Part 9: Marry
Me? (2)
***
Agni menatap Patton yang telah
mengenakan pakaian dinas, bersiap untuk mengoperasinya. Dalam mimpi terdalampun
tak pernah sedikitpun ia memimpikan sosok Patton, apalagi menjadi calon
istrinya, ataukah ia memang melupakan segalanya tentang kisah cintanya bersama
Patton?
Patton yang merasa di perhatikanpun
melirik ke arah Agni, ia menurunkan maskernya tangan kanannya naik untuk
mengelus pipi Agni.
“Aku mencintaimu...”
Agni tersenyum menanggapinya.
Entahlah... jujur saja ia memang bingung harus menanggapi ini seperti apa.
Patton mendekat dan mengecup dahi
serta kedua pipi Agni. Agni hanya diam dan menutup matanya, mencoba mengingat
kepingan-kepingan masalalunya.
“Aku
akan melakukan yang terbaik. Kamu udah siap?”
“Iya,
aku percaya sama kamu. Lakukanlah...”
Perlahan kesadaran Agni mulai
menipis, membuat Patton menarik nafas panjang dengan mata terpejam begitu erat.
Bisakah ia melakukan ini? bagaimana ini gagal? Bagaimana jika Agni tidak
selamat? Tidak seperti yang ia harapkan? Ya
Tuhan... hanya padamu aku meminta, lancarkanlah segalanya. Amin.
Patton
menaikan kembali maskernya, sekali lagi ia menarik nafas panjang.
“Sus...”
“Iya
Dok...”
***
Seluruh keluarga besar Agni menunggu di luar ruang
operasi dengan cemas. Apalagi Shilla, ia tak hentinya mondar-mandir
kesana-kemari sambil menggigit kuku jarinya, menandakan kepanikan dia. Tak
berbeda jauh dengan Shilla, Ify dan Sivia pun merasakan panik. Namun berbeda
cara pelampiasannya. Ify lebih memilih diam sambil membaca buku, sementara
Sivia dengan kue-kue yang sengaja ia buat sebelum datang ke rumah sakit.
Gabriel, Alvin, Rio dan Cakka juga ada. Keempatnya
duduk di bangku tanpa melakukan apapun. Mereka berempat berdo’a agar operasinya
lancar dan dengan segera mendapatkan kejelasan dari Agni. Mereka perlu jawaban
Agni yang di berikan pada Patton. Mereka harus tau, secepatnya.
Beberapa jam berlalu penuh penantian akhirnya pintu
ruangan operasi itu terbuka. Para susterlah yang pertama terlihat.
“Silahkan
Bu, Pak, pasien sudah dapat di temui. Maksimal 2 orang.”
Kiki dan Riva mengangguk, mereka berpamitan dulu
pada cucu-cucunya untuk memasuki ruangan itu. saat memasuki ruangan yang
pertama kalinya mereka lihat adalah betapa sabarnya Patton yang sedang
menyadarkan Agni dari pengaruh obat biusnya.
“Nak
Patton.”
Patton berbalik kemudian tersenyum samar, satu sisi
ia memang lega dengan lancarnya operasi Agni. Namun, apakah ia sanggup jika
nanti Agni tak lagi seperti dulu.
“Oma,
Opa.”
Kiki merangkul pundak Patton. Meremasnya pelan.
“Setelah
dipikir-pikir, Opa sama Oma setuju jika kamu memang ada niat serius bersama
Agni.”
Patton menghela nafas. Apakah yang harus ia rasakan?
Senang? Entah kenapa perasaannya sekarang jurtru malah putus asa jika mengingat
kondisi Agni yang tak ingat dengan hubungan mereka.
“Kenapa
Nak? Sepertinya kamu tidak senang?”
Patton menatap Riva, lalu menghembuskan nafas pelan.
“Bukan
begitu Oma, tapi Saya ragu... ragu kalo Agni mau kembali menjalin hubungan
bersama saya. Apalagi jika mengingat Kakak-Kakak saya yang ternyata mereka juga
menyukai Agni. Mereka tidak menerima hubungan saya bersama Agni. Mereka malah
meminta saya untuk melamar Agni lagi, karena mereka ragu tentang hubungan
kami.”
Kiki melirik Riva yang menarik nafas dalam. ia faham
dengan jalan pikiran anak muda dihadapannya ini.
“Sabar
saja. Kalau Agni jodoh kamu, Agni pasti jadi milik kamu. Tuhan tidak akan
pernah salah memberikan pendamping terbaik untuk umat-umatnya.”
Patton mengangguk. Ya, dia memang harus berusaha sebijak
mungkin untuk menghadapi itu. ia tak boleh menjadi seperti anak kecil yang tak
bisa menerima kenyataan. Ia harus menerima apapun keputusan Agni nanti dengan
lapang dada. Meski, pada akhirnya ia harus meninggalkan gadis yang ia cintai.
Itu tak apa... karena jodoh, maut, bahagia dan tidak bahagia itu sudah di atur.
Tak akan ada yang bisa merubahnya.
***
“Laper.”
“Ya
makanlah. Bego banget sih jadi cewek.”
Ify mendengus sebal saat Alvin lagi-lagi membuatnya
kesal. Ia tak butuh respon lelaki menyebalkan itu karena pada dasarnya ia
berucap bukan untuk direspon.
“Gak
usah banyak omong deh ya. nyebelin banget sih jadi cowok.”
“Terimakasih.
Saya anggap itu sebuah pujian.”
Agni dan Patton tersenyum geli melihat itu apalagi
Ify yang semakin cemberut akibat ulah Alvin. Alvin dan Ify yang duduk di sofa
tak jauh dari bangsal yang di tempati Agni.
“Lucu
ya mereka. aku gak ngerti deh kenapa mereka gak pacaran aja. Cocok kok.”
Patton melirik Agni yang berkomentar. Ia tersenyum
kecut. Manamungkin Alvin mau pacaran, dia
kan juga nungguin kamu, sayang.
“Hey.
Kok ngelamun.”
Patton tersenyum pada Agni dengan tulus. Ia bangkit
kemudian menghadap ke arah Agni.
“Aku
tugas dulu ya. jangan terlalu malem tidurnya.”
Agni tersenyum, ia bahagia mendapatkan perhatian seperti
itu. apalagi saat Patton mengelus puncak kepalanya.
“Kamu
juga jangan lupa istirahat.”
“Iya,
Mimpi indah.”
Setelah mengucapkan itu Patton mengecup pipi kanan
Agni setelah itu berlalu. Agni terdiam sejenak. Apakah Patton memang terbiasa
melakukan itu padanya dulu?
Agni menepuk pinggir kepalanya pelan. Kenapa aku gak inget sedikitpun?
***
Patton mendorong Agni dengan kursi roda mengelilingi
rumah sakit. Kebetulan saat itu Patton tidak masuk kerja. Agni terlihat begitu
menikmati saat-saat kebersamaannya bersama Patton, karena baginya Patton adalah
seorang pria yang begitu istimewa, dalam segala hal.
“Aku
tinggal pemulihan aja ya? kapan aku bisa latihan jalan?”
Patton terkekeh.
“Iya.
Mungkin besok sayang. Kamu udah gak sabaran banget ya?”
Agni tersenyum dan mengangguk.
“Aku
mau normal lagi. Gak mau nyusahin kamu terus.”
Patton berdecak. Ia menghentikan langkahnya di taman
kemudian berlutut di hadapan Agni.
“Denger.
Kamu, gak pernah nyusahin aku. Bagi aku, kamu emang terpenting dalam hidup aku.
Aku gak akan merasa kamu nyusahin. Justru aku akan sangat nyesel kalau lewatin
masa-masa merawat kamu. Apapun yang kamu lakuin, aku gak pernah merasa kamu
nyusahin aku Ni, kamu itu separuh jiwa aku. Percaya atau enggak, itu memang
kenyataan.”
Agni lagi-lagi tersenyum. Ia membelai wajah Patton
dengan lembut, sementara Patton mengecup telapak tangan Agni yang melalui
bibirnya membuat Agni tersenyum entah keberapa kalinya.
“Aku
percaya.”
Patton meraih kedua tangan Agni, lalu mengecupnya
bergantian.
“Makasih
sayang.”
Agni mengangguk.
“Makan
yuk. Kamu pasti di rumah belum makan kan?”
Patton mengelus pipi kiri Agni.
“Kamu
ini, lagi sakit masih aja sempet mikirin aku.”
Agni terkekeh. Ia meraih tangan Patton yang masih
berada di pipinya.
“Meskipun
aku gak inget sepenuhnya tentang kamu, tapi aku inget kalo kamu gak pernah
ninggalin saparan kamu, tapi beberapa hari ini kamu gak sarapan, iyakan?”
“Ahh
ketauan.”
“Iya
dong.”
Patton mencubit hidung Agni dengan gemas kemudian
kembali mendorong kursi roda itu menuju kantin yang tak jauh dari taman itu.
Tanpa menyadari tatapan seseorang yang sejak tadi menatap mereka dengan
pandangan tak rela.
Sesampainya di tempat tujuan Patton menempatkan
kursi roda Agni berdampingan dengan kursi yang akan ia duduki.
“Kamu
mau?”
Agni menggeleng saat melihat Patton mulai menyantap
bubur yang baru saja ia beli.
“Entar
kamu gak kenyang lagi kalo aku minta.”
Patton terkekeh lalu sebelah tangannya terulur
menggapai puncak kepala Agni.
“Hai.
Aku cariin di kamar gak ada, taunya kamu ada disini.”
Agni mengalihkan pandangannya pada seorang pria yang
baru saja datang dan sekarang duduk di hadapannya. Ia tersenyum.
“Iya.
Oiya... aku lupa, kamu itu...”
“Cakka.
Masa lupa sih sama yang paling ganteng.”
Agni terkekeh kecil dengan sebelah tangan memukul
lengan Cakka gemas. Sementara Patton hanya diam, mengamati tujuan dibalik sikap
Cakka yang tiba-tiba menjadi lembut seperti itu. pasti ada sesuatu, gak mungkin gak ada. Pasti ada udang di balik batu.
“Patton
kok kamu gak bilang sih Cakka Kakak kamu.”
Patton menatap Agni dan tersenyum tipis.
“Aku
kan udah bilang Alvin Kakak aku, ya berarti Cakka juga dong.”
“Oh
iya. Lupa.”
Patton hanya bisa menanggapinya dengan senyum
kembali.
“Kirain
aku gak di akuin. Eh iya jalan-jalan yuk.”
Agni melirik Patton sekilas. Ia ragu, ia merasa sepertinya
ada yang tidak beres dengan kondisi Patton.
“Nanti
aja ya? kita jalan bertiga, kita nungguin Patton aja dulu sampe dia selesai
makannya.”
Cakka tersenyum dengan begitu manisnya, ia
menyilangkan tangannya di atas meja dengan tatapan yang tak lepas dari Agni.
“Aku
aneh ya? kok gitu banget liatinnya?”
“Enggak
kok. Aku cuma pengen aja liatin kamu. Emangnya kamu gak sadar kalau kamu
cantik?”
Agni tersipu, ia mengalihkan pandangannya ke arah
lain, malu.
“Aku
biasa aja kok. Gak usah berlebihan.”
“Ya
tapi kamu emang cantik kok.”
Agni mengulum senyumannya.
“Kalo
gitu terimakasih.”
“Sama-sama.
Kalo gitu bilang dong kalo aku juga ganteng.”
Agni tertawa.
“Iya
ganteng. Gangguan telinga. Haha...”
Patton menatap Agni dan Cakka bergantian. Ini pertama
kalinya ia melihat Agni tertawa pasca kecelakaan itu. apa aku emang gak pantes buat kamu Ni? Aku gak bisa buat kamu ketawa
kayak kamu sama Kak Cakka. Apa... aku harus nyerah aja?
***
Patton dan Cakka duduk di bangku di depan kamar
rawat Agni. Tak ada kesan bersahabat lagi seperti beberapa menit yang lalu, tak
ada lagi canda tawa di antara mereka. yang ada hanya aura dingin dan panas yang
bercampur dalam satu suasana.
“Kapan
loe mau lamar Agni lagi?”
Patton mendesah pasrah. Ia melirik ke arah Cakka malas.
“Setelah
terapi pengobatan kaki-nya Agni.”
“Berapa
lama?”
“Paling
cepat satu bulan.”
“Gak.
itu kelamaan. Gue kasih waktu buat loe dua minggu.”
“Tapi...”
Cakka melirik Patton tersenyum meremehkan.
“Loe
takut Agni gak nerima loe? Bukannya kemaren-kemaren loe yakin Agni itu beneran sayang
sama loe?”
“Gak.
bukan itu.”
“Apa
lagi? Ketakutan loe cuma itu, loe takut kalah dan harus ninggalin Agni. Gitukan?”
Patton menangkupkan kedua telapak tangannya pada
wajahnya.
“Aku
gak tau.”
Cakka menepuk pundak Patton. Namun Patton tak
bergeming.
“Kalo
Agni emang jodoh loe, gue yakin Agni pasti cuma buat loe. Tapi, kalo jodoh gue
lambat laun Agni juga pasti cuma milik gue. Siapapun jodoh Agni toh kita gak
tau kan? Hidup bawa slow aja, gak usah tegang gitu.”
Patton menarik tangannya lalu berdiri tegak kemudian
menatap Cakka dengan takjup.
“Kak...”
“Hm.”
“Itu
pidato terpanjang yang pernah aku denger.”
Patton berucap dengan nada dan wajah tanpa dosa-nya.
“Sialan
loe.”
Cakka tersenyum geli sambil meninju pelan lengan Patton,
sementara yang ditinju malah tertawa geli melihat reaksi Cakka yang baru ia
lihat ini.
***
Esoknya, sesuai rencana Agni menjalani terapi
bersama Patton yang di dampingi oleh Kiki, Riva, Sivia dan Gabriel. Meski Agni hanya
mampu berjalan satu dua langkah itu cukup membuat orang-orang yang berada
disana senang, terutama Patton. Meski ia berkali-kali harus membangunkan Agni tapi
ia tak pernah merasakan lelah sedikitpun, ia menjalaninya dengan sukarela dan
rasa yang begitu tulus.
“Vi,
makan mulu kamu.”
Riva menegur Sivia yang memang sedang menenteng
setoples Cookies buatannya sebelum ia
berangkat menjenguk Agni. Niat awalnya ia membuatkan itu untuk Agni, namun ia
malah menunggui Agni terapi jadilah ia yang bosan dan ia juga yang malah
memakan kue buatannya sendiri.
“Iya,
Katanya buat aku. tapi udah mau abis aja.”
Sivia hanya memamerkan deretan giginya. Lalu menyuapkan
satu cookies-nya lagi kedalam
mulutnya. Cukup membuat Gabriel geleng-geleng kepala menyaksikannya.
“Ni,
udah ya terapinya. Lagian dipaksain jugakan gak baik. Mendingan istirahat aja
dulu.”
Agni mengangguk kemudian berjalan perlahan dengan di
papah oleh Patton. Agni melirik Patton yang begitu telaten memapahnya. Jika benar masa depan aku Patton, aku akan
sangat beruntung mendapatkan pria yang penuh dengan kasih sayang.
***
Waktu terus bergulir, hingga tanpa terasa dua minggu
telah berlalu. Kesehatan Agni membaik, karena sekarang sudah bisa menggunakan
tongkat, bukan kursi roda lagi. Meski terkadang ia memang di paksa Patton menggunakan
kursi roda.
Sepertis saat ini, setelah di terapi pasti Agni diharuskan
Patton menggunakan kursi roda terlebih dahulu, meski Agni malas namun ia harus
menuruti apa kata pakarnya itu.
“Aku
duluan ya keluarnya sama Oma sama Opa.”
Patton tersenyum kemudian mengangguk. Ia melirik Oma
dan Opanya yang mengedipkan sebelah mata memberi suatu kode yang hanya di balas
oleh sebuah anggukan kecil.
“Yuk
sayang, kita keluar.”
Kiki mendorong kursi roda Agni keluar dari ruangan
itu. ia di dampingi istrinya tersenyum bahagia, sebentar lagi... Semoga akan ada perkembangan...
“Dokteerr...”
“Opa
stop. Itu... dari ruangan tadikan?”
“Eh...”
“Kita
kesana lagi Opa, Agni khawatir sama Patton.”
Tanpa banyak bicara Kiki mendorong kembali kursi
roda itu berbalik arah. Teriakan meneriaki kata Dokter-pun semakin banyak.
“Patton
kenapa?”
“Dokter
Agni. Ini... Dokter Patton.”
Agni bangkit dan berjalan ke arah bangsal dimana Patton
berada. Ia duduk di atas bangsal itu. sementara, tanpa mereka sadari
orang-orang yang berada di ruangan itu berangsur-angsur meninggalkan Agni bersama
Patton.
“Patton!
Bangun. Aku tau kamu cuma becanda. Tapi sayangnya becandaan kamu gak lucu tau.”
Agni melipat tangannya di dada, lalu menepuk-nepuk
dada Patton.
“Bangun
ih, kalo gak bangun aku tinggal nih.”
Agni tak main-main dengan ucapannya, ia benar-benar
turun dari bangsal dan berbalik untuk meninggalkan Patton. Tapi bersamaan
dengan itu Agni merasakan sebuah tangan menggapai tangannya.
“Agni...”
Agni tersenyum, kemudian ia berbalik. Namun, saat
melihat Patton yang terlihat merengut ia terdiam. Apa aku melakukan kesalahan?
“Cara
inilah yang aku lakukan saat akan melamarmu.”
Agni tertunduk, sedih. Kenapa? Kenapa aku gak bisa inget semuanya?
“Maaf.”
Patton bangkit, ia tersenyum miris mendapati
kekasihnya yang benar-benar tak ingat apapun tentang historis kisah percintaan mereka.
“Gapapa.
Mungkin kamu emang belum inget. Oiya...” Patton mengeluarkan sesuatu dari saku
jas kebanggaannya. “Marry Me?”
Itu... Agni melirik jarinya yang dihiasi sebuah cincin
yang sama persis dengan cincin yang di pegang Patton. Apakah semua ini nyata?
Patton merasakan keraguan mendominasi Agni, tak
seperti dulu saat Agni menjawab dengan penuh keyakinan. Salah jika ia merasa Agni
memang bukan jodohnya?
“Agni...
aku gak bakalan maksa kamu buat ngejawab sama seperti dulu. Tapi yang perlu kamu
tau, aku akan selalu sayang sama kamu, dan kamu selalu ada disini...” Patton menunjuk
dada sebelah kirinya. “Disini.” Patton menunjukkan arah dadanya. “Dan disini.” Yang
terakhir Patton menunjuk kepalanya.
Agni memejamkan matanya. Ia menatap Patton putus
asa. Apa yang harus aku katakan? Aku harus
jawab apa? Aku tau, aku tau Patton sayang banget sama aku. aku rasain semuanya.
Agni menghela nafas dan tersenyum kemudian memeluk Patton.
“Aku
akan sangat beruntung kalo hidup sama kamu, menghabiskan sisa umurku sama kamu Patton...”
***
Bersambung.
Part 10: ??? (kira-kira apa ya? rahasia dong. :D)
Asli keren banget ni ceritanya, Agni dipasangkan sama siapa aja cocok banget dah
ReplyDeletejangan lupa untk sllu tag di fb aku yaa
sukses buat kamu :)