Friday, 20 December 2013

BIJI in Love. Part 9

Part 9: Marry Me? (2)

***

Agni menatap Patton yang telah mengenakan pakaian dinas, bersiap untuk mengoperasinya. Dalam mimpi terdalampun tak pernah sedikitpun ia memimpikan sosok Patton, apalagi menjadi calon istrinya, ataukah ia memang melupakan segalanya tentang kisah cintanya bersama Patton?
Patton yang merasa di perhatikanpun melirik ke arah Agni, ia menurunkan maskernya tangan kanannya naik untuk mengelus pipi Agni.

“Aku mencintaimu...”


Agni tersenyum menanggapinya. Entahlah... jujur saja ia memang bingung harus menanggapi ini seperti apa.
Patton mendekat dan mengecup dahi serta kedua pipi Agni. Agni hanya diam dan menutup matanya, mencoba mengingat kepingan-kepingan masalalunya.

“Aku akan melakukan yang terbaik. Kamu udah siap?”
“Iya, aku percaya sama kamu. Lakukanlah...”

Perlahan kesadaran Agni mulai menipis, membuat Patton menarik nafas panjang dengan mata terpejam begitu erat. Bisakah ia melakukan ini? bagaimana ini gagal? Bagaimana jika Agni tidak selamat? Tidak seperti yang ia harapkan? Ya Tuhan... hanya padamu aku meminta, lancarkanlah segalanya. Amin.

            Patton menaikan kembali maskernya, sekali lagi ia menarik nafas panjang.

“Sus...”
“Iya Dok...”

***

Seluruh keluarga besar Agni menunggu di luar ruang operasi dengan cemas. Apalagi Shilla, ia tak hentinya mondar-mandir kesana-kemari sambil menggigit kuku jarinya, menandakan kepanikan dia. Tak berbeda jauh dengan Shilla, Ify dan Sivia pun merasakan panik. Namun berbeda cara pelampiasannya. Ify lebih memilih diam sambil membaca buku, sementara Sivia dengan kue-kue yang sengaja ia buat sebelum datang ke rumah sakit.

Gabriel, Alvin, Rio dan Cakka juga ada. Keempatnya duduk di bangku tanpa melakukan apapun. Mereka berempat berdo’a agar operasinya lancar dan dengan segera mendapatkan kejelasan dari Agni. Mereka perlu jawaban Agni yang di berikan pada Patton. Mereka harus tau, secepatnya.

Beberapa jam berlalu penuh penantian akhirnya pintu ruangan operasi itu terbuka. Para susterlah yang pertama terlihat.

“Silahkan Bu, Pak, pasien sudah dapat di temui. Maksimal 2 orang.”

Kiki dan Riva mengangguk, mereka berpamitan dulu pada cucu-cucunya untuk memasuki ruangan itu. saat memasuki ruangan yang pertama kalinya mereka lihat adalah betapa sabarnya Patton yang sedang menyadarkan Agni dari pengaruh obat biusnya.

“Nak Patton.”

Patton berbalik kemudian tersenyum samar, satu sisi ia memang lega dengan lancarnya operasi Agni. Namun, apakah ia sanggup jika nanti Agni tak lagi seperti dulu.

“Oma, Opa.”

Kiki merangkul pundak Patton. Meremasnya pelan.

“Setelah dipikir-pikir, Opa sama Oma setuju jika kamu memang ada niat serius bersama Agni.”

Patton menghela nafas. Apakah yang harus ia rasakan? Senang? Entah kenapa perasaannya sekarang jurtru malah putus asa jika mengingat kondisi Agni yang tak ingat dengan hubungan mereka.

“Kenapa Nak? Sepertinya kamu tidak senang?”

Patton menatap Riva, lalu menghembuskan nafas pelan.

“Bukan begitu Oma, tapi Saya ragu... ragu kalo Agni mau kembali menjalin hubungan bersama saya. Apalagi jika mengingat Kakak-Kakak saya yang ternyata mereka juga menyukai Agni. Mereka tidak menerima hubungan saya bersama Agni. Mereka malah meminta saya untuk melamar Agni lagi, karena mereka ragu tentang hubungan kami.”

Kiki melirik Riva yang menarik nafas dalam. ia faham dengan jalan pikiran anak muda dihadapannya ini.

“Sabar saja. Kalau Agni jodoh kamu, Agni pasti jadi milik kamu. Tuhan tidak akan pernah salah memberikan pendamping terbaik untuk umat-umatnya.”

Patton mengangguk. Ya, dia memang harus berusaha sebijak mungkin untuk menghadapi itu. ia tak boleh menjadi seperti anak kecil yang tak bisa menerima kenyataan. Ia harus menerima apapun keputusan Agni nanti dengan lapang dada. Meski, pada akhirnya ia harus meninggalkan gadis yang ia cintai. Itu tak apa... karena jodoh, maut, bahagia dan tidak bahagia itu sudah di atur. Tak akan ada yang bisa merubahnya.

***

“Laper.”
“Ya makanlah. Bego banget sih jadi cewek.”

Ify mendengus sebal saat Alvin lagi-lagi membuatnya kesal. Ia tak butuh respon lelaki menyebalkan itu karena pada dasarnya ia berucap bukan untuk direspon.

“Gak usah banyak omong deh ya. nyebelin banget sih jadi cowok.”
“Terimakasih. Saya anggap itu sebuah pujian.”

Agni dan Patton tersenyum geli melihat itu apalagi Ify yang semakin cemberut akibat ulah Alvin. Alvin dan Ify yang duduk di sofa tak jauh dari bangsal yang di tempati Agni.

“Lucu ya mereka. aku gak ngerti deh kenapa mereka gak pacaran aja. Cocok kok.”

Patton melirik Agni yang berkomentar. Ia tersenyum kecut. Manamungkin Alvin mau pacaran, dia kan juga nungguin kamu, sayang.

“Hey. Kok ngelamun.”

Patton tersenyum pada Agni dengan tulus. Ia bangkit kemudian menghadap ke arah Agni.

“Aku tugas dulu ya. jangan terlalu malem tidurnya.”

Agni tersenyum, ia bahagia mendapatkan perhatian seperti itu. apalagi saat Patton mengelus puncak kepalanya.

“Kamu juga jangan lupa istirahat.”
“Iya, Mimpi indah.”

Setelah mengucapkan itu Patton mengecup pipi kanan Agni setelah itu berlalu. Agni terdiam sejenak. Apakah Patton memang terbiasa melakukan itu padanya dulu?
Agni menepuk pinggir kepalanya pelan. Kenapa aku gak inget sedikitpun?

***

Patton mendorong Agni dengan kursi roda mengelilingi rumah sakit. Kebetulan saat itu Patton tidak masuk kerja. Agni terlihat begitu menikmati saat-saat kebersamaannya bersama Patton, karena baginya Patton adalah seorang pria yang begitu istimewa, dalam segala hal.

“Aku tinggal pemulihan aja ya? kapan aku bisa latihan jalan?”

Patton terkekeh.

“Iya. Mungkin besok sayang. Kamu udah gak sabaran banget ya?”

Agni tersenyum dan mengangguk.

“Aku mau normal lagi. Gak mau nyusahin kamu terus.”

Patton berdecak. Ia menghentikan langkahnya di taman kemudian berlutut di hadapan Agni.

“Denger. Kamu, gak pernah nyusahin aku. Bagi aku, kamu emang terpenting dalam hidup aku. Aku gak akan merasa kamu nyusahin. Justru aku akan sangat nyesel kalau lewatin masa-masa merawat kamu. Apapun yang kamu lakuin, aku gak pernah merasa kamu nyusahin aku Ni, kamu itu separuh jiwa aku. Percaya atau enggak, itu memang kenyataan.”

Agni lagi-lagi tersenyum. Ia membelai wajah Patton dengan lembut, sementara Patton mengecup telapak tangan Agni yang melalui bibirnya membuat Agni tersenyum entah keberapa kalinya.

“Aku percaya.”

Patton meraih kedua tangan Agni, lalu mengecupnya bergantian.

“Makasih sayang.”

Agni mengangguk.

“Makan yuk. Kamu pasti di rumah belum makan kan?”

Patton mengelus pipi kiri Agni.

“Kamu ini, lagi sakit masih aja sempet mikirin aku.”

Agni terkekeh. Ia meraih tangan Patton yang masih berada di pipinya.

“Meskipun aku gak inget sepenuhnya tentang kamu, tapi aku inget kalo kamu gak pernah ninggalin saparan kamu, tapi beberapa hari ini kamu gak sarapan, iyakan?”
“Ahh ketauan.”
“Iya dong.”

Patton mencubit hidung Agni dengan gemas kemudian kembali mendorong kursi roda itu menuju kantin yang tak jauh dari taman itu. Tanpa menyadari tatapan seseorang yang sejak tadi menatap mereka dengan pandangan tak rela.

Sesampainya di tempat tujuan Patton menempatkan kursi roda Agni berdampingan dengan kursi yang akan ia duduki.

“Kamu mau?”

Agni menggeleng saat melihat Patton mulai menyantap bubur yang baru saja ia beli.

“Entar kamu gak kenyang lagi kalo aku minta.”

Patton terkekeh lalu sebelah tangannya terulur menggapai puncak kepala Agni.

“Hai. Aku cariin di kamar gak ada, taunya kamu ada disini.”

Agni mengalihkan pandangannya pada seorang pria yang baru saja datang dan sekarang duduk di hadapannya. Ia tersenyum.

“Iya. Oiya... aku lupa, kamu itu...”
“Cakka. Masa lupa sih sama yang paling ganteng.”

Agni terkekeh kecil dengan sebelah tangan memukul lengan Cakka gemas. Sementara Patton hanya diam, mengamati tujuan dibalik sikap Cakka yang tiba-tiba menjadi lembut seperti itu. pasti ada sesuatu, gak mungkin gak ada. Pasti ada udang di balik batu.

“Patton kok kamu gak bilang sih Cakka Kakak kamu.”

Patton menatap Agni dan tersenyum tipis.

“Aku kan udah bilang Alvin Kakak aku, ya berarti Cakka juga dong.”
“Oh iya. Lupa.”

Patton hanya bisa menanggapinya dengan senyum kembali.

“Kirain aku gak di akuin. Eh iya jalan-jalan yuk.”

Agni melirik Patton sekilas. Ia ragu, ia merasa sepertinya ada yang tidak beres dengan kondisi Patton.

“Nanti aja ya? kita jalan bertiga, kita nungguin Patton aja dulu sampe dia selesai makannya.”

Cakka tersenyum dengan begitu manisnya, ia menyilangkan tangannya di atas meja dengan tatapan yang tak lepas dari Agni.

“Aku aneh ya? kok gitu banget liatinnya?”
“Enggak kok. Aku cuma pengen aja liatin kamu. Emangnya kamu gak sadar kalau kamu cantik?”

Agni tersipu, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, malu.

“Aku biasa aja kok. Gak usah berlebihan.”
“Ya tapi kamu emang cantik kok.”

Agni mengulum senyumannya.

“Kalo gitu terimakasih.”
“Sama-sama. Kalo gitu bilang dong kalo aku juga ganteng.”

Agni tertawa.

“Iya ganteng. Gangguan telinga. Haha...”

Patton menatap Agni dan Cakka bergantian. Ini pertama kalinya ia melihat Agni tertawa pasca kecelakaan itu. apa aku emang gak pantes buat kamu Ni? Aku gak bisa buat kamu ketawa kayak kamu sama Kak Cakka. Apa... aku harus nyerah aja?

***

Patton dan Cakka duduk di bangku di depan kamar rawat Agni. Tak ada kesan bersahabat lagi seperti beberapa menit yang lalu, tak ada lagi canda tawa di antara mereka. yang ada hanya aura dingin dan panas yang bercampur dalam satu suasana.

“Kapan loe mau lamar Agni lagi?”

Patton mendesah pasrah. Ia melirik ke arah Cakka malas.

“Setelah terapi pengobatan kaki-nya Agni.”
“Berapa lama?”
“Paling cepat satu bulan.”
“Gak. itu kelamaan. Gue kasih waktu buat loe dua minggu.”
“Tapi...”

Cakka melirik Patton tersenyum meremehkan.

“Loe takut Agni gak nerima loe? Bukannya kemaren-kemaren loe yakin Agni itu beneran sayang sama loe?”
“Gak. bukan itu.”
“Apa lagi? Ketakutan loe cuma itu, loe takut kalah dan harus ninggalin Agni. Gitukan?”

Patton menangkupkan kedua telapak tangannya pada wajahnya.

“Aku gak tau.”

Cakka menepuk pundak Patton. Namun Patton tak bergeming.

“Kalo Agni emang jodoh loe, gue yakin Agni pasti cuma buat loe. Tapi, kalo jodoh gue lambat laun Agni juga pasti cuma milik gue. Siapapun jodoh Agni toh kita gak tau kan? Hidup bawa slow aja, gak usah tegang gitu.”

Patton menarik tangannya lalu berdiri tegak kemudian menatap Cakka dengan takjup.

“Kak...”
“Hm.”
“Itu pidato terpanjang yang pernah aku denger.”

Patton berucap dengan nada dan wajah tanpa dosa-nya.

“Sialan loe.”

Cakka tersenyum geli sambil meninju pelan lengan Patton, sementara yang ditinju malah tertawa geli melihat reaksi Cakka yang baru ia lihat ini.

***

Esoknya, sesuai rencana Agni menjalani terapi bersama Patton yang di dampingi oleh Kiki, Riva, Sivia dan Gabriel. Meski Agni hanya mampu berjalan satu dua langkah itu cukup membuat orang-orang yang berada disana senang, terutama Patton. Meski ia berkali-kali harus membangunkan Agni tapi ia tak pernah merasakan lelah sedikitpun, ia menjalaninya dengan sukarela dan rasa yang begitu tulus.

“Vi, makan mulu kamu.”

Riva menegur Sivia yang memang sedang menenteng setoples Cookies buatannya sebelum ia berangkat menjenguk Agni. Niat awalnya ia membuatkan itu untuk Agni, namun ia malah menunggui Agni terapi jadilah ia yang bosan dan ia juga yang malah memakan kue buatannya sendiri.

“Iya, Katanya buat aku. tapi udah mau abis aja.”

Sivia hanya memamerkan deretan giginya. Lalu menyuapkan satu cookies-nya lagi kedalam mulutnya. Cukup membuat Gabriel geleng-geleng kepala menyaksikannya.

“Ni, udah ya terapinya. Lagian dipaksain jugakan gak baik. Mendingan istirahat aja dulu.”

Agni mengangguk kemudian berjalan perlahan dengan di papah oleh Patton. Agni melirik Patton yang begitu telaten memapahnya. Jika benar masa depan aku Patton, aku akan sangat beruntung mendapatkan pria yang penuh dengan kasih sayang.

***

Waktu terus bergulir, hingga tanpa terasa dua minggu telah berlalu. Kesehatan Agni membaik, karena sekarang sudah bisa menggunakan tongkat, bukan kursi roda lagi. Meski terkadang ia memang di paksa Patton menggunakan kursi roda.
Sepertis saat ini, setelah di terapi pasti Agni diharuskan Patton menggunakan kursi roda terlebih dahulu, meski Agni malas namun ia harus menuruti apa kata pakarnya itu.

“Aku duluan ya keluarnya sama Oma sama Opa.”

Patton tersenyum kemudian mengangguk. Ia melirik Oma dan Opanya yang mengedipkan sebelah mata memberi suatu kode yang hanya di balas oleh sebuah anggukan kecil.

“Yuk sayang, kita keluar.”

Kiki mendorong kursi roda Agni keluar dari ruangan itu. ia di dampingi istrinya tersenyum bahagia, sebentar lagi... Semoga akan ada perkembangan...

“Dokteerr...”

“Opa stop. Itu... dari ruangan tadikan?”
“Eh...”
“Kita kesana lagi Opa, Agni khawatir sama Patton.”


Tanpa banyak bicara Kiki mendorong kembali kursi roda itu berbalik arah. Teriakan meneriaki kata Dokter-pun semakin banyak.

“Patton kenapa?”
“Dokter Agni. Ini... Dokter Patton.”

Agni bangkit dan berjalan ke arah bangsal dimana Patton berada. Ia duduk di atas bangsal itu. sementara, tanpa mereka sadari orang-orang yang berada di ruangan itu berangsur-angsur meninggalkan Agni bersama Patton.

“Patton! Bangun. Aku tau kamu cuma becanda. Tapi sayangnya becandaan kamu gak lucu tau.”

Agni melipat tangannya di dada, lalu menepuk-nepuk dada Patton.

“Bangun ih, kalo gak bangun aku tinggal nih.”

Agni tak main-main dengan ucapannya, ia benar-benar turun dari bangsal dan berbalik untuk meninggalkan Patton. Tapi bersamaan dengan itu Agni merasakan sebuah tangan menggapai tangannya.

“Agni...”

Agni tersenyum, kemudian ia berbalik. Namun, saat melihat Patton yang terlihat merengut ia terdiam. Apa aku melakukan kesalahan?

“Cara inilah yang aku lakukan saat akan melamarmu.”

Agni tertunduk, sedih. Kenapa? Kenapa aku gak bisa inget semuanya?

“Maaf.”

Patton bangkit, ia tersenyum miris mendapati kekasihnya yang benar-benar tak ingat apapun tentang historis kisah percintaan mereka.

“Gapapa. Mungkin kamu emang belum inget. Oiya...” Patton mengeluarkan sesuatu dari saku jas kebanggaannya. “Marry Me?”

Itu... Agni melirik jarinya yang dihiasi sebuah cincin yang sama persis dengan cincin yang di pegang Patton. Apakah semua ini nyata?

Patton merasakan keraguan mendominasi Agni, tak seperti dulu saat Agni menjawab dengan penuh keyakinan. Salah jika ia merasa Agni memang bukan jodohnya?

“Agni... aku gak bakalan maksa kamu buat ngejawab sama seperti dulu. Tapi yang perlu kamu tau, aku akan selalu sayang sama kamu, dan kamu selalu ada disini...” Patton menunjuk dada sebelah kirinya. “Disini.” Patton menunjukkan arah dadanya. “Dan disini.” Yang terakhir Patton menunjuk kepalanya.

Agni memejamkan matanya. Ia menatap Patton putus asa. Apa yang harus aku katakan? Aku harus jawab apa? Aku tau, aku tau Patton sayang banget sama aku. aku rasain semuanya. Agni menghela nafas dan tersenyum kemudian memeluk Patton.

“Aku akan sangat beruntung kalo hidup sama kamu, menghabiskan sisa umurku sama kamu Patton...”

***

Bersambung.

Part 10: ??? (kira-kira apa ya? rahasia dong. :D)

1 comment:

  1. Asli keren banget ni ceritanya, Agni dipasangkan sama siapa aja cocok banget dah

    jangan lupa untk sllu tag di fb aku yaa

    sukses buat kamu :)

    ReplyDelete