabio karena kata-katanya begitu lembut padaku tapi untunglah dia benar-benar Rio, suamiku.

Saat ini, aku dan Rio sedang berada di Kampung Sampireun Garut, Jawa Barat. Acara bulan mau kami ternyata telah di siapkan lebih matang oleh Mama daripada Rio. kami di beri libur satu bulan dan dengan perjalanan ke beberapa kota di Indonesia, aku sengaja tidak memilih perjalanan luar negeri karena aku ingin menjelajahi dulu luasnya keindahan Indonesia.

Di kampung ini benar-benar masih bersih dari polusi, udaranya sejuk dan nyaman airnya juga jernih, aku sangat betah berada disini.
Rio duduk di sebelahku setelah mandi dan memakai pakaian lengkapnya. Aku sedikit melirik ke arahnya lalu tersenyum.

“aku nyesel banget baru sadar sayang sama kamu sekarang Agni, dari dulu yang aku rasa sama kamu itu cuma kesel aja, gak ada manis-manisnya. Tapi, waktu kamu marah sampai kita pisah ranjang aku baru sadar kalo aku butuh kamu, aku bener-bener kehilangan kamu Agni, maaf ya... selama ini aku egois”

Aku mengelus pipi kirinya dengan senyuman yang belum terlepas dari bibirku. Aku rasa, aku tidak bisa melepaskan senyuman ini. hhh...

“lebih baik terlambat Rio, daripada tidak sama sekali”
“iya, tapi lebih baik sadar dari awal daripada harus terlambat menyadari”

Dia menyeringai ke arahku, aku menepuk dadanya perlahan. Aku merasa Rio benar-benar berubah menjadi sosok yang sangat menyenangkan, aku merasa Rio sekarang itu Rio yang lain. Aku menatap Rio yang sedang menikmati pemandangan di depan kami.

“Rio”
“hn”

Aku tersenyum kecil, ini yang membedakan Rio dengan orang lain. Aku sekarang sangat suka dengan kata itu, ‘hn’ nya membuat aku tau kalau dia itu benar-benar Rio.

“lihat ini, aku punya gambar-gambar perempuan dengan macem-macem gaya, aku mau tau kamu itu sukanya sama yang seperti apa sih?”

Aku memberikan gadget-ku yang sedari tadi aku pegang. Dia menerimanya dengan senang hati.

“kalo yang enggak kamu suka hapus aja”

Dia hanya mengangguk kemudian menyibukkan diri dengan gadget-ku, aku meraih kamera untuk membidik pemandangan yang sangat menakjubkan ini. aku agak menjauh dari Rio, lalu membidik ke arah Rio. sepertinya dia tidak menyadarinya, haha... syukurlah.

Oiya, di dalam gadget-ku ada beberapa kategori, ada yang memakai pakaian serba pendek, ada yang memakai pakaian tertutp tapi ketat, ada yang memakai pakaian tertutup dan longgar. Dengan kategori make up masing-masing ada yang sederhana ada yang berlebihan. Aku benar-benar tidak sabar melihat hasilnya, aku akan berusaha menjadi wanita yang di sukai Rio. aku tidak mau dia jijik padaku.

Taklama setelah itu, dia menyerahkan kembali gadget-ku, aku segera melihatnya. Yang tersisa hanya gambar-gambar wanita memakai pakaian tertutup yang longgar dan make up sederhana. Kenapa? Aneh sekali dia. Padahal kebanyakan lelaki akan lebih menyukai wanita yang memakai pakaian seksi dan make up yang ‘wow’.

“gak salah Rio?”
“enggak”

Aku hanya bisa mengangkat satu alisku, heran. Sangat heran! Dia benar-benar berbeda dengan lelaki lain. aku baru menyadari kalau aku juga memang seperti itu, aku tidak pernah memakai pakaian yang pendek kecuali gaun malamku saat dulu awal pernikahan kami, itupun tidak pernah aku pakai lagi karena aku merasa lebih nyaman dengan pakaian malamku yang biasanya.

“kenapa Rio? kenapa kamu lebih menyukai wanita seperti ini?”

Dia terkekeh, kemudian meraih gitar yang ada di sana. Memangkunya dan berdandar di pilar tangga.
Hey, apa pertanyaanku itu konyol? Sampai dia terkekeh seperti itu?

“wanita yang memakai pakaian tertutup itu, buat aku membuat penasaran karena seluruh badannyakan selalu tertutup. Kalau yang memakai pakaian pendek, sudah tidak aneh lagi. Ya... itu sih menurutku, kalau menurut oranga lain sih gak tau”

Aku tersenyum kecil, bener juga sih apa kata Rio. tapi bukannya jarang sekali ya? lelaki yang berpikiran seperti itu... tapi aku bersyukur, karena dengan begitu aku tidak perlu khawatir dia akan mencintai wanita lain atau affair dengn wanita lain.

Mengenai affair, aku benar-benar malu sendiri pada Rio karena sudah menuduhnya macam-macam. Tapi yang masih aku pertanyakan sekarang, sebenernya siapa yang nyuri ponsel Rio? apa tujuannya? Aku tidak habis pikir dengan apa yang wanita itu lakukan. Ihh... menyebalkan!

“besok kita ke Lombok”

Aku memutar tubuhku menghadapnya, ap-apaan ini? baru juga dua hari aku bisa menikmati pemandangan disini, masa udahan sih? Gak asik banget!

“kamu pasti lebih betah disana Agni, gak usah manyun gitu”

Aku hanya bisa memutar bola mataku kesal, aku memunggunginya. selalu saja, dia bertindak seperti diktator! Ohh Tuhan, salah apa aku sampai Engkau memberikan suami sepertinya padaku?
Oh God...

“oiya, apa tubuhmu telah membaik?”

Tubuhmu?
Seketika wajahku memanas, mungkin telah memerah membayangka perlakuan Rio malam tadi, Rio benar-benar... ahh tidak usah di jelaskan lebih rinci, yang jelas sukses membuat sekujur tubuhku sakit dan ngilu di beberapa bagian.

“Agni...”

Dia menyentuh pundakku, aku masih enggan berbalik. Aku hanya menganggukan kepalaku cepat, kalau aku memaksakan berbicara pasti akan sangat terlihat kegugupanku dimatanya. Aku merasa dia menurunkan tangannya dan menjauh lagi dariku. Hhh...

“aku mau anakku nanti kembar, lelaki-perempuan seperti kamu dan Ray”

Aku mengelus poniku frustasi, ya tuhan... apa menurutnya membuat anak itu semudah dia menangani permasalahan kantornya? Dia sangat ringan sekali menyebutkan itu, emangnya dia merasa akan berhasil? Ihh...

***

Setelah dua hari di Garut, hari ini aku dan Agni terbang menuju Lombok. Aku yakin dia akan lebih terperangah dengan pemandangan disana, apalagi sunset-nya... aku sampai tidak mau pulang kalau sudah berada di sana.

Aku melirik Agni yang tertidur di sampingku. Hhh... setelah malam itu aku tidak pernah melakukannya lagi pada Agni, aku benar-benar takut dia sakit lagi. Apalagi, dia sampai menangis. Hhh... aku tidak mau dia menangis lagi. Kapok! Aku sangat tidak tega melihatnya.

Aku mengusap wajahku, lalu menarik kepala Agni ke arah pundakku. Aku selalu senang melihat wajah damainya seperti ini, aku mengelus perutnya. Andai saja disini ada kehidupan, pasti aku akan sangat bahagia.

Aku merasakan ada tangan yang lebih kecil dari tanganku menungkup di atas tanganku yang mengelus perutnya. Aku tersadar.
Aku menunduk untuk menatap Agni yang ternyata sedang menatapku, dia tersenyum padaku. Hhh... akhir-akhir ini dia begitu ceria, aku senang sekaligus takut. Takut dia akan kecewa lagi padaku dan takut kehilangannya, kehilangan senyuman dan keceriaannya lagi.

“kalo tuhan percaya sama kita, tuhan pasti ngasih yang terbaik, Rio”

Benar! Aku sekarang harus berusaha membuat tuhan yakin kalau aku pantas di berikan keturunan. Aku sangat mengharapkannya, semoga tuhan mengabulkan keinginanku. Amin...
Aku mengelus rambut Agni dengan lebut.

“sebentar lagi kita mendarat”

Setibanya di resort yang telah di siapkan, Agni langsung tertidur, mungkin ia lelah. Aku merebahkan tubuhku di sampingnya, mengelus rambut yang menutupi wajahnya.
Mimpi indah sayangku...
Aku mengecup keningnya cukup lama kemudian aku juga mulai memejamkan mataku, menyiapkan energi untuk memandangi sang surya berlabuh di ufuk barat dan menyambut bulan dan bintang yang akan datang menemani malam kami.

***

Aku mulai membuka mataku saat sebuah guncangan kecil di pipiku, sebuah kecupan hangat mendarat di pipiku. Tubuhku benar-benar terasa lemah, aku sangat lelah sekali.

“bangun, kamu lama sekali tidurnya”

Aku terkekeh melihat Rio yang terlihat cemberut, apa iya aku tidur selama itu? Sampai dia merasa bosan dan membangunkanku.

skype yuk sama Angel, aku kangen banget sama dia”

Rio terlihat mengangguk, kemudian ia beranjak turun dari tempat tidur. Aku memutuskan untuk pergi terlebih dahulu ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku, karena aku rasa Rio telah mandi dan bersiap akan pergi.

Taklama setelah itu aku keluar, lengkap dengan pakaianku. Aku segera duduk di samping Rio yang masih mengotak-atik gadget-nya.

“kita mau pergi lagi?”

Dia terlihat mengangguk, lalu menyimpan gadget-nya di meja. Menunggu Angel muncul di layar.

“Mama... Papa...”
“An... Mama kangen”
“An juga Ma... An nyesel gak ikut, disini di cuekin terus sama Oom Ray”
“di cuekin? Sekarang Oom Ray nya mana An?”
“tuh lagi sibuk telponan”
“marahin aja An Oom Ray nya”

Aku terkekeh saat dia menggelengkan kepalanya, sangat lucu.

“An gak kangen Papa?”
“kangen dong Pa, jangan lupa bawa oleh-oleh ya buat An”
“iya”

“An ikut Oom Ray ke kantor?”
“iya Ma, kan Oom Ray nya sibuk, jadi gak bisa nemenin An di rumah”

Hhh... dasar Ray, untung saja An gak rewel kalo lagi sama Ray, coba kalau rewel? Pasti ribet banget deh. Ray Ray...
Aku melihat Angel berbincang dengan seseorang, mungkin Ray. Dia juga menyerahkan gadget-nya.

“ada apa Ray?”
“ponsel Rio Agni, ponselnya ada di Oik!”
“Oik? Kok bisa?”

“apa Ray? Jadi dia yang bawa?”
“iya, aku belum sempet ketemu langsung sih, tapi Sivia udah liat dengan mata kepalanya sendiri”
“tolong urus ya, thanks udah kasih tau”
“oke... ehh Angel udah cemberut tuh di cuekin, udahan ya”

“ada apa sih Ma? Pa? Kayaknya heboh banget”
“enggak kok sayang... kamu udah mau masuk sekolah lagi ya?”
“iya, dan aku yakin Daddy... ops... maksudnya Oom Ray lupa lagi”

Aku dan Rio saling berpandangan. Daddy? Maksudnya siapa? Apa mungki Ray? Ckckck... aku tidak menyangka, Ray yang paling benci sama anak-anak sekarang berubah menjadi pecinta anak-anak. Tapi syukurlah, kalo dia masih benci sama anak-anak gimana sama Angel dong.

“Papa, Mama udahan dulu ya... An mau dinner sama Oom Ray”

Aku terkekeh melihat wajah merahnya, lucu sekali anak itu. Eh tunggu, sejak kapan Angel tau istilah dinner? Wah, Ray! Pasti ngajaarin yang gak bener nih.
Setelah memutus koneksi dengan Angel, Rio membereskan kembali gadget-nya. Aku merasa bahuku di tarik ke arahnya, merebahkan sebagian tubuhku di dadanya.

Aku merasa debaran jantung Rio begitu cepat, aku mengelus dada kiri Rio dengan tangan kananku. Aku ingin selalu mendengarkan debaran jantung ini, aku tidak pernah bisa membayangkan bagaimana jika debaran jantung ini berhenti. Aku benar-benar takut. Bahkan sangat takut.

Aku memejamkan mataku, meresapi setiap detakan jantung Rio yang berpacu cukup cepat. Aku tak bisa menahan diriku sendiri untuk tidak memeluk pinggang Rio. aku merasa nyaman dalam dekapannya, merasa di lindungi dan di sayangi. Aku tidak pernah bosan dengan pelukan hangat ini.

***

Aroma tubuh dan rambutnya tidak pernah berubah, dari semenjak aku bisa menghirupnya.
Aku mendekap tubuh Agni yang terasa begitu kecil. Apa jika aku dulu bisa menikmati hariku dengan Agneta akan seperti ini? tapi, aku rasa tidak.
Meskipun Agni dan Agneta itu orang yang mirip, tapi segala sesuatunya pasti akan berbeda. Dari sifat dan sikapnya, Agni yang cenderung menyembunyikan kekesalan atau kebahagiaannya hanya dengan cemberut atau tersenyum, sementara Agneta, dia cenderung terbuka. Sekesal apapun, dia pasti akan senantiasa memberitahu tanpa berpikir apakah orang itu akan tersinggung atau tidak.

“Rio...”
“hn”

Aku menatap Agni yang ternyata menatapku, mungkin sejak tadi. Aku merasa aneh padanya, dulu, dia pernah protes gara-gara aku selalu menanggapinya dengan ‘hn’. Tapi sekarang? Dia selalu tersenyum bahagia saat aku mengeluarkan kedua huruf itu.

“bisa kamu melonggarkan pelukanmu?”

Aku mengerutkan keningku, heran. Kenapa? Apa aku tidak bisa membuatnya nyaman dengan perlakuan seperti ini? apa aku tidak cukup membuanya damai dalam pelukanku?

“sesak sayang...”

Dengan cepat aku melepaskan pelukanku. Jujur, aku kaget dengan apa yang dia katakan.

“Agni, apa aku menyakitimu? Aku terlalu posesif? Maaf... ada yang sakit lagi?”

Agni  tersenyum. Tuhkan, aku menyakitinya saja dia masih bisa tersenyum. Ah... aku bingung harus bersikap seperti apa padanya. Aku benar-benar tidak mengerti sifat wanita. Dia menarik tanganku untuk memeluknya lagi, aku menuruti saja.

“segini aja ya...”

Aku mengelus puncak kepalanya, kemudian mengecup keningnya cukup lama. Aku sangat merasa bahagia dengan keberadaan Agni yang begitu sabar menanggapiku.

“jalan-jalan yuk, biasanya pemandangan sore itu bagus”
“yuk”

Dia menegakkan duduknya. Aku bangkit terlebih dahulu kemudian mengulurkan tanganku untuk menariknya agar bangkit. Dia menyambutnya dengan senang.

Sepanjang perjalanan, aku selalu merangkul pinggangnya. Dia juga melakukan hal yang sama padaku. Hhh...

“aku mau makanan khas lombok ya... sekalian kamu fotoin aku”
“oke cantik”

Aku mengajak Agni menuju restaurant yang menyajikan seluruh makanan khas lombok. Matanya terlihat berbinar.

“seneng?”
“banget, aku bisa makan sepuasnya tanpa mikirin lagi berat badan aku. kan sekarang bukan model lagi, bolehkan Rio?”

Aku terkekeh melihat tingkahnya, aku mengacak-acak poninya dengan gemas. Aku bukan tipe lelaki yang suka dengan tubuh wanita yang ideal, aku lebih menyukai wanita yang apa adanya. Mengenai aku menyukai Agni, itu kebetulan saja aku menyukainya, bukan karena tubuh idealnya.

“kita kesana yuk, sebentar lagi ada sunset”

Agni mengikutiku berjalan ke arah pagar pembatas antara restaurant dan pantai. Ini memang tempat favorite ku, aku selalu menyempatkan kesini kalau aku ke Lombok. Aku merasa melupakan sesuatu. Agni tiba-tiba masuk dalam tanganku yang keduanya sedang menggenggam pagar pembatas itu, sekarang dia menghadapku. Pasti dia marah, terlihat dari wajahnya yang cemberut. Haha... lucu sekali dia. Aku mengecup hidungnya dengan gemas, wajahnya seketika memerah kemudian ia membalikkan tubuhnya menjadi membelakangiku.

“jangan marah”

Aku berbisik kemudian memeluk dia dari belakang. Aku begitu menyukai posisi seperti ini, walaupun saat dia tidak memakai highheels badannya lebih pendek dariku, tapi tidak mengurangi rasa nyamanku terhadapnya. Dari sini, aku bisa menghirup aroma rambutnya yang terasa aroma terapi bagiku. Saat sekalut apapun kalau aku menghirup aroma rambutnya pasti aku langsung merasa tenang. Hhmm...

“Rio... kenapa?”

Aku mengangkat kepalaku, kemudian mengacak-acak rambutnya pelan. Ada rasa yang aneh dalam diriku. Ya Tuhan... kenapa aku? apa aku sakit?

“kita pulang ya”

Kenapa suaraku serak? Oh NO!!!

***

Aku merasa sebuah tangan yang berat sekali berada di punggungku, aku mulai membuka mataku, mendongakkan wajahku dan sapuan dari nafas Rio langsung mengenai wajahku, begitu teratur.

“Agni...”

Aku tersenyum saat melihat Rio ternyata sudah membuka matanya, aku mengangkat tanganku untuk mengelus pipinya.

“apa aku nyakitin kamu lagi?”

Aku hanya bisa menggeleng, dia begitu lembut padaku, dia tidak pernah menyakitiku sekalipun. Aku bahagia bersama Rio, sangat bahagia.
Rio menurunkan tangannya yang berada di punggungku. Kenapa? Padahal aku sama sekali tidak terganggu, ya walaupun memang berat sih.

“maaf, pasti berat ya?”

Aku menggeleng pelan. Dia mengecup hidungku dengan gemas.
Apa hidungku selucu itu? Sampai sebelum atau sesudah tidur dia selalu mengecupnya seperti itu? Hmm...
Ponsel Rio berdering, aku meraihnya. Karena aku lebih mudah untuk menjangkaunya.

“Angel, ada apa pagi-pagi gini?”
“lho? Coba angkat aja, siapa tau aja ada yang penting”

“hallo An?”
“Mama...”

Kenapa lagi? Kenapa Angel seperti sedang marah seperti itu? Apa Ray berbuat yang aneh lagi? Dasar anak itu!

“kenapa sayang? Mau bicara sama Papa?”
“enggak, itu Ma... Oom Ray”
“kenapa Oom Ray?”
“Oom Ray lupa terus, masa jam segini baru mandi, An kan mau berangkat ke sekolah, gimana kalo kesiangan?”

Rio meraih ponsel itu. Mungkin pembicaraan kami terdengar olehnya mengingat telingaku dan telinganya juga sangat dekat.

“An kenapa manja banget sama Oom Ray? An kan bisa berangkat sama Oom Irshad, biasanya juga sama Oom Irshad”
“tapi Pa... An kan maunya sama Oom Ray”
“An... Oom Ray kan sibuk, kasian... kalo Oom nya kecapean terus sakit gimana?”

Aku hanya bisa melihat perdebatan antara bapak dan anak itu, aku khawatir Angel malah akan semakin tidak bersemangat kalau Rio malah membela Ray.
Aku kembali merebut ponsel Rio.

“udah, nanti Mama marahin Oom Ray nya... sekarang, An sarapan aja dulu ya? Oom Ray gak pernah lama kok mandinya”
“beneran ya marahin?”
“iya sayang, entar Mama marahin kalo Oom Ray nya udah di kantor”
“iya, yaudah kalo gitu”
“iya, bye An... Mama sayang kamu”
“An juga... dah Mama”

“kamu terlalu memanjakan Angel”

Aku mengerutkan kening, terlalu memanjakan Angel? Bukannya sebaliknya? Dulu katanya dia gak mau kalau ada orang yang menolak keinginan Angel, tapi sekarang?

“aku kan cuma nurutin apa kata kamu dulu”
“ini sekarang Agni... Angel tidak bisa mandiri kalo di manja terus”

Aku diam, terpaku dengan kata-kata tajamnya. Iya, memang benar apa yang ia katakan. Tapi, tidak bisa langsung jugakan? Semuanya harus melalui tahapan, agar Angel tidak merasa tidak terperhatikan. Dengan kesal aku meraih jubah tidurku kemudian beranjak ke kamar mandi tanpa mempedulikan Rio yang terus memanggilku. Aku benar-benar marah padanya! Aku tidak suka dengan cara dia mendidik Angel.

***

Beberapa hari kemudian, setelah kejadian pagi itu. Aku merasa Agni menjadi sangat sensitif, aku juga bingung. Kenapa dia seperti ini? aku perhatian, salah! Aku tidak perhatian, apalagi!
Sebenernya dia kenapa? Apa yang sebenarnya dia mau?
Saat aku bertanya penyebabnya, dia bilang gak peka.
Saat aku tanya, apa gara-gara pagi itu? Dia bilang bukan.
Aku tanya ini-tanya itu, semua jawabannya tidak ada yang memuaskan. Hanya membuatku semakin bingung.

Hingga tanpa terasa liburan kami telah mencapai satu bulan, aku menghabiskan waktuku bersamanya dua minggu di lombok dan dua minggu lagi di kepulauan riau.
Aku sangat bahagia melihat ekspresinya saat melihat resort yang kami tinggali. Satu lagi pengetahuanku tentang Agni bertambah, dia suka kolam dengan air yang sangat jernih. Dan dengan sangat kebetulan, Mama menyiapkan resort yang berada di atas kolam dengan air yang begitu jernih. Hingga, Agni enggan jalan-jalan. Dia hanya menghabiskan harinya di pinggir kolam, dengan alasan tubuhnya sekarang cepat lelah dan ia merasa sangat lemah.

Apa dia sakit?
Saat aku ingin membawanya ke dokter dia enggan, aku semakin bingung dengan apa yang harus aku lakukan untuknya.
Hingga dengan terpaksa kami mengundur kepulangan kami.
Mama dan Papa sampai terheran-heran, tapi aku mencoba menjelaskannya dengan pelan-pelan dan akhirnya mereka mengerti.

“Agni... kita makan siang dulu”

Aku mendudukan diriku tepat di belakangnya, dia sedang asik mengayun-ayunkan kakinya di atas air.
Aku memeluk pinggangnya karena bosan tidak ia tanggapi.

“Agni...”
“aku gak laper Rio...”
“Agni... tadi kamu sarapan sedikit, jangan mencoba membohongi aku”
“aku tidak bohong”
“Agni... please”

Aku mencoba merendahkan nada bicaraku agar dia bisa menurutiku, aku benar-benar khawatir dengan ke adaanya sekarang.

“kamu harus tau sesuatu Rio, aku kurang suka dengan caramu memerintah seseorang, aku juga tidak suka dengan caramu mendidik Angel, kalau memang kamu tidak mau Angel manja, kenapa dulu kamu manjakan? Aku benar-benar bingung sama kamu”

Dia menghela nafas begitu panjang kemudian berdiri, aku mengikutinya.

“apa kamu akan seperti itu sama anak kita nanti? Aku tidak mau kamu memanjakannya dari kecil tapi setelah itu kamu tidak memanjakannya lagi, yang aku mau kamu itu tidak terlalu memanjakannya nanti, aku tidak mau kamu menyakitinya seperti kamu menyakiti Angel”
“iya sayang... iya, maaf aku salah”
“iya, kamu emang salah. Anak kita nanti akan aku urus dengan baik”

Anak kita! Anak kita! Anak kita! Terus saja anak kita! Selalu saja membuatku berharap pada sesuatu yang belum tentu aku bisa dapatkan. Dia menyerahkan sesuatu padaku kemudian beranjak memasuki kamar. Aku mengamati benda itu. Apa?

“POSITIF?”


***

Bersambung...

1 comment: