Chapter 1
Sarang
***
“Aku akan menyiapkan makan malam, mandilah Ji Hyo-ya.” ucap Jong Kook begitu keduanya
memasuki apartemen yang selama ini ditempati Ji Hyo.
“Biar aku yang melakukannya Oppa, kau yang mandi.” Ji Hyo berdiri dihadapan Jong Kook, membuka
topi dan jaket yang dikenakan pria itu.
“Kaja!.”
Ji Hyo mendorong dada Jong Kook.
Jong Kook tersenyum melihat wanitanya ini
memperlakukannya begitu manis. Ia adalah pria yang paling beruntung yang bisa
mendapatkan wanita seperhatian dan sepengertiannya. Jong Kook lagi-lagi menarik
kepala Ji Hyo, mengecupnya sesaat kemudian memeluknya.
“Malam ini aku akan pulang ke Anyang.”
“Mwo-ya?.”
Ji Hyo melepas pelukan Jong Kook dengan memaksa. Bagaimana mungkin pria ini
akan meninggalkannya dan baru memberitahukan itu padanya sekarang?
“Sebenarnya Eomeoni
memintaku untuk mengajakmu. Tapi, managermu mengatakan kau besok ada
pengambilan gambar untuk majalah. Jadi aku mengatakan akan pulang sendiri.”
“Ya! Oppa.
Bagaimana mungkin aku tidak datang jika Si-eomeoni
memintaku datang?.” Ji Hyo menatap Jong Kook marah, selalu saja seperti ini.
Pria ini tidak pernah meminta pendapatnya jika ia sedang ada pekerjaan.
“Yeobo, beberapa
hari lagi kita akan pergi ke Indonesia. Kau harus segera menyelesaikan
pekerjaanmu. Aku akan segera kembali pulang kesini.” Jong Kook mengelus kedua
pipi Ji Hyo, menenangkan wanitanya ini.
“Oppa...”
Jong Kook mengecup bibir Ji Hyo ringan, “Mandilah, setelah
ini kita makan. Aku akan menemanimu hingga kau tidur.”
“Arasseo.”
Selalu saja seperti ini, Jong Kook tak pernah bisa
membuat Ji Hyo marah. Pria ini selalu saja ada cara untuk meluluhkan hati
wanitanya itu. tidak salah jika pria ini memang sangat Ji Hyo cintai.
***
Jong Kook sampai dikediaman kedua orangtuanya. Tak
biasanya orangtuanya ini ingin bertemu dengannya. Apakah mereka merindukannya?
Seperti ia merindukan mereka? setelah Jong Kook memutuskan tinggal ditempat Ji
Hyo beberapa bulan lalu, ia memang belum sempat mengunjungi orang tuanya ini.
“Eomeoni.”
Sapa Jong Kook pada seorang wanita paruh baya yang sedang melipat pakaian
didalam rumah.
“Kau datang?.” Tanya Seo Ha, Ibu Jong Kook
“Ye. Kau
sehat Eomma?.” Jong Kook memeluk erat
Ibunya.
“Ji Hyo benar-benar tidak datang?.” Seo Ha
mengalihkan pertanyaannya pada puteranya itu. sebenarnya ia sangat berharap
mereka berdua datang bersama.
“Mianhaeyo
Eomma. Aku meminta Ji Hyo menyelesaikan pekerjaannya, beberapa hari lagi
kami akan pergi ke Indonesia.” Jelas Jong Kook, berharap Ibu nya ini memahami
kebijakannya.
“Ara. Kau
sudah mengatakannya.” Ucap Seo Ha, ia kembali melipat pakaiannya.
“Eomma,
istirahatlah.”
“Kenapa kalian masih saja merahasiakan pernikahan
kalian? Jika seperti ini, bisa saja ada yang merebut Ji Hyo darimu.”
“Eomma...”
“Tak banyak gadis sepertinya, diluar sana pasti
banyak yang menginginkannya. Eomma
hanya mengkhawatirkan kalian berdua. Begitu juga Appa-mu.” Seo Ha menatap puteranya itu dengan lembut. Terkadang
anaknya ini begitu keras kepala.
“Arasseoyo Eomeoni.”
“Jadi kau mengakui banyak yang menyukai Ji Hyo?.”
“Ye.”
Seo Ha menepuk pundak Jong Kook pelan, “Pikirkanlah
baik-baik. Eomma-mu ini menyayangi
kalian.” Kemudian ia pergi setelah menyelesaikan perkataannya.
Sepeninggal Seo Ha Jong Kook terdiam, ia merebahkan
tubuhnya diatas pembaringan yang telah disiapkan oleh Ibunya, ia menerawang
pada kejadian beberapa saat lalu. Ia ingat jelas bahwa banyak lelaki yang
menginginkan wanitanya itu. Gary salah satunya, sahabat karibnya itu memang
sejak lama tertarik dengan Ji Hyo. Saat ia menunggu Ji Hyo ia melihat jelas
seberapa inginnya Gary pada Ji Hyo.
“Apa yang harus aku lakukan?.” Guman Jong Kook pada
dirinya sendiri.
***
“Anyang benar-benar indah Song Ji Hyo-ssi. Darimana kau tau tempat seindah
ini? jika bukan kau yang menginginkan pemotretan ditempat ini, mungkin kami
tidak akan pernah tau ada tempat seindah ini.”
Ji Hyo tersenyum puas mendengarkan ucapan manager
salah satu majalah yang terkenal di Korea. Ini memang rencananya, karena
bagaimana pun juga ia harus menemui Jong Kook dan keluarganya disela-sela
kesibukannya.
“Aku telah mengatakannya. Baik, apakah pemotretannya
cukup?.” Tanya Ji Hyo, ia sudah tidak sabar ingin mengunjungi orangtua Jong
Kook. Setengah hari ini ia begitu bersemangat dan ingin segera
menyelesaikan pekerjaannya.
“Ye. Kau
akan segera mendapatkan hasilnya Song Ji Hyo-ssi.”
“Baiklah. Aku pergi sekarang. Annyeong.” Pamit Ji Hyo.
Ji Hyo pergi bersama managernya, managernya ini
memang telah mengetahui segalanya, bagaimanapun juga dia adalah salah satu
orang yang selalu berada didekanya.
“Kau boleh pulang, aku akan menginap.” Kata Ji Hyo
saat ia telah sampai didepan kediaman Jong Kook.
“Ara!.
Jangan lupa kalian akan pergi ke Indonesia.”
“Ne.” Ji
Hyo mengangguk pertanda mengerti.
“Annyeong.”
“Annyeong
Kaseyo.” Ji Hyo melambaikan tangannya kemudian ia membuka pagar rumah itu.
ia akan membuat kejutan untuk semua orang yang ada disini.
“Ji Hyo-ya.”
“Eomeoni.”
Ji Hyo membungkukan badannya sesaat kemudian memeluk Seo Ha yang tadi sedang
memeriksa beberapa tanaman yang berada dihalaman rumahnya.
“Kau datang?.” Tanya Seo Ha dengan senyuman yang
begitu merekah diwajahnya.
“Ye. Aku
tidak mungkin mengabaikan permintaanmu Eomeoni.”
Seo Ha menggiring Ji Hyo untuk duduk, keduanya duduk
berhadapan. Sembari memperhatikan taman kecil yang dirawat oleh Seo Ha.
“Mian Ji
Hyo-ya, Jong Kook selalu saja
membuatmu menurutinya. Maafkan dia yang meminta segala hal darimu dan
merepotkanmu.”
“Anio Eomeoni.”
Ucap Ji Hyo dengan senyumnya. Seo Ha memang selalu meminta maaf saat bertemu
dengannya atau bahkan jika menghubunginya lewat telpon. Ini semua karena Jong
Kook yang meminta merahasiakan hubungan mereka dari publik karena menurut Jong
Kook itulah yang terbaik untuk karir wanitanya ini. Sementara itu tak ada yang
dapat dilakukan lagi selain menurutinya.
“Kapan kalian berencana memiliki seorang anak?.”
Ji Hyo menghela nafas panjang, selama beberapa bulan
pernikahannya ini tak pernah ada anak dalam obrolannya bersama Jong Kook.
Meraka hanya memikirkan pekerjaan dan pekerjaan, tak ada lagi yang lain.
Seo Ha menghela nafas saat tak ada jawaban dari Ji
Hyo, puteranya itu memang terlalu dingin hingga istrinya saja dibuat bingung
dengan pertanyaan seperti itu.
“Tidak usah dipikirkan. Eomma hanya mengingatkan saja, umur kalian bertambah setiap
tahunnya begitu juga kami Eomma dan Appa.
Sebaiknya segera memikirkan hal itu.”
“Mianhaeyo
Eomeoni.”
“Tidak perlu meminta maaf, Eomma hanya mengingatkan saja.” Seo Ha berdiri, “Istirahatlah, kau
pasti lelah. Eomma akan menyiapkan
makan malam untuk kalian.”
“Anio. Aku
akan membantu Eomma.”
Seo Ha tersenyum kemudian mengajak Ji Hyo memasuki
dapur untuk menyiapkan beberapa menu masakan.
“Eomeoni.
Jong Kook Oppa kemana?.”
“Dia pergi bersama Appa-nya.” Jawab Seo Ha.
Pintu tiba-tiba terbuka.
“Ya! Yeobo.”
Panggil Jong Kook.
“Ye. Oppa.”
“Kau merindukanku?.”
Seo Ha tersenyum melihat kelakuan anak semata
wayangnya yang sedang menggoda istrinya.
***
Jong Kook menatap Ji Hyo yang tak banyak bicara,
semenjak pulang dari Anyang kemarin dia benar-benar diam dan hanya bicara
seperlunya saja. Apa yang terjadi dengannya?.
Ji Hyo mendekati Byul, istri Ha Ha. Para member
Running Man memang sedang mengadakan latihan untuk fan meeting di Indonesia.
“Go Eun-ah.”
“Ne, waeyo Eonni?
“Annyeong
Dream.” Ji Hyo melambaikan tangannya pada Putera Ha Ha dan Byul itu. ia
merenggangkan kedua tangannya, membawa anak itu dalam pelukannya.
“Go Eun-ah,
bagaimana perasaanmu setelah memiliki anak?.” Tanya Ji Hyo.
Byul menatap Dream yang tertawa riang saat dari
kejauhan digoda oleh Appa-nya.
“Bahagia, aku tidak pernah menyangka memiliki anak akan semenyenangkan ini.”
“Bagaimana dengan karirmu?.”
“Mereka semua mengerti dan membuat jadwal untukku
dengan wajar. Dream tidak pernah menjadi penghalangku untuk berkarir.”
Ji Hyo terdiam, ia mengelus punggung Dream yang
memeluk lehernya begitu erat. Benarkah seperti itu? apakah hal yang sama akan
terjadi padanya?
“Segeralah menikah Eonni, memiliki seorang anak tidaklah buruk.”
Ji Hyo hanya tersenyum mendengarnya, ia melirik Jong
Kook yang sedang berlatih dan sesekali bercanda dengan Ha Ha dan Jae Suk.
Melihat Ha Ha dan Jong Kook, mereka benar-benar berbeda. tapi apakah Jong Kook
akan seperti Ha Ha? Ataukah lebih baik dari itu?.
“Annyeong
Dream.” Sapa Gary yang tiba-tiba saja duduk disamping Ji Hyo, Dream yang
terkejut segera berbalik dan berlari kearah Byul.
“Segeralah menikah dan memiliki anak, kau akan tau
bagaimana rasanya Ji Hyo Eonni.” Ucap
Byul sementara tangannya memeluk Dream yang manja, putera kecilnya itu
mengantuk.
Gary mengerutkan keningnya bingung, “Mworago? Apa baru saja dia menyuruh kita
untuk menikah?.” Tanya Gary dengan nada menggoda. “Kaja kita menikah Ji Hyo-ya.”
“Geumanhae
Kang Gary!.”
***
Jong Kook menarik Ji Hyo dalam pelukannya begitu
keduanya memasuki Apartemen. Ia tidak tahan dengan sikap diam Ji Hyo, wanita
itu membalas pelukannya.
“Gwaenchana?.”
Tanya Jong Kook masih belum melepaskan pelukannya.
“Gwaenchana Oppa.”
Ji Hyo membenamkan wajahnya pada dada bidang Jong Kook, terlalu banyak yang
bersarang dalam pikirannya. ia benar-benar bingung harus berbicara darimana
dengan pria yang memeluknya ini.
“Katakanlah, apa yang membuatmu diam seperti ini?.”
tanya Jong Kook. “Apakah Eomeoni
mengatakan sesuatu padamu kemarin?.”
Ji Hyo menarik dirinya dari Jong Kook. “Anio Oppa. Aku lelah, kita istirahat
saja. Besok kita akan berangkat.” Setelah mengatakan itu ia berlalu begitu saja
dari hadapan Jong Kook.
Jong Kook menghela nafas panjang, ia mengingat-ingat
sikap Ji Hyo seharian ini, ini membuatnya benar-benar bingung.
“Byul!.” Jong Kook ingat, saat beristirahat tadi ia
membicarakan sesuatu dengan istri dongsaeng-nya
itu.
Jong Kook segera mendial nomor Ha Ha. Apakah
percakapan mereka ada sangkut pautnya dengan sikap Ji Hyo hari ini?.
“Yeoboseyo Dong
Hoon-ah.”
“Ye. Hyung.”
“Apakah Byul sibuk? Ada yang harus aku tanyakan
padanya.”
“Waeyo Hyung?
Katakan saja padaku.”
“Ani Dong
Hoon-ah, mian. Suatu saat aku akan menceritakannya padamu.”
“Arasseoyo.”
Jong Kook menunggu beberapa saat, terdengar
percakapan kecil antara pasangan suami-istri itu.
“Yeoboseyo
Jong Kook Oppa?.”
“Ye Byul, aku ingin bertanya.”
“Mwo?.”
“Kulihat tadi kau bersama Ji Hyo, apa yang kalian
bicarakan?.”
“Anio Oppa, Geureonde... Oppa kami
membicarakan tentang anak, Ji Hyo Eonni
menanyakan tentang perasaanku saat setelah memiliki Dream. Hanya itu.”
“Oh, Gomawo
Byul-ah. ”
“Ye, Oppa. Apakah
terjadi sesuatu dengannya?.”
“Ani Go
Eun-ah. Maaf aku mengganggu waktumu. Gomawo. Annyeong.”
Jong Kook menghela nafas panjang begitu mengakhiri
percakapan dengan Istri sahabatnya itu. apakah Ji Hyo bersikap seperti itu
karena menginginkan seorang anak? Tapi kenapa dia hanya diam saja tidak mengatakan
apapun?
Kamar telah remang pertanda Ji Hyo telah tertidur.
Jong Kook membaringkan diri disamping Ji Hyo, ia memeluk wanita yang sangat ia
sayangi itu begitu erat.

No comments:
Post a Comment